proofread

Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia  (1957) 
oleh Renward Brandstetter, diterjemahkan oleh Syaukat Jayadiningrat

Esai asli diterbitkan 1910–1915 (bahasa Jerman); terjemahan bahasa Inggris 1916. (en)

RENWARD BRANDSTETTER


HAL BUNJI
DALAM BAHASA2 INDONESIA




Diterdjemahkan oléh

SJAUKAT DJAJADININGRAT








P.T. PUSTAKA RAKJAT - DJAKARTA - 1957

Dari buku

AN INTRODUCTION TO INDONESIAN LANGUISTICS

(Monografi IV : Phonetic phenomena in the Indonesian languages)

BAB 1

KETERANGAN-DASAR.

1. Dalam monografi ini tcrdapat uraian tentang hal bunji dalam bahasa² Indonesia.

Tjatatan : Tentang transkripsi lihatlah keterangan dibawah nomor 39 dan tentang singkatan lihatlah keterangan dibawah nomor 38.

2. Tentang soal jang dibitjarakan ini belum ada suatu ichtisar, meskipun telah tjukup bahan untuk keperluan itu. Bahan itu dapat dipéroleh dalam karangan² tentang tatabahasa, ber-bagai² kamus dan karangan lain. Sumber² dan pekerdjaan pendahuluan itu tak disebut satu demi satu dalam uraian ini, oléh sebab dalam karangan ”Geschichte der IN Sprachen” , jang tak lama lagi akan diterbitkan, dengan tjara mendalam saja akan berbalik pada sumber² itu. Karangan² pendahuluan jang dimaksudkan itu telah memberikan sebagian ketjil bahan jang saja butuhkan, entah sebagai bahan mentah entah sebagai bahan jang sedikit banjak sudah dikerdjakan, sebagian besar bahan² telah saja kumpulkan sendiri. Dalam menjusun dan mengerdjakan hal² dalam monografi ini, saja menempuh djalan sendiri dengan tak bergantung pada orang lain.

3. Gedjala² bunji baik jang sekarang maupun jang terdapat pada djaman jang telah lampau perlu digambarkan. Bunji dalam bahasa² Indonésia menurut keadaan jang telah lampau, dapat dibuktikan berdasarkan dokumén² jang turun-temurun dari bapak keanak atau berdasarkan ilmu bahasa jang telah diketahui terutama dengan membanding²kan. Untuk penjelidikan bunji bahasa, bahasa Djawalah jang amat penting oléh sebab tentang bahasa itu dalam keadaannja dulu terdapat dokumén jang turun-temurun dari bapak keanak. Idiom Bugis, Sunda, Malagasy dan idiom² lain djauh tak sepenting bahasa Djawa.

4. Dalam mentjari bukti² kami membutuhkan pangkalan untuk bertolak dan pangkalan itu ialah bahasa Indonésia purba. Dalam hal itu saja berbuat seperti Brugmann dalam karangannja ’’Kurze vergleirhende Grammatik der indogermanischen Sprachen’’. Seperti dalam membandingkan bahasa² Indogerman dari kata dhūmàs (asap) dalam bahasa India kuno dan dari kata fumus (asap) dalam bahasa Latin ditundjukkan kata dhumòs dalam bahasa Indogerman purba; dalam membitjarakan vokal atau harakat ū Brugmann bertolak dari kata dhūmòs itu dan kata² lain jang mengandung u dalam bahasa Indogerman purba. Begitu djuga dari kata telu dalam bahasa Howa, tolu dalam bahasa Toba, dsb. dapat ditundjukkan kata tělu dalam bahasa Indonésia purba. Kata tělu itu dan kata² lain jang mengandung huruf Indonésia purba ě dipakai sebagai pangkal untuk membitjarakan bunji ě dan huruf lain, jang berasal dari huruf itu.

Tjatatan: Pada sebagian besar kata Indonésia jang dikemukakan dalam monografi ini suku kata jang mendahului suku kata jang terachirlah jang ditekankan. Hal itu tak ditundjukkan lagi, djadi saja menulis telu dan tolu dengan tak ditandai tekanannja. Sebaliknja, kata talò dalam bahasa Pangasin ditundjukkan tekanannja, oléh sebab suku katanja jang terachirlah jang ditekankan. Tentang pandjang dan péndéknja bunji lihatlah keterangan dibawah nomor 67 dan selandjutnja.

5. Saja ingin hendak menundjukkan satu hal dan dalam hal itu tampaklah sistim jang saja pakai untuk menjusun bentuk² purba dalam bahasa Indonésia.

Dalil

,,Bahasa Indonésia purba mempunjai satu harakat (vokal) jang dalam bahasa Djawa dan dalam ilmu bahasa jang mem-banding²kan bahasa² Indonésia dinamai huruf pepet dan dengan tjara jang kurang tepat ditundjukkan dengan ě, misalnja dalam kata tělu dalam bahasa Indonésia purba".

Bukti

1. Kalau dalam bahasa Pangasin terdapat kata talò, dalam bahasa Howa telu, dalam bahasa Sunda tilu, dalam bahasa Tinggian tulu, dalam bahasa Toba tolu, -maka adanja ber-bagai² vokal dalam suku kata jang pertama itu dengan djelas dapat diterangkan dengan berbalik pada satu pangkal, jaitu huruf pepet, jang telah dikemukakan tadi.

II. Huruf pepet itu sekarangpun masih terdapat dalam beberapa bahasa. Bahasa² itu tak banjak tetapi dipakai di-daérah² jang tersebar letaknja. Kata tělū (tiga) terdapat dalam bahasa Karo di Sumatera, bahasa Bali dekat pulau Djawa, bahasa Tontémboa di Sulawesi dll. III. Bahasa Djawa kuno mempunjai djuga kata telu. Dalam nomor 6 diterangkan bahwa pentinglah petundjok jang terdapat dalam bahasa Djawa kuno.

IV . Bahasa Nias tidak mempunjai huruf pepet. Dalam bahasa itu huruf o nenggantikan huruf e jang terdapat dalam idiom2 lain. Tetapi huruf o itu diutjapkan dcngan tjara luar biasa dalam bahasa Nias, jaitu dibagian belakang mulut. Djika huruf o jang diutjapkan dcngan tjara biasa disebut o-1 dan o jang diutjapkan dibagian belakang mulut disebut o-2, maka dalam bahasa Nias misalnja terdapat kata bo-2li, jang sama artinja dengan kata beli dalam bahasa Indonesia purba dan djuga dalam bahasa Gayo, Melaju, dll. Kata o-lno-1 dalam bahasa Nias menggantikan kata anak jang terdapat dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Tagalog, dll. Bunji chusus tentang o-2 menundjukkan, bahwa huruf o itu mula2 adalah huruf lain, jaitu huruf pepet.

V. Bahasa Ilok tidak mempunjai huruf pepet. Dalam bahasa itu huruf e menggantikan huruf pepet. Tetapi konsonan jang mengikuti huruf e itu diduakalikan. Dengan begitu kata lepas jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba dan djuga dalam bahasa Djawa kuno, Melaju, dll. sesuai dengan kata leppas dalam bahasa Ilok. Konsonan jang mengikuti huruf e jang berasal dari huruf lain tidak diduakalikan. Dalam bahasa Madura terdapat kata leppas; djadi, konsonan jang mengikuti e diduakalikan djuga sedang huruf e-pepet tetap dipakai. Hal menduakalikan konsonan jang mengikuti huruf e baik dalam bahasa Ilok maupun dalam bahasa Madura menundjukkan, bahwa huruf e dalam bahasa Ilok mula2 ialah huruf e-pepet.

VI. Bahasa Talaut tidak mempunjai huruf pepet. Huruf e jang terdapat dalam bahasa2 Iain mendjadi huruf a dalam bahasa Talaut. Tetapi bunji-lebur (liquida) l jang mengikuti huruf a jang dimaksudkan itu berlainan diutjapkannja dari pada huruf l jang mengikuti huruf a jang sesuai dengan huruf a dari bahasa Indonesia purba. Djadi, dalam bahasa Talautpun terdapat suatu petundjuk tentang huruf pepet jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba.

VII. Bahasa Howa tidak mempunjai huruf pepet; dalam suku kata jang ditekankan, huruf e menggantikan huruf pepet itu dan dalam suku kata jang tak ditekankan huruf i lah jang menggantikan huruf e-pepet. Dalam bahasa Howa terdapat kata-sedjadjar, jaitu telina, (menelen) untuk kata telen, jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba, bahasa Karo, dll. Huruf l jang mengikuti huruf i (e dalam bahasa Indonesia purba) tak berubah. Tetapi djika huruf l itu meng­ikuti huruf i jang sama dengan huruf i dalam bahasa Indonesia purba, maka huruf l mendjadi huruf d misalnja dalam kata dimi ( = lima dalam bahasa Indonesia purba) : suatu bahasa lagi jang tidak mempunjai huruf pepet, menundjukkan tentang adanja huruf itu dalam bahasa Indonesia purba.

Kesimpulan

Petundjuk2 jang telah dikemukakan dibawah nomor I-V1I jang dapat ditambah lagi dengan petundjuk2 lain dengan tjara jang tak dapat disangkal membuktikan, bahwa dalam sistim bunji bahasa Indonesia purba terdapat vokal pepet.

6. Ber-bagai2 bunji dalam bahasa Djaw a kuno umumnja sama dengan bunji2 dalam bahasa Indonesia purba, jang dapat ditundjukkan dengan djalan membandingkan bahasa2 Indonesia antara sesamanja. Hal2 jang diperoleh dengan djalan mengambil kesimpulan dari suatu hipotese se-mata2, dikuatkan oleh dokumen2 jang objektif. Dalam dua hal keselarasan itu terganggu :

I. Huruf r-2 (uvula, anaktekak) dalam bahasa Indonesia purba tidak berbunji dalam bahasa Djawa kuno. Maka dalam bahasa Djawa kuno terdapat kata atus, (seratus) jang terdjadi dari kata r-2attu dalam bahasa Indonesia purba.

II. Rentetan vokal dalam bahasa Indonesia purba atjapkali disingkatkan dalam bahasa Djawa kuno, misalnja : kata lain jang ter­dapat dalam bahasa Indonesia purba, bahasa Melaju dll. mendjadi len dalam bahasa Djawa kuno.

7. Seperti halnja tentang bunji2 dalam bahasa2 Indogerman, tentang bunji2 dalam bahasa2 Indonesiapun jang sekarang berlaku tidak selalu dapat ditundjukkan bunji jang sesuai dengan bunji2 itu dalam bahasa Indonesia purba. Banjak bahasa Indonesia mempunjai bunji hamza, tetapi tak dapat saja menentukan bahwa bunji itu ter­dapat djuga dalam bahasa Indonesia purba.

8. Antara suatu bunji dalam bahasa Indonesia jang sekarang berlaku dengan bunji jang sesuai dengan bunji itu dalam bahasa Indonesia purba atjapkali terdapat keadaan poralihan. Kaum penjelidik bahasa Indogerman dalam banjak hal dapat menentukan keadaan peralihan itu. Kluge dalam kamusnja etimologi tentang bahasa Djerman mengemukakan, bahwa antara kala medus dalam bahasa Indogerman purba dengan kata Met dalam bahasa Indogerman sekarang tcrdapat kata medus dalam bahasa German purba, kata nieto dalam bahasa Djerman lama, kata met dalam bahasa Djerm an pertengahan sebagai keadaan peralihan. Djalan untuk menentukan keadaan peraiihan itu terbatas dalam penjelidikan bahasa2 Indonesia. Hanja bahasa Djawalah, jang mempunjai tulisan seperti pada djaman jang telah lampau dan tulisan itupun menundjukkan bunji2 jang sama dengan bunji2 dalam bahasa Indonesia purba. Meskipun begitu halnja, dalam penjelidikan bahasa2 Indonesiapun dalam banjak hal dapat ditundjukkan keadaan peralihan itu. Dibawah ini dikemukakan beberapa kemungkinan :

I. Keadaan peralihan dalam bahasa Djawa kuno :

Pangkalan. Keadaan peralihan. Keadaan sekarang.
Bahasa Indonesia purba Bah. Djawa kuno. Bah. Djawa sekarang
dir2us dyus adus (mandi)

II. Keadaan peralihan dinjatakan dengan tulisan :

Pangkalan. Keadaan peralihan. Keadaan sekarang.
Bahasa Indonesia purba Bah. Minangkabau tulisan Bah. Minangkabau lisan
selsel sasal sasa (menjesal)

III. Keadaan peralihan terdapat dalam dialek jang berdekatan :

Pangkalan. Keadaan peralihan. Keadaan sekarang.
Bahasa Indonesia purba Bah. Tunong-Atjeh Bah. Atjeh sekarang
batu batew batee (batu).

IV. Keadaan peralihan dapat ditundjukkan djuga dengan menarik kesimpulan dari bunji pada achir kata. Kalau dalam bahasa Bunku kata wea menggantikan kata bar2a (api batu bara) jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba, maka dapat dikemukakan sebagai bentuk peralihan kata waya. (lihat keterangan dibawah nomor 136).

9. Atjapkali diberitakan, bahwa kaum tua berpegang pada bunji jang berlaku pada djaman jang telah lampau, sedang kaum muda mempergunakan bunji lain. Dalam bahasa Kamberi bunji h menggantikan bunji s dalam bahasa Indonesia purba. Kata ahu ialah sama dengan kata asu dalam bahasa Indonesia purba. „kaum tua masih mengutjapkan bunji s” (Wielenga).

10. Perubahan bunji terdjadi dengan bersjarat atau tidak dengan bersjarat. Bunji pepet dalam bahasa Indonesia purba berubah dengan tak bersjarat dalam bahasa Dajak mendjadi e. Dengan begitu kata teken (tongkat) jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba men­djadi teken dalam bahasa Dajak. Dalam bahasa Howa jang erat bertali dengan bahasa Dajak, huruf pepet hanja mendjadi e kalau huruf itu ditekankan. (teken mendjadi tehina).

11. Kadang2 perubahan bunji itu bergantung pad a sjarat, kadang2 lagi pada sebab. Sjarat2 tentang perubahan bunji itu dalam bahasa* Indonesia atjapkali dapat diketahui. Tetapi tentang sebab2 berlaku pendapat Hirt tentang bahasa Junani jang dikemukakannja dalam karangannja ’’Handbuch der Griechischen Laut-und Formenlehre” . Pendapatnja itu berbunji: ,,Sebab2 perubahan bunji atjapkali tak dapat diketahui”. Bagaimana djuapun dalam penjelidikan tentang soal itu banjak teori telah dikemukakan. Beberapa teori saja sebut dibawah ini dengan tak dibubuhi komentar: „Dalam idiom2 Toradja terdapat suatu hal jang chusus, jaitu s beralih mendjadi h. Pada hemat saja kobiasaan untuk mengikir gigi atau memotongnja sebagian, menjebabkan peralihan bunji itu.” (Adriani). Dalam bahasa Karo bunji a tetap mendjadi a, tetapi disamping kata jah (disana) terdapat kata joh ,,karena gerak bibir jang menundjukkan arah „sana” itu.” (Joustra). „Kebiasaan memakan sirih menjebabkan bangsa Djawa atjapkali mengutjapkan konsonan bibir atau labial sebagai konsonan langit2 lembut atau velar, misalnja kata pestul (pistol) diutjapkannja sebagai kestul.” (Roorda).

12. Tentang hal bunji dalam bahasa2 Indonesia terdapat banjak kemungkinan jang mempengaruhi bunji itu, tetapi kemungkinan2 itu tak dapat dinamai „sebab” atau „sjarat” perubahan bunji menurut artinja jang sebenarnja. Kemungkinan2 itu ialah analogi, etimologi bangsa, ketjenderungan akan diferensiasi, bunji sebagai lambang, meniru2 bunji, melemahkan arti kata2, ketjenderungan akan mempergunakan kata2 jang terdiri atas dua suku kata.

13. Peranan analogi dalam hal bunji dalam bahasa2 Indonesia adalah sama pentingnja seperti dalam bahasa2 Indogerman. Katabilangan dalam hampir semua bahasa Indonesia mengalami pengaruh analogi itu. (lihatlah djuga karangan Paul "Prinzipien der Sprachgesehichte" , Bab. "Kontamination").

Dalam bahasa Indonesia terdapat kata r-2atus dan r-libu; dalam bahasa Gajo terdapat kata ribus dengan mengambil bunji2 s dari r-2atus.

14. Pengaruh etimologi rakjatpun sama pentingnja seperti dalam bahasa2 Indogerman. Kata rojowerdi dalam bahasa Djawa sama artinja dengan kata lazuwerdi dalam bahasa Iran (Persia); lazuwerdi berarti : biru seperti langit. Kata rojowerdi bersandarkan kata rojo (radja), se-akan2 warna itu merupakan warna keradjaan. Dalam bahasa2 In­donesia atjapkali terdapat „etimologi rakjat tentang tata bahasa”. Kata yoga dalam bahasa India kuno mendjadi iyoga (periuk) dalam bahasa Karo. Tetapi oleh sebab huruf i- dalam bahasa Karo adalab suatu awalan, maka kata iyoga tampak oleh bangsa Karo sebagai awalan y + oga. Dengan begitu dari kata iyoga diturunkan kata dasar oga jang sekarang dipakai disamping kata iyoga. Atau, oleh sebab dalam bahasa Djawa kuno bentuk ka- atjapkali merupakan awalan, maka kata kawi (penjair) dalam bahasa India kuno dipandang sebagai kata jang diturunkan, oleh sebab itu diturunkan kata dasar awi (membuat sjair) dari kata kawi itu dan dari kata dasar awi itu diturunkan lagi kata2 lain, misalnja kata awiawian (sjair).

15. Tjenderung diferensiasi. Kalau suatu kata, jang mula2 hanja mempunjai satu arti sadja tetapi kemudian ber-beda2 artinja, maka begitu djuga halnja tentang bunji. Hal itu terdjadi baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa2 Indogerman. Kata messe dalam bahasa Djerman-pertengahan mendjadi Mass dalam bahasa Djerman sekarang (mis dalam geredja) dan kata Maas jang dulu berlaku se­karang mendjadi Messe (pekan raja, jaarmarkt). Begitu djuga kata ulu (kepala) dalam bahasa Indonesia purba berubah artinja mendjadi „dulu” dalam bahasa Bima. (dan uru berarti „permulaan”.)

16. Perlambangan bunji (geluidssymboliek), terdapat dalam hal menduakalikan kata2, misalnja dalam kata uncal-ancul (me-lontjat2 kesini dan kesana) dalam bahasa Sunda disamping kata ancul (melontjat); djuga dalam hal mengubah huruf jang tak keras bunjinja mendjadi huruf jang keras bunjinja seperti dalam kata aizo-2-aizo-2 (agak asam) dalam bahasa Nias disamping kata aiso-2 (asam) dan hal2 lain barangkali terdapat perlambangan bunji. Sebaliknja, saja tidak menjetudjui pendapat, bahwa dalam pembentukan duratif, bunji dipergunakan kan djuga sebagai lambang, misalnja kata mamanah dalam bahasa Djawa kuno dibentuk dari kata dasar panah (memanah); dalam mono­grafi saja jang dulu telah ditundjukkan peranan bunji méchanis dalam hal sematjam itu dan saja jakin, bahwa kaum penjelidik bahasa Indo­-german membenarkan pendapat saja itu.

Hal jang menarik perhatian ialah tjara menduakalikan kata asal dalam bahasa Madura, misalnja dalam kata² los-alos (sangat halus), te-pote (sangat putih). Kata alos (halus) dan kata pote tumbuh dari kata halus dan putih jang terdapat dalam bahasa Indonésia purba, bahasa Melaju, dll. Tetapi disamping kata los-alos dan te-pote terdapat kata lus-alus dan ti-puti jang mengandung vokal seperti dalam kata halus dan putih dalam bahasa Indonesia purba. Lus-alus berarti lebih halus lagi dari pada los-alos dan ti-puti berarti lebih putih lagi dari pada te-pote. Bentuk bunji jang lebih tua menundjukkan tingkat jang lebih tinggi.

Hal me-niru² bunji (Onomatopǒe). Karena hal me-niru2 bunji itu, maka hukum bunji kata² tak dapat dilakukan dengan konsekwén. Hal me-niru² bunji itu terdapat dalam kataseru (interjéksi) jang me-niru² bunji. Huruf-lebur (liquida) dalam bahasa Indonésia purba tak dibunjikan dalam bahasa Minangkabau kalau terdapat pada achir kata dasar; kata lapar dalam bahasa Indonesia purba ditulis djuga lapar dalam bahasa Minangkabau, tetapi diutjapkan lapa. Selandjutnja konsonan letusan (éksplosif) pada achir kata dalam bahasa Indo­nésia purba diutjapkan sebagai hamza dalam bahasa Minangkabau; dengan begitu kata atěp dalam bahasa Indonésia purba mendjadi atoq dalam bahasa Minangkabau-lisan. Djadi pada achir kata² dalam bentuk bahasa Minangkabau-lisan tak terdapat bunji r dan p, ketjuali pada kataseru seperti gar, dapap, dsb. (hal menjatakan bunji). Hal meniru² bunji terdapat djuga dalam kata² lengkap, teruiam a pada nama² binatang, jang terdjadi karena me-niru² bunjinja. Dalam bahasa Tontémboa pada kata dasar jang terdjadi dari akar kata jang diduakalikan, konsonan pada achir separuh kata jang pertama, biasanja mendjadi q. Dengan begitu kata koqkor (menggorés) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi koqkor dalam bahasa Tontémboa. Tetapi dalam nama burung kerker jang terdjadi dengan me-niru2 bunji, huruf r tetap ter­dapat pada separuh kata jang pertama.

18. Euphemismus. Berdasarkan alasan euphemismus beberapa kata jang tertentu dalam bahasa² Indonesia, terutama kata² dari dunia séksuil, diubah dengan tjara serampangan. Beberapa kata sematjam itu disebut oleh van der Tuuk dalam kamusnja tentang bahasa Toba, misalnja kata ilat jang terdjadi dari kata pilat (kelamin). Perubahan kata² itu umumnja terdjadi dengan bersandarkan kata jang bertalian. Kata ilat bersandar akan kata ila (malu).

19. Ketjenderungan akan kata² jang terdiri atas dua suku kata. Analogi, étimologi bangsa dan pengaruh² lain jang telah dikemukakan berlaku baik bagi bahasa² Indogerman maupun bagi bahasa² Indonésia, tetapi pengaruh ketjenderungan akan kata² jang terdiri atas dua suku kata hanja berlaku bagi bahasa² Indonésia sadja. Pengaruh itu telah diakui oleh Humboldt ("Kawisprache"). Kata² dasar dalam bahasa² Indonésia umumnja terdiri atas dua suku kata dan orang tjenderung akan memasukkan kedua suku kata itu dalam kata² jang tidak mempunjai dua suku kata. Kata lijst dalam bahasa Belanda mendjadi ěles dalam beberapa bahasa Indonésia dengan awalan ě jang tidak mempunjai arti, dan kata Rom (Konstantinopėl) bukanlah Rum, tetapi Ruhum dalam bahasa Minangkabau.

20. Antara bentuk bahasa-tulisan dengan bentuk bahasa-lisan atjapkali terdapat perbedaan bunji. Dalam bentuk bahasa-lisan atjapkali kata² dalam bentuk bahasa-tulisan disingkatkan. Dalam bentuk bahasa Djawa-lisan misalnja, kata dulur (saudara perempuan) meng­gantikan kata sedulur dalam bentuk bahasa Djawa-tulisan.

21. Gedjala² bunji jang telah digambarkan terdapat dalam bahasa² se-hari² jang normal. Disamping bahasa² itu terdapat bahasa² chusus, jaitu bahasa anak², bahasa binatang dalam tjerita tentang binatang, bahasa poési, bahasa buatan.

22. Empat hal jang chusus terdapat dalam bahasa anak².

I. Hal menggantikan bunji. „Selama anak Baréqé tidak dapat mengutjapkan konsonan langit² lembut (vélar), maka dipakainja konsonan gigi (déntal) sebagai gantinja. Kata aku dalam bahasa Indo­ nésia umum dan bahasa Baréqé misalnja diutjapkannja sebagai atu. Huruf s biasanja diutjapkan sebagai c oléh anak². Djadi kata susu dalam bahasa Indonesia purba dan dalam bahasa Baréqé diutjapkan sebagai cucu” (Adriani).

II. Anak² Baréqé mengutjapkan kata keje sebagai jeje, anak² Tontémboa mengutjapkan kiqciq (menggigit) sebagai kiqkiq dan kiliq (tidur) sebagai titiq. Konsonan langit² lembut (vélar) digantinja dengan konsonan gigi (déntal).

III. Mengubah hubungan bunji. Hubungan bunji jang sukar diutjapkan oleh anak² diubahnja. Kata lay-pe (se-kali² tidak) dalam bahasa Karo misalnja diutjapkan sebagai a-pe oleh anak² Karo.

IV. Disamping hal² itu bahasa anak² menundjukkan gedjala² jang tak dapat disatukan dalam satu pengertian. Anak² Tontémboa misalnja kadang² mengatakan léleq (mandi) dan kadang djuga lileq.

23. Djika orang tua berbitjara dengan anak², maka kadang² dipakainja bahasa jang normal, kadang² lagi bahasa anak² atau bahasa kompromis. Tadi telah diterangkan bahwa anak² Baréqé mengutjapkan kata susu sebagai cucu. Tetapi dalam bahasa Baréqé jang normal konsonan langit² letusan (patalal) jang tak berbunji hanja mengikuti bunji sengau sadja. Djadi kata seperti cucu tak terdapat dalam bahasa orang dewasa Baréqé. Konsonan langit² (palatal) jang ditekankan bunjinja tak terbatas dipakainja dan oléh sebab itu orang tua² Baréqé jang berbitjara dengan anak² tak mengatakan susu atau cucu, tetapi juju.

24. Atjapkali kata² jang dipakai anak² masuk dalam bahasa orang dewasa. Kata ama (ajah) dan ina terdapat dalam bahasa Indonésia purba dan dalam sebagian besar bahasa² Indonesia jang se­karang berlaku. Tetapi dalam beberapa bahasa terdapat kata mama dan 'nina', jang menggantikan kata ama dan ina. D alam bahasa Tontémboa terdapat kata apoq (kaké) dan itoq (paman); kata serunja (vokatif) ialah papoq dan titoq. Dalam bahasa Bugis anak perempuan ketjil dinamai běsseq (hanja dipakai bagi putri radja) atau běcceq. Menurut keterangan dibawah nomor 22-I kata jang mengandung s ialah kata jang normal dan kata jang mengandung c ialah mula kata jang dipakai anak².

25. Gedjala² bunji dalam bahasa anak² Indonésia sebagian besar terdapat djuga dalam bahasa² Indogerman. K ata Vater (ajah) dalam bahasa Djerman mendjadi Atti atau Tätti dalam bahasa Swis (lihat "Schwcizerischcs Idiotikon 1” hal. 585).

26. Dalam tjerita tentang binatang bahasa jang dipakainja ialah seperti bahasa anak². Dalam karangan Adriani "Lecsboek in de Bareqe taal” hal. 17 seékor tikus tua mengutjapkan kata dunko (kulit kuwé nasi) sebagai kuko.

Dalam karangan ini, 1) sebagai bunji ng dan ń bunji ng dan n sebagai bunji nj. 27. Bahasa kaum penjair. Keperluan akan irama membawa berbagai² perubahan bunji. Kesusasteraan dalam beberapa bahasa séperti bahasa Baréqé tak mengidzinkan perubahan itu. Kebebasan kaum penjair dalam mengubah bunji itu dua matjamnja. Perubahan jang pertama terdjadi dalam rangka kemungkinan² bahasa dan perubahan jang kedua bébas sama sekali.

I. Matjam kebébasan jang pertama meliputi kebebasan kaum penjair dalam bahasa Bisaja jang berani mempergunakan bunji i depan vokal sebagai konsonan, misalnja dalain kata motya jang mengganti­ kan kata motia jang terdiri atas tiga suku kata. (motia — mutiara). Perubahan i mendjadi konsonan sematjam itu terdapat dalam banjak bahasa Indonésia normal; dalam bahasa Djawa kuno kata dasar ipi (mimpi) mendjadi aηipya dalam bentuk kondisionalnja.

II. Matjam kebébasan jang kedua meliputi ber-matjam² kebebasan jang tak berdasarkan ratio. Kebébasan itu terdjadi karena kebutuhan akan irama. Dalam Epos Megantaka dalam bahasa Bali misalnja ter­dapat kata tos jang menggantikan kata totos (datang kemudian); djika digunakan kata totos, maka sjair itu akan terlampau banjak suku katanja. Kebébasan itu terdjadi djuga djika dipandang perlu untuk keperluan sadjak. Dalam épos ” Kaba Sabay nan Aluyh” dalam bahasa Minangkabau terdapat kalimat: maq kami bario-io, maq kami batido-tido. Kata tidaq dalam bahasa biasa diubah dengan tjara sekehendaknja sadja untuk keperluan sadjak : Kedua vokal dalam kata dasar harus sama bunjinja. Ketiga : kebébasan itu terdjadi karena dibutuhkan untuk lagu. Bahasa Atjeh misalnja mempunjai lagu chusus bagi sjair² jang menjedihkan atau jang dinjanjikan pada upatjara. Dalam lagu itu kata² jang terdiri atas satu suku kata kadang² dipandjangkan mendjadi kata3 jang terdiri atas dua suku kata dengan mengutjapkan dua kalimat harakat (vokal) dengan mempergunakan bunji η diantaranja; misalnja : purjucoq jang menggantikan pucoq (mata sendjata) jang berlaku dalam bahasa normal.

28. Kedua matjam kebébasan jang telah dikem ukakan tadi ter­dapat djuga dalam bahasa² Indonésia. Dalam karangan Aneis ter­dapat kata conubjo (diukur), dengan begitu djuga terdjadi kata motya jang tadi telah dikemukakan. Tentang perubahan bunji jang dimaksudkan dibawah II terdapat kata-sedjadjar dalam kata navyasa vacas jang dikem ukakan oléh Waekemagel dalam karangannja "Altindische Grammatik I, S. XVII". 29. Dalam hal membatjakan surat terdapat djuga perubahan bunji. „Diistana radja² di Djawa dalam hal membatjakan surat² resmi orang biasa mengutjapkan harakat (vokal) pada permulaan kata sebagai konsonan pangkal tenggorok atau laringal, misalnja hadalěm meng­gantikan adalěm (diam) Poensen.

30. Bahasa buatan. Dalam bahasa² Indonésia berlaku banjak bahasa buatan, misalnja : bahasa kaum pendéta, bahasa jang dipakai diistana, bahasa kaum pemburuh, bahasa kaum pentjuri. dsb. Menurut ilmu léksikografi, ilmu morphologi dan ilmu bunji dalam bahasa² buatan itu terdapat hal² jang bersifat chusus. Dipandang dari djurusan ilmu bunji, terutama dua asas berlaku dalam bahasa² biatan itu;

I. Métatése. Dalam bahasa kaum pentjuri Toba misalnja kedua suku kata dari kata dasar dibalikkan : kata mate (mati) digantinja dengan tema.

II. Perubahan bunji menurut analogi. Dalam bahasa kaum pendéta di Dajak tcrdapat kata rohoη (pedang) jang menggantikan dohoη jang berlaku dalam bahasa normal. K ata rohoη itu terbentuk bersandarkan rohes (membunuh). Dalam bahasa Djawa jang dipakai diistana kata kiraη menggantikan kata kuraη bersandarkan liraη (separuh).

31. Dalam membentuk bahasa Djawa jang dipakai diistana itu beberapa huruf pada achir kata diganti dengan bentuk -jiη atau jěη, misalnja esuq (besok) mendjadi enjiη dan buru (memburu) mendjadi bujěη. Tjara perubahan bunji itu kami namai jěη-type. Jěη-type itu terdapat djuga dalam beberapa bahasa lain. Dalam bahasa Melaju ter­dapat kata anjiη (andjing) dan dalam bahasa Makasar tojeη (benar) dengan mengandung e jang menggantikan ĕ. Kata² itu berlaku dalam bahasa normal, tetapi oleh sebab disamping kata anjiη terdapat kata asu dalam bahasa Indonésia purba, bahasa Djawa kuno, dll. dan disamping kata tojěη terdapat kata toto dalam bahasa Dajak, maka kami berpendapat, bahwa kata² itu mula² merupakan kata² dalam bahasa buatan dan kem udian dipakai dalam bahasa norm al m enurut jěη-type, dan mendesak kata asu dan toto. Hal itu ialah sebuah tjontoh jang menarik porhatian tentang bahasa buatan jang mempengaruhl bahasa normal.

32. Kata anjiη ialah kata Melaju asli dan kata tojěη ialah kata Makasar asli, tidak diambil dari bahasa Djawa jang tidak mempunjai kata² itu. Djadi jěη-type itu terdapat dalam beberapa bahasa jang berlaku di-daérah² jang djauh letaknja antara sesamanja. Oléh sebab itu gedjala² jang tampak dalam bahasa buatan itu barangkali terdapat dalam bahasa Indonesia purba.

33. Pengaruh idiom asing. Pengaruh itu terutama tampak dalam daftar kata², dilapangan bunji pengaruh itu kurang.

I. Pengaruh idiom² Indonésia lain atas suatu bahasa Indonésia jang tertentu. Dalam bahasa Kulawi bunji s berubah mendjadi h, misalnja dalam kata tahi (danau) jang sesuai dengan kata tasik dalam bahasa Indonésia purba. „Tetapi kaum laki² jang hampir semua paham akan bahasa Palu (bunji 's dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Palu itu) atjapkali masih mempergunakan bunji s itu. Kaum perempuan jang sebagian besar hanja paham akan bahasa Kulawi sadja biasanja mempergunakan bunji h." (Adriani). Dalam dialek Ruso dari bahasa Talaut bunji k pada suku kata jang terachir dalam bahasa Talaut jang normal, diutjapkan sebagai s; misalnja kata àpusa menggantikan kata àpuka (kapur) jang berlaku dalam bahasa Talaut jang normal. Tetapi gedjala itu lambat laun hilang sedjak banjak bunji jang terdapat dalam bahasa Niampak masuk dalam dialék Ruso dan sedjak kebiasaan untuk mengubah bunji k mendjadi s itu diédjék oléh meréka jang memakai bahasa Niampak.” (Steller). Bahasa Tojo-Baréqé menekankan sebagian kata²nja dengan tjara jang berlaku dalam bahasa Bugis. „Tempat tinggalnja” ialah dalam bahasa Baréqé banuà-ña, dalam bahasa Bugis : wanuwà-na. Dalam bahasa Tojo-Baréqé atas pengaruh bahasa Bugis kata itu diutjapkan sebagai : banuà-ña

II. Pengaruh bahasa² bukan bahasa Indonésia. Bahasa Madura mula² tak mempunjai bunji f, tetapi dapat mengutjapkannja dengan baik dan bunji itu tetap dipakainja dalam kata2 jang diambilnja dari bahasa Arab atau bahasa² Eropah, sehingga bunji f itu sekarang dapat dipandang masuk sistim bunji dalam bahasa Madura. Bahasa Bima mula² menolak semua konsonan pada achir kata, djuga pada achir kata² jang diambil dari bahasa² lain. Dengan begitu kata acal dalam bahasa Arab mendjadi asa dalam bahasa Bima. ,,Tetapi orang2 Bima budaja atjapkali mengutjapkan konsonan pada achir kata.” (Jonker).

34. Pengaruh sekolah. Bunjiletus bersuara g (média) jang terdapat dalam bahasa Indonésia purba, bahasa Djawa kuno, bahasa Melaju, dll. mendjadi konsonan géseran (spirant) dalam bahasa Tontémboa. „Atas pengaruh didikan disekolah, jang memakai bahasa Melaju sebagai bahasa pengantar, generasi muda mengutjapkan bunjiletus bcrsuara sebagai konsonan geseran (spirant).” (Adriani).

35. Sistim tulisan dan edjaan (orthographie) dalam dua hal mempengaruhi djuga hal bunji.

I. Edjaan dalam beberapa bahasa, terutama bahasa² di Sumatra mempergunakan bunji lama. Menurut kaum penjelidik kata lépas ialah kata Indonésia purba. Bangsa Minangkabau mengutjapkannja sebagai lapeh tetapi menulisnja sebagai lapas; djadi bahasa-tulisan metnakai huruf asli pada achir kata itu. Tulisan sematjam itu membenarkan hal² jang telah ditundjukkan dengan djalan mem-bandingakan bahasa².

II. Kata² jang dengan tjara proklitis dan énklitis bersandarkan suatu kata jang tertentu, dalam banjak bahasa ditulis mendjadi satu kata. Dalam tjerita dalam bahasa Makasar, menurut J. Kukang (hal. 5 zl5 ), terdapat kalimat jang berbunji: nanitanrotanròwimo doweq (kepadanja selalu diberikan uang). Dalam kalim at itu na (dia) dan mo (partikel) disatukan dengan kata nilanrotanròdwi (selalu diberi). Menurut ilinu bahasa kebiasaan itu benar.

36. Dalam mepeladjari bunji dalam bahasa² Indonesia berbagai² téks perlu benar dibatja djuga. Téks² jang menundjukkan tekanan. kwantitét, dsb.-lah jang paling baik. Atjapkali dari téks² itu dapat diketahui lebih banjak hal² dari pada dalam buku² peladjaran. Seidenadel misalnja tidak mengemukakan teori dalam buku peladjarannja tentang bahasa Bontok, tetapi dari téks² jang diumumkannja orang dapat menjusun teori itu sendiri. Atjapkali teks² memperbaiki keterangan dalam buku² peladjaran. Mathes mengatakan dalam bukunja tentang tata bahasa Bugis (lihat keterangan dibawah nomor 193), bahwa kata ganti orang pertama (first person pronoun) ku dengan tjara proklitis tetapi tidak dengan tjara enklitis disingkatkan mendjadi u: tetapi dalam karangan jang diumumkannja „Budi Isĕtiharatĕ" terdapat kalimat: na-elòriy-aq woro-wanè-u. Tentang beberapa bahasa terdapat téks jang diterbitkan dengan saksama dan menundjukkan tekanan, kwantitét, dsb., tetapi belum terdapat buku peladjaran dan kamus.

37. Membandingkan bahasa² Indonesia dengan bahasa Indoger­man. Dalam monografi ini se-dapat²nja saja membandingkan gedjala² bunji dalam bahasa² Indonesia dengan gedjala² bunji dalam bahasa1 Indogerman. Usaha membandingkan gedjala² dalam bahasa² Indonesia dengan gedjala² dalam bahasa² Indogerman bukanlah usaha baru. Humboldt dan Bopp telah berbuat begitu djuga, tetapi bahan² kurang dipahamkannja. Perbandingan itu dilakukan djuga oleh Kern dan bahasa² Indonésia dan bahan² dipahamkannja benar. Kaum ahli bahasa umumnja menjatakan terima kasihnja kepada Kern, tetapi baru² ini timbul pendapat, bahwa perbandingan sematjam itu tak ada gunanja. Beberapa pendapat itu perlu saja kemukakan untuk mempertahankan pendiri saja.

I. Usaha mem-banding²kan bahasa² Indogerman antara sesamanja lebih madju daripada usaha membanding²kan bahasa Indonésia antara sesamanja, sistim perbandingan mengenai bahasa2 Indogerman telah disusun benar, djadi harus dipakai sebagai perintis djalan dalam penjelidikan tentang bahasa² Indonésia. Banjak kaum penjelidik baha­sa² Indonésia misalnja mem-bagi²kan bahasa2 Indonesia menurut ke­mungkinan² pada achir kata, sebagian kaum penjelidik iiu membagi²kan bahasa² Indonésia menurut bentuk genitif terutama menurut tempat bentuk génitif itu : apakah bentuk génitif itu mendahului atau mengikuti kataganti penghubung. Dalam kedua tjara mem-bagi² bahasa² Indonésia itu perhatian ditudjukan pada suatu gedjala bahasa jang tertentu. Dilapangan bahasa² Indogerman antara lain orang mem-bagi² bahasa² German atas bahasa German sebelah timur dan bahasa² German sebelah barat. Tetapi Kluge ("Urgermanisch"; lihat keterangan dibawah nomor 146) mempergunakan ber-bagai² ukuran (kriterium); tidak semua kaum penjelidik membagi² bahasa² itu atas dua bagian. Oléh sebab itu kaum penjelidik bahasa² Indonésia harus ber-hati² : disamping satu ukuran haruslah dipergunakannja ukuran² lain atau segala matjam pembagian bahasa² Indonésia harus disampingkan.

Tjatatan. Mem-bagi² bahasa² Indonésia menurut satu gedjala bahasa hanjalah berguna, djika dapat dibuktikan, bahwa gedjala itu gedjala jang terpenting, paling chas dan paling djelas diantara semua gedjala bahasa. Tetapi bukti sematjam itu tentang bunji pada achir kata² dan tentang tempat bentuk génitif tak pernah dikemukakan. Saja sendiri tak dapat memahamkan, bahwa bunji pada achir kata lebih penting daripada bunji pada permulaan kata² (lihat keterangan dibawah nomor 193 dan selandjutnja) dan bahwa soal tempat bentuk génitif depan atau belakang kataganti penghubung lebih penting daripada tempat scbutan (predikat) berhubung dengan pokok (subjek). Pada tahun² jang terachir sifat bentuk génitif telah di-lebih²kan dalam penjelidikan tentang bahasa² Indonésia. II. Hasil penyelidikan tentang bahasa² Indonsia kadang² berguna djuga untuk penjelidikan tentang bahasa² Indogerman. Dalam tatabaliasa menurut sedjarah tcntang bahasa Perantjis jang disusun oléh Meyer-Lübke I misalnja dikemukakan, bahwa kata tante dalam bahasa Perantjis terdjadi dari ante (kata amita dalam bahasa Latin). Hal sematjam itu terdapat djuga dalam bahasa² Indonésia.

III. Psychologi-bahasa dipergunakan djuga terutama mengenai bahan² dalam bahasa² Indonésia untuk deduksi. Oléh sebab psycho­logi-bahasa itu mula² disusun untuk bahasa² Indogerman, maka psychologi itu harus disertai hal² sedjadjar dalam bahasa² Indogerman, agar dapat dipakai dengan tepat bagi bahasa² Indonésia. Dalam monografi saja jang dulu telah ditundjukkan, bahwa psychologi-bahasa itu dapat salah dipakai, djika dipergunakan bagi bahasa² Indonésia dengan tak disertai petundjuk djalan jang tentu.

IV. Banjak penjelidik jang mem-banding²kan ber-bagai² bahasa Indonésia dan bahasa² Indogerman berusaha djuga menentukan gedjala² bahasa manakah jang dapat dipandang sebagai pernjataan budi jang tinggi. Dalam hal itu diambil kesimpulan, bahwa bahasa² Indonésia tak setinggi bahasa² Indogerman tingkatnja. Djika deduksi jang menimbulkan pendapat itu tak dapat dibantah, maka orang harus menjetudjuinja, tetapi mengenai bahasa² Indonésia harus saja mengemukakan, bahwa bukti² itu menundjukkan pengetahuan jang mengandung kekurangan², sikap memandang soal dari satu segi sadja, dsb. Hal itu telah saja kemukakan dalam monografi saja jang dulu terhadap kaum penjelidik bahasa Durand dan Taffanel. Marilah kita memperhatikan satu hal lagi jang lebih baru. Finck dalam karangannja "Die Haupttypen des Sprachbaues" (hal. 94) membitjarakan susunan kalimat dalam bahasa Samoa dan menundjukkan peranan jang baik dari partikel² — jaitu katadepan (préposisi), katasambung (konjungsi), dsb. — dalam perhubungan bagian² kata². Tetapi pada hématnja partikel² itu dapat menghubungkan seluruh kalimat. Diambilnja kesim pulan bahwa bahasa Samoa itu tak dapat membentuk kalimat jang lengkap benar seperti bahasa² Indogerman. Kesimpulan itu mengandung pendapat bahwa bahasa² Indonésia tak setingkat bahasa² Indogeman. Tetapi dilupakannja bahwa bahasa² Indonésia disamping partikel² mempunjai alat² lain untuk menjusun kalimat jang lengkap benar, misalnja dengan meletakkan tekanan dalam kalimat (lihat keterangan dibawah nomor 335). Hal itu tidak di-sebut² oléh Finck. Dan pengertiannja tentang sifat partikel ternjata dari terdjemahan kepala karangannja "Sprachprobe" jang berbunji : 'o le tala i le fuŋafuŋa, jang diterdjemahkannja seperti berikut : "O ! tjerita tentang ketimun laut itu" . Sebenarnja ’o jang terdjadi dari ko (menurut tulisan saja dibawah keterangan nomor 39 : qo) ialah katadepan nominatif (lihat Kern FI. hal./Z.1) dan i ialah katadepan jang dipakai untuk berbagai² keperluan dan dalam beberapa bahasa Indonésia dipergunakan untuk menundjukkan perhubungan génitif. Dengan tjara serampangan katadepan itu diterdjemahkannja sebagai katadepan lokatif. Djika tjara membandingkan bahasa² Indonésia atau bahasa² Indogerman jang mengandung kekurangan² jang telah dikemukakan tadi, diganti dengan tjara lain jang tidak mengandung kekurangan itu dan oléh sebab itu dapat dinamai tjara jang objéktif, maka tjara perbandingan jang pertama itu tak dapat dipertahankan. Tetapi djika tjara perbandingan jang objéktif tidak mempunjai maksud lain daripada memberikan pemandangan jang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan, lagipula tidak patut dan melukai perasaan manusia, maka dapatkah tjara perbandingan itu dibenarkan ?

38. Dalam monografi ini dipakai singkatan seperti berikut:
IN = Indonesisch (Indonésia)
IDG = Indogermanisch (Indogerman)
GW = Grundwort (kata dasar)
Brugmann KvG = Karangan K. Brugmann "Kurze vergleichende Grammaatik der indogermanischen Sprachen".
Meillet GvP = Karangan A. Meillet "Grammaire du vicux Perse" .
Kern FI = Karangan Kern „De Fidjitaal".
BDG = "Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië".
Schwarz-Texte = "Tontemboanische Teksten" oleh J. Alb. T. Schwarz.
Steller-Texte = Téks dalam karangan K.G.F. Steller "Nadere Bijdrage tot de Kennis van het Talaoetsch".
Seidenadcl-Texte = Téks dalam karangan C.W. Seidenadel "The first Grammer of the Langguage spoken by the Bontoc Igorot".
Tuuk Lb. = Bataksch Leesboek door H.N. van der Tuuk.
Hain-Teny = "Les Hain-Teny Mérinas" oléh Jean Paulhan.

BAB II

ICHTISAR DAN URAIAN TENTANG BUNJI
DALAM BAHASA² INDONESIA.

Sistim bunji dalam bahasa Indonésia purba.

39. Dalam bahasa Indonésia purba terdapat bunji seperti berikut :
Harakat (vokal) : a, i, u, e, o, é,
Setengah harakat; (half-vokalen) : y. w.
Bunji-lebur. (liquida) : rl, r2, I.
Konsonan pangkal-tenggorok (laringal) : q.
Konsonan Iangit² lembut (vélar) : k, g, ŋ.
Konsonan langit² (palatal) : c, j, ñ.
Konsonan gigi (déntal) : t, d, n.
Konsonan bibir (labial) : p, b, m.
Konsonan géséran (sibilant) : s.
Konsonan pangkal tenggorok (aspirate) : h.

40. Tjatatan tentang bunji² itu.
I. Dalam monografi saja dulu telah diterangkan bahwa kata bela (kawan) dan sor (bawah) jang mengandung harakat (vokal) e dan o terdapat dalam bahasa Indonésia purba.
II. Bunji rl diutjapkan dengan lidah dan bunji r2 dengan anak lidah.
III. Bunji laringal q, jang dinamai djuga hamza, kurang penting dalam bahasa² Indonésia. Hanja dalam satu hal sadja (lihat keterang­an dibawah nomor 181) mungkin sekali bunji itu terdapat dalam bahasa Indonésia purba.
IV. Sebagian kaum penjelidik bahasa berpendapat, bahwa kon­sonan langit² (palatal) terdjadi dari konsonan gigi (déntal). Tentang pendapat itu tidak, dikemukakannja alasan² jang kuat dan dalam monografi saja jang dulu saja telah mengemukakan pendapat lain.
V. Begitu djuga halnja tentang bunji letus bersuara (media) dan konsonan bibir (labial). Sebagian kaum penjelidik bahasa Indonésia purba tentang hal itupun berlainan pendapatnja. VI. Perlu diakui, bahwa gambaran kita tentang bunji dalam bahasa Indonésia purba sekarang masih kasar. Belum tentu misalnja apakah bahasa Indonésia purba mempunjai ber-bagai² konsonan gigi (déntal), apakah huruf² itu bersifat postdéntal atau supradéntal, dsb. Tentang hal itu kami belum dapat memberikan keterangan.

VII. Hal menundjukkan huruf pepet dengan huruf ě ialah kurang tepat dan dapat menjesatkan, tetapi umum berlaku. Hal menundjuk- kan hamza dengan apostrof sama sekali gagal, jang harus diperguna- kan untuk maksud lain, misalnja dalam hal menghilangkan huruf.

Bahwa hamza itu kurang tepat dipergunakan, hal itu ternjata dari nama² karangan seperti "De Bar'e-sprekende Toradjo's"; apostrof jang pertama dalam nama karangan itu berarti hamza dan apostrof jang kedua memetjahkan bentuk djamak. Saja memakai tanda q sebagai pengganti hamza.

Sistim bunji dalam bahasa jang sekarang berlaku dibandingkan
dengan sistim bunji dalam bahasa Indonésia purba.

41. Dibandingkan dengan bahasa Indonésia purba bahasa Indonésia jang sekarang berlaku mengandung hal² jang chusus seperti berikut :

I. Beberapa bunji jang terdapat dalam bahasa Indonésia purba tak terdapat lagi dalam banjak idiom sekarang. Bahasa Djawa kuno tak mempunjai huruf r2. Dalam bahasa Roti sekarang tak terdapat huruf pepet, konsonan langit² (palatal) dan huruf r; huruf y dan w hanja terdapat pada kataseru (interjéksi) sadja.

II. Banjak idiom sekarang memperoléh huruf² baru. Bahasa Howa misalnja mempunjai konsonan géséran (spirant) f dan z sekarang.

III. Huruf² jang tertentu jang terdapat dalam bahasa Indonésia purba telah hilang dalam banjak idiom sekarang, tetapi huruf² itu dibentuk lagi dari huruf² lain. Huruf h dalam bahasa Indonésia purba misalnja tak dibunjikan dalam bahasa Howa, oléh sebab itu terdapat kata fulu dalam bahasa itu jang sama artinja dengan puluh dalam bahasa Indonésia purba, tetapi huruf h muntjul kembali dari huruf k, misalnja dalam kata hazu jang sama artinja dengan kata kayu dalam bahasa Indonésia purba. IV. Huruf jang terdapat dalam bahasa Indonésia jang sekarang berlaku tetapi tak terdapat dalam bahasa Indonésia purba ialah:
Umlaut ä. Ö. Ü.
harakat (vokal) sengau.
Huruf cerebral
konsonan géséran (spirant) x, v, s, z, f.

42. Banjak bahasa Indonésia jang sekarang berlaku mempunjai beberapa huruf jang ber-lain²an bunjinja. Bahasa Nias misalnja mem- punjai dua matjam o (lihat keterangan dibawah nomor 5), bahasa Talaud dua matjam l (lihat keterangan dibawah nomor 5), bahasa Indonésia purba mempunjai dua matjam r (lihat keterangan dibawah nomor 129).

43. Huruf jang dibunjikan dengan tjara luar biasa djarang terdapat dalam bahasa² Indonésia. Dalam bahasa Busang misalnja konsonan bibir gigi (labiodéntal) b diutjapkan dengan menekankan bibir bawah pada gigi atas dan dalam bahasa Buli terdapat huruf h jang dibunjikan dengan bernapas melalui hidung.

Tjara mengutjapkan bunji jang tentu dan jang tak tentu.

44. Dalam sebagian bahasa² Indonésia bunji diutjapkan dengan tjara jang tentu dalam sebagian lagi dengan tjara jang tak tentu. Dalam bahasa jang berlaku di Philipina ,,bunji i tak dapat dibedakan dengan bunji "e (Scheerer). Dalam bahasa Dajak "o dibunjikan antara o dengan u dan seorang orang Dajak itu djuga kadang² membunjikan-nja hampir seperti o kadang² lagi hampir seperti u." (Hardeland). Bangsa Bontok mengutjapkan beberapa huruf sekehendaknja sadja. Menurut Kolling dalam téks Seidenadel hal. 555 dan selandjutnja kata esaed (lalu) kadang² diutjapkannja isaed.

45. Hal mengutjapkan bunji dengan tjara jang tak tentu itu dapat merupakan taraf pertama dari pertumbuhan gedjala bunji. Bahasa Dajak bertali erat dengan bahasa Howa, tetapi dalam bahasa Howa huruf o tidak dibunjikan antara o dengan u; bunji o telah mendjadi satu dengan huruf u, sehingga bahasa Howa tidak mempunjai huruf o lagi.

46. Hal mengutjapkan bunji dengan tjara jang tak tentu itu terdapat dalam beberapa bahasa Indogerman jang tertentu. Finck dalam karangannja ,,Lehrbuch des Dialekts der deutschen Zegeuner" menundjukkan bahwa huruf w atjapkali diutjapkan sebagai b dan sebaliknja.
Hal mengutjapkan bunji
sepenuhnja atau sebagian sadja.

47. Dalam banjak bahasa Indonésia beberapa huruf jang tertentu tidak seluruhnja diutjapkan tetapi hanja sebagian sadja. Dalam bahasa Bontok ,,bunji g, d, b, pada achir kata hampir tidak terdengar bunji-nja" (Seidenadel). Dalam bahasa Gayo ,,dalam kata² jang mengandung ng, nj, nd, mb bunjiletus bersuara (média) hampir tak terdengar, sehingga atjapkali tak dapat diketahui tentang ada tidaknja média itu". (Hazeu). Dalam bahasa Howa ,,harakat (vokal) pada achir kata hampir hilang". (Rousselot).

48. Hal mengutjapkan bunji dengan tjara lemah terutama menge- nai harakat (vokal), seperti huruf a dalam kata pûluàh (sama dengan kata puluh dalam bahasa Indonésia purba); harakat (vokal) jang me- nurut keterangan dibawah nomor 232 terdjadi karena bunji diulangi seperti y dalam kata ari gyaga (ari + gaga) dalam bahasa Howa, (ari gyaga = dan heran); bunji-perantara dan bunji jang memisahkan seperti dalam kata wanuwa (negeri) dalam bahasa Bugis, jang sama artinja dengan wanuwa dalam beberapa bahasa Indonésia lain. Hal mengutjapkan bunji-perantara dan bunji jang memisahkan dengan tjara jang kurang tegas itu mempengaruhi djuga bentuk bahasa tulisan. Dalam bentuk bahasa-tulisan bunji itu kadang² dipakai, kadang² lagi hilang. Dalam tjerita Bugis ,,Paupau Rikadòŋ" kata riyanaq (ri + anaq ,,kepada anak") ditulis rianaq.

49. Hal mengutjapkan, bunji dengan tjara lemah menundjukkan bahwa bunji itu akan hilang sama sekali. Bunji letusan bersuara (média) jang dalam bahasa Gayo diutjapkan dengan tjara lemah, tak terdapat lagi dalam beberapa idiom lain, misalnja dalam kata tana dalam bahasa Roti jang sama artinja dengan tanda dalam bahasa Indonésia purba.

50. Hal mengutjapkan bunji dengan tjara kurang tegas itu terdapat djuga dalam bahasa² Indogerman, misalnja dalam kata mensa dalam bahasa Latin bunji n jang mendahului s kurang tegas diutjapkan. (lihat karangan Sommer "Handbuch der lateinischen Laut-und Formenlehre"). Dalam hal itupun hal mengutjapkan bunji dengan tjara kurang tegas itu menundjukkan bahwa bunji itu akan hilang sama sekali, oléh sebab itu terdapat kata mesa dalam bahasa² Romein.
Uraian lebih landjut tentang bunji dalam bahasa Indonésia.

51. Dibawah ini saja membuat uraian selandjutnja tentang bunji dalam bahasa² Indonésia jang kiranja sesuai dengan maksud dan tudjuan monografi saja ini.

52. Harakat (vokal) akan digambarkan dalam bab jang berikut dengan tjara jang mendalam menurut kwantitét dan kwalitétnja. Dalam bab ini hanja huruf pepet sadjalah jang akan dibitjarakan.

53. I. Huruf pepet jang sebenarnja. Huruf pepet dalam bahasa Djawa tak tentu bunjinja, djika tidak dibunjikan dengan gerak mulut jang tertentu seperti dalam hal membunjikan huruf hidup a, l, dsb. jang tentu bunjinja". (Roorda). Dalam mengutjapkan huruf pepet dalam bahasa Madura, rongga mulut seperti kalau orang bernapas. (Kiliaan)

II. Huruf pepet jang dibunjikan dengan tjara jang agak berlainan dengan tjara mengutjapkan huruf pepet jang sebenarnja. Dalam hal itu bunji pepet itu menghampiri bunji a-, i- atau u-. ,,Dalam bahasa Bugis bunji pepet è ialah agak seperti bunji a". (Matthes). Dalam bahasa Djawa kuno bunji pepet menghampiri bunji u dan mendjadi w djika sesudah suatu konsonan lenjap, mendahului suatu harakat (vokal); oléh sebab itu terdapat kata bwat dalam bahasa Djawa kuno jang menggantikan kata běat (= běrat dalam bahasa Indonésia purba).

Bunji a-, i-, dan u- ialah bunji-peralihan dari a, i dan u. Dalam bahasa Bugis huruf pepet itu berbunji seperti a dan dalam bahasa Makassar jang erat bertali dengan bahasa Bugis sama benar bunjinja dengan a.

III. Huruf-lebur pepet (liquid). Dalam sebagian bahasa Indonésia huruf pepet itu seperti harakat (vokal) lain sifatnja, péndék atau pandjang bunjinja, ditekankan atau tidak ditekankan. Dalam sebagian bahasa² lagi, seperti dalam bahasa Tontémboa hanja péndék sadja bunjinja, atau tidak ditekankan seperti dalam bahasa Gayo; oléh sebab itu terdapat kata tùluk (memeriksa) dan tělúk (teluk) dalam bahasa itu.

Ber-bagai² gedjala bunji dalam bahasa² Indonésia bertali dengan bunji-lebur (liquid) itu. Pada hémat saja dalam semua bahasa Indonésia huruf pepet itu tidak dibunjikan sebagai diftong. Dalam bahasa Djawa kuno huruf u jang mendahului vokal berbunji seperti konsonan: oléh sebab itu bentuk tjara andai (konjunktif) dari těmu ialah atěmwa; huruf u jang mendahului huruf pepet tetap ada dengan tak dipandjang-kan bunjinja; bentuk gerundium dari těmu ialah těmun (temu + ěn).

54. Umlaut dibitjarakan dibawah nomor 251 dan selandjutnja dalam hubungan dengan soal lain.

55. Huruf jang berbunji sengau tak banjak terdapat dalam bahasa² Indonésia. Bunji sengau mempengaruhi huruf jang mendahului atau mengikutinja.

I. Bunji sengau jang mendahului huruf jang tak berbunji sengau. ,,Dalam bahasa Atjéh harakat (vokal) jang mengikuti huruf jang berbunji sengau, mendjadi berbunji sengau djuga". (Snouck Hurgronje).

II. Bunji sengau jang mengikuti huruf jang tak berbunji sengau. ,,Dalam bahasa Howa seperti dalam bahasa Perantjis, harakat (vokal) jang mendahului huruf jang berbunji sengau, berbunji sengau djuga". (Rousselot) ,,Dalam bahasa Sakalavi misalnja huruf a jang pertama dalam kata mandea (pergi) berbunji sengau, oléh sebab mendahului bunji n" (Fahrner) 56. Setengah-harakat (vokal) (half-vokal) y dan w Huruf y dalam bahasa Djawa ialah setengah-harakat (vokal) seperti y dalam kata il y a dalam bahasa Perantjis", (Roorda). ,,Huruf y dalam bahasa Dajak diutjapkan seperti y dalam kata you dalam bahasa Inggeris". (Hardeland) ,,Huruf w dalam bahasa Bontok ialah u jang bersifat konsonan" (Seidenadel). Huruf w dalam bahasa Makasar berbunji seperti ou dalam kata ouate dalam bahasa Perantjis" (Matthes).

Ber-bagai² gedjala bunji dalam bahasa Indonésia bertali dengan bunji kedua setengah-harakat (vokal) itu. ,,Djika seorang orang Dajak berbitjara dengan per-lahan², maka huruf y diutjapkan seperti hurup i péndék, djadi yaku diutjapkannja sebagai iaku jang terdiri atas tiga suku kata" (Hardeland). Dalam beberapa bahasa Indonésia huruf w pada permulaan kata dibunjikan hampir seperti u; kata walu dalam bahasa Indonésia purba diutjapkan sebagai walu dan uwalu dalam bahasa Tontémboa.

Dalam bahasa² Indonésia, setengah-harakat (vokal) itu diutjapkan djuga dengan tjara lain. ,,Dalam bahasa Bunku huruf w ialah konsonan bibirgigi (déntilabial)" (Adriani). Djika dalam bahasa Roti w diutjap-kan sebagai f misalnja dalam kata falu jang sama artinja dengan kata walu (delapan) dalam bahasa Indonésia purba dan dalam bahasa Howa y diutjapkan sebagai z misalnja dalam kata hazu jang sama artinja dengan kata kayu dalam bahasa Indonésia purba, maka hal itu dapat dipandang sebagai taraf peralihan.

57. Huruf liquid r dan l.

I. Huruf liquid r. ,,Huruf r dalam bahasa Melaju disatu daérah diutjapkan dengan menggerakkan lidah pada gigi, didaérah lain dengan menggerakkan lidah pada langit² atau dengan menggerakkan anak lidah". (Ophuijsen) ,,Huruf r dalam bahasa Melaju disemenandjung Malaya sebelah utara ialah huruf anak-tekak (uvula) (diutjapkan dengan menggerakkan anak lidah") (Winstedt). ,,Dalam bahasa Madura huruf r ialah huruf koronal kakuminal" (Kiliaan) ,,Dialék di Sangir sebelah utara mempunjai bunji r jang diutjapkan sebagai konsonan bibir (labial)". (Talens).

Beberapa bahasa Indonésia mengutjapkan r dengan dua tjara. Dalam bahasa Běsěmah huruf r dibunjikan dengan menggerakkan lidah atau anak lidah. Begitu djuga halnja tentang bunji r dalam bahasa Indonésia purba (lihat keterangan dibawah nomor 40).

II. Huruf liquid l. ,,Dalam bahasa Gayo huruf l diutjapkan dengan menggerakkan udjung lidah pada akar gigi atas" (Hazeu). ,,Dalam bahasa Madura huruf l dibunjikan dengan menggerakkan sisi udjung lidah pada langit dan udjung lidah dilengkungkan kebelakang" (Kili-aan). Bahasa Bada mempunjai huruf prépalatal disamping huruf l supradéntal l" (Adriani).

59. Konsonan langit² lembut (vélar). Tentang hal itu tak perlu kongan,, (Adriani). ,,Dalam bahasa Ampana hamza umumnja dibunji-kan kurang tegas". (Adriani).

59. Konsonan langit² lembut (vélar. Tentang hal itu tak perlu diberikan keterangan lebih landjut.

60. Huruf konsonan langit² (palatal). „Dalam bahasa Madura konsonan langit² (palatal) itu dibunjikan dengan menggerakkan lidah, terutama bagian tengahnja, pada langit" (Kiliaan). ,,Dalam bahasa Djawa huruf c ialah huruf letusan supradéntal, dalam bahasa Melaju huruf palatal, tetapi tidak meletus benar, seperti dalam bahasa Tontémboa" (Adriani). ,,Dalam bahasa Bontok huruf c dan j dibunjikan sebagai t dan d (Seidenadel menulisnja sebagai tj dan dj), atjapkali berbunji seperti ts dan ds" (Seidenadel).

61. Uraian tentang konsonan langit² (palatal) itu menundjukkan, bahwa huruf itu dalam ber-bagai² bahasa dibunjikan dengan tjara jang ber-lain²an sekali, sehingga tak dapat dinamai bunji palatal lagi, terutama oléh sebab dalam beberapa bahasa tak bersifat éksplosif. Dalam hal itu bunji palatal itu tidak merupakan satu konsonan, tetapi dua konsonan. Berdasarkan keadaan itu ber-bagai² gedjala bahasa dapat diterangkan :

I. Kata² dalam bahasa Indonésia tak dapat berachir dengan beberapa konsonan, begitu djuga bunji palatal, tidak terdapat pada achir kata.

II. Dalam bahasa Dajak dua konsonan (tweevoudig konsonant) membuat harakat (vokal) jang mendahuluinja mendjadi péndék, seperti dalam kata sānda (djaminan); satu bunji letusan bersuara (média) mendjadikannja pandjang seperti dalam kata lādin (pisau), tetapi djika konsonan itu mendahului bunji konsonan langit² meletus dan bersuara (palatal-média), maka harakat (vokal) itu mendjadi péndék seperti dalam kata màja (mengundjungi). Konsonan langit2 (palatal) itu membuat j djuga berbunji seperti dua konsonan.

III. Dalam bahasa Sunda suku kata jang terachir ditekankan, djika suku kata jang mendahului suku kata jang terachir merupakan bunji pepet, misalnja dalam kata tělùk; tetapi djika huruf pepet di- ikuti dua konsonan seperti dalam kata děnki, atau djika diikuti konsonan langit² (palatal) seperti dalam kata sěja (rentjana), maka ě tetap ditekankan.

Tjatatan. Dari keterangan dibawah nomor 60 ternjatalah bahwa dalam abdjad bumi putra konsonan langit² (palatal) kadang² ditulis sebagai konsonan langit² (palatal) sengau, kadang² lagi sebagai kon- sonan gigi (déntal) sengau, djadi kadang² orang menulis tuŋjun kadang² lagi tuŋjuŋ (bunga teratai).

62. Huruf² cerebral atau kakuminal. ,,Dalam bahasa Madura huruf kakuminal diutjapkan dengan menggerakkan udjung lidah pada bagian depan langit² dan udjung lidah itu dilengkungkan kebelakang." (Kiliaan).

63. Konsonan gigi (déntal). ,,Dalam bahasa Atjéh huruf d dibunji-kan dengan menggerakkan udjung-lidah pada langit² dekat akar gigi atas" (Snouck Hurgronje). ,,Dalam bahasa Melaju huruf d dan t ialah huruf supradéntal" (Fokker) ,,Dalam bahasa Lebon huruf d dan t ialah supradéntal" (Adriani).

64. Konsonan bibir (labial). Tentang huruf² itu tak perlu diberi-kan keterangan lebih landjut. 65. Konsonan gérésan (spirant). Dalam bahasa Dajak buruf s dibunjikan dengan tegas seperti dalam bahasa Djerman" (Hardeland). ,,Dalam bahasa Tontémboa huruf s ialah huruf supradéntal" (Adriani). ,,Dalam bahasa Gayo huruf s dibunjikan di-sela² gigi" (Hazeu).

,,Dalam bahasa Nias huruf x dibunjikan seperti ch dalam kata wachen dalam bahasa Djerman" (Sundermann). ,,Bahasa Tontémboa tidak mempunjai konsonan langit² lembut letus bersuara (média vélar) sebagai penggantinja terdapat konsonan géséran (spirant) jang diutjapkan pada bagian belakang langit²". (Adraini). ,,Dalam bahasa Bontok huruf s dibunjikan seperti sh dalam kata shield dalam bahasa Inggeris" (Seidenadel), dan huruf f seperti huruf f dalam kata fine dalam bahasa Inggeris. ,,Dalam bahasa Bufu huruf f ialah konsonan bibir (bilabial)" (Adraini).

66. Konsonan pangkaltenggorok h. ,,Dalam bahasa Gayo seperti dalam bahasa Belanda huruf h dibunjikan dengan tegas, djuga pada achir suku kata. (Hazeu)" Dalam bahasa Djawa huruf h pada per-mulaan kata tak dibunjikan dan pada achir kata kurang tegas dibunji-kan. Begitu djuga halnja djika terdapat antara dua harakat (vokal) jang ber-lain²an dan antara harakat (vokal) jang sama, seperti dalam bahasa Belanda". (De Hollander).

BAB III

KWANTITET DAN KWALITET;
HAL MENDUAKALIKAN KONSONAN.

Hal² umum tentang kwantitét.

67. Sebagian besar bahasa² Indonésia menurut kwantitétnja mem-punjai dua harakat (vokal): vokal pandjang dan vokal péndék. ,,Dalam bahasa Bontok vokal pandjang tak djauh lebih pandjang dari pada vokal péndék". (Seidenadel) ,,Djika vokal a dalam bahasa Djerman ditundjukkan dengan angka 2, maka vokal a dalam bahasa Melaju harus ditundjukkan dengan ½" (Fokker). Bahasa Sangir mempunjai tiga matjam vokal menurut kwantitétnja, oléh sebab vokal jang terdjadi dengan djalan kontraksi lebih pandjang daripada vokal² lain. Bahasa Madura tak mempunjai ber-matjam² vokal menurut kwantitétnja. Kwantitét suku kata jang ditekankan dari kata² jang terdiri atas beberapa suku kata.

68. Dalam banjak bahasa Indonésia berlaku hukum tentang kwantitét jang berbunji seperti berikut :

I. Hukum tentang vokal pandjang: vokal ialah pandjang, djika hanja diikuti oléh satu konsonan sadja, misalnja dalam kata wālu (delapan).

II. Hukum tentang vokal péndék: vokal ialah péndék, djika di- ikuti oléh beberapa konsonan, misalnja dalam gàntuŋ.

69. Dalam beberapa bahasa Indonésia hukum tentang kwantitét ditjampuri oléh suatu hukum chusus, misalnja :

I. Dalam bahasa Dajak hukum tentang vokal pandjang mendjadi kurang kuat, oléh sebab vokal jang mendahului bunji jang tidak ber-suara, ialah péndék, misalnja bunji a dalam kata àso (andjing); vokal jang mendahului konsonan langit² (palatal) jang tidak bersuara, ialah djuga péndék. (lihat keterangan dibawah nomor 61).

II. Dalam bahasa Djawa sekarang, hukum tentang vokal péndék mendjadi kurang kuat, oléh sebab vokal jang mendahului bunji sengau + bunji letusan homorgan, umumnja ialah pandjang, misalnja dalam kata dintên. (hari).

III. Seidenadel dalam karangannja "Grammatik des Bontokischen" tidak mengemukakan téori tentang kwantitét, tetapi djika téks jang diumumkannja dibatja dengan seksama, maka tampaklah hal jang berikut Hukum tentang vokal péndék hampir tak ada ketjualinja: kata ākyu (matahari) (téks Lumawig 69) bertentangan dengan hukum itu diutjapkannja. Hukum tentang vokal pandjang lebih banjak me-ngandung ketjualian, terutama: vokal jang mendahului bunji sengau ialah péndék; dalam téks Lumawig I misalnja terdapat kata ának dan tánub (alang²), dalam téks Kolling terdapat kata wánis (sengka-jan); vokal jang mendahului f dibunjikan sesuai dengan hukum tentang vokal pandjang (tukfifi = bintang).

70. Tetapi dalam beberapa bahasa Indonésia tampak suatu hukum jang menjimpang benar dari hukum tentang kwantitét vokal, misal- nja dalam bahasa Dairi. Dalam bahasa itu vokal dari tiap² suku kata jang ditekankan bunjinja ialah pandjang, misalnja dalam kata pòstěp (mulai).

71. Djika tekanan atas suku kata jang mendahului suku kata jang terachir pindah kesuku kata jang terachir itu, hal itu terdjadi pada kontraksi kata² dan pada kata seru dalam banjak bahasa Indonésia, maka timbullah dua kemungkinan :

I. Vokal pandjang bunjinja. Hal itu terdjadi pada kontraksi kata, dalam bahasa Djawa kuno dan ditandai dalam menulisnja. Dalam tjerita Ramayana VIII, 40, 2 misalnja terdapat kalimat: tumamā rin abhyantara (menjelami djiwanja) tumamā = tumama + tanda tjara andai (konjunktif) a; kata dasarnja ialah tama. Tentang bentuk kata-seru dalam bahasa Gorontalo, Breukink mengatakan: ,,Suku achir itu boléh menjadi panjaŋ, jikalaw kata itu ditilik sapěrti kata sěruhan ataw suruhan".

II. Vokal péndék: Menurut Ferrand, dalam bahasa Howa pada kontraksi kata², vokal péndék bunjinja. Misalnja dalam kata milazà (tjeritakanlah) jang berbentuk tjara perintah (imperatif). (Bentuk tjara berita (indikatif) milàza + tanda bentuk tjara perintah (imperatif) a huruf hidup pada achir kata péndék bunjinja).

72. Gedjala² kwantitét dalam bahasa² Indonésia dan dalam bahasa² Indogerman memperlihatkan banjak hal jang sama. Hukum tentang kwantitét vokal dalam bahasa² Indonésia sesuai dengan hukum tentang kwantitét vokal dalam bahasa Djerman. (lihat karangan Siebs "Deutsche Bühnenaussprache" Bab. "Vokale"). Dalam bahasa Madura seperti dalam bahasa Romén tidak terdapat perbédaan² kwantitét. (lihat karangan Tiktin ,,Rumänisches Elementarbuch").

Kwantitét vokal dalam kata² jang terdiri atas satu suku kata.

Kata² lengkap, jang terdiri atas satu suku kata dalam sebagi-an bahasa² Indonésia pandjang bunjinja. Dalam bahasa Karo terdapat djuga kata pět (mentjari) (e jang sebenarnja merupakan ě-pepet, di-bunjikan pandjang). Dalam sebagian bahasa² Indonésia jang lain, seperti dalam kata (kata jang menjatakan sangkalan) dalam bahasa Howa vokal a péndék bunjinja.

74. Kata² a atau o jang menjatakan pengakuan dan terdiri atas satu suku kata dalam sebagian besar bahasa² Indonésia pandjang bunjinja; terutama tjara menulisnja dalam ber-bagai² téks menundjuk- kan hal itu. Dalam suatu tjerita dalam bahasa Kamberi jang diumum-kan oléh Kreisel (BDG 1913, hal. 83 Z. 28) misalnja terdapat kalimat : āã hiwada (,,Ja, ja," kata meréka).

75. Kata-bentuk (Formwörter) jang terdiri atas satu suku kata umuinnja péndék bunjinja, meskipun kurang tegas dibunjikannja dalam hubungan kalimat. Kadang² kata² itu pandjang bunjinja seperti menurut Meerwaldt kata (tiap²) dan (bahkan) dalam bahasa Toba. Djika dari kata² bentuk (Formwörter) jang péndék bunjinja itu dibentuk kata lengkap, maka kadang² kata-bentuk itu mendjadi pandjang bunjinja. Dalam tjerita tentang ,,Kera dan babi" dalam bahasa Baréqé terdapat kata : maŋkae toraa (menggali ubi) (Karang-an Adrianus Schreiburg "Bareqe Leesboek", hal. 15, Z. 4) Torà (ubi) dengan ditekankan a-nja, sebenarnja berarti: barang didalam (tanah) = (dalam).

Kwantitét suku kata jang tidak ditekankan.

76. Suku kata jang mendahului suku kata jang ditekankan bunji-nja ialah hampir selalu péndék. Dalam bahasa Bugis suku kata jang mendahului suku kata jang ditekankan bunjinja ialah pandjang, tetapi dalam kamus tentang bahasa itu hanja terdapat kira² setengah losin hal jang menurut ilmu étimologi tak dapat diatur, misalnja kata měŋcàna (dangkal).

77. Suku kata jang mengikuti suku kata jang ditekankan bunjinja atjapkali pandjang bunjinja, terutama kalau suku kata itu berachir dengan vokal. Dalam bahasa Dajak vokal pada achir kata selalu pandjang bunjinja; dalam kata humā (rumah) misalnja kedua vokal pandjang bunjinja dan suku kata jang pertama ditekankan bunjinja. Dalam beberapa hal jang tertentu dalam bahasa Bugis suku kata jang terachir, pandjang bunjinja, djuga djika kata itu berachir dengan konsonan. (misalnja dalam kata diměŋ (menghendaki).

78. Gedjala, bahwa suku kata jang mendahului suku kata jang ditekankan bunjinja umumnja péndék dan suku kata jang mengikuti suku kata jang ditekankan bunjinja atjapkali pandjang bunjinja, adalah sedjadjar dengan kenjataan, bahwa suku kata jang mendahului suku kata jang ditekankan bunjinja hampir tak pernah mengandung diftong, sedang suku kata jang mengikuti suku kata jang ditekankan bunjinja atjapkali bersifat diftong. (lihat keterangan dibawah nomor 171).

79. Dalam bahasa Bugis tekanan pada suku kata jang terachir dapat dipindahkan kalau dari kata itu disusun kata lain; djika suku kata jang terachir pandjang bunjinja, maka karena kontraksi bunji pandjang itu mendjadi péndék. Dari kata dasar tàppa dibentuk kata tappàŋ (bangunan, tjontoh) tappa + aŋ) dengan ditekankan suku katanja jang terachir, dalam susunan tàppāŋ-matuwa kata jang mendahului suku kata jang terachir dan vokal pada suku kata jang terachir itu mendjadi péndék bunjinja.

Kwantitét vokal dalam bahasa Djawa kuno.

80. Dalam tulisan bahasa Djawa kuno vokal jang pandjang bunji-nja ditandai. Tetapi tanda tentang vokal jang pandjang bunjinja itu djarang tampak. Menurut kwantitét vokal dalam bahasa Djawa se- karang, tanda itu semestinja djauh lebih banjak tampak. Dalam tjerita Ramayana tanda tentang vokal jang pandjang bunjinja itu ketjuali dalam kata² jang diambil dari bahasa lain hanja terdapat pada kata-seru (interjéksi), pada kata² lengkap jang tertentu dan terdiri atas suku kata, misalnja pada kata kūŋ (rindu), tetapi tanda itu tidak tampak pada kata sih (belas kasihan), pada kata mati (membiarkan mati) jang terdjadi dari mati + i dengan djalan kontraksi, dan pada kata ikū (ékor = ikur² dalam bahasa Indonésia purba). Dengan begitu terdapat sjair jang tidak memakai tanda tentang vokal pandjang, misalnja dalam tjerita Ramayana V, 68, 2 terdapat kalimat : sira juga tuŋga-tuŋgal anusup tamatar matakut. (Lalu dengan tak takut pergi-lah ia). Adakah barangkali dalam bahasa Djawa kuno tiga tingkat kwantitét seperti dalam bahasa Sangir (lihat keterangan dibawah nomor 67) dan vokal jang amat pandjang sadjakah jang ditandai dalam bahasa Djawa kuno ?

Kwantitét vokal dalam bahasa Indonésia purba.

81. Meskipun terdapat hukum tentang vokal pandjang, tetapi oleh sebab hukum itu dilemahkan oleh ber-bagai² hukum chusus, hal kwantitét dalam bahasa Djawa menimbulkan kesukaran dan achirnja oléh sebab tentang hal itu hanja terdapat keterangan jang kurang memuaskan tentang banjak bahasa Indonésia, maka belumlah kami memperoléh gambaran jang tentu tentang kwantitét vokal pandjang dalam bahasa Indonésia purba.

Kwalitét vokal.

82. Tentang kwalitét vokal terdapat dua kemungkinan :

I. Kwalitét itu bergantung pada kwantitét. Vokal jang pandjang bunjinja ialah tertutup dan vokal jang péndék bunjinja ialah terbuka. Hukum itu berlaku bagi beberapa bahasa Indonésia. Dalam bahasa Minangkabau e jang ditekankan bunjinja dan mendahului s seperti dalam kata leseq (radjin) adalah terbuka, tetapi tertutup djika men- dahului r seperti dalam kata lereŋ (tandjakan).

Hal menduakalikan (verdubbelen) konsonan.

83. Konsonan jang diduakalikan mengandung ber-bagai² nilai bunji. (lihat keterangan Sievers dalam karangannja "Phonetik", Bab. "Silbentrennung"). Tentang hal menduakalikan konsonan dalam bahasa Indonésia définisi² jang berikut memberikan pegangan. ,,djika dalam bahasa² di Philipina konsonan diduakalikan maka kedua huruf itu diutjapkan dengan tjara tegas" (Conant). ,,Dalam bahasa Bugis kon-sonan jang diduakalikan diutjapkan dengan tjara demikian, sehingga konsonan itu menutup suku kata jang mendahuluinja dan membuka suku kata jang mengikutinja". (Mathes). ,,Konsonan jang diduakali-kan merupakan batas tekanan". (Kaliaan). Dalam bahasa Bontok kadang² konsonan jang diduakalikan di-pisahkan oléh hamza. Oléh sebab itu dalam „tjerita tentang pengajau” (téks Seidenadel) terdapat kata: nan amamqma (orang tua²).

84. Bunji h dan q djarang sekali diduakalikan. Hal itu terdapat dalam kata ěhham (daging babi) dan leqqer (léhér).

85. Biasanja vokallah jang diduakalikan, konsonan djarang didua- kalikan. Kata lommra (telah diam) dalam bahasa Madura adalah ketjualian dari kebiasaan itu, menurut hukum jang telah dikemukakan dibawah nomor 86.

86. Hal menduakalikan bunji dalam bahasa² Indonésia jang sekarang berlaku berdasarkan beberapa faktor seperti berikut :

I. Djika akar kata dimulai dan berachir dengan konsonan itu djuga, maka akar kata itu diduakalikan, ialah satu tjara untuk membentuk kata dasar, misalnja dalam kata tottot (djinak) dalam bahasa Kangea. Keadaan itu terdapat djuga dalam bahasa anak², misalnja dalam bahasa anak² Atjéh: mammam (kuwé).

II. Membentuk kata² dari kata dasar. Dalam hal itu atjapkali dengan tjara bersahadja diadakan tambahan, seperti dalam bahasa Toba (awalan) mar + kata dasar rara mendjadi kata sifat marrara (mérah), atau dalam bahasa Madura menurut hukum bunji tentang kata jang mendahului: dari ŋator + (achiran) aghi terdjadi kata ŋatorraghi (menawarkan).

III. Ber-bagai² hukum bunji. Dalam bahasa Madura tiap konsonan jang mendahului r dan l diduakalikan ketjuali n, ŋ, w. oléh sebab itu terdapat kata lommra jang telah disebut tadi disamping kata lumrah jang terdapat dalam bahasa lain. Dalam bahasa Talaud r jang mengikuti vokal jang ditekankan bunjinja, diduakalikan. Tentang hal menduakalikan menurut bunji pepet, lihatlah keterang- an dibawah nomor 5.

IV. Asimilasi. Dalam bentuk bahasa Toba-lisan djika bunji sengau dihubungkan dengan konsonan letus takbersuara (ténuis), maka ter-djadi asimilasi bunji sengau itu dengan bunjiletus takbersuara (ténuis); oléh sebab itu kata gantuŋ jang terdapat dalam bentuk bahasa Toba-tulisan dan bahasa Indonésia purba mendjadi gattuŋ dalam bentuk bahasa Toba-lisan. Dan dalam "Bataksch Lessboak" van der Tuuk terdapat kalimat : marrara do dibahen lamun-na (mérah karena telah matang); kata dibahen lamun-a diutjapkan sebagai dibahel lamun-na dalam bahasa Toba. V. Haplologi terdapat djika misalnja dalam bahasa Ilokan kata apò-apò mendjadi appò (nénék).

VI. Gedjala-Sandhi jang tak berdasarkan asimilasi. Hal itu ter- dapat misalnja dalam bahasa Timor, seperti ternjata dari téks "Atonjes Nok" (Bijdragen tot de Taal-. Land en Volkenkunde van Nederland- sch-Indië 1904, hal. 271). Dalam téks itu terdapat kalimat: sao bifel- 1-es (kawin dengan perempuan itu), jang terdjadi dari: sao - bifel + es.

VII. Berpindah menurut analogi. Dalam bahasa Makasar n pada achir kata jang mendahului kataganti empunja (posésif) na ber-asimilasi; maka terdapatlah kita karaeŋna (radjanja) (karaènna); nna itu terdapat djuga pada kata² jang berachir dengan vokal, oléh sebab itu terdapat kata : matànna (matanja) dari mata.

VIII. Beberapa kataseru (interjéksi), seperti kata awwa dalam bahasa Madura.

87. Hal menduakalikan konsonan dibawah I-lah jang dapat di- tentukan terdapat djuga dalam bahasa Indonésia purba.

88. Tentang gedjala² bunji dalam hal menduakalikan konsonan terdapat banjak hal² sedjadjar dalam bahasa Indogerman. Bunji konsonan jang pandjang dalam bahasa Djerman-Barat misalnja dapat dibandingkan dengan hal menduakalikan konsonan dalam bahasa Madura jang dimaksudkan dalam III. (Karangan Kluge "Urger-manische"). Menurut Brugmann ("Kurze vergleichende Grammatik der indogermanischen Sprachen") tak dapat hal² jang sama antara hal memperduakan kataganti (pronomén) dalam bahasa² Indogerman dengan hal menduakalikan konsonan dalam bahasa² Indonésia.
BAB IV

ICHTISAR TENTANG HUKUM MENGENAI
BUNJI JANG DJELAS.

Keterangan pendahuluan.

89. Kami telah memberikan gambaran tentang hukum² mengenai bunji jang hingga sampai sekarang dapat diketahui tentang bahasa² Indonésia. Dari gambaran itu dibawah ini kami mengemukakan gedjala² jang terpenting dengan berpegang pada satu pihak pada ke-pentingan bahasa² Indonésia dan pada pihak lain pada penjelidikan tentang bahasa² Indogerman.

90. Perubahan² bunji terdjadi dengan bersjarat atau tidak dengan bersjarat. (lihat keterangan dibawah nomor 10). Dalam hal jang per-tama akan saja kemukakan sjarat²nja. Tetapi kadang² sjarat itu terdiri atas ber-bagai² faktor, sehingga akan terlampau pandjang mengurai-kannja, disamping hal² jang berlaku menurut hukum ada banjak djuga hal jang menjimpang dari padanja; atau bahan jang ada pada saja tidak tjukup dalam hal sematjam itu pendirian saja dapat di- rumuskan dengan tjara nétral; ,,Perubahan bunji terdjadi dalam hal² jang tertentu".

Hukum tentang vokal.

91. I. Bunji a dalam bahasa Indonésia purba dalam sebagian besar bahasa² Indonésia jang sekarang berlaku, tak berubah. Kata anak dalam bahasa Indonésia purba tetap anak dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Dajak, dll. Dalam bahasa Bugis, dll. ialah anaq.

II. Bunji a dalam bahasa Indonésia purba dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang mendjadi o; dalam bahasa Tontémboa a jang mendahului w mendjadi o, misalnja kata awak (badan) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi owak; dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang bunji a itu mendjadi e; dalam bahasa Sumba misalnja kata tesi menggantikan kata tasik (danau) dalam bahasa Indonésia purba. Dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang bunji a itu mendjadi i; kata lima dalam bahasa Indonésia purba mendjadi limi dalam bahasa Taimuruna dengan djalan asimilasi; bunji a dalam beberapa hal dalam bahasa Gayo mendjadi ö, kata ina (ibu) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi inö dalam bahasa Gayo; bunji a mendjadi ě dalam bahasa Běsemah, djika terdapat pada achir kata, misalnja kata mata dalam bahasa Indonésia purba mendjadi matě (mata). Bunji a mendjadi aw dalam bahasa Sěraway djika terdapat pada achir kata, misalnja kata mata dalam bahasa Indonésia purba mendjadi mataw.

III. Bunji a dalam bahasa Indonésia purba djarang hilang dalam bahasa² Indonésia sekarang. Hal itu terdjadi dalam bahasa Howa dalam beberapa hal jang tertentu, misalnja djika dalam bahasa Indonésia purba,bunji a itu mendahului bunji y: djadi, kata layar, dalam bahasa Indonésia purba mendjadi lay (berlajar).

92. I. Bunji i dalam bahasa Indonésia purba dalam sebagian besar bahasa² Indonésia jang sekarang berlaku tak berubah. Kata lintah dalam bahasa Indonésia purba tetap lintah dalam bahasa Djawa kuno dan bahasa Djawa sekarang, bahasa Melaju, dll. Dalam bahasa Howa, dll. mendjadi dinta.

II. Bunji i dalam bahasa Indonésia purba dalam beberapa hal jang tertentu dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang mendjadi e; misalnja lintah dalam bahasa Indonésia purba mendjadi lenta dalam bahasa Madura. Bunji i dalam beberapa bahasa Indonésia lain sekarang mendjadi ey djika terdapat pada achir kata, misalnja kata tali dalam bahasa Indonésia purba mendjadi taley dalam bahasa Tiruray. Dalam beberapa hal dalam bahasa Atjéh bunji i mendjadi oy djika terdapat pada achir kata, misalnja kata běli dalam bahasa Indonésia purba mendjadi bloy dalam bahasa Atjéh.

III. Bunji i dalam bahasa Indonésia purba djarang hilang dalam sebagian besar bahasa² Indonésia jang sekarang berlaku. Hal itu ter-djadi dalam bahasa Tontémboa atas tekanan irama. Misalnja dalam njanjian Martina Rompas 13, téks Schwarz, hal. 371 terdapat kata² : cua-mu (ber-hati²lah kamu). Bahwa dalam kata cua (icua = awalan i + kata dasar kua) bunji i hilang, hal itu ternjata dari huruf c jang hanja dapat mengikuti huruf i (lihat keterangan dibawah nomor 103).

93. Bunji u dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji itu dalam sebagian besar bahasa² Indonésia jang sekarang berlaku tak berubah. Kata tunu (membakar) tetap berbunji tunu dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Howa, dll. 37 II. Bunji u dalam bahasa Indonésia purba dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang mendjadi o. Kata putih dalam bahasa Indonésia purba misalnja dalam bahasa Madura mendjadi pote; dalam bahasa Bontok u mendjadi ü, misalnja dalam kata fafüy jang terdjadi dari kata babuy (babi) dalam bahasa Indonésia purba. Bunji u dalam bahasa Indonésia purba itu mendjadi i dalam bahasa Loindang dengan djalan asimilasi, misalnja dalam kata kilit jang terdjadi dari kata kulit dalam bahasa Indonésia purba. Dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang jang lain lagi, bunji u itu mendjadi ew djika terdapat pada achir kata, misalnja kata pitu (tudjuh) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi fitèw dalam bahasa Tiruray. Bunji u dalam beberapa hal dalam bahasa Atjéh mendjadi ee djika terdapat pada achir kata, djadi kata palu dalam bahasa Indonésia purbá mendjadi palèe (memukul) dalam bahasa Atjeh.

III. Bunji u dalam bahasa Indonésia purba djarang hilang dalam bahasa Indonésia sekarang. Hal itu terdjadi dalam bahasa Kupang. Dalam bahasa itu mengambil air" (scheppen) ialah sulu. Tetapi dalam karangan Dummling dalam "Bijdrage tot de Taal- Land en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië" 1904, hal. 259 terdapat kata² : ti sul le doan. (mengambil air untuk dituangkan).

94. Vokal e. Dibawah nomor 40 telah dikemukakan, bahwa kata bela (kawan) ialah satu²nja kata jang asli bunji e nja. Tentang kata² lain jang mengandung e hal itu tak dapat saja menentukan. Kata bela itu tak berubah dalam bahasa Gayo, bahasa Bima, dll. Tetapi dalam bahasa Atjéh terdapat kata bila jang sama artinja.

95. Huruf hidup o. Dibawah nomor 40 telah dikemukakan, bahwa kata sor (bawah) ialah satu²nja kata jang dapat ditentukan, bahwa o jang terdapat pada kata itu sama dengan bunji o dalam bahasa Indonésia purba. Bunji o itu di-mana² tak berubah, misalnja dalam kata sor dalam bahasa Djawa kuno, dalam kata sosor dalam bahasa Tontémboa, dsb.

96. Tentang vokal ě lihatlah keterangan dibawah nomor 121 dan selandjutnja.

Hukum tentang setengah-vokal (halfvokaal).

97. Bunji y dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji itu dalam banjak bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata layar dalam bahasa Indonésia purba tak berubah dalam bahasa Melaju, bahasa Sunda, dll. Dalam bahasa Tagalog kata itu mendjadi layag.

II. Bunji y dalam bahasa Indonésia purba mendjadi j dalam be-berapa bahasa Indonésia sekarang misalnja dalam bahasa Bugis, djika terdapat antara huruf a, o, u, dengan vokal jang mengikutinja. Djadi kata layar, dalam bahasa Indonésia purba mendjadi lajaq dalam bahasa Bugis kuno. Dalam beberapa hal dalam bahasa Howa bunji y itu mendjadi z, misalnja kata kayu dalam bahasa Indonésia purba mendjadi hazu dalam bahasa Howa. Dalam bahasa Sangir y itu mendjadi l djika terdapat antara vokal², misalnja kata kayu mendjadi kalu dalam bahasa Sangir.

III. Bunji y dalam bahasa Indonésia purba hilang dalam beberapa bahasa Indonésia jang sekarang berlaku. Kata kayu misalnja mendjadi hau dalam bahasa Toba.

98. I. Bunji w dalam bahasa Indonésia purba. Bunji itu dalam banjak bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata walu (delapan) dalam bahasa Indonésia purba tetap walu dalam bahasa Tettum dan mendjadi waluh dalam bahasa Gayo, dsb.

II. Bunji w dalam bahasa Indonésia purba itu mendjadi u dalam bahasa Toba djika terdapat pada permulaan kata. Djadi kata walu dalam bahasa Indonésia purba mendjadi ualu, jang terdiri atas tiga suku kata, diutjapkan djuga sebagai uwalu. Bunji w itu mendjadi b dalam bahasa Mentaway, misalnja dalam kata balu (delapan); mendjadi f dalam bahasa Roti seperti dalam kata falu (delapan); mendjadi ww dalam bahasa Djawa kuno, misalnja dalam kata wwara (ada) jang menggantikan kata wara dalam bahasa Indonésia purba; mendjadi gu dalam bahasa Inibalo misalnja dalam kata gualo (delapan); mendjadi h dalam bahasa Manuju misalnja dalam kata taha (tertawa) jang menggantikan kata tawa dalam bahasa Indonésia purba.

III. Bunji w dalam bahasa Indonésia purba hilang dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam bahasa Djawa sekarang djika terdapat antara vokal dengan konsonan. Djadi dalam bahasa Djawa sekarang terdapat kata lir (tjara), jang menggantikan kata lwir dalam bahasa Djawa kuno.

Hukum tentang bunji-lebur (liquida).

99. Bunji rl dalam bahasa Indonésia purba jang dibunjikan dengan gerak lidah.

I. Bunji itu terdapat djuga dalam banjak bahasa Indonésia sekarang, tetapi diutjapkan dengan tjara jang ber-lain²an sedikit. Kata pira (berapa) terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Kamberi, dll.; dalam bahasa Howa kata pira itu mendjadi firi.

II. Bunji rl dalam bahasa Indonésia purba dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang mendjadi l., misalnja dalam kata pila (berapa) dalam bahasa Bisaja, dalam beberapa bahasa Indonésia jang lain bunji rl itu mendjadi d, misalnja dalam beberapa hal dalam bahasa Bali, seperti dalam kata pidan (berapa); bunji itu djarang mendjadi g, hal itu dalam beberapa hal jang tertentu terdjadi dalam bahasa Toba, djadi kata iriuŋ dalam bahasa Indonésia purba mendjadi iguŋ dalam bahasa Toba; bunji rl mendjadi x dalam bahasa Nias, misalnja dalam kata ixu (hidung).

III. Bunji rl dalam bahasa Indonésia purba dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang hilang, djika terdapat pada' achir kata, seperti dalam kata wutsi jang sama artinja dengan kata butir dalam bahasa Indonésia umum.

100. Bunji r2 dalam bahasa Indonésia purba. Tentang bunji itu lihatlah keterangan dibawah nomor 129 dan selandjutnja.

101. Bunji l dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji itu dalam sebagian besar bahasa² Indonésia sekarang tak berubah. Kata laŋit dalam bahasa Indonésia purba tetap berbunji laŋit dalam bahasa Djawa kuno dan lanitra dalam bahasa Howa dll.

II. Bunji l dalam bahasa Indonésia purba mendjadi r dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang; antara lain dalam bahasa Toba karena asimilasi djika kata itu mengandung r, misalnja dalam kata rapur (= lapar dalam bahasa Indonésia purba); dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang jang lain l itu mendjadi y, antara lain dalam bahasa Baréqé, djika itu terdapat antara dua vokal, misalnja dalam kata joya (= djalan dalam bahasa Indonésia purba); antara lain dalam beberapa hal jang tertentu dalam bahasa Tagalog l itu mendjadi w, misanja dalam kata powo (= puluh dalam bahasa Indonésia purba); dalam beberapa hal jang tertentu dalam bahasa Timor bunji l itu mendjadi n, misalnja dalam kata hani jang sama artinja dengan kata kali (menggali) dalam bahasa Indonésia purba; l dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang mendjadi d, misalnja dalam bahasa Howa djika mendahului i asli (jang tidak terdjadi dari bunji ě), djadi kata lima dalam bahasa Indonésia purba mendjadi dimi dalam bahasa Howa; antara lain dalam bahasa Batan dalam beberapa hal jang tertentu l itu mendjadi g, misalnja dalam kata ogo (= ulu dalam bahasa Indonésia purba); dalam beberapa dialék di Formosa dalam beberapa hal jang tertentu l itu mendjadi h, misalnja dalam kata uho (= ulu dalam bahasa Indonésia purba).

III. Bunji l dalam bahasa Indonésia purba hilang dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam kata bae dalam bahasa Boano, jang sama artinja dengan kata balay (rumah) dalam bahasa Indonésia purba.

Hukum tentang konsonan pangkal tenggorok (laringal) q

102. Tentang hukum mengenai laringal q lihat konsonan dibawah nomor 140.

Hukum tentang konsonan langit lembut (vélar).

103. Bunji k dalam bahasa Indonésia purba.

I. Dalam sebagian besar bahasa Indonésia sekarang bunji k itu tak berubah. Kata kuraŋ dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Makasar, dll. Dalam bahasa Tarakan terdapat kata koraŋ jang sama artinja dengan kuraŋ.

II. Dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang bunji k itu mendjadi g, hal itu terdjadi antara lain dalam bahasa Tirurai, djika bunji itu terdapat antara dua vokal, misalnja dalam kata lagey (= laki² dalam bahasa Indonésia purba); antara lain dalam bahasa Howa k itu mendjadi h djika terdapat pada permulaan kata atau antara dua vokal, misalnja dalam kata huhu (= kuku dalam bahasa Indonésia purba); dalam bahasa Bugis, dll. bunji k itu mendjadi q djika terdapat pada achir kata, misalnja dalam kata amaq (= anak dalam bahasa Indonésia purba); bunji k mendjadi c dalam bahasa Tontémboa djika didahului oléh bunji i, misalnja dalam kata tagasic (= tasik dalam bahasa Indonésia purba); k mendjadi t dalam bahasa Howa djika mendahului s, misalnja (menurut téks Hainteny, hal 264, 2-4) dalam kata zanat surùhitra (anak burung "Leeuwerik"); zanat = zánaka (muda) + surühitra "Leeuwerik"); dalam bahasa Kawankoqan-Tontémboa dalam kata² jang dalam bahasa Tontémboa biasa mengandung c (= k), bunji k itu mendjadi s, misalnja dalam kata tagasis (= taqasic dalam bahasa Tontémboa biasa).

III. Bunji k dalam bahasa Indonésia purba hilang dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang; antara lain dalam beberapa hal dalam bahasa Bugis, misalnja dalam kata uliq (= kulit dalam bahasa Indonésia purba). 104. Bunji g dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji g itu dalam sebagian besar bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata gantuŋ' dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Sunda, dll. Dalam bahasa Bugis dsb. kata gantuŋ itu mendjádi gattuŋ).

II. Bunji g itu dalam bahasa Bugis mendjadi k djika mengikuti ŋ, misalnja dalam kata tuŋke (= tunggal (sendiri) dalam bahasa Indonésia purba); bunji g mendjadi gh dalam bahasa Madura misalnja dalam kata ghantoŋ (= gantuŋ dalam bahasa Indonésia purba); bunji g mendjadi konsonan langit² lembut géséran (vélar spirant) dalam bahasa Tontémboa (lihat keterangan dibawah nomor 65); bunji g mendjadi h dalam bahasa Howa djika terdapat pada permulaan kata, misalnja dalam kata hantuna (= gantuŋ dalam bahasa Indonésia purba).

III. Bunji g itu djarang hilang dalam bahasa² Indonésia sekarang, g hilang dalam bahasa Roti djika mengikuti ŋ. Kata gengo dalam bahasa Makasar, dsb. mendjadi ŋgeŋo (berajun) dalam bahasa Roti.

105. Bunji n dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji ŋ itu dalam sebagian besar bahasa Indonésia tak berubah. Kata aŋin dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Malaya, dsb. Dalam bahasa Tagalog dsb. kata aŋin itu mendjadi haŋin.

II. Bunji ŋ itu mendjadi n dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, antara lain dalam bahasa Howa djika tak mendahului konsonan langit² lembut (vélar), misalnja dalam kata ànin. (= aŋin). Bunji ŋ mendjadi ñ dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, antara lain dalam beberapa dialék di Tontémboa djika mengikuti i, djadi kata liŋa (mendengar) dalam bahasa Indonésia purba dan bahasa Tontémboa umum mendjadi liña dalam dialék Tontémboa; bunji ŋ mendjadi k dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang dengan djalan asimilasi. Kata baŋkay dalam bahasa Indonésia purba misalnja men- djadi bakke dalam bentuk bahasa Toba lisan (= baŋke dalam bentuk bahasa Toba tulisan).

III. Bunji ŋ dalam bahasa Indonésia purba hilang dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang djika terdapat pada achir kata, misalnja kata arěŋ (arang) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi axo dalam bahasa Nias.
Hukum tentang konsonan langit² (palatal).

106. Bunji c dalam bahasa Indonésia purba.

I. Dalam bahasa² Indonésia sekarang bunji itu masih terdapat. Kata rlacun dalam bahasa Indonésia purba ialah racun dalam bahasa Djawa kuno dan bahasa Malaya, racu dalam bahasa Bima, dsb.

II. Bunji c dalam bahasa Indonésia purba mendjadi s dalam banjak bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam kata lason (= rlacun) dalam bahasa Tagalog.

107. Bunji j dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji itu dalam beberapa bah. Indonésia sekarang tak berubah. Kata jalan dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Bontok, Běsěmah, dan mendjadi jaya dalam bahasa Baréqé, dsb.

II. Bunji j itu mendjadi c dalam bahasa Bugis djika mengikuti ñ, djadi kata jañji dalam bahasa Indonésia purba mendjadi jañci dalam bahasa Bugis, j mendjadi jh dalam bahasa Madura seperti dalam kata jhalan (= djalan); j mendjadi d dalam beberapa bahasa Indonésia, antara lain dalam beberapa hal jang tertentu dalam bahasa Djawa kuno seperti dalam kata dalan (= djalan); j mendjadi z dalam beberapa hal jang tertentu dalam bahasa Howa, djadi kata tuju dalam bahasa Indonésia purba mendjadi tuzu (= djurusan) dalam bahasa Howa; j mendjadi s dalam bahasa Lalaki, seperti dalam kata sala (= djalan).

108. Bunji ñ dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji itu dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata péñu (= kura²) terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno. Dalam bahasa Madura kata peñu itu mendjadi pěñño dengan didua-kalikan ñ-nja (lihat keterangan dibawah nomor 5, dsb,).

II. Bunji ñ dalam bahasa Indonésia purba itu dalam banjak bahasa Indonésia sekarang mendjadi n, misalnja dalam kata ponu (= kura²) dalam bahasa Toba.

Hukum tentang konsonan gigi (déntal).

109. Bunji t dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji t itu dalam sebagian besar bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata tali dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno dan bahasa Djawa sekarang dan mendjadi talin dalam bahasa Tettum, dsb.

II. Bunji t dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang mendjadi d, misalnja dalam kata mada (= mata dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Sawu; t mendjadi ts dalam bahasa Howa djika men-dahului i, misalnja dalam kata tsídika (= tilik, (memandang) dalam bahasa Indonésia purba); t mendjadi k dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, menurut Aymonier dan Cabatan antara lain dalam bahasa Cam djika mendahului l, misalnja dalam kata klaw (= tiga) jang sama artinja dengan kata tělu dalam bahasa Indonésia purba, t mendjadi x dalam beberapa hal dalam dialék bahasa Formosa, misal-nja dalam kata xe (= tai (lumpur) dalam bahasa Indonésia purba); t mendjadi h dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam kata pihu (= pitu (tudjuh dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Kamberi; bunji t mendjadi bunji cerebral dalam beberapa bahasa Indonésia, misalnja dalam beberapa hal dalam bahasa Madura; t mendjadi s dalam bahasa Bolaang-Mongondou djika ber-hubungan dengan i, misalnja dalam kata kulis (= kulit dalam bahasa Indonésia purba).

III. Bunji t dalam bahasa Indonésia purba tak dibunjikan dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam kata uli (= kulit dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Nias.

110. Bunji d dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji itu dalam banjak bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata dagaŋ (orang asing) dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Toba, dsb. dan mendjadi daga dalam bahasa Bima, dsb.

II. Bunji d mendjadi pada achir kata dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam kata hañut dalam bahasa Malaya (= añut (arus) dalam bahasa Indonésia purba); bunji d mendjadi dh dalam beberapa hal dalam bahasa Madura, djadi kata damar dalam bahasa Indonésia purba mendjadi dhamar dalam bahasa Madura; d mendjadi bunji cerebral dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang; d mendjadi r dalam beberapa bahasa Indonésia, sekarang misalnja dalam bahasa Bugis djika mengikuti n, djadi kata linduŋ (naung) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi linruŋ dalam bahasa Bugis.

III. Bunji d dalam bahasa Indonésia purba hilang dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang. Kata tanduk dalam bahasa Indonésia purba misalnja mendjadi tonu dalam bahasa Kulawi.

111. Bunji n dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji itu masih terdapat dalam sebagian besar bahasa Indonésia sekarang. Kata anak dalam bahasa Indonésia purba misalnja terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno, dsb. dan mendjadi ono, dalam bahasa Nias, dsb.

II. Bunji n itu dalam beberapa bahasa Indonésia mendjadi ŋ djika terdapat pada achir kata misalnja dalam kata aŋiŋ (= aŋin dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Bugis; bunji n mendjadi l dalam beberapa bahasa Indonésia, misalnja dalam beberapa hal dalam dialék² bahasa Formosa seperti dalam kata alat (= anak); bunji n mendjadi t dengan djalan asimilasi: kata gantuŋ dalam bahasa Indonésia purba mendjadi gattuŋ dalam bentuk bahasa lisan Toba.

III. Bunji n itu dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang tak berbunji, misalnja dalam kata lita (= lintah dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Nias.

Hukum tentang konsonan bibir (labial).

112. Bunji p dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji itu dalam sebagian bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata pitu (= tudjuh) dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Masareti dsb. dan mendjadi opitu dalam bahasa Gorontalo, dsb.

II. Bunji p itu mendjadi b dalam bahasa Atjéh djika terdapat pada achir kata, djadi kata idup dalam bahasa Indonésia purba mendjadi udeb dalam bahasa Atjéh dengan berubah vokalnja; p mendjadi f dalam banjak bahasa Indonésia sekarang, antara lain dalam bahasa Howa djika terdapat pada permulaan kata dan antara dua vokal, misalnja dalam kata fitu (tudjuh); p mendjadi w dalam bahasa Nias misalnja dalam kata faxe (= pariay (nasi) dalam bahasa Indonésia purba), tetapi dalam Tanahymus ("Bijdragen tot de Taal-, Land en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië" 1905. hal 12 Z 4) terdapat kata u sixi waxe (saja menampi beras); p mendjadi k; ,,bunji p bagi beberapa marga di Toba sebelah timur sukar diutjapkannja, oléh sebab itu diutjapkan sebagai k, misalnja dalam kata kiso (= piso dalam bahasa Toba umum") (van der Tuuk); p mendjadi h dalam bahasa Roti misalnja dalam kata hitu (tudjuh).

III. Bunji p dalam bahasa Indonésia purba hilang dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang djadi kata pira (berapa) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi ira dalam bahasa Kisar.

113. Bunji b dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji itu dalam banjak bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata baŋaw (bango) dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Melaju di Malaya, bahasa Dajak, dsb. dan men- djadi baŋo dalam bahasa Djawa kuno, dsb.

II. Bunji b itu dalam beberapa hal dalam bahasa Madura menjadi bh, djadi kata buru dalam bahasa Indonésia purba mendjadi bhuru dalam bahasa Madura; bunji b mendjadi p dalam beberapa hal jang tertentu dalam bahasa Bali, misalnja dalam kata plu (= bulu dalam bahasa Indonésia purba); b mendjadi w dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, antara lain dalam bahasa Howa djika terdapat pada permulaan kata dan antara dua vokal seperti dalam kata wanu (bango); b mendjadi f dalam bahasa Roti seperti dalam kata lifu (= rlibu dalam bahasa Indonésia purba); b mendjadi h dalam beberapa hal jang tertentu dalam dialék Silajar dari bahasa Makasar, seperti dalam kata halli (= beli dalam bahasa Indonésia purba dan balli dalam bahasa Makasar).

III. Bunji b itu hilang dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam bahasa Gayo dalam beberapa hal jang tertentu djika terdapat pada permulaan kata, djadi kata batu dalam bahasa Indonésia purba mendjadi atu dalam bahasa Gayo.

114. Bunji m dalam bahasa Indonésia purba.

Bunji itu dalam sebagian besar bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata mata dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Bagobo, dsb. dan mendjadi matan dalam bahasa Tettum, dsb.

II. Bunji m itu mendjadi n dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam bahasa Howa djika terdapat pada achir kata seperti dalam kata inuma (minum ratjun) (= inum (minum) dalam bahasa Indonésia purba); m mendjadi ŋ dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang djika terdapat pada achir kata, misalnja dalam kata inuŋ dalam bahasa Bugis; m mendjadi p dengan djalan asimilasi, misalnja dalam kata luppat (= lumpat dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Toba.

III. Bunji m dalam bahasa Indonésia purba dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang tak bersuara djika terdapat pada achir kata, misalnja dalam kata inu (minum) dalam bahasa Baréqé.

Hukum tentang konsonan géséran (spirant) s.

</center

115. Bunji s dalam bahasa Indonésia purba. 1. Bunji s itu terdapat djuga dalam sebagian besar bahasa Indonésia sekarang. Kata susu misalnja terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Melaju, dsb.

II. Dalam beberapa bahasa Indonésia.bunji s itu mendjadi s, misalnja dalam bahasa Mentawai pada permulaan kata, seperti dalam kata siba (= siwa (sembilan) dalam bahasa Indonésia purba; bunji s mendjadi h dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam kata hiwa (sembilan) dalam bahasa Kamberi; bunji s mendjadi dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam kata ti (= si (kata sandang, artikal) dalam bahasa Indonésia purba).

III. Bunji s hilang dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam beberapa hal dalam bahasa Howa, seperti dalam kata wi (= besi dalam bahasa Indonésia purba).

Hukum tentang konsonan aspirate h

116. Bunji h dalam bahasa Indonésia purba.

I. Bunji h itu dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang tak berubah. Kata pěnuh dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Djawa kuno dan mendjadi panuh dalam bahasa Tarakan, dsb.

II. Bunji h mendjadi q dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang, antara lain dalam beberapa hal dalam bahasa Tontémboa, djadi kata lintah dalam bahasa Indonésia purba mendjadi lintaq dalam bahasa Tontémboa.

III. Bunji h hilang dalam sebagian besar bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam kata pěnno (= penuh dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Bugis. Dalam bahasa Bugis itu bunji u jang mendahului It mendjadi o dan bunji i jang mendahului h mendjadi e misalnja dalam kata pěnno jang dimaksudkan tadi dan dalam kata ile (memilih) jang sama artinja dengan kata ilih dalam bahasa Indo- nésia purba, sedang bunji u dan i pada achir kata dalam bahasa Indonésia purba tak berubah dalam bahasa Bugis, misalnja kata tunu (membakar) dan kali (menggali) dalam bahasa Indonésia purba begitu djuga bunjinja dalam bahasa Bugis.

Hukum tentang bunji² jang bersahadja dalam bahasa²

Indogerman dan bahasa² Indonésia.

117. Sebagian besar perubahan bunji dalam bahasa² Indonésia terdapat djuga dalam bahasa² Indogerman, sebagian berdasarkan atas sjarat² jang sama dan sebagian lagi berdasarkan atas sjarat² jang berlain²an. Dibawah ini kami mengemukakan beberapa hal jang sedjadjar (paralél) dalam bahasa² Indonésia dan bahasa Indogerman : Dalam bahasa India kuno dan bahasa Tabo: s + s = ts, misalnja dalam kata vatsyâmi (akan berdiam; vas = syâmi) dalam bahasa India kuno; dalam bahasa Toba terdapat kata latsoada (belum; las + soada).

Dalam bahasa Pérsia kuno dan bahasa Kamberi bunji s mendjadi h. Dalam bahasa Pérsia kuno misalnja terdapat kata hainā disamping kata senā dalam bahasa India kuno (= tuan) (lihat "Grammaire du vieux Perse" oléh A, Meillet) dan dalam bahasa Kamberi terdapat kata hiwa (sembilan) jang sama artinja dengan kata siwa dalam bahasa Indonésia purba.

Dalam bahasa Arménia dan Roti bunji p mendjadi h, misalnja dalam kata hing (lima) dalam bahasa Arménia disamping kata pānca dalam bahasa India kuno dan kata pente dalam bahasa Junani. Dalam bahasa Roti terdapat kata hitu (tudjuh) jang sama artinja dengan kata pitu dalam bahasa Indonésia purba.

Dalam bahasa Junani dan bahasa Djawa sekarang bunji w hilang Dalam bahasa Junani misalnja terdapat kata oikos disamping kata veça dalam bahasa India kuno dan dalam bahasa Djawa sekarang terdapat kata lir (tjara) jang sama artinja dengan kata lwir dalam bahasa Djawa kuno.

Dalam bahasa Latin dan bahasa Toba vokal sisipan y hilang. misalnja dalam kata tres (= treyes) dalam bahasa Latin; dan dalam bahasa Toba dalam kata hau (= kayu dalam bahasa Indonésia purba)

Dalam bahasa Bulgaria kuno dan bahasa Makasar semua diftong asli mendjadi vokal jang bersahadja (lihat "Grammatik der Altbul- garischen Sprache" oléh Leskien).

Dalam bahasa Prusia kuno dan bahasa Cam tl mendjadi kl, misalnja dalam kata stacle (= statle = penjangga) ("Die altpreussischer Sprachdenmäler" oléh Trautmann) dan dalam kata klaw (= tlu = tělu dalam bahasa Indonésia purba).

Dalam bahasa German dan Howa k mendjadi h, misalnja dalam kata hilan (menjembunjikan) dalam bahasa Gotis disamping kata celare dalam bahasa Latin dan dalam kata hazu dalam bahasa Howa (= kayu dalam bahasa Indonésia purba).

Dalam bahasa Irlandia kuno dan dalam bahasa Roti w mendjadi f, misalnja dalam kata fer (orang laki²) dalam bahasa Irlandia kuno disamping kata vir dalam bahasa Latin dan dalam kata falu (delapan) dalam bahasa Roti jang sama artinja dengan kata walu dalam bahasa Indonésia purba.

Dalam dialék² bahasa Sisilia dan bahasa Bugis bunjiletus bersuara (média) jang mengikuti bunjisengau, mendjadi bunjiletus tak bersuara, misalnja dalam kata ancilu (bidadari) dalam bahasa Sisilia disamping kata angelus dalam bahasa Latin dan dalam kata janci (berdjandji) dalam bahasa Bugis jang sama artinja dengan kata janji dalam bahasa Indonésia purba.

Dalam dialék bahasa Djerman, bahasa Luzäärnertüiit dan bahasa Mori nt mendjadi nd, misalnja dalam kata Määndig (hari Senén) dalam bahasa Luzäänertüiiit disamping kata montasu dalam bahasa Petasia.

118. Tentang dua hukum bunji dalam bahasa Indonésia kami tak dapat menundjukkan hal² jang sedjadjar (paralél) dalam bahasa² Indogerman. Hukum itu tampak dalam bahasa Atjéh dalam kata thee (tiga = tělu dalam bahasa Indonésia purba): těl pada permulaan kata dalam bahasa Indonésia purba mendjadi lh dalam bahasa Atjéh dan u pada achir kata dalan: bahasa Indonésia purba mendjadi ee dalam bahasa Atjéh. (lihat djuga bagian terachir Bab V)
BAB V

HUKUM BUNJI JANG TERPENTING DALAM
BAHASA² INDONESIA DIURAIKAN DENGAN
TJARA MENDALAM.

Kata pendahuluan.

119. Empat hukum bunji jang terpenting dalam bahasa² Indonésia ialah hukum bunji pepet, hukum RGH, hukum hamza dan hukum bunjiletus bersuara.

120. Penjelidikan dilakukan dengan tjara seperti berikut : Mengenai hukum, bunji pepet akan kami tjari réfléks bunji pepet dalam bahasa Indonésia purba dalam ber-bagai² bahasa Indonésia sekarang.

II. Begitu djuga halnja tentang penjelidikan mengenai hukum-r; perlu diselidiki bunji² apakah dalam bahasa² Indonésia sekarang jang menggantikan bunji r (r2) dalam bahasa Indonésia purba (dibunjikan pada anaktekak). Hukum itu dinamai djuga ,,hukum pertama van der Tuuk tentang bunji", oléh sebab van der Tuuklah jang per-tama² mendapatnja. Kami memakai nama jang lebih tepat, jaitu ,,hukum- RGH", oléh sebab r2 dalam bahasa Indonésia purba dalam banjak bahasa Indonésia sekarang mendjadi g atau h.

III. Tentang hukum-hamza harus diselidiki dari bunji² apakah atau dari proses bahasa apakah hamza itu terdjadi ? Dalam hal itu djalan jang kami tempuh dalam penjelidikan berlainan dengan djalan penjelidikan tentang hukum-bunji pepet dan hukum-RGH. Kami bertolak dari hal-banjak dalam bahasa Indonésia purba untuk mentjapai satu hasil dalam bahasa² Indonésia sekarang, jaitu hamza. Hamza itu bunji jang kurang penting dalam bahasa² Indonésia sekarang, oléh sebab itu tak dapat kami bertolak dari bunji hamza dalam bahasa Indo- nésia purba. Hukumn-hamza menarik perhatian karena hal² jang berikut : Dalam bahasa² Indonésia bunji hamza itu luas tersebar, sedang dalam bahasa Indogerman djarang dikenal; djadi gedjala- hamza merupakan perbédaan jang penting antara bahasa² Indonésia dengan bahasa² Indogerman.

IV. Hukum tentang bunji letus bersuara (média). Dalam beberapa bahasa Indonésia kadang² dalam satu kata itu djuga terdapat bunji letus bersuara (média) kadang² lagi bunji kwantitét (Dauerlaut). Dalam bahasa Bugis misalnja ,,memotong" kadang² ialah bětta dan kadang² lagi wetta. Tentang gedjala sematjam itu rupanja tak terdapat hal-sedjadjar (paralél) dalam bahasa Indonésia purba; djadi dalam bal itu kita tak dapat berbalik pada bahasa Indonésia purba, tetapi harus memperhatikan ketiga hukum bunji itu.

Hukum tentang bunji pepet.

121. Bahasa Indonésia purba mempunjai bunji ě, jang dinamai bunji pepet.

122. Bunji pepet itu masih terdapat dalam beberapa bahasa Indonésia, misalnja dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Karo, bahasa Bugis, dsb. Bahasa Djawa kuno mempunjai bunji pepet asli, sedang menurut hukum-RGH bunji itu berubah.

123. Bunji pepet dapat berubah mendjadi vokal lain, jaitu : a, i, u, e, o. Kata těkěn dalam bahasa Indonésia purba mendjadi takaŋ dalam bahasa Makasar, teken dalam bahasa Dajak, tikin dalam bahasa Tagalog. Kata ěněm (ěnam) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi onom dalam bahasa Toba dan unum dalam dialék² bahasa Formosa.

124. Bunji pepet dalam bahasa Indonésia purba itu dengan berbagai² ,tjara berubah dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang.

I. Hal tekanan membawa pengaruh jang menentukan. Dalam bahasa Howa è mendjadi e dalam suku kata jang ditekankan bunjinja dan mendjadi i dalam suku kata jang tak ditekankan bunjinja. Kata ěněm dalam bahasa Indonésia purba mendjadi ènina dalam bahasa Howa. Dengan tjara begitu djuga bunji pepet itu dalam bahasa Kolo mendjadi o atau u. Kata éněm jang dimaksudkan tadi mendjadi onu dalam bahasa Kolo. Hal sedjadjar (paralél) antara bunji e dalam bahasa Howa dan bunji o dalam bahasa Kolo jang bersuara tegas dengan bunji i dalam bahasa Howa dan bunji u dalam bahasa Kolo jang bersuara kurang tegas menarik perhatian.

II. Konsonan jang mengikuti bunji pepet mempunjai pengaruh jang menentukan. Dalam bahasa Pabian-Lampung bunji è mendjadi a djika mendahului r dan mendjadi u djika mendahului m, dsb. Djadi kata sěmbah (tanda hormat) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi sumbah dalam bahasa Pabian-Lampung.

III. Faktor² jang mempengaruhi benar tjara berubahnja bunji pepet, tak dapat ditentukan. Dalam bahasa Bima misalnja bunji pepet itu dapat diganti oléh segala vokal jang lain. 125. Dalam bahasa Djawa kuno bunji pepet karena bunji r2 hilang dapat mendahului vokal dan dalam hal itu berubah mendjadi w dan merupakan diftong dengan vokal itu, seperti dalam kata bwat (= běr2at dalam bahasa Indonésia purba). Dalam pertumbuhan selandjutnja diftong itu mendjadi satu vokal, seperti dalam kata abot dalam bahasa Djawa sekarang (= bwat dalam bahasa Djawa kuno)

126. Dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang bunji pepet itu tak bersuara.

I. Bunji pepet itu dalam beberapa bahasa Indonésia hilang djika mendahului suku kata jang ditekankan dan terdapat antara konsonan tak bersuara dengan bunji-lebur (liquida), misalnja dalam kata bli (= běli dalam bahasa Indonésia purba), tetapi diutjapkan djuga sebagai běli dalam bahasa Gayo. Dalam bahasa Tagalog hal itu hanjalah terdjadi djika bunji pepet terdesak oléh awalan, sehingga kata itu tetap terdiri atas dua suku kata, meskipun bunji pepet-nja hilang. Kata tělur dalam bahasa Indonésia purba mendjadi itlog dalam bahasa Tagalog.

II. Dalam beberapa bahasa Indonésia bunji pepet hilang djika mengikuti suku kata jang ditekankan dan terdapat antara setengah- vokal dengan konsonan. Kata dawěn (daun) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi dawen dalam bahasa Dajak, (lihat keterangan di-bawah nomor 123); bukan mendjadi dawan, tetapi daun (terdiri atas dua suku kata) dalam bahasa Melaju.

III. Dalam ber-bagai tulisan dalam bahasa Djawa kuno atjapkali bunji pepet itu tidak ditulis. Dalam surat piagam jang ditulis dalam bahasa Kawi, II, 10 terdapat kalimat : dmakan iŋmacan (akan diterkam oléh harimau). Oleh sebab dalam hal itu dalam bahasa Djawa sekarang bunji pepet tetap terdapat (misalnja dalam kata děmaq (menerkam), maka kami tak dapat menerangkan, sebab apakah bunji pepet itu tak dipakai dalam bahasa Djawa kuno.

127. Keadaan bunji pepet atjapkali sama dalam bahasa² jang erat saling bertali, tetapi hal itu terdapat djuga dalam bahasa² di- daérah² jang djauh letaknja antara sesamanja; dalam bahasa Toba dan bahasa Bisaja misalnja bunji ě itu mendjadi e misalnja dalam kata tolu dalam bahasa Toba dan dalam kata tolò (= tělu dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Bisaja. Achirnja dalam idiom² jang erat saling bertali keadaan bunji pepet itu kadang² djuga ber-lain²an; dalam dialék jang terpenting dari bahasa Minangkabau réfléks bunji pepet itu ber-lain²an dan perbedaan jang terpenting, jaitu dalam dialék Agam bunji pepet itu mendjadi a, djadi kata běr2as dalam bahasa Indonésia purba mendjadi bareh dalam dialék Agam; dalam dialék Tanah Datar bunji pepet mendjadi o, misalnja dalam kata boreh (= běr2as dalam bahasa Indonésia purba.

128. Bunji pepet dengan sjair. Dalam beberapa bahasa Indonésia vokal lain menggantikan bunji pepet, djika tekanan sjair djatuh di- atasnja. Dalam bahasa Tontémboa dalam hal itu e menggantikan bunji pepet. Tuhan dalam bahasa Tontémboa ialah empuŋ, kawan ialah rěŋan dan kawan ialah rěja-rěŋan, tetapi dalam sjair menurut téks Schwarz (hal. 139) terdapat kata²: ja empuy rejena-renan e (0, Tuhan, o, kawan²). Dalam bahasa Talaud è mendjadi a, tetapi bunji a itu atas tekanan sjair diganti oléh vokal lain, jaitu oléh e atau o; djadi dalam téks Steller hal. 66 kata sasabban mendjadi susabbaŋ (tampil) dan kata allo (matahari) mendjadi elo.

Tjatatan Tentang gedjala² lain jang mengenai bunji pepet, lihat keterangan dibawah nomor 5 dan nomor 148.

Hukum-RGH.

129. Bahasa Indonésia purba mempunjai dua matjam bunji r: r (= r 1) jang dibunjikan dengan gerak lidah dan r (= r 2) (dasar utjapan anaktekak).

130. Bunji r1 dan r2 dalam bahasa Indonésia purba itu hanja dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang sadjalah tak berubah, misalnja dalam bahasa Běsěmah dalam kata² r1ibu (seribu), r1acon (ratjun) dan surlon (menjorong) jang sama bunjinja dengan kata² r1ibu, r1acon dan sur1u dalam bahasa Indonésia purba dan dalam bahasa Běsémah itu terdapat kata² dar2at, jar2om (djarum) dan niur2 (njiur); dalam kata² itu r2 dibunjikan sebagai r2 dalam kata² dar2at, jar2um dan niur2 dalam bahasa Indonésia purba.

131. Dalam beberapa bahasa Indonésia r1 dan r2 itu sama bunjinja; r dalam kata soron sama bunjinja dengan r1 dalam kata surluŋ dalam bahasa Indonésia purba dan r dalam kata jharum sama bunjihja dengan r2 dalam kata jar2um dalam bahasa Indonésia purba, jaitu seperti bunji kakuminal.

132. Bunji r1 dalam bahasa Indonésia purba mendjadi l dalam banjak bahasa Indonésia sekarang, misalnja dalam kata libo dalam bahasa Tagalog jang sama artinja dengan r1ibu dalam bahasa Indonésia purba, dalam bahasa² Indonésia lain rl itu mendjadi d dan dalam bahasa Indonésia lain mendjadi bunji lain (lihat keterangan dibawah nomor 99). Gedjala² tentang bunji r1 itu ditundjukkan dengan hukum RLD ialah sedjadjar (paralel) dengan hukum RGH.

133. Bunji r2 dalam bahasa Indonésia purba jaitu r menurut hukum RGH, dalam satu bahasa Indonésia sekarang mendjadi r, tetapi tak selalu merupakan bunji anaktekak (uvula); dalam banjak bahasa Indonésia lain bunji r2 itu mendjadi g atau h, dalam bahasa Indonésia lain lagi mendjadi y atau q misalnja kata ur2at dalam bahasa Indonésia purba ialah urat dalam bahasa Melaju, ugat dalam bahasa Tagalog uhat dalam bahasa Dajak, ulàt dalam bahasa Pangsin, uyak dalam bahasa Lampung, ogat dalam bahasa Tontémboa. (lihat djuga keterangan dibawah nomor 135 dan 139).

134. Dari keterangan jang telah diberikan itu ternjatalah bahwa perubahan tentang r1 dan r2 ialah sebagian sama, misalnja l dapat menggantikan baik r1 maupun r2.. Tetapi perubahan jang sama itu tak pernah terdjadi dalam satu bahasa itu djuga. Dalam bahasa Tagalog misalnja r1 mendjadi seperti dalam kata libo (= r1ibu dalam bahasa Indonésia purba), tetapi r2 mendjadi g, seperti dalam kata ugat ( ur2at dalam bahasa Indonésia purba).

135. Dalam beberapa bahasa Indonésia bunji r2 dalam bahasa Indonésia purba itu menundjukkan hal² jang sama.

I. Tempat bunji r2 dalam kata mempunjai pengaruh jang mienen- tukan. Dalam bahasa Talaud r mendjadi k djika terdapat pada achir kata: djadi kata bar2at dalam bahasa Indonésia purba mendjadi bàrata dalam bahasa Talaud, tetapi kata niur2 dalam bahasa Indonésia purba mendjadi niuka.

II. Bunji jang mendahului mempunjai pengaruh jang menentukan. Dalam bahasa Sangir r2 mendjadi h, tetapi djika mengikuti o (= é) r2 itu mendjadi y; djadi kata r2atus dalam bahasa Indonésia purba mendjadi hasuq dalam bahasa Sangir, tetapi kata ber2as dalam bahasa Indonésia purba mendjadi bòyasěq.

III. Faktor jang mempengaruhi perubahan tentang r2 itu tak dapat ditentukan. Dalam bahasa Howa r2 itu mendjadi r seperti dalam kata awàratra (= bār2at dalam bahasa Indonésia purba) tetapi kadang² mendjadi s, seperti dalam kata wèsatra (= ber2at dalam bahasa Indonésia purba), kadang lagi r2 itu mendjadi z seperti dalam kata zutu (= r2atus dalam bahasa Indonésia purba). Kadang² djuga bunji r2 itu hilang seperti dalam kata wau (bar2u dalam bahasa Indonésia purba).

136. Bilamana r2 dalam bahasa Indonésia purba berubah mendjadi y, maka dapat terdjadi pertumbuhan selandjutnja. Setengah-vokal y dapat merupakan diftong dengan vokal jang mendahuluinja seperti dalam kata ikuy (ékor) dalam bahasa Lampung jang sama artinja dengan kata ikur2 dalam bahasa Indonésia purba. Diftong sematjan itu dengan melalui prosés-bunji jang lebih landjut dapat mendjadi vokal bersahadja, seperti dalam kata iki dalam bahasa Pampanga jang sama artinja dengan ikur2 dalam bahasa Indonésia purba.

137. Dalam beberapa bahasa Indonésia bunji r2 tak bersuara terutama dalam bahasa Djawa kuno seperti dalam kata dyus (mandi) jang sama artinja dengan kata dir2us dalam bahasa Indonésia purba. Djika r2 dalam bahasa Indonésia purba terdapat pada achir kata, maka dalam bahasa Djawa kuno vokal jang mendahului r2 jang hilang itu berbunji pandjang seperti dalam kata iku ( ikur2 dalam bahasa Indonésia purba).

138. Tak dapat ditentukan bunji apakah mula² jang menggantikan r2 jang hilang itu. Dalam bahasa Djawa kuno dan bahasa Dajak mula² bunji h menggantikan r2; bunji h itu masih terdapat dalam kata wahu (= baru dalam bahasa Indonésia purba). Dalam idiom" lain mula² hamzalah jang menggantikan r2 jang hilang. Dalam bahasa Tontémboa mula² bunji q menggantikan r2, tetapi dalam beberapa hal bunji q itupun hilang. Kata ular2 dalam bahasa Indonésia purba ialah ulaq dalam bahasa Tontémboa, dan kata² timur2 dalam bahasa Indonésia purba ialah timu.

139. Dalam bahasa² jang erat saling bertali r2 itu berubah dengan tjara jang sama. Tetapi hal itu terdjadi djuga dalam beberapa bahasa jang pertalian kekeluargaannja kurang erat; baik dalam bahasa Lampung maupun dalam bahasa Pampanga misalnja bunji r2 itu mendjadi y. Achirnja r2 itu berubah dengan tjara jang ber-lain²an dalam bahasa² jang erat saling bertali: perubahan dengan tjara jang ber-lain an itulah jang menarik perhatian dalam beberapa dialék bahasa Talaud kata niur2 dalam bahasa Indonésia purba mendjadi niuka dengan vokal-penjangga a, atau mendjadi niuca, niuha dan niuta.

Hukum-hamza.

140. Dalam bahasa² Indonésia sekarang hamza terdapat pada permulaan kata mendahului vokal, diantara dua vokal, diantara vokal dengan konsonan atau pada achir kata mengikuti vokal; dalam bahasa Atjéh misalnją terdapat kata qancò (tjair), dalam bahasa Madura terdapat kata leqer (léhér), dalam bahasa Bugis biriqia (berita), dalam bahasa Makasar anaq (anak). Perubahan dengan tjara lain djarang terdjadi; hal itu terdjadi dalam kata allqo (penumbuk) dalam bahasa Bontok, dalam kata ělaqb (obor) dalam bahasa Tontémboa dan kata² itu menimbulkan kesukaran dilapangan étimologi.

141. Hamza terdapat pada permulaan, di-tengah² dan pada achir kata dasar; dalam hal itu bunji hamza tidak menggantikan bunji lain.

142. Dalam banjak bahasa Indonésia pada kata² jang mempunjai vokal pada permulaannja, vokal itu didahului oléh hamza; hal itu berlaku bagi bahasa Atjéh, bahasa Tontémboa, dsb. Dalam bentuk bahasa tulisan masih terdapat transkripsi Hamza berdasarkan ilmu pengetahuan; djadi orang menulis kata anak, tetapi sebenarnja diutjapkan sebagai ganak dengan memakai hamza pada permulaan kata.

143. Dalam beberapa bahasa Indonésia hamza terdapat antara dua vokal pada kata dasar djika tak ada konsonan lain. Menurut ber-bagai² kamus hal itu atjapkali terdjadi dalam bahasa Nias, tetapi kadang² hamza itu terdjadi dari q seperti dalam kata ataqu (takut) (= takut dalam bahasa Indonésia purba), djadi harus dibitjarakan dibawah nomor 147. Dalam bahasa Madura hamza itu terdapat pada kata², jang dalam bahasa² lain mengandung h atau w, seperti dalam kata poqon (= pohon dalam bahasa Melaju dan pòñ dalam bahasa Bugis) dan soqon (= dibawa diatas kepala) jang sama artinja dengan kata suwun dalam bahasa Djawa.

144. Dalam banjak bahasa Indonésia hamza terdapat pada achir kata mengikuti vokal jang terachir.

I. Pada banjak kataseru (interjéksi) misalnja dalam bahasa Bugis, Tontémboa, dsb. seperti dalam kataseru ceq dalam bahasa Makasar, caq dalam bahasa Bugis, siq dalam bahasa Sangir. Hal itu bertali dengan tjara mengutjapkannja.

II. Hamza terdapat pada kata² jang menjatakan pertalian keke- luargaan dalam modus vokatif. Kata ama (ajah) dalam bahasa Indonésia purba ialah aman dalam bahasa Tontémboa, tetapi modus vokatifnja ialah amaq.

III. Hamza terdapat pada kata² jang menjatakan pertalian kekeluargaan umumnja, seperti dalam apoq (nénék) dalam bahasa Tontémboa, jang sama artinja dengan kata pu dalam bahasa Indonésia purba dan dalam bahasa bhibbiq dalam bahasa Madura (= bi dalam bahasa Djawa kuno dan bibi dalam bahasa Djawa sekarang). Kata² jang mengandung q itu mula² merupakan modus vokatif.

IV. Hamza terdapat pada kata bilangan. Dalam bahasa Madura pada kata bilangan jang dalam bahasa Indonésia purba berachir dengan vokal, terdapat q pada achirnja, djika kata bilangan itu terdapat tersendiri; kata tělu dalam bahasa Indonésia purba misalnja mendjadi tělloq dalam bahasa Madura, tetapi dalam bahasa itu terdapat kata těllo ratos. Hamza itu terdjadi menurut analogi seperti dalam kata ěmpaq (empat pat dalam bahasa Indonésia purba) atau bertali dengan tjara mengutjapkannja.

V. Hamza atjapkali terdapat pada kata² jang menjatakan sangkalan seperti dalam kata ajaq (= aja dalam bahasa Indonésia purba dan bahasa Djawa kuno) dalam bahasa Bugis dan dalam kata tiada dan tidaq dalam bahasa Melaju.

IV. Hamza terdapat pada kata² lain dalam bahasa² Indonésia. Dalam bahasa Busang pada vokal jang terdapat pada achir kata di- tambahkan hamza, bunji i dalam bahasa Inlonésia purba mendjadi eq dan bunji u mendjadi oq dalam bahasa Busang, djadi kata běli dalam bahasa Indonésia purba mendjadi bělèg dan kata batu dalam bahasa Indonésia purba mendjadi batoq.

145. Dalam beberapa bahasa Indonésia kataseru (interjéksi) umumnja berachir dengan q, dan dalam beberapa bahasa Indonésia lain berachir dengan h. (misalnja dalam bahasa Madura)

146. Kalau dalam modus vokatif dan pada kata² jang menjatakan sangkalan terdapat q pada achirnja, maka dalam beberapa bahasa jang tertentu ditambahkan a, misalnja dalam modus vokatif aŋgiù zu aŋgi (adik laki²) dalam bahasa Toba dan dalam kata dia jang menjatakan sangkalan dalam bahasa Dajak, disamping kata di dalam bahasa Tagalog.

147. Menurut hukum bunji, hamza terdjadi dari bunji² lain dalam bahasa Indonésia purba.

I. Hamza dalam beberapa bahasa Indonésia terdjadi dari bunji k dalam bahasa Indonésia purba, misalnja dalam kata iaqu (=kata- sandang i + aqu) dalam bahasa Talaud jang sama atrinja dengan uku dalam bahasa Indonésia purba.

II. Hamza terdjadi dari bunji r2 dalam bahasa Indonésia purba, misalnja dalam kata raqum (= jar2um dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Makelak. Tentang hamza jang terdjadi dari bunji h lihatlah keterangan dibawah nomor 116.

148. Dalam beberapa bahasa Indonésia konsonan jang mengikuti bunji pepet jang ditekankan, diduakalikan, dalam beberapa bahasa Indonésia lain terdapat hamza antara bunji pepet dengan Konsonan jang mengikuti. Dalam bahasa Makasar bunji pepet mendjadi a tetapi hamza tetap ada; djadi kata kěděm (menutup mata) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi kaqdañ dalam bahasa Makasar.

149. Hamza dalam beberapa bahasa Indonésia terdjadi menurut hukum chusus tentang bunji sisipan (lihat keterangan dibawah nomor 198), antara lain dalam bahasa Tontémboa; kata pukpuk (memukul hantjur) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi puqpuk dalam bahasa Tontémboa.

150. Hamza dalam banjak bahasa Indonésia terdjadi menurut hukum tentang bunji pada achir kata.

I. Dalam banjak bahasa Indonésia bunji k jang terdapat pada achir kata dalam bahasa Indonésia purba mendjadi q misalnja dalam kata anaq (= anak dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Melaju.

II. Segala bunji letus pada achir kata dalam bahasa Indonésia purba mendjadi q dalam bahasa Minangkabau, misalnja dalam kata atoq (= atèp dalam bahasa Indonésia purba).

III. Dalam bahasa Bugis q terdjadi dari segala konsonan pada achir kata terutama dari bunjisengau dan h, misalnja dalam kata nipiq (tipis) jang sama artinja dengan kata nipis dalam bahasa Indonésia purba.

151. Dalam banjak bahasa Indonésia pada konsohan jang terdapat pada achir kata dalam bahasa Indonésia purba, ditambahkan vokal-penjangga, misalnja dalam bahasa Howa seperti dalam kata anaka (= anak dalam bahasa Indonésia purba; dalam beberapa idiom lain, misalnja dalam bahasa Makasar, seperti dalam kata nipsiq (= nipis dalam bahasa Indonésia purba) dipergunakan vokal-penjangga + hamza.

152. Hamza terdjadi dengan menjingkatkan kata² jang kurang tegas bunjinja. Djadi katadepan (préposisi) su dalam bahasa Sangir diutjapkan sebagai q. Dalam "Kinderspielen" jang dimuat dalam "Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde voor Nederlandsch-Indië" hal 520, 1894 terdapat kata² dala q ulune (disana dipedalaman); bukan dala su udune. 153. Hamza pada achir kata dengan tjara teratur atau dengan tjara serampangan hilang. Kata ane (kesini) dalam bahasa Tontémboa menurut keterangan dibawah nomor 142 diutjapkan sebagai qane, tetapi dalam téks Schwarz "Weweleten" hal. 309 terdapat kalimat : mai cuman aye (makanan itu bawalah kemari), dalam kalimat itu hilanglah bunji q. Dalam sjair Boq Uyah Batang, hal. 285 dalam bahasa Busang terdapat kata²: umaq Lay Děhaq (rumah Lang Děhaq), tetapi pada halaman 284 terdapat: uma Lay Děhaq.

Hukum tentang bunji letus bersuara (média).

154. Hukum tentang bunji letus bersuara (média) terutama terdapat di Sulawesi dan pulau² sekitarnja: dalam bahasa Sangir, bahasa Talaud, bahasa Tontémboa; ketiga bahasa itu erat saling bertali. Hukum itu berlaku djuga dalam bahasa Cenrana, bahasa Bugis dan diluar Sulawesi dalam bahasa Ibanag, bahasa Nias, bahasa Mentawai dan bahasa Howa.

155. Hukum-bunji letus bersuara (média) jang berlaku dalam bahasa Sangir. Dalam bahasa Sangir bunji letus bersuara mengikuti konsonan; bunji letus bersuara g mendjadi konsonan géséran y, bunjiletus bersuara d mendjadi bunji-lebur (liquida) r, bunjiletus bersuara b mendjadi setengah-vokal w. Bunjiletus bersuara tetap terdapat sebagai bunji permulaan pada kata jang berdiri tersendiri atau pada permulaan kalimat. Oleh sebab itu dalam bahasa Sangir terdapat kata bera (berbitjara); měqbera ialah bentuk futurum aktifnja dan iwera bentuk futurum pasifnja. Dalam tjerita jang dimuat dalam "Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië", 1893 hal. 354 terdapat kalimat iaq měqbio n baha (Saja ingin hendak membitjarakan tentang kera), tetapi pada halaman lain terdapat kata² : aŋkùy i waha (Kera berbitjara).

II. Hukum dalam bahasa Talaud sesuai dengan hukum dalam bahasa Sangir. Dalam bahasa Talaud terdapat kata bale (rumah) seperti dalam bahasa Sangir dan kata biŋgi (sisi, tepi), tetapi dalam tjerita tentang Parere menurut téks Steller, hal. 89 terdapat kata² : su wiŋgi n sáluka (ditepi sungai).

III. Hukum tentang bunjiletus bersuara dalam bahasa Tontémboa. Bunjiletus bersuara (média) g dalam segala hal mendjadi konsonan géséran (spirant) y. Seperti dalam bahasa Sangir d dan b mendjadi r dan w, tetapi berlainan dengan bahasa Sangir pada permulaan kata jang berdiri tersendiri atau pada permulaan kalimat terdapat bunjikwantitét (Dauerlaut). Kata bale dalam bahasa Sangir dan wale dalam bahasa Tontémboa menggantikan kata balay (rumah) dalam bahasa Indonésia purba; ,,diam dirumah" ialah maqmbale dalam bahasa Tontémboa. Dalam kalimat lengkap hukum itu hanja berlaku dalam beberapa hal jang tertentu sadja. Dalam tjerita tentang orang jang baru kawin menurut téks Schwarz, hal. 82 terdapat kata² : am bale = an wale (dirumah), tetapi dalam bagian lain terdapat kata² luqan wiwin (tetapi karang), w dalam kata² itu tak berubah.

IV. Hukum tentang bunjiletus bersuara dalam bahasa Cenrana. Bunjiletus bersuara (média) d dan b mendjadi r dan w djika mengikuti vokal; ,,tetapi dalam bahasa itu ialah dami, tetapi ,,satu kali sadja" ialah mesa rami.

V. Hukum tentang bunjiletus bersuara dalam bahasa Ibanag Bunji d mendjadi r djika mengikuti a. Oleh sebab itu terdapat kata dekay (hal jang djahat), tetapi djahat" ialah marakay.

VI. Hukum bunjiletus bersuara dalam bahasa Bugis. Dalam bahasa Bugis w mendjadi b dan r mendjadi d djika mengikuti awalan, entah awalan itu merupakan vokal entah konsonan. Djadi dari kata wěnni (malam hari) dibentuk kata maqběnni (menginap) dan paběnni (menjuruh menginap) dan dari kata rěmme (halus) dibentuk kata maqděmme (menghaluskan) dan paděme (menjuruh menghaluskan). Tetapi aturan itu tidak dilakukan dengan konsekwen; dari kata wětta (memotong) bentuk kata maqbětta (memotongkan), tetapi dibentuk djuga pawetta-wètla (pengajau).

VII. Hukum tentang bunjiletus bersuara (média), dalam bahasa Nias. Djika pada permulaan sebuah kata dasar terdapat bunji d atau b dan bunji itu didahului oleh sebuah awalan, maka b itu mendjadi w dan d mendjadi r; dalam hal itu djugar mendjadi g, djadi bunji kwantitét (Daurlaut) mendjadi bunjiletus bersuara. Djadi disamping kata bua (buah) terdapat kata mowua (berbuah); disamping kata dua terdapat kata darua (berdua); disamping kata dasar xaru (menggali) terdapat kata kerdja mogaru. Dalam bahasa Niaspun hukum itu tidak berlaku dengan konsekwén.

VIII. Hukum tentang bunjiletus bersuara dalam bahasa Mentawai. Bunjiletus bersuara b tidak berubah mendjadi w. Bunjiletus bersuara g selalu terdapat pada permulaan kata; sebagai bunji sisipan (ditengah kata) g itu dengan tjara kurang teratur kadang² mendjadi y. Dalam téks²: Morris jang telah diselidiki ,,pisang" empat kali ditulis sebagai bago dan dua kali sebagai bayo. ,.Bunjiletus bersuara d biasanja menggantikan r (Morris).

IX. Hukum bunjiletus bersuara dalam bahasa Howa. Dalam bahasa Howa bunji g dalam bahasa Indonésia purba jang terdapat pada permulaan kata, mendjadi h, misalnja dalam kata hántuna (= gantuŋ dalam bahasa Indonésia purba, dan dalam kata hiruna (giduŋ dalam bahasa Indonésia purba). Tetapi bunji k dalam bahasa Indonésia purba djuga mendjadi h seperti dalam kata hùdrita (- kulit dalam bahasa Indonésia purba). Djika (= k) mengikuti awalan ma + bunji sengau, maka hilanglah h itu (lihat keterangan dibawah nomor 16) seperti dalam kata manùdrita (mengemis). Tetapi djika awalan itu mendahului bunji h (jang menggantikan g), maka tampaklah lagi g itu seperti dalam kata maygùruna (menggulung); tetapi dalam hal itupun terdapat hal² jang menjimpang; dari kata hántuna bukan terdjadi kata mangántuna, tetapi manáninna.

Dari kata hùdina (= gulin dalam bahasa Indonésia purba) bukan terdjadi katakerdja manùdina, tetapi katabenda saŋgùdina (gasing).

Perbandingan dengan bahasa² Indogerman.

156. Tentang empat hukum-bunji jang terpenting itu dalam bahasa Indonésia tidak banjak terdapat hal² jang sedjadjar (paralél) dalam bahasa² Indogerman.

I. Seperti dari bunji ĕ dalam bahasa Indonésia purba terdjadi i, a atau vokal lain, maka dalam bahasa² Indogerman bunji jang tak bersuara dalam bahasa Indogerman mendjadi i atau a, tetapi tak dapat kami menjamakan bunji jang tak bersuara itu dalam bahasa² Indogerman dengan bunji pepet.

II. Berlainan dengan bunji r dalam bahasa Indonésia, bunji r dalam bahasa² Indogerman adalah tentu benar sifatnja.

III. Bunji hamza kurang penting peranannja dalam bahasa² Indogerman. Seperti dalam bahasa² Indonésia banjak kataseru (interjéksi) berachir dengan hamza, maka dalam bahasa Luzäärnertüüt dalam beberapa hal jang tertentu kata ,,ja bukanlah yo tetapi yoq.

IV. Kata seperti donna dan la ronna dalam beberapa dialék bahasa Italia dapat dibandingkan dengan hukum bunjiletus bersuara.
BAB VI

DUA HUBUNGAN-BUNJI (GELUIDSVERBINDINGEN) DAN
HUKUM TENTANG HAL ITU.

Kata pendahuluan.

157. Kedua hubungan-bunji jang menarik perhatian dalam bahasa² Indonésia ialah hubungan sebuah vokal dengan sebuah setengah-vokal dan hubungan sebuah bunji-letus (éksplosif) dengan bunji aspirate h Sebuah vokal jang dihubungkan dengan sebuah setengah-vokal dinamai diftong dan sebuah bunji letus (éksplosif) jang dihubungkan dengan bunji h dinamai bunji aspirate. Pada diftong, setengah-vokal dapat mendahului vokal seperti dalam kata yaku (saja) dalam bahasa Dajak, atau mengikuti vokal seperti dalam kata patày (membunuh) dalam bahasa Tagalog.

158. Dalam banjak bentuk bahasa Indonésia tulisan ―― sajanglah djuga dalam monografi saja dulu ―― setengah-vokal dalam diftong itu tak tampak dengan djelas. Dalam buku² peladjaran tentang bahasa Melaju misalnja terdapat kata bau dan rantau (pantai), kedua kata itu berachir dengan u, tetapi dalam kata rantau bunji terachir itu ialah diftong, sedang dalam kata bau bunji a dan u masuk dua suku kata jang ber-lain²an; saja menulis bau dan rantaw.

159. Dalam bentuk bahasa Madura tulisan bunji aspiraté tidak ditundjukkan. Djadi orang Madura menulis ghuluŋ (menggulung) seperti guluŋ (makanan).

Diftong dan hukumnja.

160. Diftong dalam bahasa² Indonésia umumnja ialah hubungan vokal dengan setengah-vokal y dan w. Kemungkinan lain djarang terdapat. Bunji i pada achir kata dalam bahasa Indonésia purba mendjadi diftong oy dalam beberapa dialék bahasa Atjéh, misalnja dalam kata bloy (= beli dalam bahasa Indonésia purba), tetapi dalam dialék jang terpenting orang mengutjapkan bloy sebagai bloe dengan setengah-vokal e.

161. Dalam bahasa² Indonésia diftong djarang sekali terdapat pada suku kata dasar jang ditekankan. Hal itu adalah berlainan benar dengan bahasa² Indogerman, djika kita ingat misalnja akan kata kairios (saat jang baik) dalam bahasa Junani, kata skaidan (berpisah) dalam bahasa Gotis dsb. Dalam bahasa Howa dalam beberapa hal jang tertentu diftong itu terdapat djuga pada suku kata dasar jang ditekankan, seperti dalam kata tawlana (tulang) kontraksi menimbulkan diftong-sebab disamping tawlana terdapat kata tahulan dalam bahasa Djawa kuno. Hal itu terdapat djuga dalam bahasa Mentawai, misalnja dalam kata räwru (menghilir), umumnja dalam kata² jang keadaan étimologisnja gelap.

162. Biasanja diftong itu terdapat pada suku kata jang terachir, pada achir kata. Suku kata itu tak ditekankan, tetapi diutjapkan djuga dengan djelas (lihat keterangan dibawah nomor 329).

163. Dalam bahasa² Indonésia biasanja terdapat diftong aw, ay dan uy; diftong² itu terdapat djuga dalam bahasa Indonésia purba. Kata² paraw (parau), baŋaw (bango), patay (membunuh) balay (rumah), apuy (api), babuy (babi), jang terdapat dalam banjak bahasa Indonésia, harus dipandang sebagai kata bahasa Indonésia umum djuga. Hanja kata paraw adalah par2aw dalam bahasa Indonésia umum.

164. Diftong aw, ay, dan uy dalam bahasa Indonésia purba mengalami beberapa perubahan dalam bahasa² Indonésia sekarang.

165. Dalam banjak bahasa Indonésia diftong² jang dimaksudkan dibawah nomor 163, tak berubah. Bahasa Hokan misalnja mempunjai kata² pátay, apuy dsb.

166. Bunji a dari diftong ay dan u dari diftong uy bisa memperoleh umlaut karena y. Dalam bahasa Dajak terdapat kata atüy (hati) = atay dalam bahasa Indonésia purba; dalam bahasa Bontok terdapat kata fafüy (= babuy (babi) dalam bahasa Indonésia purba.

167. Komponen diftong mendjadi vokal lain; dalam beberapa dialék di Kalimantan misalnja ay tetap ada atau mendjadi uy atau oy, djadi terdapat baik kata patoy maupun baboy. Djika kata padöy dalam bahasa Bontok menggantikan patoy dalam bahasa Indonésia purba, maka kata patoy harus dipandang sebagai kata jang ada di-tengah² kedua kata tadi.

168. Diftong mendjadi ,,monoftong".

I. Komponén jang pertama dari diftong hilang, seperti dalam kata api (= apuy dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Melaju. II. Komponén jang kedua dari diftong hilang seperti dalam kata afu (= apuy dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa, Howa.

III. Kedua bagian diftong bersatu mendjadi vokal biasa, jang berbunji antara kedua komponén itu, seperti dalam kata pate (= patay dalam bahasa Indonésia purba) dan dalam kata poro (= paraw dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Toba.

169. Dua vokal, jaitu au dan ai jang masuk suku² kata jang ber-lain²an dalam bahasa Indonésia purba, seperti dalam kata tau (manusia) dan lain, mendjadi o dan e dalam beberapa bahasa Indonésia sekarang (dengan djalan kontraksi). Dengan begitu dalam bahasa Djawa kuno terdapat kata len (lain). Kata taw dan layn ada di-tengah² kata dalam bahasa Indonésia purba dengan kata² seperti jang terdapat dalam bahasa Djawa kuno itu.

170. Kontraksi itu terdjadi:

I. Dengan tak ada ketjualinja dalam beberapa bahasa Indonésia.

II. Dalam bahasa Karo kontraksi itu terdjadi djika berhubungan dengan énklitika. "Air" dalam bahasa Karo ialah lau dan „airnja” ialah lo-na; "djauh" ialah dauh dan mendjauhi ialah doh-na.

171. Dalam beberapa bahasa Indonésia terdapat diftong² baru, jang bukan merupakan réfléks dari diftong jang terdapat dalam bahasa Indonésia purba.

I. Dalara beberapa bahasa Indonésia bunji i dan pada suku kata jang terachir dalam kata dasar bahasa Indonésia purba, mendjadi diftong ey dan ew, misalnja dalam bahasa Tirurai dalam kata taley ( tali dalam bahasa Indonésia purba) dan fitew (= pitu dalam bahasa Indonésia purba).

II. Dalam bahasa Indonésia lain i mendjadi diftong ay atau oy dan u mendjadi diftong iw atau aw. Dengan begitu kata běli dalam bahasa Indonésia purba mendjadi blay dalam bahasa Daya-Atjéh dan mendjadi bloy dalam bahasa Tunong-Atjéh; kata batu dalam bahasa Indonésia purba mendjadi batiw dalam bahasa Lamna-Atjéh dan mendjadi bataw di Miri (Kalimantan).

III. Bunji a dalam bahasa Indonésia purba mendjadi diftong aw dalam bahasa Sěraway; djadi kata mata dalam bahasa Indonésia purba mendjadi mataw dalam bahasa Sěraway.

172. Dalam nomor² jang mendahului nomor ini diftong itu terdjadi djika vokal jang mendjadi diftong itu, terdapat pada achir kata. Gedjala itu sesuai dengan kenjataan, bahwa diftong aw, ay dan uy dalam bahasa Indonésia purba terdapat pada achir kata djuga. Hanja dalam beberapa idiom jang tertentu di Kalimantan vokal jang didahului dan diikuti oléh konsonan djuga mendjadi diftong, misalnja di Dali dan Long Kiput. Djadi laŋit dalam bahasa Indonésia purba mendjadi laŋait di Dali dan pulut (perekat) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi pulaut di Long Kiput.

173. Diftong itu dapat djua terdjadi sebagai hasil ber-bagai² prosés tentang bunji. Prosés sematjam itu adalah :

I. Konsonan mendjadi vokal seperti dalam kata ikuy (ikur2 dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Lampung.

II. Vokai² jang mula² masuk dua buah kata jang ber-lain²an berubah, misalnja dalam kata saybu (seribu; sa + ebu).

III. Diftong mendjadi kurang djelas sesudah vokalnja hilang; par2i dalam bahasa Indonésia purba mendjadi fay dalam bahasa Howa.

174. Djika vokal biasa mendjadi diftong seperti dalam kata taley dalam bahasa Tiruraj (taley = tali dalam bahasa Indonésia purba), maka sebelum diftong itu terdjadi, vokal jang mendjadi diftong itu pandjang bunjinja; dari keterangan dibawah nomor 77 ternjatalah, bahwa vokal pada achir kata atjapkali pandjang bunjinja.

175. Menurut keterangan dibawah nomor 76 suku kata jang mendahului suku kata jang ditekankan bunjinja djaranglah pandjang banjinja; dalam suku kata itu terdapat diftong tersendiri; dalam bahasa Lampung dalam beberapa kata jang diambil dari bahasa India kuno dan dimulai dengan bunji s, terdapat diftong ay misalnja dalam kata sayagara (laut), jang sama artinja dengan sagara dalam bahasa India kuno.

176. Tak diketahui apakah bunji pepet dapat mendjadi diftong; menurut keterangan dibawah nomor 40.

I. Bunji e atau o dalam bahasa Indonésia purba tak dapat men- djadi diftong.

Bunji aspirate dan hukumaja.

177. Oléh sebab dalam sebagian besar bahasa² Indonésia djarang terdapat hubungan konsonan² antara sesamanja (biasanja hanja terdapat hubungan bunji sengau + bunji letus (éksplosiva) homorgan), maka bunji aspirate kurang luas tersebar dalam bahasa Indonésia.

178. Asal bunji aspirate dalam bahasa Indonésia sekarang adalah seperti berikut : I. Bunji aspirate terdapat dalam kata dasar, jang terdjadi dari akar kata jang diduakalikan, dimulai dengan bunji h dan berachir dengan bunji letus (éksplosiva), misalnja dalam kata hathat (chawatir) dalam bahasa Djawa kuno dan dalam kata haghag (tenunan) dalam bahasa Bisaja. Hal itu banjak terdapat.

II. Dalam beberapa bahasa Indonésia terdapat hubungan sebagian besar konsonan2 dengan bunji h jang mengikutinja. Dalam bahasa Tagalog misalnja terdapat kata bugháw (biru) dan kata panhik (memandjat).

III. Menurut hukum bunji dalam bahasa Madura terdapat bunji aspirate dalam hal dalam bahasa Indonésia purba bunji letus bersuara (média) mendjadi bunji letus bersuara aspirate (aspirated média); djadi kata gantuŋ dalam bahasa Indonésia purba mendjadi ghantoŋ, kata jalan dalam bahasa Indonésia purba mendjadi jhalan, kata dagaŋ dalam bahasa Indonésia purba mendjadi dhaghaŋ, kata kĕmbaŋ dalam bahasa indonésia purba mendjadi kĕmbhaŋ.

IV. Dengan menghilangkan vokal terdjadi bunji aspirate dalam beberapa bahasa Indonésia, misalnja dalam bahasa Cam dan bahasa Atjéh. Kata pohon dalam bahasa Indonésia purba mendjadi phun dalam bahasa Cam dan kata tahun dalam bahasa Indonésia purba mendjadi thee dalam bahasa Atjéh.

V. Bunji aspirate terdapat dalam kata² jang diambil dari bahasa India kuno, seperti dalam kata katha (budi) dalam bahasa Tagalog.

VI. Dalam bahasa Atjéh bunji ph menggantikan f dalam bahasa Arab, seperti dalam kata kaphè (kafir).

179. Hanja bunji aspirate jang dimaksudkan dibawah I dan djarang terdapat, dapat dipandang sebagai bunji aspirate bahasa Indonésia purba. Djadi terdapat perbedaan besar antara keadaan bunji aspirate dalam bahasa Indonésia purba dengan keadaan bunji itu dalam bahasa Indogerman purba.
BAB VII

GEDJALA² CHUSUS PADA BUNJI² JANG TERDAPAT PADA
PERMULAAN, DI-TENGAH² DAN PADA ACHIR KATA.

Kata pendahuluan.

180. Dari uraian dalam bab IV ternjatalah, bahwa perubahan bunji bergantung pada tempat bunji itu dalam kata², jaitu pada permulaan, di-tengah² atau pada achir kata. Bunji a dalam bahasa Indonésia purba mendjadi è dalam bahasa Běsěmah djika terdapat pada achir kata, djika tak terdapat pada achir kata bunji a itu tak berubah. Gedjala itu tak akan dibitjarakan lagi. Kami hanja akan membitjarakan suatu réntétan kenjataan tentang bunji jang dipandang dari djurusan tempatnja dalam kata² (pada permulaan, di-tengah² atau pada achir kata²) menarik perhatian. Dalam hal itu masuk djuga awalan, sisipan dan achiran kata².

Permulaan, pertengahan dan achir kata².

181. Awalan kata² dalam bahasa Indonésia jang dimulai dengan sebuah vokal ialah lemah, keras atau seperti aspirate bunjinja. Awalan jang keras bunjinja telah diterangkan (lihat keterangan dibawah nomor 142), awalan itu terdapat dalam banjak bahasa Indonésia dan oleh sebab itu dapat dipandang sebagai awalan dalam bahasa Indonésia purba djuga. Kadang² awalan jang keras bunjinja dan awalan-aspirate saling menggantikan. ,,Pada permulaan kata dalam bahasa Atjéh kadang² h menggantikan q dan sebaliknja; dalam satu dialék dipakai q dan dalam dialék lain h bergantungan pada kehendak pembitjara" (Snouck Hurgronje). Kamus² tentang bahasa Minangkabau bermuat banjak kata jang dimulai dan tidak dimulai dengan h, misalnja hindu dan indu. Dua²nja berarti ibu.

182. Dalam beberapa bahasa bunji x, y dan w menggantikan hamza djika hamza itu terdapat pada permulaan kata.

I. Dalam bahasa Muna terdapat x, misalnja dalam kata xate (hati) = atay atau qatay dalam bahasa Indonésia purba.

II. Dalam bahasa Buli hamza itu mendjadi y seperti dalam kata yataf = atěp atau qatěp dalam bahasa Indonésia purba. III. Dalam bahasa Bulanga-Uki hamza itu mendjadi w seperti dalam kata wina (= ina atau qina dalam bahasa Indonésia purba.

183. Timbulnja bunji x, y dan w itu berdasarkan gedjala² Sandhi. ,,Dalam bahasa Melaju kata ěmpat, djika berdiri sendiri atau pada permulaan kalimat, diutjapkan sebagai qěmpat. Dalam kata² těbu wěmpat buku (empat batang tebu) bunji q mendjadi w atas pengaruh bunji u jang mendahuluinja." (Fokker). Dalam kata seperti wina dalam bahasa Bulanga bunji w itu mendjadi tetap dan dari prosés², jang analoog timbul bunji y dalam bahasa Buli dan x dalam bahasa Muna.

184. Bunji sisipan. Dalam banjak bahasa Indonésia ber-bagai² vokal dapat berdiri berdampingan. Djaranglah vokal mengikuti bunji pepet atau sebaliknja; dalam beberapa hal dalam bahasa Madura terdapat kata taěn (tali). Dalam banjak bahasa Indonésia terdapat bunji-perantara atau bunji-pemisah antara beberapa vokal. Tentang hal itu dua gedjala perlu diperhatikan :

I. Antara bunji u dengan sebuah vokal dan antara bunji i dengan sebuah vokal terdapat setengah-vokal. Dalam satu bahasa terdapat kata buah dan dalam bahasa lain buwah jang sama artinja. ,,Dia" ialah dalam satu bahasa ia dan dalam bahasa lain iya.

II. Dalam banjak bahasa Indonésia bunji q atau h terdapat antara dua vokal, terutama djika kedua vokal itu sama, misalnja dalam kata léhér dalam bahasa Melaju dan leqer (léhér) dalam bahasa Madura.

185. Achiran kata jang berachir dengan vokal ialah lemah, keras atau seperti bunji aspirate bunjinja. Dalam bahasa Madura pada tiap² vokal asli jang terdapat pada achir kata dapat ditambahkan h seperti dalam kata matah (= mata dalam bahasa Indonésia purba). Dalam bahasa Busang dalam hal itu terdapat hamza, dan bunji i jang mendahului hamza itu mendjadi e dan bunji u mendjadi o.

Bahasa Indonésia purba: lima = Bahasa Busang: limàq
děpa děpaq
buta butàq
běli běléq
laki lakèy
tali talèq
asu asòq
batu batòq
kayu kayòq
186. Dalam bahasa Madura ketiga bunji achiran bisa terdapat

pada satu kata djuga. Djika sebuah kata dasar dalam bahasa Indonésia purba berachir dengan sebuah vokal atau diftong, seperti dalam kata mata, laju (pergi terus) dan patay (mati), maka kata² itu dalam bahasa Madura diutjapkan dengan bunji achiran aspirate seperti dalam kata matah (= mata dalam bahasa Indonésia purba). pateh (patay dalam bahasa Indonésia, kata² sematjam itu tak terdapat dalam bahasa bunji aspirate hilang, dalam téks sebagai lampiran karangan Kiliaan Grammatik 1, hal. 124 terdapat kalimat : lajhu mateh (lalu matilah ia). Djika orang karena malu atau gelisah berhenti berbitjara, maka kata itu diutjapkan dengan memakai hamza, djadi: lajhuq mateh.

Bunji awalan.

187. Dalam bahasa² Indonésia kata² biasanja dapat dimulai dengan sebuah vokal, setengah-vokal atau sebuah konsonan biasa. Begitu djuga halnja tentang kata2 dalam bahasa Indonésia purba. Dalam hal itu hal jang berikut perlu diperhatikan :

I. Dalam banjak bahasa Indonésia terdapat hamza depan bunji awalan. (lihat keterangan, dibawah nomor 181).

II. Kata² jang dimulai dengan setengah-vokal y djarang terdapat dalam bahasa Indonésia, kata sematjam itu tak terdapat dalam bahasa Indonésia purba. Kata2 jang dimulai dengan bunji w lebih banjak terdapat. Dalam bahasa Indonésia purba kata² jang dimulai dengan bunji w terdapat dalam tiga hal: walu (delapan), wara (ada), way (air).

III. Berlainan benar dengan bahasa Indogerman, dalam bahasa² Indonésia terdapat banjak kata² jang dimulai dengan konsonan ŋ̩.

188. Dalam banjak bahasa Indonésia terdapat dua konsonan pada permulaan kata, biasanja konsonan tak bersuara dengan bunji- lebur (liquida) dan bunji sengau + bunji letus homorgan (éksplotif homorgan). Hal² jang berikut perlu diperhatikan :

I. Konsonan² pada permulaan kata itu adalah sama dengan konsonan² jang terdapat di-tengah² kata; dalam bahasa Nias misalnja mb terdapat pada permulaan dan ditengah kata², seperti dalam kata mbawa-mbawa (menjentuh) disamping kata mambu (menempa).

II. Dua konsonan lebih banjak terdapat di-tengah² kata dari pada permulaan kata misalnja dalam bahasa Howa. n + 1 + s terdapat di-tengah² kata² seperti dalam kata untsi (pisang), tetapi tidak terdapat pada permulaan kata.

III. Dua konsonan lebih banjak terdapat pada permulaan kata dari pada di-tengah² kata, misalnja dalam bahasa Roti. n + d terdapat ber-turut² pada permulaan kata seperti dalam kata ndala (kuda) dalam bahasa Roti, tetapi tidak terdapat di-tengah² kata.

189. Tiga konsonan, biasanja bunji sengau + bunji letus homorgan (éksplosiva homorgan) + bunji letus (liquida) atau setengah-vokal djarang terdapat ber-turut2. Dalam bahasa Nias terdapat kata ndrundru (pondok; n + d + r) dan dalam bahasa Djawa kuno terdapat kata ndya (dimanakah, apakah; n + d + y).

190. Djika kata² dimulai dengan dua atau tiga konsonan ber- turut², maka biasanja konsonan² itu bisa terdapat djuga dalam segala bagian kalimat. Dalam téks bahasa Gayo tentang ,,Putri biru" (hal. 46) pada permulaan sebuah kalimat terdapat sebuah kata jang dimulai dengan nt: nti aku kěrjön (djanganlah saja disuruh kawin). Dalam Ramayana VIII terdapat kata ndya mengikuti kata toh (nah!) jang berachir dengan konsonan.

191. Dalam bahasa Indonésia purba tidak terdapat beberapa konsonan ber-turut² pada permulaan kata. Hal itu terdjadi menurut berbagi prosés bunji seperti berikut :

I. Menurut hukum bunji seperti dalam bahasa Howa. Bunji d dalam bahasa Indonésia purba dalam beberapa hal berubah mendjadi tr dalam bahasa Howa, misalnja dalam kata trùzuna (= duyun dalam bahasa Indonésia purba).

II. Karena vokal hilang seperti dalam kata bli dalam bahasa Gayo (bli = běli dalam bahasa Indonésia purba).

III. Karena pembentukan kata. Dalam bahasa Djawa kuno terdapat kata ndya dan ndi dan dalam bahasa Toba kata dia (ketiga kata itu sama artinja); adya = n + di + a. Kontaminasi tentang kata- bentuk (vormwoord) sematjam itu telah dibitjarakan dalam monografi saja dulu.

192. Dengan prosés menjingkatkan kata (lihat keterangan dibawah nomor 274 dan selandjutnja) terdapat bunji pada permulaan kata jang biasanja tak mungkin dalam bahasa jang bersangkutan. Misalnja :

I. Dalam bahasa Tontémboa bunji k diutjapkan sebagai¸c djika mengikuti bunji i. Dengan begitu dari unsur² raqi + ka terdjadi raqicu jang menjatakan sangkalan. Kata itu atjapkali disingkatkan mendjadi ca dan bunji c tetap ada, meskipun tidak mengikuti bunji i. Dalam téks Schwarz (hal. 67) misalnja terdapat kalimat kuanao: ca maindo. (Katanja djanganlah ia ditangkap).

II. Menurut hukum tentang bunji letus bersuara (média) jang telah diterangkan dibawah nomor 155 bunji letus bersuara pada permulaan kata dalam bahasa Tontémboa mendjadi bunji kwantitét (Dauer-laut). Dalam nama orang jang disingkatkan bunji letus bersuara tetap ada, misalnja dalam kata Biraq (singkatan kata Imbiraŋ.)

Bunji-sisipan.

193. Di-tengah² kata dasar dalam bahasa² Indonésia antara dua vokal kadang2 terdapat satu atau dua konsonan tetapi djarang sekali tiga konsonan ber-turut².

194. Tentang hal tak adanja konsonan atau hal hanja adanja satu konsonan sadja di-tengah² kata dasar atau tak perlu diterangkan lebih landjut.

195. Dalam hal terdapatnja dua konsonan antara dua vokal, dapat ditundjukkan dua type dalam bahasa Indonésia purba, jaitu type-lintah dan type-taptap.

I. Type-Lintah. Hampir dalam semua bahasa Indonésia bisa terdapat bunji sengau + bunji letus homorgan (ékslosiva homorgan) di-tengah² kata. Kata lintah jang mengandung n + t ber-turut² terdapat dalam hampir semua bahasa Indonésia.

II. Type-taptap terdjadi dengan djalan menduakalikan akar kata, misalnja dalam kata taptap (memukul) dalam bahasa Djawa kuno.

196. Sebagian bahasa Indonésia sekarang mempertahankan type bahasa Indonésia purba, sebagian lagi mengubahnja.

197. Type-lintah djauh lebih luas tersebar dalam bahasa² Indonésia dari pada type-taptap. Hanja dalam beberapa bahasa Indonésia sadjalah type-lintah itu sama sekali atau sebagian diubah dengan tjara seperti berikut :

I. Dalam beberapa bahasa Indonésia, antara lain dalam bahasa Toba, dalam hubungan bunji sengau + bunji letus tak bersuara (tenuis), kedua bunji itu berasimilasi; djadi dalam bentuk bahasa lisan Toba terdapat kata gattuŋ jang sama artinja dengan kata gantuŋ dalam bahasa Indonésia purba dan dalam bentuk tulisan Toba.

II. Dalam beberapa bahasa Indonésia bunji sengau tidak bersuara seperti dalam kata lita dalam bahasa Nias (lita = lintah dalam bahasa Indonésia purba). Tetapi bunji mb dan ndr (= nd) tetap ada seperti dalam kata tandru (= tanduk dalam bahasa Indonésia purba) dan dalam kata tandra (= tanda dalam bahasa Indonésia purba).

III. Sebaliknja dalam beberapa bahasa Indonésia jang lain bunji-letuslah (ékslosiva) jang hilang, misalnja dalam bahasa Roti dalam kata tana (= tanda dalam bahasa Indonésia purba).

198. Type-taptap dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Karo, bahasa Tagalog, dsb. tak berubah. Dalam beberapa bahasa Indonésia jang lain type-taptap itu berubah seperti type-lintah. Perubahan itu terdjadi dengan tjara seperti jang berikut:

I. Dengan djalan asimilasi seperti dalam bahasa Makasar; kata paspas jang terdapat dalam bahasa Indonésia purba dan bahasa Djawa kuno ialah pàppasaq (memotong; pappas + suku kata-penjangga aq) dalam bahasa Makasar.

II. Konsonan jang pertama dari kedua konsonan mendjadi hamza seperti dalam keta taqtap (= taptap) dalam bahasa Tontémboa.

III. Konsonan jang pertama dari kedua konsonan hilang seperti dalam kata tatap dalam bahasa Běsěmah.

Tjatatan. Aturan² jang disebut dalam nomor 198 ini tidak berlaku bagi segala kemungkinan tentang type-taptap tetapi hanja hal² jang memenuhi hukum.

199. Tiga konsonan tak terdapat ber-turut² dalam bahasa Indonésia purba dan djarang terdapat dalam bahasa² indonésia sekarang. Tiga konsonan ber-turut2 itu terdjadi dengan dua djalan :

I. Dengan djalan hukum bunji se-mata². Bunji nd mendjadi ndr dalam bahasa Nias seperti dalam kata tandra (= tanda dalam bahasa Indonésia purba).

II. Dengan djalan bunji-perantara. Dari kata dasar prih dalam bahasa Djawa kuno diturunkan kata kerdja amrih (menuntut); dalam bahasa Madura kata amrih itu ialah ambri; bunji b ialah bunji-perantara bagi m dan r. Dengan begitu djuga terdjadi kata ambral (= amral = admiral) dalam bahasa Djawa sekarang.

Bunji achiran.

200. Dalam bahasa Indonésia purba kata² dapat berachir dengan sebuah vokal, diftong atau konsonan ketjuali konsonan langit² (palatal) (lihat keterangan dibawah nomor 61). Konsonan langit² (palatal) djarang terdapat pada achir kata dalam bahasa² Indonésia sekarang. Hal itu terdapat dalam bahasa Tontémboa. Konsonan langit² dalam bahasa Tontémboa itu terdjadi dari bunji k (lihat keterangan dibawah nomor 103).

201. Tentang vokal dan diftong dalam bahasa Indonésia purba jang berubah dalam bahasa² Indonésia sekarang telah diterangkan di bawah nomor 91 dan selandjutnja dan dibawah nomor 160 dan selandjutnja. Sekarang akan dibitjarakan tentang hal konsonan, jang perlu diperhatikan djuga.

202. Konsonan jang terdapat pada achir kata dalam bahasa Indonésia purba tak berubah dalam bahasa Djawa kuno; begitu djuga hal-nja tentang bunji h. Dalam banjak bahasa di Philipina dengan hanja beberapa ketjuali sadja.

203. Dalam bahasa² Indonésia lain tentang hal konsonan pada achir kata itu tampak tiga kemungkinan: bunji itu mengalami unifikasi, berubah, mempcroléh tambahan vokal-penjangga.

204. Unifikasi. Hal itu dalam sebagian bahasa² Indonésia banjak dan dalam sebagian lagi djarang terdjadi.

I. Dalam bahasa Melaju bunji letus bersuara (média) disatukan dengan bunji letus takbersuara (tenuis). Kata bukid dalam bahasa Indonésia purba mendjadi bukit dalam bahasa Melaju. Diantara bunji² letus (éksplosiva), bunjiletus takbersuara (tenuis) bisa terdapat pada achir kata.

II. Dalam bahasa Masaré bunji p. mendjadi t. Djadi kata atêp dalam bahasa Indonésia purba mendjadi atet dalam bahasa Masaré. Dalam hal itu diantara bunji² letus, dua bunjiletus takbersuara (tenuis), jaitu k dan t bisa terdapat achir kata.

III. Seperti telah diterangkan dalam monografi saja dulu, dalam bahasa Ubrug semua bunjiletus (éksplosiva) mendjadi k. Dengan begitu dalam bahasa Ubrug terdapat kata² lanik (= lanit dalam bahasa Indonésia purb), atêk (= atêp dalam bahasa Indonésia purba). Djadi diantara bunji² letus hanjalah satu bunji letus takbersuara, jaitu k bisa terdapat pada achir kata.

205. Perubahan. Dalam beberapa bahasa Indonésia konsonan pada achir kata tidak bersuara.

I. Dalam bahasa Makasar hanja satu konsonan (pada achir kata) sadja, jaitu h, jang tidak bersuara, seperti dalam kata panno (= pênuh dalam bahasa Indonésia purba).

II. Dalam bahasa Howa bunji s, h dan bunji-lebir (liquida) pada achir kata tidak bersuara, misalnja dalam kata manifi (= nipis dalam bahasa Indonésia purba) dan dalam kata fenu (= pênuh dalam bahasa Indonésia purba).

III. Dalam bahasa Bima, Nias dan bahasa² lain semua konsonan pada achir kata hilang.

206. Penambahan vokal-penjangga pada konsonan (pada achir kata). Dalam beberapa bahasa Indonésia terdapat dua kemungkinan tentang hal itu :

I. Dalam bahasa Talaud dan Howa ditambahkan vokal a, dalam bahasa Ampana vokal i, dalam bahasa Kaidipan vokal o dan kadang² vokal u, dsb. Kata inum (minum) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi imuna dalam bahasa Talaud, inuna dalam bahasa Howa, inumu dalam bahasa Kaidipan; kata putih dalam bahasa Indonésia purba mendjadi pùtiho dalam bahasa Kaidipan.

II. Vokal-penjangga menurut vokal jang mendahului konsonan pada achir kata, misalnja dalam kata tùkulu (menumbuk) dalam bahasa Mentawai disamping kata tukul dalam bahasa Karo, ràpiri (dinding), bòbolo (bunga Lilicee), dsb.

III. Dalam beberapa bahasa Indonésia kepada vokal-penjangga ditambahkan hamza, misalnja dalam kata nipisiq (= nipis dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Makasar, làppassaq (= lêpas dalam bahasa Indonésia purba), àtoroq (= atur dalam bahasa Indo- nésia purba).

IV. Konsonan jang masih terdapat karena tambahan vokal- penjangga, dengan melalui prosés bunji jang lebih landjut hilang djuga tetapi vokal-penjangga tetap ada, seperti dalam kata tùwao (= turwak dalam bahasa Indonésia purba) dan àteo (= atèp dalam bahasa Indonésia purba) di Ambon.

207. Dalam beberapa bahasa Indonésia hanja terdapat satu kemungkinan diantara kemungkinan² jang dimaksudkan dibawah nomor 204; dalam bahasa Indonésia lain terdapat dua atau tiga kemungkinan.

I. Dalam bahasa Nias hanja terdapat kemungkinan tentang berubahnja konsonan pada acliir kata : semua konsonan pada achir kata hilang dalam bahasa Nias. II. Dalam bahasa Minangkabau konsonan pada achir kata menga- lami unifikasi atau berubah. Bunji² letus (éksplosiva) mendjadi q, bunji-lebur tidak bersuara. Bunji sengau dan h tetap ada, bunji s mendjadi h.

III. Dalam bahasa Makasar terdapat semua kemungkinan itu. Konsonan anaktekak tidak bersuara, bunji sengau mendjadi ŋ, bunji bunji letus di-unifikasi mendjadi q. bunjiletus (éksplosiva) tetap mempunjai vokal-penjangga.

208. Dalam semua bahasa Indonésia konsonan pada achir kata atjapkali digantikan oléh bunji lain. Dalam bahasa Melaju disamping kata butir terdapat djuga butil. Dalam bahasa Howa terdapat kata wurutra (= burut dalam bahasa Melaju), dan kata wùruka (petjah, dsb). Gedjåla itu terdapat tersendiri dalam beberapa hal sadja, mung- kin terdjadi dari proses pembentukan kata, atas pengaruh analogi, dsb.

209. Dalam beberapa bahasa Indonésia atjapkali djuga terdapat konsonan pada achir kata, sedang dalam bahasa Indonésia purba dan bahasa Indonésia sekarang jang lain kata² jang sama artinja berachir dengan vokal. Kata pira (berapakah) dalam bahasa Indonésia purba ialah piraŋ dalam bahasa Makasar dan kata ika (ini) dalam bahasa Djawa kuno ialah kan dalam bahasa Djawa sekarang. Dalam hal itu kata-bentuk (formword) memperoléh tambahan ŋ. ,,Anak ini" ialah dalam bahasa Junani tuto to teknon dan dalam bahasa Djawa kuno: ika ŋ anak. Artikal jang mendjadi tambahan itu atjapkali djuga terdapat dalam bahasa² Indogerman, misalnja dalam bahasa Perantjis dalam kata lierre (tanaman jang merambat).

210. Djika karena hukum tentang bunji achiran bunji achir itu berubah dan ditambahkan achiran padanja, maka tampaklah gedjala² seperti berikut :

I. Bunji achiran jang terdapat dalam bahasa Indonésia purba tampak lagi. Djika dari kata nipiq (= nipis dalam bahasa Indonésia purba) dibentuk katakerdja, maka katakerdja itu bukanlah nipiqi, tetapi nipisi dengan memakai achiran i. Lebih tepat dikatakan bentuk nipisi itu terdapat dari djaman ketika orang masih memakai kata nipis.

II. Tjara menurunkan kata² menundjukkan keadaan bunji achiran sekarang. Kata baŋun (bangun) dalam bahasa Indonésia purba ialah baŋun dalam bahasa Makasar dan dari kata itu diturunkan katakerdja banuŋan (mendirikan). Bentuk kata itu berasal dari djaman ketika orang memakai ŋ sebagai ganti n. III. Hal menurunkan kata² menundjukkan keadaan bunji achiran antara bahasa Indonésia purba dengan bahasa Indonésia sekarang. Seperti telah diterangkan dalam monografi saja dulu kata sělsěl (menjesal) dalam bahasa Indinésia purba mendjadi sèsseěr dalam bahasa Bugis purba dan dari kata itu terdjadi kata sessěq dalam bahasa Bugis sekarang. Kata-turunan ,,menegor" ialah pasesserrěn dalam bahasa Bugis sekarang dan berasal dari djaman waktu orang tidak memakai kata sělsěl lagi tetapi belum memakai kata sessěq.

IV. Hal, menurunkan kata² menundjukkan djuga keadaan asli dan keadaan sekarang tentang bunji achiran. Kata lěpas dalam bahasa Indonésia purba ialah lapeh dalam bahasa Minangkabau. Kata kerdja jang diturunkan dari padanja ialah baik malapasi maupun malapehi. Dalam bahasa Howa terdapat hal jang sedjadjar (paralél) benar. Kata Išpas dalam bahasa Indonésia purba ialah leja dalam bahasa Howa. Bentuk perintah pasif (pasif imperatif) dari kata itu ialah baik alefasu maupun alefau.

V. Hal menurunkan kata tidak membawa bentuk kata² jang diduga, oleh sebab dilapangan itu orang atjapkali salah menulis. Kata épat (empat) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi ěppak dalam bahasa Bugis purba dan ěppaq dalam bahasa Bugis sekarang, tetapi dari kata itu diturunkan kata éppàri (dibagi empat); ialah sematjan pembentukan kata² seperti appari (meluaskan) dari kata appaq: menurut hukum bunji dalam kata appari itu terdapat bunji r, sebab dalam bahasa Melaju dan bahasa² Indonésia lain terdapat kata hampar jang sama artinja dengan appàri.

211. Keadaan vokal-penjangga dalam hal menurunkan kata² dan pada énklitik.

I. Djika dipakai achiran, maka hilanglah vokal-penjangga. Dalam bahasa Makasar dari kata sàssalaq (= sělsel dalam bahasa Indonésia purba) diturunkan katakerdja sassàli (menolak).

II. Djika diikuti énklitik maka vokal-penjangga itu hilang atau tetap ada. Dalam roman Jayankara (hal. 72) dalam bahasa Makasar terdapat kata²: tu-Màserek-a (bangsa Mesir itu; Masareq Mesir); dalam hal itu vokal-penjangga tetap ada depan artikal énklitis dan hamza mendjadi k. Dalam tjerita Rahidy, V, hal. 3 dalam bahasa Howa terdapat kata: nuwunùini (dibunuhnja) jang dibentuk dari nuwunùina + ni. Vokal-penjangga hilang dan kedua bunjiletus n mendjadi satu n.
Bunji achiran dalam bahasa Roti.

212. Dalam bahasa Roti terdapat gedjala² chusus tentang bunji achir, jang menarik perhatian.

213. Dalam bahasa Roti satu diantara tiga konsonan k, n dan s bisa terdapat pada achir kata seperti dalam kata aok (= awak dalam bahasa Indonésia purba), udan (= uran dalam bahasa Indonésia purba), niis (= nipis dalam bahasa Indonésia purba), belak (= běrat dalam bahasa Indonésia purba), loak (= ruan dalam bahasa Melaju).

214. Untuk menerangkan gedjala² itu orang dapat berpegang pada pengertian tentang unifikasi (nomor 204).

215. Tetapi suatu kenjataan melarang kami mempergunakan pengertian tentang unifikasi dalam hal itu: atjapkali terdapat bunji lain dari pada jang diduga menurut asas² ilmu pengetahuan bahasa dan kebiasaan dalam bahasa Indonésia. Misalnja kata jalan dalam bahasa Indonésia purba mendjadi dalak dalam bahasa Roti, kata ratus mendjadi natun, kata matay (mati) mendjadi mates, kata lidi mendjadi lidek. Disamping kata niis jang telah disebut tadi (= nipis dalam bahasa Indonésia purba) terdapat kata niik.

216. Orang dapat mengemukakan, bahwa bunji pada achir kata itu tertukar (verruilan) seperti dalam hal jang telah diterangkan dibawah nomor 208, tetapi gedjala jang dimaksudkan dibawah nomor² jang mendahului nomor ini atjapkali benar timbul dalam bahasa Roti, sedang dalam idiom² lain hal itu djarang sekali terdjadi.

217. Djadi gedjala² itu harus diterangkan dengan tjara lain :

I. Dengan tjara négatif. Dalam hal jang dimaksudkan itu tidak berlaku bunji hukum. Ketiga konsonan pada achir kata, jaitu k, n dan s bukanlah réfléks bunji achir dalam bahasa Indonésia purba bunji n dalam kata udan bukanlah landjutan dari n dalam kata uran dalam bahasa Indonésia purba.

II. Dengan tjara positif. Bahasa Roti pada taraf pertumbuhannja pada djaman jang lampau tidak mempunjai suatu konsonan apadjuapun pada achir kata. Djadi pada waktu itu terdapat kata² seperti dala (= jalan dalam bahasa Indonésia purba), uda (= uran (hudjan) dalam bahasa Indonésia purba), nii (= nipis (tipis) dalam bahasa Indonésia purba). Keadaan sematjam itu terdapat djuga dalam bahasa Bima jang erat bertali dengan bahasa Roti. Dalam bahasa Bima sekarangpun terdapat kata ura (hudjan), nipi (tipis), dsb. Bunji achir dalam bahasa Roti sekarang ialah artikal jang mendjadi kurang tegas dan tumbuh mendjadi satu dengan kata² itu. (lihat keterangan di bawah nomor 209).

218. Artikal dan kataganti penundjuk (demostrativa) jang dimulai dengan bunji k, s dan n atjapkali terdapat dalam bahasa² Indonésia. Begitu djuga halnja tentang kata²-bentuk (formword) jang tak mengandung vokal. ,,Zaakartikel" dalam bahasa Djawa kuno ialah atau ŋ. Personenartikel si dalam bahasa Bontok atjapkali disingkatkan mendjadi s, begitu djuga halnja tentang personenartikal si dalam bahasa Inibalo. Dalam téks Scheerer tentang ,,Kalinas" (hal. 149) dalam dialék bahasa Nabalo misalnja terdapat kalimat: inaspol ko s kapitan (Saja bertemu dengan kaptén).

219. Dalam banjak bahasa Indonésia, terutama dalam bahasa² jang erat bertali dengan bahasa Roti, misalnja dalam bahasa Sawu artikal terdapat belakang kata². Dalam tjerita Pepeka dalam bahasa Sawu ("Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederland- sch-Indië", 1904 hai. 283) terdapat kata² : la roa ne (dalam lobang itu). Dalam bahasa Roti sekarang artikal a djuga ditempatkan belakang kata².

220. Bahwa dalam bahasa Roti terdapat empat artikal, jaitu k, n, s dan a, hal itu tidak menimbulkan kesukaran; dalam bahasa Bugis terdapat lebih banjak artikal lagi seperti telah ditundjukkan dalam monografi saja dulu.

221. Djadi kami berpendapat, bahwa bahasa Roti pada taraf pertumbuhannja pada djaman jang lampau hanja mempunjai vokal pada achir kata dan sekarang sebagian besar vokal itu berubah mendjadi konsonan dengan tambahan artikal jang tak mengandung vokal. Perubahan semnatjam itu dalam pertumbuhan bahasa tidak mustahil. Seperti telah dikemukakan diatas tadi, dalam bahasa Bima hanja terdapat vokal pada achir kata, tetapi bahasa itu masih memakai beberapa kataganti énklitis (pronomina énklitis) djuga jang tak mengandung vokal. Dalam bahasa Bima terdapat kata anà (= anak dalam bahasa Indonésia purba) dan anà-ku atau anà-k (anak saja). Bentuk sematjam itu terdapat djuga pada achir kalimat. Sebuah kalimat dalam téks Jonkers tentang Mpama Sayaji Ali (hal. 55) berachir dengan kata² : labo rumà-t (pada radja kami). Dalam bahasa Bima kataganti sematjam itu tidak mendjadi satu dengan kata jang bersangkutan mendjadi kata dasar baru seperti dalam bahasa Roti.

222. Bahwa kesimpulan itu benar, hal itu dapat dibuktikan dengan tjara seperti berikut : Djika bunji achir k, s dan n merupakan artikal jang mendjadi kurang tegas dan bersatu dengan kata jang bersang- kutan, maka bunji itu tak akan terdapat pada katakerdja, kataseru (vokatif), dsb. Mémáng begitulah halnja. Bentuk kata, seru (vokatif) dari pada kata taek (pemuda) ialah tae.,,,Hudjan” (= uran dalam bahasa Indonésia purba ialah udan dalam bahasa Roti dengan melalui pertumbuhan seperti berikut :

Dalam bahasa Indonésia purba : urian
Dalam bahasa Roti lama : uda
Katakerdjanja dalam bahasa Roti sekarang : uda
Katabendanja dalam bahasa Roti sekarang : udan

223. Gedjala² seperti jang terdapat dalam bahasa Roti itu, terdapat djuga dalam bahasa² lain dipulau dilaut itu djuga, seperti dalam bahasa Timor,

Perbandingan dengan bahasa² Indogerman.

224. Tentang gedjala² mengenai bunji awalan, sisipan dan achiran dalam bahasa² Indonésia terdapat banjak hal jang sedjadjar (paralél) dalam bahasa² Indogerman. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa hal :

I. Dalam bahasa Djawa kuno dan bahasa Buli: bunji i menggantikan bunji awalan-vokal, misalnja dalam kata yaṭaf (= atěp dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Buli. Tentang bahasa Slavia kuno lihatlah karangan Leskien "Grammatik der altbulgarischeb Sprache".

II. Dalam bahasa Junani dan Madura: Antara bunji sisipan m dengan r tampak bunji-perantara b, seperti dalam kata ambri (= amrih) dalam bahasa Madura dan dalam kata mesembria (soré) dalam bahasa Junani disamping kata hémera (hari).

III. Dalam dialék bahasa Portugis di Alta Beira dan bahasa Talaud vokal-penjangga tetap terdapat pada konsonan achiran, seperti dalam kata deuze (Tuhan) dalam dialék Alta Beira dan dalam kata inuma (= inum dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Talaud.
BAB VII

GEDJALA²-BUNJI CHUSUS

225. Dalam nomor ini akan dibitjarakan beberapa gedjala-bunji jang luar biasa keadaannja dan oléh sebab itu dalam buku² peladjaran tentang bahasa² Indogerman (Indonésia) biasanja mengambil tempat jang chusus. Gedjala² itu ialah: Prothese (mengantikan bunji dengan tjara jang di-buat²), anaptyksis (mengulang bunji pada permulaan kata), Lautwiederholung (mengulangi bunji), métathesis (menukarkan tempat bunji), asimilasi, umlaut, disimilasi, me-metjah² bunji (breking).

226. Tjara prothese jang atjapkali dilakukan ialah menambahkan bunji pěpět depan kata² jang sedjak mula² terdiri atas satu suku kata atau dengan inclalui prosés tentang bunji mendjadi kata² jang terdiri atas satu suku kata. Dasar gedjala itu ialah ketjenderungan akan memakai² kata² jang terdiri atas dua suku kata (lihat keterangan dibawah nomor 19). Kata goŋ dalam bahasa Djawa kuno mendjadi ĕgoŋ dalam bahasa Djawa sekarang disamping goŋ. Kata dur,i dalam bahasa Indonésia purba lebih dulu mendjadi rurzi kemudian rwi dalam bahasa Djawa kuno (lihat keterangan dibawah nomor 137) dan mendjadi ri dalam bahasa Djawa sekarang disamping kata ěri. Kata lijst dalam bahasa Belanda mendjadi lés dalam atau ělés dalam bahasa Indonésia.

227. Bunji pěpět jang ditambahkan depan kata² itu mendjadi dasar hukum-bunji djuga. Goŋ dalam bahasa Djawa kuno mendjadi ogun dalam bahasa Toba, oléh sebab dalam bahasa itu bunji o menggantikan bunji pěpět.

228. Djika i mendahului y dan u mendahului w maka bunji i dan u itu dapat menggantikan bunji pěpět. Katasambung atau konjungsi ya dalam bahasa Djawa kuno ialah ya djuga dalam bahasa Tontémboa, tetapi disamping itu dipakai djuga kata ěya (menurut keterangan dalam nomor jang mendahului nomor ini) dan iya. Kata buwah dalam bahasa Indonésia purba ialah wwah dalam bahasa Djawa kuno; dari kata itu dengan langsung terdjadi woh dalam bahasa Djawa sekarang, tetapi disamping itu dipakai djuga kata uwoh. 229. Disamping bunji pěpět, i atau u jang prothetis itu, dalam ber-bagai² bahasa terdapat djuga vokal lain jang ditambahkan depan kata², jang mula² dimulai dengan konsonan. Kata lintah dalam bahasa Indonésia purba, bahasa Djawa kuno, bahasa Melaju, dsb. mendjadi alintah dalam beberapa bahasa lain. Kata telur dalam bahasa Indonésia purba ialah itlòg dalam bahasa Tagalog. Tak dapat diterangkan apakah hal itu bertali dengan bunji jang ditambahkan depan kata² atau dengan perubahan kata. Gedjala² jang sedjadjar (gedjala² paralél) dengan gedjala itu, jang sukar diterangkan, terdapat djuga dalam bahasa Indogerman (lihat antara lain karangan Hirt "Hand- buch der griechischen Laut- und Formenlehre").

230. Gedjala anaptyksis terdapat dalam bahasa Pabian-Lampung, oleh sebab antara bunji r dengan konsonan jang mengikutinja terdapat bunji pěpět. Kata sěrdaŋ dalam bahasa Melaju, bahasa Karo, dsb. mendjadi sarêdaŋ dalam bahasa Lampung. Gedjala anaptyksis di- lapangan bahasa² Indogerman itu dapat dibandingkan dengan gedjala tentang kata aragetud (= argento dalam bahasa Latin) dalam bahasa Oskis. Tjara anaptyksis jang lain ialah hal terdapatnja vokal antara konsonan² dalam kata² jang diambil dari bahasa asing. Dasar gedjala bunji itu ialah : agar kata² itu mudah diutjapkannja. (lihat keterangan dibawah nomor 284).

231. Hal mengulangi bunji. Bunji jang diulangi itu ialah vokal atau konsonan progrésif atau régrésif, hanja satu sadja atau merupakan réntétan.

232. Kalau dalam bahasa Howa bunji i terdapat depan konsonan langit² lembut (vélar), maka bunji itu selalu diulangi dan diutjapkan dengan tjara kurang tegas. Dalam bahasa itu terdapat kata gaga (héran); katakerdjanja bukanlah migaga, tetapi migyaga.

233. Dalam bahasa Bajo bunji a dari suku kata jang kedua dalam kata dasar mendjadi ea, djika kata itu berachir dengan ŋ, misalnja dalam kata běnàaŋ (= běnaŋ dalam bahasa Indonésia purba). Dalam kata geantèaŋ (= gantaŋ dalam bahasa Indonésia purba) bunji e dari suku kata jang pertama diulangi.

234. Dalam banjak hal dalam bahasa² Indonésia bunji sengau terdapat depan konsonan. Gedjala itu tak terdapat dalam idiom² lain dan dalam bahasa Indonésia purba. "Otak" dalam suatu idiom ialah utěk dan dalam idiom lain untěk. Dalam bahasa Djawa kuno terdapat kata usir dan uŋsir. Dalam bahasa² Indonésia atjapkali terdapat awalan dan achiran dengan bunji sengau dan kemudian bunji sengau itu terdesak oléh bunji jang diulangi dalam kata dasar. Dari kata usir (kata dasar dalam bahasa Djawa kuno) terdjadi bentuk aktif aŋusir atau maŋusir; bunji ŋ dalam kata uŋsir berasal dari awalan atau maŋ itu.

235. Gedjala mengulangi bunji itu terdapat djuga dalam bahasa² Indogerman dan keterangannja adalah sama dengan keterangan jang kami telah berikan tentang bahasa² Indonésia. (lihat antara lain karangan Zauner "Altspanisches Elementarbuch").

236. Gedjala métathese atjapkali terdapat dalam bahasa Indonésia, dalam ber-bagai² bentuk.

237. Paling banjak terdapat tjara métathese seperti berikut :

I. Vokal² dari kedua suku kata dalam kata dasar bertukar tempat. Kata ikur (ékor) dalam bahasa Indonésia purba, bahasa Melaju, dsb. mendjadi ukir dalam idiom² lain dan uhi (= ukir) dalam dialék² di Madagaskar.

II. Konsonan² dari separuh kata jang pertama bertukar tempat. Kata waluh dalam bahasa Djawa kuno, dsb. mendjadi lawo dalam bahasa Bugis.

III. Konsonan² dari separuh kata jang kedua bertukar tempat. Kata ratus dalam bahasa Indonésia purba mendjadi rasut dalam beberapa bahasa.

IV. Kedua konsonan dalam satu kata bertukar tempat. Dalam bahasa Toba terdapat kata purti (= putri dalam bahasa India kuno).

238. Sematjam métathese jang fakultatif dan menarik perhatian terdapat dalam bahasa Tontémboa. Hal itu ditundjukkan dengan tjara seperti berikut. Dalam tjerita tentang seorang perempuan miskin dan tjutjunja (téks Schwarz, hal 110) terdapat kata: sapa ěn ipěsiriq (Apakah sebabnja kami harus menghormati ?). Pada halaman 109 terdapat kata²: sapa im pêsiriq. Dengan djalan métathese ěn ipěsiriq mendjadi in. ěpěsiriq; bunji è pada permulaan kata hilang, dengan begitu terdjadilah in pěsiriq, jang achirnja dengan djalan asimilasi mendjadi im pěsiriq.

239. Gedjala métathese bersifat tentu atau kedua kata, kata jang asli dan jang berubah terdapat berdampingan. Kata par i dalam bahasa Indonésia purba mendjadi pair dalam bahasa Tontémboa, bentuk lain dari kata itu tak terdapat. Dalam bahasa Sunda terdapat kata ayud dan aduy (lunak) berdampingan. 240. Dalam banjak idiom terdapat ketjenderungan akan tjara métathese jang tertentu.

I. Ketjenderungan itu mengenai tempat bunji dalam kata². Dalam dialék Mantangay métathese tampak pada suku kata jang pertama dari kata² jang terdiri atas tiga suku kata, misalnja dalam kata dahaŋan (kerbo) (= hadaŋan dalam dialék bahasa Dajak jang terpenting).

II. Ketjenderungan itu mempunjai tudjuan jang tertentu. Dalam bahasa Sawu métathese itu terdjadi dengan tjara seperti berikut : bunji a dari suku kata jang kedua pindah kesuku kata jang pertama dan dalam hal itu a mendjadi è; dengan begitu kata pira dalam bahasa Indonésia purba ialah pěri dalam bahasa Sawu dan kata rumah ialah ěmu, dsb.

241. Dalam beberapa bahasa Indonésia jang tertentu tampaklah métathese menurut réntétan jang lurus benar. Djika dalam bahasa Indonésia purba depan vokal jang kedua dari sebuah kata terdapat bunji l dan vokal jang kedua itu diikuti r, maka dalam bahasa Gayo selalur dan itu bertukar. tempat; djadi kata tělur² dalam bahasa Indonésia purba ialah těrul dalam bahasa Gayo dan kata alur² (anak sungai) ialah arul.

242. Haplologi. Dalam beberapa idiom, misalnja dalam idiom Tsimihety, gedjala itu kadang² terdapat. Dalam "Chansons Tsimihety", Bulletin de l'Académic Malgache, 1913, hal. 100 terdapat kata mañiroboŋo (tumbuh mendjadi tertutup) jang menggantikan kata mañiriroboŋo (kata dasarnja ialah tsiri).

243. Haplologi terdapat djuga dengan réntétan menurut hukum pada kata² jang diduakalikan. Dalam hal itu bagian kata jang pertama atau jang kedua jang diduakalikan dapat disingkatkan dengan tjara haplologi. Tjara jang pertama, jaitu hal menjingkatkan bagian kata jang pertama, terdapat dengan segala matjam bentuk, misalnja:

I. Bunji jang terachir hilang seperti dalam kata luyu-luyut (agak lunak) dalam bahasa Dajak jang terdjadi dari kata luyut (lunak) dan dalam kata aki-akir (menumbuk sedikit), dsb.

II. Dua bunji jang terachir hilang seperti dalam kata lis-lisan (sapu) dalam bahasa Buli jang dibentuk dari kata lisan (menjapu).

III. Semua bunji ketjuali bunji jang terachir hilang, seperti dalam kata u-anu (tuan anu) dalam bahasa Tontémboa, jang dibentuk dari kata anu (seorang orang).

IV. Semua bunji ketjuali bunji jang pertama hilang, seperti dalam kata o-ogdog (alat) jang dibentuk dari kata dasar ogdog. 244. Bagian jang kedua dari kata jang diduakalikan disingkatkan dengan tjara haplologi. Hal itu djarang terdjadi. Dalam bahasa Padu terdapat kata laqika-ika (pondok) jang terdjadi dari kata laqika (rumah) dan dalam bahasa Djawa terdapat kata Roso-so (tjara menjebut seorang orang jang bernama Roso).

245. Dalam hal² jang telah dikemukakan dibawah nomor 243 bagian² bunji hilang dengan tjara haplologi, dan bunji² itu tidak saling mempengaruhi. Gedjala haplologi dalam bahasa² Indogerman jang di- gambarkan oleh Brugmann dalam karangannja "Kurze vergleichende Grammatik der indogermanischen Sprachen" sesuai dengan gedjala haplologi dalam bahasa² Indonésia itu, seperti dalam kata latrocinium (= latronicinium) dalam bahasa Latin.

246. Mengenai asimilasi terdapat segala kemungkinan dalam bahasa Indonésia jang terdapat dalam bahasa² Indogerman. Banding- kanlah hal² jang telah dikemukakan oléh Brugmann dalam karangannja jang dimaksudkan tadi dengan hal² seperti jang disebut dibawah ini:

1a. Vokal Bah. Indon. purba: tau Bah. Tontémboa: tow (manusia)
1b. Konsonan Bah. Indon. purba: gantuŋ Bah. Toba: gaituŋ
IIa. Progrésif Bah. Indon. purba: garuk Bah. Bima: garo
IIb. Régrésif Bah. Indon. purba: tau Bah. Tontémboa: tow
IIIa. Eenzijdig Bah. Indon. purba: tau Bah. Tontémboa: tow
IIIb. Tegenzijdig Bah. Indon. purba: aur Bah. Bima: oo (bambu)
IVa. Kontak: Bah. Indon. purba: gantuŋ Bah. Toba: gattuŋ
IVb. Pengaruh djauh Bah. Indon. purba: kulit Bah. Loinan: kilit
Va. Sebagian Bah. Indon. purba: babuy Bah. Bontok: fafuy
Vb. Lengkap Bah. Indon. purba: kulit Bah. Loinan: kilit

247. Asimilasi dalam bahasa² Indonésia bukan sadja terdjadi dalam kata dasar, tetapi meskipun djarang antara kata dasar dengan formans.

I. Formans menjinggung kata dasar, seperti dalam kata tuli (berlabuh) dalam bahasa Dajak; ,,tempat berlabuh" ialah talian.

II. Kata dasar menjinggung Formans, seperti dalam kata seraq (makanan); bentuk gerundivumnja ialah sěraqan (sěraq + formans ěn) dan dalam kata siriq (menghormati); bentuk gerundivumnja ialah siriqin (siriq + formans ěn) dan pada semua vokal, djika kata dasar berachir dengan vokal + hamza. 248. Asimilasi jang pindah dari suatu bagian susunan kata kebagian lain djarang terdapat. Dalam bahasa Bugis terdapat kata dahalēm (kemarén; do (hari) + halem (lalu).

249. Asimilasi jang tertentu terdapat dalam bahasa Indonésia dalam réntétan menurut hukum. Djika dalam kata Indonésia purba terdapat l dan r, maka bunji l itu selalu berasimilasi dengan r dalam bahasa Toba, seperti dalam kata rapar (= lapar dalam bahasa Indonésia purba). Tjara asimilasi antara kata dasar dengan formans, jang telah dikemukakan dibawah nomor 247, terdjadi djuga dengan tak ada ketjualinja.

250. Dalam beberapa bahasa Indonésia terdapat keadaan peralihan; aya dan ayu pada achir kata² dalam bahasa Indonésia purba mendjadi ay. Mungkinlah dalam hal itu aya dan ayu itu dengan djalan asimilasi mendjadi ayi lebih dulu dan kemudian y + i disatukan mendjadi y, seperti dalam kata kay (= kayu dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Sigi dan dalam kata lay (= layar, dalam bahasa Indonésia purba) dalam bahasa Howa.

251. Istilah "umlaut" dalam ilmu tentang mem-banding²kan bahasa sebenarnja tidak perlu, sebab hal itu berarti asimilasi dengan tjara sebagian. Tetapi istilah itu dipakai djuga dalam bahasa² Indonésia dan berarti: asimilasi dengan tjara sebagian dan pada asimilasi itu bunji i mengubah vokal a, o dan u.

252. Umlaut agak luas tersebar dalam bahasa Indonésia. Misalnja:

Umlaut a mendjadi ä Bah. Indon. purba: lima Bah. Dajak: limä
Umlaut a mendjadi e Bah. Indon. purba: hatay Bah. Sumba: eti (hati)
Umlaut a mendjadi ö Bah. Indon. purba: patay Bah. Bontok: padöy
Umlaut o mendjadi e Bah. Toba tinggi: oyo Bah. Toba: eo (kentjing)
Umlaut u mendjadi i Bah. Indon. purba babuy Bah. Bontok: fafüy

Tjatatan. a dalam bahasa Dajak jang berubah bunjinja ditulis sebagai ä. Tjara menulis itu diambil dari Hardeland.

253. Dalam bahasa Gayo terdapat bunji ö jang sama bunjinja dengan ö dalam bahasa Djerman, seperti dalam kata dödö (dada). Bunji ö tidak terdjadi dari bunji lain jang berubah atas pengaruh bunji i.

254. Umlaut dapat merupakan permulaan asimilasi jang lengkap. Kata lima dalam bahasa Indonésia purba ialah limä dalam bahasa Dajak dan dimi dalam bahasa Howa jang erat bertali dengan bahasa Dajak. 255. Disimilasi djarang terdapat dalam bahasa² Indonésia.

256. Disimilasi terdjadi dalam hal² seperti berikut :

I. Djika dua bunji jang sama ikut-mengikuti. Kata ro (dua) diduakalikan dalam bahasa Djawa sekarang, mendjadi loro. Kata babah (membawa) dalam bahasa Indonésia purba ialah baga (membawa) dalam bahasa Mandari.

II. Djika tiga bunji jang sama ikut-mengikuti. Kata aŋin dalam bahasa Indonésia purba ialah aŋiŋ dalam bahasa Bugis, tetapi ,,mendjemur diudara" ialah maŋinaŋ; bunji n masih terdapat dalam kata itu atas pengaruh disimilasi. Oleh sebab dalam kata waŋuŋěŋ pengaruh disimilasi itu tak terdapat (kata itu dibentuk dari kata waŋuŋ (bangun), maka boleh diduga, bahwa dalam kata aŋinaŋ vokal i turut mempengaruhinja djuga. Apakah dalam hal itu barangkali berlaku gedjala jang telah diterangkan dibawah nomor 210 ?

257. Disimilasi terdjadi dengan tjara menjinggung bunji (Berünrungsdissimilation) atau dengan tjara dari djauh (Ferndissimilation):

I. Disimilasi dengan tjara menjinggung bunji. Hal itu terdjadi dalam bahasa Toba, djika s + s saling menjinggung seperti dalam kata lat-soada (belum; las (belum) + soada (tidak)

II. Disimilasi dengan tjara dari djauh seperti dalam kata tuso (= susu dalam bahasa Indonésia purba) dan dalam kata tisa (= çesa dalam bahasa India kuno) dalam bahasa Dajak.

258. Disimilasi terdjadi antara kata dasar dengan formans. Dalam bahasa Sangir achiran -aŋ mendjadi -eŋ djika suku kata jang terachir dari kata dasar mengandung a.

259. Suatu tjara chusus tentang disimilasi terdjadi, djika salah satu dari kedua bunji hilang. Kata sisa (+ çesa) dalam bahasa Dajak mendjadi tisa, sedang dalam bahasa Minangkabau kata itu mendjadi iso dan siso. Kata itu menundjukkan bahwa bunji s akan hilang seperti bunji r dalam kata phatria (persaudaraan) dalam dialék bahasa Junani (= phratria dalam bahasa Junani).

260. Dengan tjara me-metjah² bunji. Hal itu berarti: bunji a berubah mendjadi ea. Dalam bahasa Bajo bunji a pada achir kata jang diikuti ŋ berubah mendjadi ea dan tekanan dipindahkan pada e seperti dalam kata padèaŋ (rumput) jang sama artinja dengan kata pàdaŋ dalam bahasa Indonésia purba.
BAB IX

GEDJALA² DALAM HAL BUNJI JANG SALING BERTALI
MENDJADI SUKU KATA.

261. Tiap² suku kata mempunjai bunji jang terpenting. Dalam bahasa Indonésia bunji itu umumnja ialah suatu vokal, kadang² sebagai ketjualian bunji lain jang bersuara. Dalam bahasa² Indonésia benar terdapat kata²-bentuk jang tak mengandung vokal, seperti n (dari pada) dan m (punja mu = "yours"), tetapi kata² itu umumnja mengikuti vokal dan bersatu dengan vokal itu merupakan suku kata. ,,Labamu" ialah dalam bahasa Toba labàm (laba + m), tetapi rumahmu ialah bagasmu. Suatu hal jang menjimpang dari keadaan jang dimaksudkan tadi terdapat dalam bahasa Gayo; dalam bahasa itu n (dari pada) bisa terdapat antara dua konsonan, seperti dalam kata bêt n se (dengan tjara ini). Dalam kata² itu bunji sengau n terdapat antara dua bunji jang bersuara keras, djadi merupakan vokal-sengau, ialah bunji jang terpenting dari suku kata. Begitu djuga halnja tentang gedjala jang terdapat dalam bahasa Dajak seperti dalam kata bliòn-m (kampakmu); dalam kata itu bukan mu tetapi m mengikuti konsonan dan merupakan vokal-sengau. Bukti tentang hal itu terdapat dalam tjerita Sangumang ("Bijdragen tot de taal-, landen volkenkunde van Nederlandsch-Indië", 1906 hal. 201) jang me- ngandung kata²: pirä aton bliòn-m (Berapakah kampakmu?) Scidenadel mengatakan dalam karangannja "Bontokischen Grammatik": ,,Bunji l pada achir kata atjapkali merupakan vokal-lebur (liquida somans) seperti dalam kata bottle dalam bahasa Inggeris", tetapi tjontoh tentang hal itu tidak diberikannja dan dalam téks² jang bersangkutan tidak terdapat barang sesuatu jang dapat membuktikan pendapatnja itu.

262. Prosés²-bunji jang tertentu dapat memindahkan bunji jang terpenting dari suku kata. Dalam sebagian besar bahasa² Indonésia suku kata jang mendahului suku kata jang terachir ditekankan (lihat keterangan dibawah nomor 4), misalnja dalam kata áwak, báyar, dsb. Bunji jang terpenting dari suku kata jang pertama dalam kedua kata itu ialah bunji a depan setengah-vokal. Dalam bahasa Toba kata awak berubah mendjadi aoak dan dalam bahasa Tawaela kata bayar berubah mendjadi baèari. Dalam hal itu bunji o dan e tidak mempunjai fungsi konsonan dari w dan y lagi, tetapi mendjadi vokal penuh dan oleh sebab itu ditekankan dan merupakan bunji jang terpenting dari suku kata, djadi terdjadilah kata aòak jang terdiri atas tiga suku kata dan baèari jang terdiri atas empat suku kata.

263. Djika sebuah kata terdiri atas beberapa suku kata, maka timbullah pertanjaan dimanakah letaknja batas² suku kata. ,,Dalam bahasa Bontok dua konsonan diantara vokal² di-bagi²kan diantara kedua suku kata dan ds dan ts dipandang sebagai satu bunji". (Seidenadel). Menurut keterangan dibawah nomor 60 bunji ds dan ts mewakili konsonan langit² (palatal) dalam bahasa Indonésia purba. ,,Dalam bahasa Atjéh pada kombinasi bunji sengau dan bunji penutup, bahkan pada kombinasi bunji sengau + bunji penutup + bunji-lebur (liquida) 'seperti dalam kata cintra (roda) suku kata berachir dengan vokal dan suku kata jang kedua dimulai dengan kombinasi itu" (Snouck Hurgronje). Aturan itu berlaku djuga bagi bahasa² Indonésia jang lain, ber-bagai² gedjala menundjukkan hal itu. Dalam beberapa bahasa Indonésia kata dasar dapat dimulai dengan bunji sengau + bunji letus (éksplosiva), antara lain dalam bahasa Nias (lihat keterangan dibawah nomor 188); dalam bahasa Indonésia jang lain vokal jang mendahului kombinasi itu tidak péndék, seperti dalam bahasa Djawa sekarang (lihat keterangan dibawah nomor 69). Apakah barangkali bět n se itu (lihat keterangan dibawah nomor 261) bět + nse ?

264. Dalam hal mem-bagi²kan suku kata djuga terdapat hal² jang tak tentu. "Dalam bahasa Madura hamza bisa terdapat antara dua vokal sebagai penutup suku kata jang pertama atau sebagai permulaan suku kata jang kedua". (Kiliaan); kata poqon.(pohon) ialah poq-on, po-qon atau poq-qon.

265. Dalam bahasa Bontok dalam beberapa hal batas suku kata ditundjukkan dengan hamza. Dalam téks Seidenadel tentang upatjara mengajau (hal. 512) terdapat kata totokąkoŋan (mendjaga).
BAB X

GEDJALA² BUNJI DALAM PEMBENTUKAN KATA DASAR.

266. Dalam bahasa² Indonésia kata dasar tampak tak berubah atau dihubungkan dengan awalan, sisipan dan achiran. Dalam "Batak- sche Texten, Mandailingsch Dialect", hal. 16 (oléh Ophuysen) ter- dapat kata²: hobaran ni lombu na tobaŋ (Tjerita tentang lembu tua). Dalam kalimat itu lombu dan tobaŋ ialah kata² dasar jang tak berubah, tetapi kata hobaran terdiri atas kata dasar hobar (mentjeritakan) dan achiran an jang membentuk kata benda.

267. Begitu djuga halnja djika terdapat formans. Formans itu di- hubungkan atau tidak dihubungkan dengan bunji lain. Dalam ,,Pantun Melaju" jang diterbitkan oléh Wilkinson dan Winsstedt terdapat (pantun ke-4) kata²: dari-mana punay melayaŋ dalam pantun ke-5: bagay-mana mênaŋkap landaq. Kata layaŋ dan taŋkap ialah kata dasar; dalam pembentukan kata mêlayaŋ tak tampak prosés-bunji, dalam kata mênaŋkap bunji t mendjadi n.

268. Gedjala² dalam pembentukan kata dasar jang lebih landjut ialah sama atau tidak sama dengan gedjala²-bunji dalam pembentukan : kata dasar, jang dimaksudkan tadi. Dalam bahasa Djawa kuno bunji a = i dalam bahasa Indonésia purba mendjadi e dalam kata dasar dan begitu djuga halnja dalam pembentukan jang lebih landjut dari kata dasar, djika kedua bunji itu ber-turut² terdapat. Dengan begitu dalam bahasa Djawa kuno terdapat kata len (= lain dalam bahasa Indonésia purba) dan kata meŋet (ma + iŋet; memperhatikan). Dalam bahasa Toba bunji r berasimilasi dengan jang mengikutinja, misalnja dalam kata pallanja (par + lanja; kuli). Dalam kata dasar seperti dalam kata torluk (bélok) sendiri bunji r itu tak berubah.

269. Gedjala² bunji jang tampak djika terdapat achiran ialah seperti berikut. Achiran itu hampir selalu mengandung vokal:

I. Tampaklah bunji-perantara, jaitu bunji y jang mengikuti bunji i dan bunji w jang mengikuti bunji u. Djadi dalam bahasa Bugis terdapat kata turuwaŋ (membakar; tunu + dari kata dasar tunu (terbakar). Atau bunji-perantara itu merupakan h atau q; di Mandailing-selatan misalnja terdapat kata parkalahan (daftar untuk menenung: par kata dasar kala + an) dan dalam bahasa Madura terdapat kata mateqe (membunuh; pate (mati) + e).

Bunji²-perantara itu dapat bertukar tempat. Dalam bahasa Makasar bunji-perantara y mengikuti bunji- e dan bunji-perantara w tetapi dalam ,,Tjatatan harian radja Gowa dan Tello" terdapat kata Bontoya (negeri Bonto; Bonto + artikal a) dan bukanlah Bontowa menurut bahasa Makasar sekarang.

II. Vokal penutup dari kata dasar bersifat konsonan djika diikuti achiran, dengan begitu dalam bahasa Djawa kuno bunji i mendjadi y dan bunji u mendjadi seperti dalam kata katun-wan (dibakar: ka + kata dasar tunu + an).

III. Vokal hata dasar dan vokal formans dalam banjak idiom di- satukan. Dalam bahasa Djawa kuno misalnja dari kěla atau kla + en terdjadi kata klân. Dalam surat piagam dalam bahasa Kawi terdapat kalimat: klaŋ i kawah san Yama (Akan dibeli dari kawah gunung Yama).

IV. Dalam bahasa Madura dan beberapa bahasa Indonésia jang Jain konsonan pada achir kata dasar diduakalikan. Dalam bahasa Madura dari kata dasar ator dibentuk katakerdja ŋatorraghi (mempersembahkan; ŋ + ator + aghi).

V. Dalam bahasa Gayo bunji sengau pada achir kata dasar mendjadi bunjiletus-bersuara-homorgan (homorgan média) + bunji sengau, misalnja dalam kata kuödnön (lebih kekanan; kata dasar kata kuön (kanan) + ön). Dalam bahasa Mentawai bunjiletus tak bersuara (tenuis) menggantikan bunjiletus bersuara (média), seperti dalam kata mämäräpman (akan tidur) jang dibentuk dari kata dasar märäm. Bukti tentang hal itu terdapat dalam tjerita tentang hantu jang dimuat dalam téks Morris (hal. 82). Dalam tjerita itu terdapat kalimat : mämäräpman lä aku (saja ingin hendak tidur disana).

VI. Dalam bahasa Bontok bunji letus bersuara (média) mendjadi bunji letus tak bersuara (tenuis). Dari kata dasar kaeb dibentuk kata- kerdja kapen (membuat) dari kata dasar faeg dibentuk katakerdja fayeken (memukul dengan tjambuk).

VI. Dalam bahasa Madura bunji letus tak bersuara (tenuis) mendjadi bunjiletus bersuara (média). Kata dasar ,,menjusui" ialah sěpsěp dalam bahasa Djawa kuno dan bahasa Madura dan ,,menjusui anak" ialah ñepsěbbhi dalam bahasa Madura. VIII. Dalam bahasa Maanan bunji letus bersuara (média) hilang dalam hubungan bunji sengau + bunji letus bersuara homorgan antara kedua vokal dari kata dasar.

270. Kwantitét pada kontraksi.

I. Biasanja bunji kwantitét pandjang, antara lain dalam bahasa Makasar seperti dalam kata kasalàŋ (denda); a dalam suku kata jang terachir ialah pandjang (ka + sala tiada berhasil + ).

II. Dalam bahasa² Indonésia jang lain bunji itu péndék antara lain dalam bahasa Toba seperti dalam kata parhutàn (djabatan ditempat jang ketjil); a dalam suku kata jang terachir ialah péndék (par huta (tempat jang ketjil) + an; lihat djuga keterangan dibawah nomor 71).

271. Gedjala² bunji jang tampak djika kata dasar mengikuti awalan kurang banjak kalau dibandingkan dengan hubungan kata dasar dan achiran. Gedjala² itu ialah :

I. Achiran hilang. Dalam bahasa Bugis dari kata dasar onro (diam, berumah) dibentuk kata paonro atau ponro (menjuruh berumah).

II. Kontraksi. Dari ma + kata dasar iŋět dalam bahasa Djawa kuno terdjadi kata mênět (memperhatikan).

III. Bunji perantara tampak. Dalam bahasa Dairi terdapat kata pěhuwap (uap; pě + uwap).

IV. Bunjiletus pada permulaan kata dasar mendjadi bunji sengau homorgan seperti dalam kata měnaŋkap dalam bahasa Melaju jang terdjadi dari kata dasar taŋkap (lihat keterangan dibawah nomor 16).

272. Djika terdapat formans pada permulaan kata bisa terdjadi djuga keselarasan bunji (geluidsharmonie); lihat keterangan dibawah nomor 247.

273. Dibawah nomor 168 telah dikemukakan, bahwa diftong dalam suku kata jang terachir dalam bahasa Indonésia purba seperti dalam kata punay (burung dara) dan patay (membunuh) mendjadi satu vokal dalam beberapa bahasa Indonésia, punay ialah punè dalam bahasa Bugis. Dalam hal vokal jang menggantikan diftong itu dalam beberapa bahasa Indonésia tampak gedjala² jang tidak dengan begitu sadja dapat diterangkan dengan menundjuk akan kontraksi, dsb. Dalam membitjarakan hal² itu kami ingin hendak mempergunakan tabél seperti jang tersebut dibawah ini sebagai dasar:

Bahasa Indonésia purba: gaway (membuat) patay (membunuh)
punay (burung dara)
Bahasa Tagalog: gaway (membuat sihir) patay punay
Bahasa Djawa kuno: gaway pati
Bahasa Djawa baru: gawè
Bahasa Melaju : mati punay
Bahasa Dajak : gawi patäy punäy

Pada tabél itu tampaklah dua hal. Apakah sebabnja dalam bahasa Melaju dan bahasa Dajak dalam satu hal terdapat diftong seperti dalam kata punay dan punäy dan dalam hal lain terdapat satu vokal seperti dalam kata mati dan gawi? Apakah sebabnja kata ay dalam bahasa Indonésia purba mendjadi i dalam bahasa Djawa kuno (dalam kata pati); sedang dalam kata gawé tampak bunji é dengan djalan kontraksi jang langsung ?

Beberapa gedjala dalam bahasa² di Philipina memberikan djawaban atas pertanjaan itu. Dalam bahasa itu satu kata itu djuga jang berachir dengan diftong terdapat dengan beberapa bentuk, diikuti oléh sebuah achiran atau énklitika. Kata balay dalam bahasa Indonésia purba ialah halày (rumah) djuga dalam bahasa Ibanag, tetapi ,,rumah-mu" ialah balè-ra. Dalam bahasa Tagalog bentuk pasif dari kata bigay (memberi) ialah bigyan. Kami berpendapat, bahwa pertukaran bunji itu terdapat djuga dalam bahasa Indonésia purba; djadi kata gaway kadang² diutjapkan sebagai gaway kadang² lagi sebagai gawi. Dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Melaju, bahasa Dajak, dsb. dalam hal pertukaran bunji itu kadang² diftong kadang² lagi vokallah jang dipertahankan. Oléh sebab itu terdapat kata 'mati dan punay dalam bahasa Melaju.

BAB XI.
HAL MENJINGKATKAN KATA.

Dalam ber-bagai² hal kata² disingkatkan. Dalam beberapa bahasa jang tertentu segala matjam kata disingkatkan, dalam bahasa Indonésia jang lain hanja beberapa matjam kata sadjalah jang disingkatkan, misalnja nama diri. Biasanja bunji pada permulaan kata-lah jang dihilangkan, bunji di-tengah² kata djarang dan bunji pada achir kata djarang lagi hilang. Hal itu terdapat di Napu: kata anu dalam bahasa Indonésia purba mendjadi au dalam bahasa di Napu. Bunji² jang dengan tjara jang tak teratur saling menindih, seperti dalam kata ērbubai (dengan resmi mengumumkan perkawinan; ěrděmu bayu) djarang terdapat. Singkatan kata itu terdapat tersendiri, disana sini terdapat dalam banjak hal tetapi tak pernah dengan réntétan menurut hukum, seperti telah tampak dalam singkatan berdasarkan haplologi dalam hal menduakalikan kata (lihat keterangan dibawah nomor 243); tetapi hal itu merupakan gedjala jang luar biasa. Kata lengkap dapat disingkatkan dengan beberapa tjara. Kata anu jang dimaksudkan tadi misalnja bukan sadja disingkatkan mendjadi au tetapi djuga mendjadi u. Ketiga bentuk kata itu terdapat berdampingan dalam téks „Pembentukan dunia" dalam bahasa Napu. Pada halaman 393 terdapat kata²: anu ta-ita (hal jang tampak oléh kita), pada halaman 394: anu maila (machluk jang buas), pada halaman 394: u tuwo (hal jang hidup).

275. Hal menjingkatkan bunji² pada kata dasar dengan tak memandang tjara menjingkatkan itu.

I. Dalam bahasa Atjéh banjaklah kata dasar jang suku katanja jang pertama dibuang, karena suku kata jang terachir ditekankan. Dalam tjerita tentang orang buta jang bidjaksana (lampiran téks van Langen, halaman 109) dalam dua buah kalimat terdapat kata dasar jang disingkatkan berdampingan: ik ur (memandjat pohon kelapa; ik = naik dalam bahasa Indonésia purba dan ur = niur2 dalam bahasa Indonésia purba). II. Singkatan sematjam itu terdapat djuga dalam bahasa Cam, misalnja kata lan (bulan; „bunji pada permulaan kata bulan dalam bahasa Indonésia dibuang" (Cabaton)). Dalam bahasa Cam banjak-lah kata jang diambil dari bahasa² didaérah jang dekat. Kata dasar dari banjak kata jang diambil itu terdiri atas satu suku kata dan sebagian kata² itu mendjadi kata dasar jang terdiri atas dua suku kata dalam bahasa² Indonésia.

276. Hal menjingkatkan beberapa matjam kata jang tertentu dan kata² jang mempunjai fungsi jang tertentu.

I. Menjingkatkan kata serų. Dalam ber-bagai² bahasa Indonésia kata² dasar jang terdiri atas dua suku kata hilang satu suku katanja, djika kata dasar itu dipakai untuk berseru dan bersandarkan kataseru, jang atjapkali terdiri atas satu suku kata. Dalam bahasa Tontémboa terdapat kata deq (ah, kagétlah aku!) jang terdjadi dari kata in deq (kaget). Dalam tjerita tentang kebakaran (téks Schwarz, hal. 156) terdapat kata² : deq e deq aku (kagétlah kamu akanku !).

II. Dalam hal memanggil. Dalam banjak idiom bentuk vokatif disingkatkan. Bentuk kata memanggil seperti bentuk kata berseru besandarkan kataseru (interjéksi) dan oléh sebab itu dalam banjak idiom suku kata jang terachir ditekankan. Singkatan bentuk vokatif sematjam itu tedapat pada kata² jang menjatakan pertalian kekeluargaan dan persahabatan, seperti dalam kata coŋ (kawan!) dalam bahasa Madura jang dibentuk dari kata kacoŋ (kawan). Dalam tjerita Kandhulok (téks Kiliaan II, hal. 153) terdapat kata³ : kěmma coŋ (apakah, kawan!). Bentuk kata jang pandjang disingkatkan mendjadi bentuk kata jang terdiri atas dua atau tiga suku kata seperti dalam bentuk vokatif maèn dalam bahasa Toba, jang terdjadi dari kata parumaen (mantu perempuan). Kedua, singkatan itu terdjadi pada nama orang seperti dalam bahasa Djawa sekarang bentuk vokatif „Wir" ialah singkatan dari nama Wiryadimejo. Selain pada bentuk kata memanggil, dalam beberapa idiom bentuk kata jang lain djuga disingkatkan seperti kata itow (= maŋalitow, anak laki² ketjil) dalam bahasa Tontémboa. Dalam bahasa Roti kata feo (= feto; saudara perempuan) jang biasanja dipakai orang kalau berbitjara dengan saudara perempuan itu, kadang² dipergunakan djuga untuk memanggil.

III. Pada tjara perintah (modus imperatif) jang pada hakekatnja hampir sama dengan tjara memanggil, misalnja dalam kata botson (mari !; = boan tuson). IV. Pada nama diri, terutama nama orang. Dalam banjak bahasa Indonésia, antara lain dalam bahasa Dajak nama orang dibentuk dari kata djenis (appélatif) dengan membuang konsonan pada permulaan kata. Nama² sematjam itu dalam bahasa Dajak ialah antara lain: agap (dari tagap = kuat), Adus (dari radus = gemuk), Ilak (dari kilak = tjinta), Inaw (dari ginaw = mengkilap). Singkatan itu terdjadi. dengan bersandarkan kata² jang menjatakan pertalian kekeluargaan, jaitu „ajah", „ibu" dan „anak" jang dalam sebagian besar bahasa Indonésia dimulai dengan vokal; kata² itu dalam bahasa Indonésia purba ialah ama, ina dan anak.

V. Pada istilah² téchnis. Dalam hal itu terdapat singkatan jang tegas seperti dalam bahasa² Indo-German, misalnja dalam kata pops (popular concerts) dalam bahasa Inggeris ("Kurzevergleichende Grammatik der indogermanischen Sprachen", hal. 366. oléh K. Brugmann). Dalam bahasa Bugis kata ida-ida (ratjun keras) ialah singkatan dari racuŋ maqpacidacida.

VI. Pada komposisi. Pada bagian jang pertama dari komposisi vokal pada achir kata hilang, konsonan djarang hilang. Misalnja : torarue (hantu air; „hantu" + „air" torara + ue) dalam bahasa Ampana, tigari (suatu pésta; tiga + hari) dalam bahasa Minangkabau. Atau bagian pertama dari komposisi, jang biasanja kurang tegas bunjinja, disingkatkan seperti dalam kata bêtaòq (sebelah kanan) beh (sebelah) + taòq (kanan) dalam bahasa Busang.

Singkatan kata dalam bahasa Bugis patut diperhatikan dengan tjara chusus. Dalam bagian pertama dari susunan kata hilang ŋ -nja seperti dalam kata polila bagian lidah jang belakang; poŋ (akar) + lila); begitu djuga halnja tentang kata polima (bagian tangan jang belakang). Singkatan itu terdjadi oléh sebab bunji ŋ + l dalam kata dasar tidak dapat berdiri ber-turut²; tetapi apakah sebabnja terdapat singkatan kata seperti po-kanuku (bagian kuku jang belakang), sedang ŋ + k atjapkali terdapat ber-turut² dalam kata dasar? Ialah pembentukan kata menurut analogi. Po-kanuku terdjadi berdasarkan kata po-lima.

VII. Pada himpunan kata² jang menjatakan satu pengertian, djadi menghampiri komposisi. Bagian pertama dari himpunan kata sematjam itu ialah gelar. Dalam tjerita tentang Ja Bayur ("Bataksche Texten, Mandailingsch Dialect", hal. 74 oléh Ophuysen terdapat kata²: gorar nia i manjadi (Dinamainja Ja Bayur); Ja ialah singkatan kata raja. Singkatan lain jang masuk bagian jang dibitjarakan ini antara lain terdapat dalam kata dupamu (perempuan; „manusia didalam rumah" = dou pa emu) dalam bahasa Sawu; kata anaŋkoi (anak ketjil; ana (anak) + anu + koi (ketjil). Himpunan kata itu atjapkali terdapat pada kata² bentuk (formword) seperti dalam kata ranen dan sebagainja; (ara (nama) + enen barang sesuatu) ).

VIII. Menurut Poensen dalam bahasa Djawa katabilangan antara 1 dengan 10 jang terdiri atas dua suku kata, disingkatkan; tu misalnja ialah singkatan dari pitu (tudjuh). Bentuk kata singkatan itu bersandar akan katabilangan jang sendiri terdiri atas satu suku kata, misalnja pat (empat).

IX. Fada katakordja-pembantu (hulpwerkwoord). Dalam beberapa bahasa Indonésia katakerdja jang biasanja diikuti katakerdja jang tak berdiri sendiri dan menjatakan pengertian jang terpenting, dapat disingkatkan; dalam hal itu bunji di-tengah² kata dihilangkan. Dalam bahasa Karo misalnja kata dapět disingkatkan mendjadi dat. Dalam bahasa Minangkabau kata lengkap pěrgi jang berasal dari bahasa Melaju, dsb. tidak terdapat lagi, digantikan oléh bentuk singkatnja pai atau pi. Suatu analisa tentang bahasa Manjau Ari menundjukkan, bahwa pai atau pi umumnja hanja terdapat dalam susunan kata jang tertentu, misalnja dalam kalimat: kita pi japut (dalam bentuk bahasa tulisan) atau kito pi japuyq (dalam bentuk bahasa lisan) = „Kami akan mendjemputnja".

X. Pada énklitik dan proklitik. (lihat keterangan dibawah nomor 302).

XI. Pada euphemismus (lihat keterangan dibawah nomor 18).

XII. Pada kata² jang diambil dari bahasa asing. Dalam bahasa Djawa sekarang terdapat kata děler (= "edele heer" dalam bahasa Belanda). Dalam hal² sematjam itu atjapkali tampak ketjenderungan akan mempergunakan kata² jang terdiri atas dua suku kata.

XIII. Pada bentuk bahasa pergaulan. (lihat keterangan dibawah nomor 20).

XIV. Pada irama, (lihat keterangan dibawah nomor 27).

277. Karena singkatan kadang² inti kata jang menjatakan pengertian hilang sama sekali, terutama pada susunan kata². Hal itu umumnja terdjadi dalam beberapa bahasa Indonésia pada kata² jang menjatakan sangkalan. Dalam bahasà Tontémboa kata raqi jang menjatakan sangkalan atjapkali dikuatkan dengan partikal ka, oléh sebab itu terdjadilah kata raqica (lihat keterangan dibawah nomor 103) dan kata itu disingkatkan mendjadi ca. Kata ca - téks jang bersangkutan menundjukkan hal itu terutama terdapat dalam bentuk bahasa lisan.

278. Dalam satu bahasa kata lengkap dan kata jang disingkatkan bisa terdapat berdampingan. "Barang sesuatu jang tertentu" ialah halei dalam bahasa Cam, kata itu disingkatkan mendjadi lei. Dalam tjerita tentang Mu Gajauŋ (hal. 22) terdapat kata: harei halei (pada suatu hari jang tertentu), tetapi dalam baris sjair ke-11 terdapat kata²: harei lei.

279. Hal menjingkatkan kata² dapat membawa gedjala² bunji jang biasanja tidak terdapat dalam bahasa jang bersangkutan. Dalam bahasa Roti terdapat kata bindae (sematjam békér; bina (békér) + dae (tanah) ). Dalam kata dasar bahasa Roti bunji n + d tak terdapat ber-turut².

280. Tentang tjara menjingkatkan kata² dalam bahasa² Indonésia terdapat hal² jang sedjadjar (paralél) dalam bahasa² Indogerman. Baik dalam bahasa Indogerman maupun dalam bahasa² Indonésia tjara menjingkatkan kata dengan menghilangkan bunji di-tengah² kata djarang dilakukan. (lihat "Kurze vergleichende Grammatik der Indogermanischen Sprachen" oléh K. Brugmann). Hal menghilangkan vokal pada achir kata bagian jang pertama dari komposisi terdapat dalam bahasa Gotis misalnja dalam kata hauhhairts (tjongkak) disamping kata armahairts (rahim). (Lihat karangan Willmanns "Deutsche Grammatik" Bab: "Der vokal in der Kompositionsfuge"). Singkatan gelar terdapat dalam bahasa Djerman, misalnja ver (= vrouwe), dalam kata na (= donna) dalam bahasa Italia. Kata untuk berseru jang

disingkatkan terdapat dalam bahasa Djerman-Swiss dalam kata mänt (= Sakrament). Singkatan kata jang mengatakan sangkalan dengan menghilangkan inti kata terdapat dalam kata iit dalam bahasa Djerman-Swiss.

BAB XII

GEDJALA BUNJI DALAM KATA JANG DIAMBIL DARI
BAHASA LAIN.

281. Djika suatu bahasa Indonésia mengambil suatu kata dari bahasa lain, maka bunjinja disesuaikan dengan bunji² jang terdapat dalam bahasa jang mengambil kata itu. Hal jang menjimpang dari kebiasaan itu djarang terdapat, ketjuali pada kaum terpeladjar; disini-sana bunji asing itu diutjapkan djuga oléh rakjat djelata. Dalam bahasa Madura misalnja tidak terdapat bunji f, tetapi rakjat djelata mengutjapkan djuga bunji f itu alam kata² jang diambil dari bahasa asing.

282. Perubahan bunji terdjadi, djika bunji dalam kata² jang di ambil dari bahasa asing tidak terdapat dalam bahasa jang mengambilnja.

I. Perubahan bunji pada kata² jang diambil dari bahasa Indonésia lain. Hal itu atjapkali terdjadi pada konsonan langit atau palatal jang tidak terdapat dalam beberapa bahasa Indonésia jang tertentu; konsonan langit² lembut atau vélar, konsonan gigi atau déntal, konsonan gigi + i atau setengah-vokal y menggantikan konsonan langit² (palatal) itu.

Bahasa Melaju : jambatan Bahasa Napu : gambata.
Bahasa Melaju : janji Bahasa Sangir : diandi.
Bahasa Melaju : jaga Bahasa Tontémboa : yaga.

II. Perubahan bunji pada kata² jang diambil dari bahasa bukan bahasa Indonésia. Kebanjakan kali perubahan bunji itu terdjadi pada sibilant, oléh sebab bunji s tidak terdapat dalam sebagian besar bahasa² Indonésia. Djadi kata sjaal dalam bahasa Belanda diutjapkan sebagai sāl, sal atau cal dalam bahasa Madura.

283. Tempat bunji kata jang diambil dari bahasa lain sama dalam bahasa jang mengambilnja. Dalam bahasa Busang tak terdapat kata² jang berachir dengan s; djadi kata ratus dalam bahasa Indonésia purba mendjadi atu, kata Bugis (orang Bugis) mendjadi Bugit, kata English mendjadi Ingělit. Hanja dalam kata kêrtas bunji s itu tetap ada. Atjapkali dalam idiom bahasa Indonésia hanja terdapat vokal pada achir kata²nja; pada kata² jang diambil dari bahasa lain dan berachir dengan konsonan, ditambahkan sebuah vokal. Oléh sebab itu, dalam bahasa Tsimihety terdapat kata² telegrafi (= telegraaf), Parisi (=Paris), Madagasikara (Madagaskar).

284. Hal menghubungkan bunji² dalam kata jang diambil dari bahasa lain dan hubungan bunji itu asing bagi bahasa jang mengambilnja. Biasanja hal itu mengenai hubungan beberapa konsonan, disertai gedjala² bunji seperti berikut :

I. Menurut Jonkers dalam karangannja "Rottinesischen Teksten" kata dienstbrief dalam bahasa Belanda ialah susula dis (dis dienst dalam bahasa Belanda) dalam bahasa Roti.

II. Bunji bertukar tempat. Dalam bahasa Malagasi kuno terdapat kata serafelo (malaikat, bidadari) jang diambil dari bahasa Arab: asrafil. Dalam Perdjandjian Niontsy hal. 24 jang diumumkan oléh Ferrand terdapat kata²: aiza hanau ra serafelo? (dimanakah kamu hai malaikat ?).

III. Bunji ditambahkan pada kata². Kata vergulil dalam bahasa Belanda ialah porogolo dalam bahasa Bugis.

285. Vokal ditambahkan di-tengah² kata menurut :

I. Vokal jang paling dekat letaknja seperti dalam kata parasero (= parceiro (jang mengambil bagian) dalam bahasa Portegis) dalam bahasa Makasar.

II. Konsonan jang paling dekat letaknja. Antara s dengan ch dalam bunji sch pada permulaan kata dalam bahasa Belanda, ditempatkan bunji i dalam bahasa Makasar. Djadi kata schout mendjadi sikau dalam bahasa Makasar.

286. Perhubungan bunji letus + h (aspirate) dalam kata² jang diambil dari bahasa lain, dalam bahasa Indonésia jang tidak mempunjai bunji aspirate, menarik perhatian.

I. Bunji aspirate hilang seperti dalam kata bumi (= bhumi dalam bahasa India kuno) dalam bahasa Melaju.

II. Antara bunji letus (éksplosiva) dengan bunji aspirate terdapat sebuah vokal, seperti dalam kata pahala (= phala dalam bahasa India kuno) dalam bahasa Makasar. (pahala ,,mempergunakan"). Dalam bahasa Madura kata phala itu diutjapkan sebagai: paqalah. (lihat keterangn dibawah nomor 184). Dalam bahasa Dairi terdapat kata děhupa (= dhupa dalam bahasa India kuno). III. Bunji aspirate hilang karena prosés bunji jang kurang penting tetapi vokal jang dimasukkan dalam kata jang diambil bahasa lain, tetap ada. Djadi dalam bahasa Toba terdapat kata daupa (= dhupa dalam bahasa India kuno) dan budá (= budaha = buddha dalam bahasa India kuno).

287. Gedjala² bunji jang telah diterangkan tadi djarang terdapat atau tampak dalam réntétan menurut hukum. Hal jang terachir itu tampak dalam perubahan bunji sch (pada permulaan kata dalam bahasa Belanda) dalam bahasa Bugis. Dalam kamus hanja terdapat setengah losin kata² sematjam itu, dan pada semua kata itu sik menggantikan sch seperti dalam kata sikemboro (baki; = schkbord dalam bahasa Belanda). Dalam kamus tentang bahasa Howa terdapat delapan kata² jang diambil dari bahasa lain jang dalam bahasa asal itu dimulai dengan br. Pada lima kata itu bur- menggantikan br- seperti dalam kata buràkitra (= bracket (penjangga) dalam bahasa Inggeris). Pada ketiga kata jang lain ditempatkan vokal dalam kata itu menurut vokal jang paling dekat letaknja seperti dalam kata biriki (= brick (mohor) dalam bahasa Inggeris).

288. Kata² jang diambil dari bahasa lain tunduk pada hukum² bunji jang berlaku bagi bahasa² Indonésia atau menentangnja. Dalam bahasa Saqdan bunji w dari kata jang diambil dari bahasa lain, hilang. Hal itu terujata dari téks "Tunaq Pano Bulaan"; pada halaman 225 dalam teks itu terdapat kata saa (ular); saa = sawah dalam bahasa Indonésia purba. Pada halaman 228 terdapat kata deata (= dewata dalam bahasa India kuno). Dalam bahasa Minangkabau bunji at dalam bahasa Indonésia purba mendjadi eq. Tetapi dalam kata² jang diambil dari bahasa asing bunji at itu tetap ada. Dalam bentuk bahasa lisan-pun bunji at itu tak berubah. Oléh sebab itu dalam bahasa Minangkabau terdapat kata adat (hukum).

289. Dalam hal mengambil kata² dari bahasa lain, analogi dan étimologi rakjat berlaku. ,,Tudung" ialah bowoŋ atau bòŋ dalam bahasa Bugis dan berdasarkan kata itu bom dalam bahasa Belanda mendjadi bòŋ atau bowoŋ. Dalam bahasa Howa hubungan bunji t + a + b tak pernah terdapat pada permulaan kata, tetapi beberapa kata dimulai dengan l + a + m + b seperti dalam kata lamburidi (= la bride (tali kekang) dalam bahasa Perantjis). Dalam tjerita tentang Purnawijaya dalam bahasa Sunda kuno terdapat kata Siribala (= cabala dalam bahasa India kuno, jang berubah mendjadi siribala atas pengaruh artikal si jang dalam bahasa Sunda dipakai pada nama² binatang.

290. Gedjala² bunji jang telah diketemukan itu atjapkali terdapat djuga dalam bahasa² Indogerman. Dalam bahasa Italia misalnja seperti dalam bahasa Makasar vokal ditempatkan dalam hubungan konsonan² jang kurang tepat seperti dalam kata lanzichenecco (= lanzenknecht dalam bahasa Djerman (orang jang membawakan tombak). Kata itu terdjadi seperti kata parasero (= parceiro, lihat keterangan dibawah nomor 285) dalam bahasa Makasar.

BAB XIII.
GEDJALA² BUNJI DALAM HUBUNGAN KALIMAT.

291. Dalam kalimat tampak gedjala2 bunji jang sama seperti dalam kata², atau gedjala2 bunji lain.

I. Dalam dialék jang terpenting dari bahasa Tontémboa baik dalam kalimat maupun dalam kata², k berubah mendjadi c djika mengikuti i. Oleh sebab itu dalam tjerita² S. Pandey (Téks Schwarz, hal. 12) terdapat kata² (hal. 13): lalic (= lalik (mengeluh) dan djuga si cayu (= si kayu (pohon).

II. Dalam dialék Kawankoqan k hanja berubah mendjadi c dalam kata² sadja. Dalam kalimat bunji itu tak berubah. Dalam tjerita² A. W. Rompas dalam dialék Kawankoqan (hal. 156) terdapat kata pasicolaan (sekolah) jang dibentuk dari kata dasar sicola (= sikola), tetapi pada halaman 155 terdapat kata² si kayu (pohon).

292. Suatu kalimat ialah suatu kesatuan atau didalamnja terdapat bagian2 jang tertentu jang merupakan kesatuan jang lebih mendalam sifatnja. Kesatuan atau golongan kata² jang dimaksudkan jang terachir itu lebih erat bertali dengan rasa hati; bagi bangsa Nias hubungan kata anteseden (Beziehungswort) + génitif subjéktif lebih mendalam sifatnja daripada hubungan kata anteseden + génitif objéktif; atau hubungan antara bagian² kalimat terdjadi karena tekanan jang sama. Begitulah halnja tentang hubungan proklitika atau énklitika + kata lengkap jang merupakan satu golongan kata². Dalam golongan² kata sematjam itu bisa terdapat gedjala² bunji jang tak tampak dalam kalimat lengkap (lihat keterangan dibawah nomor 302).

293. Gedjala² bunji jang tampak dalam kalimat lengkap ialah terutama: asimilasi, métathese (perubahan tempat bunji), terdapatnja bunji perantara, konsonan2 jang diduakalikan pada achir kata, vokal jang mendjadi konsonan, hilangnja konsonan. Gedjala² bunji itu ialah sebagian sama dengan gedjala² bunji jang telah tampak oléh kita pada hubungan kata dasar dengan suku kata (lihat keterangan dibawah nomor 266). 294. Asimilasi terdapat dalam banjak bahasa Indonésia antara lain dalam bahasa² di Toba. Dalam tjerita tentang Nan-Jomba — Ilik ("Bataksch Leesboek" oléh H.N. van der Tuuk, hal. 1) terdapat kalimat di-bahen ro hamu (mengapa kamu datang ?) tetapi dalam bentuk bahasa lisan kalimat itu berbunji: di — baher ro hamu.

295. Métathese dalam bahasa Kupang. Menurut téks Bihata Mesa ("Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië", 1904) dalam beberapa hal jang tertentu dalam hubungan kalimat métathese terdjadi pada suku kata jang kedua dari kata dasar. Kata aku dalam bahasa Indonésia purba terdapat djuga dalam bahasa Kupang dengan tak berubah, tetapi kata laku (pergi) dalam bahasa Indonésia purba mendjadi lako. Pada halaman 253 dalam madjalah jang dimaksudkan tadi terdapat kata² lako, ti tek (pergilah ia dan memberitahukan tentang hal itu), tetapi pada halaman itu djuga terdapat kata² auk laok tai (Saja menggantungkannja).

296. Muntjulnja bunji perantara vokal dan konsonan. Dalam tjerita tentang "Kariso und seine Kinder" (Kariso dan anak²nja) dalam bahasa Tontémboa (Téks Schwarz, hal. 129) terdapat kata² esa taranak — ê — na (keluarganja). Pada kata² itu bunji pěpět jang ditambahkannjalah jang merupakan bunji-perantara; na — miliknja. Hainteny, hal. 186. Pada sjair ke-5 terdapat kata²: nahatan-d-riaka (dapat) menahan aliran air). Pada kata² dalam bahasa Howa itu, konsonanlah jang mendjadi bunji perantara antara nahatan (a) dengan riaka.

297. Hal menduakalikan konsonan pada achir kata. Dalam bahasa Ibanaq terdapat kalimat dakall ak (dakal + ak; saja besar).

298. Vokal jang mendjadi konsonan. Hal itu terdjadi dalam beberapa bahasa, antara lain dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Timor, dsb. Dalam bahasa Djawa kuno dalam sjair tentang Mpu Tanakung terdapat kata² paksy adulur (paksi + adulur; seperti burung).

299. Kontraksi dalam bahasa Djawa kuno dan bahasa² lain. Dalam tjerita Ramayana II terdapat kata2² laras niragön (nira + ugön; busurnja jang besar).

300. Hilangnja vokal.

I. Djika vokal itu terdapat pada achir kata dan kata jang mengikutinja dimulai dengan vokal. Hal itu terdjadi antara lain dalam bahasa Howa. Dalam téks Hainteny, hal. 136 terdapat kata² manan eritreirita (manana eritreritra; gelisah).

II. Djika vokal itu terdapat pada achir kata dan kata jang mengikutinja dimulai dengan konsonan, misalnja dalam bahasa Kupang. Dalam tjerita tentang Bihata Mesa ("Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië", 1904, hal. 257) terdapat kata²: dad buan (dada + buan; meréka duduk berdampingan).

III. Dalam bahasa Timor vokal hilang djika terdapat antara dua konsonan. Tjerita Atonjes ("Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië". 1904 hal. 271) mengandung kata² : ainfi (ainaf + i; ibu ini).

301. Dalam bahasa Kamberi konsonan hilang. Dalam tjerita Kreisel ("Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederland-sch-Indië", 1913 hal. 82) tampaklah kata2: Pada njara (padah + njara; tempat gembalaan kuda).

302. Gedjala2 bunji chusus dalam golongan bahasa jang ketjil, jang telah dikemukakan dibawah nomor 292.

I. Pada kataganti (pronomen) jang bersifat proklitis dalam bahasa Djawa kuno, vokal pada achir kata dapat hilang; hal itu dapat djuga terdjadi vokal itu terdapat depan kata jang dimulai dengan konsonan. Dalam tjerita Ramayana XXII terdapat kata² nke k tona asih ta (saja mengakui jintamu); bunji k ialah singkatan kata ku, jaitu kata-ganti orang pertama, jang dalam bentuk dan dengan fungsi jang sama terdapat dalam banjak bahasa Indonésia; kata tona ialah bentuk futur dari ton melihat). Dalam hal2 bahasa Djawa kuno mempergunakan kontraksi atau mengubah vokal sehingga mendjadi konsonan.

II. Dalam bahasa Nias bunji jang tak bersuara pada permulaan kata dibuat mendjadi bersuara, djika mengikuti vokal pada achir kata jang mendahului kata itu, misalnja dalam hubungan kata anteseden (Beziehungswort) + génitif subjéktif atau dalam hubungan kata depan (préposisi) + kata anteseden (Beziehungswort). ,,Hati" ialah to do₂ dalam bahasa Nias, tetapi dalam tjerita tentang Siwa Ndrofa ("Bijdragen tot de taal-, lan- en volkenkunde", 1905 hal. 34) terdapat kata² : ba do₂ do₂., (dalam hati).

303. Gedjala² bunji dalam kalimat kadang² terdapat dengan tjara teratur, kadang2 lagi dengan tjara kurang teratur.

1. Hal membuat bunji jang tak bersuara mendjadi bunji jang bersuara berlaku dengan tjara teratur dalam bahasa Nias.

II. Menurut Hainteny hal menghilangkan vokal atau konsonan dalam hubungan sebutan (prédikat) + objék dalam bahasa Howa diserahkan pada kehendak masing2 orang jang memakainja. Dalam téks Hainteny hal. 188 terdapat kata : hitelim batu (hitelin(a) watu; hendak menelan batu) dan manitra wuasari (berbau sitrun); dengan menghilangkan vokal kalimat itu mendjadi mani bausari.

304. Kataseru (interjéksi) dalam kalimat tidak tunduk pada hukum² jang berlaku. Dalam bahasa Toba bunji a pada achir kata — dengan tiada ketjualinja hilang djika terdapat depan kata jang mengikuti kata itu dan dimulai dengan a. Dalam tjerita tentang teka-teki ("Bataksch leesboek" oléh H.N. van der Tuuk) hal. 49, I. terdapat kata²: molo soada adoy (djika tidak mungkin) jang dalam bentuk bahasa lisan mendjadi: molo soad adon. Tetapi djika kata jang berachir dengan a merupakan kataseru atau interjéksi, maka bunji a itu tetap ada seperti dalam kata² indadoŋ ba amàŋ (tidak, o ajah) jang terdapat dalam tjerita tentang teka-teki I dalam karangan van der Tuuk jang dimaksudkan tadi.

305 Satuan ketjil kata² meng-halang2i hukum bunji sehingga tak berlaku.

I. Mengenai kata lengkap. Dalam bahasa Makasar bunji k pada achir kata mendjadi q seperti dalam kata anaq (= anak dalam bahasa Indonésia purba), tetapi k itu tak berubah djika mendahului artikal jang bersifat énklitis seperti dalam kata anak-a (anak itu).

II. Mengenai proklitika dan énklitika. Dalam bahasa Minangkabau bunji 'a pada achir kata mendjadi o seperti dalam kata mato (= mata dalam bahasa Indonésia purba), tetapi dalam kata² jang bersifat proklitis katadepan (préposisi) ka banji a itu tak berubah.

306. Achirnja terdapat hal² jang sedjadjar (paralél) antara bahasa² Indonésia dan bahasa² Indogerman :

I. Asimilasi dalam bahasa Junani dan bahasa Toba. Menurut Thumb dalam karangannja "Handbuch der griechischen Dialékte" dalam dialék bahasa Junani terdapat kata labyadan (= tòn labyadan) dan dalam bahasa Toba: sal lappis (= san lampis; lapisan).

II. Membuat bunji jang tak bersuara mendjadi bunji jang bersuara dalam bahasa Sardi dan bahasa Nias. Tempus dalam bahasa Sardi artinja ,,waktu", tetapi ,,waktu itu" ialah su dempus; dalam bahasa Nias terdapat kata² to2 do2, (hati) dan ba do2 do2, (dalam hati).

III. Vokal hilang. Dalam bahasa Rumania dan bahasa Bali vokal itu hilang dalam kata lengkap djika mendahului énklitika. Dalam bahasa Rumania terdapat kata casa (rumah; casa + artikal a) dan dalam bahasa Bali (dalam téks pada lampiran "Grammatik" oléh Eck, hal. 62) terdapat kata²: mungw iŋ surat (terdapat dalam surat; muŋguh iŋ surat). Dalam bahasa Latin dan bahasa Karo vokal hilang pada énklitika, misalnja dalam kata viden (tampaklah olehmu ?" videsne) dan dalam tjerita tentang Dunda Katekutan, hal. 34 dalam bahasa Karo terdapat kata ěŋgom (sudah selesai; ěŋgo + partikal .

IV. Dalam bahasa India kuno dan bahasa Toba hukum tentang phonétik kalimat tidak berlaku bagi kataseru (interjéksi). Mengenai bahasa India kuno dalam hal itu lihatlah karangan Wackernagel "Altindische Grammatik" I dan mengenai bahasa Toba lihatlah keterangan dibawah nomor 304 tentang kata : ba maŋ.

BAB XIV

TEKANAN


Hal umum.

307. Tekanan dalam bahasa2 Indonésia ialah terikat atau bébas. Tekanan itu terikat djika hukum méngatur tempatnja dan bébas djika tak ada hukum jang mengatur tempatnja.

308. Dalam kata dasar suku kata jang mendahului suku kata jang terachir atau suku kata jang terachirlah jang ditekankan. Tjara lain tentang menekankan kata djarang terdapat.

Tekanan dalam kata dasar.

309. Dalam bahasa2 Indonésia terdapat empat sistim tentang meletakkan tekanan :

I. Dalam semua kata dasar suku kata jang mendahului suku kata jang terachirlah, jang ditekankan, ialah tekanan typus-Pii-nultima.

II. Dalam semua kata dasar suku kata jang terachirlah jang ditekankan, ialah tekanan typus-Ultima.

III. Dalam kata dasar kadang2 suku kata jang mendahului suku kata jang terachir dan kadang2 lagi suku kata jang terachirlah jang ditekankan, dengan tak menurut hukum jang tertentu. Tjara menekankan itu dinamai typus-Philippinis.

310. Hal menekankan suku kata jang mendahului suku kata jang terachirlah jang paling luas berlaku. Djuga pada typus-Phillippinis dalam bahasa Toba biasanja suku kata jang mendahului suku kata jang terachirlah jang ditekankan. Hal itu ternjata dari téks bahasa Mandailing jang dimuat dalam karangan van der Tuuk ,,Toba-Grammatik hal 31 atau dari téks Lumawig jang dimuat dalam téks Seidenadel, hal. 485. Djadi dalam kata2 dasar dalam sebagian besar bahasa2 Indonésia suku kata jang mendahului suku kata jang terachirlah jang ditekankan. 311. Pada hukum umum tentang hal menekankan suku kata jang mendahului suku kata jang terachir terdapat beberapa keketjualinja.

I. Dalam beberapa bahasa jang memakai typus-Pänultima vokal pepet tak pernah ditekankan. Djika suku kata jang mendahului suku kata jang terachir mengandung bunji pepet, maka suku kata jang terachirlah jang ditekankan, seperti dalam kata sĕlùk (memutar) dalam bahasa Gayo. Djika ke-dua²nja suku kata mengandung bunji pepet, maka dalam sebagian idiom suku kata jang mendahului suku kata jang terachir dan dalam idiom² lain suku kata jang terachirlah jang ditekankan.

II. Dalam bahasa2 jang mempergunakan typus-Pänultima pada sebagian ketjil kata² lengkapnja suku kata jang terachir ditekankan seperti dalam kata arát (masuk kedalam) dalam bahasa Mentawai.

III. Beberapa bahasa jang memakai typus-Pänultima mempunjai kata²-bentuk (formword), terutama kata ganti penundjuk (demonstrativa) jang suku katanja jang terachir ditekankan seperti kata otò (dengan begitu) dalam bahasa Mentawai, kata manrà (disana) dalam bahasa Bugis, kata itì (ini) dalam bahasa Howa. Dalam bahasa Nias dalam sebagian besar kataganti penundjuknja suku kata jang terachirlah jang ditekankan.

Dalam beberapa bahasa jang mempergunakan typus-Pänultima terdapat kata² dasar jang kadang² suku katanja jang mendahulu suku kata jang terachir, kadang² lagi suku katanja jang terachirlah jang ditekankan.

IV. Pada kataseru (interjéksi) djuga atjapkali suku kata jang terachirlah jang ditekankan.

312. Typus-Ultima hanja terdapat dalam beberapa bahasa sadja, antara lain dalam bahasa Busang. Dalam bahasa itu terdapat kata anak.

313. Typus-Toba terdapat dalam bahasa Toba dan beberapa idiom jang erat bertali dengan bahasa itu, seperti bahasa Mandailing. Dalam hal itu biasanja suku kata jang mendahului suku kata jang terachir djuga jang ditekankan. Tetapi dalam beberapa hal jang dibatasi oléh beberapa hukum tentang hal itu, tekanan diletakkan pada suku kata jang terachir. Salah satu diantara hukum² itu ialah: dalam kata dasar jang merupakan kata kerdja jang menjatakan suatu keadaan jang ditimbulkan, suku kata jang terachirlah jang ditekankan, misalnja dalam kata tanòm (ditanam), berlainan dengan kata hùndul (duduk). 314. Dalam bahasa² jang mempergunakan typus-Philippinis pada sebagian kata² dasar suku katanja jang mendahului suku kata jang terachir dan pada sebagian kata² dasar lagi suku katanja jang terachirlah jang ditekankan. Dalam hal itu tidak berlaku suatu hukum apa djuapun. Kami tak dapat memahamkan apakah sebabnja dalam kata pitò (tudjuh) dalam bahasa Bontok suku kata jang mendahului suku kata jang terachir dan dalam kata wàlo (delapan) suku kata jang terachirlah jang ditekankan. Tentang kata² itu tidak terdapat petundjuk² jang tentu dilapangan étimologi.

315. Tjara luar biasa tentang meletakkan tekanan. Djika terdapat vokal-penjangga (steunvokaal), maka dalam semua idiom suku kata jang pertamalah jang ditekankan. Djadi dalam bahasa Howa terdapat kata ànaka (= anak dalam bahasa Indonésia purba), dalam bahasa Makasar kata nìpisiq (= nipis dalam bahasa Indonésia purba).

Ke-dua²nja suku kata dalam kata dasar ditekankan. Hal itu terdjadi dalam beberapa bahasa, pada kata² jang me-niru² bunji, seperti dalam kata bùmbàm (memukul) dalam bahasa Toba.

Tekanan pada kata² jang dibentuk dari kata dasar.

316. Djika pada kata dasar jang terdiri atas dua atau beberapa suku kata ditambahkan awalan, maka hal itu tidak mempengaruhi letaknja tekanan; dalam bahasa Bugis terdapat kata pèsěq (berasa) dan papèsěq; pada kedua kata itu suku kata jang mendahului suku kata jang terachirlah jang ditekankan.

317. Djika terdapat achiran, maka tampaklah gedjala² seperti berikut :

I. Dalam bahasa² jang mempergunakan typus-Pänultima tekanan itu ,,bergerak², sehingga selalu terdapat pada suku kata jang mendahului suku kata jang terachir. Dalam bahasa Bugis terdapat kata tiwìq (membawa;= tiwir dalam bahasa Bugis kuno); dari kata itu diturunkan kata tiwìri (membawa kepada seorang orang) dan patiwirìyan (memberikan barang sesuatu untuk dibawa). Hanja dalam beberapa bahasa sadja jang mempergunakan typus-Pänultima tekanan itu tak ,,bergerak", misalnja dalam bahasa Gayo. Dalam bahasa itu terdapat kata kebayakan (kekajaan) dan bàyak (kaja).

II. Pada sistim lain tentang tekanan, tekanan itu bergerak djuga seperti dalam kata isìan (tong) dan isi (isi) dalam bahasa Toba. Di samping itu terdapat djuga achiran jang menarik tekanan kepadanja. Dalam bahasa Toba achiran -an pada tingkat perbandingan (vergelijkende trap) ditekankan seperti dalam kata biroŋàn (lebih hitam) jang diturunkan dari kata biroŋ (hitam). Tekanan dalam kata biroŋàn itu berlainan letaknja dengan tekanan dalam kata isían jang dimaksudkan tadi.

III. Djika terdapat achiran, maka terdjadilah kontraksi dan suku kata jang terachirlah jang ditekankan seperti dalam kata haduwàn (lusa; formans ha + duwa (dua) + formans an). Djika tidak diinsafi, bahwa suatu kata ialah kata jang diturunkan dari kata lain, maka tekanan diundurkan; oléh sebab itu rakjat Mandailing mengatakan. hadùwan (lusa).

318. Djika pada kata² dasar jang terdiri atas satu suku kata - kata² sematjam itu dalam semua bahasa Indonésia kurang banjak terdapat achiran, maka tak ada hal baru jang perlu dikemukakan tentang tekanan. Dalam bahasa Bugis dari kata noq (kebawah; =nor=sor, lihat keterangan dibawah nomor 40) diturunkan kata nòri (dibawa kebawah), jang tak membutuhkan keterangan.

319. Djika pada kata dasar jang terdiri atas satu suku kata terdapat awalan, maka umumnja tekanan tidak pindah dari kata dasar, seperti dalam kata panòq (digerakkan kebawah; noq = kebawah) dalam bahasa Bugis. Dalam hal itu dalam bahasa² jang mempergunakan typus-Pänultimapun suku kata jang terachirlah jang ditekankan. Djika orang tak insaf, bahwa suatu kata ialah kata jang diturunkan dari kata lain, maka atjapkali tekanan diundurkan. Menurut keterangan dibawah nomor 226 dalam bahasa Bunku terdapat kata opà (empat; é + pat (empat) tetapi dalam bahasa Nias terdapat kata ofa (dengan memakai o jang menurut keterangan dibawah nomor 227 menggantikan bunji ě).

Tekanan dalam kata² jang diduakalikan dan dalam komposisi.

320). Dalam suatu bahasa dalam kata² jang diduakalikan bagiannja jang pertama tetap ditekankan, dalam bahasa lain tekanan itu hilang. Kedua kemungkinan itu terdapat dalam bahasa Dajak dalam suatu kata itu djuga, tetapi artinja berubah sedikit, misalnja dalam kata gila-gila (bodoh benar) dan gila-gila (agak bodoh).

321. Dalam hal itu pada typus-Tobapun terdapat hal² jang chas, misalnja dalam kata jalàk-jalak (mentjari di-mana²) disamping kata mànjalak (mentjari) jang diturunkan dari kata dasar jàlak.

322. Dalam bahasa Bugis pada beberapa kata jang tertentu suku katanja jang terachir ditekankan dan pandjang bunjinja seperti dalam kata apěllàŋ (alat untuk memasak), atinròŋ (kamar tidur), arùŋ (radja); kalau kata² itu merupakan bagian jang pertama dari komposisi, maka tekanan diundurkan dan suku kata jang terachir mendjadi péndék bunjinja, seperti dalam kata² àrum-pòne (radja Boné; arùŋ + bone). Dalam bahasa Bugis dalam kalimat hampir tak pernah terdapat dua suku kata ber-turut² jang ke-dua²nja ditekankan; oléh sebab hampir semua kata mengandung énklitik. Oléh sebab itu kata arùm-pòne dipandang kurang baik didengarnja. Tentang bunji mp (jang terdjadi dari mb = ŋ + b) lihat keterangan dibawah nomor 117.

Tekanan dalam hubungan :
kata lengkap + kata jang kurang tegas bunjinja.

323. Dalam hubungan kata lengkapénklitika jang terdiri atas satu suku kata tekanan bergerak (pindah tempat) atau tak bergerak, menurut aturan² jang tertentu :

I. Dalam bahasa Makasar misalnja tekanan berubah tempatnja djika diikuti artikal a dan kata lengkap itu berachir dengan vokal seperti dalam kata ulùw-a (Kepala itu; ùlu - Kepala), tetapi járaŋ-a (kuda itu; járaŋ = kuda).

II. Djika dalam énklitika hilang vokalnja, maka tekanan tetap pada tempatnja, misalnja dalam kata anà-t (anak kami; anà + ta).

III. Dalam bahasa Toba partikel tu (terlampau) menarik tekanan kepadanja misalnja dalam kata madae-tù (terlampau buruk; madàe + tu). Hal itu bersandarkan tingkat perbandingan (lihat keterangan dibawah nomor 317-11).

324. Djika terdapat énklitika jang terdiri atas dua atau beberapa suku kata, maka tekanan pindah tempat atau tidak pindah tempat atau dalam hubungan kata² dua suku kata ditekankan: Dalam tjerita tentang Paupau Rikadòj, hal. 19 (,,Bugischer Grammatik" oléh Matthes) terdapat kata²: na-lettùri-to-n-i (diberitahukannja djuga tentang hal itu). n partikel na jang sama bunjinja dengan na (meréka).

325. Djika terdapat proklitik, maka dalam hal itu tak tampak banjak hal jang perlu dikemukakan. Dalam hubungan sebuah proklitika, jang terdiri atas satu suku kata dengan sebuah kata dasar jang terdiri atas satu suku kata djuga, dalam satu idiom kata dasar dan dalam idiom lain proklitikalah jang ditekankan. Dalam bahasa Toba terdapat kata si-gàk (burung gagak; artikal si + gak) dan dalam bahasa Sunda terdapat kata şi-pus (kutjing).

Tekanan dalam kata² jang diambil dari bahasa lain.

326. Kata² jang diambil dari bahasa lain umumnja tunduk pada hukum² tentang tjara meletakkan tekanan jang berlaku dalam bahasa jang mengambil kata² itu. Dengan begitu kata gezaghebber (orang jang memegang kekuasaan) mendjadi sahèbar dalam bahasa Dajak. Hal jang menjimpang dari aturan itu terdapat dalam kata sikelewa (= schildwacht dalam bahasa Belanda). Hal itu tidak bersandar akan gedjala lain, oléh sebab tak ada kata² dalam bahasa Bugis jang berachir dengan bunji a jang ditekankan.

Kwalitét tekanan.

327. Hingga sampai sekarang penjelidikan kami mengenai letaknja tekanan. Marilah kita sekarang membitjarakan kwalitét tekanan. Dalam bahasa² Indonésia suku kata jang ditekankan, diutjapkan dengan tjara jang tegas, dengan nada tinggi (op hoge toon), dengan suara pandjang.

328. Diantara ber-bagai² uraian tentang kwalitét tekanan dalam bahasa² Indonésia, beberapa tjontoh dikemukakan dibawah ini: ,,Tekanan dalam bahasa² Indonésia berlainan sifatnja dengan tekanan dalam bahasa² Indogerman. Dalam bahasa Belanda dan terutama dalam bahasa Inggeris suku kata jang ditekankan diutjapkan dengan suara jang keras dan sebaliknja suku kata lain diutjapkan dengan suara lemah. Dalam bahasa² Indonésia tak begitu halnja: suku kata jang tidak ditekankan lebih djelas terdengar, tetapi dengan begitu tekanan mendjadi kurang terang. Dalam beberapa idiom suku kata jang ditekankan hanja diutjapkan dengan suara jang lebih pandjang sadja. Tetapi dalam bahasa Sangir tekanan djelas terdengar." (Adriani) - ,,Dalam bahasa² Indogerman aksén diutjapkan dengan suara jang ditekankan, tetapi dalam banjak bahasa Indonésia dengan nada tinggi. Dalam pada itu suara dikeraskan tetapi suku, kata jang tidak ditekankan tidak mendjadi lebih lemah suaranja. Oléh sebab dalam bahasa Tontémboa tekanan diutjapkan dengan nada tinggi dan suku kata jang tidak ditekankan tetap djelas dan lengkap terdengar, maka hal itu menimbulkan kesan bahwa tekanan dalam bahasa Tontémboa lemah. Tetapi djelas djuga terdengar, bahwa tekanan itu diletakkan pada suku kata jang mendahului suku kata jang terachir" (Adriani) ,,Djelaslah, bahwa dalam bahasa Roti suku kata jang mendahului suku kata jang terachirlah jang ditekankan". (Jonker). - ,,Dalam bahasa Minangkabau semua suku kata sama iramanja (dezefde toonHalaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/114 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/115 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/116 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/117 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/118 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/119 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/120 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/121 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/122 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/123 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/124 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/125 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/126 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/127