proofread

Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia  (1957) 
oleh Renward Brandstetter, diterjemahkan oleh Syaukat Jayadiningrat

Esai asli diterbitkan 1910–1915 (bahasa Jerman); terjemahan bahasa Inggris 1916. (en)

RENWARD BRANDSTETTER


HAL BUNJI
DALAM BAHASA2 INDONESIA


Diterdjemahkan oleh SJAUKAT DJAJADININGRAT








P.T. PUSTAKA RAKJAT - DJAKARTA - 1957

Dari buku

INTRODUCTION TO INDONESIAN LANGUISTICS

(Monografi IV : Phonetic phenomena in the Indonesian languages)

BAB 1

KETERANGAN-DASAR.

1. Dalam monografi ini tcrdapat uraian tentang hal bunji dalam bahasa2 Indonesia.

Tjatatan : Tentang transkripsi lihatlah keterangan dibawah nomor 39 dan tentang singkatan lihatlah keterangan dibawah nomor 38.

2. Tentang soal jang dibitjarakan ini belum ada suatu ichtisar, meskipun telah tjukup bahan untuk keperluan itu. Bahan itu dapat diperoleh dalam karangan2 tentang tatabahasa, ber-bagai2 kamus dan karangan lain. Sumber2 dan pekerdjaan pendahuluan itu tak disebut satu demi satu dalam uraian ini, oleh sebab dalam karangan ”Geschichte der IN Sprachen” , jang tak lama lagi akan diterbitkan, dengan tjara mendalam saja akan berbalik pada sumber2 itu. Karangan2 pendahuluan jang dimaksudkan itu telah memberikan sebagian ketjil bahan jang saja butuhkan, entah sebagai bahan mentah entah sebagai bahan jang sedikit banjak sudah dikerdjakan, sebagian besar bahan2 telah saja kumpulkan sendiri. Dalam menjusun dan mengerdjakan hal2 dalam monografi ini, saja menempuh djalan sendiri dengan tak bergantung pada orang lain.

3. Gedjala2 bunji baik jang sekarang maupun jang terdapat pada djaman jang telah lampau perlu digambarkan. Bunji dalam bahasa* Indonesia menurut keadaan jang telah lampau, dapat dibuktikan berdasarkan dokumen2 jang turun-temurun dari bapak keanak atau berdasarkan ilmu bahasa jang telah diketahui terutama dengan membanding2kan. Untuk penjelidikan bunji bahasa, bahasa Djawalah jang amat penting oleh sebab tentang bahasa itu dalam keadaannja dulu terdapat dokumen jang turun-temurun dari bapak keanak. Idiom Bugis, Sunda, Malagasy dan idiom2 lain djauh tak sepenting bahasa Djawa.

4. Dalam mentjari bukti2 kami membutuhkan pangkalan untuk bertolak dan pangkalan itu ialah bahasa Indonesia purba. Dalam hal itu saja berbuat sepcrti Brugmann dalam karangannja ’’Kurze vergleirhende Grammatik der indogermanischen Sprachen’’. Seperti dalam membandingkan bahasa2 Indogerman dari kata dhumas (asap) dalam bahasa India kuno dan dari kata fumus (asap) dalam bahasa Latin ditundjukkan kata dhumos dalam bahasa Indogerman purba; dalam memitjarakan vokal atau harakat u Brugmann bertolak dari kata dhumos itu dan kata2 lain jang mengandung u dalam bahasa Indogerman purba. Begitu djuga dari kata telu dalam bahasa Howa, tolu dalam bahasa Toba, dsb. dapat ditundjukkan kata telu dalam bahasa Indonesia purba. Kata telu itu dan kata2 lain jang mengandung huruf Indonesia purba e dipakai sebagai pangkal untuk membitjarakan bunji e dan huruf2 lain, jang berasal dari huruf itu.

Tjatatan : Pada sebagian besar kata Indonesia jang dikemukakan dalam monografi ini suku kata jang mendahului suku kata jang terachirlah jang ditekankan. Hal itu tak ditundjukkan lagi, djadi saja mcnulis telu dan tolu dengan tak ditandai tekanannja. Sebaliknja, kata talo dalam bahasa Pangasin ditundjukkan tekanannja, oleh sebab suku katanja jang terachirlah jang ditekankan. Tentang pandjang dan pendeknja bunji lihatlah keterangan dibawah nomor 67 dan selandjutnja.

5. Saja ingin hendak menundjukkan satu hal dan dalam hal itu tampaklah sistim jang saja pakai untuk menjusun bentuk2 purba dalam bahasa2 Indonesia.

Dalil

„Bahasa Indonesia purba mempunjai satu harakat (vokal) jang dalam bahasa Djawa dan dalam ilmu bahasa jang mem-banding2kan bahasa2 Indonesia dinamai huruf pepet dan dengan tjara jang kurang tepat ditundjukkan dengan e, misalnja dalam kata telu dalam bahasa Indonesia purba” .

Bukti

I. Kalau dalam bahasa Pangasin terdapat kata talo, dalam bahasa Howa telu, dalam bahasa Sunda tilu, dalam bahasa Tinggian tulu, dalam bahasa Toba tolu, -maka adanja ber-bagai2 vokal dalam suku kata jang pertama itu dengan djelas dapat diterangkan dengan berbalik pada satu pangkal, jaitu huruf pepet, jang telah dikemukakan tadi.

II. Huruf pepet itu sekarangpun masih terdapat dalam beberapa bahasa. Bahasa2 itu tak banjak tetapi dipakai di-daerah2 jang tersebar letaknja. Kata telu (tiga) terdapat dalam bahasa Karo di Sumatera, bahasa Bali dekat pulau Djawa, bahasa Tontemboa di Sulawesi dll. III. Bahasa Djawa kuno mempunjai djuga kata telu. Dalam nomor 6 diterangkan bahwa pentinglah petundjok jang terdapat dalam bahasa Djawa kuno.

IV . Bahasa Nias tidak mempunjai huruf pepet. Dalam bahasa itu huruf o nenggantikan huruf e jang terdapat dalam idiom2 lain. Tetapi huruf o itu diutjapkan dcngan tjara luar biasa dalam bahasa Nias, jaitu dibagian belakang mulut. Djika huruf o jang diutjapkan dcngan tjara biasa disebut o-1 dan o jang diutjapkan dibagian belakang mulut disebut o-2, maka dalam bahasa Nias misalnja terdapat kata bo-2li, jang sama artinja dengan kata beli dalam bahasa Indonesia purba dan djuga dalam bahasa Gayo, Melaju, dll. Kata o-lno-1 dalam bahasa Nias menggantikan kata anak jang terdapat dalam bahasa Djawa kuno, bahasa Tagalog, dll. Bunji chusus tentang o-2 menundjukkan, bahwa huruf o itu mula2 adalah huruf lain, jaitu huruf pepet.

V. Bahasa Ilok tidak mempunjai huruf pepet. Dalam bahasa itu huruf e menggantikan huruf pepet. Tetapi konsonan jang mengikuti huruf e itu diduakalikan. Dengan begitu kata lepas jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba dan djuga dalam bahasa Djawa kuno, Melaju, dll. sesuai dengan kata leppas dalam bahasa Ilok. Konsonan jang mengikuti huruf e jang berasal dari huruf lain tidak diduakalikan. Dalam bahasa Madura terdapat kata leppas; djadi, konsonan jang mengikuti e diduakalikan djuga sedang huruf e-pepet tetap dipakai. Hal menduakalikan konsonan jang mengikuti huruf e baik dalam bahasa Ilok maupun dalam bahasa Madura menundjukkan, bahwa huruf e dalam bahasa Ilok mula2 ialah huruf e-pepet.

VI. Bahasa Talaut tidak mempunjai huruf pepet. Huruf e jang terdapat dalam bahasa2 Iain mendjadi huruf a dalam bahasa Talaut. Tetapi bunji-lebur (liquida) l jang mengikuti huruf a jang dimaksudkan itu berlainan diutjapkannja dari pada huruf l jang mengikuti huruf a jang sesuai dengan huruf a dari bahasa Indonesia purba. Djadi, dalam bahasa Talautpun terdapat suatu petundjuk tentang huruf pepet jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba.

VII. Bahasa Howa tidak mempunjai huruf pepet; dalam suku kata jang ditekankan, huruf e menggantikan huruf pepet itu dan dalam suku kata jang tak ditekankan huruf i lah jang menggantikan huruf e-pepet. Dalam bahasa Howa terdapat kata-sedjadjar, jaitu telina, (menelen) untuk kata telen, jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba, bahasa Karo, dll. Huruf l jang mengikuti huruf i (e dalam bahasa Indonesia purba) tak berubah. Tetapi djika huruf l itu meng­ikuti huruf i jang sama dengan huruf i dalam bahasa Indonesia purba, maka huruf l mendjadi huruf d misalnja dalam kata dimi ( = lima dalam bahasa Indonesia purba) : suatu bahasa lagi jang tidak mempunjai huruf pepet, menundjukkan tentang adanja huruf itu dalam bahasa Indonesia purba.

Kesimpulan

Petundjuk2 jang telah dikemukakan dibawah nomor I-V1I jang dapat ditambah lagi dengan petundjuk2 lain dengan tjara jang tak dapat disangkal membuktikan, bahwa dalam sistim bunji bahasa Indonesia purba terdapat vokal pepet.

6. Ber-bagai2 bunji dalam bahasa Djaw a kuno umumnja sama dengan bunji2 dalam bahasa Indonesia purba, jang dapat ditundjukkan dengan djalan membandingkan bahasa2 Indonesia antara sesamanja. Hal2 jang diperoleh dengan djalan mengambil kesimpulan dari suatu hipotese se-mata2, dikuatkan oleh dokumen2 jang objektif. Dalam dua hal keselarasan itu terganggu :

I. Huruf r-2 (uvula, anaktekak) dalam bahasa Indonesia purba tidak berbunji dalam bahasa Djawa kuno. Maka dalam bahasa Djawa kuno terdapat kata atus, (seratus) jang terdjadi dari kata r-2attu dalam bahasa Indonesia purba.

II. Rentetan vokal dalam bahasa Indonesia purba atjapkali disingkatkan dalam bahasa Djawa kuno, misalnja : kata lain jang ter­dapat dalam bahasa Indonesia purba, bahasa Melaju dll. mendjadi len dalam bahasa Djawa kuno.

7. Seperti halnja tentang bunji2 dalam bahasa2 Indogerman, tentang bunji2 dalam bahasa2 Indonesiapun jang sekarang berlaku tidak selalu dapat ditundjukkan bunji jang sesuai dengan bunji2 itu dalam bahasa Indonesia purba. Banjak bahasa Indonesia mempunjai bunji hamza, tetapi tak dapat saja menentukan bahwa bunji itu ter­dapat djuga dalam bahasa Indonesia purba.

8. Antara suatu bunji dalam bahasa Indonesia jang sekarang berlaku dengan bunji jang sesuai dengan bunji itu dalam bahasa Indonesia purba atjapkali terdapat keadaan poralihan. Kaum penjelidik bahasa Indogerman dalam banjak hal dapat menentukan keadaan peralihan itu. Kluge dalam kamusnja etimologi tentang bahasa Djerman mengemukakan, bahwa antara kala medus dalam bahasa Indogerman purba dengan kata Met dalam bahasa Indogerman sekarang tcrdapat kata medus dalam bahasa German purba, kata nieto dalam bahasa Djerman lama, kata met dalam bahasa Djerm an pertengahan sebagai keadaan peralihan. Djalan untuk menentukan keadaan peraiihan itu terbatas dalam penjelidikan bahasa2 Indonesia. Hanja bahasa Djawalah, jang mempunjai tulisan seperti pada djaman jang telah lampau dan tulisan itupun menundjukkan bunji2 jang sama dengan bunji2 dalam bahasa Indonesia purba. Meskipun begitu halnja, dalam penjelidikan bahasa2 Indonesiapun dalam banjak hal dapat ditundjukkan keadaan peralihan itu. Dibawah ini dikemukakan beberapa kemungkinan :

I. Keadaan peralihan dalam bahasa Djawa kuno :

Pangkalan. Keadaan peralihan. Keadaan sekarang.
Bahasa Indonesia purba Bah. Djawa kuno. Bah. Djawa sekarang
dir2us dyus adus (mandi)

II. Keadaan peralihan dinjatakan dengan tulisan :

Pangkalan. Keadaan peralihan. Keadaan sekarang.
Bahasa Indonesia purba Bah. Minangkabau tulisan Bah. Minangkabau lisan
selsel sasal sasa (menjesal)

III. Keadaan peralihan terdapat dalam dialek jang berdekatan :

Pangkalan. Keadaan peralihan. Keadaan sekarang.
Bahasa Indonesia purba Bah. Tunong-Atjeh Bah. Atjeh sekarang
batu batew batee (batu).

IV. Keadaan peralihan dapat ditundjukkan djuga dengan menarik kesimpulan dari bunji pada achir kata. Kalau dalam bahasa Bunku kata wea menggantikan kata bar2a (api batu bara) jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba, maka dapat dikemukakan sebagai bentuk peralihan kata waya. (lihat keterangan dibawah nomor 136).

9. Atjapkali diberitakan, bahwa kaum tua berpegang pada bunji jang berlaku pada djaman jang telah lampau, sedang kaum muda mempergunakan bunji lain. Dalam bahasa Kamberi bunji h menggantikan bunji s dalam bahasa Indonesia purba. Kata ahu ialah sama dengan kata asu dalam bahasa Indonesia purba. „kaum tua masih mengutjapkan bunji s” (Wielenga).

10. Perubahan bunji terdjadi dengan bersjarat atau tidak dengan bersjarat. Bunji pepet dalam bahasa Indonesia purba berubah dengan tak bersjarat dalam bahasa Dajak mendjadi e. Dengan begitu kata teken (tongkat) jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba men­djadi teken dalam bahasa Dajak. Dalam bahasa Howa jang erat bertali dengan bahasa Dajak, huruf pepet hanja mendjadi e kalau huruf itu ditekankan. (teken mendjadi tehina).

11. Kadang2 perubahan bunji itu bergantung pad a sjarat, kadang2 lagi pada sebab. Sjarat2 tentang perubahan bunji itu dalam bahasa* Indonesia atjapkali dapat diketahui. Tetapi tentang sebab2 berlaku pendapat Hirt tentang bahasa Junani jang dikemukakannja dalam karangannja ’’Handbuch der Griechischen Laut-und Formenlehre” . Pendapatnja itu berbunji: ,,Sebab2 perubahan bunji atjapkali tak dapat diketahui”. Bagaimana djuapun dalam penjelidikan tentang soal itu banjak teori telah dikemukakan. Beberapa teori saja sebut dibawah ini dengan tak dibubuhi komentar: „Dalam idiom2 Toradja terdapat suatu hal jang chusus, jaitu s beralih mendjadi h. Pada hemat saja kobiasaan untuk mengikir gigi atau memotongnja sebagian, menjebabkan peralihan bunji itu.” (Adriani). Dalam bahasa Karo bunji a tetap mendjadi a, tetapi disamping kata jah (disana) terdapat kata joh ,,karena gerak bibir jang menundjukkan arah „sana” itu.” (Joustra). „Kebiasaan memakan sirih menjebabkan bangsa Djawa atjapkali mengutjapkan konsonan bibir atau labial sebagai konsonan langit2 lembut atau velar, misalnja kata pestul (pistol) diutjapkannja sebagai kestul.” (Roorda).

12. Tentang hal bunji dalam bahasa2 Indonesia terdapat banjak kemungkinan jang mempengaruhi bunji itu, tetapi kemungkinan2 itu tak dapat dinamai „sebab” atau „sjarat” perubahan bunji menurut artinja jang sebenarnja. Kemungkinan2 itu ialah analogi, etimologi bangsa, ketjenderungan akan diferensiasi, bunji sebagai lambang, meniru2 bunji, melemahkan arti kata2, ketjenderungan akan mempergunakan kata2 jang terdiri atas dua suku kata.

13. Peranan analogi dalam hal bunji dalam bahasa2 Indonesia adalah sama pentingnja seperti dalam bahasa2 Indogerman. Katabilangan dalam hampir semua bahasa Indonesia mengalami pengaruh analogi itu. (lihatlah djuga karangan Paul "Prinzipien der Sprachgesehichte" , Bab. "Kontamination").

Dalam bahasa Indonesia terdapat kata r-2atus dan r-libu; dalam bahasa Gajo terdapat kata ribus dengan mengambil bunji2 s dari r-2atus.

14. Pengaruh etimologi rakjatpun sama pentingnja seperti dalam bahasa2 Indogerman. Kata rojowerdi dalam bahasa Djawa sama artinja dengan kata lazuwerdi dalam bahasa Iran (Persia); lazuwerdi berarti : biru seperti langit. Kata rojowerdi bersandarkan kata rojo (radja), se-akan2 warna itu merupakan warna keradjaan. Dalam bahasa2 In­donesia atjapkali terdapat „etimologi rakjat tentang tata bahasa”. Kata yoga dalam bahasa India kuno mendjadi iyoga (periuk) dalam bahasa Karo. Tetapi oleh sebab huruf i- dalam bahasa Karo adalab suatu awalan, maka kata iyoga tampak oleh bangsa Karo sebagai awalan y + oga. Dengan begitu dari kata iyoga diturunkan kata dasar oga jang sekarang dipakai disamping kata iyoga. Atau, oleh sebab dalam bahasa Djawa kuno bentuk ka- atjapkali merupakan awalan, maka kata kawi (penjair) dalam bahasa India kuno dipandang sebagai kata jang diturunkan, oleh sebab itu diturunkan kata dasar awi (membuat sjair) dari kata kawi itu dan dari kata dasar awi itu diturunkan lagi kata2 lain, misalnja kata awiawian (sjair).

15. Tjenderung diferensiasi. Kalau suatu kata, jang mula2 hanja mempunjai satu arti sadja tetapi kemudian ber-beda2 artinja, maka begitu djuga halnja tentang bunji. Hal itu terdjadi baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa2 Indogerman. Kata messe dalam bahasa Djerman-pertengahan mendjadi Mass dalam bahasa Djerman sekarang (mis dalam geredja) dan kata Maas jang dulu berlaku se­karang mendjadi Messe (pekan raja, jaarmarkt). Begitu djuga kata ulu (kepala) dalam bahasa Indonesia purba berubah artinja mendjadi „dulu” dalam bahasa Bima. (dan uru berarti „permulaan”.)

16. Perlambangan bunji (geluidssymboliek), terdapat dalam hal menduakalikan kata2, misalnja dalam kata uncal-ancul (me-lontjat2 kesini dan kesana) dalam bahasa Sunda disamping kata ancul (melontjat); djuga dalam hal mengubah huruf jang tak keras bunjinja mendjadi huruf jang keras bunjinja seperti dalam kata aizo-2-aizo-2 (agak asam) dalam bahasa Nias disamping kata aiso-2 (asam) dan hal2 lain barangkali terdapat perlambangan bunji. Sebaliknja, saja tidak menjetudjui pendapat, bahwa dalam pembentukan duratif, bunji dipergunakan kan djuga sebagai lam bang, m isalnja kata m am anah dalam bahasa Djawa kuno dibentuk dari kata dasar panah (m em anah); dalam mono­ grafi saja jang dulu telah ditundjukkan peranan bunji m £chanis dalam hal sematjam itu dan saja jakin, bahw a kaum penjelidik bahasa Indo­ germ an m em benarkan pcndapat saja itu. - H al jang m cnarik pcrhatian iaiah tjara m enduakalikan kata asal dalam bahasa M adura, misalnja dalam k ata3 los-alos (sangat hal us), te-pote (sangat putih). K ata alos (halus) dan kata pote tum buh dari kata halus dan putih jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba, bahasa M elaju, dll. T ctapi disam ping kata los-alos dan te-pote ter­ dapat kata lus-alus dan ti-puti jang m engandung vokal sepcrti dalam kata halus dan putih dalam bahasa Indonesia purba. Lus-alus berarti lebih halus lagi dari pada los-alos dan ti-puti b e ia rti lebih putih lagi dari pada te-pote. Bentuk bunji jang lebih tu a m enundjukkan tingkat jang lebih tinggi. H al me-niru2 bunji (OnomatopCe). K arena hal m c-niru2 bunji itu, m aka hukum bunji kata2 tak dapat dilakukan dengan konsekwen. Hal m c-niru2 bunji itu terdapat dalam kataseru (interjeksi) jang mcalru1 bunji. H uruf-lebur (liquida) dalam bahasa Indonesia purba tak dibunjikan dalam bahasa M inangkabau kalau terd ap at pada achir kcta dasar; kata lapar dalam bahasa Indonesia p u rb a ditulis djuga lapar dalam bahasa M inangkabau, tetapi diutjapkan lapa. Selandjutnja konsonan letusan (eksplosif) pada achir kata dalam bahasa Indo­ nesia purba diutjapkan sebagai ham za dalam bahasa M inangkabau; dengan begitu kata atep dalam bahasa Indonesia p u rb a m endjadi atoq dalam bahasa M inangkabau-lisan. D jadi p ad a achir kata3 dalam bentuk bahasa M inangkabau-lisan tak terdapat bunji r d an p, ketjuali pada kataseru seperti gar, dapap, dsb. (hal m enjatakan bunji). H al meniru3 bunji terdapat djuga dalam kata2 lengkap, teruiam a pada nam a3 binatang, jang terdjadi karena m e-niru3 bunjinja. D alam bahasa Tont£mboa pada kata dasar jang terdjadi dari a k a r kata jang diduakalikan, konsonan pada achir separuh kata jang pertam a, biasanja mendjadi q. Dengan begitu kata korkor (menggor£s) dalam bahasa Indonesia purba m endjadi koqkor dalam bahasa Tont6m boa. T etapi dalam nama burung kerker jang terdjadi dengan m e-niru2 bunji, huruf r tctap ter­ dapat pada separuh kata jang pertam a. 18. Euphem ism us. B erdasarkan alasan cuphem ism us beberapa kata jang tcrtcntu dalam bahasa3 Indonesia, terutam a kata3 dari dunia s^ksuil, diubah dcngan tjara seram pangan. Bcborapa kata scmatjam itu discbut ol6h van dcr T uuk dalam kam usnja tentang bahasa Toba, misalnja kata ilat jang terdjadi dari kata pilat (kelamin). Perubahan kata* itu um um nja terdjadi dcngan bcrsandarkan kata jang bcrtalian. Kata Hat bersandar akan kata Ha (malu). 19. K etjenderungan akan kata2 jang terdiri atas dua suku kata. Analogi, etimologi bangsa dan pengaruh2 lain jang telah dikem uka- t kan berlaku baik bagi bahasa2 Indogerm an m aupun bagi bahasa2 Indonesia, tetapi pengaruh ketjenderungan akan kata2 jang terdiri' atas dua suku kata hanja berlaku bagi bahasa3 Indonesia sadja. Pengaruh itu telah diakui oleh H um boldt (’’Kawisprache”). Kata* d asar dalam bahasa* Indonesia um um nja terdiri atas dua suku kata d an orang tjenderung akan m ejnasukkan kedua suku kata itu dalam k ata2 jang tidak mem punjai dua suku kata. K ata lijst dalam bahasa Belanda m endjadi eles dalam beborapa bahasa Indonesia dengan aw alan 6 jang tidak m em punjai arti, dan kata R o m (Konstantinope!) bukanlah R u m , tetapi R uhum dalam bahasa M inangkabau. , 20. A ntara bentuk bahasa-tulisan dengan bentuk bahasa-lisan atjapkali terdapat perbedaan bunji. D alam bentuk bahasa-lisan atjapkali kata* dalam bentuk bahasa-tulisan disingkatkan. Dalam bentuk bahasa Djaw a-lisan m isalnja,kata dulur (saudara perem puan) m eng­ gantikan kata sedulur dalam bentuk bahasa' Djawa-tulisan. 21. G edjala2 bunji jang telah digam barkan terdapat dalam bahasa* se-hari* jang norm al. Disam ping bahasa2 itu terdapat bahasa* chusus, jaitu bahasa an a k 2, bahasa binatang dalam tjerita tentang binatang, bahasa poesi, bahasa buatan. 22.

E m pat hal jang chusus terdapat dalam bahasa anak*.

I. H al m enggantikan bunji. „Selam a anak BarSqe tidak dapat m engutjapkan konsonan langit2 lem but (velar), m aka dipakainja konsonan gigi (dental) sebagai gantinja. K ata aku dalam bahasa Indo­ nesia urn uni dan bahasa B areqe m isalnja diutjapkannja sebagai atu. H uruf s biasanja diutjapkan sebagai c ol£h anak*. D jadi kata susu dalam bahasa Indonesia purba dan dalam bahasa Bar£qe diutjapkan sebagai cucu” (A driani). II. Anak* B areqe m engutjapkan kata keje sebagai /e/e, anak* T onlem boa m engutjapkan kiqciq (menggigit) sebagai kiqkiq dan kiliq (tidur) sebagai titiq. K onsonan langit3 lem but (velar) digantinja dengan konsonan gigi (dental). III. M engubah hubungan bunji. H ubungan bunji jan g sukar diutjapkan oleh anak2 diubahnja. Kata lay-pe (se-kali3 tidak) dalam bahasa K aro m isalnja diutjapkan sebagai a-pe oleh an ak 2 K aro. IV. Disamping hal2 itu bahasa anak2 m en u n d ju k k an " gedjala2 jang tak dapat disatukan dalam satu pengertian. A n a k 2 T ontejnboa misalnja kadang- m engatakan leleq (m andi) dan kadang djuga lileq. 23. Djika orang tua berbitjara dengan anak3, m aka kadang2 dipakainja bahasa jang norm al, kadang2 lagi bahasa an ak 2 atau bahasa kompromis. Tadi telah diterangkan bahwa anak2 B areqe m engutjapkan kata susu sebagai cucu. T etapi dalam bahasa B areqe jang norm al konsonan langit2 letusan (patalal) jang tak berbunji hanja m engikuti bunji scngau sadja. Djadi kata seperti cucu tak terdapat dalam bahasa orang dewasa Bareqe. K onsonan langit2 (palatal) jang ditekankan bunjinja tak terbatas dipakainja dan oleh sebab itu orang tua2 B areq e jang berbitjara dengan anak2 tak m engatakan susu atau cucu, tetap i 24. A tjapkali kata2 jang dipakai anak2 m asuk dalam bah asa orang dewasa. K ata ama (ajah) dan ina terdapat dalam bahasa In d o ­ nesia purba dan dalam sebagian besar bahasa2 Indonesia jang se­ karang berlaku. T etapi dalam beberapa" bahasa terdapat k a ta m am a dan turn, jang m enggantikan kata am a dan ina. D alam bahasa T ontem boa terdapat kata apoq (kake) dan itoq (pam an); kata serunja (vokatif) ialah papoq dan titoq. D alam bahasa Bugis anak perem puan ketjil dinam ai besseq (hanja dipakai bagi putri radja) atau becceq. M enurut keterangan dibaw ah nom or 22-1 kata jang m engandung s ialah kata jang norm al dan kata jang m engandung c ialah m ula2 kata jang dipakai anak2. 25. Gedjala2 bunji dalam bahasa anak2 Indonesia sebagian besar terdapat djuga dalam bahasa2 Indogerm an. K ata Vater (ajah) dalam bahasa Djcrm an m endjadi A tti atau T atti dalam bahasa Swis (lihat "Schwcizerischcs Idiotikon 1” hal. 585). 26. Dalam tjerita tcntang binatang bahasa jang dipakainja ialah seperti bahasa anak2. D alam karangan A driani ’’Lecsboek in de Bareqe taal” hal. 17 se£kor tikus tua m engutjapkan kata dur^ko (kulit kuwd nasi) sebagai kuko. Datoiu ka.'dngao ,ni. y jc h a 9.1l bunji ng dan n sebagai bunji nj. 27. Bahasa kaum pcnjair. K epcrluan <akan iram a m em baw a bexbagai* perubahan bunji. K esusasteraan dalam bebcrapa bahasa seperti bahasa B arcqe tak m engidzinkan perubahan itu. K ebebasan kaum' penjair dalam m engubah bunji itu dua m atjam nja. Perubahan jang^ pertam a terdjadi dalam rangka kem ungkinan3 bahasa dan perubahan jang kedua b£bas sam a sckali. I. M atjam kebebasan jang pertam a m eliputi kebebasan kaum pcnjair dalam bahasa Bisaja jang berani m cm pergunakan bunji i depan vokal sebagai konsonan, m isalnja dalain kata m otya jang m engganti­ kan kata m otia jang terdiri atas tiga suku kata. (motia = m utiara). P erubahan i m endjadi konsonan sem atjam itu terdapat dalam banjak bahasa Indonesia norm al; dalam- bahasa Djawa kuno kata dasar ipi (m im pi) m endjadi atypya dalam bentuk kondisionalnja. II. M atjam kebebasan jang kedua m eliputi ber-m atjam 3 kebebasan jang tak. berdasarkan ratio. K ebebasan itu terdjadi karena kebutuhan akan iram a. D alam Epos M egantaka dalam bahasa Bali misalnja ter­ dap at kata tos jang m enggantikan kata iotos (datang kem udian); djika digunakan kata tot os, m aka sjair itu akan terlam pau banjak suku katanja. K ebebasan itu terdjadi djuga djika dipandang perlu untuk kepcrluan sadjak. D alam £pos ” K aba Sabay nan Aluyh” dalam bahasa M inangkabau terdapat k a lim a t: m aq kam i bario-io, m aq kam i batidotido. K ata tidaq dalam bahasa biasa diubah dengan tjara sekehendaknja sadja untuk kepcrluan s a d ja k : K edua vokal dalam kata dasar h aru s sam a bunjinja. Kctiga : kebebasan itu terdjadi karena dibutuhk a n untuk lagu. B ahasa A tjeh m isalnja m em punjai lagu chusus bagi sjair2 jang m enjedihkan atau jang dinjanjikan pada upatjara. Dalam lagu itu k a ta 2 jang terdiri atas satu suku kata kadang3 dipandjangkan m endjadi kata3 jang terdiri atas dua suku kata dengan m engutjapkan dua kalim at h a ra k a t (vokal) dengan m em pergunakan bunji rj diantaranja; m isa ln ja : purjucoq jang m enggantikan pucoq (m ata sendjata) jang berlaku dalam bahasa norm al. 28. K edua m atjam kebebasan jang telah dikem ukakan tadi ter­ dapat djuga dalam bahasa2 Indonesia. D alam karangan Aneis ter­ dapat kata conubjo (diukur), dengan begitu djuga terdjadi kata m otya jang tadi telah dikem ukakan. T entang perubahan bunji jang dim aksudkan dibaw ah II terd ap at kata-sedjadjar dalam k a ta navyas& vacas jang dikem ukakan oleh W ackem agel dalam karangannja ’’Altindische G ram m atik I, S. X V II” . 29. Dalam hal m cm batjakan surat terd ap at djuga perubahan bunji. „D iistana radja3 di D jawa dalam hal m em batjakan su rat2 resm i orang biasa m engutjapkan harakat (vokal) pada perm ulaan kata sebagai „ Iconsonan pangkaltcnggorok atau laringal, m isalnja hcidal&m meng­ gantikan adal&m (diam) Pocnsen. 30. Bahasa buatan. Dalam bahasa2 Indonesia berlaku banjak bahasa buatan, misalnja : bahasa kaurn pendeta, bahas^ jan g dipakai diistana, bahasa kaum pem buruh, bahasa kaum pentjuri. dsb. M enurut ilmu leksikografi, ilmu m orphologi dan ilmu bunji dalam b a h a sa 2 buatan itu terdapat hal2 jang bersifat chusus. D ipandang d ari djurusan ilmu bunji, terutam a dua asas berlaku dalam bahasa3 b u atan itu; I. M6tat£se. D alaip bahasa kaum pentjuri T o b a m isalnja kedua suku kata dari kata dasar dibalikkan : kata m ate (m ati) digantinja dengan tema• II. Perubahan bunji m enurut analogi. D alam bahasa kaum p en ­ deta di D ajak tcrdapat kata rohor (pedang) jang m enggantikan d o h o y jang berlaku dalam bahasa norm al. K ata rohotj itu terbentuk b ersan darkan rohes (mem bunuh). Dalam bahasa D jaw a jang dip ak ai diistan a kata kiratj m enggantikan kata kuraq bersandarkan //rag (sepam h). 31. Dalam m em bentuk bahasa D jaw a jang dipakai diistana itu beborapa huruf pada achir kata diganti dengan bentuk -;7q a ta u jirj, misalnja esuq (besok) m endjadi enjit] dan buru (m em buru) m endjadi bujg i j . Tjara perubahan bunji itu kam i nam ai jeq-type. Jgg-type itu terdapat djuga dalam beberapa bahasa lain. D alam bahasa M elaju ter­ dapat kata a«;7rj (andjing) dan dalam bahasa M akasar tojeq (benar) dengan m engandung e jang m enggantikan e. K ata3 itu berlaku dalam bahasa normal, tetapi oleh sebab disam ping k ata an jit} terd ap at kata asu dalam bahasa Indonesia purba, bahasa D jaw a kuno, dll. dan disamping kata tojeij tcrdapat kata toto dalam bahasa D ajak, m aka kami berpendapat, bahw a kata3 itu m ula3 m erupakan k a ta 2 dalam bahasa buatan dan kem udian dipakai dalam bahasa norm al m enurut jcy-type, dan mendesak kata asu dan toto. H al itu ialah sebuah tjontoh jang m enarik porhatian tentang bahasa buatan jang m em pengaruhl bahasa normal. I

32. Kata anjirj ialah kata M elaju asli dan kata tojeg ialah kata M akasar asli, tidak diambil dari bahasa Djawa jang tidak mem punjai kata2 itu. Djadi jcrj-typc itu terdapat dalam beberapa bahasa jang berlaku di-da6rah2 jang djauh lctaknja antara sesam anja. Oleh sebab itu gedjala2 jang tam pak dalam bahasa buatan itu barangkali terdapat dalam bahasa Indonesia purba. 33. Pengaruh idiom asing. Pengaruh itu terutam a tam pak dalam daftar kata*, dilapangan bunji pengaruh itu kurang. I. Pengaruh idiom* Indonesia lain atas suatu bahasa Indonesia jang tertentu. D alam bahasa 'Kulawi bunji s berubah mendjadi h, misalnja dalam kata tahi (danau) jang sesuai dengan kata tasik dalam bahasa Indonesia purba. „T etapi kaum laki2 jang ham pir scmua paham akan bahasa Palu (bunji s dalam bahasa Indonesia purba terdapat djuga dalam bahasa Palu itu) atjapkali masih mem pergpnakan bunji s itu. K aum perem puan jang sebagian besar hanja paham akan bahasa Kulawi sadja biasanja m cm pergunakan bunji h." (Adriani). Dalam dialek R uso dari bahasa T alaut bunji k pada suku kata jang terachir dalam bahasa T alaut jang normal, diutjapkan sebagai s; misalnja Jcata apusa mcnggantikan kata dpuka (kapur) jang berlaku dalam bahasa T alaut jang norm al. Tetapi gedjala itu lam bat laun hilang sedjak banjak bunji jang terdapat dalam bahasa Niam pak masuk dalam dial6k R uso dan sedjak kebiasaan untuk m engubah bunji k mendjadi s itu diedjek oleh merdka jang memakai bahasa Niam pak.” (Steller). B ahasa Tojo-B ar6qe m enekankan sebagian kata2nja dengan tjara jang berlaku dalam bahasa Bugis. „T em pat tinggalnja” ialah dalam bahasa B areqe banua-ha, dalam bahasa Bugis : wanuwa-na. Dalam bahasa Tojo-B arege atas pengaruh bahasa Bugis kata itu diutjapkan sebagai : banud-na. II. Pengaruh bahasa* bukan bahasa Indonesia. Bahasa M adura m ula3 tak m em punjai bunji /, tetapi dapat m engutjapkannja dengan baik dan bunji itu tetap dipakainja dalam kata2 jang diambilnja dari bahasa A rab atau bahasa2 E ropah, sehingga bunji / itu sekarang dapat dipandang m asuk sistim bunji dalam bahasa M adura. Bahasa Bima mula* m enolak sem ua konsonan pada achir kata, djuga pada achir kata3 jang diam bil dari bahasa2 lain. Dengan begitu kata acal dalam bahasa A rab m endjadi asa dalam bahasa Bima. ,,Tetapi orang2 Bima budaja atjapkali m engutjapkan konsonan pada achir kata.” (Jonker). 34. Pengaruh sekolah. Bunjiletus bersuara g (mSdia) jang terdapat dalam bahasa Indonesia purba, bahasa Djawa kuno, bahasa M elaju, dll. mendjadi konsonan g£seran (spirant) dalam bahasa TontSm boa. „A tas pengaruh didikan disekolah, jang m em akai bahasa Melaju sebagai bahasa pengantar, generasi m uda m engutjapkan bunjiletus bcrsuara sebagai konsonan geseran (spirant).” (A driani). 35. Sistim tulisan dan edjaan (orthographie) dalam dua hal mcmpcngaruhi djuga hal bunji. I. Edjaan dalam bebcrapa bahasa, terutarna bahasa2 di Sumatra m em pergunakan bunji lam a. M enurut kaum penjelidik k a ta Upas ialah kata Indonesia purba. Bangsa M inangkabau m engutjapkannja sebagai lape/i tetapi m enulisnja sebagai lapas; djadi bahasa-tulisan metnakai huruf asli pada achir kata itu. Tulisan sem atjam itu m em benarkan hal2 jang telah ditundjukkan dengan djalan m em -bandingakan bahasa2. II. Kata2 jang dengan tjara proklitis dan 6nklitfe bersandarkan suatu kata jang tertentu, dalam banjak bahasa ditulis m endjadi satu kata. Dalam tjerita dalam bahasa M akasar, m enurut J. K ukang (hal. 5 z l5 ), terdapat kalim at jang b e rb u n ji: nanitanrotanrdw im o doweq (kepadanja selalu diberikan uang). Dalam kalim at itu na (dia) dan m o (partikel) disatukan dengan kata nilanrotanrdwi (selalu diberi). M enurut ilinu bahasa kebiasaan itu benar. 36. Dalam m em peladjari bunji dalam bahasa2 Indonesia berbagai2 teks perlu benar dibatja djuga. T eks2 jang m enundjukkan tek a n an. kwantitet, dsb.-lah jang paling baik. A tjapkali dari teks2 itu dapat diketahui lebih banjak hal2 dari pada dalam buku2 peladjar~ an. Seidenadel misalnja tidak m engem ukakan teori dalam buku peladjarannja tentang bahasa Bontok, tetapi d ari teks2 jang diumumkannja orang dapat m enjusun teori itu sendiri. A tjapkali teksT memperbaiki keterangan dalam buku2 peladjaran. M athes m engatakan dalam bukunja tentang tata bahasa Bugis (lihat keterangan dibaw ah nomor 193), bahwa kata ganti orang pertam a (first person pronoun) k u dengan tjara proklitis tetapi tidak dengan tjara enklitis disingkatkan mendjadi u: tetapi dalam karangan jang dium um kannja „B udi Isetiharatfc" terdapat k a lim a t: na-eldriy-aq w oro-wan^-u. T entang beberapa bahasa terdapat teks jang diterbitkan dengan saksam a d an m enundjukkan tekanan, kw antitet, dsb., tetapi belum terdapat buku peladjaran dan kamus. 37. M em bandingkan bahasa2 Indonesia dengan bahasa Indoger­ m an. Dalam m onografi ini se-dapat2nja saja m em bandingkan gedjala’ bunji dalam bahasa2 Indonesia dengan gedjala2 bunji dalam bahasa1 Indogerm an. U saha m em bandingkan gedjala2 dalam bahasa2 Indonesia dengan gedjala2 dalam bahasa2 Indogerm an bukanlah usaha baru. Hum boldt dan B opp telah berbuat begitu djuga, tetapi bahan* kurang dipaham kannja. Perbandingan itu dilakukan djuga oleh K em dan bahasa2 Indonesia dan bahan3 dipaham kannja benar. Kaum ahli bahasa um um nja m enjatakan terim a kasihnja kepada K ern, tetapi baru2 ini timbul pendapat, bahw a perbandingan sematjam itu tak ada gunanja. Beberapa pendapat itu perlu saja kem ukakan untuk m em pertahankan pcndiri saja. I. U saha m em -banding2kan bahasa2 Indogerm an antara sesam anja lebih m adju daripada usaha m cm -bandin^kan bahasa Indonesia antara sesam anja, sistim perbandingan m engenai bahasa2 Indogerm an telah disusun benar, djadi harus dipakai sebagai perintis djalan dalam penjelidikan tentang bahasa2 Indonesia. Banjak kaum penjelidik baha­ sa2 Indonesia misalnja mem-bagi2kan bahasa2 Indonesia m enurut ke­ m ungkinan2 pada achir kata, sebagian kaum penjelidik iiu membagPkan bahasa2 Indonesia m enurut bentuk genitif terutam a m enurut tem pat bentuk gdnitif i t u : apakah bentuk genitif itu m endahului atau m engikuti kataganti penghubung. Dalam kedua tjara m em-bagi2 bahasa2 Indonesia itu perhatian ditudjukan pada suatu gedjala bahasa jang tertentu. Dilapangan bahasa2 Indogerman a n tara lain orang m em -bagi2 bahasa2 Germ an atas bahasa German sebelah tim ur dan bahasa2 G erm an sebelah barat. T etapi Kluge ( ’’U rgerm anisch” ; lihat keterangan dibaw ah nom or 146) mempergunakan ber-bagai2 ukuran (kriterium ); tidak semua kaum penjelidik membagi2 bahasa2 itu atas dua bagian. Oleh sebab itu kaum penjelidik bahasa2 Indonesia harus ber-hati2 : disamping satu ukuran haruslah dipergunakannja ukuran2 lain atau segala m atjam pembagian bahasa2 Indonesia harus disam pingkan. Tjatatan. M em -bagi3 bahasa2 Indonesia m enurut satu gedjala bahasa hanjalah berglina, djika dapat dibuktikan, bahwa gedjala itu gedjala jang terpenting, paling chas dan paling djelas diantara semua gedjala bahasa. T etapi bukti sem atjam itu tentang bunji pada achir kata2 dan tentang tem pat bentuk genitif tak petaiah dikem ukakan. Saja sendiri tak dapat m em aham kan, bahwa bunji pada achir kata lebih penting daripada bunji pada perm ulaan kata2 (lihat keterangan dibawah nomor 193 dan selandjutnja) dan bahwa soal tem pat bentuk genitif depan atau belakang kataganti penghubung lebih penting daripada tempat scbutan (predikat) bcrhubung dengan pokok (subjek). Pada tahun3 jang terachir sifat bentuk genitif telah di-lebih2kan dalam penjelidikan tentang bahasa2 Indonesia. II. Hasil pcnjclidikan tentang bahasa- Indonesia kadang3 bcrguna djuga untuk pcnjclidikan tentang bahasa-' Indogerm an. D alam tatabaliasa m cnurut sedjarah tcntang bahasa Pcrantjis jang disusiin ol6h M cyer-Lubkc I m isalnja dikem ukakan, bahwa kata tante dalam bahasa Pcrantjis tcrdjadi dari ante (kata am ila dalam bahasa L atin). H al scm atjam itu terdapat djuga dalam bahasa2 Indonesia. III. Psychologi-bahasa dipcrgunakan djuga teru tam a m engenai bahan- dalam bahasa2 Indonesia untuk deduksi. O leh sebab psycho­ logi-bahasa itu m ula2 disusun untuk bahasa2 Indogerm an, m aka psychologi itu harus disertai hal2 sedjadjar dalam bahasa2 In dogerm an, agar dapat dipakai dengan tepat bagi bahasa2 Indonesia. D alam m o n o ­ grafi saja jang dulu telah ditundjukkan, bahw a psychologi-bahasa itu dapat salah dipakai, djika dipcrgunakan bagi bahasa2 Indonesia dengan tak disertai petundjuk djalan jang tentu. IV. Banjak penjelidik jang m em -banding2kan bcr-bagai2 b ah asa Indonesia dan bahasa2 Indogerm an berusaha djuga m cncntukan g edjala2 bahasa m anakah jang dapat dipandang sebagai pernjataan b udi jang tinggi. D alam hal itu diam bil kesim pulan, bahw a bahasa- In d o n esia tak setinggi bahasa2 Indogerm an tingkatnja. D jika deduksi jang m cnim bulkan pendapat itu tak dapat dlbantah, m aka orang h aru s m cnjetudjuinja, tetapi m engenai bahasa2 Indonesia harus saja m engem ukakan, bahwa bukti2 itu m enundjukkan pengctahuan jang m engandung kekurangan2, sikap m em andang soal dari satu segi sadja, dsb. H al itu telah saja kem ukakan dalam m onografi saja jang dulu terh a d a p kaum penjelidik bahasa D urand dan Taffanel. M arilah kita m em pcrhatikan satu hal lagi jang lebih baru. Finck dalam karangannja ’’D ie H aupttypen des Sprachbaues” (hal. 94) m cm bitjarakan susunan kalim at dalam bahasa Sam oa dan m enundjukkan pcranan jang baik dari partikcl2 — jaitu katadepan (preposisi), katasam bung (konjungsi), dsb. — dalam perhubungan bagian2 kata2. T etapi pada hem atnja p a r­ tikcl2 itu dapat m enghubungkan seluruh kalim at. D iam bilnja kesim ­ pulan bahw a bahasa Sam oa itu tak d ap at m em bentuk kalim at jang lengkap benar seperti bahasa2 fndogerm an. K esim pulan itu m cngandung pendapat bahw a bahasa2 Indonesia tak setingkat b ah asa2 Indogcrm an. T etapi dilupakannja bahw a bahasa2 Indonesia disam ping partikcl2 m em punjai alat3 lain untuk m enjusun kalim at jang^lcngkap benar, m isalnja dengan m eletakkan tekanan dalam kalim at (lihat keterangan dibaw ah nom or 335). H al itu tidak di-scbut2 oleh Finck. Dan pcngcrtiannja tentang sifat partikcl tcm jata dari tcrdjcm ahan kcpala karangannja ’’Sprachprobe” jang berbunji : ’o le tala i le fugafuija, jang diterdjem ahkannja sepcrti bcrikut : ”0 ! tjerita tentang ketimun laut itu” . Sebenarnja ’o jang terdjadi dari k o (menurut tulisan saja dibawah keterangan noraor 39 : qo) ialah katadepan nominatif (lihat K cm FI. hal./Z .I) dan / ialah katadepan jang dipakai untuk berbagai2 kepcrluan dan dalam bebcrapa bahasa Indonesia dipcrgunakan untuk m enundjukkan pcrhubungan genitif. Dengan tjara scram pangan katadepan itu diterdjem ahkannja sebagai katadepan lokatif. Djika tjara m em bandingkan bahasa- Indonesia atau bahasa2 Indogerm an jang m engandung kekurangan- jang telah dikem ukakan tadi, diganti dengan tjara lain jang tidak m engandung kekurangan itu dan oleh scbab itu dapat dinam ai tjara jang objektif, maka tjara pcrbanding^n jang pertam a itu tak dapat dipertahankan. Tetapi djika tjara perbandinran jang obiektif tidak mempunjai maksud lain daripada m em berikan pem andangan jang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan, lagipula tidak patut dan m elukai pcrasaan manusia, m aka dapatkah tjara pcrbandingan itu dibcnarkan ? 38.

Dalam m onografi ini dipakai singkatan seperti b c rik u t: IN = Indonesisch (Indonesia) IDG = Indogerm anisch ('Indogerman) GW = G rundw ort (kata dasar) ' B rugm ann KvG = K arangan K. Brugm ann ’’Kurze vergleichende G ram m atik der indogermanischen Sprachen” . M cillet G vP = Karangan A. M eillet ’’G ram m aire du vicux Perse” . Kern F I = K arangan Kern „D e Fidjitaal”. B D G = ’’Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van N ederlandsch-Indie”. Schw arz-Texte = ’’Tontcm boanische Teksten” oleh J. Alb. T. ' « Schwarz. ' Steller-Texte = T eks dalam karangan K .G .F. Steller ’’Naderc Bijdrage tot de Kennis van het T alaoetsch” . Seidenadcl-Tcxte = T eks dalam karangan C.W . Seidenadel ”The first G ram m er of the Langguage spoken by the B ontoc Igorot” . T uuk Lb. = B ataksch Leesboek door H .N . van der T uuk. H ain-T eny = ”Les H ain-T eny M erinas” oleh Jean Paulhan.

BAB

II

IC H TISA R D A N U R A IA N T E N T A N G B U N JI D A LA M BA H A SA - IN D O N E SIA . Sistim bunji dalam bahasa Indonesia purba. 39. Dalam bahasa Indonesia purba terdapat bunji seperti berikut : H arakat (vokal) : a, i, u, e, o, e, Sctcngah harakat; (half-vokalen) : y. w. Bunji-lcbuc. (liquida) : rl, r2, I. Konsonan pnngkal-tenggorok (laringal) : q. Konsonan Iangit2 lem but (velar) : k, g, g. Konsonan langit3 (palatal) : c, j, n. Konsonan gigi (dental) : t, d, n. Konsonan bibir (labial) : p, b, m. Konsonan geseran (sibilant) : s. Konsonan pangkal tenggorok (aspirate) : h. ' 40. * Tjatatan tentang bunji2 itu. I. Dalam monografi saja dulu telah diterangkan bahw a kata bela (kawan) dan sor (bawah) jang m engandung h arak at (vokal) e dan o terdapat dalam bahasa Indonesia purba. II. Bunji r l diutjapkan dengan lidah dan bunji r2 dengan anak Udah. III. Bunji laringal q, jang dinam ai djuga ham za, kurang penting dalam bahasa3 Indonesia. H anja dalam satu hal sadja {lihat keterang­ an dibawah nom or 181) mungkin sekali bunji itu terdapat dalam bahasa Indonesia purba. 0 IV. Sebagian kaum penjelidik bahasa berpendapat, >bahwa kon­ sonan langit-’ (palatal) terdjadi dari konsonan gigi (dental). Tentang pendapat itu tidak ,dikem ukakannja alasan2 jang kuat dan dalam monografi saja jang dulu saja telah m engem ukakan pendapat lain. V . Begitu djuga halnja tentang bunji letus bersuara (media) dan konsonan bibir (labial). Sebagian kaum penjelidik bahasa Indonesia purba tentang hal itupun berlainan pendapatnja. Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/22 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/23 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/24 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/25 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/26 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/27 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/28 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/29 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/30 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/31 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/32 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/33 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/34 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/35 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/36 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/37 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/38 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/39 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/40 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/41 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/42 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/43 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/44 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/45 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/46 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/47 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/48 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/49 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/50 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/51 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/52 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/53 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/54 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/55 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/56 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/57 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/58 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/59 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/60 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/61 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/62 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/63 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/64 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/65 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/66 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/67 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/68 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/69 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/70 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/71 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/72 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/73 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/74 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/75 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/76 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/77 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/78 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/79 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/80 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/81 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/82 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/83 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/84 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/85 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/86 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/87 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/88 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/89 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/90 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/91 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/92 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/93 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/94 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/95 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/96 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/97 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/98 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/99 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/100 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/101 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/102 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/103 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/104 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/105 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/106 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/107 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/108 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/109 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/110 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/111 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/112 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/113 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/114 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/115 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/116 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/117 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/118 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/119 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/120 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/121 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/122 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/123 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/124 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/125 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/126 Halaman:Hal Bunyi Dalam Bahasa-Bahasa Indonesia.pdf/127