Garuda Perdamaian

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

GARUDA PERDAMAIAN






DISELENGGARAKAN OLEH:

PENERANGAN ANGKATAN DARAT

DAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI

DITERBITKAN OLEH:

KEMENTERIAN PENERANGAN

GARUDA INDONESIA






DISELENGGARAKAN OLEH:

KEMENTERIAN LUAR NEGERI

PENERANGAN ANGKATAN DARAT


DITERBITKAN OLEH:

KEMENTERIAN PENERANGAN R. I.

Daftar Isi

Dengan megahnja berkibarlah lambang perdamaian, bendera P.B.B., dikawal oleh pradjurit-pradjurit Batalion Garuda Indonesia.








Mereka, jang senantiasa berdjaga-djaga untuk menegakkan perdamaian dunia.

1. Sedjarah dan kedudukan terusan Suez.

TERUSAN SUEZ dibuat dengan beaja dan pengorbanan manusia jang besar sekali. Presiden Nasser pernah menjatakan, bahwa 120.000 orang Mesir djatuh sebagai korban waktu membuat terusan itu.

Dalam arti sempit terusan ini membentang dari Kota Port Said dilaut Tengah sampai ke terusan Suez dilaut Merah. Tetapi pada hakekatnja ia mendjadi mata-rantai jang menghubungkan dan melantjarkan djalan niaga antara benua disebelah barat dengan benua sebelah timur.

Pada achir abad ke-XV sudah diketemukan djalan ke Hindia melalui Tandjung Pengharapan (Cape of Good Hope) jang terletak diudjung selatan benua Afrika.

Tetapi djarak jang harus ditempuh melalui Tandjung Pengharapan ini sangat lebih djauh apabila dibandingkan dengan melalui terusan Suez. Sebab terusan Suez menggunting gentingan tanah diantara benua Asia dan Afrika, hingga dengan demikian mempersingkat lalu lintas pelajaran.

Pada tahun 1854 Said Pasha, Radja Muda Mesir, memberi izin (konsessi) kepada Ferdinand de Lesseps untuk menggali gentingan tanah Suez.

Djauh sebelum itu telah banjak para ahli dan organisasi internasional mengemukakan rentjana mereka untuk membuka gentingan tanah Suez. Diantara mereka dapat ditjatat, bahwa Harun al Rasjid pernah mengemukakan rentjananja, tetapi terpaksa dilepaskan, karena adanja pendapat lain jang mengatakan, bahwa akan berbahajalah membiarkan pantai Arab terbuka bagi armada Byzantium.

Napoleon Bonaparte, penakluk Eropa jang terkenal itu, ketika pada tahun 1798 ada di Mesir djuga pernah memerintahkan untuk menjelidiki kemungkinan-kemungkinan dibuatnja terusan Suez. Karena

kesulitan-kesulitan tehnis, politis maupun pembeajaan, maka usaha mereka tidak dapat dilaksanakan, hingga pada tahun 1854 Said Pasha menganugerahkan konsessinja jang pertama kepada Ferdinand de Lesseps, seorang insinjur Perantjis jang pernah mendjabat konsol di Kairo.

Sedjalan dengan itu, pada tanggal 30 Nopember 1854 Ferdinand de Lesseps mendapat kekuasaan untuk mendirikan Compagnie Universelle du Canal Maritime de Suez, jakni sebuah kongsi jang mengurus pembuatan dan selandjutnja mengusahakan terusan itu.

Untuk dapat memulai pekerdjaan menggali gentingan tanah Suez, Ferdinand de Lesseps harus lebih dahulu mendapat:

  1. Persetudjuan dari Komisi Internasional jang diangkat oleh Said Pasha terhadap rentjana jang diadjukan oleh de Lesseps.
  2. Persetudjuan dari Sultan Turki, karena pada waktu itu Mesir merupakan negara dibawah naungan keradjaan Turki (negara vazal).

Rentjana jang diadjukan oleh de Lesseps mendapat persetudjuan dari Komisi Internasional dengan sedikit perubahan, dengan demikian pada tanggal 5 Djanuari 1856 Said Pasha memberikan konsessinja jang kedua kepada Ferdinand de Lesseps.

Meskipun persetudjuan Sultan Turki baru diberikan pada tahun 1866, tetapi Ferdinand de Lesseps pada tahun 1858 telah mulai mendjual saham-saham kongsi untuk modal pembeajaan.

Pada tanggal 25 April 1859 dimulai pekerdjaan menggali gentingan tanah jang membentang dari Suez sampai keteluk Pelusium.

Berdasarkan konsessi kedua tahun 1856, Mesir paling sedikit diwadjibkan menjediakan 4/5 djumlah tenaga kerdja jang terdiri dari orang pribumi Mesir.

Penggalian tanah tidak dapat berdjalan dengan lantjar, meskipun berlaku sistim kerdja paksa. Hal ini disebabkan oleh sifat pekerdjaan jang dilakukan dengan kerdja tangan.

Dibawah pemerintahan Khedive Ismail, Mesir menuntut dihapuskannja sistim kerdjapaksa. Sebagai pengganti kerugian Mesir diharuskan membajar 84 djuta franc kepada kongsi. Setelah sistim kerdjapaksa dihapuskan, mulailah pekerdjaan dilakukan dengan mesin-mesin, sedjalan dengan kemadjuan tehnik jang ditjapai waktu itu.

Peta Timur-Tengah

Beaja-beaja jang menurut taksiran Komisi Tehnik Internasional tahun 1856 hanja meliputi 200 djuta franc ternjata meleset dan meningkat sebesar 432.807.802 franc. Belum lagi pembeajaan bagi perbaikan jang dikerdjakan mulai tahun 1878.

Pembukaan terusan Suez dilangsungkan di Port Said pada tanggal 16 Nopember 1869 dengan suatu upatjara resmi. Keesokan harinja 68 buah kapal jang terdiri dari pelbagai kebangsaan, dengan dipelopori oleh kapal "Aigle" dimana Empress Eugine permaisuri Radja Perantjis berada digeladak kapal, memulai pelajaran.

Pada waktu itu pelajaran menudju Suez belum dapat dilaksanakan dalam beberapa djam, hingga baru pada tanggal 20 Nopember 1869 mereka sampai di Suez.

Mulai Maret 1887 pelajaran dimalam hari diizinkan bagi kapal-kapal jang diperlengkapi dengan lampu pengintai elektris. Sementara itu usaha-usaha memperbaiki terusan tetap dikerdjakan hingga pada tahun 1927 pelajaran diterusan Suez, termasuk berlabuh, hanja memerlukan waktu 15 djam 6 menit. Izin ketjepatan maksimum ialah 12 k.m. tiap djam.

Ukuran terusan Suez ialah sebagai berikut:

Pandjang 105 mil. Lebar 510 kaki. Dalam 46 kaki.

Perlu kiranja diketahui bahwa, terusan Suez jang berada diwilajah kedaulatan Mesir itu diusahakan oleh sebuah kongsi bernama Compagnie Universelle du Canal Maritime de Suez. Konsessi akan berlaku selama 99 tahun lamanja dihitung mulai hari pembukaan terusan dan akan berachir pada tahun 1968, setelah waktu mana akan diserahkan kepada Mesir.

Kongsi berkedudukan di Alexandria, tetapi mempunjai kantor administrasi dan legal domicile di Perantjis. Dengan demikian berarti, bahwa Kongsi terusan Suez memiliki hak extra territorialiteit di Mesir.

Mula-mula Inggris tidak banjak menaruh perhatian terhadap pentingnja terusan Suez. Tetapi setelah terusan tersebut mendjadi suatu kenjataan, Inggris berusaha merebut ,,kuntji kedunia Timur" itu dengan djalan membeli saham-saham milik Khedive Ismail dari Mesir seharga 100 djuta franc pada tahun 1875.

Khedive Ismail adalah seorang jang sangat gemar menghamburkan uang, hingga ketika ia membutuhkannja tidak segan-segan mendjual saham-saham kepada pemerintah Inggris. Sedjak waktu itu Inggris mendjadi pemegang saham terbesar. Djumlah saham semuanja ada 800.000 buah: 353.504 diantaranja dimiliki Inggris. Jang lain oleh Perantjis, Mesir, Amerika, Belanda dan lain-lainnja.

Pemerintah Perantjis banjak mendapat keuntungan jang diperolehnja dari padjak kongsi terusan Suez itu.

Djumlah direktur kongsi ada 32 orang terdiri dari:

16 Perantjis.

9 Inggris.

5 Mesir.

1 Amerika Serikat.

1 Belanda.

Menurut perdjandjian antara pemerintah Mesir dengan Kongsi pada tanggal 7 Maret 1949, maka djumlah wakil Mesir akan ditambah mendjadi 7 orang, jakni mengisi lowongan Inggris dan Perantjis.

Dari tahun ke tahun penghasilan kongsi semakin meningkat. Tjatatan-tjatatan diantaranja ialah sbb:

£ 22.869.548 untuk tahun 1949.

£ 26.700.500 untuk tahun 1950.

£ 26.160.000 untuk tahun 1951.

£ 26.730.000 untuk tahun 1952.

£ 28.901.200 untuk tahun 1953.

£ 30.338.000 untuk tahun 1954.

Mesir hanja mendapat pembagian keuntungan jang sangat sedikit, jakni 7% dari keuntungan kongsi, dengan pengertian, bahwa penghasilan untuk Mesir itu minimum £ 350.000, asal djumlah keuntungan kongsi tidak kurang dari djumlah tersebut.

Kuatnja kedudukan Kongsi Terusan Suez tidak dapat dilepaskan dari perkembangan sedjarah politik Mesir.

Sesudah perang dunia ke I berachir pada tahun 1918, Mesir mendjadi daerah protektorat Inggris. Tentara Inggris menduduki wilajah Mesir termasuk daerah terusan Suez.

Meskipun pada tahun 1922 status protektorat Mesir telah berachir, tetapi tentara Inggris masih menduduki sepandjang daerah terusan Suez dengan alasan untuk kepentingan pertahanan.

Dalam bulan Djuli 1956 tentara pendudukan lnggris telah ditarik mundur seluruhnja dari Mesir dan daerah terusan Suez.

Langsung atau tidak langsung kedudukan Kongsi Terusan Suez djuga mendjadi lemah. Konsessi Kongsi jang akan berachir pada tanggal 17 Nopember 1968 itu, tanggal 26 Djuli 1956 telah dinasionaIisir oleh Pemerintah Republik Mesir.

Sedjak saat itu, keadaan internasional diliputi oleh suasana mendung peperangan terutama dibagian bumi Timur Tengah.

Dalam pembahasan selandjutnja akan dapat diketahui betapa Inggris-Perantjis chususnja, Blok Barat umumnja merasa dirugikan oleh tindakan Mesir menasionalisir Kongsi Terusan Suez.

Disamping itu akan dapat diketahui pula, apakah tindakan Mesir melanggar ketentuan-ketentuan jang terdapat dalam hukum bangsa-bangsa ataukah tidak demikian halnja.

Apabila kita tindjau ketentuan-ketentuan jang berlaku umum tentang kedudukan suatu terusan, maka tidak perlu disangsikan lagi bahwa terusan itu merupakan bagian dari territorial suatu negara.

Demikian pula dengan terusan Suez, apalagi djika melihat kenjataan bahwa terusan Suez adalah djalan perairan jang dibuat (artificial waterway).

Disamping itu kita memerlukan penindjauan tersendiri mengenai kedudukan terusan Suez ini dalam hubungan hukum antar-negara (internasional). Terusan Suez memiliki kedudukan sebagai ,,terusan antar lautan" atau ,,ioter-oceanic canal", jakni menghubungkan Laut Tengah dengan Laut Merah. Oleh karena itu ia mempunjai kedudukan jang penting sekali bagi pelajaran dunia, chususnja bagi negara-negara maritime.

Oleh kebanjakan penulis hukum antar negara, apa jang diartikan dengan oceanic canal itu digolongkan dalam ,,djalan perairan jang dinetralisir" atau "neutralized waterway". Untuk melihat kedudukan hukumnja kita harus mengetahui perdjandjian-perdjandjian jang chusus mengenai terusan itu.

Sebelum tertjapai Konvensi Konstantinopel 1888, maka hak berlajar diterusan Suez belum seluruhnja terperintji dan djelas ketentuan-ketentuannja.

Menurut ketentuan fatsal 14 konsessi kedua 1856, dinjatakan bahwa terusan dan pelabuhan akan selalu terbuka sebagai terusan netral, untuk semua kapal dagang jang melintas dari satu lautan kelautan jang lain, tanpa membeda-bedakan, mengetjualikan ataupun mendahulukan seseorang atau kebangsaan kapal itu dalam pemungutan pembajaran beaja.

Tahun 1866 antara Pasha dengan kongsi terusan Suez ada perdjandjian. Sjarat-sjarat tersebut diatas djuga ditjantumkan didalamnja. Djuga dinjatakan, bahwa Mesir memiliki hak untuk menduduki setiap posisi atau tempat-tempat jang strategies jang dianggap penting guna mempertahankan Mesir. Tetapi pendudukan itu tidak boleh mengganggu kebebasan pelajaran di Suez.

Dalam ketentuan konsessi tersebut diatas tidak disebutkan mengenai ketentuan bagi kapal perang, sehingga negara-negara jang sedang berperang (billigerent) akan dengan mudah dapat melantjarkan tuduhan kepada Turki melanggar peraturan kebebasan pelajaran, djika Turki mengizinkan salah satu dari kapal perang negara jang berperang melalui terusan Suez. Sebagaimana diketahui, bahwa pada waktu itu Turki memiliki kedaulatan atas Mesir.

Pada tahun 1870-1871, ketika timbul peperangan antara Djerman dan Perantjis, kapal perang Djerman dan Perantjis ternjata dengan bebas dapat menggunakan terusan. Kenjataan tersebut kemudian dirumuskan dalam perundingan di Port Said tahun 1873, dan menghasilkan sebuah pernjataan — diterima oleh negara-negara maritime — jang menjatakan bahwa terusan itu terbuka bagi lalu-lintas kapal perang untuk semua negara meski dalam keadaan permusuhan.

Pada tahun 1877, ketika perang petjah antara Turki dan Rusia, Inggris jang telah memiliki saham terbesar dan takut akan bahaja rusaknja terusan, mengumumkan sebuah pernjataan, bahwa setiap usaha untuk mengepung atau mengganggu terusan atau usaha untuk menghampirinja akan dianggap oleh Inggris sebagai antjaman terhadap

djadjahannja di India dan sebagai tindakan jang merugikan perdamaian dunia.

Dalam kenjataanja, sebelum terdjadi agressi bersama: Israel, Ingris. Perantjis atas Mesir, memang belum pernah ada pertempuran didalam terusan itu, meskipun terusan tersebut tetap terbuka bagi kapal-kapal pihak jang berperang. Walaupun demikian bahaja perang menundjukkan perlunja ada ketentuan-ketentuan jang mengaturnja.

Ketentuan-ketentuan itu adalah sebagai berikut:
a. Djika Turki sendiri terlibat dalam perang.
b. Untuk melindungi dan menghindarkan adanja bahaja kerusakan sebagai akibat dari tindakan salah satu pihak jang sedang berperang.

Hal itu hanja mungkin terlaksana apabila terusan itu dinetralisir, dan mendapat djaminan dari negara-negara besar.

Telah berulang kali diusahakan adanja sebuah konperensi dalam rangka untuk menetralisir terusan Suez, terapi usaha-usaha itu belum dapat berdjalan dengan lantjar.

Dengan tertjapainja Konvensi lnggris-Perantjis tahun 1887, maka dapat diselesaikan rentjana persetudjuan bagi pengaturan terusan Suez, jang kemudian diadjukan kepada negara-negara lain untuk disetudjui bersama.

Rentjana persetudjuan itu dapat diterima dan kemudian mendjelma mendjadi sebuah traktaat jang dibuat di Konstantinopel pada tanggal 29 Oktober 1888 jang terkenal dengan nama Konvensi Konstatinopel 1888 Konvensi Terusan Suez.

Jang menanda-tangani traktaat tersebut ada sembilan negara jakni:

  1. Keradjaan Inggris.
  2. Keradjaan Djerman.
  3. Keradjaan Astro-Hongaria.
  4. Keradjaan Spanyol.
  5. Keradjaan Peratjis.
  6. Keradjaan Itali.
  7. Keradjaan Nederland.
  8. Keradjaan Rusia dan
  9. Keradjaan Turki.

Mesir tidak ikut serta sebagai penanda-tangan, karena pada waktu itu Mesir merupakan daerah otonoom dibawah kekuasaan Turki.

Konvensi tersebut terdiri dari 17 fatsal, dan bersifat terbuka, artinja konvensi itu terbuka bagi negara-negara lain untuk memasukinja sebagai pernjataan menjetudjui isi konvensi 1888.

Pokok-pokok terpenting dari perdjandjian itu ialah sebagai berikut:
a. Kebebasan pelajaran :

— Dengan tidak membeda-bedakan dibawah bendera negara mana kapal itu berlajar, terusan Suez akan terbuka bagi tiap kapal dagang atau kapal perang baik dalam waktu damai dan waktu perang.

— Tidak diperkenankan adanja tindakan blokade terhadap terusan. b. Usaha menghindarkan terusan :

— Tidak diperkenankan adanja tindakan permusuhan atau maksud mengganggu kebebasan pelajaran di terusan, jang didjalankan di dalam kapal atau pintu masuk pelabuhan atau dalam djarak tiga mil laut dari pelabuhan itu. Ketentuan ini djuga berlaku bagi Turki apabila mendjadi pihak jang berperang.

— Kapal perang dari pihak jang berperang harus melalui terusan itu setjepat-tjepatnja dan tidak diperkenankan tinggal di Port Said lebih lama dari 24 djam ketjuali apabila ada ketjelakaan laut.

— Harus ada djarak waktu antara 24 djam, bagi kapal jang saling bermusuhan untuk melajari terusan Suez. Ketentuan ini dimaksud untuk menghindari pertempuran didalam terusan sehingga dapat merusak terusan itu. Hal ini djelas pula dalam ketentuan-ketentuan selandjutnja.

— Para penanda-tangan perdjandjian tidak akan menempatkan satu kapal perangpun disepandjang terusan. Tetapi masing-masing peserta perdjandjian dapat menempatkan sebanjak banjaknja dua buah kapal perang di Port Said dan Suez, selama negara itu tidak tergolong pihak jang berperang.

— Pihak jang berperang tidak boleh menurunkan atau memuat Tentara, mesiu atau alat-alat perlengkapan perang jang lain didalam terusan atau dipelabuhan masuk.

Tetapi apabila ada gangguan jang tiba-tiba didalam terusan muka dipelabuhan jang merupakan djalan masuk dapat diturunkan atau dimuat tentara jang dipetjah kedalam kelompok jang djumlahnja tidak melebihi 1000 orang beserta alat perlengkapan jang diperlukan.

Demikianlah ketentuan-ketentuan jang terpenting guna mendjamin adanja:

a. kebebasan pelajaran diterusan Suez;

b. menghindari kerusakan.

Konvensi 1888 jang pada azasrrja bertudjuan menetralisir terusan Suez pada hakekatnja tidak mentjerminkan pengertian netral jang sesungguhnja. Karena pengertian netral, dengan sendirinja memuat ketentuan, bahwa tentara atau angkatan bersendjata pihak-pihak jang berperang tidak diizinkan melintasi daerah itu, Dengan demikian seharusnja kapal perang pihak-pihak jang berperang djuga tidak boleh dengan bebas meliwati terusan itu. Dengan demikian maka sebenarnja ketentuan-ketentuan jang chusus di Suez, tidak lain bertudjuan supaje dapat dihindari tindakan permusuhan dalam terusan itu dan melindungi dari bahaja kerusakan, pula supaja dapat ditjegah setiap usaha jang akan menutup dan Iain-lainnja jang dapat menjulitkan lalu-lintas pelajaran dunia.

Ketentuan-ketentuan itu mengikat negara-negara jang mengambil bagian dalam konvensi 1888, tetapi ketentuan-ketentuan itu akan berlaku sama. bagi negara-negara lain jang tidak ikut serta, hal mana sesuai dengan prinsip hukum internasional mengenai kebebasan pelajaran dalam terusan jang menghubungkan lautan-lautan terbuka.

Soal-soal mengenai pertahanam terusan Suez, erat hubungannja dengan kedudukan Politik Negeri Mesir.

Sebelum tahun 1882, karena Mesir telah banjak berhutang kepada Inggris-Perantjis dan para pemegang saham Kongsi Terusan Suez lainnja, maka keuangan Mesir diawasi oleh Inggris.

Pada tahun 1882 ada pemberontakan terhadap tindakan pengawasan keuangan oleh Inggris itu. Pemberontakan ini menjebabkan adanja pendudukan Inggris sama sekali dan pengawasan pemerintahan atas Mesir.

Dengan demikian setjara tidak resmi Mesir telah mendjadi djadjahan Inggris. Selama Perang Dunia I tahun 1914 — 1918, pengawasan dan pertahanan terusan Suez didjalankan oleh Inggris. Terusan hanja terbuka bagi kapal-kapal sekutu dan negara-negara netral.

Kapal Austria dan Djerman jang berusaha menggunakan pelabuhan Port-Said dan Suez sebagaj pelabuhan refuge (perlindungan) d:iperintahkan supaja keluar meninggalkan, tetapi menolak. Kemudian lalu diseret dan dibawa keluar dari batas tiga mil laut dan dirampasnja.

Perang Dunia I berachir dengan akibat kekalahan pada Djerman, Austria dan Turki. Didalam perdjandjian perdamaian jang diadakan dengan negara-negara sekutu, maka ada fatsal-fatsal, dimana diakui penjerahan sepenuhnja hak-hak Turki berdasar konvensi 1888 kepada Inggris. Oleh karena pada waktu itu Turki rnemerintah Mesir, maka Mesir kemudian mendjadi protektorat Inggris, hingga hak mempertahankan Mesir terrnasuk terusan Suez tetap terbuka bagi Inggris.

Meskipun pada tahun 1922 Mesir diakui sebagai negara merdeka dan berdaulat, tetapi ada suatu ketentuan tersendiri jang mengatakan, bahwa Inggris mempunjai hak sepenuhnja atas pertahanan terusan Suez terhadap agressi asing atau tjampur tangan asing.

Ketentuan ini diulangi lagi dalam sebuah perdjandjian persekutuan antara Inggris-Mesir tahun 1936.

Bahkan dalam perdjandjian itu dinjatakan, bahwa pendudukan militer diganti dengan suatu persekutuan pertahanan militer jang bersifat permanent (tetap) antara kedua negara, jang akan berlaku selama 20 tahun. Mesir mempertjajakan pertahanan terusan Suez kepada Inggris. Tentara Inggris akan ditarik mundur apabila kedua belah pihak berpendapat dan menjetudjui, bahwa Mesir telah kuat untuk merrdjamin keamanan terusan tersebut.

Selandjutnja dalam perdjandjian itu disebutkan hak Inggris diwaktu ada perang untuk menggunakan pelabuhan Mesir, lapangan terbang dan lain-lain alat-alat perhubungan.

Waktu perang dunia kedua, Inggris menggunakan peraturan atau ketentuan-ketentuan jang terdapat dalam perdjandjian 1936. Radja

Farouk dari Mesir jang tetap netral tetapi lebih tjondong kepada Djerman dan Italia, dipaksa oleh Inggris untuk memenuhi kewadjiban dari perdjandjian 1936, jakni pemberian keringanan kebebasan bergerak tentara Inggris di Mesir.

Setelah di Mesir timbul ,,revolusi tak berdarah" dengan digulingkunnja Radja Farouk dari tachta keradjaan, maka pada tahun 1954 tertjapai perdjandjian antara Inggris dengan Republik Mesir. Dari fatsal 2 persetudjuan tahun 1954 dikatakan, bahwa persetudjuan itu akan berlaku selama 7 tahun, dengan ketentuan, bahwa 12 bulan setelah penandtanganan persetudjuan itu kedua belah pihak akan berunding untuk menetapkan peraturan-peraturan apa jang perlu diadakan dan dipandang berguna untuk mengachiri persetudjuan tersebut. Adapun persetudjuan 1954 itu berkisar pada masalah pendudukan Inggris diterusan Suez.

Perkembangan selandjutnja dan seperti apa jang sudah kita saksikan, maka pada 'bulan Djuni 1956 satuan-satuan terachir tentara Inggris telah meninggalkan Suez, dan dengan demikian pertahanan terusan Suez sudah berada ditangan Republik Mesir.

2. Sebab-sebab Mesir menasionalisasikan terusan Suez.

Untuk meninggikan taraf kehidupan Rakjat, pemerintah Mesir selalu berusaha mendjadikan Mesir sebuah negara industri. Sebagaimana diketahui Mesir tidak mempunjai tambang batu bara, sedangkan sumber minjaknja ketjil. Untuk perkembangan industri ia akan kekurangan bahan bakar, sebaliknja bahan mentah untuk perkembangan industri ringan terdapat tjukup didalam negeri.

Dilapangan pertanian Mesir selalu terantjam bahaja bandjir diwaktu musim hudjan, dan bahaja kekurangan air diwaktu kemarau. Salah satu djalan jang ditempuh ialah memperbaiki bendungan Aswan jang telah ada.

Dengan demikian maka rentjana pembangunan bendungan Aswan itu memiliki arti:

1. Pertanian : Memperluas dan menambah hasil pertanian. Mentjegah bahaja bandjir.

2. Industri : Sebagai pembangkit tenaga listrik jang penting sekali artinja bagi perkembangan industri.

Apabila bendungan Aswan ini dapat dibangunkan, maka besar kemungkinan tambahnja perluasan tanah jang dapat ditanami hingga 30%, jang dengan sendirinja akan menaikkan taraf penghidupan rakjat Mesir berlipat tiga.

Belum lagi diperhitungkan naiknja hasil perindustrian. Djuga bahaja bandjir akan dapat dihindarkan, sedang pada musim kemarau tanahtanah akan selalu mendapat air.

Sebagai pembangkit tenaga Iistrik harganja murah sekali djika dibandingkan dengan bahan bakar minjak atau arang batu.

Djumlah tenaga listrik jang besar sekali dari bendungan Aswan itu akan merubah sama sekali negara Mesir mendjadi negara industri. Dan dengan bendungan baru itu penghasilan negara bertambah dengan 23 djuta pound setahun, sedangkan penghasilan nasionalnja akan bertambah dengan 255 djuta pound.

Untuk melaksanakan pembangunan bendungan Aswan tersebut, tertumbuklah Mesir sekarang pada masalah pembeajaan. Perekonomian dalam negeri belum memungkinkan pembeajaan projek Aswan tersebut. Mesir memerlukan bantuan Luar Negeri.

Pada bulan Desember 1956 Amerika dan lnggris menawarkan untuk beaja projek Aswan dalam babak pertama sedjumlah $. 70.000.000. kepada Mesir, dan ada kemungkinan bantuan selandjutnja akan lebih besar. Bahkan Inggris sendiri merentjanakan dari seluruh djumlah bantuannja jang $. 14.000.000. akan merupakan hadiah (grant).

Bank Dunia djuga mengusulkan pindjaman sebesar $. 200.000.000. Menurut rentjana, beaja pembangunan bendungan Aswan memakan waktu 10 tahun dan akan menelan beaja sebesar $. 1.300.000.000.

Tetapi pindjaman jang didjandjikan itu dengan mendadak pada tanggal 19—20 Djuli 1956 dihapuskan, Amerika mentjabut tawaran bantuannja untuk membangun bendungan raksasa Aswan. Tindakan Amerika ini kemudian disusul oleh Inggris dan Bank Duniapun bersikap sama.

Alasan-alasan jang dikemukakan oleh Amerika Serikat berpangkal pada segi-segi ekonomis, jakni bahwa perekonomian Mesir jang masih

lemah tidak memungkinkan untuk memikul kewadjiban-kewadjiban jang timbul dari pindjaman tersebut.

Sudah barang tentu tindakan pentjabutan tawaran dengan alasan-alasan itu akan menampar kehormatan Nasser chususnja dan Mesir umumnja. Negara-negara lain terutama dunia Arab tidak bisa lain ketjuali menafsirkan, bahwa tindakan Amerika itu adalah bersifat politis, jakni:

a. Mesir sebagai pelopor negara-negara Arab dan telah menerima alat-alat sendjata dari blok Soviet (Tjekoslovakia).

b. Dengan terlaksananja projek Aswan tersebut maka produksi kapas Mesir akan meningkat dan ini berarti membahajakan kedudukan kapas Amerika.

Terdorong oleh ketekadan jang besar untuk tetap membangun bend bendungan Aswan, padahal terbentur oleh soal pembeajaan, maka djalan satu-satunja bagi Mesir ialah menasionalisasikan terusan Suez, dimana Mesir sebelum itu hanja mendapat keuntungan sedikit sadja dari Terusan Suez. Maka terdjadilah peristiwa jang bersedjarah pada tanggal 26 Djuli 1956 jakni Presiden Nasser mengumumkan dinasionalisasikannja terusan Suez.

Penghasilan terusan Suez itu diharapkan dapat membeajai bendungan Aswan.

Sedjak saat itu keadaan di Timur Tengah diliputi oleh mendung peperangan. Pihak Barat jang merasa dirugikan oleh tindakan Mesir menentang dengan keras politik penasionalisasian. Tiga hari sesudah pengumuman penasionalisasian, Inggris dan Perantjis sebagai pihak-pihak jang sangat berkepentingan di Suez. menjampaikan kepada Amerika Serikat suatu desakan, supaja Arnerika menjetudjui prinsip digunakannja kekuatan militer ,,apabila perlu".

Tindakan Mesir menimbulkan persoalan-persoalan, baik bersifat hukum maupun politis.

Bersifat politis, karena, terusan Suez menjangkut kepentingan strategic militer Blok-Barat dan Blok-Timur. Bersifat juridis, karena dengan adanja penasionalisasian timbul pertanjaan:

a. Apakah Mesir memenuhi sjarat-sjarat penasionalisasian?

b. Apakah Mesir melanggar Konvensi 1888?

Dengan dimilikinja sebagian besar saham Kongsi Terusan Suez oleh pemerintah Tnggris dan Perantjis (sebagian ketjil perseorangan), maka persoalan mengenai Kongsi menjangkut kepentingan negara dengan negara.

Tindakan Mesir untuk menasionalisasikan sebuah Kongsi diwilajahnja adalah hak sepenuhnja dari negara itu, sebagai suatu negara jang merdeka dan berdaulat. Tindakan itu tidak dapat dianggap melanggar hukum internasional atau mengingkari kewadjiban internasional, sedjauh mana tindakan itu didukung oleh sjarat-sjarat jang tertentu, jakni: sjarat-sjarat penasionalisasian jang lazim diterima oleh hukum dan umum, seperti:

a. Berdasarkan kepentingan umum.

b. Dilakukan dengan Undang-undang.

c. Pembajaran ganti kerugian kepada mereka jang berhak menerimanja.

Mesir telah berkali-kali menjatakan, bahwa penasionalisasian Kongsi Terusan Suez adalah untuk memperbaiki taraf hidup rakjat Mesir. Dengan demikian ia memenuhi sjarat ,,berdasarkan kepentingan Umum". Sjarat kedua djuga dipenuhinja sebab penasionalisasian telah dilakukan dengan Undang-undang Mesir nomor 285 tahun 1956, jang diumumkan oleh Presiden Gamal Abdul Nasser dalam sebuah pidatonja di Alexandria tanggal 26 Djuli 1956.

Pasal 1 dari undang-undang penasionalisasian menjebutkan, bahwa Mesir akan mengganti kerugian sepantasnja kepada para pemilik saham dan founder's bonds Kongsi Terusan Suez, menurut harga jang ditaksir pada waktu diumumkannja undang-undang penasionalisasian itu. Menurut ketentuan ini, maka Mesir djuga telah memenuhi sjarat jang ke-3. Tetapi ada suatu hal jang dapat ditafsirkan, bahwa Mesir tidak memenuhi sjarat jang ke-3 tersebut, jakni, bahwa Mesir tanpa melalui perundingan lebih dahulu dengan Kongsi Terusan Suez telah dengan mendadak melakukan penasionalisasian.

Memang benar adalah mendjadi kesopanan internasional, apabila hendak memutuskan perdjandjian, supaja melalui perundingan terlebih dulu dengan pihak jang bersangkutan, sehingga dapat diatur sebaik-baiknja tentang penggantian kerugian. Tetapi dalam batas

pengertian ini tidak berarti lalu tersimpul adanja hak dari negara Jang, dirugikan untuk bertindak sendiri dengan menggunakan angkatan perangnja, supaja negara jang didakwa melanggar itu menepati perdjandjian. Berdasarkan ketentuan Piagam P.B.B. maka adalah mendjadi kewadjiban bagi negara-negara untuk merrjelesaikan perselisihan setjara damai.

Adapun mengenai penggantian kerugian, maka djalan perundingan adalah djalan satu-satunja jang lajak.

Oleh karena Mesir sudah menjanggupkan tentang hal ini, maka mudah-mudahan perundingan itu berdjalan dengan lantjar.

Djika tidak tertjapai persetudjuan melalui djalan perundingan atau melalui tjara lain jang telah ditentukan, maka keputusan hakim merupakan djalan terachir.

Djadi kita tidak dapat mengambil kesimpulan, bahwa Mesir bertindak setjara unilateral dalam menentukan besarrrja ganti kerugian kepada para pemilik saham Kongsi Terusan Suez.

Kesimpulan jang kita peroleh ialah, bahwa penasionalisasian fungsi Terusan Suez adalah sjah, apalagi bahwa penasionalisasian itu adalah urusan dalam negeri Mesir. Dunia luar tidak ada dasar atau alasan untuk meniadakan penasionalisasian itu.

Tibalah sekarang pada persoalan apakah Mesir melanggar Konvensi Konstantinopel 1888.

Perdjandjian Konstantinopel' 1888 mendjamin kebebasan pelajaran terusan Suez. Pada waktu itu mernang Mesir tidak ikut serta menanda tangani perdjandjian 1888, karena Mesir masih merupakan negeri dibawah naungan Turki. Mesir seolah-olah hanja mendjadi objek dari perdjandjian itu, jang memiliki terusan diwilajahnja.

Dengan demikian mungkin timbul kechawatiran oleh Inggris dan Perantjis — terutama lnggris — bahwa Mesir pada suatu ketika akan mengingkari Konvensi 1888 dan menutup pintu terusan bagi mereka, jang akan berarti putusnja djalan perhubungan Inggris dengan negara-negara commonwealthnja dan putusnja kepentingan minjak mereka di Timur-Tengah.

Kechawatiran Inggris itu dapat kita lihat pula dari perdjandjian Inggris-Mesir 1954, jang menempatkan kembali dalam pasal 8, keten

tuan, bahwa kedua belah pihak akan memegang teguh Konvensi Konstantinopel 1888.

Sesudah Mesir menasionalisir terusan Suez itu pada tanggal 26 Djuli 1956, maka sekaligus Mesir menjatakan, bahwa ia tetap terikat dan memegang teguh perdjandjian Koustantinopel 1888.

Dengan demikian Mesir tidak dapat dipersalahkan melanggar hukum internasional, selama tetap adanja djaminan kebebasan pelajaran diterusan Suez.

Kemampuan Mesir untuk mengusahakan terusan Suez dan mendjamin kebebasan pelajaran telah dibuktikan olehnja.

3. Arti Suez bagi Negara-negara Barat.

Beribu-ribu tahun jang lalu orang sudah mengetahui, bahwa sungai Nil jang mengalir melalui Mesir itu dipergunakan sebagai djalan perdagangan. Mereka menggunakan kapal-kapal untuk mengangkut barang dagangan. Perkembangan peradaban darn djalan pikiran manusia kemudian menimbulkan suatu penemuan untuk memperluas daerah perdagangan hingga kebagian bumi sebelah Timur.

Perkembangan kolonialisme dan pertumbuhan kapitalisme dengan susunan organisasinja jang rapi telah dapat menembus djalan kelaut Hindia dengan menggunting gentingan tanah Suez. Untuk mempertahankan kebesaran dan mendjamin tetap lantjarnja hubungan negara-negara kolonial dengan djadjahannja di India, Asia Tenggara dan Timur Djauh, negara-negara kolonial tersebut memandang terusan Suez sebagai kuntji jang menentukan.

Dalam hubungan inilah kita seharusnja menindjau persengketaan terusan Suez.

Bagi negara-negara Barat, terutama Inggris dan Perantjis, terusan Suez mendjamin kepentingan ekonomi dan strategic pertahanan mereka.

Lalu-lintas diterusan Suez jang dari tahun ke tahun semakin meningkat menundjukkan betapa pentingnja terusan itu bagi negara_negara jang memakainja.

Dari djumlah pemakai, maka Inggrislah jang paling banjak mempergunakan terusan itu.

Tahun 1923 ada 4621 kapal, diantaranja jang 2834 adalah kapal Inggris.

Tahun 1927 ada 5545 kapal, diantaranja jang 3805 adalah kapal Inggris.

Dengan demikian kapal Inggris menundjukkan angka 57,1% dari seluruh pelajaran di terusan Suez. Diantara pengangkutan jang penting ialah supply minjak Timur Tengah untuk negara-negara Eropa Barat.

Oleh karena itu dipandang perlu untuk memberi sedikit gambaran tentang sumber dan produksi minjak di Timur Tengah.

Sumber-sumber minjak di Timur Tengah dapat digolongkan sbb:

a. Sumber-sumber Khuzistan di Iran Barat Daja.

b. Sumber-sumber di Irak Utara — Irak Barat Laut.

c. Sumber-sumber di Saudi Arabia dan sumber-sumber di Teluk Emas Persia.

d. Sumber-sumber Mesir Timur Laut.

Supply minjak ke Eropa Barat.

(dalam djutaan barrel)

th. 1939 th. 1948 th. 1951
Djumlah keperluan Suppliers: 299 345 239
Timur Tengah 70 (23%) 133 (39%) 360 (82%)
Amerika Serikat 88 (30%) 39 (11%) 16 (4%)
Daerah lain didunia barat 141 (47%) 172 (50%) 63 (14%)

Melihat perbandingan-perbandingan diatas, maka teranglah bahwa negara-negara Eropa Barat sangat tergantung kepada Timur Tengah dalam hal kebutuhan minjak.

Djika kebutuhan ini tak dapat dipenuhi, industri-industri di Eropa Barat akan mengalami kemunduran dan dengan demikian lumpuhlah seluruh sendi perekonomian bangsa-bangsa itu.

Keadaan ini telah terbukti ketika terusan Suez tertutup untuk pelajaran. Inggris dan Perantjis mengalami kekurangan minjak hingga kendaraan-kendaraan tidak dapat berdjalan dan terpaksa ditarik dengan kuda.

Oleh karena itu sedjak Kongsi Terusan Suez dinasionalisir oleh Mesir, Inggris dan Perantjis menentang dengan keras.

Mereka takut akan adanja kemungkinan untuk ditutupnja lalu-lintas bagi kapal-kapal mereka dan kemungkinan dinaikkannja tarip biaja lalu-lintas di Suez. Ini semua akan berarti kerugian besar bagi kepentingan minjak di Timur Tengah, sebab bukankah dari seluruh kebutuhan minjak di Eropa Barat 82% dilajani oleh minjak Timur Tengah? Lain dari pada itu Inggris chawatir djika terusan Suez dikuasai oleh Mesir, maka lalu lintas perdagangan Inggris dengan negara-negara Commonwealthnja akan terganggu.

Walaupun Amerika mempunjai sedikit banjak kepentingan minjak di Timur Tengah, tetapi lalu-lintas ke Asia dan Eropa dapat ditempuh melalui dua lautan terbuka jakni Pasifik dan Atlantik. Meskipun demikian Amerika tetap memberikan solidariteitnja kepada Inggris-Perantjis. Sebab penolakan terhadap move Inggris dan Perantjis akan dapat meretakkan hubungan negara-negara Barat sendiri dalam usahanja untuk mengadakan pengepungan total terhadap Rusia.

Disamping kechawatiran terganggunja lalu-lintas perdagangan, maka Inggris-Perantjis djuga chawatir kalau-kalau tindakan nasionalisasi oleh Mesir itu akan merupakan permulaan daripada usaha negara-negara Arab untuk menasionalisir perusahaan asing jang berada di wilajah mereka. Sebab bagian terbesar dari saham-saham minjak tanah di Timur Tengah itu milik negara-negara Barat.

Pada masa ini di Timur Tengah ada beberapa perusahaan minjak tanah jang konsessinja meliputi beberapa negara Barat. Diantaranja perusahaan-perusahaan ini jang terpenting ialah :

a. Anglo Iranian Oil Company (A.I.O.C.) di Iran jang pada tahun 1944 bermodal £ 32.843.752. Saham Pemerintah Inggris 52%.

b. Arabian American Company (Aramco) di Saudi Arabia. Modalnja 100% dari perusahaan Amerika.

c. Bahrein Petroleum Company di Bahrein. Modalnja 100% dari perusahaan Amerika.

d. Kuwait Oil Company di Kuwait. 50% Gulf Oil Company. 50% A.I.O.C.

e. Iraq Petroleum Company (I.P.C.) di Irak. berbagai matjam modal asing.

Selainnja perusahaan-perusahaan tersebut diatas jang mendjalankan pekerdjaan mengeluarkan minjak, ada djuga perusahaan-perusahaan jang mendjalankan pekerdjaan pengangkutan minjak dengan pipa, jakni:

a. Trans Arabian Pipe Line Company. Bagian terbesar modal pcngusaha Amerika.

b. Middle East Pipe Line Ltd. Bagian terbesar modal pengusaha Amerika.

Disamping itu ada djuga perusahaan penjaringan minjak jakni The Mediterranean Refining Company.

Keuntungan jang diperoleh pengusaha-pengusaha itu djauh lebih besar djika dibandingkan dengan padjak penghasilan dan bagian keuuntungan jang masuk ke Kas Negara dimana perusahaan itu berada.

Mengingat betapa besar djumlah modal negara-negara Barat jang ditanam di Timur Tengah dan keuntungan-keuntungan jang diperolehnja, maka mereka selalu berusaha melindungi atau mempertahankan kedudukan jang menguntungkan itu.

Tindakan Mesir untuk menasionalisasikan sebuah Kongsi jang modal-modalnja sebagian terbesar dimiliki oleh negara-negara Barat dianggap suatu tindakan jang membahajakan kedudukan perusahaan asing lainnja di Timur Tengah. Djika Nasser berhasil dalam usahanja menasionalisir Kongsi Suez, maka kedjadian itu dichawatirkan akan merembet kelain-Iain daerah.

Oleh karena itu, walau bagaimana djuga negara-negara jang merasa dirugikan menentang, baik dengan djalan diplomasi, bahkan kalau perlu dengan kekerasan seperti jang sudah kita saksikan.

Selain menjangkut kepentingan ekonomi, Blok Barat, terusan Suez djuga menempati kedudukan jang penting dalam rangka pertahanan Blok Barat. Sedjak bulan Djuni 1956, Inggris telah menarik semua pasukannja di Mesir dan pangkalan terusan Suez. Mulai saat itu ia kehilangan satu mata rantai pokok jang memiliki kedudukan kuntji pertahanan dan penghubung dari pangkalan-pangkalannja jang ter

letak dibagian bumi sebelah Timur dengan bumi bagian sebelah Barat.Bukankah disebelah Timur, Inggris masih memiliki Hongkong, Singapura pangkalan di Ceylon dan Aden?

Sedangkan dibagian bumi sebelah barat Inggris menempatkan armada dan pasukannja di Pulau Cyprus dan Gibraltar. Dengan lepasnja terusan Suez dari kekuasaan pertahanan Inggris, maka dua sajap pertahanan itupun mengalami kelemahan dan dengan demikian ia harus menemukan pengganti untuk mengembalikan kedudukan pertahanannja sebagai semula.

Meskipun Perantjis tidak langsung kehilangan pertahanan diterusan Suez, tetapi solidariteitnja terhadap Inggris disebabkan persamaan nasib sebagai negara kolonial. Untuk menghadapi pergolakan tanah djadjahan terutama di Afrika Utara ia mengharapkan bantuan Inggris sebagai negara jang terdekat. Mesir jang kuat dichawatirkan akan membahajakan kedudukan Perantjis di Aldjazair, dimana ia mempertahankan kekuasaannja.

Oleh karena itu, sedjak Nasser mengumumkan nasionalisasi atas terusan Suez, Inggris segera menjiapkan angkatan perang dan armadanja dilaut Tengah.

Lord Killearn, bekas Duta Besar Inggris di Kairo, menjarankan kepada pemerintah Inggris supaja pemerintah Inggris mengambil tindakan sebagai berikut : ,,Tjara jang dramatis, paling berbahaja tetapi paling tjepat ialah pendudukan kembali Zone Terusan Suez dari mana Inggris setjara memalukan telah diusir itu".

Amerika sendiri sedjak semula sudah ragu-ragu terhadap sikap kekerasan Inggris-Perantjis terhadap Mesir. Hal mana berdasarkan pertimbangan, bahwa tindakan militer akan lebih memerosotkan namanja di Asia Afrika umumnja dan dunia Arab chususnja.

Amerika berpendapat, bahwa dengan akan diadakannja tindakan militer itu tidak memungkinkan lagi menarik Mesir dari pengaruh Rusia.

Amerika mengandjurkan, bahwa satu-satunja alternatip untuk menjelesaikan rnasalah terusan Suez itu ialah dengan djalan diplomasi. Tetapi sikap Amerika ini tidaklah berarti, bahwa ia memihak Mesir

atau negara-negara Arab. Bukan tidak ketjil kemungkinannja djika Amerika berusaha mengganti kedudukan rekan-rekannja di Timur Tengah. Sebab persekutuan-persekutuan militer seperti Pakt Bagdad, jang idenja dipelopori oleh Amerika, akan ketjil artinja djika Rusia dapat menerobosnja dengan menguasai negara-negara Arab jang berpolitik bebas.

Pada hakekatnja suara-suara jang dikeluarkan oleh Amerika disatu pihak dengan Inggris-Perantjis dilain pihak adalah sama. Hanja nada suara itu sadja jang berlainan.

Berlainan dengan kedudukan Amerika Serikat di Korea, Djepang dan Asia Tenggara (Siam dan Philipina) maupun di Eropa, Amerika Serikat tidak mempunjai kedudukan pertahanan dinegara Arab satupun. Walaupun Soviet Uni tidak langsung berbatasan dengan negara-negara Arab tetapi sekurang-kurangnja masih ada perhubungan antara negara-negara Arab dengan Soviet Uni melalui negara-negara terdekat seperti Syria, Libanon dan melalui selat Bosporus.

Oleh karena itu semendjak kegagalan agressi Israel-lnggris dan Perantjis atas Mesir, Amerika Serikat berdaja upaja memulihkan kembali kedudukan Barat di Timur Tengah dalam rangka pertahanan terhadap meluapnja Komunisme.

Usaha ini mendjelma dengan dikeluarkannja rentjana Eisenhower, Presiden Amerika Serikat, atas Timur Tengah. Rentjana ini kemudian terkenal dengan nama ,,doktrin Eisenhower".

Pada pokoknja doktrin ini berisi suatu kekuasaan jang dimiliki oleh Presiden Amerika Serikat untuk mengerahkan angkatan bersendjatanja ke Timur Tengah, apabila daerah itu terantjam oleh agressi bersendjata komunis.

Dengan demikian Amerika sedang mengambil atau sudah mengambil kekuasaan Inggris-Perantjis di Timur Tengah jang sedjak setengah abad jang lalu ditempati oleh mereka.

Dilihat dari sudut kepentingan Blok Barat, maka politik Amerika Serikat itu ialah tetap melingkungi Soviet Uni dengan mata-rantai pertahanan dari Djepang ke Iceland melalui Timur Tengah.

4. Usaha-usaha penjelesaian.

Pada pokoknja usaha penjelesaian suatu persengketaan dapat dilakukan dengan djalan perundingan dan djalan kekerasan.

Entah telah berapa kali manusia selalu mengandjurkan penjelesaian perselisihan setjara damai, tetapi tidak djera-djeranja pula mereka menggunakan kekerasan sendjata sebagai pilihannja.

Piagam P.B.B. djuga mengandjurkan diselesaikannja tiap persoalan dimedja perundingan, demikianlah agar dapat ditjegah meletusnja bahaja perang.

Dalam masalah terusan Suez nampak oleh kita, bahwa sementara sedang ditjari titik-titik pertemuan dengan djalan perundingan, maka Inggris, Perantjis dan Israel tidak sabar lagi mengekang digunakannja politik kekerasan sendjata.

Usaha-usaha penjelesaian sebelum dilantjarkannja agressi Inggris-Perantjis & Israel atas Mesir adalah sebagai berikut :

A. Perundingan 3 Besar Barat di London.

Beberapa hari sesudah diumumkannja nasionalisasi Kongsi Terusan Suez oleh Mesir, maka Inggris-Perantjis dan Amerika Serikat segera mengadakan perundingan di London.

Tindakan Amerika membatalkan pindjamannja kepada Mesir menjebabkan ia harus memikul kewadjiban moril terhadap sekutunja, Inggris-Perantjis. Hal ini ternjata ketika pada tanggal 29 Djuli 1956 perundingan jang diadakan di London tidak mentjapai basil, maka tiba-tiba Presiden Eisenhower mernerintahkan kepada Menteri Luar Negerinja John Foster Dulles, untuk pada tanggal 1 Agustus 1956 terbang ke London.

Tampak didalam perundingan itu perbedaan sikap antara Dulles disatu pihak dengan wakil lnggris-Perantjis dilain pihak.

Sikap lunak Dulles disebabkan oleh:

a. Kepentingan U.S.A. tidak begitu vitaal di Suez.

b. Apabila diambil djalan kekerasan maka Barat sama sekali kehilangan pengaruhnja di Timur Tengah.

c. Apabila petjah perang, maka besar kemungkinan adanja bahaja kerusakan atas sumber minjaknja di Timur Tengah.

d. Berkepentingan untuk mempertahankan perdamaian, sebab pada waktu itu Amerika Serikat sedang menghadapi pemilihan umum.

Sebaliknja sikap Inggris dan Perantjis tetap bersatu untuk djika perlu bertindak dengan kekerasan sendjata.

Keadaan demikian menjebabkan Dulles berusaha keras untuk mentjari djalan tengah (modus) agar tidak terdapat perpetjahan diantara 3 Besar Barat.

Achirnja dapat ditjapai sebuah ,,rantjangan persetudjuan" jang akan diadjukan kepada negara-negara lainnja didalam sebuah Konperensi jang chusus diadakan untuk itu guna disetudjui bersama.

,,Rantjangan Persetudjuan" tersebut berkisar pada politik hendak meng-internasionalisir Terusan Suez.

Jang akan diundang dalam konperensi jang akan diadakan itu ialah negara-negara peserta Konvensi 1888 dan negara-negara lain jang berkepentingan dalam pemakaian terusan Suez.

Pada tanggal 2 Agustus 1956 diumumkan sebuah komunike sebagai hasil dari perundingan 3 Besar Barat sebagai berikut:

a. Mengutuk Mesir, bahwa penasionalisasian adalah sebagai tindakan sewenang-wenang setjara unilateral.

b. Menjatakan sifat internasional dari Suez Canal Company, dan perbuatan Mesir dinjatakan membahajakan kebebasan dan keamanan terusan Suez jang telah didjamin oleh Konvensi 1888.

c. Ketiga negara memandang perlu untuk membentuk ,,kekuasaan internasional" untuk mengusahakan terusan, mendjamin kebebasan pelajaran dan mengatur pembajaran ganti kerugian kepada Kongsi Terusan Suez.

B. Konperensi London I.

Apabila kita melihat negara-negara jang diundang ke Konperensi London oleh 3 Besar Barat, maka konperensi London jang diadakan pada tanggal 16 Agustus 1956 itu dapat kita tafsirkan sebagai usaha Inggris-Perantjis untuk memaksa Mesir menjerahkan terusan Suez kembali dengan bantuan majoriteit negara-negara jang ikut serta.

Sebagai kita ketahui dari 24 negara jang diundang maka 19 negara adalah termasuk negara-negara jang ikut dalam Pakt-pakt Militer Keamanan Bersama Blok Barat. Dengan demikian Blok Barat mengharap akan keluar sebagai majoriteit atas usulnja untuk menginternasionalisasikan terusan Suez. Pembagian negara-negara menurut pandangan politiknja ialah sebagai berikut: I. Negara-negara Persekutuan Atlantik. 1. lnggris. 2. Amerika Serikat. 3. Kanada. 4. Djerman Barat. 5. Nederland. 6. Norwegia. 7. Swedia. 8. Perantjis. 9. Spanjol. 10. Italia. 11. Junani (tak hadir). II. Negara-negara Persekutuan ANZUS. 1. Australia. 2. Selandia Baru. III. Negara-negara Persekutuan Bagdad dan SEATO. 1. Turki. 2. Iran. 3. Pakistan. IV. Negara-negara Kolombo. 1. India. 2. Ceylon. 3. Indonesia. 4. Pakistan. V. Negara-negara lain jang walaupun tidak masuk Pakt Militer Barat, tetapi diharapkan akan berdiri dipihak Barat. 1. Persia. 2. Ethiopia. 3. Djepang. VI. Dua negara jang akan menentang Barat, disamping negara-negara Kolombo ketjuali Pakistan jang telah masuk SEATO. 1. Mesir (Tak hadir) 2. Soviet Unie.

Junani tidak hadir dalam konperensi itu karena ia berkepentingan terhadap sokongan negara-negara Arab dalam masaah pulau Cyprus jang dituntutnja dari lnggris.

Mesir tidak bersedia hadir dalam konperensi, karena ia tidak setudju dengan tudjuan konperensi untuk menginternasionalisasikan terusan

Apalagi djika diingat, bahwa sebelum itu Mesir telah dituduh melanggar hukum internasional dan Inggris-Perantjis mempersiapkan angkatan perangnja. Mesir hanja mengirimkan seorang penindjau jakni Wing Commander Aly Sabri, penasehat politik Presiden Nasser.

Hadirnja negara-negara Kolombo pada Konperensi London merupakan suatu usaha untuk mentjegah tindakan militer Inggris dan Perantjis djika usaha mereka untuk menginternasionalisasikan terusan Suez mengalami kegagalan, sebab apabila timbul persengketaan bersendjata, dimana negara-negara ikut terlibat didalamnja, besar kemungkinan bahan persengketaan tersebut mendjalar mendjadi perang dunia. Lain daripada itu negara-negara Kolombo akan mentjegah keputusan jang sewenang-wenang terhadap Mesir, mengingat bahwa Mesir jang langsung berkepentingan tidak hadir dalam konperensi tersebut.

Berdirinja negara-negara Arab dalam satu front dengan Mesir berarti bahwa setiap tindakan kekerasan sendjata terhadap Mesir akan mekletuskan api peperangan di Timur Tengah.

Sedjak Konperensi dibuka pada tanggal 16 Agustus 1956, sudah nampak adanja dua azas jang berlentangan dan sukar ditjari komprominja. Dua azas jang saling berlawanan itu ialah:
a. Internasionalisme.

Dalam batas-batas pengertian ini maka Kongsi Terusan Suez diangap sebagai sebuah kongsi jang memiliki sifat-sifat universal. Hingga dengan adanja tindakan nasionalisasi pemerintah Mesir dianggap merupakan pelanggaran internasional dan mengingkari djandji-djandji internasional jang berlaku. Oleh karena itu dipandang perlu adanja tindakan pentjabutan terhadap tindakan nasionalisasi dan menempatkan kembali dibawah kekuasaan badan internasional jang akan mengusahakan terusan itu.
b. Nasionalisme.

Dalam batas-batas pengertian ini termasuk mereka jang membenarkan dan mengakui tindakan pemerintah Mesir untuk menasionalisasikan Kongsi Terusan Suez. Nasionalisasi dipandang sebagai tindakan pe

njempurnaan kedaulatan negara Mesir sendiri. Terusan Suez jang ada diwilajah Mesir dan merupakan bagian jang tidak dapat dipisahkan dari Mesir sudah selajaknja ada dibawah penguasaan Mesir, sedangkan pihak luar sama sekali tidak boleh ikut tjampur mengenai hal jang masuk kekuasaan dalam negeri Mesir.

Dengan demikian maka nasionalisasi Kongsi Terusan Suez dianggap sebagai hal jang telah terdjadi, tinggal persoalan mengenai kebebasan pelajaran diterusan itu.

Untuk menembus djalan buntu karena adanja dua azas jang berlawanan tersebut, maka Dulles mengadjukan rentjana usul kompromi jang diharapkan dapat melebur pandangan Barat, Soviet Unie dan negara-negara bebas jang saling bertentangan. Tetapi usul kompromi Dulles itu djuga tidak lepas dari niat hendak menginternasionalisasikan terusan Suez.

Menon, wakil India, djuga mengemukakan usulnja. Dalam usul Menon itu djelas adanja tersimpul suatu keinginan untuk menghapuskan internasionalisasi jang akan dipaksakan Barat kepada Mesir.

Melihat perbandingan kekuatan penjokong dari kedua usul itu, maka Indonesia telah menempuh djalan:

a. Tetap menghindarkan diadakannja pemungutan suara dalam konperensi.

b. Bekerdja sama dengan negara-negara lain untuk menggagalkan usul Dulles.

c. Mengantjam meninggalkan konperensi apabila rentjana Dulles dipaksakan sebagai hasil konperensi.

Mengingat, bahwa beberapa negara hendak meninggalkan sidang apabila diadakan pemungutan suara, maka 18 negara penjokong usul Dulles dalam sidangnja tanggal 23 Agustus 1956 merobah niatnja untuk mendjadikan rentjana Dulles sebagai hasil konperensi.

Negara-negara penjokong rentjana Dulles mengeluarkan sebuah statement dimana mereka mengemukakan akan mengadjukan usul Dulles kepada Mesir, jang akan diwakili oleh sebuah Panitya.

Tjara pengachiran konperensi jang demikian itu ditolak oleh Shepilov, Menteri Luar Negeri Soviet Uni. Dalam keadaan katjau itu, Roeslan Abdulgani — Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, meng

usulkan dikeluarkannja sebuah ,,komunike bersama" jang dimaksud untuk menembus djalan buntu.

Setelah disana-sini kata-kata rentjana ,,komunike bersama" itu mengalami perobahan, maka usul Roeslan Abdulgani tersebut diterima oleh 21 negara, Soviet-Unie menolaknja.

Dengan ditolaknja usul Indonesia, maka Konperensi membitjarakan usul Perantjis jang mengusulkan supaja memberikan tugas kepada Ketua Konperensi untuk menjampaikan kepada pemerintah Mesir seluruh proses verbal dan djalannja perundingan.

Dengan demikian, maka satu-satunja persetudjuan jang ditjapai oleh konperensi, hanja pemberian tugas kepada Konperensi (Selwyn Lloyd dari Inggris) untuk menjampaikan tjatatan-tjatatan lengkap dari konperensi, jang terdiri kurang lebih 150.000 kata dan meliputi ratusan halaman kepada Mesir.

Seperti lazimnja sebuah konperensi akan mengeluarkan keputusan-keputusan, maka konperensi London I mengalami kegagalan, karena tidak tertjapai kata sepakat jang bulat mengenai sebuah resolusi jang dapat didjadikan dasar perundingan dengan pemerintah Mesir.

Diluar persidangan Konperensi, 17 negara penjokong rentjana Dulles mengeluarkan sebuah statement terbentuknja sebuah panitya terdiri dari 5 negara dan bertingkat Menteri, untuk menjampaikan usul Dulles kepada pemerintah Mesir.

Perlu diketahui, bahwa 95;' dari semua kapal jang lewat diterusan Suez adalah milik 17 negara tersebut. Delegasi Panitya Lima Negara diketuai oleh Robert Menzies, Perdana Menteri Australia, Anggauta-anggautanja ialah wakil-wakil dari Amerika Serikat, Swedia, Iran dan Ethiopia.

Disamping rentjana Dulles jang hendak disampaikan kepada Nasser maka negara-negara Indonesia, India dan Rusia dengan sokongan dari Ceylon mengusulkan supaja rentjana Menon dari India djuga disampaikan kepada Nasser.

Pokok-pokok daripada Rentjana Dulles itu ialah:

a. Akan dibentuk sebuah Komisi Internasional jang terdiri dari negara-negara termasuk Mesir untuk memelihara dan mengusahakan terusan Suez.

b. Diberikannja bagian jang adil dari hasil pengusahaan terusan Suez.

c. Diberikannja kompensasi jang adil kepada Kongsi Terusan Suez jang telah dinasionalisasikan Mesir.

d. Disingkirkannja terusan Suez dari soal-soal Politik.

e. Dihormatinja hak kedaulatan Mesir atas terusan Suez.

f. Diurusnja setjara efficient terusan Suez sebagai djalan internasional jang terbuka bagi semua negara baik masa damai maupun masa perang.

Adapun pokok-pokok rentjana Menon ialah sebagai berikut:

a. Penjelenggaraan sebuah konperensi dari para penanda-tangan Konvensi 1888 dan semua negara pemakai terusan Suez untuk mempertimbangkan penindjauan kembali konvensi tersebut.

b. Gabungan kepentingan pemakai internasional dengan badan pengusaha terusan Suez jang sudah dinasionalisasikan Mesir, tanpa merugikan hak milik Mesir dan pengusahaannja atas terusan Suez.

c. Pembentukan sebuah badan penasehat jang terdiri dari negara-negara pemakai terusan, berdasarkan perwakilan dan kepentingan geographies, jang mempunjai fungsi penasehat, konsultatip dan penghubung.

Djelaslah disini, bahwa rentjana Dulles itu tetap berisi prinsip hendak menginternasionalisasikan terusan Suez, karena akan dibentuk sebuah Komisi Internasional jang akan mengusahakan terusan Suez.

Menurut rentjana Menon, maksud badan jang demikian itu hanja sebagai penasehat belaka untuk membantu Mesir.

Panitya Lima Negara jang diketuai oleh Menzies sudah dapat dibajangkan akan mengalami kegagalan. Meskipun Nasser menjatakan bersedia menerima missi itu, tetapi ia tetap tidak bersedia menerima prinsip hendak menginternasionalisir terusan Suez.

Pada hari minggu tanggal 9 September 1956 diadakan pertemuan jang kelima kalinja atau jang terachir antara negara Panitya Lima Negara dengan Presiden Nasser dan anggauta pemerintah Mesir. Missi Menzies mengalami kegagalan karena mereka tidak berhasil membawa Nasser supaja menjetudjui ,,Pengawasan internasional" atas terusan Suez.

Presiden melakukan peranannja dengan penuh kepertjajaan, hal mana karena kuatnja kedudukan Nasser jang antara lain disebabkan oleh:

a. Perpetjahan dinegara-negara Barat sendiri, umpamanja:

— Pembesar-pembesar di Amerika Serikat tetap berusaha menjelesaikan rnasalah Suez dengan djalan damai, walaupun rentjana Dulles gagal.

— Pertentangan paham di Inggris sendiri. Partai Buruh menentang digunakannja kekerasan sendjata.

b. Mesir mendapat sokongan dari negara-negara Asia-Afrika. Untuk pentama kali dalam sedjarah bangsa-bangsa Arab terdjadi pemogokan total diseluruh dunia Arab jakni pada hari pembukaan Konperensi London I tanggal: 16-8-1956.

c. Pidato Kruchov jang menjatakan, bahwa negara-negara Arab tidak akan berdiri sendiri apabila timbul perang.

Dalam menolak rentjana Dulles, Nasser menawarkan rentjana sendiri tentang sistim pengawasan dikemudian hari terhadap terusan Suez. Antara lain rentjana itu ialah sebuah pendapat, supaja diadakan Konperensi jang lebih luas antara negara-negara penanda-tangan Konvensi 1888 serta negara-negara pemakai terusan Suez lainnja.

Konperensi jang demikian itu akan menindjau kembali konvensi 1888 dan memungkinkan ditanda-tanganinja persetudjuan antara semua pemerintah negara-negara tersebut jang akan menegaskan terdjaminnja kebebasan pelajaran diterusan Suez.

Nasser menjatakan bahwa Politik Mesir didasarkan atas:

a. Kebebasan pelajaran melalui terusan Suez, tanpa diskriminasi.

b. Pengembangan terusan Suez guna memenuhi kebutuhan dihari depan.

c. Penetapan beaja transit jang adil.

d. Efficienci tehnis dalam pengusahaan terusan Suez.

Dalam surat Nasser jang terdiri dari 2500 kata jang disampaikan kepada Panitya Lima Negara pada hari achir perundingan, antara lain dinjatakan:

a. Nasionalisasi tidak dapat diganggu-gugat dan tidak dapat diketemukan dimana dan kapan Mesir melanggar kewadjiban-kewadjiban internasional.

b. Meskipun Mesir mengalami tekanan berat jang berupa antjaman penggunaan kekerasan sendjata, blokade ekonomi dan lain-lainnja, tetapi Mesir masih tetap ingin merundingkan suatu penjelesaian setjara damai sesuai dengan piagam P.B.B.

c. Lalu-lintas diterusan Suez tidak mendapat rintangan sedjak Mesir mengopernja. Lalu-lintas berdjalan dengan sempurna.

d. Setiap usaha untuk memaksakan sistim, seperti jang terdapat dalam rentjana Dulles jang disetudjui oleh 17 negara, merupakan tanda timbulnja keadaan perang dan akan memasukkan Suez dalam kantjah pertentangan politik sendiri. Padahal dalam rentjana Dulles termasuk ketentuan supaja terusan Suez dipisahkan dari Politik.

C. Konperensi London II.

Beberapa hari setelah kegagalan Missi Menzies, maka Perdana Menteri Inggris, Eden, dalam pidatonja dimadjelis rendah mengumumkan akan dibentuknja suatu organisasi pemakai-pemakai terusan Suez dengan persetudjuan Perantjis dan Amerika Serikat.

Organisasi itu dinamakan ,,Perhimpunan Pemakai Terusan Suez" jang akan meliputi negara-negara utama pemakai terusan tersebut. Maksud perhimpunan itu ialah untuk memungkinkan pemakai-pemakai terusan Suez mendjalankan hak-haknja mengoper pengusahaan terusan itu. Tetapi Eden tidak menegaskan, bagaimana tjaranja untuk memaksakan kepada Mesir, supaja menerima organisasi tersebut.

Eden telah mendapat votum kepertjajaan dari parlemen berhubung dengan maksudnja untuk membentuk Perhimpunan Pemakai Terusan Suez. Apabila Mesir menolak kapal-kapal dari perhimpunan itu, maka Inggris akan mengadjukannja kepada P.B.B. dan menuduh Mesir melanggar Konvensi 1888. Sedjak saat itu sudah makin djelas sikap keras Eden jakni menolak untuk tidak memakai kekerasan sendjata sebagai djalan terachir, apabila Mesir menolak dan menutup terusan dari kapal-kapal Perhimpunan.

3 Besar Barat, Inggris-Perantjis-Amerika Serikat, sibuk memberikan pendjelasan-pendjelasan kepada negara-negara penjokong ren-

tjana Dulles jang telah gagal itu, supaja dapat hadir dalam konperensi London ke-II jang akan membitjarakan idee pembentukan Perhimpunan Pemakai Terusan Suez.

Undangan 3 Besar Barat itu diterima oleh 15 negara pendukung rentjana Dulles, dan pada hari Rabu tanggal 19 September 1956 dimulailah Konperensi London ke-II.

Sidang dibuka dengan mendengarkan Iaporan Panitya Lima Negara jang telah gagal dalam usahanja itu.

Setelah itu, Dulles, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, mendjelaskan rentjana pembentukan Perhimpunan Pemakai Terusan Suez mengenai susunan badan tersebut dan tjara-tjara pelaksanaannja. Ternjata, bahwa tidak semua negara bulat dibelakang Dulles, Pakistan menentangnja dan beberapa negara belum dapat mengambil keputusan. Ada pula jang tidak mengemukakan sikapnja.

Pendirian Amerika Serikat dapat digambarkan sebagai berikut: Sebuah kapal jang akan melalui terusan Suez, supaja terlebilh dahulu pergi ke administrasi Perhimpunan Pemakai Terusan Suez untuk menjatakan, bahwa ia akan melalui terusan Suez dan akan membajay beajanja kepada perhimpunan djadi bukan kepada Badan Penguasa Mesir. Agen administrasi Perhimpunan kemudian pergi ke Badan Penguasa Terusan Mesir dan menjatakan, baihwa ada kapal jang akan melalui terusan, Oleh karena beajanja sudah dibajarkan kepada Perhimpunan Pemakai Terusan Suez, maka Badan Penguasa Mesir hanja akan diberi sebagian jang lajak, Untuk membimbing kapal-kapal disepandjang terusan, Perhimpunan Pemakai Terusan Suez akan menggunakan mualimnja sendiri.

Sudah barang tentu tjara-tjara demikian itu tidak disetudjui Mesir. Seperti jang dinjatakan oleh Nasser, bahwa perundingarr tentang Suez harus bersama-sama dengan Mesir, dan bukannja perundingan jang disiapkan oleh Barat dengan organisasi mereka untuk memaksakan suatu perdjandjian kepada Mesir, baik dengan djalan kekerasan maupun tekanan ekonomi. Nasser pertjaja, bahwa tekanan demikian itu tidak akan berhasil, seperti jang pernah didjalankan kepada Jendral Franco.

Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani menjatakan didalam konperensi persnja di Wina, bahwa beliau merasa pessimistis tentang rentjana pembentukan Perhimpunan Pemakai Terusan Suez.

Konperensi London ke-11 berachir, meskipun pembentukan Perhimpunan Pemakai Terusan Suez belum dapat direalisasikan.

Pada tanggal 22 September 1956 Inggris dengan resmi telah menjampaikan undangan kepada 17 negara pengikut Konperensi London ke-11 supaja hadir dalam konperensi jang akan diadakan pada tanggal 1 Oktober 1956 di London. Konperensi 1 Oktober 1956 dimaksudkan untuk membentuk organisasi jang direntjanakan 3 Besar Barat.

Kalau dalam Konperensi London ke-II djumlah jang hadir ada 18 negara, maka dalam konperensi London 1 Oktober 1956 hanja 15 negara, termasuk 3 Besar Barat. Tiga negara jang lain datang sebagai penindjau. Mereka datang untuk meresmikan pembentukan ,,Himpunan Pemakai Terusan Suez".

Ikatan Pemakai Terusan Suez itu kemudian terdiri dari 15 negara anggauta. Panitya Pelaksananja terdiri dari 7 negara, kemungkinan besar ialah Inggris, Perantjis, Amerika, Norwegia, Iran, Italia dan ketudjuh mungkin salah satu diantara ketiga penindjau jakni Ethiopia, Djepang dan Pakistan, apabila diantara mereka ada jang memutuskan untuk menggabungkan diri dengan Perhimpunan.

Perhimpunan Pemakai Terusan Suez mempunjai 3 organ jakni:

1. Sebuah Dewan 2. Panitya Pelaksana 3. Seorang administrator.

Dalam perkembangan selandjutnja kita telah menjaksikan, bahwa organisasi tjiptaan Barat tersebut telah mengalami keguguran sebelum Iahir. Belum pernalh ada kapal-kapal Perhimpunan jang mentjoba melewati terusan menurut rentjana jang semula ditjitatji takan.

D. Masalah Suez di Dewan Keamanan

Sebelum Dewan, Keamanan P.B.B. membitjarakan masalah Suez, Inggris telah berusaha menjesuaikan politiknja dengan Amerika Serikat mengenai terusan Suez.

Letak perbedaan ialah:

a. Amerika Serikat menganggap Inggris dan Perantjis terlampau tergesa-gesa mengadjukan masalah Suez di Dewan Keamanan.

Dulles telah menjarankan dalam Konperensi London ke-II, bahwa duadjukannja masalah Suez ke Dewan Keamanan supaja setelah terbentuknja Ikatan Pemakai Terusan Suez.

b. Alasan Inggris dan Perantjis untuk tjepat-tjepat mengadjukan ke dewan Keamanan, karena chawatir didahului oleh Mesir. Sebab Mesir selalu menjampaikan keluhan-keluhan kepada Dewan Keamanan, bahwa Inggris-Perantjis mengantjam keamanan dan perdamaian.

Mesir sudah bersiap-siap menghadapi perdebatan di Dewan Keamanan. Ketika Konperensi London 1 Oktober 1956 dibuka, maka pada tanggal itu djuga berangkatlah delegasi Mesir ke P.B.B. Delegasi itu dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Mesir, Mahmud Fawzi dennan anggauta-anggautanja Wing Commander Alwy Sabri dan wakil tetap Mesir di P.B.B.

Delgasi Mesir itu mendapat instruksi/perintah dari Presiden Nasser sebagai berikut: a. Mcnolak setiap resolusi jang hendak menempatkan Suez dibawah pengawasan internasional. b. Menentang setiap pertjobaan Inggris-Perantjis untuk memperoleh sokongan di Dewan Keamanan. c. Tetap membuka pintu perundingan berdasar prinsip bahwa Mesir adalah pemilik dan pengawas terusan Suez.

Sebaliknja Inggris dan Perantjis menjiapkan sebuah resolusi jang berisikan: a. Seruan untuk mendukung usul-usul Konperensi London tentang ditempatkannja terusan Suez dibawah pengawasan internasional. b. Meniadakan tindakan penasionalisasian oleh Mesir.

Sidang Dewan Keamanan untuk membitjarakan masalah Suez dimulai pada tanggal 5 Oktober 1956.

Inggris dan Perantjis mengadjukan sebuah usul resolusi jang terdiri dari 5 pokok, sebagai berikut:

a. Menegaskan prinsip kebebasan pelajaran sesuai dengan Konvensi 1888.

b. Menegaskan, bahwa perlu sekali dilindungi hak-hak dan djaminan-djaminan jang dimiliki oleh segala pemakai terusan Suez - menurut sistim jang mendjadi dasar Konvensi 1888 - artinja terusan Suez harus diurus oleh ,,suatu keseluruhan jang mempunjai sifat internasional".

c. Menjetudjui tindakan 18 negara dalam konperensi London pertama mengenai terusan Suez jang dimaksud untuk mentjapai penjelesaian setjara damai jang sesuai dengan keadilan.

d. Mengandjurkan kepada Pemerintah Mesir, supaja berunding atas dasar usul-usul ini dan dengan demikian bekerdja sama dalam susunan sebuah sistim jang effektip untuk mengurus terusan Suez.

e. Mengandjurkan kepada Pemerintah Mesir, supaja sementara ini bekerdja sama dengan Perhimpunan Terusan Suez (Suez Canal User's Association).

Mesir menolak usul resolusi Inggris-Perantjis ini, ketjuali pokok pertama jang menghendaki ,,pengakuan prinsip kebebasan pelajaran, sesuai dengan Konvensi 1888".

Untuk menembus djalan buntu, maka berkali-kali atas kegiatan Sekretaris Djenderal P.B.B. Dag Hammarskjold, diadakan perundingan rahasia antara Menteri-menteri Luar Negeri lnggris, Perantjis dan Mesir dibawah pengawasan Dag Hammarskjold.

Dag Hammarskjold mengadjukan 6 pokok sebagai dasar untuk penjelesaian masalah Suez, sebagai berikut:

a. Harus ada pelajaran bebas dan terbuka melalui terusan Suez, dengan tidak boleh dilakukan diskriminasi baik setjara terang-terangan maupun tersembunji.

b. Kedaulatan Mesir akan dihormati.

c. Tjara penetapan bea akan ditentukan berdasarkan persetudjuan antara Mesir dengan pemakai terusan.

d. Pengerdjaan terusan Suez harus dipisahkan dari politik suatu negara.

e. Bagian jang lajak dari penghasilan bea terusan harus diperuntukkan bagi perkembangan terusan.

f. Djika ada sesuatu hal jang tidak ditjapai persetudjuannja antara Kongsi dengan pemerintah Mesir, maka hal itu harus diselesaikan dengan djalan arbitrage dengan sjarat-sjarat jang patut mengenai aturan pembajaran (kerugian?) jang akan dilakukan.

Inggris dan Perantjis telah merobah resolusinja dan menjetudjui 6. pokok jang dikemukakan oleh Dag Hammarskjold. Demikian djuga halnja dengan Mesir.

Dengan demikian jang disetudjui oleh Dewan Keamanan ialah sebuah resolusi Inggris-Perantjis jang menjokong 6 prinsip jang telah ditjapai persetudjuannja pada hari Djum'at tanggal 12 Oktober 1965 oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Perantjis dan Mesir.

Seluruh dunia pada waktu itu merasa lega, karena mendung peperangan tampaknja mulai berarak lenjap dan menunggu datangnja saat perundingan antara Mesir, lnggris, Perantjis jang menurut rentjana akan segera diadakan di Geneva. Tetapi apakah jang terdjadi? Pada tanggal 29 Oktober 1956 Israel tidak hanja melanggar perbatasan Mesir, tetapi setjara tergesa-gesa memasuki beberapa puluh mil didalam wilajah Mesir menudju terusan Suez. Keadaan ini digunakan oleh lnggris-Perantjis sebaik-baiknja dengan djalan bersama-sama antara Israel, lnggris dan Perantjis melakukan agressi terhadap kedaulatan Mesir.

---------

1. Intrigue lnggris-Perantjis dan Israel.

APABILA kita bertanja apa sebabnja perdamaian di Timur Tengah sukar dipulihkan, maka hal itu ialah karena fihak negara-negara Arab memandang Israel sebagai kangker ditubuhnja, dan merupakan sumber dari segala pertikaian. Menurut pendapat mereka salah satu djalan jang terbaik ialah mengisolir negara itu dan pada kesempatan jang baik melenjapkannja.

Didalam pertentangan tersebut Republik Mesir memegang peranan jang utama dan berusaha dengan keras memperkuat angkatan perangnja dengan persendjataan-persendjataan modern untuk dapat mengatasi persendjataan angkatan perang Israel. Sebaliknja Israel merasa dirinja terdjepit ditengah-tengah negara-negara Arab jang penduduknja 40 djuta dan bersikap memusuhinja. Kelangsungan hidup negeri itu hanja tergantung dari kekuatan militernja. Selain itu berhubung kesulitan ekonominja, dengan makin bertambahnja penduduk imigran, Israel kekurangan tanah pertanian. Untuk perkembangan perekonomiannja dikemudian hari, Israel membutuhkan semenandjung Sinai dan suatu djalan lalu-lintas pelajaran jang dapat menghubungkan Asia. Untuk keperluan pelajaran tersebut tadi, maka Israel menghendaki kebebasan lalu-lintas di Suez dan keamanan pelajaran diteluk Aqaba.

Berhubung dengan adanja keinginan-keinginan itu maka sekarang kita dapat mengetahui mengapa Israel dapat digunakan oleh Inggris-Perantjis, supaja menjerang Mesir. Adanja serangan Israel terhadap Mesir jang menudju terusan Suez memberikan alasan bagi Inggris-Perantjis untuk menduduki terusan itu kembali. Sebelum Israel mendjalankan agressinja ke Mesir, mula-mula Israel mentjari alasan untuk dapat berperang dengan Mesir melalui insiden dengan Jordania.

Di Lokasi Batalion ,,Garuda" di Mesir.

Sebagaimana diketahui, beberapa hari sebelum terdjadi serangan Israel kewilayah Mesir, terdjadi insiden perbatasan dengan Jordania. Tentara Israel menjerbu melampaui garis gentjatan sendjata ke Jordania, sehingga Jordania mengadukan tindakan Israel itu ke Dewan Keamanan. Israel bermaksud menduduki sungai Jordan jang memandjang dari danau Tibris sampai Laut Mati. Dengan adanja agressi Israel ke Jordania, maka Israel mengharapkan agar supaja Mesir bertindak dan menjerbu kewilajah Israel. Tindakan Mesir itu diharapkan, karena pada tanggal 24 Oktober 1956 telah diadakan persetudjuan kesatuan komando militer antara Mesir, Syria dan Jordania. Ketiga angkatan perang negara-negara tersebut ditempatkan dibawah Djenderal Abdul Hakim Amer dari Mesir.

Serangan Israel ke Jordania sebenarnja untuk memantjing Mesir, supaya Djenderal Amer bertindak menggempur Israel. Dengan tindakan itu, maka tentara Israel jang sudah siap diperbatasan Mesir akan mempunjai alasan untuk segera menjerbu ke Gaza dan semenandjung Sinai seluruhnja, dengan tjepat terus menudju ke terusan Suez. Inggris-Perantjis kemudian dapat bertindak menduduki terusan Suez kembali, apabila nanti Israel telah mendekati terusan tersebut. Alasan jang dikeluarkan ialah bahaja kerusakan jang mengantjam terusan Suez dengan adanja perang Israel-Mesir, dan sesuai dengan isi perdjandjian Inggris-Mesir 1954, Inggris menjatakan berhak menduduki terusan Suez kembali.

Tetapi adanja insiden perbatasan Israel-Jordan dan penjerbuan Israel melampaui garis gentjatan sendjata, ternjata Mesir tidak bertindak menjerang Israel.

Israel kiranja tidak dapat menunggu lebih lama lagi dan achirnja tentara Israel jang telah siap sedia diperbatasan Mesir melampaui garis gentjatan sendjata menjerbu kewilajah Mesir pada tanggal 29 Oktober 1956.

Apabila kita periksa alasan-alasan Israel untuk menjerbu Mesir, makan sebenarnja alasan-alasan itu hanja ditjari-tjari sadja untuk membenarkan tindakan agressinja. Sebagai alasan penjerbuan Israel Menteri Luar Negeri Golde Meyer antara lain menjatakan:

a. Israel selalu menderita akibat serangan Fedajeen Mesir jang bersarang didaerah Sinai. Serangan itu makin lama makin menghebat. b. Mesir selalu mengantjam akan menghantjurkan Israel.
c. Mesir tetap melarang kapal-kapal Israel melalui Suez dan menahan kapal-kapal itu apabila melalui terusan tersebut.
d. Mesir mendjalankan boikot ekonorni terhadap Israel.
e. Mesir memelopori perdjandjian tentang kesatuan komando militer tiga negara jang merupakan antjaman terhadap kemerdekaan Israel.

Mendjelang tanggal 29 Oktober 1956, Israel telah mendjalankan Mobilisasi umum setjara sepihak, dan memusatkan pasukan-pasukannja serta batalion-batalion tjadangannja disepandjang garis Demarkasi, siap untuk mendjalankan operasi Militer kewilajah Mesir. Melihat adanja persiapan-persiapan itu, Presiden Eisenhower dari Amerika Serikat lalu menjampaikan pesan kepada Perdana Menteri Ben Gurion untuk mentjegah tindakan-tindakan jang dapat membahajakan perdamaian. Tetapi rupa-rupanja pesan itu tidak didengarkan lagi dan Israel tetap akan mendjalankan rentjana-rentjananja jang semula. Pada tanggal 29 Oktober pasukan-pasukan Israel melintasi garis Demarkasi memasuki daerah Mesir dipadang pasir Sinai, menjerang kota Kuntilla dan daerah Ras-el-Nakeb.

Dengan adanja serangan Israel jang dengan tjepat mendjalankan operasinja untuk membuka djalan menudju Suez, maka Menteri Luar Negeri Perantjis Christian Pineau, terbang ke London untuk membitjarakan situasi Timur Tengah dengan Anthony Eden. Pada tanggal 30 Oktober 1956, mengeluarkan ultimatum kepada Mesir dan Israel jang menuntut:

a. Pertempuran dan segala gerakan tentara baik dilautan maupun didarat supaja segera dihentikan.
b. Kedua pasukan supaja ditarik 10 mil djauhnja dari terusan Suez.
c. Djawaban terhadap ultimatum itu harus diberikan dalam waktu 12 djam.
d. Apabila ultimatum itu tidak dipenuhi maka Inggris-Perantjis akan bertindak menduduki Port-Said, Ismailia dan Suez.

Ultimatum itu dikeluarkan pada tanggal 30 Oktober djam 18.00 (waktu Cairo) dan berlaku untuk 12 djam, djadi habis berlakunja ultimatum tersebut tanggal 31 Oktober djam 6.00.

Malam itu djuga Mesir menjatakan menolak ultimatum Inggris-Perantjis. Djawaban penolakan tersebut djuga disampaikan kepada

Duta-duta Amerika Serikat, India, Rusia, Yugoslavia, dan Indonesia

agar segera diteruskan kepada pemerintahnja masing-masing. Dengan adanja ultimatum itu maka sekarang Mesir menghadapi dua front, jakni front Sinai untuk menahan pasukan-pasukan penjerbu Israel dan front Suez di Port Said, Ismailia, Port Fuad, untuk menangkis pendaratan pasukan-pasukan Inggris-Perantjis.

Pada tanggal 31 Oktober djam 6 sore Inggris mulai serangan-serangan udaranja, sedangkan pasukan-pasukan daratnja mulai diangkut dari Cyprus dengan kapal-kapal perang.

Berhubung dengan serangan-serangan Inggris-Perantjis dan penarikan pasukan-pasukan Mesir dari sektor padang pasir Sinai kedaerah terusan Suez untuk mempertahankan terusan ini dari serbuan lnggris-Perantjis, maka kedudukan Israel difront Sinai mendjadi kuat.

Pasukan-pasukan pelopor Israel jang menjerbu mula-mula mendapat pukulan hebat dari pasukan-pasukan berani mati Mesir, sekarang mengalami kemadjuan dengan tjepat diseluruh front Sinai.

Pada tanggal 4 Nopember 1956 satuan-satuan pasukan Israel telah mentjapai garis ultimatum Inggris-Perantjis jang 10 mil djaraknja dari terusan Suez. Selain itu Israel telah berhasil dengan sempurna untuk menurunkan pasukan-pasukan pajungnja jang kemudian merupakan daerah ,,kantong-kantong"nja sepandjang semenandjung Sinai, dimana pasukan-pasukan Mesir jang telah bertjerai-berai itu tetap memberikan perlawanan terhadap pasukan Israel. Pulau-pulau Tiran dan Senabahir jang terletak disebelah Barat Daja Artur direbutnja pula. Dari pulau-pulau inilah meriam-meriam Mesir menembaki kapal-kapal Israel jang bergerak melalui teluk Aqaba menudju kepelabuhan Eilath. Dengan djatuhnja pulau itu maka keamanan pelajaran diteluk Aqaba bagi Israel dapat terdjamin. Pada hari berikutnja Villa Artur ditepi Barat gurun Sinai diduduki tentara Israel. Dengan demikian maka sekarang Israel berhasil menduduki sepenuhnja semenandjung Sinai.

Pasukan-pasukan Israel boleh dikata hampir tidak mendjumpai perlawanan jang kuat, karena sebenarnja induk pasukan Mesir telah diperintahkan Nasser supaja ditarik kedaerah terusan Suez untuk mempertahankan daerah itu terhadap pasukan-pasukan penjerbu lnggris-Perantjis. Dengan demikian jang tinggal di Sinai kebanjakan hanja pasukan-pasukan Fedajeen sadja dengan dibantu oleh beberapa

pasukan lainnja. Sementara itu pasukan-pasukan Fedajeen Syria mulai beraksi meletuskan pipa-pipa minjak kongsi Anglo Iraq Oil Company, jang melintasi daerah Syria.

Sedjalan dengan djatuhnja Sinai, pada tanggal 4 Nopember kesatuan-kesatuan angkatan laut Inggris mulai gerakannja menudju Suez dan mulai dengan pemboman dengan meriam untuk melindungi pasukan-pasukannja jang akan didaratkan nanti. Pada tanggal 6 Nopember pasukan-pasukan Inggris-Perantjis mulai diberangkatkan dari Cyprus, sehingga pada tanggal 7 Nopember Mesir mengalami serangan jang besar-besaran. Angkatan udara sekutu mengadakan penjerangan terhadap semua instalasi radar, meriam-meriam pertahanan pantai dan meriam-meriam penangkis pesawat udara disamping pemboman dari kapal-kapal perang jang terus-menerus. Port Said mengalami pemboman jang paling hebat, sebagai persiapan untuk menurunkan pasukan-pasukan pajung Inggris-Perantjis. Pada hari selasa tanggal 6 pasukan-pasukan pajung telah berhasil mendarat di Port Said. Komandan pasukan Inggris meminta kepada komandan pasukan Mesir di Port Said untuk menjerah.

Tetapi sjarat-sjarat penjerahan jang ditawarkan semuanja ditolak.

Inggris-Perantjis mulai dengan serangan-serangan kembali dan mulai mendaratkan Brigade Komando Inggris jang terkenal itu di Port-Said, untuk membantu pasukan-pasukan pajung jang telah diturunkan. Pendaratan Komando Brigade segera di-ikuti pendaratan pasukan-pasukan dari Laut. Angkatan Perang Mesir, Polisi dan penduduk melakukan perlawanan mati-matian dari rumah-kerumah dan disepandjang djalan terdjadi pertempuran jang hebat. Inggris-Perantjis mengadakan pemboman terhadap kota Port-Said dengan membabibuta dengan tidak membedakan lagi apakah itu instalasi militer atau rumah-rumah penduduk biasa.

Korban manusia preman, laki-laki, perempuan, anak-anak bergelimpangan dibawah tumpukan puing-puing reruntuhan rumah.

Selandjutnja pada hari itu Perantjis mengumumkan bahwa pasukan pajung Perantjis jang dibantu pasukan pajung Inggris telah berhasil merebut Port-Fuad. Dalam pada itu Madjelis Umum P.B.B. tidak tinggal diam dan pada tanggal 2-11-'56 telah mengeluarkan perintahnja untuk mengadakan pemberhentian tembak-menembak.

Pada tanggal 7 Nopember 1956 Inggris dengan resmi memberi tahukan kepada P.B.B. bahwa ia menerima suatu gentjatan sendjata. Kepada pasukan Inggris dan Perantjis di Timur-Tengah akan diperintahkan untuk memberhentikan tembak-menembak, tetapi sementara itu pasukan Inggris-Perantjis terus bergerak dan berhasil menguasai Port-Said dan beberapa tempat di Port-Fuad dan Ismailia.

Selain itu Israel djuga memberitahukan kepada P.B.B. pada hari Selasa malam tanggal 6-11-'56 bahwa Israel menerima baik tanpa sjarat seruan madjelis umum P.B.B. dan menjatakan pula, bahwa pertempuran Israel — Mesir sudah diachiri sedjak hari Senin pagi tanggal 5-11-'56. Demikianlah djalannja pertempuran di Mesir sampai saat adanja seruan pemberhentian tembak-menembak dari Madjelis Umum P.B.B., pada tanggal 7-11-'56.

Inggris-Perantjis didalam usahanja untuk mentjapai maksudnja masing-masing tidak segan-segan untuk mendjalankan agressinja dan mengingkari ketentuan-ketentuan jang terdapat dalam piagam P.B.B. Inggris-Perantjis dan Israel setelah berhasil menduduki tempat-tempat jang penting baru menjatakan mau menerima seruan gentjatan sendjata dari P.B.B. Dengan tindakan militer itu Inggris-Perantjis sebenarnja mengharapkan supaja ada pemberontakan terhadap regiem Nasser. Dari penggantinja mereka mengharapkan adanja sikap jang lunak terhadap masalah Suez, dan sedia menerima internasionalisasi terusan itu. Sebaliknja Israel tentu mengharapkan upah dari djerih pajahnja jakni Gaza, kebebasan pelajaran diterusan Suez, dan keamanan pelajaran diteluk Aqaba.

Para pembatja jang kritis setelah mengikuti djalannja operasi militer Israel di Gaza dan Sinai, jang dalam waktu 7 hari telah dapat menguasai daerah itu sepenuhnja tentu akan menanjakan bagaimana hal itu dapat terdjadi. Padahal persendjataan Mesir dengan adanja pembelian sendjata ke Blok Rusia adalah kuat sekali. Sebagai tambahan pengetahuan perlulah kiranja kita mengetahui sekedar persendjataan dari kedua belah pihak.

Menurut penjelidikan dari kalangan resmi di Inggris, sendjata jang diterima Mesir dari Blok Rusia kira-kira meliputi djumlah seharga $ 420 djuta. Matjam sendjata tersebut adalah sebagai berikut:

50 Illyshin jet-bombers, 100 MIG penempur, 300 tank berat dan menengah, 100 kendaraan berlapis badja, 500 meriam anti pesawat terbang, ribuan bazooka dan meriam rocket, 2 kapal pemburu dan 20 kapal pemburu torpedo.

Untuk dapat menggunakan perlengkapan tersebut digunakan instruktir dan ahli tehnik Rusia -+ 1000 orang. Selain iἺtu Mesir masih mempunjai alat persendjataan lain jaitu 150 - 200 tank-tank Valentine dan 150 tank Sherman, 32 tank Centurion Mark II, 40 tank ringan buatan Perantjis, meriam anti tank 17 pounder buatan Inggris dan 80 buah pesawat pemburu Meteor dan Vampire.

Djumlah angkatan perang Mesir kira-kira 100.000 orang dan hampir setengahnja dari djumlah pasukan itu dikonsentrir di Sinai dan Gaza, jang terdiri dari 4 divisi, jaitu:

Divisi ke-2, ke-3, ke-6 dan ke-8 beserta kesatuan-kesatuan pembantunja. Kemudian Divisi ke-2 dan ke-3 ditarik dan diganti dengan brigade bermotor dan lapis badja. Selain itu ditempatkan pula brigade berani mati Fedajeen, brigade tjampuran infanteri dan artileri, 4 batalion pendjaga perbatasan (borderguard), 4 batalion nasional guard dan 20 batalion artileri dan units pembantu-pembantunja. Alat-alat perlengkapan perang tjukup untuk mempersendjatai 9 divisi infanteri dan 6 brigade berlapis badja. Di Gaza dan Sinai ditempatkan tidak kurang dari 42000 serdadu dan opsir. Melihat kekuatan persendjataan Mesir sebagai negara ketjil sudah tjukup kuat untuk menahan setiap serangan dari Israel.

Sebaliknja kekuatan Israel adalah sebagai berikut. Apabila diadakan mobilisasi setjara umum (Israel telah memobilisir tentaranja mendjelang 29 Oktober '56) angkatan perang Israel akan berdjumlah kirakira 250.000 orang. Kendaraan-kendaraan berlapis badja terdiri dari tank-tank MX-13 buatan Perantjis dengan meriam 75 mm dan tank-tank Sherman. Artilerinja terdiri dari meriam 6 pounder dan 17 pounder anti tank, meriam-meriam biasa 105 mm dan 155 mm, anti guided missiles (SS 10) buatan Perantjis. Angkatan udaranja terdiri dari dua squadron pesawat Meteor dan pesawat Mustang P-51, 24 pesawat

jet Meteor dan pesawat-pesawat Curagan buatan Perantjis 24 pesawat jet Sabre dari Canada. Untuk mengangkut parachutis ada satu squadron C-47 dan pesawat-pesawat pelempar born lainnja jang tidak djelas djumlahnja, Flying Fortress dan pelempar born ringan Musquito.

Dengan adanja konsentrasi angkatan perang Mesir di Gaza dan Sinai, memang pada hari-hari pertama pasukan-pasukan pelopor Israel jang menjerbu mendapat pukulan-pukulan jang keras dari tentara Mesir dan sukar sekali mentjapai kemadjuan. Kemudian berhubung adanja ultimatum Inggris-Perantjis, Nasser memerintahkan untuk memindahkan pasukan-pasukan jang berada di Sinai dan Gaza beserta kesatuan-kesatuan berlapis badjanja kedaerah Suez. Menghadapi penjerbuan gerak tjepat Inggris-Perantjis dan pengedjaran pasukan-pasukan gerak tjepat Israel di Sinai dan Gaza, menjebabkan pertahanan Mesir mendjadi kalang kabut. Dengan tjepat maka Israel dapat melantjarkan operasinja dengan mudah disemenandjung Sinai dan dapat mentjapai djarak 10 mil dari terusan Suez.

Nasser bertindak dan menjerukan kepada seluruh dunia untuk membantu Mesir dengan tentara suka-rela guna menghalau kaum agressi Inggris-Perantjis-Israel.

Dari berbagai negara mengalir permintaan untuk mendjadi tentara suka-rela Mesir.

Sebagaimana kita ketahui dinegeri kita sendiri terdapat pula adanja kesibukan pendaftaran pasukan tersebut jang mendapat sambutan jang hangat dari rakjat Indonesia. Rusia sedia mengirim pasukan sukarela dan R.R.T. mengumumkan sudah siap sedia pasukan suka-relanja tinggal menanti saat pemberangkatannja. Pada tanggal 5 Nopember 1956 Rusia mengeluarkan antjaman kepada Inggris dan Perantjis akan mengadakan penembakan roket apabila tidak segera menghentikan agressinja. Sebaliknja panglima NATO Djenderal Alfred Grunter membalas antjaman Rusia dengan antjaman bahwa Barat akan membalas pula dengan serangan terhadap Rusia. Djadi bahaja perang dunia mengantjam apabila tidak segera tertjapai gentjatan sendjata di Mesir, karena Nasser tentu segera akan minta datangnja tentara suka-rela R.R.T. dan Rusia. Apabila hal itu terdjadi maka situasi akan mendjadi kalut lagi dan bahaja perang dunia tidak akan dapat terhindar lagi.

Perimbangan kekuatan tersebut diatas itu dan terlibatnja Kekuatan-kekuatan lain baik langsung atau tidak mungkin dapat mengakibatkan meletusnja perang dunia, hal itu kiranja jang mendorong adanja gerakan perdamaian dan diterimanja seruan gentjatan sendjata.

Bagaimana sikap Amerika Serikat. Dalam hal ini Amerika Serikat memegang peranan penting, karena perdamaian sangat tergantung dari sikapnja.

Setelah penjelesaian agressi Israel dan ultimatum Inggris-Perantjis kepada Mesir mengalami kegagalan di Dewan Keamanan, wakil Amerika setelah memperbaiki resolusinja jang diveto Inggris-Perantjis di D.K., mengadjukan resolusinja kembali di Sidang Istimewa Madjelis Umum P.B.B. Pada tanggal 2 Nopember resolusi Amerika Serikat diterima sidang dengan suara 64 setudju, 6 blanko dan 5 menentang. Israel, Inggris dan Perantjis menolak resolusi tersebut, sehingga pertempuran-pertempuran berdjalan terus.

Untuk menghentikan pertempuran dan guna mengamat-amati pemberhentian permusuhan, sesuai dengan isi resolusi Amerika Serikat jang telah diterima P.B.B. tanggal 2 Nopember 1956, maka Kanada mengusulkan pembentukan Polisi P.B.B. pada tanggal 4 Nopember 1956. Masalah gerakan perdamaian, usaha-usaha D.K. dan Madjelis Umum P.B.B. lebih landjut dalam usahanja untuk menghentikan agressi Inggris-Perantjis-Israel serta terbentuknja Pasukan Polisi P.B.B. untuk menjelesaikan masalah itu akan kita bitjarakan setjara chusus.

2. Sikap Indonesia dan negara-negara Kolombo.

Sedjak semula Indonesia telah merasa chawatir terhadap adanja persiapan-persiapan militer oleh Inggris dan Perantjis.

Dalam hubungan ini ,,Pengumuman Pemerintah" jang dikeluarkan pada tanggal 7 Agustus 1956 menjatakan sebagai berikut:

,,......... Indonesia merasa perlu menjatakan kechawatirannja terhadap adanja persiapan-persiapan militer jang hanja akan mempertadjam ketegangan dan dapat mendjadi antjaman perang.

Hal itu akan sangat mengurangkan rasa aman bagi negara-negara lain dan kekurangan rasa aman ini selandjutnja dapat menimbulkan komplikasi jang tidak diingini dalam hubungan internasional. Oleh karena itu Indonesia berpendapat, bahwa persiapan-persiapan militer itu perlu dihentikan, dan perlu ditempuh djalan damai sesuai dengan sila ke 8 dari Dasa-Sila Konperensi Asia-Afrika di Bandung jang sesuai dengan djiwa' piagam Perserikatan Bangsa-bangsa".

Menteri Luar Negeri Indonesia, Roeslan Abdulgani, didalam pidatonja di Konperensi London tanggal 16 Agustus 1956 djuga menjatakan sebagai berikut:

,,......, kalau negara-negara ketjil di Asia-Afrika diliputi oleh perasaan ketakutan, babwa pada suatu hari merekapun akan diduduki kembali oleh suatu Negara Barat, sebagai akibat perselisihan pendapat atau kepentingan, maka pertjajalah, bahwa peta politik dunia akan mengalami perubahan sekedjap mata, oleh karena negara-negara semuanja akan mentjari perlindungan dari negara-negara jang besar sekarang ini".

Sedjalan dengan politik luar negeri Indonesia jang bebas dan aktip menudju perdamaian dunia, maka Indonesia menegaskan adanja kejakinan, bahwa peperangan adalah merupakan suatu alat jang tidak sesuai lagi dengan zaman dalam menjelesaikan perhubungan dari perbedaan kepentingan dua negara ataupun lebih dari dua negara.

Dasar perdjuangan pemerintah Indonesia tidak pula terlepas dari segi-segi juridis jang meliputi persoalan tersebut.

,,Pengumuman Pemerintah" tanggal 7 Agustus 1956 menegaskan, bahwa:

a. H a k m e n a s i o n a I i s a s i k a n p e r u s a h a a n.

Adalah suatu kenjataan jang diakui dimanapun djuga, bahwa dasar kepentingan rakjatnja, tiap-tiap negara jang merdeka dan berdaulat mempunjai hak sepenuhnja untuk menasionalisasikan sesuatu perusahaan jang didaftar didalam negeri itu, dan bekerdja didalam wilajah serta dibawah hukum negara tersebut.

Oleh karena itu Indonesia mengakui, bahwa Mesir sebagai negara merdeka dan berdaulat, berhak sepenuhnja untuk menasionalisasikan Perusahaan Terusan Suez jang merupakan satu Perusahaan Mesir.

b. S o a I k e b e b a s a n d a n k e a m a n a n l a l u - l i n t a s p e l a j a r a n.

Indonesia mengakui, bahwa kebebasan pelajaran di terusan Suez sebagai urat nadi jang penting bagi kehidupan seluruh dunia, perlu didjamin. Djaminan tersebut telah diberikan oleh Mesir sesudah ia menasionalisasikan terusan Suez itu. Indonesia pertjaja, bahwa Mesir mampu memberi djaminan tersebut. Oleh karena itu semua, djika timbul perbedaan-perbedaan ataupun perselisihan, maka haruslah dibawa kemedja perundingan untuk mendapatkan penjelesaian jang memuaskan semua pihak.
Maka ketika Israel, Inggris dan Perantjis melantjarkan agressinja dan bertindak sebagai hakim sendiri, Indonesia segera menjatakan sikapnja seperti jang diutjapkan pada keterangan pemerintah didepan Parlemen tanggal 2 Nopember 1956. Pokok-pokok dari pada pendirian pemerintah Indonesia tersebut ialah sebagai berikut:

  1. Penjerbuan tentara Israel, Inggris dan Perantjis adalah suatu agressi jang sangat tertjela, lebih-lebih tindakan agressinja itu dilakukan pada waktu Sidang Dewan Keamanan P.B.B. sedang berusaha menjelesaikan perselisihan setjara damai.
  2. Berseru supaja Israel, Inggris dan Perantjis segera menghentikan serangannja dan menarik mundur pasukan-pasukannja dari wilajah kedaulatan Republik Mesir dan bertindak sesuai dengan piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.

Dalam rangka solidariteit dan setia kawan negara-negara AsiaAfrika, pemerintah Indonesia berseru dan mengandjurkan:

  1. Kepada negara-negara Asia-Afrika jang dalam Konperensi Bandung dengan hikmat memberikan perdjandjian untuk mendjundjung tinggi dasar-dasar Dasa-Sila, Pemerintah menjerukan untuk mengadakan usaha bersama, guna menghentikan agressi terhadap Mesir itu jang mendjadi salah satu anggauta peserta Konperensi Bandung.
  2. Dalam hubungan ini, Pemerintah telah mengadjak Pemerintah Negara-negara Kolombo untuk mengadakan Konperensi antara para Perdana Menterinja dalam waktu jang sesingkat-singkatnja, sebagai usaha pertama dari negara-negara Asia-Afrika.

Selain sikap jang dikeluarkan oleh Pemerintah, maka meletuslah demonstrasi, pemogokan-pemogokan terhadap perusahaan-perusahaan Inggris.

Atas saran Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo, maka P. M. India telah mengundang Para Perdana Menteri negara-negara Kolombo untuk mengadakan sebuah pertemuan di Delhi pada tanggal 12, 13 dan 14 Nopember '56. Jang hadir dalam pertemuan itu ialah Perdana Menteri Birma, Ceylon, Indonesia dan India.

Sangat disajangkan bahwa Perdana Menteri Pakistan berhalangan datang.

Pada tanggal 14 Nopember 1956, keempat P. M. tersebut mengeluarkan sebuah statement jang selain sikap terhadap agressi Israel, lnggris dan Perantjis, mereka djuga membahas pergolakan di Hongaria dan perdjuangan kemerdekaan di Aldjazair.

Mengenai agressi Israel. Inggris dan Perantjis dinjatakan sbb.:

a. P a s u k a n - p a s u k a n a s i n g j a n g d i w i l a j a h M e s i r.

1. Para P. M. menjambut dengan gembira resolusi Sidang Umum P.B.B. jang diterima pada tanggal 2 Nopember 1956 dan jang kemudian ditegaskan dan diperkuat lagi oleh resolusi tanggal 4 dan 7 Nopember 1956, mengenai penghentian permusuhan dan penarikan angkatan bersendjata Israel, Inggris dan Perantjis dari wilajah kedaulatan Mesir.

2. Sangat menjesal karena negara-negara agressor belum djuga mau menarik pasukan-pasukan mereka. Para P. M. sangat tidak menjetudjui sjarat-sjarat jang diadjukan oleh pemerintah negeri agressor mengenai penarikan pasukan mereka, dan hal demikian itu bertentangan dengan resolusi Sidang Umum P.B.B.

3. Setiap penundaan resolusi ini dan penundaan penarikan kekuatan asing akan menjebabkan akan adanja kesulitan-kesulitan Iebih landjut.

4. Selama pasukan-pasukan asing belum ditarik dari wilajah Mesir, maka tidak mungkin tertjapai keadaan jang normal dan penjelesaian masalah lainnja.


b. P e m b e n t u k a n Po I i s i P. B. B.

1. Para P. M. menjambut dengan baik pembentukan Pasukan Polisi P.B.B.

2. Pasukan ini supaja bersifat sementara dan kedudukannja, supaja terbatas pada ketentuan-ketentuan jang terdapat dalam resolusi Sidang Umum P.B.B. c. Perang Dunia.

1. Perang Dunia jang merupakan kedjahatan terhadap kemanusiaan harus dihindarkan.

2. Mengandjurkan, supaja mentjegah adanja tindakan oleh sesuatu negara jang dapat menambah ketegangan dan memungkinkan timbulnja persengketaan.

d. Kesimpulan adanja gedjala-gedjala tidak sehat.

1. Peristiwa baru-baru ini menundjukkan, bahwa bangsa-bangsa jang kuat tetap dapat melakukan agressi pada bangsa-bangsa jang lemah dan mentjoba memaksakan kemauannja kepada mereka. Hal ini menjebabkan adanja persengketaan dan penderitaan manusia.


e. Dasa-Sila Konperensi Bandung.

1. Para Perdana Menteri mengingatkan kembali, bahwa Komunike Konperensi Asia-Afrika bulan April tahun 1955 di Bandung dengan Dasa-Silanja akan memungkinkan bangsa-bangsa hidup bersama-sama dalam perdamaian sebagai tetangga jang baik dan mengembangkan kerdja sama satu sama lain.

Selesai Konperensi, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo terbang ke Karachi untuk setjara pribadi menjampaikan hasil-hasil pertemuan kepada Perdana Menteri Pakistan jang pada waktu itu berhalangan datang. Jang demikian itu dimaksudkan, supaja diantara negara-negara Kolombo tidak timbul perbedaan pendapat, hingga dapat memetjahkan persatuan negara-negara Kolombo chususnja dan negara-negara AsiaAfrika umumnja.

Selain negara-negara Kolombo, negara-negara Arab menundjukkan rasa solidariteit jang kuat pula terhadap Mesir jang baru mengalami bentjana itu. Negara-negara Arab seperti jang umum mengetahui djuga, tidak mempunjai satu pandangan politik terhadap adanja perang dingin antara Blok Barat dengan Blok Timur. Mereka terbagi antara negara-negara Pakt Bagdad jang pro Barat dan negara-negara Arab jang berpolitik bebas.

Tetapi dalam masalah Palestina negara-negara Arab mempunjai satu pandangan jang sama jakni merupakan ,,satu kesatuan jaug tak terbagi-bagi dan bersatu tudjuan untuk memenangkan kembali kemerdekaan".

Oleh karena itu, ketika Israel me1antjarkan agressinja terhadap Mesir, negara-negara Arab serentak berdiri dalam satu front, sehingga sangat dichawatirkan akan meluasnja api peperangan.

Tindakan jang diambil oleh negara-negara Jordania, Syria, Libanon, Saudi Arabia, Sudan, Yaman dan Lybia pada umumnja sama ialah:

  1. Mengutuk agressi Israel, Inggris dan Perantjis dan menuntut ditariknja pasukan-pasukan negara agressor.
  2. Menjiapkan angkatan bersendjata untuk sewaktu-waktu dapat dikirim kemedan perang.
  3. Melarang digunakannja lapangan terbang dan pelabuhan mereka untuk kepentingan pengiriman pasukan Inggris dan Perantjis.
  4. Sabotage-sabotage pipa minjak milik Inggris dan Perantjis.
  5. Penghentian pengangkutan minjak kenegara-negara Eropa Barat (Inggris dan Perantjis).

Negara-negara Pakt Bagdad mengadakan Konperensi di Teheran jang pada tangga] 9 Nopember 1956 mengeluarkan komunike bersama antara para Perdana Menteri Pakistan, Irak, Iran dan Turki.

Mereka antara Jain menjatakan:

  1. Mengutuk agressi Israel dan supaja segera menarik pasukannja kegaris gentjatan sendjata.
  2. Berseru kepada Inggris dan Perantjis supaja menghentikan permusuhan dan mundur dari wilajah Mesir.
  3. Masalah Suez, supaja diselesaikan dengan djalan perundingan dengan Mesir dibawah pengawasan P.B.B.
  4. Resolusi Sidang Umum P.B.B. supaja lekas dilaksanakan dan djuga mengenai pasukan polisi internasional.

Irak sebagai negara Pakt Bagdad djuga menutup lapangan terbangoja. Bahkan djurubitjara pemerintah Irak menjatakan bahwa pemerintah Irak jang ada diperbatasan Jordan-Irak sudah dalam keadaan darurat siap untuk bertindak menghantam Israel.

Demikianlah suasana dunia dalam sekedjap mata sadja sudah diliputi oleh bahaja meletusnja perang besar.

DALAM bab-bab jang mendahului telah kita ketahui, bahwa dengan tertjapainja 6 prinsip penjelesaian Suez jang telah disetudjui bersama oleh delegasi lnggris dan Mesir di D.K. pada tanggal 13 Oktober 1956. Inggris-Perantjis menundjukkan sikap jang kurang senang dan kurang puas. lnggris-Perantjis sebenarnja tetap berpendirian harus diadakan internasionalisasi terhadap terusan Suez. Karenanja mereka tetap berusaha supaja rentjana usul Dulles jang telah disokong oleh 17 negara pada waktu konperensi London ke-I, nanti mendjadi dasar pembitjaraan apabila diadakan konperensi dengan Mesir. Sebelum Mesir mempunjai usul balasan jang konkrit dan sebelum ada basil jang praktis maka lnggris-Perantjis menuntut supaja Mesir bersedia bekerdja-sama dengan lkatan Pemakai Terusan Suez (S.C.U.A.). Dari pihak Amerika Serikat tetap mendesak agar supaja dilandjutkan perundingan atas dasar 6 prinsip jang telah ditjapai di D.K. dan belum bersedia menjetudjui pelaksanaan dari suatu Badan jang dinamai lkatan Pemakai Terusan Suez.

Inggris-Perantjis tidak dapat menjetudjui politik Mesir karena Mesir mendjalankan politik mengulur-ulur waktu jang menjebabkan makinIama kedudukan Mesir makin-kuat. Mesir dapat membuktikan pada dunia Iuar bahwa dengan ditariknja pilot-pilot Kongsi Terusan Suez. lalu-lintas diterusan tersebut dapat tetap berdjalan dengan sempurna. Hal itu karena pilot-pilot jang datang dari Amerika-Serikat dan Rusia terus mengalir dan telah dapat menunaikan tugasnja dengan baik.

Inggris-Perantjis sebenarnja ingin sekali mengetahui bagaimana usul balasan Mesir itu, supaja apabila perundingannja dengan Mesir gagal dapat dengan segera bertindak tjepat.

Waktu jang mereka nanti-nantikan tiba. Nasser memberikan keterangan kepada seorang djurnalis Amerika-Serikat sebagai berikut: a. Ia bersedia menemui langsung para pemimpin pemerintahan Inggris-Perantjis apabila perundingan tentang masalah Suez dimulai.

b. Nasser akan mengadjukan usul baru mengenai hak-hak penerimaan bea masuk terusan tersebut.

c. Mesir bersedia berunding dengan semua negara pemakai terusan Suez dan akan memberi djaminan kebebasan pelajaran berdasarkan konvensi 1888.

d. Mesir tidak dapat mengakui S.C.U.A. jang akan memungut bea sendiri dan tidak akan menerima usul rentjana Dulles jang disokong oleh 17 negara di Konperensi London ke-I.

Nasser djuga membantah dengan keras, bahwa Mesir tidak mengadjukan usul balasan, usul-usulnja telah disampaikan pada tanggal 10 September jang isinja antara lain sebagai berikut:

a. Mesir bersedia mengganti konvensi 1888 atau memperbaharui sama sekali.

b. Mesir bersedia mentjari persetudjuan dengan negara-negara pemakai terusan Suez untuk menentukan bea masuk terusan Suez.

c. Mesir mendjamin ·perkembangan dan pembangunan terusan Suez.

Untuk melaksanakan maksud-maksud itu Nasser mengharapkan supaja segera diadakan kontak dengan kepala-kepala negara atau menteri-menteri luar negeri ketiga negara jang bersangkutan pada achir bulan Nopember 1956.

Setelah Inggris-Perantjis mengetahui usul balasan Mesir tersebut dan melihat gelagatnja tidak mungkin dapat tertjapai persetudjuan atas dasar seperti jang mereka inginkan, maka kedua negara itu mentjari siasat lain untuk memaksakan internasionalisasi terusan Suez. Siasat itu terkenal dengan ,,siasat diplomasi kapal tua Inggris", ialah siasat dengan kekerasan militer. Inggris menggunakan Israel sebagai alat untuk menjerang Mesir pada tanggal 29 Oktober 1956, agar supaja mereka dapat menjerang Suez dan menduduki terusan itu kembali.

Dengan adanja agressi Israel diatas wilajah Mesir, maka Mesir segera mengadukan kedjadian itu kepada D.K. Atas desakan wakil dari Yugoslavia maka D.K. lalu mengadakan sidang darurat pada tanggal 30 Oktober chusus untuk membitjarakan agressi Israel dan ultimatum bersama Inggris-Perantjis. Amerika merasa diperdajakan oleh Inggris Perantjis dan tidak mengira sama sekali kalau Inggris-Perantjis mendjalankan siasat jang litjik itu. Amerika Serikat jang sedjak semula menghendaki supaja persengketaan Suez itu diselesaikan dengan djalan damai segera bertindak dan Wakil Amerika Serikat di D.K. segera mengadjukan usul resolusi jang isinja antara lain sebagai berikut:

a. Menjerukan kepada Israel supaja segera menarik mundur pasukan-pasukannja kebelakang garis gentjatan sendjata.

b. Menjerukan kepada semua anggauta supaja tidak menggunakan kekerasan atau antjaman kekerasan didaerah itu dengan tjara bagaimanapun jang tidak sesuai dengan maksud P .B.B.

Tetapi sajang usul resolusi Amerika Serikat itu jang telah diterima oleh 7 negara anggauta pada sidangnja tanggal 30 Oktober diveto oleh Inggris dan Perantjis, sedangkan Australia dan Belgia menjatakan abstain. Dengan divetonja oleh lnggris-Perantjis, maka penjelesaian agressi Israel dan ultimatum Inggris-Perantjis tidak mungkin lagi melalui D.K.

Sekretaris Djenderal P.B.B. Dag Hammarskjold berhubung dengan ultimatum Inggris-Perantjis kepada Mesir, marah sekali dan mengantjam akan meletakkan djabatan. Beliau tidak sanggup lagi mendjalankan pekerdjaan sebagai sekdjen sebelum semua negara anggauta P.B.B. menghormati dan mentaati semua ketentuan jang terdapat dalam piagam P.B.B., jakni larangan bagi semua negara anggauta untuk menjelesaikan perselisihannja dengan djalan kekerasan. Tetapi kemudian maksud dari Hammarskjold itu ditolak oleh wakil-wakil dari Amerika Serikat dan Rusia jang berdiri dibelakangnja dan tetap mempertahankannja sebagai Sekretaris Djenderal P.B.B.

Dengan matjetnja persoalan agressl Israel jang kemudian disusul dengan agressi bersama lnggris-Perantjis, dimana Inggris-Perantjis dalam Dewan Keamanan, duduk sebagai anggauta tetap jang memiliki hak veto, maka Yugoslavia mengambil inisiatip untuk mengusulkan keadaan sidang istimewa madjelis umum P.B.B. jang chusus akan dibitjarakan krisis di Timur Tengah. Pada tanggal 1 Nopember 1956 madjelis umum P.B.B. mengadakan sidang istimewa jang dihadiri oleh 76 Negara anggauta.

Dalam sidang tersebut Wakil Mesir minta kepada sidang untuk mengutuk kaum agressor, Inggris-Perantjis-Israel.

Sedang sebaliknja Perantjis menjatakan bahwa sidang istimewa itu illegal dan semua keputusannja adalah tidak sjah. Pernjataan itu disokong oleh Inggris jang menjatakan djuga bahwa Mesir menghina P.B.B. karena sikapnja jang tetap bennusuhan dengan Israel dan melarang kapal-kapal Israel untuk melalui terusan Suez. Wakil lnggris mengatakan, bahwa lnggris-Perantjis tidak mempunjai maksud untuk tetap menduduki zone terusan Suez lebih lama daripada jang diperlukan jakni untuk melindungi bahaja pertempuran Israel-Mesir di terusan Suez. lnggris menjatakan bersedia menjerahkan tugas sebagai pemisah dalam pertempuran antara Mesir-Israel kepada P.B.B., djika badan itu bersedia mengambil tugas tersebut.

Tetapi ternjata suara lnggris-Perantjis tidak didengarkan oleh sebagian besar anggauta P.B.B. dan setelah diadakan pemungutan suara, maka sidang menerima baik untuk membitjarakan pengachiran permusuhan di Mesir. Wakil dari Amerika Serikat, J. F. Dulles kemudian mengemukakan rentjananja dan mengadjukan sebuah resolusi, jang terdiri- dari 6 pasal. Usul resolusi Amerika Serikat jang merupakan usul resolusi D.K. tertanggal 30-11-1956 setelah diperbaharui lagi diterima sidang darurat P.B.B. pada tanggal 2 Nopember 1956. Adapun isinja antara lain sebagai berikut:

a. Semua fihak jang terlibat dalam pertempuran supaja menghentikan pertempuran.

b. Pasukan-pasukan Israel supaja ditarik mundur kebelakang garis demarkasi.

Dengan kekalahan suara jang sangat banjak 64 lawan 5 suara dan 6 blanco, resolusi Amerika Serikat diterima oleh Sidang Madjelis Umum P.B.B. tanggal 2-11-1956 dan pada hari itu pula diteruskan oleh Dag Hammarskjold kepada Pemerintah Inggris, Perantjis, Israel dan Mesir. Seruan P.B.B. ini tidak dihiraukan oleh Inggris-Perantjis, walaupun Mesir pada tanggal 3-11-1956 telah menjatakan kesediaannja untuk mentaati andjuran Madjelis Umum, namun ia tidak akan dapat melaksanakannja apabila musuh masih terus menjerang. Serangan-serangan Inggris-Perantjis makin menghebat untuk memperoleh posisi jang menguntungkan didaerah terusan Suez.

Dalam keadaan demikian itu P.B.B. terns melandjutkan usahanja untuk menghentikan pertempuran di Timur-Tengah,

serta. Dengan pengumuman Pakistan tanggal 5 Nopember 1956 tentang kesediaannja untuk pula menjumbangkun pasukan-pasukannja maka pekerdjaan pengiriman hanja menunggu pengesahan rentjana Sekdjen P.B.B. oleh Madjelis Umum serta pernjataan dari negara-negara jang bersangkutan, bahwa mereka bersedia memenuhi seruan Madjelis Umum P.B.B. serta menerima pasukan-pasukan polisi P.B.B.

Mula-mula memang sudah djelas, bahwa terutama Inggris-Pcrantjis tidak mau memenuhi keputusan itu sebelum mereka mentjapai tudjuan mereka, jaitu menduduki tempat-tempat jang penting didaerah terusan Suez dan dengan demikian menghadapkan dunia dengan suatu fait accompli, sehingga dalam perundingan-perundingan penjelesaian, mereka mempunjai kedudukan jang kuat.

Seruan Madjelis Umum beberapa kali diulangi. Batas waktu Minggu tengah malam tanggal 5 Nopember 1956 liwat tanpa djawaban sedikitpun dari lnggris, Perantjis dan Israel. Malahan sementara itu kelihatan usaha Inggris untuk memperlambat persetudjuan resolusi Kanada tentang pembentukan polisi internasional dan pada hari Minggu tanggal 5 Nopember itu pula armada Inggris telah bertolak dari Cyprus untuk menggempur Port-Said, Ismailia dan Suez.

Tidak mengherankan apabila diberbagai negara terdapat kegelisahan dan kedjengkelan terhadap agressor jang mengakibatkan berbagai tindakan pula untuk menentang mereka. Pemerintah Rusia misalnja mengeiuarkan antjaman jang sangat keras terhadap Pemerintah Inggris-Perantjis jang diikuti dengan pengiriman alat-alat perang serta sendjata ke Mesir.

Diberbagai negara rakjat menjatakan bersedia untuk turut membela Mesir dalam pasukan suka-rela. Negara-negara Kolombo mengadakan pertemuan untuk mempersoalkan keadaan di Timur Tengah, demikian pula negara-negara Pakt-Bagdad, terketjuali Inggris sendiri. Kelompok A-A dalam P.B.B. djuga giat berusaha menentang Inggris-Perantjis jang tidak lagi mcngindahkan pendapat umum dunia.

Desakan dan tantangan dari berbagai djurusan achirnja memaksa Inggris dan Perantjis mentaati putusan P.B.B. Pada tanggal 6 Nopember 1956 dalam suatu surat kepada Sekretaris Djenderal P.B.B. kedua negara itu memberitahukan, bahwa mereka bersedia memerintahkan

penghentian semua permusuhan di Timur Tengah dan dengan itu mulailah dilaksanakan gentjatan sendjata jang diserukan oleh Madjelis Umum P.B.B.

Sebelum itu Dag Hammarskjold telah menerima kesediaan baik dari Mesir maupun Israel untuk menghentikan permusuhan.

Karena pertempuran masih terus berdjalan, maka pada tanggal 7 Nopember 1956 Madjelis Umum P.B.B., menerima pula resolusi dari negara-negara Asia-Afrika dengan perbandingan suara pro 65, 1 contra (Israel) dan 10 negara abstain. Negara jang abstain adalah Inggris, Perantjis, Australia, Luxemburg, Belanda, Selandia Baru, Portugal, Afrika Selatan, Belgia dan Laos.

Isi dari resolusi Asia-Afrika jang diterima P.B.B. antara lain sebagai berikut:

a. Madjelis Umum P.B.B. menekankan sikapnja supaja resolusi-resolusinja ditaati oleh negara-negara anggauta.

b. Menghukum dan mengutuk sikap Inggris-Perantjis dan Israel jang menolak resolusi P.B.B. pada tanggal 2 Nopember 1956. Hal mana adalah sangat bertentangan dengan piagam P.B.B.

c. Mengutuk pemakaian kekerasan Inggris-Perantjis dan Israel terhadap Mesir.

d. Mendesak kepada Israel supaja menarik mundur pasukannja dibelakang garis demarkasi.

e. Mendesak kepada Inggris-Perantjis supaja menghentikan aksi-aksi militernja dan menarik pasukan-pasukan mereka dari wilajah Mesir.

f. Mengharapkan agar supaja Sekdjen P.B.B. dalam waktu 12 djam memberikan laporan tentang hasil pelaksanaan resolusi tersebut.

Karena kini perdamaian telah dapat dipulihkan, maka pada tanggal 7 Nopember 1956 pagi-pagi rentjana Sekretaris Djenderal P.B.B. tentang pembentukan pasukan polisi P.B.B. segera dibitjarakan lagi dalam Madjelis. Usul rentjana itu ditambah dengan saran-saran mengenai penjelenggaraan detail-detailnja sebagai berikut:

a. pasukan polisi itu akan bekerdja apabila permusuhan-permusuhan sudah berachir,

b. pasukan itu akan bersifat setengah militer dan bukan merupakan pasukan jang mempunjai tudjuan militer.

c. pasukan-pasukan itu tidak mempunjai hak selain daripada jang diperlukan untuk melakukan tugasnja. Pasukan itu tidak akan lebih daripada suatu corps penindjau, dan sekali-kali djangan merupakan satu pasukan militer jang menguasai untuk sementara waktu wilajah dimana pasukan itu ditempatkan.

d. fungsi pasukan itu akan meliputi satu daerah jang setjara kasarnja terbentang mulai dari terusan Suez sampai keperbatasan Israel.

e. pasukan itu hendaknja terdiri dari kesatuan-kesatuan jang masing-masing terdiri dari orang-orang satu kebangsaan. lni dimaksudkan untuk mentjegah tjara bekerdja jang tidak efficien akibat bertjampurnja orang-orang dari pelbagai kebangsaan. Hendaknja dibentuk beberapa kesatuan, masing-masing dari satu batalion jang orang-orangnja diambil dari negara-negara anggauta P.B.B. jang berpengaruh.

f. Setiap negara akan membeajai pasukan-pasukannja masing-masing.

g. Madjelis Umum akan memutuskan untuk berapa lama pasukan polisi internasional itu akan bertugas.

Pada malam tanggal 7 Nopember 1956, Sidang Umum chusus P.B.B. jang bersidang chusus untuk membitjarakan tentang pasukan polisi P.B.B. mengesahkan rentjana pembentukan pasukan-pasukan P.B.B. darurat dan dengan segera memerintahkan pengirimannja ke Timur Tengah untuk memelihara perdamaian.

Dalam Sidang tersebut djuga diputuskan untuk memberi kuasa kepada suatu Panitya Penasehat 7 Negara dibawah pimpinan Sekretaris Djenderal Dag Hammarskjold untuk bertindak sebagai badan administratief pasukan-pasukan P.B.B. tersebut, Brazilia, Kanada, Sailan, Columbia, India, Norwegia dan Pakistan merupakan panitya untuk merentjanakan operasi-operasi dan fungsi-fungsi dari pasukan-pasukan P.B.B. tersebut.

Kanada, Selandia Baru, Norwegia, Denmark, Finlandia, Pakistan, Sweden, Rumania dan Tjekoslovakia telah menjatakan kesediaannja untuk menjumbangkan kesatuan-kesatuannja didalam pasukan P.B.B. itu.

Selandjutnja Sailan, India dan Burma djuga telah mendjandjikan

sumbangannja. Amerika menegaskan, ia bersedia memberikan bantuan dengan segera didalam bentuk alat-alat pengangkutan dan bahan-bahan.

Dalam pada itu Dag Hammarskjold telah pula bertanja kepada negara-negara jang bersangkutan apakah mereka bersedia menerima pasukan-pasukan polisi P.B.B. Mesir mendjawab, bahwa Mesir menerima pasukan-pasukan tersebut, asal sadja semua pasukan-pasukan asing dikeluarkan dahulu dari wilajah Mesir.

Negara-negara penjerbu, mula-mula dengan pelbagai akal berniat menolak pasukan-pasukan itu, atau hanja bersedia menerimanja dengan berbagai sjarat. Walaupun mereka mentaati andjuran P.B.B. namun mereka segan menarik pasukan-pasukan mereka dari wilajah. Mesir jang telah mereka kuasai. Hanja dengan desakan jang sangat dari P.B.B. achirnja mereka terpaksa mengambil putusan menarik pasukan-pasukan mereka, sehingga pasukan-pasukan polisi P.B.B. dapat didatangkan.

Berangsur-angsur pasukan polisi P.B.B. jang terdiri atas pasukan dari berbagai negara, mulai mengalir ke Mesir, untuk ikut mendjaga keamanan di Timur Tengah. Pasukan-pasukan Polisi P.B.B. ini berbeda sifatnja dari pasukan-pasukan P.B.B. jang pernah dipergunakan dalam apa jang dinamakan ,,aksi polisionil" di Korea. Aksi P.B.B. jang pertama di Korea itu merupakan penggunaan kekerasan terhadap suatu agressi, dalam mana Korea-Utara dinjatakan sebagai agressor terhadap Korea-Selatan.

Pada tanggal 25 Djuni 1950 antara Korea-Utara dan Korea-Selatan timbul peperangan dan tentara dari Utara menjerbu ke Selatan. Pada tanggal 27 Djuni 1950, Dewan Keamanan dengan suara 7 setudju, satu tidak dan dua blanco menjatakan Korea-Utara sebagai penjerang dan konsekwensinja ialah membentuk tentara gabungan terdiri dari kesatuan-kesatuan anggauta P.B.B. untuk menolak agressi ini.

Tetapi pasukan polisi P.B.B. untuk Timur Tengah diwadjibkan "to secure and supervise the cessation of hostilities in accordance with all the terms of the G. A. resolution" (mengusahakan dan mengamat-amati penghentian permusuhan sesuai dengan sjarat-sjarat dari resolusi Madjelis Umum P.B.B.), djadi pada hakekatnja tugasnja lebih ringan daripada tugas pasukan P.B.B. di Korea, namun kedua-duanja ialah untuk mengusahakan dan mendjaga perdamaian dan keamanan.

Sumbangan P.B.B. ini tidak sedikit artinja dalam dunia jang penduduknja terpetjah belah dalam berbagai bangsa dan golongan jang masing-masing mengutamakan kepentingannja sendiri-sendiri.



—————

PADA TANGGAL 8 Nopember 1956 Pemerintah Indonesia menjatakan kesediaannja negara kita untuk turut serta dalam pasukan polisi. P.B.B. jang mendapat tugas memelihara perdamaian didaerah terusan Suez, sesuai dengan resolusi sidang istimewa dari sidang umum P.B.B. tanggal 4 Nopember 1956.

Pengumuman Pemerintah berhubung dengan soal itu berbunji sebagai berikut:

Berhubung dengan harapan-harapan dari berbagai pihak jang disampaikan kepada Pemerintah, supaja Indonesia ikut serta dalam pasukan-pasukan polisi P.B.B. jang bertugas untuk memelihara perdamaian di Timur Tengah sebagaimana ditentukan oleh resolusi Sidang Istimewa daripada Sidang Umum P.B.B. tanggal 4 Nopember 1956, maka dengan ini diumumkan sebagai berikut:
a. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk ikut serta dalam pasukan-pasukan polisi P.B.B. seperti dimaksud oleh resolusi Sidang Umum P.B.B. tersebut diatas;
b. Besarnja sumbangan Indonesia dalam pasukan-pasukan polisi P.B.B. jang dimaksud itu, diberikan dalam batas-batas kekuatan Indonesia hingga tidak mengurangi potensi pertahanan Indonesia sendiri;
c. Ikut sertanja Indonesia dalam pasukan-pasukan polisi P.B.B. itu didasarkan atas pengertian, bahwa pasukan-pasukan polisi itu bertugas semata-mata untuk memelihara perdamaian di Timur Tengah dan tidak akan bersifat suatu tjampur tangan kedalam urusan-urusan dalam negeri dinegara dimana pasukan-pasukan tersebut ditempatkan.

Pengumuman Pemerintah adalah sesuai dengan sikap jang telah diambil dalam Sidang Istimewa daripada Sidang Umum P.B.B. Ikut

Upatjara penghormatan oleh Batalion Garuda kepada Presiden Panglima Tertinggi sesaat sebelum mereka meninggalkan Tanah Air, dengan disaksikan oleh beribu-ribu penduduk Ibu Kota, dimana Presiden Panglima Tertinggi memberikan wedjangan jang sangat berharga.

sertanja pasukan-pasukan kita dalam usaha P.B.B. untuk mempertahankan perdamaian, djuga akan berarti memberi tambahan-tambahan pengalaman jang berharga dalam lapangan kemiliteran. Disamping itu pengiriman pasukan Indonesia jang akan bertugas sebagai Polisi P.B.B. berarti pula salah satu pelaksanaan dari politik luar negeri kita jang bebas dan aktief menudju perdamaian dunia, dengan tindakan-tindakan jang njata.

Kesediaan Pcmerintah Indonesia memberikan bantuannja untuk polisi P.B.B. telah diberitahukan oleh Delegasi kita di P.B.B. kepada Sekretaris Djenderal Dag Hammarskjold. Negara kita dalam hal ini merupakan negara jang ke 17.

Keputusan Pemerintah Indonesia disetudjui pula oleh Presiden Nasser, sehingga persiapan-persiapan untuk pengiriman pasukan-pasukan itu segera dapat dimulai.

Ketentuan tanggal keberangkatan pasukan-pasukan dari Indonesia sudah diterima pula dari pihak P.B.B. jaitu pada tanggal 9 Djanuari 1957. Perdjalanan akan dilakukan dengan mempergunakan pesawat-pesawat Globemasters dari Angkatan Udara Amerika Serikat.

Sebelum pasukan-pasukan kita meninggalkan tanah air, maka lebih dahulu harus diadakan pula persiapan-persiapan di Mesir dan untuk ini akan berangkat suatu Missi Angkatan Darat terdiri dari 6 orang, dibawah pimpinan Kolonel Djatikusumo.

Anggauta-anggauta lain dari Missi tersebut ialah: Let. Kol. Hartojo, jang nanti akan mendjabat Komandan pasukan-pasukan Angkatan Darat Indonesia di Mesir, Let. Kol. Rahardjodikromo, Major Supit, Major Rachman Mansur dan Major Achmad Wiranatakusuma.

Kemudian akan menjusul pula rombongan ,,kwartier makers" jang bertugas mengurus perlengkapan-perlengkapan bagi pradjurit-pradjurit Indonesia, seperti misalnja bensin, makanan, tempat tidur dan sebagainja.

Pasukan-pasukan dari Indonesia jang akan bertugas di Mesir itu seluruhnja akan terdiri dari 3 kompi pasukan infanterie atau satu detasemen jang meliputi kira-kira 550 orang, dan akan dipilih dari pasukan-pasukan T.N.I. di T.T. IV, Djawa Tengah dan T.T.V Djawa Timur.

Karena waktu tidak mengizinkan, maka kali ini tidak diambil pradjurit-pradjurit dari T.T. lain. Apabila nanti ternjata, bahwa tugas di Mesir itu memerlukan waktu lebih lama dari pada apa jang telah ditentukan, maka akan diusulkan penggantian dengan pradjurit-pradjurit dari T.T. lain.

Menurut rentjana tempat tudjuan pertama pasukan-pasukan kita ialah kota Beirut, ibukota negara Libanon. Dari tempat tersebut mereka akan dikirim kedaerah-daerah jang ditundjuk oleh pimpinan polisi P.B.B., dimana mereka akan mendjalankan tugas mereka bersama-sarna dengan pasukan polisi P.B.B. dari negara-negara lain.

Dalam rangka persiapan-persiapan itu, maka dibeberapa tempat di Djawa Tengah dan Djawa Timur telah berlangsung upatjara-upatjara pelantikan dari kesatuan-kesatuan jang akan diberangkatkan ke lbukota; anggauta-anggauta pasukan itu sebelumnja telah mendapat latihan-latihan chusus, baik setjara badani, maupun untuk menambah pengetahuan mereka; iklim jang sangat berbeda dari apa jang kita alami tiap hari di Indonesia menuntut keadaan tubuh jang benar-benar sehat; pengertian tentang keadaan internasional supaja dapat memahami benar-benar tugasnja nanti diluar negeri diperlukan pula, djuga untuk menambah pengetahuan tentang bahasa Inggris dan Arab. jang merupakan sjarat jang penting untuk dapat ikut bertugas di Mesir.

Mengingat sjarat-sjarat bagi pasukan-pasukan kita itu, oleh Penerangan Angkatan Darat telah pula dikeluarkan sebuah pengumuman pada tanggal 29 Desember 1956 jang antara lain berbunji sebagai berikut:

I. Mengingat pentingnja serta hormatnja tugas pasukan Angkatan Darat Republik Indonesia jang akan diberangkatkan ke Mesir jang akan melakukan tugas internasional sebagai bahagian dari Pasukan Polisi P.B.B. untuk Mesir, maka adalah pada tempatnia bila Republik Indonesia mengerahkan perorangan dan peralatan jang baik untuk Pasukan Indonesia tersebut.

Tentang sjarat-sjarat perorangan dari Batalion Angkatan Darat Republik Indonesia untuk tugas P.B.B. itu dapat diterangkan sebagai berikut: Komandan dan wakil Komandan Batalion adalah lulusan dari S.S.K.A.D.

Perwira-pcrwira lainnja adalah lulusan dari Pendidikan Perwira Landjutan I, dan Bintara-bintaranja adalah lulusan dari Sekolah Kader. Para Pradjuritnja adalah lulusan dari Depot Batalion.

Setiap perwira hendaknja dapat berbahasa Inggris, dan segenap anggauta Batalion umumnja, dan para perwira chususnja harus mempunjai kepribadian, tidak penjegan dan sikap jang tangkas.

Sjarat-sjarat kesehatan untuk segenap personil telah disesuaikan dengan keadaan iklim dan keadaan kemungkinan epidemiologie di Mesir jang djauh berlainan dari keadaan di Indonesia.

Batalion Angkatan Darat Republik Indonesia untuk tugas P.B.B. itu dipersendjatai sesuai dengan tugasnja jang tidak hanja tugas kepolisian sadja, tetapi djuga sebagai pasukan bertempur dalam keadaan jang terpaksa. Demikian pengumuman tersebut.

Peristiwa diberbagai tempat di Djawa Tengah dan Djawa Timur jang mendahului saat kedatangan pasukan itu di Ibukota perlu kita tjatat pula:

Dihalaman Staf-Kwartier R.I. 13 Djokjakarta telah dilantik pada tanggal 12-12-1956 sepasukan tentara kita sebesar satu peleron jang segera akan diberangkatkan ke Semarang, dimana akan berkumpul ke 2 kompi dari Divisi Diponegoro, jang akan dikirim ke Mesir.

Demikian pula telah diadakan upatjara pelantikan dihalaman Staf-Kwartier R.I. 14 Salatiga dari kira-kira 2 kompi jang telah ditundjuk untuk turut serta bertugas diluar negeri. Mereka itu segera akan diberangkatkan pula ke Semarang.

Pada tanggal 13-12-1956 kebanjakan pasukan-pasukan dari Djawa Tengah telah berada di Semarang, sebahagian lagi masih berada di Tegal. Mereka itu terdiri dari 80 orang anggauta batalion 431 RI 12 dan akan langsung diangkut ke Djakarta.

Peristiwa keberangkatan dua kompi dari Semarang pada tanggal 21-12-1956 merupakan satu kedjadian jang sangat penting dikota tersebut terhadap peristiwa mana terhadap rakjat memberikan perhatian sepenuhnja, pada pagi hari djam 6.30, Kapten Soekarno, sebagai pimpinan ke 2 kompi itu, menghadap Panglima Divisi, Overste Soeharto, untuk memberitahukan, bahwa pasukan-pasukan sudah siap untuk bertolak ke Djakarta.

Panglima Divisi kemudian memeriksa pasukan-pasukan jang telah berdiri tegap dimuka gedung divisi. Dalam kata-kata perpisahan, beliau mengutjapkan pesanan-pesanan jang antara lain adalah sebagai berikut:

,,Saudara-saudara akan segera meninggalkan Djawa Tengah dan untuk beberapa waktu akan bertugas diluar negeri; Saudara-saudara menghadapi pekerdjaan jang serba istimewa jang memerlukan keuletan serta ketegasan dari Saudara-saudara.

Tidak mudah untuk mewakili Angkatan Darat Indonesia diluar negeri, oleh sebab itu, dalam menunaikan tugasmu, satu hal, satu sila harus tetap berada dalam ingatan Saudara-saudara. jaitu perikemanusiaan. Disamping bertindak sebagai tentara Angkatan Perang Republik Indonesia. pada Saudara-saudara terletak pula kewadjiban-kewadjiban sebagai seorang warga negara Indonesia jang berbudi luhur. Kami mengharap, Saudara-saudara dapat menjelesaikan tugas jang diletakkan atas pundakmu sebaik-baiknja. Peganglah tetap Sapta Marga kita. Pertahankanlah disiplin. Ingatlah dalam mendialankan tugasmu. bahwa Saudara-saudara mentjari sahabat- sahabat, bukannja untuk membuat musuh. Satu kesalahan dari Saudara-saudara dapat merusak seluruh nama T.N.I, pula nama negara.Hal ini harus dihindarkan.

Semoga Tuhan berada ditengah-tengah Saudara serta memberi pimpinan pada Saudara-saudara sekalian".

Selesai upatjara ini, pasukan-pasukan jang bersendjata lengkap itu berbaris menudiu kesetasiun Tawang. diiringi oleh orkes jang membawakan lagu-lagu jang gembira. Panglima Divisi turut pula berdjalan. Dilorong-lorong .jang mereka lalui sudah menunggu berdjedjal-djedal rakjat kota Semarang jang ingin memberi salam perpisahan pada pradjurit-pradjuritnja. pula menghiarapkan dengan seluruh djiwa, agar pasukan-pasukan kita itu dapat tetap mendjundjung tinggi nama bangsa dan negara kita.

Di setasiun Tawang para pembesar lainnja sudah menunggu pula. Diam 8.21 tepat kereta api berangkat menudju ke Djakarta, dengan

meninggalkan banjak ibu-ibu jang walaupun dengan penuh kepertjajaan akan hari kemudran, namun merasa terharu serta sedih karena telah ditinggalkan oleh suami-suaminja.

Dari Divisi Brawidjaja telah ditundjuk pasukan sebesar satu kompi untuk turut keluar negeri; mereka diambil dari daerah Malang, dimana djuga telah diadakan screening serta latihan-latihan bagi anak 'buah kompi itu, Pasukan ini berada dibawah pimpnan Kapten Harsono dan telah siap sedjak beberapa hari menunggu perintah bertolak ke Djakarta.

Pada tanggal 21 Desember 1956, diadakan upatjara perpisahan oleh Panglima T.T. V/Brawidjaja. Kolonel Sarbini dengan Pasukan T.N.l. jang mendapat tugas keluar negeri itu.

Upatjara tersebut mendapat pula perhatian serenuhnja dari wakil-wakil instansi militer, sipil dan pembesar-pembesar setempat.

Besoknja. pada tanggal 22 Desember 1956. pasukan itu dibawah pimpnan Kapten Harsono mcninggalkan Malang menudju Djakarta untuk dgabungkan dengan 2 kompi dari Djawa Tengah.

Dalam kata-kata perpisahan, Kolonel Sarbini menjatakan antara lain, bahwa kita ini bangga, karena turut terpilih untuk mendjalankan tugas diluar negeri; tetapi kita harus tetap waspada, djangan sampai kebanggaan itu berobah mendjadi keketjewaan, karena kita tidak dapat menjelesaikan tugas kita dengan sempurna.

Beliau merasa terharu dan sedih laksana seorang Bapak jang ditinggalkan oleh anak-anaknja. dan memperingatkan, bahwa dalam menunaikan tugasnja diluar negeri nanti, dimana mereka bekerdja sama dengan tentara dari negara-negara lain dan bergaul dalam masjarakat jang kebiasaannja tidak dikenal, mereka harus tetap sadar akan kedudukan mereka sebagai putra Indonesia jang berkewadjiban mendjaga kehormatan Indonesia dan nama T.N.l. Demikian Panglirna Territorium V.

Pada kira-kira achir bulan Desember 1956 pasukan-pasukan kita untuk UNEF jang didatangkan dari daerah, telah lengkap berada di Djakarta. Maka sebelum tiba waktunja berangkat dilangsungkan berbagai upatjara perpisahan untuk menghormati pradjurit-pradjurit kita itu.

Disaat-saat pemberangkatan Bat. Garuda, Corps Muziek KMKB-DP-pun tidak mau ketinggalan menunaikan tugasnja berupa hiburan.

Dalam upatjara pelaporan resmi pada K.S.A.D. pada tanggal 28-12-'56 jang berlangsung di Kramatdjati, pada saat mana kepada beliau diberitahukan, bahwa pasukan Garuda telah siap untuk mendjalankan tugasnja diluar negeri, K.S.A.D. dalam kata-kata sambutan mengatakan antara lain, bahwa beliau mengharapkan, mereka dapat menunaikan tugas mereka sebaik-baiknja.

,,Tugas Saudara-saudara adalah tugas negara, tugas terhadap P.B.B., tugas terhadap negara sahabat kita (Mesir) jang kita hormati. Dan tugas ini adalah tugas jang pertama bagi kita diluar negeri jang peuuh udjian dan peladjaran.

Karena itu laksanakanlah tugasmu sebaik-baiknja dan ingatlah tiap pradjurit adalah duta negara dalam arti jang sesungguhnja" demikian K.S.A.D.

Pada tanggal 31-12-'56 pasukan Garuda I mengadakan Appel di Istana Merdeka untuk mendengar amanat serta mendapat pangestu

dari Presiden/Panglima Tertinggi Soekarno. Sebelum memberikan amanatnja, Presiden memeriksa pasukan-pasukan P.B.B. itu jang seluruhnja terdiri dari tiga Kompi, masing-masing dibawah pimpinan Major Soekarno, Kapten Soeprapto, dan Kapten Harsono, dan terdiri dari ±590 orang bersendjata lengkap. Komando pasukan jang mendengarkan amanat Presiden/Panglima Tertinggi dipegang oleh Major Soedijono, Kepala Staf Batalion P.B.B. jang mewakili Let. Kol. Hartojo jang telah berangkat lebih dahulu ke Mesir.

Presiden dalam wedjangannja antara lain mengatakan, bahwa ini adalah pertama kalinja tentara kita memikul tugas internasional, bukan untuk kita sadja tetapi untuk seluruh dunia dan untuk perikemanusiaan.

Beliau menjerukan, supaja tjita-tjita bangsa Indonesia jaitu Kemerdekaan penuh, Kerakjatan dan Keadilan Sosial tetap dikobar-kobarkan dalam dada dan kepergian mereka itu tidak dirasakan sebagai individu-individu, tetapi sebagai suatu bangsa jang memikul tjita-tjita dan mendjundjung tinggi nama Indonesia diluar negeri.

Presiden mengatakan, bahwa siapa jang mengalami perdjuangan dan pengorbanan besar jang telah diberikan untuk perdjuangan itu akan merasa bangga melihat anggauta-anggauta Batalion Garuda berangkat sebagai wakil bangsa untuk menjelesaikan usaha jang besar pula di Mesir dalam rangka P.B.B.

Beliau achirnja memberi pangestu kepada Batalion jang akan meninggalkan tanah-air itu dan mendoakan agar mereka akan tetap baik diluar negeri dan Insja Allah kembali ketanah-air dalam keadaan jang baik pula.

Atjara jang harus diselesaikan oleh Batalion Garuda dalam rangka minta diri dari masjarakat Indonesia agak lumajan djuga. Hal ini ternjata dari pengumuman PENAD tertanggal 4 Djanuari 1957, jang lengkapnja berbunji sebagai berikut:

Mengulangi berita pers Penad No. 247/Pers/Pn/56 tanggal 29 Desemher 1956 tentang atjara-atjara permintaan diri dari Pasukan Garuda I jang akan berangkat ke Mesir dari Masjarakat Ibu-kota lebih landjut dapat diberitakan sebagai berikut:

Guna memberi kesempatan jang sebesar-besarnja pada masjarakat ibu-kota untuk mengenal ,,duta-duta pradjuritnja", maka Pasukan

Garuda I pada tanggal 6 Djanuari 1957 akan mengadakan pawai bermusik di Ibu-kota.

Pasukan akan berangkat dari Lapangan lkada pada djam 17.00 menudju rumah Walikota Djakarta di Taman Surapati guna meminta diri dari Walikota sebagai lambang masjarakat ibu-kota. Pada kesempatan itu oleh Walikota akan diadakan periemuan ramah-tamah.

Djalan-djalan jang akan dilalui oleh pawai Pasukan Garuda I adalah: Lapangan Ikada, Prapatan, Kramat, Raden Saleh, Tjikini, Pegangsaan, Diponegoro, Taman Surapati.

Pada tanggal 7 Djanuari 1957 Pasukan Garuda I akan berkundjung ke Makam Pahlawan Kalibata dan Tugu Nasional di Pegangsaan Timur.

Tentang perhatian jang ditumpahkan oleh masjarakat Ibu-kota terhadap Pasukan tersebut dapat diberitahukan antara lain:

Bioskop-bioskop Menteng, Metropole, Garden Hall, Astoria, Grand, Globe, Cinema, Cathay dan Happy telah bersama-sama mengundang segenap anggauta Pasukan untuk menonton pada tanggal 5 Djanuari 1957 djam 18.00 bersama-sama dengan penonton-penonton Iainnja.

Pada tanggal 7 Djanuari 1957 malam oleh panitya Penggerak Seni Angkatan Perang akan diadakan malam hiburan untuk segenap Pasukan.

Atjara terachir ialah permintaan diri dari Pasukan Garuda I kepada Masjarakat pada hari keberangkatan mereka pada tgl. 9 Djanuari 1957. Untuk ini segenap Pasukan akan berbaris kelapangan terbang Kemajoran, Djalan-djalan jang akan ditempuh oleh barisan ini akan diumumkan segera. Demikian Penerangan Angkatan Darat.

Kami tidak akan menguraikan banjak tentang penjelesaian atjara tersebut, darimana bagian jang terachir tak dapat ditaksanakan karena keadaan, jaitu permintaan diri terachir dengan berbaris kelapangan Kemajoran pada tgl. 9 Djanuari 1957, jang terpaksa dihapuskan untuk mengedjar waktu.

Pawai dengan diiringi musik di Ibu kota mendapat perhatian jang sangat besar dari penduduk Djakarta. Penting ialah, bahwa masjarakat sangat menghargai pradjurit-pradjurit kita ini dan merasa bangga, bahwa mereka itu nanti akan mewakili kita diluar negeri dan mem

Garuda Perdamaian 85.jpg

Sebelum berangkat: menghening tjipta.....................
.........................................pada pahlawan,
memohon restu
semoga selamat
dimedan bakti.................

Garuda Perdamaian 86.jpg

Siapa bilang, bahwa urusan dapur itu tidak penting? Rekan-rekan kita, para djuru masak, sedang sibuk dengan persiapan untuk berenqket ke Mesir, dimana mereka akan membuktiken, bahwa nasi gorengnja akan ,,menggiurkan" lidah anggauta-anggauta Palisi P.B.B. dari pelbagai negara dan bangsa.

pertahankan nama baik dalam pergaulan sehari-hari dengan anggauta tentara negara-negara lain maupun dalam pelaksanaan usaha P.B.B. jang mulia itu.

Ramah tamah pada rumah Bapak Walikota berlangsung dengan meriah. Undangan dari berbagai Bioskop di Ibu-kota menambah kegembiraan para pradjurit jang umumnja merasa bahagia mendapat tugas diluar negeri dan dengan demikian mengenal negara-negara asing jang sebelumnja mereka hanja ketahui dari buku-buku batjaan.

Dalam pada itu telah didapat kabar, bahwa Missi Militer Indonesia jang diketuai oleh Kolonel Djatikusumo dan telah berangkat lebih dulu dengan maksud mengadakan persiapan-persiapan, telah tiba di Mesir.

Pula, bahwa rombongan pertama pasukan polisi P.B.B. dari Indonesia, jaitu rombongan kwartiermakers sudah diberangkatkan

tgl.2 Djanuari 1957 dengan menumpang pesawat pengangkut militer Amerika Constellation C-121.

Rombongan kwartiermakers itu dipimpin oleh Major Sutikno dan terdiri dari 36 orang, 10 Perwira dan 26 Bintara dan Bawahan.

Menurut rentjana, maka pada tgl. 8 Djanuari 1957 dilapangan Kemajoran diadakan pemuatan alat-alat perlengkapan pasukan-pasukan kita untuk P.B.B. sebanjak 45.000 kg, kedalam 8 buah pesawat C-124 Globemaster, jaitu pesawat-pesawat pengangkut militer jang akan mengangkut pasukan-pasukan TN.I. Batalion Garuda I untuk UNEF ke Timur Tengah.

Pesawat-pesawat pengangkut raksasa dari angkatan Udara Amerika Serikat itu merupakan bagian-bagian dari Angkatan Udara Amerika Serikat di Timur Djauh jang ditempatkan di Djepang dan dalam usaha pengangkutan pasukan-pasukan UNEF berada dibawah pimpinan P.B.B.

Angka-angka, mengenai pesawat-pesawat raksasa Globemaster ini sedikit banjak memberikan gambaran tentang kekuatan dan besarnja pesawat-pesawat tersebut. Banjaknja lembaran wadja jang digunakan untuk badan pesawat ini djika dibentangkan diatas tanah sama luasnja dengan tanah seluas hampir setengah hektar. Pandjang sajapnja ada 174 kaki. Mesin-mesinnja mempunjai kekuatan 293 kali lebih besar dari pesawat Wright Brothers, pesawat terbang jang pertama-tama ditjiptakan. Djika disatukan, mesin-mesin ini mempunjai dajakuda jang dapat mendjalankan 70 mobil Buick jang masing-masing mempunjai kekuatan 200 daja kuda. Dari tanah keudjung atas ekornja ada setinggi 48 kaki 3 intji, sedang pandjangnja dari hidung sampai keekor ada 127 kaki.

Ruangan didalam pesawat-pesawat pengangkut C-124 ini paling luas dari semua pesawat-pesawat pengangkut jang ada beroperasi dewasa ini. Ia dapat membawa muatan sebanjak 25.000 Kg.

Dengan penjelesaian atjara minta diri dari penduduk Djakarta, serta persiapan-persiapannja, maka achirnja tibalah saat untuk meninggalkan tanah air. Dengan diantar oleh KSAD, Perwira-perwira Tinggi dari ketiga angkatan, Walikota Soediro dan ratusan penduduk Ibukota Pasukan Garuda I anggauta Polisi P.B.B. dari Indonesia pada

tgl. 9 Djanuari 1957 pagi hari bertolak menudju ketempat tugas di Timur Tengah.

Sebelum pesawat-pesawat melepaskan diri dari landasan Kemajoran, K.S.A.D. dengan diantar oleh Attase Militer Amerika Serikat melihat/memeriksa dahulu keadaan pesawat-pesawat. Setelah itu diadakan upatjara perpisahan setjara militer, pendek dengan tiada pidato-pidato.

Pesawat Globemaster jang pertama meninggalkan Jandasan terbang Kemajoran pada djam 6.30 tepat. Tiap pesawat disusul oleh jang berikut 1/2 djam kemudian, sehingga baru pada djam 10.30 pesawat jang terachir dapat meninggalkan Kemajoran.

Dengan keberangkatan Pasukan Garuda I ke Mesir ini, maka untuk pertarna kalinja T.N.I. jang belum tjukup berusia 12 tahun ini mendjalankan tugas jang bersifat internasional diluar wilajah Negara Republik Indonesia. Tugas demikian itu, bukanlah sadja tugas jang mulia dan terhormat tetapi djuga berat. Tugas ini berat, karena Pasukan Garuda I haruslah mendjaga nama baik Negara dan Bangsa Indonesia diluar negeri, harus memperkenalkan sifat dan kepribadian pradjurit Indonesia jang mempunjai tradisi sendiri. Bagaimana baikpun penerangan jang kita berikan keluar negeri tentang Negara, Bangsa dan Tentara kita, tetapi djika pradjurit kita tidak membuktikannja dalam tugas di Mesir ini, maka hal itu akan merugikan usaha memperkenalkan Indonesia diluar negeri. Disinilah terletak titik berat dari tugas itu jang dibebankan kepada segenap anggauta Pasukan Garuda I.

Selain dari pada itu, pengalaman jang pertama ini akan merupakan peladjaran jang baik bagi T.N.I., jakni peladjaran untuk membuat kepentingan Negara, Bangsa dan Kepradjuritan sebagai landasan dari segenap tindak-tanduk baik dalam hubungan kedinasan maupun setjara pribadi, karena di Mesir segenap anggauta Pasukan ini akan diteropong oleh Bangsa dan tentara-tentara asing jang djuga sedang bertugas dalam rangka Pasukan P.B.B. di Mesir.

Dipandang dari segi individueel dari pada pradjurit, Pasukan Garuda ini, maka pengalaman selama di Mesir ini dapat merupakan suatu peladjaran jang besar nilainja. Dari padanja mereka dapat

Garuda Perdamaian 89.jpg

Presiden/Panglima Tertinggi disertai oleh P.M. Ali Sastroamidjojo sedang mengadakan inspeksi kepada Pasukan Garuda.

K.S.A.D., Djend. Maj. A.H. Nasution sedang beramah-tamah dengan Wakil Komandan serta para Perwira Bat. Garuda, sesaat sebelum mereka berangkat.

beladjar menjesuaikan diri dengan berbagai-bagai bangsa asing dan tentara asing, dapat melihat, mempeladjari dan mengetahui tjara tentara asing. Pengalaman jang begini akan sangat bermanfaat karena merupakan bersekolah kepelbagai pendidikan tentara-tentara asing. Semoga pengalaman dari individu-individu ini memberikan inductie jang baik kepada T.N.I.

Dengan turut sertanja Indonesia dalam Pasukan P.B.B. kali ini, maka djelaslah bahwa Negara Republik Indonesia dengan konsekwen menanggung segala akibat dari politik bebas jang aktip guna membela perdamaian internasional. Pasukan Garuda I di Mesir adalah mendjadi salah satu bagian dari Pasukan P.B.B. jang bertugas mendjaga perdamaian dan membela resolusi P.B.B. mengenai sengketa bersendjata Israel-Inggris-Perantjis disatu pihak dan Mesir dilain pihak dalam wilajah kedaulatan Mesir.

Dalam rangka tugas ini, kedatangan Pasukan P.B.B. di Mesir bukanlah untuk membantu Mesir atau memusuhi Israel dan kawan-kawannja, tetapi membantu dunia dan kemanusiaan untuk tidak tertjebur kedalam suatu peperangan chususnja dan kedalam peperangan dunia umumnja.

Adanja Pasukan Garuda di Mesir adalah satu tjetusan jang spontan dari bangsa Indonesia untuk mentaati segenap putusan P.B.B. dan mendjundjung tinggi Piagam dari P.B.B., dan menolak prinsip




Satu persatu pesawat ,,Globemaster" meninggalkan bumi Indonesia, mengangkut para pradjurit ,,Garuda".

Selamat djalan, pahlawan! Selamat djalan, duta-perdamaian!

Karyamu akan dikenang sepandjang masa, dalam sedjarah-dunia dan bangsamu!

pemetjahan sengketa antara negara dengan negara dengan kekerasan sendjata.

Demikianlah usaha pemerintah kita keluar wilajahnja dalam membina perdamaian dan persatuan dunia.

Pengiriman Pasukan Garuda ke Mesir bagi T.N.I. chususnja merupakan suatu tjermin untuk usahanja kealam tubuhnja sendiri, terutama dalam usaha pembangunan. Diatas telah dikemukakan adanja kemungkinan-kemungkinan peladjaran pengalaman dan pengaruh dari tentara-tentara asing jang tergabung dalam pasukan Polisi P.B.B. jang dapat kita pergunakan. Salah satu diantaranja adalah persatuan dalam suatu pasukan. Dari berita-berita jang kita terima Pasukan kita di Mesir dapat dibanggakan dalam menunaikan tugasnja. Apakah bagi kita sudah tjukup dengan kebanggaan jang diperoleh Pasukan Garuda itu sadja? Kebanggaan ini kiranja dapat diperbesar apabila pasukan-pasukan kita lainnja jang bertugas didalam negeri dan jang kepentingannja tidak dapat dikalahkan, djuga memupuk dan melatih dirinja, sehingga nilai dari pada kepradjuritan dipertinggi. Untuk ini persatuan dikalangan T.N.I. sendiri mendjadi sjarat mutlak.

—————

BAB V

MASALAH TIMUR TENGAH


  1. Pengertian Timur Tengah.

Bagi kita bangsa Indonesia jang bertempat tinggal dalam suatu kepulauan jang letaknja di Asia Tenggara, sering agak djanggal mendengar, bahwa negara-negara seperti Mesir, Arab Saudi, Israel, Jordania dan lain-lain, dimasukkan dalam lingkungan daerah jang disebut dengan istilah Timur Tengah. Kedjanggalan itu disebabkan oleh karena letak negara-negara tersebut ada didjurusan sebelah barat dari tanah air kita, sehingga menimbulkan suatu pertanjaan mengapa djustru negara-negara itu disebut dengan istilah Timur Tengah. Untuk djelasnja kita harus mengetahui terlebih dahulu asal mula dari istilah Timur Tengah itu sendiri.

Istilah Timur Tengah sebagai pengertian politik atau digunakan dalam pertjaturan politik internasional baru tumbuh sesudah berachirnja perang Dunia I jakni pada tahun 1918. Dengan berachirnja peperangan, maka Turki jang kalah perang — Turki memihak Djerman — terpaksa harus menjerahkan daerah-daerah bekas djadjahannja kepada Inggris dan Perantjis sebagai daerah mandat. Daerah-daerah mandat itu berangsur-angsur mendjadi negara nasional jang berdiri sendiri, jang makin lama makin penting artinja dalam pertjaturan politik Internasional. Masalah-masalah jang timbul dinegara-negara itu memberikan sifat jang chusus bagi negara-negara Barat, sehingga untuk memudahkan dipakainja istilah Timur Tengah.

Pada waktu ini jang dimaksud dengan istilah Timur Tengah ialah suatu wilajah jang meliputi negara-negara Mesir, Arab Saudi, Israel, Syria, Libanon, Jordania, Turki, Iran, Iraq dan Afganistan. Disamping istilah Timur Tengah kita djumpai pula istilah Timur Dekat. Daerah jang termasuk dalam pengertian jang terachir ini antara lain meliputi djuga negara-negara

Balkan. Djelaslah bagi kita sekarang, bahwa istilah Timur Tengah itu berasal dari para negarawan Eropa Barat. Selain itu untuk menjebut daerah-daerah jang berada disebelah Timur Eropa — jang pada waktu itu merupakan pusat daripada kegiatan politik internasional digunakan

pula beberapa istilah misalnja Timur Dekat, Timur Tengah, Asia

Tenggara dan Timur Djauh.

Sebelum perang dunia II, kedudukan Timur Tengah dalam pertjaturan politik internasional belum begitu penting seperti sekarang. Pada masa itu arti Timur Tengah hanja dipandang dari sudut perhubungan lalu-lintas terutama bagi Inggris jang memerlukan sekali perhubungan dilaut (melalui Suez) maupun daratan, untuk dapat memelihara daerah djadjahannja di Asia Tenggara maupun kepentingan ekonominja di Timur Djauh. Selain itu Rusia memiliki kepentingan besar pula didaerah itu, jakni untuk mendapatkan bandar-bandar jang tidak membeku airnja. Bandar sematjam ini penting sekali artinja untuk perdagangan dan perkembangan perekonomiannja.

Sesudah perang dunia ke-II, arti Timur Tengah mendjadi makin penting. Hal itu karena terdapatnja minjak tanah jang berlimpah-limpah didaerah jang tandus itu. Sedang minjak dibutuhkan sekali untuk keperluan perang modern. Selain itu industri di Eropa Barat sebagian besar sangat tergantung dari lajanan minjak Timur Tengah.

Dengan adanja pertentangan dua Blok besar jaitu Blok Barat dan Blok Timur, maka Timur Tengah memperoleh kedudukan jang sangat penting selain kekajaan minjaknja djuga ditindjau dari strategis militer, merupakan lalu-Iintas jang vitaal, merupakan urat nadi dunia, sehingga Blok Barat dan Blok Timur saling berebutan untuk menanamkan pengaruhnja didaerah itu.

Sesungguhnja masalah jang dihadapi Timur Tengah adalah merupakan masalah jang sangat berdjalinan jang sewaktu-waktu dapat menimbulkan krisis dan membahajakan perdamaian dunia. Untuk mengetahui dari dekat masalah apa jang sebenarnja jang dihadapi negara-negara Timur Tengah, kita terlebih dahulu harus mentjari sebab-sebab pokok jang sering mendorong terdjadinja krisis itu sendiri. Seperti telah disinggung dimuka, memang sebab-sebab itu tidak hanja terdapat dalam negeri sendiri, tetapi ada pula jang berasal dari luar,

Garuda Perdamaian (Garuda Indonesia, 1957).pdf, p. 95.jpg

Sesampainja di Beyrouth pada tanggal 11 s/d 12 Januari 1957, pasukan tersebut langsung kesemenandjung Sinai. Disana mereka disambut dengan hangat oleh pemerintah dan rakjat. Disini nampak Kuasa Usaha R.I. di Beyrouth T.M. Dalimoenthe dengan diiringi Komandan Pasukan memeriksa barisan.

terutama berhubung dengan perkembangan politik dunia dewasa ini (timbulnja dua blok didunia).

Untuk memberi gambaran jang mudah terhadap persoalan jang dihadapi oleh Timur Tengah tersebut, maka persoalan-persoalan itu dapat dibagi sebagai berikut:

a. Pertentangan Arab-Israel.

b. Pertikaian politik negara-negara Arab.

c. Nasionalisme Arab.

d. Pertahanan Timur Tengah dalam rangka perlentangan dua Blok.

2. Pertentangan Arab-Israel.

Pertentangan antara bangsa Arab dan Jahudi adalah merupakan pertentangan jang permanen di Timur Tengah. Sebab-sebab dari pertentangan itu adalah terletak pada adanja negara Israel itu sendiri ditengah-tengah negara-negara Arab.

Untuk dapat mengetahui latar belakang dari pertentangan jang boleh dikata terus menerus antara kedua bangsa itu, kita harus membuka sebentar lembaran sedjarah dari perkembangan negara Israel. Dengan demikian maka kita nanti akan mengetahui sikap politik Israel terhadap negara-negara Arab; apa sebab ia mengadakan politik expansi; apa sebab menuntut semenandjung Gaza; apa sebabnja ia mengadakan agressi terhadap Mesir serta tuntutan-tuntutan adanja kebebasan lalu-lintas diterusan Suez dan adanja keamanan pelajaran diteluk Aqaba.

Sedjarah Palestina adalah sedjarah jang tua sekali dan siapa bangsa jang mula-mula mendiaminja sudah tidak diketahui lagi. Sebelum bangsa Jahudi atau Israel menduduki daerah itu, daerah itu diduduki oleh bangsa Kanaan atau bangsa Philistijn. Nama Palesjina adalah berasal dari kata Philistijn itu. Kediaman bangsa Philistijn tersebut berada disepandjang pantai Laut Tengah didaratan rendah sungai Jordan.

Kira-kira pada tahun 1400 S.M. (sebelum Masehi), bangsa Jahudi berhasil menduduki daerah Palestina dan kemudian mereka lalu berangsur-angsur menetap didaerah itu. Sedjak itu bangsa Jahudi memandang Palestina sebagai tanah-airnja, bahkan menurut kitab sutjinja, jakni Kitab Sutji Perdjandjian Lama disebutkan, bahwa Jaweh

Garuda Perdamaian (Garuda Indonesia, 1957).pdf, p. 97.jpg

Wakil Komandan dan para perwiranja disambut dengan suatu djamuan teh oleh Mufty Republik Libanon dengan dihadiri oleh pembesar2 Sipil, Militer dan Alim Ulama.

(Tuhan bangsa Jahudi) telah menghadiahkan tanah Palestina kepada Ibrahim (Abraham). Abraham adaluh nenek mojang bangsa Jahudi dan Arab-Ismail.

Bangsa Jahudi mengalami kedjajaan diwaktu radja Daud berkuasa kira-kira tahun 1000 S.M. Radja Daud mendjadikan kota Darulsalam (Jerusalem) sebagai ibukotanja. Penggantinja adalah anak radja Daud jakni Salomon. Setelah radja Salomon meninggal, keradjaan itu petjah mendjadi dua, jakni keradjaan Juda dengan ibu-kota Jerusalem, dan Israel dengan ibu-kota Samaria. Pada tahun 700 S.M. keradjaan Israel diduduki oleh Asiria dan kira-kira tahun 586 S.M. Juda direbut oleh keradjaan Babilonia, dan malah sebagian penduduknja diangkut ke Babilon. Baru kira-kira tahun 332 S.M. setelah keradjaan itu direbut oleh Cyrus, Radja Persia, orang-orang Jahudi diperkenankan pulang.

Bangsa-bangsa lain jang pernah menduduki ialah Romawi pada tahun 70 sesudah Masehi hingga kira-kira tahun 637. Ketika bangsa Romawi berhasil merebut Palestina ia bertindak kedjam dan merusak serta membakar kota Jerusalem. Bangsa Jahudi sangat menderita karenanja, dan mulailah mereka berangsur-angsur meninggalkan Palestina, mengembara dinegara-negara seluruh dunia untuk mentjari nafkah. Sebaliknja bangsa Arab berangsur-angsur memasuki Palestina, lebih-lebih setelah Arab berhasil merebutnja dari tangan Romawi kira-kira tahun 637, makin banjak orang Arab jang memasuki dan diam didaerah itu, sehingga Palestina achirnja mendjadi tanah Arab. Dengan demikian, maka bangsa Arab memandang Palestina djuga sebagai tanah air mereka. Palestina terutama kota Darulsalam djuga dipandang sebagai tanah sutji Agama Islam. Kota Darulsalam memiliki arti jang penting, karena menurut kepertjajaan bangsa Arab iapun keturunan Ibrahim.

Palestina sendiri berulang-ulang mendjadi medan pertempuran. Orang-orang Eropa sampai tudjuh kali mengadakan perang-perang salib (kruistochten) untuk membebaskan Darulsalam (Jerusalem) dari orang Arab. Kota ini menurut agama Kristen djuga merupakan tempat sutji untuk berziarah, sedangkan bangsa Arab jang menguasainja melarangnja. Perang Salib jang pertama tahun 1095 hingga jang ketudjuh tahun 1248 tidak membawa hasil sama sekali. Darulsalam tetap berada ditangan orang Islam. Pada tahun 1517−1917 Palestina

Djenderal Maj. Burns, Komandan Pasukan Polisi P.B.B. sedang bertjakap-tjakap dengan Majoor Sugiarto, Wk. Kmd. Bat. Garuda.

dikuasai oleh bangsa Turki jang djuga beragama Islam. Waktu Perang Dunia ke-I, Turki memihak kepada Djerman. Tentara Inggris pada tanggal 9 Desember 1917, berhasil merebut Darulsalam dan menduduki seluruh Palestina.

Setelah perang berachir daerah-daerah djadjahan Turki diambil oleh pihak jang menang, jakni Inggris dan Perantjis. Pada tahun 1920 Lima Bangsa-bangsa (Volkenbond) menundjuk lnggris sebagai negara pemegang mandat atas Palestina.

Ketika Palestina ada dibawah keradjaan Turki, telah mulai banjak orang-orang Jahudi jang memakai Palestina kembali dan hidup damai dengan orang-orang Arab. Mereka ingin berdiam di Palestina, karena menurut kepertjajaan adalah tanah sutji dan menurut agamanja begitu erat hubungannja dengan mereka. Lama-lama makin banjak orang Jahudi dari segenap pendjuru dunia jang kembali ke Palestina. Kemudian mereka mendirikan organisasi jang bersifat politik pada tahun 1895. Organisasi itu terkenal dengan nama Zionisme atau

gerakan Zion, dibawah pirnpinan Dr. Theodore Herzl. Tudjuan dari gerakan Zion itu antara lain:

a. Mempersatukan orang-orang Jahudi diseluruh dunia dalam satu bangsa (Nation) dan tidak sadja dalam pengertian ras.

b. Menuntut Palestina sebagai tanah airnja.

c. Mendirikan kembali negara Israel di Palestina.

d. Mengusahakan kembalinja orang-orang Jahudi ke Palestina.

Waktu Perang Dunia ke I, agar supaja orang-orang Arab suka melawan dan memberontak terhadap Turki, Inggris berdjandji akan memberi kemerdekaan kepada bangsa Arab (jang berarti Palestina masuk kedalamnja djuga). Sjarief Husein, dengan adanja djandji itu lalu mengobarkan revolusi Arab. Tanggal 7 Djuni 1916 mengumumkan kemerdekaan Hedjaz. Kemudian membentuk negara Arab merdeka serta memproklamasikan sebagai radja Arab pada tanggal 29 Oktober 1917. Tanggal 6 Nopember 1916 Inggris, Perantjis dan Rusia mengakui Husein sebagai Radja Hedjaz. Dikemudian hari setelah Inggris memperoleh kemenangan dalam perang, ternjata Husein hanja diakuinja sebagai radja Hedjaz dan bukan sebagai radja Arab.

Sebaliknja ketika orang Jahudi menjanggupkan bantuan kepada Inggris, untuk memikat orang-orang Jahudi diseluruh dunia pada tanggal 2 Nopember 1917, Inggris mengeluarkan Balfour Declaration. Dalam declarasi itu Inggris berdjandji akan menolong usaha kaum Zion dengan akan memberikannja ,,Perumahan Nasional Jahudi" (A Jewish National Home) di Palestina, dengan tidak merugikan kepentingan-kepentingan bangsa Arab. Bangsa Arab dengan sendirinja menentang, karena Palestina telah mendjadi tempat tinggal orang Arab, malah sudah turun-temurun dan telah memandang daerah itu sebagai tanah airnja.

Bentrokan-bentrokan mulai terdjadi antara orang-orang Jahudi dan orang-orang Arab diseluruh Palestina, walaupun demikian kaum Zion tetap mengusahakan imigrasi orang-orang Jahudi. Untuk melindungi dirinja, kaum Zion mendirikan organisasi bersendjata dengan nama ,,Haganah". Disamping itu ada organisasi bersendjata lain jang suka mengadakan terror dengan nama Irgun Swei Leumi. Kedua organisasi bersendjata tersebut mendjalankan pertempuran-pertempur-

an baik dengan terang-terangan maupun dengan gelap terhadap siapa sadja jang menentang imigrasi Jahudi.

Ketika Palestina pada tahun 1920 mendjadi daerah mandat Inggris, jang mendjadi Komisaris Agung keradjaan Inggris di Palestina adalah seorang Jahudi warganegara Inggris jakni Sir Herbert Samuel (tahun 1920-1925). Untuk memelihara kepentingan-kepentingan orang Jahudi dibentuknja „Badan Jahudi”. (Jewish Agency). Badan itulah jang kelak merupakan benih bagi terwujudnja negara Israel.

Mendjelang perang dunia ke II, pemerintah Inggris mengeluarkan „Buku Putih” (White Paper) jang maksudnja untuk membatasi imigrasi kum Jahudi ke Palestina. Pula djumlah tanah jang boleh dibeli kaum imigran dibatasi. Kepada orang-orang Jahudi didjandjikan „Perumahan Jahudi” (Jewish Home) dan bukan „Perumahan Nasional Jahudi” (A Jewish National Home) seperti pada waktu Balfour Declaration. Kaum Zion sama sekali tidak memperdulikan „Buku Putih” itu dan tetap mengadakan imigrasi bangsa Jahudi terang-terangan ataupun tidak.

Indonesian peacekeepers arriving in Egypt, Garuda Perdamaian, p97

Sesudah datang di Mesir mereka menunggu instruksi akan ditempatkan dimana.

Pada waktu Perang Dunia Ke II, Jahudi memihak Inggris untuk memikat hati Inggris, supaja setelah perang, Inggris suka membatalkan Buku Putihnja tahun 1939. Arab djuga memihak Inggris dengan harapan supaja Inggris memberikan Palestina kepada bangsa Arab. Dengan berachirnja Perang Dunia Ke II, orang-orang Jahudi di Palestina mendjadi makin kuat, karena selama bekerdja sama dengan Inggris, mereka mendapatkan sendjata-sendjata modern yang banjak. „Badan Jahudi” jang didirikan pada tahun 1920, mendjelma mendjadi Tentara Jahudi. Djumlah orang Jahudi di Palestina makin meningkat. Dengan menggunakan nama „Korban perang jang tidak mempunjai tempat tinggal” (seharusnja diurus oleh U.N.O.) orang Jahudi berbondong-bondong mengalir ke Palestina. Pemerintah Inggris menolak imigrasi-imigrasi tersebut, tetapi Badan Jahudi dan organisasi bersendjata Haganah memaksa dengan kekerasan. Orang-orang Arab menentang pula dengan kerasnja, sehingga timbul huru-hara dan kekatjauan terus menerus. Inggris bingung jang achirnja membawa persoalan Palestina kepada U.N.O. pada tanggan 18 Pebruari 1947. U.N.O. setelah kirim „Panitya Penjelidikan” memutuskan untuk membagi Palestina mendjadi daerah Arab dan daerah Jahudi dan pemberian pemerintahan internasional kepada Kota Jerusalem. Ketiga Daerah tersebut harus mempunjai kesatuan ekonomi.

Dengan adanja rentjana U.N.O. itu berarti kemenangan bagi Jahudi, karena dunia luar sekarang mengakui adanja daerah Jahudi di Palestina. Hal itu akan merupakan benih negara Israel yang mereka tjita-tjitakan. Dengan sendirinja negara-negara Arab menentang keputusan U.N.O., karena putusan itu menguntungkan orang Jahudi, maka meletuslah pertempuran-pertempuran jang hebat. Inggris tidak dapat menjetudjui putusan U.N.O., karena ia mengharapkan kerdja sama dengan negara-negara Arab dikemudian hari. Karena sikapnja jang paling menguntungkan ialah t j u t i t a n g a n terhadap segala kedjadian itu, karena dengan sikap itu ia masih dapat mendekati negara-negara Arab. Dalam keadaan jang katjau itu, Inggris menjatakan akan mengachiri mandatnja atas Palestina pada tanggal 15 Mei 1948. Dengan sikap tersebut Inggris memberikan ruang bergerak dan kekosongan kekuasaan pada orang Jahudi untuk bertindak. Bertepatan dengan keluarnja Tentara Inggris dari Palestina untuk diangkut ke Cyprus, bangsa Jahudi memproklamasikan berdirinja Negara Republik Israel tanggal 15 Mei 1948. Sebagai Presiden jang pertama dipilih Dr. Chaim Weizmann, pemimpin gerakan Zion. Setelah

Indonesian peacekeepers erecting tents, Garuda Perdamaian, p99.jpg

Kesibukan memasang tenda adalah suatu kelaziman bagi pasukan Polisi P.B.B. dimana sadja mereka ditempatkan dipadang pasir.

adanja proklamasi Republik Israel, segera Amerika Serikat dan Soviet Unie memberikan pengakuan, sedang Inggris dengan sendirinja tidak segera memberi pengakuan, supaja negara-negara Arab tidak sakit hati.

Negara-negara Arab jang tergabung dalam „Arab League” jakni Mesir, Arab Saudi, Yaman, Iraq, Jordania, Libanon, Syria menjerbu ke Palestina untuk menghantjurkan negara Israel. Tetapi ternjata Israel dengan persendjataan jang modern dapat bertahan. Hanja legiun Jordania jang baik organisasinja dan perlengkapannja jang dapat kemenangan-kemenangan di Palestina dan berhasil menduduki sepandjang sungai Jordan.

Timbulnja peperangan antara Israel dengan negara-negara jang tergabung dalam Liga Arab, memaksa U.N.O. mengambil tindakan. Untuk mentjegah mendjalarnja api-peperangan, maka harus diadakan perletakan sendjata dengan segera, kemudian baru diadakan penentuan-penentuan batas dari negara-negara Israel dan negara-negara Arab jang berbatasan. Graaf Bernadotte dikirim ke Timur Tengah untuk bertindak sebagai pengantara (mediator). Ia berhasil mengadakan perletakan sendjata, tetapi kemudian ia meninggal karena tembakan dari komplotan Jahudi di Darulsalam pada tanggal 17 September 1948. Orang Jahudi membunuhnja karena ia tidak puas dengan rentjana pembagian Palestina jang diusulkan Bernadotte. P.B.B. kemudian menundjuk Dr. Ralph J. Bunche, seorang Negro warga negara Amerika Serikat jang bekerdja pada sekretaris P.B.B. untuk bertindak meneruskan pekerdjaan Bernadotte sebagai pendjabat perantara P.B.B.

Pada tanggal 11 Desember 1948, P.B.B. membentuk Panitya Perdamaian untuk Palestina. Tugas Panitya tersebut ialah untuk mernbantu fihak-fihak jang bersangkutan (fihak-fihak jang berselisih) guna mentjari penjelesaian. Berkat tjampur tangan P.B.B. achirnja dapat disusun „Naskah Perdjandjian Gentjatan Sendjata”. Naskah tersebut ditanda-tangani oleh Israel dan Mesir pada tanggal 24 Djanuari 1949. Oleh Israel-Libanon pada tanggal 23 April 1949, Israel-Jordan pada tanggal 3 April 1949 dan Israel-Syria tanggal 20 Djuli 1949. Pada tanggal 11 April 1949 Israel diterima mendjadi anggauta P.B.B.

Dengan diterimanja Israel mendjadi anggauta P.B.B., maka hal itu berarti kemenangan bagi bangsa Jahudi dan berhasil mendirikan Negara Israel seperti apa jang mereka tjita-tjitakan. Sebaliknja negara-negara Arab dengan sendirinja tidak senang melihat kenjataan itu, karena dengan adanja negara Israel menimbulkan berbagai masalah, masalah-masalah mana menjebabkan perdamaian di Timur Tengah sukar dipulihkan, dan berulang-ulang terdjadi insiden tembak-menembak. Beberapa masalah jang penting antara lain menjangkut-paut soal K e p e r t j a j a a n, p e r b a t a s a n, p e n g u n g s i a n, k e a m a n a n d a n m a s a l a h e k o n o m i.

Para negarawan Arab jang hakekatnja tidak dapat menerima kenjataan adanja negara Israel. Hal itu karena Palestina sudah dipandang oleh bangsa-bangsa Arab sebagai tanah airnja, karena orang-orang Arab sudah tinggal didaerah itu turun-temurun. Selain itu Palestina dipandangnja sebagai daerah Arab, karena ternjata orang Jahudi hanja merupakan minoriteit sadja, pula Palestina terutama Kota Darulsalam adalah kota sutji bagi Agama Islam. Sebaliknja orang Jahudi memandang Palestina sebagai tanah airnja, jang telah dihadiahkan oleh Jaweh (Tuhan Bangsa Jahudi) sebagai tanah perdjandjian kepadanja. Palestina djuga merupakan tanah sutji Agama Jahudi.

Selain itu Israel jang penduduknja kira-kira 1 djuta lebih dan letaknja ditengah-tengah negara-negara Arab jang penduduknja 40 djuta, merasa chawatir, apabila pada suatu ketika negara-negara Arab menggempur Israel sampai Palestina djatuh kembali, dalam tangan mereka. Untuk mempertahankan negerinja, maka setiap penduduk laki-laki dan perempuan dikenakan wadjib Tentara. Dengan tjara itu, maka Israel dalam beberapa djam sadja dapat menjiapkan tentara sebanjak 200.000. orang jang siap menghadapi pertempuran.

Masalah kedua· adalah menjangkut-paut soal perbatasan. Dengan timbulnja negara Israel, negara Arab disekelilingnja merasa dirugikan, terutama Jordania dan Mesir. Jordan terputus hubunaannia denzan Laut Tengah, sedangkan pelabuhan dipantai itu penting sekali artinja untuk perkembangan ekonominja. Mesir djuga putus hubungan daratnja dengan negara-negara Arab lainnia.

Masalah jang ketiga menjangkut-paut dengan pengungsian Arab.Waktu di Palestina terdjadi pertempuran, kurang Jebih 900.000 penduduk Arab mengungsi kenegara-negara Arab disekitar Palestina, dan jang sekarang berada ditapal batas Syria ada kira-kira 88. I 79 djiwa, ditapal batas Libanon 103.600 djiwa, ditapal batas Jordania 499.600 djiwa dan ditapal batas Mesir jakni Gaza 214.601 djiwa. Sampai sekarang sudah 8 tahun lebih mereka hidup dalam keadaan miskin dan kesusahan lahir bathin. ,Kehidupan mereka sangat tergantung bantuan P.B.B. Selain pengungsian tersebut masih banjak pengungsian-pengungsian jang terdapat di pelbagai negara-negara Arab jang telah dapat mentjari nafkah sendiri. Para pengungsi jang umumnja masih menunggu-nunggu waktu dan mengharapkan bilamana mereka dapat kembali kekampung halamannja jang mereka tinggalkan di Palestina.

Masalah pengungsian langsung menjangkut masalah keamanan karena para pengungsi jang tinggal diperbatasan itu tidak sabar lagi untuk menanti-nanti lebih lama, dan sering mereka mengadakan serangan-serangan tersembunji terhadap orang-orang Jahudi.

Pula Pasukan Berani Mati Mesir Fedajeen jang tersebar diperbatasan-perbatasan, sering menjamar sebagai pengungsi menjusup keperkampungan orang Jahudi untuk mengadakan serangan-serangan.

Selandjutnja masalah jang terachir ialah masalah ekonomi jang menjangkut masalah air. Waktu berkobarnja pertempuran tahun 1948, Legiun Jordania dapat melintasi sungai Jordan dan menduduki daerah Palestina. Setelah gentjatan sendjata, daerah itu tetap dikuasai Jordan. Dengan hilangnja wilajah Palestina disepandjang sungai Jordan, maka daerah Israel mendjadi sempit dan tinggal disepandjang pantai Laut Tengah. Israel dengan makin tambahnja imigran Jahudi, membutuhkan perluasan daerah pertanian. Karenanja ia harus berusaha menguasai gurun pasir Negev jang letaknja disemenandjung Sinai, berbatasan dengan Mesir. Untuk dapat memperluas tanah pertanian dan memperkembangkan perekonomiannja akan besar artinja baginja apabila Gaza (daerah Mesir) dapat berada ditangannja. Pula usaha untuk memperluas tanah pertanian kegurun Negev, hanja dapat dilaksanakan apabila ada air. Israel lalu menjusun projek pengairan gurun Negev. Untuk keperluan projek itu, airnja hanja dapat diambil dari Laut Mati. Jordania merasa keberatan karena apabila air diambil dari Laut Mati, dengan sendirinja Sungai Jordan akan kekurangan air.

3. Pertikaian Politik Negara-negara Arab.

Demikianlah beberapa masalah pokok jang menjulitkan tertjapainja perdamaian antara negara-negara Arab dengan Israel, sehingga sering pertentangan Arab-Israel dinamakan pertentangan jang Abadi. Disamping pertentangan Arab-Israel, ada pula pertentangan politik (kedalam) diantara negara-negara Arab sendiri, pertentangan mana jang menjebabkan bangsa Jahudi dapat memperoleh keuntungan besar dalam perdjuangannja mendirikan negara Israel sendiri. Dalam hal ini dapat kita sebutkan pertentangan politik antara Jordania, Mesir, Arab Saudi, Libanon, Syria.

Radja Abdullah dari Jordania, pada waktu perang dunia ke II, memihak kepada Inggris atas djandjinja, bahwa Inggris akan menghapuskan mandat Jordania, apabila Inggris menang perangnja. Legiun Arab Transjordania selandjutnja akan menggantikan tentara Inggris di Palestina. Setelah perang berachir dengan kemenangan sekutu, Inggris menepati djandjinja dengan menghapuskan mandat atas Jordania pada tanggal 22 Maret 1946. Selandjutnja Abdullah naik tachta keradjaan Jordania pada tanggal 25 Mei 1946. Pada waktu perang dengan Israel radja Abdullah memimpin sendiri penjerbuan dan memperoleh kemenangan-kemenangan besar. Legiun Arab Jordania berhasil menduduki Palestina Tengah sepandjang sungai Jordan, dan sebagian kota Darulsalam. Kemudian daerah Palestina jang direbutnja, digabungkan dengan Jordania. Abdullah kemudian mengumumkan dirinja sebagai radja Jordania dan Palestina pada tanggal 1 Desember 1948 dan menjebut keradjaannja sekarang Hasjimijah*) Jordania pada tanggal 2 Djuni 1949.

Selandjutnja Abdullah bertjita-tjita mendirikan negara Syria-Raya yang akan meliputi Syria, Libanon, Palestina dan Jordania.

Sebaliknja Mesir (radja Farouk) mempunjai tudjuan politik jang lain dan mempelopori pembentukan pemerintahan Arab untuk Palestina jang didirikan di Gaza, dibawah mufti Jerusalem jang dahulu. Pada pokoknja negara-negara Arab lainnja dapat menjetudjui apabila Palestina didjadikan negara Arab Palestina jang merdeka dibawah mufti Muhammad Amir Al Huseini. Mesir dan Arab Saudi sangat takut terhadap maksud-maksud politik Abdullah, karena apabila Abdullah berhasil melaksanakan tjita-tjitanja, Keradjaan Syria-Raya, akan merupakan saingan jang berat baginja. Lebih-lebih Arab Saudi merasa sangat tjemas, karena Arab Saudi terbentuk atas keruntuhan keradjaan Husein.
________

*) Hasjimijah berarti keturunan Hasjim, ialah keturunan Nabi Muhammad. Djadi keluarga Abdullah menjatakan masih keturunan Muhammad. Negara-negara Arab lainnja tidak mau menerimanja dan takut apabila maksud mendirikan negara Syria-Raya berhasil Abdullah akan meluaskan pula kekuasaannja kenegara-negara Arab lainnja. Abdul Aziz Ibn Saud dari Arab Saudi sangat menentangnja, karena keradjaannja itu adalah merupakan hasil dari pada kemenangannja atas Husein ajah Abdullah.

Husein adalah ajah Abdullah. Husein seperti telah kita ketahui adalah Sjarif Mekkah jang kemudian memproklamasikan dirinja sebagai radja Arab, dan kemudian menjatakan dirinja sebagai Kalifah.

Abdul Aziz lbn Saud dari dinasti Saud setelah berhasil mengalahkan dinasti Rasjid jang memerintah Najd, kemudian menjerang Husein dengan alasan tak berhak menggunakan gelar Kalifah. Pada tahun 1924, ia berhasil merebut Mekkah kemudian Medinah pada tahun 1925. Selandjutnja mengumumkan dirinja sebagai radja Hedjaz dan Sultan Najd tanggal 8 Djanuari 1926, dimana kemudian beliau menjatakan dirinja sebagai radja Arab Saudi. Pada tahun 1953 wafat dan diganti puteranja Su'ud Ibn Saud radja Arab Saudi sekarang.

Dengan adanja perbedaan politik itu achirnja Abdullah dituduh mengadakan perundingan tersendiri dengan Israel tentang Palestina. Perbuatan tersebut dikatakan menjimpang dari ketentuan Liga Arab, dimana telah disetudjui, bahwa negara-negara Arab anggauta Liga Arab harus bertindak sebagai satu negara dalam menghadapi Israel.

Garuda Perdamaian (Garuda Indonesia, 1957) hal 108.jpg

Timbang terima dari tugas telah dilakukan dengan tjermat, seperti nampak diatas dilakukan antara Cie. A. dan Cie. B.

Pada tanggal 20 Djuni 19... Abdullah dibunuh oleh komplotan dimesdjid Darulsalam. Kemudian ia diganti oleh puteranja Talal, tetapi radja Talat djatuh sakit.

Berhubung puteranja Husein masih belum dewasa, maka Naif adik Talal bertindak sebagai walinja. Setelah Husein dewasa, beliau dinobatkan sebagai radja Jordan pada tanggal 2 Mei 1953.

Demikianlah antara lain benih-benih pertikaian politik antara negara-negara Arab sendiri kedalam, walaupun keluar sikapnja terhadap Israel satu. Sikap negara-negara Arab terhadap Israel satu, jakni: ,,Berusaha mengisolir dan melenjapkan negeri itu", karena dengan adanja negara tersebut ditengah-tengah negara Arab dipandangnja sebagai kanker ditubuh Arab; walaupun sikap politiknja terhadap Palestina selandjutnja mereka bertjerai-berai.

Sebaliknja Israel memiliki pula tudjuan politik sendiri, jaitu membuat kenjataan adanja negara Israel jang diakui oleh dunia. Berhubung letaknja jang dikelilingi negara-negara Arab jang penduduknja 40 djuta banjaknja itu, maka Israel berpendapat bahwa kelangsungan hidupnja hanja tergantung kepada kekuatan militernja. Selain itu Israel mengalami kesulitan dalam lapangan perekonomiannja berhubung makin padatnja penduduk (imigran berdjalan terus), sedangkan tanah pertanian tidak tjukup. Untuk meluaskan tanah pertanian, ia mengharapkan semenandjung Sinai dan Gaza jang berada ditangan Mesir jang penting artinja pula dari sudut perluasan perdagangan. Selain itu ia mengingini pula dataran sungai Jordan jang direbut Jordania. Untuk berlangsungnja perdagangan dengan dunia luar — terutama ke Asia — Israel menuntut kebebasan lalu-lintas diterusan Suez dan keamanan pelajaran diteluk Aqaba. Sedangkan lalu-lintas diterusan Suez dilarang Mesir, dan teluk Aqaba jang menghubungkan laut Merah dan Teluk Persia didjaga kuat oleh Mesir dan Arab Saudi.

Dengan demikian maka kita sekarang tahu apabila Israel berusaha menggunakan kesempatan sebaik-baiknja, dengan adanja perselisihan Mesir dan lnggris-Perantjis tentang terusan Suez. Dan dengan segala senang hati melantjarkan agressinja terhadap Mesir, untuk memberi kesempatan kepada lnggris menduduki terusan Suez kembali. De-

Pos El Tharif.

ngan bantuannja itu ia mengharapkan dapat memperoleh Gaza disamping ia akan mendapatkan djaminan kebebasan pelajaran diterusan Suez, dan keamanan pelajaran diteluk Aqaba. Karena apabila terusan Suez berada ditangan Mesir, Mesir akan tetap menghalang-halangi Israel untuk berlajar diterusan tersebut.

4. Nasionalisme Arab.

Pertengahan abad ke XX adalah merupakan Abad kebangkitan Asia-Afrika atau merupakan Abad kemenangan dari pergolakan Nasionalisme dikedua benua tersebut. Berpuluh-puluh tahun lamanja kedua benua tersebut mendjadi daerah djadjahan atau daerah pengaruh dari negara-negara Barat dan menderita akibat dari politik imperialisme dan politik kolonialisme jang didjalankan oleh negara-negara tersebut. Apabila dahulu negara-negara Barat mendjalankan imperialisme politik dengan mendjadikan tanah-tanah djadjahannja sebagai miliknja jang tidak dapat diganggu gugat, maka sedjalan dengan timbulnja revolusi industri di Eropa-Barat pada permulaan abad ke-19, maka mulai muntjullah bentuk imperialisme modern atau imperialisme eko-

nomi. Dengan timbulnja revolusi industri di Inggris, maka mulai muntjullah industri-industri besar dinegara Eropa lainnja. Industri-industri besar itu tentu membutuhkan bahan mentah dan pasar untuk barang-barang hasil produksi. Timbullah persaingan jang hebat antara negara-negara Eropa dan mereka mulai berlomba-lomba mentjari tanah djadjahan untuk didjadikan tempat bahan mentah dan pasar dari barang-barang industrinja. Asia-Afrika dengan sendirinja jang paling menderita akibat politik itu, karena tanah djadjahan dikedua benua itu sekarang didjadikan objek, disatu pihak didjadikan tempat bahan-bahan mentah dipihak lain didjadikan pasar untuk barang-barang jang dihasilkan oleh negara-negara jang memiliki industri besar. Dengan demikian, maka kaum pengusaha dinegara-negara pendjadjah mendjadi kaja-raja, rakjat tanah djadjahan mendjadi miskin sedangkan perusahaan-perusahaan milik penduduk didaerah djadjahan mengalami kehantjuran akibat dibandjiri oleh barang-barang pabrik.

Keuntungan jang besar dari para pengusaha dinegeri-negeri pendjadjah mengakibatkan terkumpulnja modal-modal besar. Mulailah mereka mentjari penanaman modal dengan mendirikan perusahaan-perusahaan dinegara-negara koloninja, karena dinegara-negara itu dapat diperoleh tenaga buruh jang murah pula. Hal itu karena keadaan di tanah djadjahan rakjatnja melarat dan tidak mampu lagi untuk mendjadi pengusaha. Proses kemelaratan itu tetap langsung berdjalan, karena keuntungan-keuntungan para pengusaha asing itu berlipat djika dibandingkan dengan upah buruh dan faktor-faktor produksi lainnja jang harus dibajarkan kepada penduduk negeri.

Demikianlah gambaran dari imperialisme modern jang berkembang di Asia-Afrika. Indonesiapun mengalami kepahitan dari praktek bangsa Belanda jang berdjalan bertahun-tahun lamanja. Kesengsaraan jang ditimbulkan oleh praktek kaum imperialis dan kolonialis itu ditanah-tanah djadjahan achirnja menimbulkan reaksi ditanah-tanah djadjahan jakni timbulnja arus nasionalisme. Tanah-tanah djadjahan memberontak untuk membebaskan diri dari negara-negara pendjadjah, karena dengan adanja pendjadjahan itu berarti kemelaratan dan kesengsaraan. Mereka ingin menentukan nasibnja sendiri dan ingin sederadjat dengan bangsa-bangsa lainnja didunia, Muntjullah negara-negara Na-

sional jang memiliki batas-batas daerah jang tertentu dengan kesatuan-kesatuan kebangsaannja masing-masing

Demikianlah taufan jang mengarnuk dibenua Asia dan Afrika dan menumbangkan satu-persatu kekuasaan pendjadjahan. Arus nasionalisme Asia-Afrika dengan pesatnja berkembang terus kearah pelenjapan dan pengikisan sisa-sisa kolonialisme dan imperialisme dalam segala bentuk, demi untuk penjempurnaan kedaulatan dan kemerdekaan negaranja masing-masing.

Udjud dari nasionalisme Asia-Afrika adalah:

a. Pembentukan negara-negara Nasional dengan batas-batas daerah dan kesatuan-kesatuan kebangsaannja masing-masing.

b. Penjernpurnaan dari kedaulatan dan kemerdekaan negara dengan melenjapkan sisa-sisa kolonialisme dan imperialisme dalam segala bentuk.

c. Pembangunan untuk mengembangkan seluruh persediaan bangsa agar supaja taraf penghidupan rakjatnja naik.

Untuk segera dapat melaksanakan pembangunan dalam negerinja agar supaja setaraf dengan negara-negara lain didunia jang telah madju, maka dibutuhkan waktu damai, karena dalam keadaan perang atau huru-hara tidak mungkin dapat dilaksanakan pembangunan.

Dengan adanja persamaan nasib itulah, maka konperensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1954, jang diikuti oleh 29 negara Asia-Afrika berachir dengan succes. Suara Bandung kemudian berkumandang keseluruh dunia. Dengan tegas konperensi (Asia-Afrika) mengutuk kolonialisme, dan menjatakan, bahwa kolonialisme dalam segala bentuk itu adalah suatu kedjahatan dan karenanja harus diachiri dengan segera. Negara-negara jang bersangkutan dituntut, supaja segera memberikan. kemerdekaan kepada bangsa-bangsa jang didjadjah. Selandjutnja Konperensi A-A menjokong hak dari rakjat Aldjazair Maroko dan Tunisia untuk menentukan nasibnja sendiri dan mendesak kepada Perantjis supaja segera menjelesaikan dengan damai. Untuk memadjukan negara-negara A-A., dalam lapangan ekonomi dan kebudajaan akan diadakan kerdja-sama berdasarkan kepentingan timbal balik dan penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing. Selandjutnja untuk memadjukan perdamaian dunia, Konperensi A-A, menghasilkan suatu declaratie jang memuat 10 fatsal, jang dimaksud sebagai pedoman

dalam usaha untuk meredakan ketegangan dunia, karena apabila perang petjah, hal itu akan berarti kehantjuran dari umat manusia. Dengan demikian maka konperensi Bandung itu menggambarkan kebangkitan dari bangsa-bangsa Asia-Afrika dan merupakan pangkal permulaan dari berachirnja kolonialisme dikedua benua tersebut.

Apabila kita sekarang menindjau pergolakan nasionalisme didaerah Timur Tengah dari dekat, maka sebenarnja tjita-tjita pembentukan negara-negara nasional jang masing-masing berdaulat dan memiliki batas-batas kenegaraan tertentu dengan kesatuan kebangsaan masing-masing, mulai tampak dengan kuat setelah berachirnja perang dunia ke-I. Hal itu misalnja sadja Mesir, Syria, Libanon, Jordania, Arab Saudi.

Nasionalisme di Mesir mulai berkembang sedjak adanja pemberontakan Arabi Pasha tahun 1881, terhadap lnggris, karena keputusan Inggris untuk mendjalankan pengawasan keuangan Mesir. Seluruh Mesir kemudian lalu diawasi oleh Inggris.

Kemudian pada tahun 1907 ada kongres Nasionalis jang ke I, dibawah pimpinan Mustapha Kamal jang menghendaki pembangunan Mesir dan mentjapai kemerdekaan penuh. Djiwa itu hidup terus jang kemudian dipelopori party Wafd. Pada waktu perang dunia ke I, Abbas Helmi radja Mesir, memihak Djerman dan Turki. Ia dipetjat oleh lnggris dan digantikan oleh Pangeran Husein Kamil dengan menggunakan gelar Sultan. Pada tahun 1917 beliau wafat dan diganti puteranja Fuad. Dengan berachirnja peperangan, maka Mesir lalu dinjatakan sebagai negara protektorat Inggris. Kemudian berhubung dengan adanja gerakan nasionalisme jang kuat, Inggris terpaksa menghapuskan keprotektoratannja atas Mesir pada tahun 1922, tetapi tentara Inggris tetap berada di Mesir dengan alasan untuk mempertahankan terusan Suez.

Syria adalah negeri mandat Perantjis, berdasarkan ketetapan dari Liga Bangsa-bangsa tanggal 25 April 1920. Dalagt Perang Dunia Perantjis menjerbu ke Syria jang diwaktu itu adalah daerah Turki dan berhasil merebut Damsjik dan menduduki seluruh Palestina. Kemudian Perantjis mendjalankan politik devide et impera dengan djalan membagi Syria dalam 4 negara bagian jakni: Damsjik, Alleppo, Allawi dan Libanon Raya. Keempat negara bagian itu ditempatkan dibawah

Garuda Perdamaian 114.jpg

Betapa djauh djarak dan beratnja rintangan dalam perdjalanan, tidak mendjadi alasan bagi pimpinan untuk memusatkan perhatiannja kepada tugas pasukannja. Nampak·dalam gambar ini rombongan komandan Batalion sedang mengundjungi pos-depan di El Kuntilla.

satu pemerintahan federal. Sebaliknja gerakan nasionalisme Arab menghendaki satu negara Syria jang merdeka. Terdjadilah pemberontakan Drus di Syria. Dengan adanja pemberontankan itu dibuktikan bahwa semangat nasionalisme tak dapat ditindas begitu sadja dengan kekuatan militer. Politik Perantjis lalu bcrubah lebih lunak, tetapi tetap berusaha memetjah belah negeri tersebut.

Pada tanggal 23 Mei 1926, Libanon didjadikan Republik Libanon dengan Ibu kota Beirut, dan kemudian tanggal 22 Mei 1930 daerah diluar Libanon didjadikan Republik Syria dengan ibukota Damsjik. Oleh kedua negeri itu kemudian diadakan perdjandjian persahabatan dan persekutuan, dimana Perantjis berdjandji akan mengachiri mandatnja 3 tahun kemudian.

Waktu perang Dunia ke II, Pemerintah Perantjis di Syria memihak Pemerintah Perantjis Vichy jang pro Djerman. Tentara Inggris dan Peantjis Merdeka (De Gaule) berhasil merebut seluruh Syria dan kemudian mengumumkan kemerdekaan Syria dan Libanon. Mandat Perantjis atas daerah itu ditjabut pada tanggal 12 Djuli 1941.

Berdirinja Jordania sebenarnja karena ada tudjuan-tudjuan lnggris jang tertentu, berhubung makin kuatnja Abdul Aziz lbn Saud di Arab Saudi disebelah selatan Palestina. Berdasarkan persetudjuan San Remo 15 April 1920, Palestina dan Iraq akan diberikan kepada Inggris sebagai negara mandat dan Syria mendjadi mandat Perantjis. Piagam San Remo itulah jang didjadikan pedoman untuk mengadakan perdjandjian perdamaian dengan Turki (Daerah Turki dirampas oleh kedua negara tersebut).

Dengan makin kuatnja Abdul Aziz Ibn Saud, Inggris ingin mentjiptakan negara Arab jang letaknja antara sungai Jordan dan batas timur Palestina jakni negara Jordania sekarang. Tudjuannja ialah mentjiptakan negara pemisah antara Arab Saudi dan Palestina, karena Inggris takut Arab Saudi mengadakan expansi keutara karena batas-batas Arab Saudi diutara belum ditentukan.

Abdullah dengan menggunakan tentara Badwi berhasil merebut Palestina selatan. Oleh lnggris ia segera diangkat sebagai Amir dari Jordania pada tanggal 28 Maret 1920. Selandjutnja lnggris menjatakan mau mengakui negerinja apabila Abdullah suka mengadakan perdjandjian dengan lnggris. Setelah mendapat tekanan-tekanan achirnja Abdullah bersedia mengadakan perdjandjian.

a. Jordan diakui kemerdekaannja tetapi berada dibawah mandat Inggris.

b. Perekonomian Jordania berada dibawah Inggris, dan lnggris mendapat pangkalan udara Amman dan Yisah.

c. Tentara Jordan dibangun mendjadi legiun Arab Jordania jang akan dilatih lnggris dan dibawah opsir-opsir lnggris (Djenderal Glupp Pasha).

Waktu perang Dunia ke-II, Jordania membantu Inggris, karena Inggris berdjandji akan menghapuskan mandat atas Jordania apabila ia menang perang. Pada tanggal 22 Maret 1946 mandat atas Jordania ditjabut.

Pada achir perang dunia ke-II, neguru-negara Arab telah berhasil melepaskan diri dan mendjadi negara merdeka jang berdaulat penuh, tetapi pengaruh-pengaruh asing serta sisu-sisa pendjadjahan itu masih ada. Dalam hal itu jang sangat merasakan tekanan-tekanan tersebut adalah Mesir, karena terusan Suez beruda diwilajahnja masih diduduki Inggris. Pula terusan itu adalah merupakan bagian integral dari wilajah Mesir tetapi keuntungan dari Perusahaan Suez itu hanja sebagian ketjil sekali jang masuk ketangan Mesir. Begitu pula Jordan sebagai negara jang merdeka, tentaranja ada dibawah pimpinan opsir-opsir asing dan terdapatnja pangkulan-pangkalan militer asing dinegeri itu. Pula negeri itu hidupnja sangat tergantung kepada subsidi lnggris, sehingga politik luar negerinja akan terikat kepadanja.

Sebagian pelopor dari usaha pengikisan dan pelenjapan sisa-sisa kolonialisme asing adalah Mesir. Hal itu bersangkutan dengan adanja pergolakan dalam negeri. Pergolakan Nasionalisme Mesir memuntjak setelah Mesir mengalami kekalahan peperangan dengan Israel pada tahun 1948 dan bertahan diperbatasan Palestina. Kekalahan Mesir itu merupakan tamparan jang keras terhadap opsir-opsir. Mesir, karena sebagai negara Liga Arab, Mesirlah jang paling kuat dan diharapkan akan memperoleh kemenangan-kemenangan. Timbul pertanjaan apakah sebab kekalahan itu, ternjata alat-alat sendjata jang dikirim kemedan pertempuran adalah alat-alat jang rusak. Djadi adanja korupsi dalam pembelian alat scndjata oleh Kementerian Pertahanan. Selain itu Farouk hidupnja terlalu mewah, dan terdapat pula korupsi dilingkungan bawahannja. Opsir-opsir muda menuntut supaja diadakan pembersihan, baik dalam kalangan angkatan perang maupun diluarnja. Tetapi Farouk malah bertindak sebaliknja dengan menjuruh menangkap opsir-opsir jang mengadakan tuntutan itu.

Pada tanggal 23 Djuli 1952, sekomplotan opsir berhasil mengadakan perebutan kekuasaan tanpa mengalirkan darah. Pelopor dari revolusi itu Kolonel Nasser. Djendral Nadjib karena dipandang lebih tua, maka lalu diserahi tampuk pemerintahan militer. Beberapa hari kemudian tanggal 26 Djuli 1952 Farouk diturunkan dari tachta dan berachirlah keturunan Ali jang memerintah selama satu abad di Mesir. Pada tanggal 18 Djuli 1953 Mesir
Indonesian peacekeepers installing phone lines in the Sinai, Garuda Perdamaian, p113

Anggota Phb. sedang memasang lijn tilipon di Sinai.

diproklamasikan sebagai negara Republik Mesir dengan Nadjib sebagai presidennja. Nadjib ingin segera mengembalikan pemerintahan parlementer. Nasser menentang, maka Nadjib digeser kedudukannja oleh Nasser. Dalam pemilihan presiden baru-baru ini Nasser dipilih sebagai Presiden Republik Mesir.

Politik Mesir dalam djangka waktu pendek ialah m e l e p a s k a n d i r i d a r i k e k u a s a a n a s i n g (terutama Inggris). Mesir menuntut agar tentara Inggris jang sesudah perang dunia ke-II tersebar di Mesir segera ditarik kembali, karena keadaan sudah tidak sesuai lagi dengan perdjandjian tahun 1936. Di Mesir sudah tidak ada perang dan tidak ada bahaja jang mengantjam sehingga tidak diperlukan lagi adanja tentara pendudukan Inggris. Djuga Mesir menuntut, supaja Inggris meninggalkan terusan Suez, karena Mesir sekarang berpendapat telah tjukup kuat untuk mempertahankan terusan itu sendiri. Achirnja tentara Inggris meninggalkan Suez bulan Djuni 1955. Selain itu Mesir mendjalankan politik pembangunan untuk membangun Mesir Baru, Mesir bertudjuan membebaskan rakjat dari sisa-sisa feodalisme, pemerasan dan korupsi. Untuk maksud tersebut Nasser mendjalankan politik diatas persatuan rakjat dengan semangat jang berkobar-kobar dan, tidak menghiraukan reaksi-reaksi negara Jain. Nasser berdjalan terus dengan berpedoman bekerdja demi kebebasan Mesir dari kekuasuan asing dan demi kemakmuran dan kedjajaan Bangsa seluruhnja.

Setelah melihat politik Mesir, maka apabila kita tindjau dari pergolakan nasionalis Mesir, maka nasionalisasi terusan Suez achir-achir ini, walaupun sebab-sebab jang langsung dari tindakan Nasser itu lain (karena pembatalan bantuan untuk pembuatan dan Aswan oleh Inggris-Amerika), sebenarnja hanja merupakan tindakan kelandjutan dalam usaha Mesir untuk menjempurnakan kedaulatan negaranja,

Selandjutnja Nasionalisme Arab jang dipelopori oleh Mesir bertumbukan dengan adanja anasir luar negeri jang berketjamuk di Timur Tengah. Anasir itu ialah adanja pertentangan antara Blok Eropa Timur dengan Blok Eropa Barat, jang berebutan berusaha menanamkan pengaruhnja didaerah itu. Hal itu disebabkan oleh karena daerah tersebut penting sekali artinja dipandang dari strategie militer dan kekajaan persediaan minjaknja. Dalam rangka usaha pertahanan dari kedua Blok itu, negara-negara Arab mendjalankah po1itik sendiri-sendiri. Ada jang bersikap netral dan ada jang terang-terangan telah mengikatkan diri pada suatu blok pertahanan, sehingga gerak nasionalisme Arab tidak dapat berdjalan dengan wadjar.

5. Pertahanan di Timur Tengah dalam

rangka Pertentangan dua blok.

Dimuka telah kami kemukakan, bahwa dengan adanja pertentangan antara Blok Barat dan Blok Timur, maka menempatkan Timur Tengah dalam kedudukan jang penting bagi pertjaturan politik, Hal itu karena letak geografisnja dan kekajaan minjaknja.

Geografis letak Timur Tengah sangat penting, karena sebagai urat nadi lalu-lintas dunia baik djalan melalui lautan, darat maupun udara. Timur Tengah dapat digunakan sebagai batu lontjatan untuk

mengadakan serangan-serangan kebenua Eropa dan dapat dipergunakan sebagai pangkalan untuk mendjamin perhubungan laut, darat dan udara kedaerah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Dengan berachirnja perang Dunia ke II, lnggris sangat chawatir, karena melihat tanda-tanda adanja usaha Rusia untuk menerobos kedaerah itu, terutama melalui Iran Utara jang kaja sumber-sumber minjak. Di Iran Utara, ketjuali terdapat sumber-sumber minjak (daerah Azerbaijsan dan Kurdistan) penting sekali artinja bagi strategie militer. Iran menghubungkan teluk Persia dan laut Kaspia (Rusia), diaerah itu terdapat djalan-djalan besar dan djalan-djalan kereta api Basra-Bagdad-Mussul-Abadan-Khranskahr-Teheran-Tibris Rusia.

Apabila daerah itu ada dibawah pengaruh Rusia, maka itu berarti ia berangsur-angsuq akan dapat menguasai Iran sepenuhnja dan jang akan berarti tertjapainja politik air hangat dalam menembus kelaut Hindia dan dapat menguasai daerah jang kaja minjak jang penting untuk peperangan modern. Waktu perang Dunia ke II berketjamuk, melalui djalan-djalan tersebut diataslah Rusia menerima bantuan USA untuk menahan tentara Djerman jang djuga menjerbu menudju daerah itu.

Dengan demikian, maka usaha untuk tetap menanamkan pengaruhnja di Timur Tengah adalah penting sekali, baik bagi lnggris sendiri maupun sekutunja Amerika Serikat. Karenanja baik bangsa Jahudi maupun bangsa Arab harus dapat didjadikan kawan. Jahudi karena besar pengaruhnja didunia (orang-orang Jahudi adalah kaja-kaja, terutama di Amerika Serikat), dan bangsa Arab karena tanpa bangsa Arab jang 40 djuta, Timur Tengah akan sukar dapat dipertahankan. Karenanja sikap Inggris jang paling mudah meninggalkan Palestina jakni bersikap tjutji tangan terhadap masalah jang ditimbulkan. Penarikan pasukan lnggris dari Palestina, dengan langsung memberi kemungkinan bangsa Jahudi untuk bertindak memproklamasikan berdirinja Republik Israel. Sikap tjutji tangan selain untuk menundjukkan kepada bangsa Arab bahwa Inggris tidak menjetudjui putusan U.N.O., sebenarnja mengandung maksud-maksud jang tertentu.

Dengan timbulnja negara Israel jang kuat, maka akan terdapat keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, jakni antara Israel dan

Garuda Perdamaian 120.jpg

Penjeberangan di Terusan Suez.

negara-negara Liga Arab. Berdirinja Liga Arab tahun 1945 sebenarnja djuga atas dorongan Inggris.

Dengan adanja keseimbangan di Timur Tengah, maka Inggris mengharapkan tetap akan dapat mendjalankan rolnja dan melaksanakan tudjuan-tudjuan politiknja dinegara-negara Arab. Pokoknja adanja pertentangan jang seimbang antara Arab-Israel dan adanja pertentangan politik antara negara-negara Arab sendiri, Inggris mengharapkan akan tetap dapat menanamkan kekuasaannja, walaupun dengan bentuk jang lain, sehingga kepentingan-kepentingannja jang vitaal di Timur Tengah dapat didjamin.

Usaha Inggris untuk mempertahankan kedudukannja di Timur Tengah dengan tjara membuat keseimbangan kekuatan dan menempatkan dirinja sebagai kawan dari negara-negara tsb, mendapat so

kongan dari Perantjis dan Amerika Serikat. Hal itu ternjata dengan keluarnja pernjataan bersama Inggris-Perantjis-Amerika Serikat pada tanggal 25 Mei 1950, jang maksudnja ialah untuk mendjamin:

Adanja keseimbangan persendjataan antara negara-negara Arab dan Israel, maka untuk itu maka semua bantuan sendjata atau alat-alat perang Jainnja akan dibatasi dan disesuaikan dengan maksud tsb; dari negara-negara Jain, Inggris-Perantjis-Amerika mengharapkan sikap jang sama pula.

Pemberian sendjata kepada negara-negara Timur Tengah dilakukan hanja dengan sjarat, bahwa sendjata itu akan dipergunakan mendjamin keamanan dalam negeri. Selandjutnja ketiga negara tersebut menentang pemakaian kekerasan untuk mengadakan perubahan garis gentjatan sendjata dan garis-garis perbatasan.

Selain itu Inggris bermaksud pula agar persekutuan Liga Arab dapat digunakan sebagai alat untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan penetrasi Soviet Rusia ke Timur Tengah. Tetapi ternjata maksud itu gaga], karena adanja arus nasionalisme Arab jang dipelopori Mesir. Seperti telah kita kemukakan, dengan adanja revolusi di Mesir pada tanggal 23 Djuli 1952 dan dengan turunnja Farouk dari tachta, sikap Mesir tampak anti Inggris. Mesir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan asing dan melenjapkan sisa-sisa kolonialisme jang masih ada. Sikap netral positif dari Mesir jang kemudian diikuti negara-negara Arab lainnja menjebabkan Inggris mentjari siasat lain.

Dengan singkat arus nasionalisme Arab jang dipelopori oleh Mesir jang berusaha menemukan kepribadian sendiri dari bangsa Arab, bertumbukan dengan perkembangan politik internasionalis, sebagai akibat pertentangan dua blok besar di Timur Tengah jang saling berebutan untuk mendapatkan pengaruh.

Memang Liga Arab tidak mungkin dapat dipergunakan Inggris sebagai alat pembendungan pengaruh Soviet Rusia di Timur Tengah, karena tali ikatan utama dari Liga Arab ialah untuk menghadapi Israel atau ditudjukan kepada Israel. Dengan adanja pertentangan dua blok, maka sikap negara-negara Arab terpetjah mendjadi dua. Ada jang terang-terangan tjondong ke blok Barat dan memandang pentingnja ikut dalam perdjandjian keamanan bersama Barat dan ada jang bersikap netral. Pendirian pertama dalam Liga Arab tersebut,

117
diwakili oleh Iraq, sedangkan pendirian kedua dipelopori oleh Mesir jang kemudian mendapat sokongan dari Arab saudi, Syria dan Jordania.

Setelah melihat kelemahan Liga Arab, maka lnggris mentjari djalan lain. Atas dorongan Inggris, maka terbentuklah pakt keamanan bersama Turki-Iraq di Bagdad pada tanggal 24 Februari 1955 jang selandjutnja terkenal sebagai Pakt Bagdad. Sifat perdjandjian itu terbuka, artinja negara-negara lain dapat ikut serta dengan djalan memasuki perdjandjian itu. Kemudian Inggris dan Pakistan masuk da]am perdjandjian itu, sedang Amerika Serikat hanja sebagai anggauta tidak resmi, dan akan ikut dalam panitya-panitya militer pakt itu. Ikutnja Amerika Serikat setjara langsung dalam Pakt Bagdad tidak begitu penting karena sudah ada perdjandjian militer dengan Turki dan Pakistan.

Pada hari belakangan Iran menjatakan masuk dalam Pakt, sehingga dengan demikian Blok Barat berhasil mengepung Soviet Rusia disebelah Selatan perbatasan. Sebaliknja Soviet Rusia menganggap masuknja Iran dalam Pakt Bagdad sebagai pelanggaran perdjandjian Soviet dan Iran, dan segera mengirimkan nota antjaman kepada negara tersebut.

Usaha Inggris untuk menarik Jordan kedalam Pakt Bagdad boleh dikata gagal, karena sikap Jordan tjondong kepihak Mesir. Hal itu terbukti dengan pemetjatan Djenderal Glupp Pasha sebagai panglima Legiun Jordania jang diikuti dengan pemetjatan opsir-opsir Inggris lainnja dan permintaan pembatalan perdjandjian persekutuan Inggris-Jordan tahun 1948. Sebagai ganti subsidi Inggris £ 12.000.000 berdasarkan perdjandjian tahun 1948, Arab-Saudi, Mesir dan Syria bersedia memberi bantuan sebesar £ 12.500.000 selama 10 tahun.

Demikianlah perbedaan pandangan politik negara-negara Arab dengan adanja pertentangan dua blok jang sangat besar pengaruhnja dalam kehidupan politik di Timur Tengah. Untuk menghadapi Israel sikap negara-negara Arab satu, tetapi dalam rangka pertahanan kedua blok, mereka menundjukkan sikapnja jang berlainan. Dengan adanja perbedaan sikap jang achir itulah, maka nasionalisme Arab tidak dapat berkembang dengan wadjar. Tidak berkembang dengan wadjar dalam hal ini bukan berarti berhenti, hal itu terbukti nanti dengan adanja tindakan Inggris-Perantjis-Israel terhadap Mesir berhubung dengan masalah Suez. Negara-negara Arab tjukup menundjukkan solidariteitnja dan memandang nasionalisasi itu sebagai usaha Mesir untuk menjempurnakan kedaulatan negaranja.

Lama sebelum timbulnja masalah Suez, memang Mesir telah mengadakan persiapan-persiapan sendjata untuk menghadapi Israel. Mesir tahu, bahwa Israel telah lama memiliki sendjata-sendjata modern dari negara-negara Barat, sedang negara-negara Arab persendjataannja djauh ketinggalan. Usaha untuk mendapatkan sendjata dari Amerika Serikat mendjumpai kegagalan, karena sjarat-sjarat jang diadjukan oleh Amerika Serikat ialah, supaja Mesir masuk kedalam bloknja, pula karena pembajaran itu harus dilakukan dengan dollar.

Garuda Perdamaian 123.jpg

Cie. A bersiap-siap akan berangkat. Kemana? Tunggu perintah, tapi pasti digurun pasir ............................

Sementara itu pada tanggal 28 Pebruari 1955 Israel mengadakan serbuah kedaerah Gaza Strip jang berarti pelanggaran terhadap terhadap gentjatan sendjata tahun 1955.

Dewan Keamanan mengutuk tindakan Israel tsb. dan menjerukan supaja Israel dan Mesir bekerdja sama dengan Badan Pengawas Gentjatan Sendjata P.B.B. Atas pertimbangan - setelah menjerbu Gaza Strip - maka Nasser bertindak.

Untuk mengimbangi kekuatan Israel; maka Mesir terpaksa berusaha mentjari sendjata dari blok Rusia. Pada musim semi 1955 diadakan perundingan antara duta Mesir dan duta Tjekoslovakia tentang kemungkinan pembelian sendjata antara lain pesawat-pesawat M.I.G., tank, meriam dan lain-lain. Pelaksanaan dari pernbelian sendjata itu kira-kira pada bulan Nopembcr 1955, dimana sebagai gantinja Mesir akan mengirim kapas.

Disamping mengadakan pembelian sendjata, negara-negara Arab berusaha menghimpun angkatan perangnja. Pada tanggal 21 April 1955 Mesir, Arab Saudi. dan Yaman menandatangani Pakt Militer di Djeddah. Kemudian pada tanggal 5 September 1955 di Riad diadakan konperensi militer lagi antara Mesir, Libanon, Syria, Arab Saudi dan Jordania.

Pembelian sendjata itu, sudah barang tentu menimbulkan perubahan kekuatan, karena Mesir sekarang mendjadi kuat. Statusquo jang didjamin oleh Inggris-Perantjis-Amerika dengan sebuah deklarasi bulan Mei 1955, dengan sendirinja akan terantjam. Disamping itu negara-negara Barat sangat tjemas, karena pembelian sendjata itu datangnja dari Blok Timur dan dichawatirkan Rusia akan beroleh kesempatan untuk menanamkan pengaruhnja di Mesir. Apabila itu terdjadi, berarti Rusia berhasil menembus dibelakang garis pertahanan Barat jang digalang dengan Pakt Bagdad, jakni Turki, Iraq, Iran dan Pakistan.

Blok Barat dengan keras berusaha menghentikan pembelian sendjata dari Blok Timur itu, sedangkan dari fihak Israel mendesak dengan keras supaja kepadanja diberikan bantuan sendjata-sendjata baru dengan alasan untuk mendjaga kemungkinan dari serangan Mesir. Selandjutnja Blok Barat menuduh kepada Rusia sengadja mengeruhkan

situasi di Timur Tengah dengan djalan merusak keseimbangan kekuatan didaerah itu untuk mentjapai tudjuan-tudjuan politiknja, Sebaliknja Rusia mendjawab, bahwa kekeruhan di Timur Tengah djustru disebabkan oleh tjampur tangan Barat didaerah itu. Uni Soviet selandjutnja menundjuk antara lain kegiatan-kegiatan fihak Barat di Iran, dimana negeri itu achirnja diseret dalam Pakt Bagdad.

Usaha Barat untuk menghentikan pelaksanaan pembelian sendjata dari Tjekoslovakia antara lain dengan djalan djandji akan memberikan bantuan kepada Mesir dalam usahanja membangun bendungan Aswan. Amerika dan Inggris dalam bulan Desember 1955 mendjandjikan akan memberi bantuan uang sebesar 70 djuta dollar sebagai djangka permulaan, Kemudian dari Bank Dunia didjandjikan pula sebesar 200 djuta dollar. Untuk mengimbangi Arnerika-Inggris, Rusia kemudian menawarkan kesediaannja untuk membantu pembiajaan kira-kira sepertiganja serta menjanggupi pemberian bantuan tehnik dan ekonomi.

Dengan demikian, maka usaha negara-negara Barat untuk menarik Mesir dengan djandji bantuan itu gagal sama sekali. Achirnja Amerika menuduh Nasser mendjalankan politik netral bermuka dua dan tjondong ke Blok Timur. Sebagai tindakan jang menghukum politik Nasser jang bermuka dua, maka dibatalkan djandji bantuan bendungan Aswan oleh Amerika jang segera disusul pula oleh sekutunja, Inggris. Seperti telah kita ketahui dalam surat-surat kabar, maka sebagai balasan Nasser dengan mengambil tindakan menasionalisasi Kongsi Terusan Suez, dimana sebagian besar andilnja dimiliki Inggris dan beberapa dimiliki Perantjis. Dengan demikian timbullah perselisihan antara Mesir dengan lnggris-Perantjis. Inggris-Perantjis menghendaki agar Suez ditempatkan dalam Badan Internasional jang kemudian akan mendjalankan exploitasinja atas terusan Suez.

Dengan timbulnja masalah Suez, Israel melihat adanja kesempatan jang baik sekali untuk memukul Mesir: terutama ia mengingini daerah Gaza serta adanja djaminan kebebasan pelajaran di terusan Suez dan keamanan pelajaran di Teluk Aqaba. Itulah apa sebabnja Israel dapat digunakan sebagai alat oleh Inggris dan Perantjis untuk melantjarkan serangannja terhadap Mesir, supaja kedua negara itu sempat menduduki kembali terusan Suez dan menginternasionalisasikannja.




Garuda Perdamaian 126.jpg

Berlatih diwaktu senggang dan dalam keadaan jang mengizinkan, adalah salah satu sendi dalam menghadapi segala kemungkinan. Djuga Corps Phb. kita dalam hal ini tidak mau ketinggalan.

Alasan untuk menduduki terusan itu ialah, bahwa dengan serangan Israel jang menudju ke terusan Suez, dichawatirkan akan dapat merusakkan terusan itu, sebenarnja hanja merupakan alasan jang dibuat dan direntjana terlebih dahulu.

Selain itu perlu diingat, bahwa antara Inggris dan Amerika Serikat sendiri sebenarnja ada pertentangan sikap di Timur Tengah, jakni adanja persaingan mengenai sumber-sumber minjak. Aramco misalnja berani memberikan bagian keuntungan 40% — 50% kepada Arab Saudi, sedangkan Anglo Iranian Oil Company hanja berani memberikan keuntungan 20%. Itu sebabnja, maka timbul tuntutan-tuntutan di Iran, jang menimbulkan tindakan nasionalisasi diwaktu Perdana Menteri Mossadeq berkuasa. Adanja persaingan itu, maka sering mengakibatkan tidak adanja kesatuan politik antara Amerika dan Inggris di Timur Tengah. Amerika berpendapat, bahwa untuk tetap memelihara hubungan baik dengan daerah itu, maka politik kolonialisasi dan exploitasi seperti Inggris di waktu-waktu jang lampau supaja diachiri, dan dirobah dengan hubungan ekonomi jang saling menguntungkan dengan negara-negara tersebut. Itulah sebabnja maka Amerika memberikan pembagian keuntungan jang seimbang seperti tersebut diatas.

Dari perbedaan pandangan itu, maka dapat kita ketahui mengapa sikap Amerika Serikat agak lunak terhadap masalah Suez dan tidak menjetudjui tindakan Inggris-Perantjis terhadap Mesir, dan mengandjurkan penjelesaian setjara damai.

Tindakan kekerasan Inggris-Perantjis ternjata mengakibatkan reaksi jang besar sekali dari negara-negara Arab, sampai Iraq mengantjam akan keluar dari Pakt Bagdad dan tidak suka duduk dalam perundingan Pakt Bagdad dengan Inggris.

Pengaruh dan kekuasaan Inggris-Perantjis di Timur Tengah lenjap sama sekali dengan adanja tindakan militer tersebut. Amerika chawatir, bahwa dengan lenjapnja kekuasaan Inggris-Perantjis didaerah itu akan memberi kesempatan kepada Rusia untuk mengadakan penetrasi kedaerah tersebut. Timbullah teori vacuum kekuasaan dari Amerika Serikat. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan itu, maka ditelorkan doktrin Eisenhower untuk Timur Tengah. Dengan doktrin tersebut, maka dengan menggunakan Arab Saudi, Amerika Serikat berusaha

menarik Jordania kefihaknja dan mengisolir Mesir dan Syria dari negara-negara Arab lainnja.

Demikianlah situasi di Timur Tengah jang sangat berbelit-belit itu, jang sebagian besar ialah karena akibat kekajaan minjaknja dan letaknja jang sangat vitaal bagi perhubungan lalu-Iintas dunia dan keperluan strategie militer, sehingga negara-negara Barat dan Timur berebutan untuk menanamkan pengaruhnja dan kekuasaannja didaerah itu. Disamping itu adanja pergolakan sendiri diantara negara-negara Arab dan adanja pertentangan jang latent antara negara-negara Arab tersebut dengan Israel. Dimasa-masa jang akan datang Timur Tengah tetap akan penting artinja bagi pertjaturan politik internasional. Persoalan-persoalan jang dihadapi sangat explosief, karena tersangkutnja kekuatan luar jang banjak kepentingannja didaerah itu.



---------

PENDAPAT DAN REAKSI TENTANG
PASUKAN GARUDA

Pendapat dan reaksi dari berbagai kalangan di Jordania mengenai Pasukan Garuda Indonesia, jang bertugas diperbatasan Mesir/Israel sebagai bahagian dari Pasukan Darurat P.B.B. (UNEF), dapat disimpulkan antara lain sebagai berikut:

Beberapa golongan pemuka rakjat berpendapat, bahwa Pasukan Garuda Indonesia itu sesungguhnja djauh lebih baik dari pada lainnja. Oleh sebab itu kepada Pasukan Garuda Indonesia dapat diberikan kepertjajaan sepenuh-penuhnja.

Sebab Pasukan ini sedjiwa dan sefaham dengan mereka serta dapat merasakan tudjuan dan tjita-tjita mereka.

Pada pokoknja sebenarnja tidak dapat disetudjui adanja suatu pasukan internasional, apapun tjorak dan bentuknja, untuk menetap didaerah ini seterusnja. Sebab adanja Pasukan jang demikian itu adalah merupakan satu langkah jang berbahaja bagi kepentingan dan kemaslahatan masa depan Bangsa Timur/Arab.

Dengan perantaraan dan berkedok pasukan internasional itu musuh akan dapat melakukan tipu muslihat dengan berbagai matjam djalan dan tjaranja jang terkenal litjin itu untuk mendjadjah mereka.

Dengan ikut sertanja Pasukan Garuda Indonesia dalam Pasukan Darurat P.B.B. itu bukan sadja sangat penting artinja dalam memberikan pertimbangan dalam Pasukan P.B.B. itu keseluruhannja, tetapi djuga penting bagi Pasukan Indonesia sendiri, karena dengan demikian ia dapat memperlihatkan kepada dunia internasional betapa tinggi mutu dan nilai Pasukan Indonesia pada umumnja.

Memang Tentara Indonesia dalam keseluruhannja telah mentjapai taraf internasional jang tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dan disaksikan sendiri pada beberapa puluh Anggota Pasukan Garuda Indonesia jang kebetulan mendapat kesempatan berkundjung kemari (Baitul-

maqdis dan Jerusalem). Dapat dilihat, bahwa mereka itu benar-benar mentjerminkan satu Pasukan jang mempunyai moreel dan achlak jang tinggi. Mereka giat dan radjin. Semangat mereka pun baik.

Suara Pers:

Ikut sertanja Pasukan Garuda Indonesia dalam Pasukan Darurat P.B.B. disambut dan diterima dengan rasa gembira oleh seluruh dunia Arab dan Islam. Salah satu sebab jang terpenting ialah faktor agama dan perikemanusiaan.

Indonesia semendjak merdeka dan bebas dari pendjadjahan asing jang terkutuk itu terus-menerus berdjuang membela Bangsa-bangsa jang masih terdjadjah.

Indonesialah pembela pertama bagi segala persoalan Negara-negara Arab digelanggang internasional. Maka Indonesia bukan sadja dipandang sebagai kawan oleh Bangsa dan Dunia Arab, tetapi adalah sebagai saudara kandung mereka sendiri.

Oleh karena itu masuknja dan ikut sertanja Pasukan Garuda Indonesia dalam Pasukan Darurat P.B.B. itu disambut oleh setiap orang Islam dan orang Arab dengan penuh kegembiraan dan rasa puas, karena Indonesia sendiri mempunjai tempat dan kedudukan jang istimewa dalam djiwa setiap Putera Arab.

Apalagi ikut sertanja Pasukan Indonesia dalam Pasukan Internasional itu tepat saatnja. Sesudah tentara Inggeris dan Perantjis melakukan serangan atas Mesir (salah satu negara Arab), datanglah Pasukan Indonesia memikul tanggung-djawab internasional dalam Pasukan P.B.B.

Dengan adanja Pasukan Garuda Indonesia ini tertjegahlah serangan-serangan selandjutnja atas bumi Arab jang dilakukan oleh Inggeris-Perantjis bersama-sama dengan Israel.

Pasukan Garuda Indonesia bersarna-sama dengan Pasukan P.B.B. telah berhasil menghentikan dan mentjegah peperangan berkobar terus. Pendek kata Pasukan P.B.B. telah mendjalankan tugasnja sebaik-baiknja. Dan sesudah tugasnja itu selesai, sudah seharusnjalah mereka meninggalkan daerah ini dan menjerahkan pendjagaan Negeri ini kepada Bangsa dan Puteranja sendiri.

Selandjutnja berdasarkan pers dokumentasi jang ada, dapatlah ditekankan bahwa dengan ikut sertanja Pasukan Indonesia didalam Pasukan P.B.B. itu terlihat dau terbuktilah, bahwa Pasukan Indonesia itu sungguh-sungguh telah mentjapai tingkat internasional jang tinggi, moreel, disiplin dan kesungguhan dalam mendjalankan pertanggungandjawab.

Bahwa Peradjurit Indonesia jang telah mendapat kehormatan besar atas djasanja membebaskan Negaranja dari pendjadjahan Belanda sehingga Indonesia memperoleh kemerdekaannja sebagai hasil dari djihad dan perdjuangan Putera-puteranja sendiri, Peradjurit Indonesia jang demikian itulah sesungguhnja patut dan berhak mendapat kepertjajaan dan penghargaan dunia seluruhnja.

Kesimpulan:

Terlepas dari pendapat dan reaksi seperti jang kurang berarti, umumnja Masjarakat Jordania (pers, pemuka-pemuka, tjerdik-tjendekiawan dan masjarakat ramai) menghargai dan memberikan penilaian tinggi serta mengakui djasa-djasa dan pentingnja ikut-sertanja Pasukan Garuda Indonesia dalam Pasukan P.B.B., jang bertugas dibahagian Dunia Timur-Tengah sekarang.





SURAT-SURAT KIRIMAN

BERHENTI SEBENTAR

Tahukah Saudara buhwa Pasukan-pasukan Indonesia di Mesir:

  1. Melakukan latihan-latihan bila sedang tidak bertugas.
  2. Untuk mengangkut tjutjian-tjutjian dari Post-post ke Induk Pasukan dilakukan dengan kapal terbang, karena sangat djauh.
  3. Seorang kawan jang sedang sakit, dirawat sampai ke Rumah sakit di Djerman.
  4. Pada saat jang senggang mereka mengadakan pertandingan-pertandingan Olah raga dengan Pasukan-pasukan lain Negara.
  5. Tentara Indonesia amat ditakuti, karena terkenal disiplin bila sedang bertugas mendjaga gudang, sampai-sampai Tentara Kanada bila mendekat, masih djauh sudah angkat tangan dan berteriak ,,I'm Canada".

SEKILAS KEBERANGKATAN POLISI P.B.B.

DARI INDONESIA UNTUK MESIR.

Lts.: Saudin Sagiman.


Tanggal 9 Djanuari 1957. Fadjar hari. Deru kendaraan bermotor menudju lapangan terbang Kemajoran diiringi oleh suara guruh dipagi bari itu sungguh memberikan kesan jang mendalam bagi kita.

Kenapa tidak! Karena inilah merupakan detik-detik peristiwa jang tak dapat dibiarkan lalu begitu sadja dalam rangkaian peristiwa bersedjarah, baik bagi T.N.I. maupun untuk sedjarah kebangsaan.

Tak ada jang akan membantah ini kiranja.

Untuk jang pertama kali, saja ulangi untuk jang pertama kali Republik Indonesia mengirimkan pasukan bersendjatanja keluar negeri dengan tugas jang sutji murni sebagai polisi P.B.B.

Memang murni tugas ini, karena pengiriman detachement Garuda I ini ke Mesir, bukanlah untuk maksud mengobarkan peperangan.

Bahkan sebaliknja, mereka bertugas untuk turut serta mentjegah berlangsungnja peperangan jang dikutuki oleh setiap orang jang berperi kemanusiaan.

Detachement Garuda I ini terdiri dari 3 kompi, masing-masing adalah dari T.T. IV 2 kompi dan 1 kompi lagi dari T.T. V.

Letnan Kolonel Hartojo telah ditundjuk untuk mendjadi komandan dari pasukan ini dengan dibantu oleh Majoor Sudiono sebagai wakilnja.

Sembilan hari sebelum mereka meninggalkan Indonesia mereka telah dilantik oleh Panglima Tertinggi di Istana Negara dan dalam pelantikan itu Panglima Tertinggi telah menjampaikan amanat beliau antara lain sebagai berikut:

......... bahwa ini adalah soal jang pertama kalinja tentara kita memikul tugas internasional, bukan untuk kita sadja tetapi untuk seluruh dunia dan untuk perikemanusiaan.

Saudara hendak berangkat dan membawa nama Indonesia. Saja berikan pangestu dan saja doakan Insja Allah baik diluar negeri nanti dan sekembalinja ditanah air akan tetap mendjadi bunga bangsa Indonesia dalam menjelesaikan tjita-tjita revolusi kita".

Demikian amanat Panglima Tertinggi jang telah didengarkan dengan penuh hikmat oleh pasukan Garuda I.

Dua hari sebelum pelantikan di Istana Negara itu, oleh Kepala Staf Angkatan Darat pasukan ini telah di-inspekteer dan djuga K.S.A.D. menjampaikan pesan sebagai berikut:

...........Tugas kamu ini adalah tugas negara terhadap negara sahabat jang kita hormati dan tugas internasional T.N.I. jang pertama kali jang penuh udjian dan peladjaran. Karena itu laksanakanlah tugas ini dengan sebaik duta negara dalam arti jang sesungguh-sungguhnja".

Kedua amanat diatas telah memberikan pengertian-pengertian dan harapan dari kita semua kepada ,,duta-duta" kita itu untuk senantiasa dapatnja membawa nama baik jang telah dimiliki oleh T.N.I.,. dalam sedjarahnja.

Insjaf dan sadar akan tugas murni jang akan didjalankan inilah barangkali jang telah menimbulkan semangat ingin dapat menunaikannja dengan sebaik-baiknja. Semua ini memang tidaklah diutjapkan dengan kata-kata tetapi sorotan mata jang dipantjarkan ketika mereka akan meninggalkan lapangan terbang Kemajoran telah memberikan gambaran jang djelas bahwa mereka sedikitpun tiada gelisah dan gentar untuk menunaikap tuga jang dipikulkan kepada mereka.

Saja teringat bagaimana seorang wartawan lbu kota waktu menginterview salah seorang perwira Garuda I ini: ,,apakah saudara tidak gentar untuk menunaikan tugas saudara itu dan apakah saudara meminta sendiri untuk ditugaskan ke Mesir ini"?

Perwira tadi tersenjum ketjil dan mendjawab: ,,kalau saja katakan saja tidak gentar djanganlah pula saudara wartawan menganggap bahwa saja berpendapat ke Mesir itu sebagai suatu tourisme, tetapi saja sebagai militer, tugas keluar negeri atau kedalam negeri itu sama sadja soalnja, kalau diperintahkan .................. djalan dan tidak ada tawar-menawar".

Saja sendiri jang menemani pertjakapan mereka itu merasa bangga terhadap rekan saja jang tegas sekali dalam utjapannja itu.

Saudara wartawan melihat dengan kerlingan mata kepada saja dan saja pun mengerti maksudnja lalu menjela: ,,apa jang diutjapkannja itu memang keluar dari hati nuraninja dan saudara tak usah sangsi akan kata-kata itu".

Ia tersenjum gembira dan berlalu dari sana menjusul ketempat-tempat lain mungkin akan mentjari bahan-bahan lain.

Tepat djam 06.00 pesawat Globemaster jang pertama meninggalkan landasan dibawah tepuk tangan jang riuh. Sementara itu pasukan-pasukan lainnja sudah datang lagi memasuki lapangan terbang.

Dari alat pengeras suara terdengar announcer dari Penad: ,,Saudara-saudara jang memasuki lapangan ini adalah pasukan dari Brawidjaja dan mereka akan segera masuk kepesawat udara jang ketiga".

Spontaan terdengar teriakan jang riuh dari jang hadir: ................... hidup Brawidjaja dan selamat bertugas. Tepuk tangan tak henti-hentinja seakan-akan hendak mengimbangi deru pesawat-pesawat Globemaster jang telah mulai memutar baling-balingnja.

Lagi-lagi terdengar suara Kapten Suwamo dari Penad: .......... saja tidak akan djemu-djemunja menjampaikan dan menjerukan, marilah kita bertepuk tangan melepaskan mereka jang pergi ini sebagai lambang selamat djalan dan selamat bertugas". Seruan ini memang mendapat sambutan jang hangat.

Demikian satu demi satu pesawat pengangkut Amerika ini meninggalkan landasan dengan tepuk tangan dan irama-irama mars dari Corps Musik KMKBDR.

Dan setiap pesawat meninggalkan landasan itu, saja sendiri dalam hati berdoa .............. moga-moga mereka akan dapat mendjalankan tugasnja dengan baik dan kembali ketanah air dalam keadaan sehat walafiat".

(Madjallah Angkatan Darat No. I)

Bulan Djanuari 1957.




_____________













Sengadja baru sekarang saja menulis untuk teman-teman sekalian di Indonesia. Karena apa? Selama ini dengan penuh perhatian saja menunggu berita hangat dari keluarga saja sendiri di Tanah-air. Barulah 10 hari jang lampau kuterima surat dari rumah, bahwa isteri saja telah melahirkan anak dengan selamat pada tanggal 6 Djanuari 1957 djam 06.10. Berita mengenai bevalling ini telah saja dengar pula sewaktu kedatangan pasukan pada tanggal 12 Djanuari 1957, tetapi berita tersebut, masih bersimpang siur. Ada jang mengabarkan melabirkan dua orang anak kembar, dirawat dirumah sakit Panti-Rapih dan sebagainja. Seperti mungkin Saudara telah maklum saja berangkat mendahului pasukan pada tanggal 2 Djanuari 1957 sebagai anggauta Advance Party Bn. Djadi saja berangkat ke Mesir 4 hari sebelum anak kami jang ke-5 lahir. Dapatlah kiranja teman-teman goreskan, bagaimana perasaan hati seorang bapak jang sedang mendengar dan menunggu berita jang sematjam itu tadi. Bersjukurlah kami kepada Tuhan Jang Maha Esa, bahwa isteri beserta anak kami dalam keadaan jang sehat wal'afiat. Tidak kembar, dan tjantik manis pula parasnja .......... kata ibunja. Mudah-mudahan dalarn achir tahun ini dapatlah kami melihat dan kuraih akan wadjah anak kami tersebut.

Itulah sebabnja teman-teman, Saudara-saudara sekalian. Dan kini kumulailah tjerita kami semendjak pemberangkatan dari Tanah-Air sampai sekarang ini. Tetapi dengan perdjandjian sebelumnja, bahwa dengan tulisan saja ini saja berharap akan menerima surat-surat lebih banjak lagi dari Tanah-Air, dari Saudara-saudara sekalian.

Kami berangkat bersama-sama dengan anggauta Advance Party Bn. Garuda 1 sebanjak 36 orang dibawah pimpinan Majoor Soetikno Kepala Garuda I Bn. Dari Djakarta berangkat pada tanggal 010217.30 dengan menumpang pesawat terbang U.S. Navy Military Air Transport Service. Pesawat tersebut chusus diperuntukkan rombongan kita, jang disamping dapat memuat 40 orang penumpang memuat pula 5 ton barang-barang, Djadi pemberangkatan kami ini tidak dengan pesawat Globemaster Type C-124 seperti jang dipergunakan pemberangkatan Pasukan Batalion.

Diperdjalanan tidak perlu kami tjeritakan, jang pada pokoknja dari Djakarta terus Bangkok-Calcutta-Dahran-Beyruth dan achirnja Abu Suweir.

Pada tiap-tiap pemberhentian tersebut pada umumnja beristirahat 2 djam di Airport, hingga tanggal 010323.00 kita telah mendarat di Beyruth. Di Beiruth kita bermalam di Kamp Tentara Libanon, karena esok harinja akan ganti pesawat. Esok harinja tanggal 4 Djanuari 1957 djam 12.00 kita telah berangkat dari Beyruth Air Port dengan pesawat Flying Boxar dari Canadian Air Force menudju Abu Suweir, dan tiba disana pada djam 14.00. Mulai saat itu kita telah mengindjak bumi Mesir jang kita tudju.

Mulai di Bangkok sampai Abu Suweir rombongan kita selalu didjemput oleh Perwakilan dan Atache Militer kita di Negara-negara tersebut, terketjuali di Dahran karena letaknja terlalu djauh. Dahran ini agaknja memang merupakan pangkalan Amerika di Timur Tengah jang penting, kalau kami lihat pesawat-pesawat U.S.A. dan kekuasaannja disitu. Karena tidak ada jang mendjemput, di Dahran kita dipersilahkan oleh seorang Kapten Amerika untuk makan siang dan didjamu dimessnja.

Mulai di Dahran sudah terasa dinginnja, terlebih di Libanon dan Mesir, karena waktu ini musim dingin. Perhubungan kita dengan crew-members dari Plane mulai Djakarta dan sesampainja ditempat adalah baik sekali dan menjenangkan, servicenjapun memuaskan. Dari Beyruth ke Abu Suweir semua penumpang diwadjibkan mengenakan zwemvest dan parachuute, karena melintasi Laut Tengah dan diatas daerah Israel.

Sesampainja di Abu Suweir, rombongan kita untuk sementara waktu ditempatkan di UNEF doorgangskamp disekitar lapangan terbang. Semendjak saat itu kita telah berada dalam hubungan internasional, karena disitu telah banjak kesatuan-kesatuan dari lain Negara dan Staf UNEF sendiri, seperti dari Kanada, Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark, India dan sebagainja.

Perhubungan kita dengan mereka, termasuk orang-orang Mesir mempergunakan bahasa Inggris, walaupun untuk kami sendiri masih sering ,,keseleo". Tetapi ingat akan pesan Panglima kita, djuga dari Presiden agar djangan sampai ada perasaan minderwaardig, walaupun dengan bahasa Inggris jang sederhana, kami lajani pula mereka itu.

Betul djuga, tidak semua opsir-opsir dari Negara-negara lain itu berbahasa Inggris, bahkan dari kita semuanja lebih banjak jang dapat. Tetapi jang kadang-kadang mendjemukan ialah kalau berbitjara dengan mereka jang memang itu bahasanja, seperti dengan Kanada misalnja. Dianggapnja berbitjara dengan temannja sekampung. Suatu keuntungan jang kedua, ada kesempatan memahami dan memperdalam bahasa Inggris dalam praktek. Keuntungan jang pertama ialah dapat mengenal, mengetahui dan pengalaman-pengalaman seperti tjerita tersebut diatas.

Di Abu Suweir, kita mendapatkan pelajanan jang tjukup baik. Menurut peraturan disini djuga lazimnja dalam ketentaraan Barat, ada pembedaan untuk

Peradjurit, untuk Bintara dan Bawahan, jang biasanja tidak terdapat pada T.N.I. kita, misalnja sadja: tempat makan, cantine, kamar mandi dan sebagainja disediakan tersendiri. Mengenai makanannja tidak pernah kita bertemu dengan nasi. Makanan Barat jang disediakan, tetapi sang perut lama-kelamaan ja biasa sadja. Disini perlu sekali etiquete makan kita perhatikan, terlebih bagi

anggauta-anggauta bawahan dalam mempergunakan alat-alat makan dan tjara memakan sadjian jang asing itu.

Diatas telah saja katakan, bahwa kini adalah musim dingin. Walaupun pakaian kita telah ditambah dengan underwear, pull over, supperbattle dress, over coat dan memakai sarung tangan masih djuga terasa dingin. Kita mendapatkan tambahan selimut wool 3 helai lagi, toch masih terasa dingin diwaktu tidur malam. Kalau kebetulan terbangun djam 3 malam djangan mengharapkan akan dapat tidur lagi sampai pagi.

Karena itu dinasehatkan djangan tidur disiang hari. Oleh Ibu Duta jang datang ketempat kami, djuga dinasehatkan lebih baik djangan mandi, karena salah-salah bisa mengakibatkan rheumatik. Selama di Abu Suweir ataupun semendjak pemberangkatan dari Djakarta, saja baru mandi satu kali, itupun dengan air panas. Setiap hari tjukuplah hanja „raup kutjing”.

Setelah perhubungan-perhubungan dengan H.Q. UNEF dan persiapan-persiapan di Abu Suweir selesai, maka pada tanggal 8 Djanuari 1957, kita terus menudju ke El Shandura lebih kurang 75 k.m. sebelah selatan Abu Suweir, Shandura Camp, adalah bekas kampemen Mesir atau Inggris dahulu, jang diperuntukkan asrama Batalion kita bila nanti sudah datang.

Djadi pemberangkatan kita ketempat tersebut adalah untuk persiapan-persiapan tempat. Shandura letaknja sedikit sebelah selatan Little Bitterlake ditepi sebelah barat Suez-kanal. Di Camp tersebut telah berada satu Para batalion dari India jang sebulan lebih dahulu datangnja dari kita.

Karena banjaknja kerusakan camp tersebut, maka setiap hari bagian engineer Mesir terus menerus membersihkan dan memperbaiki, hingga tanggal 12 Djanuari 1957 sudah siap menerima kedatangan pasukan, walaupun dalam hal ini anggauta-anggauta kwartiermakers harus bekerdja keras siang dan malam.

Tanggal 011212.00 datanglah rombongan pertama pasukan batalion dibawah pimpinan Majoor Soekarno Kmd. Kie. „A”. Pada hari itu djuga pada djam 17.30 datanglah kompi kami, kompi „B” dibawah pimpinan Kapten Soeprapto. Pada hari-hari jang pertama masih belum teratur keadaannja, karena banjak kesibukan-kesibukan. Terlebih dalam soal pemasakan makanan, karena banjak alat-alat, bahan-bahan bumbu-bumbu dan kelengkapan lainnja masih ketinggalan bersama rombongan jang terachir. Tentunja saudara dapat maklum, bahwa sedatangnja pasukan batalion harus menjelenggarakan sendiri segala hal dengan hubungan permintaannja kepada UNEF.

Jang lebih menjulitkan lagi bahwa waktu itu kita belum menerima kendaraan dari UNEF. Tetapi lama-kelamaan dari hari-kehari keadaan mendjadi lebih baik dan teratur.

Selama di Shandura Camp ini, waktu dipergunakan untuk konsolidasi memperlengkapi segala kebutuhan dan perlengkapan tugas jang akan dihadapi. Djadi kini belumlah kita sampai pada tugas jang sesungguhnja.

Tambahan equipment selain jang sudah saja sebutkan diatas ditambah/diperlengkapi lagi dengan kaos kaki wool, sun glasses, masker (kedua-duanja

Indonesian and Israeli officers talking, Garuda Perdamaian, p127.jpg

Wakil Komandan Bn. dan Perwira Israel sedang bertjakap2 didekat perbatasan.

ini dipergunakan selama perdjalanan di-dessert), tenda-tenda, vergassers (karena tiap outpost batalion menjelenggarakan makannja sendiri).

Setelah lebih kurang 10 hari kita berada di Shandura dan dalam pada itu Djendral Burns telah menindjau dan inspeksi pasukan, maka tibalah perintah, bahwa satu kompi ialah kompi „A” diperintahkan mengganti tugas Denen didaerah Sinai. Setelah perintah tersebut, berturut-turut tugas chec-post, pendjagaan H.Q. UNEF, post Abu Suweir dan lain sebagainja diberikan kepada batalion kita.

Mengenai keadaan tugas pada umumnja tiadalah berat dan lain sekali sifatnja dengan di G.B.N. ataupun di Djawa Barat.

Seperti tentunja saudara djuga maklum, bahwa kita bukannja dimaksud untuk bertempur. Bahkan djustru kebalikannja, berusaha mentjegah dan djangan sampai terdjadi pertempuran/pertumpahan darah lagi didaerah ini.

Jang agak berat buat pertama kali ialah menghadapi dingin. Tempat tugas dipadang pasir ini lebih dingin lagi dari Shandura, ditambah adanja angin kentjang jang mendingin. Kadang-kadang dinginnja sampai mendekati nul deradjat, hingga air mendjadi beku dan kalau hudjan bertjampur dengan es. Tetapi di Mesir djarang-djarang terdapat hudjan dan kalau ada hanja sebentar-sebentar dan tidak deras.

Sekarang tahulah kita, mengapa orang disini bertjebok dengan kertas. Karena disamping airnja sukar, djuga karena dinginnja. Bisa sang tangan mendjadi kedju karena berani mendjemak air dipagi hari.

Untuk mendapatkan air ini tidak mudah. Baru berpuluh-puluh kilometer kemudian didapat tempat pompa-air.

Seperti sekarang ini setiap hari kompi harus mengambil air dengan triller di waterpomp jang djauhnja 60 km lebih untuk supplyeren pasukan-pasukan didepan. Tetapi pasukan-pasukan didepan djuga telah diperlengkapi dengan jerricans dengan perhitungan rata-rata seorang 1 jerrican untuk sehari, terbatas hanja untuk keperluan masak, minum, sikatan dan mentjutji muka. Dilarang untuk mempergunakan untuk mandi atau mentjutji, karena tjutjian disentraliseer dan terkirim kebelakang (basiss batalion).

Letak outpost Pasukan dari C.P. Kie sampai sedjauh 60 km sama dengan 2 djam perdjalanan kendaraan dipadang pasir. Kadang-kadang pasukan itu mengeluarkan chec-post sedjauh 30 km atau lebih. Tetapi sedemikian itu biasa sadja, karena tiap post diperlengkapi dengan kendaraan dan perhubungan unit P.H.B. selalu lantjar. Transport dan/atau dropping sesuatu jang penting dapat dengan pesawat terbang ketjil type Otter jang untuk landasannja mudah sekali dibuat dipadang pasir ini.

Kendaraan jang dipergunakan didessert harus dalam keadaan jang baik. Jang kita pergunakan sekarang ini adalah Jeep, Austin ¾ tonner, Bedford 3 ton dan truck Canada fluidrive 4 tonner.

Mengambil djalan dipadang pasir adalah tidak begitu sukar, karena djalannja hanja satu. Tetapi harus berhati-hati dimedan luar djalanan kadang-kadang masih terdapat mynen baik jang dahulu dipasang oleh Mesir sendiri maupun oleh Israel. Kalau ada mynenvelden sudah pula diberi tanda-tandanja.

O, ja tadi lupa saja katakan, bahwa sesudah 3 minggu kita menggantikan tugasnja Kie „A”. Ditempat tugas kita sekarang ini diperbantukan tenaga-tenaga Canadian Signal Corps dan Norwey Medical Detashement dengan seorang dokter. Perhubungan anak-anak kita dengan mereka itu (Canada dan Norwegia) akrab sekali. Walaupun dengan bahasa Inggris „Tarzan-tarzanan” mereka itu dapat omong-omong dan bersenda gurau dengan senangnja.

Mengenai kesenangan teman-teman? Djangan dikira, bahwa ditempat tugas dipadang pasir ini tidak ada kesenangannja. Senang sekali, ja kesenangan dalam soldaten leven, Kadang-kadang senang lebih lama bertugas dari pada beristirahat dipangkalan batalion. Bagairnana tidak senang teman-teman? Kalau tidak senang kan berabe, mendjadi susah! Disana segala sesuatu kita kerdjakan sendiri. Bikin rumah dengan tenten opslaan sendiri, memperbaiki ,,perkampungan" sendiri, masak sendiri, perawatan tjukup baik, perhubungan surat dengan keluarga diurus kelantjarannja, sedangkan patroli tidak susah-susah kita berdjalan. Kendaraan harus dipergunakan dan kechawatiran tidak perlu ada. Welfare terdjamin pula. Tiap minggu kita datangkan barang-barang Cantine berupa rokok, bier, coca-cola, bon-bons dan keperluan sehari-hari dengan harga jang murah. Film djuga diputarkan sampai ke pos-pos pasukan.

Sekarang soal uang saku, teman-teman. Dulu sebelum kami berangkat dari tanah air mungkin saudara djuga mendengar kabar, bahwa kita Polisi P.B.B. akan menerima uang saku 4 pound setiap harinja. Haduuuh Tuaaan, kalau memang sekian menerimanja, bisa tiap peradjurit beli Bell Air setelah setahun bertugas di Mesir itu djumlah jang tidak sedikit Rp. 400,— sehari!

Dan sekarang kenjataan teman-teman. Kita menerima uang saku 30 pianter (PT/30,—) perhari dari UNEF. Bolehlah dipersamakan dengan Rp.30 kita.

Diberikan tiap 10 hari sekali, tetapi tak pernah ada kelambatan dan tidak ada potongan ini itu. Baik bagi jang berkeluarga, jang budjang bagi pradjurit sampai Djendralnja sama jaitu PT 30,— sehari.

Wah, tetapi untuk kita sudah tjukup tuan. Ja asal tidak berkelebih-lebihan sadja. Tidak memimpikan Bell Air-Bell Airan, tidak usah gagah-gagahan, asal keluarga jang ditinggalkan terurus dengan baik, anak-anaknja sehat dan nanti kita kembali dengan selamat sambil dapat membawakan sekedar oleh-oleh untuk isteri dan anak-anak sudahlah puas dan senang hati saja.

Teman-teman dan Saudara-saudara sekalian, tjukup sekian dahulu surat kami jang untuk pertama kali ini. Nanti dalam surat kami jang berikutnja ingin kami mentjeritakan soal:
— Ketentaraan jang tergabung dalam UNEF jang saja kenal.
— Mengikuti sightseeing tour UNEF, keadaan Mozeum, piramyde-piramyde, kota-kota Cairo, Ismailia, Suez dan lain sebagainja .
— Orang-orang Mesir dan orang-orang Badoein jang saja ketahui.
— Keadaan tugas Batalion Garuda I clan lain-lain sebagainja.

Sudah barang tentu kesemuanja ini hanja terbatas kepada kemampuan pandangan saja sendiri dan pula harus bisa kami membatasi diri kepada soal-soal Ketentaraan.

Salam erat dari kami untuk teman-teman, saudara-saudara, sekalian di Tanah-Air.

(Madjallah Angkatan Darat No. 4)
Bulan April 1957.


TJERITERA TENTANG T.N.I. DI GHAZA.
— Masak sajur lode dengan susu sebagai santan.
L.E. MANUHUA.

Kalau pesawat terbang KLM flight-number 821 pada tanggal 3 Djuni 1957 meninggalkan Rome pada djam 10 malam, maka keesokan harinja tanggal 4 Djuni djam 4.25 pagi-pagi benar, mendaratlah ia dilapangan terbang Cairo. Buat saja penerbangan kali ini tak dapat saja lupakan begitu sadja.

Sebab disementara penerbangan inilah, usiaku bertambah setahun. Sama dengan pengalamanku setahun jang lalu. Antara Soa-Siu (ibu kota Propinsi Irian Barat) menudju Pelabuhan Bitung, saja bertambah usia satu tahun.

Hari masih agak gelap.

Ketika saja muntjul dari pintu pesawat, nampaknja saudara Salim Roshidi dari bagian Pers Kedutaan kita dan saudara Ismail Albandjar, pegawai Lokal pada Militer Attache kita telah menunggu-nunggu saja dengan tidak sabar. Kawan-kawan lama: di Makassar, di Cairo dan Beyruth. Pertemuan ini mendjadi lebih meriah lagi, ketika tiba kami dikamar tunggu airport. Ternjata bersama-sama dengan Kapten Widya Latief, ketiga kawan ini telah menunggu saja sedjak djam 3 pagi dan chusus untuk itu, sepandjang malam mereka tidak tidur.

„Apa rentjana saudara dan berapa lamakah akan tinggal di Mesir”? tanja Kapten Widya.

„Ini hari saja mau tidur, sebab semalam-malaman dipesawat tidak tidur, lagi pula selama di Itali, Paris, Djerman, Inggris dan Nederland, tidak pernah tjukup tidur. Djika mungkin sore ingin saja tindjau pembangunan didalam kota Cairo untuk saja bandingkan dengan apa jang saja lihat 2 tahun jang lalu. Besok ingin saja menindjau tentara kita jang bertugas sebagai anggota polisi P.B.B., kemudian lusa tanggal 6 Djuni saja akan meneruskan perdjalanan ke Bangkok dan untuk perdjalanan landjutan ke Bangkok dan Djakarta sudah saja bereskan dengan KLM di Rome”. Demikian dengan spontaan saja mendjawab pertanjaan Kapten Widya itu.

Kawan-kawan ini ketawa mendengar djawaban saja itu.

„Saudara tahu”?, kata Kapten Widya Latief. „Tentara kita bertugas di Ghaza. Markas besarnja terletak di Rafah, 400 km dari kota Cairo ini, atau paling tjepat naik jeep 9 djam.

Masuk kesana tidak gampang dan kesempatan untuk kesanapun tidak saban bari. Satu-satunja kesempatan jang paling baik ialah, kalau sebentar djam 11.00 saudara berangkat dengan Majoor Soekarno jang hendak kembali keposnja. Nah, bagaimana”?

Saja tak mendjawab pertanjaannja jang terachir ini. Tetapi kenjataannja ialah: Sesudah membereskan urusan hotel, djam 11.00 pagi itu telah siap dikantor Kedutaan kita untuk berangkat ke Rafah. Setelan saja sudah saja tinggalkan dirumah Majoor Boedihardjo, atache Udara kita, dan digantikan dengan pakaian hidjau. Tjelana jang kebesaran perutnja, djadi lumajan djuga sesudah diikati dengan koppelriem, lambang PBB dilengan badju sebelah kanan, sedang sebelah kiri tanda ,,Indonesia", lalu kepala ditutup dengan baret hidjau dengan tanda ,,UNEF" (United Nation Emergency Force atau Polisi PBB) sedang tanda pangkat tidak ada.

Djam 1.00 tengah hari barulah kami staart menudju Rafah. Akan tetapi 1 djam lamanja kami harus berkeliaran didalam kota Cairo, sebelum menemui djalan jang arahnja menudju Ismailia, sebab baik sopirnja maupun Majoor Soekarno sendiri, kedua-duanja ternjata tidak mengetahui djalanan keluar kota Cairo jang menudju Ismailia. Pengalaman selama sedjam ini dalam pada itu merupakan kesempatan jang baik sekali bagi saja untuk mengenal rakjat Mesir lebih baik dari dekat.

Dan pengalaman ini sangat mengetjewakan saja. Sebab selama sedjam kesasar didalam kota itu lebih kurang 20 orang Mesir jang kami mintakan bantuan keterangannja tentang djalan jang arahnja menudju Ismailia dan kesemuanja jang ditanjakan itu terhitung beberapa anggauta Tentaranja dan beberapa anggauta polisinja, tidak seorangpun jang memberikan keterangan jang benar. Kalau jeep kami itu sedang menudju kearah timur jang ditanjakan menundjukkan arah kebarat, dan kalau mobil sudah berputar arah kebarat sebentar-sebentar lain orang jang ditanjakan menjuruh kami kembali kearah timur lagi, sebentar-sebentar lagi jang lain menjuruh keutara kemudian jang lain lagi menjuruh mengambil arah keselatan, dan begitulah seterusnja, sampai dengan tidak menghiraukan atau mengharapkan lagi keterangan-keterangan dari rakjat Mesir, kami mentjari sendiri dan menemui sendiri djalan jang harus kami tempuh.

Kesempatan berkenalan dengan rakjat Mesir, saja peroleh lagi di Ismailia, kota didekat terusan Suez jang masih mempunjai reruntuh-reruntuh akibat pemboman angkatan udara agressor Inggris.

Kami beristirahat disini sedjam lamanja. Saja sendiri tidak meninggalkan Jeep. Chawatir kalau-kalau potongan saja jang begitu serampangan karena badju hidjau jang kebesaran badan saja itu didjadikan ukuran oleh rakjat bagi seluruh tentara kita. Maka datanglah rakjat-rakjat jang berada disekitar Jeep kami ini, menghampiri saja berganti-ganti. Jang pertama sekali ialah tukang djual rokok. Mulanja dia mengadjak saja membeli rokoknja jang sesungguhnja tidak saja butuhkan itu sebab mempunjai persediaan tjukup. Tetapi dia tidak berhenti mengadjak, lalu membudjuk dan achirnja memaksa. Dan dia nanti baru mau meninggalkan saja, sesudah timbul rasa djengkel saja sehingga menjuruh dia pergi sambil sebelah tangan diletakkan diatas bedil.

Pergi dia datang jang lain lagi. Ngomong tak berpokok tertentu dan kalau dia melihat saja senjum, lekas-lekas dia minta rokok. Melihat rokok saja berikan, beberapa orang jang berada tak djauh dari situ tidak mau membiarkan kesempatan itu dilalaikan. Ramai-ramai mengulurkan tangannja sambil memudji-mudji tentara Indonesia. Dan kalau rokok sudah habis terbagi, kaleng kosongnja mendjadi rebutan.

Belum habis tjeritera pertemuan singkat ini sebelum jeep kami meneruskan perdjalanannja. Sebab masih ada lagi beberapa jang lainnja menghampiri saja dengan membawa lain tjeritera dan lain akal untuk mendapat sesuatu. Tjeritera tentang Presiden Soekarno jang sifatnja memudji-mudji. Dan kalau saja telah menjatakan terima kasih saja atas pudjian meereka, berartilah terbuka kesempatan buat mereka untuk ................... minta uang! Jah, tentunja saja berikan sekedarnja, kuatir kalau-kalau pudjian itu berobah mendjadi edjekan!

Bermobil menjusur djalan raya ditepi Terusan Suez sepandjang lebih kurang 30 km untuk kemudian menjeberanginja, tidak banjak pemandangan jang merupakan bahan tjeritera. Hari masih tetap panas; panas-panas padang pasir. Dan iring-iringan kapal jang sedang melintasi terusan jang telah kami dekati, telah mendjadi terang matjam kebangsaannja, kalau beberapa saat jang lalu kelihatannja dari djauh seperti kapal-kapal jang berlajar diatas pasir sadja. Kapal-kapal dari Denmark, Djerman Barat dan Belanda.

Kalau djam tangan saja telah menundjukkan pukul 19.30 (7.30 malam), maka kami telah tiba dibagian djalan raja jang penuh dengan lobang-lobang besar dan ketjil; djalan menudju tepi Laut Tengah. Tetapi hari belum djuga gelap. Sebab seperti halnja dengan Eropah, matahari disini djuga ,,sangat radjin"; pagi-pagi belum djam 5 ia sudah muntjul dan nanti menghilang (terbenam) disekitar djam 21.00 (9.00 malam). Djalan-djalan berlobang itu, adalah akibat dihantjurkan oleh Tentara Israel ketika mengundurkan diri Terusan Suez atas perintah Dewan Keamanan PBB. Dihantjurkan dengan bulldozer dan sepandjang lebih kurang 50 km. Sedjak beberapa minggu jang lalu, bagian djalan ini mulai diperbaiki oleh Mesir, Tjepat djuga mereka bekerdja sebab semua setjara mechanis sehingga dalam 1 hari, 1 km selesai dikerdjakan dalam kwaliteitnja sebagai djalanan kelas satu.

Setelah melalui beberapa pos tentara Jugoslavia dan beberapa kubu pertahanan Tentara Mesir, tibalah kami dizone tentara kita. Dan kala jeep kami berhenti dipekarangan markas besar T.N.I. ,,Garuda I", djam menundjukkan pukul 22.00 tempat.

Rafah adalah sebuah desa tak djauh dari Ghaza. Dan tidak djauh dari markas-besar kita ini, membudjur lurus garis demarkasi antara daerah kekuasaan Mesir dan Israel.

Menurut persetudjuan jang ditjapai didalam Dewan Keamanan PBB, pasukan-pasukan Polisi PBB ditugaskan untuk mendjaga garis demarkasi ini dan untuk itu mereka akan menduduki sebahagian wilajah kekuasaan Mesir, dan sebaha

Indonesian peacekeepers talking with Badui, Garuda Perdamaian, p143.jpg

Komandan Bn. dan rombongan dalam perdjalanan ke post bertemu dengan orang Bedui, dimana mereka berhenti sebentar untuk bertjakap-tjakap. Entah bahasa apa jang dipergunakan! Rupa-rupanja djari-djari dan sikut Pak Susdi berdjasa djuga mendjadi djuru bitjara ..............

gian wilajah kekuasaan Israel disepandjang garis demarkasi itu. Kenjataannja sekarang ini ialah, bahwa mereka hanja menduduki bahagian wilajah kekuasaan Mesir. Sebab Israel tidak memperkenankan mereka menduduki bahagian wilajahnja dengan alasan: Israel tidak pernah menjetudjui resolusi Dewan Keamanan dalam hal ini.

Desa Rafah ini pernah didjadikan markasnja salah satu batalion tentara Israel ketika menduduki seluruh wilajah ini sampai ke Terusan Suez. Dan sewaktu mereka harus mengundurkan diri dari situ, sebahagian besar bangunan-bangunan jang ada, dihantjurkan. Bangunan-bangunan jang tidak sampai hantjur seluruhnja, kini ditempati oleh tentara kita. Tetapi tidak seluruhnja, melainkan hanja mereka jang bertugas pada markas besar batalion. Kompi-kompi seterusnja peleton-peleton disebarkan dengan pos-posnja masing-masing disepandjang garis demarkasi disekitar Ghaza kearah Sinai.

Malam itu Komandan „Garuda I” Overste Suadi, bekas Komandan R.I. 23 di Pare-pare, sedang sibuk mengadakan persiapan-persiapan untuk pagi tanggal 5 Djuni djam 5.00 terbang ke Napoli. Dari sana ia akan mendjalankan vakansi-nja selama 14 hari di Eropah bersama-sama dengan beberapa orang perwira.

Kesempatan satu-satunja malam itu, saja pergunakan dengan sebaik-baiknja untuk bertjeritera dan bertukar fikiran setelah ia selesai dengan persiapan-persiapannia. Agaknja lebih banjak kami bertjeritera tentang keadaan di Sulawesi Ini dari pada keadaan disekitar perbatasan tempat tentara kita ini bertugas. Entah karena Sulawesi lebih mempunjai saat-saat jang ,,spannend", terutama sesudah ,,proklamasi 2 Maret" jang ,,echo"nja djuga sampai diluar negeri.

Sjukurlah kata Overste Suadi, tentara kita jang bertugas sebagai anggauta UNEF, selama ini berada dalam keadaan sehat walafiat. Sebuah truck kita katanja lagi, pernah kena mijn. Jaitu mijn plastik jang sekalipun telah banjak sekali kena pembersihan alat-alat modern pasukan Jugoslavia masih banjak sadja terdapat disana sini. Tetapi untung sekali tidak ada diantara anak-anak kita jang mendjadi korban oleh karenanja. Jang korban hanjalah trucknja, Semua pasukan jang bertugas disini, sudah ,,mendapat gilirannja"; ada jang gugur dan ada jang luka-luka berat dan enteng. Malahan pasukan-pasukan Israel sendiri jang punja mijn-mijn itu tidak luput dari ,,giliran".

Berbitjara tentang makanan, Overste Suadi mengeluh tentanq, ketiadaan hubungan jang baik dengan tanah air, djika dibandingkan dengan pasukan-pasukan lain. Dan ketiadaan hubungan jang baik ini, mempengaruhi kebutuhan anak buah djuga. Sebab oleh-oleh dari rumah terutama rempah-rempah untuk makanan tidak dapat diterima dari rumah. Dan, kata Overste Suadi, kalau sekali-sekali ingin makan sajur lode, terpaksa susu dipakai sebagai pengganti santan kelapa!

Pasukan jang mendjadi Polisi PBB dan jang bertugas mengawasi demarkasiIijn disekitar Ghaza dan Sinai sekarang ini, berdjumlah lebih kurang 6.000 orang seluruhnja. Berasal dari Canada, Columbia, Brazilia, Denmark, Finlandia, india, Indonesia, Norwegia, Swedia dan Jugoslavia.

Pasukan kita terdiri dari 580 orang.

Tugas pasukan-pasukan PBB ini jang pertama kali ialah mengawasi pengunduran diri dari tentara agressor di Mesir, sambil · mengadakan pembersihan terhadap mijn-mijn jang dipasang oleh tentara agressor itu. Tugas ini telah selesai, Tetapi kemudian kepada mereka diberikan lagi tugas baru, jaitu mengawasi garis demarkasi dan menduduki daerah Ghaza.

Ghaza perlu diduduki, karena sekarang ini mendjadi pokok persengketaan antara Israel dan Mesir. Sebelum timbulnja agressi, daerah ini termasuk didalam de facto dan de jure Mesir. Tetapi sesudah agressi, Israel menolak daerah itu dikuasai oleh Mesir karena memandang kekuasaan Mesir itu sebagai antjaman terhadap Israel. Dan Israel telah memberikan ultimatum, bahwa apabila pasukan-pasukan PBB ditarik mundur dari sana, Israel akan menjerbu masuk Ghaza lagi. Untuk mentjegah kemungkinan itu pasukan-pasukan PBB ditugaskan menduduki daerah itu. Luasnja Ghaza tidak seberapa; hanja pandjang 50 km dan lebar lebih kurang 3 km. Akan tetapi sekalipun sebegitu ketjil, gelagatnja menundjukkan, bahwa penjelesaian tentangnja tak akan habis-habis.

Dan berarti dengan sendirinja, bahwa tugas pasukan-pasukan PBB disana tak akan habis-habis pula, ketjuali djika hendak dibiarkan kedua-duanja berhantam-hantaman lagi sampai satu dianiatanja musnah sama sekali. Kalau keduanja sendiri jang berkelahi, barangkali bolehlah. Sajangnja ialah, bahwa dibelakang Israel ada lnggris dan Perantjis sedang Mesir tidak djuga kosong belakangnja.

Kembali kepada keadaan tentara kita, maka satu hal jang membanggakan, ialah bahwa tentara kita dikenal disana sebagai tentara jang ,,goed gedisciplineerd". Mereka dapat bergaul baik d engan 9 matjam pasukan jang lainnja. Berbeda dengan pasukan-pasukan lain itu, jang hanja bisa mnentjapai ,,good understanding" atau bisa berteman dengan satu atau dua pasukan jang lain. Begitupun halnja terhadap pasukan Isreal. Setiap waktu patroli Israel itu bertemu dengan patroli kita digaris demarkasi, Kedua-duanja harus berhenti seketika untuk ngobrol. Garis demarkasi itu berupa selokan dan masing-masing tidak boleh melanggar selokan itu. Berdiri didalamnja disementara ngobrol boleh.

Ketika saja menindjau pos-pos kita disepandjang garis demarkasi itu. saja mendapat kesempatan pula mengobrol, dengan patroli Israel itu. Berbitjara selama lebih kurang 30 menit saja mendapat kesan, bahwa mereka itu terdiri atas ,,bewuste soldaten" (serdadu-serdadu jang berkesadaran). Enrah suatu kebetulan, jang njata buat saja ialah, bahwa anggauta-anggauta patroli mereka jang terdiri atas 6 orang dan mengendarai 2 jeep masing-masing dengan sebuah ,,watermantel", adalah pemuda-pemuda jang berumur tidak lebih dari 22 tahun. Pakaiannja sederhana sekali seperti pakaian tentara gerilja sadja. ,,Hei, mengapa kamu berkelahi dengan Mesir"? tanja saja kepada salah seorang diantara mereka. ,.Mengapa kami berkelahi lawan Mesir"? katanja mengulangi pertanjaan saja itu sambil tertawa, kemudian menjambung .Kalau Mesir merasa berhak menduduki ini daerah, mengapa kami tidak boleh merasa berhak mendudukinja djuga"?

Menurut jang ditjeriterakan oleh anggauta-anggauta pasukan kita dipos-pos terdepan ini. Israel setiap hari mengadakan 3 kali patroli: pagi, sore dan malam. Patroli pagi sering terdiri atas pasukan-pasukan wanita didalam mana sering terdapat seorang gadis (orang Israel) jang lama berdiam di Surabaja. Dengan sendirinja bahasa Indonesianja Iantjar sekali dan bila bertemu dengan pasukan-pasukan kita selalu mempergunakan kesempatan itu untuk bertjerita tentang Indonesia. Sungguh saja amat menjesal, bahwa waktu beradanja saja ditempat bertugas tentara kita ini hanja 2 hari. sehingga terlalu pendek untuk mengundjungi garis demarkasi itu lebih dari sekali untuk dapat pula menjaksikan sendiri bagaimanakah potongan pasukan-pasukan wanita Israel tersebut.

Bertugas dipadang pasir ini, bukan tugas jang ringan. Diwaktu siang, panasnja bukan main: diantara 100 dan 110 deradjat Fahrenheit dan anggauta-anggauta pasukan jang tidak bertugas tentu sadja harus berlindung didalnm tenda-tendanja masing-mnasing

Jang memusingkan kepala mereka, dan seluruh pasukan umumnja ialah, bahwa disekitar daerah bertugasnja ini banjak sekali perujuri. Hal ini memang dapat dimengerti, sebab rakjat disitu sangat miskin. Rakjat djelata Mesir, kaum badui dan pengungsi-pengungsi dari Palestina. Hampir tiap malam ada pentjuri tertangkap. Dan malam pertama saja berada di Rafah ini, seorang pentjuri ditangkap didalam salah satu gudang pasukan k ita, Ketika didengar keterangannja antara lain dia berkata: ,,Last night I was walking with God" (Tadi malam saja berdjalan bersama-sama Tuhan).

Reaksi jang mereka peroleh sangat balk. Hampir setiap malam mereka dapat menonton tari-perut jang penarinja didatangkan dari Cairo untuk menghibur pasukan-pasukan PBB umumnja.

Begitupun terpentjil mereka segala keramaian menjebabkan tari perut itu seperti nampak pada gambar dibawah ini tak pernah membosankan mereka.

Tiap-tiap 3 bulan bertugas, mendapat kesempatan vakansi selama 2 minggu ke Beyruth, pusat kola pelesir Timur Tengan, dan kalau telah 5 bulan bertugas boleh 14 hari ke Eropah Barat. Mengenai Eropah, UNEF hanja menanggung transport pergi pulang Cairo-Napoli (Italia).

Dan menurut rentjana kemarin dengan dipimpin oleh Majoor Sudiono, 30 anggauta pasukan kita berangkat ke Mekkah untuk naik hadji.

Tetapi sekalipun demikian, masih djuga ada soal jang menimbulkan persungutan. jaitu selama 5 bulan bertugas di Mesir bersama-sama pasukan-pasukan dari 9 Negara lainnja, mereka belum pernah bisa mengadakan suatu pertemuan minum teh kepada pasukan-pasukan lainnja, sedang mereka itu selalu mendapat undangan dari ke-9 pasukan itu bukan sadja sekali melainkan berkali-kali. Sebabnja ialah: tidak ada fondsnja untuk itu sebab tidak diberi oleh Djakarta.

Dan mereka djuga mendongkoI terhadap tjara-tjara Drakarra suka membodohi dirinja sendiri dengan show-shownia iane tidak-tidak. Umparnanja sendjata dan kendaraan bisa didapat setjara gratis. Djakarta menolak dan menundjukkan kesanggupannja untuk membeli. Tawaran-tawaran bantuan jang bisa menguntungkan pasukan-pasukan kita, djuga kena tolak dengan djawaban-djawaban gagah-gagahan: kami sanggup memenuhinja atau mentjapainja sendiri. Katanja ................ untuk mempertahankan prestige!

Saia menjudahi tulisan ini dengan menjampaikan salam pasukan-pasukan kita itu kepada segenap pembatja sekalian,

(PEDOMAN RAKJAT)

29-6-1957.

POS EL THARIEF — 40 KM DERHADAPAN

DENGAN TENTARA ISRAEL.

- Pasukan-pasukan kita dan Israel tak pernah tembak-menembak,
- Tidak mudah mentjari tempat-tempat di Padang Pasir iang ada didalam peta.

Pembatja jang budiman.

Marilah kita meneruskan penindjauan kita. Suatu pos sebesar satu peleton, jang djauhnja 49 km dari induk Kompi, langsung berhadapan dengan pasukan-pasukan Israel. Namanja El Tharief. Djalan antara El Themed (dimana Komando Kompi berada) dan El Tharief, tak banjak berbeda dengan djalandjalan jang pernah ditulis duluan. Padang jang kita laluinja, adalah padang batu, seperti dataran tinggi dipegunungan jang habis ditimpa bandjir. Penuh batu-batu besar, Untungnja tidak terlalu berdebu.

Djuga pos El Tharief ini dalam bentuk luarnja, tak banjak berbeda dengan pos El Kuntilla. Tenda-tenda hidjau kehitam-hitaman, Mobile Unit dari R.C.S.C. (Royal Canadian Signal Corps), lapangan Volleyball, bendera UNO, pos pengintai, lobang-lobang penembak disekitarnja, tanah gundul berbatu disekelilingnja, dan agak djauh pegunungan-pegunungan jang tegak membisu. Keistimewaannja, beberapa kilometer lagi, terdapat pos depan Israel dipisahkan oleh tanah tak bertuan dengan pos kita.

Tentu para pembatja ingin tahu, bagaimana sikap Tentara Israel terhadap kita. dan sebaliknja bagaimana kita terbadap mereka. Kalau hal ini saja sampaikan kepada para pembatja, saja chawatir akan menimbulkan pro dan kontra. itupun masing-masing mempunjai dasar jang kuat untuk membenarkan pendiriannja. Djuga tergantung dari sudut mana pembatja memandangnja. Dan itu bukan diadi tudjuan dari pada tulisan ini. Djadi tjukuplah saja sampaikan, bahwa antara Israel dan kita belum pernah terdjadi tembak-menembak.

Tetapi jang hendak saja suguhkan kepada para pembatja adalah peristiwa penting jang terdjadi dipos ini pada tanggal 15 Maret 1957. dimana pasukan-pasukan Israel ditarik mundur dari daerah Mesir, dan pos El Tharief diadjukan lebih kurang 25 km. hingga dekat dengan perbatasan. Gaza-strip pada waktu itu telah diduduki oleh pasukan-pasukan UNEF pada tanggal 8 Maret 1957, djadi sepekan lebih dulu.

Pada hari itu pagi-pagi benar, Komandan Kompi El Themed area, mendapat perintah melalui radio. bahwa hari itu pos El Tharief harus telah diadjukan sampai dekat perbatasan. Udara waktu itu dingin, dan angin menghembus dengan kekuatan 30-40 mil/sedjam. Segera Komandan Kompi beserta wakilnja dan sopir, berkendaraan Landrover rnenudju El Thariet. Sementara itu perintah-perintah Jain telah ditinggalkan, seperti pemberitahuan ke El Tharief dengan radio tentang kehendak Komandan, bagaimana bantuan angkutannja, mengatur makannja dan lain-lain. Demikian setibanja di El Tharief, Komandan Peleton setempat didjelaskan tentang perintah Batalion dan rentjana pelaksanaannja.

Beberapa kesukaran, seperti apakah benar-benar Israel telah mengundurkan diri, dimana letaknja jang dinamakan Ras El Naqb selaku kedudukan baru, bagaimana nilai djalan jang dilaluinja dan betapa bentuk medannja nanti. Pertanjaan-pertanjaan jang dipeta telah tjukup djelas, tetapi dimedan sebenarnja tak sedjelas dan sebenar bajangan kita. Tentang ini kami telah banjak makan garam. Suatu tjontoh, apa jang digambar dipeta sebagai suatu djalan, dalam kenjataannja sama sadja bentuknja dengan medan berpuluh-puluh km. disampingnja. Tetapi T.N.I. telah mengalami kesukaran-kesukaran jang djauh lebih besar dari pada soal-soal jang demikian sadja, dus djalanlah.

Km. di Landrover kita perhatikan dan dengan kendaraan jang berisi 4 orang ini ditambah dengan Komandan Peleton El Tharief, ladjulah. Peta, kompas, teropong dan memperhatikan bekas-bekas djalan-djalan kendaraan, jang kadang-kadang begitu simpang siur, kadang-kadang hampir tak njata lagi. Beberapa lapangan randjau, lalu .................. sekonjong-konjong ditjakerawala kita lihat sebuah jeep lari dengan kentjangnja diselubungi debu. Agak djauh dibelakangnja, satu power, dan kepul debunja merupakan perisai baginja. Kita heran, mengapa dapat demikian tjepatnja kendaraan-kendaraan tersebut ladjunja. Adakah kemungkinan djalan besar disana? Dan tentulah mereka itu kendaraan Israel.

15 menit kemudian kita sampai didataran alam, jang benar-benar datar dan rata seperti dibuat oleh tangan manusia sadja. Dataran ini dengan sekonjong-konjong sadja dibatasi oleh pegunungan-pegunungan batu jang belum pernah kita djumpai dibagian Sinai jang lain. Pegunungan-pegunungan itu berwarna ungu, dan terdiri dari batu-batu tadjam mengkilap. Kemudian dataran landjutan jang kita lalui ini terbuat dari beton putih, dan begitu rata serta luas. Tak aral lagi, ini adalah lapangan udara jang maha besar, tanpa perumahan satupun. Kita tengok dipeta, memang ada tanda bulatan merah, tanpa keterangan. Tentu pula kendaraan-kendaraan Israel jang kita lihat ladju dengan tjepatnja tadi berada disini. Kitapun tanpa perhitungan lebih landjut, menekan pedal gas, mengikuti djedjak jang samar-samar tampak. Setelah melalui djalan jang begitu konjol, sekali-sekali baik djuga untuk lari kentjang dengan ketjepatan 100 km/sedjam.

Spedometer di Landrover kita telah menundjukkan suatu penambahan angka 25. Berarti kita sudah dekat perbatasan. Dibentangkan peta dan kompas, tak ada tanda-tanda medan jang dapat dipakai patokan. Kita tjoba salah satu dari begitu banjak bekas roda mobil dengan arah jang kira-kira sesuai dengan
Pasukan „Garuda” dan pasukan Israel bergambar bersama-sama disalah-satu perbatasan Mesir-Israel.

Pasukan „Garuda” dan pasukan Israel bergambar bersama-sama disalah-satu perbatasan Mesir-Israel.

tudjuan. Benarlah kita lihat suatu puing dari satu rumah batu bertjampur tanah. Tentu inilah Ras El Naqb. Kita mengadakan orientasi lagi. Tjelakanja kiblat dikompas rasanja tak sesuai dengan perasaan kita. Tentulah kompas jang benar.

Kita lihat lembah sebelah puing-puing rumah. Banjak kaleng-kaleng kosong tempat makanan tahan lama. Kita perhatikan kaleng-kaleng. Tulisan Hebreeuw, berarti Tentara Israel pernah mendirikan tenda-tendanja disini. Setidak-tidaknja pernah makan disini. Rumah ini dulu tentulah suatu rest-house merangkap suatu pos polisi perbatasan. Dihantjurkan oleh Tentara Israel, seperti djuga mereka menghantjurkan tiang-tiang telepon djalan-djalan, dan motorbloc dari kendaraan-kendaraan Tentara Mesir jang telah hangus terbalik itu dipinggir djalan-djalan. Mungkinkah ada randjau-randjau disekitar sini? Sukar untuk diterka. Tidak seorangpun jang suka memberi keterangan pada kita. Djadi hati-hati sadja dan adu untung!

(Minggu Merdeka)
30-6-1957.


_______________

— Tapi Letnan Benjamin dari Israel menjambut dengan baik.
— Tidak mudah pasang tenda-tenda dalam arus angin jang berkekuatan 40 mil sedjam.

Pembatja jang terhormat.

Kita sampai sudah di Ras El Naqb, atau lebih tepat kita sampai ditempat jang kita sangka Ras El Naqb. Berdasarkan peta tentunja, tetapi hal ini masih harus kita buktikan. Mengadakan orientasi jang lebih intensief telah tak mungkin lagi. Satu-satunja djalan jang masih terbuka adalah check-ken dengan perbatasan. lni riskant tetapi harus. Djalan disela-sela gunung, penuh batu dan tak terurus, kita tempuh. Sekonjong-konjong sadja ada pagar kawat, inipun tak terurus dan telah tampak tua dimakan waktu.

Kita ikuti kawat ini dengan pandangan, dilereng-lereng gunung kita lihat pilaar-pilaar tegak berdiri, tak berarti bila dibandingkan dengan kebesaran alam sekelilingnja. Kita lihat dengan teropong, dan kita menentukan sendiri, tentu inilah batas negara. Pagar kawat jang sudah hampir tak berupa pagar ini tidaklah terus memotong djalan. Djadi djalan masih dapat kita lalui dengan kendaraan. Hanja dipagar kawat pinggir djalan ada tulisan Hebreeuw diatas karton jang telah usang. Kita tak dapat membatjanja, tetapi dapat menerka apa artinja.

Kita berunding sebentar, keputusan diambil, perbatasan dilalui, dan landrover kita menderu mentjari djalan diantara batu-batu, menandjak menentang lerengan gunung batu jang tjuram lagi seram. Belum lagi kita madju sampai 100 meter, kita lihat sesosok tubuh, berpakaian seragam, berada diatas ketinggian sebelah kiri kita. Djiwa kita ada ditangannja, medanlah menentukan itu. Landrover kita hentikan, kita keluar didjalan. tangan dilambaikan, ia mendjawabnja. Ia memberi isjarat kepada kita, supaja kita tinggal ditempat, seorang lain lagi, djuga berpakaian seragam tampak disebelahnja dengan senapan mesin ditangan, sedang orang jang tampak pertama tadi menghilang. Sebentar lagi dari balik gunung, datang seorang berkendaraan powerwagon, menudju kearah kita. Seorang Letnan Israel, perawakannja tinggi, mukanja tak begitu terurus, mengenakan overcoat. Kita kenal dia, Letnan Benjamin, jang dulu posnja berhadapan dengan pos El Tharief, dan telah pernah kita djumpai di ,,daerah tak bertuan".

Setelah kita berdjabatan tangan. tanja teniang keadaan kita masing-masing, bitjara tentang tjuatja dan udara, ia memberi tahu bahwa kita telah melintasi perbatasan. Kita beri pendjelasan duduk persoalannja, dan ia mengangguk menerima. Landrover kita balik, dan kita bersama-sama menudju pagar kawat usang. Disana kita semua turun, dan kita minta pendjelasan-pendjelasan jang kita perlukan dari Letnan Benjamin.

Tentang batas Negara, tentang penjelundup-penjelundup, tentang rumah pos polisi, tentang lapangan randjau, tentang tjuatja, pendek kata tentang semua persoalan jang kita perlukan. Kita tjotjokkan dengan peta jang kita bawa. Sementara itu dipuntjak ketinggian, kita melihat seorang Tentara Israel sedang membuat perlindungan. Ditempat jang sangat dominerend, dapat menguasai djalan satu-satunja jang menudju ke Eilath, itu pelabuhan Israel diteluk Aqaba.

Tak lama kemudian datanglah sebuah station wagon bertjat putih bertanda U.N. Kendaraan tersebut mendekati kita, berhenti, dan keluarlah perwira UNMO (United Nation Military Observer) jang bertempat tinggal di El Themed, Majoor Van Elen, seorang Canada, disertai Kapten Dr. Fylling, Perwira kesehatan El Themed beserta dua orang anggauta lain. Menurut prosedur, seharusnja kita berangkat bersama-sama Perwira UNMO tersebut, tetapi waktu kita telah siap untuk berangkat dari El Themed, beliau masih njenjak tidur dus kita tak hendak menjia-njiakan waktu dan berangkatlah. Sekarang beliau terpaksa mentjari teman dan menjusul kita dalam keragu-raguan. Untung djua tak salah djalan.

Karena segala sesuatu telah kita selesaikan, tinggal lagi mendjelaskan kepada beliau tentang rentjana kita, selandjutnja menjusul pelaksanaannja. Tidak banjak lagi jang harus dibitjarakan tak lupa diabadikan lalu masing-masing menjelesaikan tugasnja sendiri-sendiri. Berarti, Israel kembali, Perwira UNMO dengan rombongannja kembali dan kita mentjari tempat untuk kemah-kemah dan untuk pos pengawas. Untuk jang tersebut belakangan sangat mudah, tetapi untuk kemah Peleton, tak mudahlah ditentukan, mengingat terbukanja tempat-tempat tersebut terhadap angin dan jang terachir dan jang terpenting, faktor keamanan. Achirnja ditentukan suatu tempat jang agak rendah dan sedikit terlindung dari angin, jalah dibawah puing-puing rumah pendjagaan polisi perbatasan.

Pada tengah hari, truck dari El Tharief datang membawa separuh kekuatan serta tenda-tenda. Pada waktu itu angin sangat dingin dan bertiup dengan kekuatan 40 mil sedjam. Dapat dibajangkan, betapa sukarnja mendirikan tendatenda dalam arus angin sematjarn itu. Untuk mendjaga agar tenda-tenda dapat tahan menghadapi angin, sewaktu piket-piket belum tertantjap, maka digunakan truck untuk menahannja. Belum lagi tanahnja jang begitu keras. sehingga piket-piket kaju tak dapat masuk tanah atau mendjadi patah. Mobile Unit Canadapun, jang harus mengurusi perhubungan radio segera datang, demikian pula truck-truck lain dengan barang-barang dapur dan tenda-tenda. Demikianlah kita berdjam-djam berdjuang melawan angin dan suhu jang sangat dingin.

Melihat dipeta, semestinja harus ada djalan jang menudju kepos El Kuntilla dan jang kekanan menudju kedudukan Kompi dari Finlandia. Kita mentjari

dialan jang ke El Kuntilla. Lapangan terbang beserta datarannja kita kelilingi.

Peta, kompas, teropong, semua kita pergunakan. Kemungkinan berkenalan dengan randjau tak kita ambil pusing. Berdjam-djam kita mentjarinja, tak djua berhasil. Djalan ini baru dapat kita ketemukan 2 hari berikutnia, jalah dengan mengirimkan patroli dari El Kuntilla, menembus lembah-lembah gunung dan lerengan-Ierengan ungu, melintasi djalanan-djalanan jang telah sangat berbeda dengan gambar dipeta menudju ke Ras El Naqb dengan pedoman terachir, bendera UNO jang terpantjang tinggi diatas bukit. Dengan demikian tertjapailah hubungan segi tiga sama kaki antara El Themed dalam kedudukan sebagai Komando Kompi dan El Kuntilla-Ras EJ Naqb selaku outpost Peleton.

Demikianlah pembatja jang terhormat, sekelumit kisah njata disemenandjung padang pasir Sinai, dimana pasukan-pasukan Tuan menunaikan tugas ,,Following the Israeli's withdrawal" kedjurusan Aqaba, jang dapat berlangsung menurut rentjana dan tanpa insiden. Suatu saat bersedjarah, jang merupakan titik kulminasi dari tugas damai UNEF di Sinai dan Gaza.

(Minggu Merdeka)

7-7-1957.

MASALAH BAHASA DJADI PERSOALAN SULIT.

– Peradjurit-peradjurit Canada, Norwegia dan lain-lain, sudah bisa bilang ,,Selamat pagi".

– Kalau andjing padang pasir menjalak dimalam hari, bulu tengkuk berdiri .......................

– Randjau-randjau masih banjak tersebar.

Saja sambung lagi tjerita saja mengenai checkpost El Thisa –– El Nakhl. Djadi pos ini berada ditengah-tengah padang pasir. Hanja terdiri dari dua tenda. Jang satu untuk anggauta-anggauta jang djaga, jang lain untuk pesawat dan anggauta perhubungan. Bajangkan hanja dua tenda ditengah-tengah padang pasir. Kemana mata memandang, pasir melulu. Sudah barang tentu angin dan dinginnja bukan main. Terutama dalam Minggu jang lalu ini.

Andjing-andjing padang pasir menjeramkan.

Pada malam hari banjak andjing-andjing padang pasir berkeliaran. Biasanja dalam djumlah jang besar. Bentuknja bagus, besar dan bulunja pandjang. Bila lapar, mereka berani djuga menjerang manusia. Tetapi, sementara waktu ini, kita tidak perlu chawatir diserang mereka, 2––3 bulan lagipun tidak akan mereka kelaparan! Hanja kalau menggonggong, kadang-kadang rasanja seperti menusuk-nusuk hati. Apalagi djika sedang djaga bertiga pada malam hari, kantuk-kantuk sedikit, lalu dengar andjing-andjing itu sajup-sajup melolong, ach sungguh dapat berdiri bulu tengkuk. Dan jang tidurpun nggak dapat tenteram.

Bagaimana bisa tenteram, dipadang seluas itu, hanja kita satu regu. Dan gelap, serta sunjinja padang pasir sungguh menakutkan ditambah pula dengan anginnja jang sangat keras. Sekalipun kita jakin dan pertjaja, bahwa kita disini tidak akan diserang siapapun djuga, toch lebih suka berada ditengah-tengah kawan di Camp Shandura. Lebih suka lagi berada dirumah sendiri bersarna anak dan isteri!

Apa jang saja lihat dan dengar dibioscoop sadja selarna ini kita alami sekarang. Belum pernah saja mendengar angin bersuit-suit seperti itu. Orang berdiri biasa sadja hampir tak tertahankan. Malah sebuah tenda di El Themed bahkan terangkat oleh angin pada suatu malam hari buta. Belum lagi kalau bertjampur pasir. Untungnja belakangan ini kita diperlengkapi dengan katja mata padang pasir. Dan barang itu banjak menolong.

Tentang makan dan minum, seperti telah saja tulis dalam surat saia jang lalu, dikirim dari basis. Sekali kirim untuk 24 djam. Djadi djangan mengharap-

Garuda Perdamaian 158.jpg

Sport adalah usaha mendjaga kesehatan, tetapi bagi anggauta-anggauta Bn. Garuda kita artinja lebih dari itu. Ia adalah alat untuk mengusahakan persahabatan dan kemesraan dikalangan teman-teman seperdjuangan.

Dalam gambar ini kita lihat anggauta-anggauta Cie B sedang bermain volley dengan anggauta-anggauta Pasukan Norwegia.

kan makanan panas! Kalau dapat datang pada waktunja sadja, sukurlah sudah. Dan air terbatas 4 (empat) jerrycan. Untung sudah kalau kita dikirim sambal. Dapat menambah semangat makan. Meskipun lomboknja kering.

Randjau-randjau.

Beberapa hari jang lalu, karena tak disengadja, ada diketemukan ,,sematjam randjau" didekat tenda kita. Kurang lebih hanja dalam djarak 5 m. Anak-anak mulai katjau. seorang anggauta jang kebetulan dongkar-dongkar pasir, dengan kebetulan sadja mendjumpainja. Waktu hendak diteruskan membongkar, jang lain tidak setudju, dan Bentara djaganja melarang. Tampak ada barang bulat-bulat, dan ada pula matjam pernja. Hal itu sangat mentjurigakan. Segera diberi tanda, diberi pagar dan para anggautanja dilarang mendekati. Tetapi anak-anakpun masih was-was djua, djangan-djangan pada malam hari ada andjing jang mengindjaknja. Memang ada pengumuman jang menjatakan bahwa masih banjak sekali randjau-randjau tersebar jang tidak diketahui maupun tak diberi tanda. Maka dari itu, bila mengadakan patroli pengamanan, harus sangat dibatasi. Dan membongkarpun dilarang, artinja, hanja boleh dilakukan

oleh mereka jang memang ditundjuk untuk itu, Dan saja ingat benar, waktu saja masih di Beyruth, ada diiulis disurat kabar tentang adanja Tentara UNEF jang luka-luka akibat terbentur randjau sekena-kenaja sadja. Ada jang terlanggar truck-truck Belanda ada jang menghasilkan daging lembu, dan ada pula jang diindjak oleh pedagang gula dalam zaman status quo.

Achirnja, setelah hal tersebut dilaporkan ke Batalion, maka datanglah dua orang anggauta Genie untuk membereskan. Setelah diperiksa dengan teliti, dibongkar, ja memang randjau, tetapi tinggal dasarnja sadja .............


Soal bahasa djadi kesukaran

Sebenarnja tidak banjak pekerdjaan jang dilakukan disini. Kendaraan jang lalu tiap harinja, kalau ada delapan, itu sudah mendingan. Itu dalam 24 djam, djadi rata-rata dalam 3 djam baru ada kendaraan lalu, Memang lalu lintas untuk umum belum dibuka. Djadi jang lalu hanjalah UNEF melulu. Kendaraan-kendaraan Mesir sangat terbatas, dan itupun harus dengan persetudjuan/idjin UNEF. Tentang ini akan saja djelaskan lebih landjut dibelakang hari (kalau diidjinkan). Susahnja jalah, bahwa ditiap regu tidak tentu ada jang dapat menulis dan membatja Arab. Djadi kalau kita harus mentjatat nomor-nomor kendaraan Pemerintah Mesir — jang tidak ada hurufnja Latin, ja terpaksa menggambar angka.

Kadang-kadang suratnjapun dalam tulisan Arab melulu. Kalaupun kita dapat membatja, belum lagi mengerti apa maksudnja. Bahasa Inggris kadang-kadang penumpang seluruh kendaraan itu tidak ada jang tahu. Kalau diantara penumpangnja ada jang dapat bitjara lnggris, difihak kita diuga tidak selalu ada jang dapat berbitjara bahasa tersebut. Serba susah bukan, dan dengan gerakan-gerakan tak tepat dapat digambarkan tudjuannja, mungkin malah djadi salah mengerti.

Dalam hal jang demikian, mereka terpaksa kita tolak, dus kembali. Akibatnja, Komandan mereka ,.Menghadap" Komandan Batalion kita. Akibatnja lagi, dalam surat-surat djalan kendaraan mereka, terdapat huruf-huruf jang dapat kita batja.

Memang, soal bahasa ini kadang-kadang sungguh menggelikan, dan banjak tjerita-tjerita serta pengalaman-pengalaman jang lutju. Ambil sadja Tentara kita jang djaga di El Ballah maupun di Abu Suweir. Tempat, dimana matjam ragam Tentara UNEF bersimpang siur. Mau tidak mau mereka harus berhubungan satu sama lain. Tjaranja. kalau mereka saling tak mengerti bahasanja, Tuhanlah jang tahu. Terapi saja sering lihat peradjurit Indonesia dengan peradjurit Canada atau Denmark, India begitu asjik ,,mengobrol". Peradjurit-peradurit kita sudah pandai bilang ,,Thank you", ,,What is your name" dan peradjurit-peradjurit Canada, Norwegia. Columbia sudah dapat bilang ,,bagaus-bagaus", ,,terima kasih", ,,selamat pagi" dan lain-lain.

Dan kalau ada Perwira kita jang buta huruf bahasa Inggris, itupun tidak ada alasan untuk malu. Saja pernah ketemu dengan Kapten Jugoslavia Kapten Jugo bintangnja empat jang hanja ketawa sadja kalau diadjak ngomong, seorang Letnan satu Columbia jang memanggil Kaptennja dulu waktu harus mengadakan timbang terima. Dan sementara itu pasukan Perwira kita tersebut diatas kita beri nama Peleton Tarzan dan collega-collega mengedjeknja dengan ,,Tarzan hungry" ,,Tarzan will eat".

Memang susah disini bila tak dapat berbahasa Inggris, sebab surat-surat perintah, pengumuman-pengumuman maupun instruksi-instruksi dari Head Quarter selalu dalam bahasa lnggris, dan laporan-laporan dari pos-pos ketjilpun, jang harus langsung dikirimkan setjara radiografis harus pula dalam bahasa Inggris. Djuga kalau anak-anak beli apa-apa ditoko, tentu dengan kawannja jang dapat mendjadi perantara. Atau kadang-kadang ja matjam Djepang waktu datang di Indonesia dulu itu!

Tidak kalah gede.

Dan mengenai postuur, djangan ketjil hati. Tinggi anggauta Batalion Garuda, paling tidak sama dengan anggauta para Batalion India. (Orang-orang India ini tidak sebesar dan setinggi Gurkha-gurkha jang kita kenal dalam permulaan revolusi), ataupun Batalion Columbia. Dan karena pakaian-pakaian orang-orang Columbia menjerupai kita (atau kita jang menjerupai pakaian mereka) didjalan-djalan di Ismailia kita sering disangka orang Columbia oleh penduduk kota. Memang pakaian peradjurit-peradjurit Columbia djuga hidjau (hanja stofnja lebih baikan lagi) dan berjacket hidjau pula. Hanja jacketnja lebih pandjangan sedikit.

Uniform Garuda kurang kwaliteitnja.

Berbitjara soal uniform, memang kitalah jang paling rendah sendiri. Dapat dilihat sendiri, kalau tentara kita berdjalan bersama-sarna dengan Tentara UNEF lain. Djuga kwaliteit ,,winter dress" jang kita terima di Mesir, adalah mengetjewakan. Tetapi ini semua bukan alasan untuk berketjil hati maupun malu. Kan kita ,,Duta Negara" jang harus mendjundjung tinggi nama dan kehormatan bangsa, demikian pesan P.J.M. Presiden. Dan kata-kata ini selalu melengking ditelinga kita. Semoga.................


(Minggu Merdeka)

28-4-1957.

Bersjukurlah kalau bisa mandi sekali dalam dua minggu.

Anggota-anggota Pasukan Norwegia beladjar volley-ball dari,,anak-anak Garuda"

Siapa itu ,,Kolonel Simpoleon"?, tanja seorang dokter Norwegia.


Pembatja jang budiman.

Masih banjak jang dapat kita lihat dan kita tjeritakan mengenai El Themed ini. ·Marilah kita ikuti, apa sadja jang dikerdjakan selama 24 djam itu oleh ,,penduduk" El Themed ini.

Pada umumnja mereka bangun sangat siang. Ada jang djam 07.00 bahkan ada jang dam 08.00. Orang-orang Norwegia bangun djam 08.30. Tjuatja telah sangat terang, tetapi udara masih sangat dingin. Malas djadi untuk bangun pagi-pagi. Atau sekalipun sudah bangun, masih menetap sadja di veldbed, tertutup rapat dengan 3 buah selimut wol. Memang disini orang tidak ambil pusing, djam berapa kita bangun, sebab masing-masing telah ada kewadjiban tertentu sendiri-sendiri. Mengenai haripun, tak seorang djua tahu hari apa hari ini. Sebab kehidupan jah begitu-begitu sadja. Tak ada bedanja, hari satu dengan hari jang lain. Sedang dibuku harian hanja ditjatat tanggalnja sadja. Seakan-akan nama hari telah tak berguna lagi untuk masjarakat terpentjil ini.

Baiklah kita sekarang tjutji muka. Djangan mengharapkan mandi disini. Selain terlalu dingin djuga airnja tak mentjukupi. Bila kita sempat mandi sekali dalam dua minggu, untunglah sudah itu. Banjak tergantung ,,kantong air", dimana kita dapat tjutji muka dan tjutji mulut. Kantong-kantong air ini sangat praktis, seperti drum-drum kain jang digantungkan, dimana terdapat kraankraan untuk mengetap air.

Kawan-kawan umumnja melakukan ,,warming up" sendiri-sendiri, lalu menudju depan dapur, dimana telah tersedia roti dengan mentega, kedju dan jam serta kopi susu. Djam berapa orang-orang dapur mereka teman-teman peradjurit sendiri mengaturnja, kita tak memperdulikan. ltu urusan mereka, kita tinggal menghabiskan.

Lalu sebagian besar kawan-kawan menudju truck isi bahan-bahan, jang mengangkut kita kernarin, Ada jang lalu menurunkan bensin dan kerosin, dibawanja ke ,,gudang perminjakan", suatu tempat dengan tulisan ,,no smoking" dan .danger". Semua ditjatatnja dan sebentar lagi datang kendaraan-kendaraan Canada dan Norwegia untuk meminta bensin disini.

Rombongan lain menurun-nurunkan jerrycans air dan dibawanja ketempat-tempat kantong air untuk dituangkan disitu. Jerrycans kosong diisi lagi dengan air dari trailler.

Jang Jain lagi menurunkan bahan-bahan mentah jang ada dalam truck. Semua sadja diturunkan, kool, bloemkool, boontjes, tomaat, daging lembu, roti, mentega, kedju, gelei, juice, susu. telur, appel, dan entah apa lagi. Dibawah pimpinan Bentara Pengawas Makanan, barang-barang tersebut dibagi-bagi, Untuk Pos El Kuntilla, Pos El Tharief', orang-orang Canada dan Norwegia dan penghuni-penghuni El Themed bagian Indonesia, sendiri. lni dilakukan teliti sekali, supaja pos-pos tidak merasa dianak tirikan, sehingga daerah-daerah ini memberontak terhadap ,,pusat".

Tak lama kemudian datang truck-truck dari El Kuntilla dan El Tharief, dengan membawa jerrycan-jerrycan kosong. Jang kosong turun, jang penuh naik, termasuk jerrycan-jerrycan sebanjak 30 buah untuk masing-masing pos. Karena pos-pos tersebut letaknja kurang lebih 60 km djauhnja dari tempat ini, maka berartilah bahwa air harus diangkut 120 km Jebih dahulu, agar pendjaga-pendjaga dipos dapat minum, dan itupun terbatas dengan 30 jerrycans sadja. Bahan-bahan makanan dinaikkan, dan sebentar lagi truck-truck tersebut telah tak berbekas lagi.

Demikian kesibukan pada pagi hari. Marilah kita keliling sebentar untuk melihat-lihat dengan Jebih mendalam. Agaknja kebersihan dan ketertiban didjaga benar-benar disini. Kita lihat lobang-lobang untuk: tempat sampah, dan dapat kita lihat hitam-hitam hangus. Djadi tiap-tiap kali sampah tersebut dibakar. Untuk buang air ketjil, dibuatkan tempat-tempat chusus dan untuk buang air besar disediakan tempat dalam djarak lebih kurang 100 m dari perkemahan. Dibuat dari pada drum-drum, dan dipagari oleh senz-senz, Tempat ini diberi tulisan besar-besar ,,use me", jang dapat dibatia dari diarak 100 m. Dihalaman depan, banjak djuga jang telah diselesaikan kawan-kawan. Umpamanja sadja tugu tiang bendera. Cement diambilnja dari rumah-rumah rusak di El Nakhl. Berapa karung sadja ada, asalkan mau mengangkutnja. Batu dikumpulkan dari reruntuhan resthouse. Dengan demikian, maka batu jang ditumpuk-tumpuk dan diberi cement merupakan tugu seri empat jang kokoh sentausa. Lalu ditiap-tiap bidang ditulis .. U.N.E.F. ,,Bn. INDONESIA., .. GARUDA I" dan.,C COY BRAWlDJAJA" (jang mengerdjakan dan menjelesaikan kebetulan Kompi C jang berasal dari T.T. V/ Brawidjaja). Untuk menjelesaikan itu, memakan waktu hampir sebulan.

Tepat ditengah-tenaah simpang tiga, jang masing-masing menudju ke El Kuntilla, El Tharief dan El Nakhl. ada bak tempat air jang sudah tak terpakai. Kubus itu ditjart putih, lalu diberi tulisan-tulisan djuga, diantaranja ada jang pakai huruf Arab.

Didalam tenda-tenda hidjau tersebut instruksi-instruksi dan perintah-perintah serta direntjanakan pelaksanaannja. Diatas medja darurat. kursi darurat, disebelah almari darurat. Tentara darurat ini sanggup melaksanakan tugas Inter

nasional jang begitu rumit. Kerdja sama disinipun tampak baik sekali. Teman-teman peradjurit dapat bergaul dengan Tentara Canada dan Norwegia tanpa bitjara. Sudah barang tentu kadang-kadang timbul kesukaran-kesukaran karena. nja, Peristiwa-peristiwa jang lutju-lutju tiap hari terdjadi. Kadang-kadang perlu minta pertolongan ,.bapak-bapak" untuk dapat diketahui, bahwa mereka itu minta telur dan bukannja minjak gas.

Setelah makan siang, biasanja teman-teman Norwegia itu mengadjak main volley. Mereka bilang, bahwa mereka belum pernah main volley-ball ditanah airnja. Memang aneh, anak tjutju viking ini, datang begitu djauh, untuk beladjar volleyball dari orang-orang kulit sawo matang ditengah padang pasir Sinai. Setelah mereka agak dapat, tidak mau henti-henti, hingga kawan-kawan tjapai melajaninja.

Djuga Dokter Norwegia jang ada disini, sangat akrab sekali pergaulannja dengan anak-anak Indonesia. la suka sekali beladjar Volleyball. Sering ngobrol tentang tanah airnja, isterinja, anaknja. Djuga sewaktu Perang Dunia 11 dan tanah airnja diduduki oleh Tentara Djerman. Saja ganti tjeritera tentang tanah air kita dengan pohon kelapanja, tentang revolusi dan tentang gerilja. Banjak persamaan-persamaan jang terdapat. Waktu ia tanja tentang pengchianat-pengchianat sewaktu gerilja saja katakan bahwa djumlah mereka .. tidak terlalu banjak", Sekali waktu ia tanja tentang Kolonel Simpoleon dengan pembandelannja. jang ternjata Kolonel Simbolon jang dimaksudkan.

Demikianlah kehidupan di El Themed sehari-hari, menunggu terbenamnja matahari dan menunggu lagi, hingga berganti hari.

(Minggu Merdeka)


16-6-1957.


----------------

Pembatja jang terhormat,

Selama Batalion Garuda lebih kurang 3 bulan berpangkalan di El Shandura, berlangsunglah sudah peristiwa-peristiwa jang satu disusul dengan jang lain,jang kesemuanja mempengaruhi tugas dari pada ;,Tentara Darurat". Semua peristiwa ini berkisar disekitar Teluk Aqaba, Terusan Suez dan Gaza-strip.

Sementara itu pangkalan dari pada kebanjakan pasukan U.N.E.F. dan H.Q.-nja telah berlatih di Gaza-strip, ketjuali Batalion Indonesia. Untuk pengawasan jang lebih sempurna terhadap pasukan-pasukannja dan terutama sekali menurut desakan keinginan Pemerintah Mesir agar pasukan-pasukan U.N.E.F. ,,angkat kaki" dari canalzone, maka sudah dapat diperhitungkan lebih dulu, bahwa pangkalan Batalion Indonesia pasti djuga akan dipindahkan. Pangkalan Batalion India, jang semula sebelah-menjebelah dengan Batalion Indonesia, sudah pula dipindahkan di Gaza-strip. Djadi tanda-tanda untuk pindah ini telah dapat dilihat sebelumnja. Hanja kemana, inilah jang masih mendjadi teka-teki. Ada dua kemungkinan, mengoper tugas · Contingent Finlandia jang bertugas disepandjang pantai Aqaba, dan merupakan pasukan tetangga kita dalam tugas, atau masuk Gaza-strip sama sekali. Ternjata hal jang kedua jang mendjadi kenjataan. Dengan demikian, berangkatlah dari Shandura menudju Rafah - tempat diperbatasan Mesir dengan Palestine - suatu recce party jang dibagi mendjadi dua rombongan. Rombongan jang satu berangkat melalui Ismailia-Qantara-El Arish dan pantai Lautan Tengah, sedang rombongan lain berangkat memotong padang pasir Sinai, melalui El Nakhl-Bir Hasanah terus El Arish.

Djalan Sinai ternjata terlalu berat untuk dipakai dalam pemindahan. sedang djalan melalui Qantara dirusak Israel sepandjang lebih kurang 80 km, diantaranja jang to km telah diperbaiki. Achirnja diputuskan - jang ternjata sesuai dengan perintah H.Q. U.N.E.F. - bahwa pemindahan dilaksanakan melalui Qantara. Dari Shandura ke Qantara pasukan naik bus-bus. Di Qantara menjeberang terusan Suez, dan perdjalanan diteruskan dengan kereta api, jang pada saat itu hanja berdjalan sekali dalam 2 hari menudju ke Gaza. Barang-barang jang urgent ikut bersama pasukan, sedang barang-barang lain, diangkut dengan convooi kendaraan-kendaraan Batalion sendiri.

Reece party jang darang di Rafah, segera mendirikan tenda-tenda dihalaman rumah-rumah janz masih ditempati tentara Brasil. Mernang kita nantinja menempati perumahan-perumahan jang pada waktu itu masih didiami tentara Brasil. Disini kita mengenal dari dekat tata tjara serta sifat-sifat tentara Amerika

Latin ini. Suatu bangsa jang berdjumlah kira-kira sama dengan bangsa Indonesia, datang dari daerah tropisch pula sematjam kita dengan tanah air jang tjukup kaja dan berbahasa Portugis. Sangat djarang diantara mereka jang dapat berbahasa lnggris, djuga perwira-pewiranja, Bila di Staf Batalion kita ada terdapat dua orang Majoor, jang rasanja sudah terlalu banjak, maka di Staf Batalion Brasil ini terdapat 6 (enam) Majoor. Kalau kita sudah mengedjek akan kemalasan dan kekotoran kita sendiri, ternjata orang-orang Amerika Selatan ini dalam hal tersebut selalu pangkat dua.

Mereka djuga makan nasi sematjam kita, dan selama induk pasukan kita belum datang, kita mendjadi tamu mereka jang terhormat, Agaknja lidah mereka banjak persamaannja dengan lidah kita, sehingga masakan-masakan jang mereka hidangkan selalu mendapat sambutan hangat. Mereka djuga ,,pamer" tentang senapan serta jeep dan truck jang dibuat di Brazilia sendiri. Tentang kopi dan karetnja, tentang mambo dan sambanja, tentang kapal udara mereka jang datang setiap seminggu sekali dengan membawa bingkisan-bingkisan dan tentang hubungan radio telefonis tiap malam dengan tanah airnja. Mereka adalah tuan rumah jang baik hati selama beberapa hari itu, dan memberi kepada kita madjalah-madjalah jang banjak gambarnja, tetapi jang kita tak sedikit djuga mengerti maksudnja. Madjalah-madjalah jang selalu ada gambarnja pertandingan sepak-bola, dan gambar-gambar pertandingan sepak-bola pula melekat dipapan-papan pengumuman Batalion. Agaknja orang-orang Brasil ini memang kerandjingan sepak-bola.

Pada satu waktu saja pernah ditundjukkan isi gudang-gudang mereka. Masjaallah, penuh dengan bahan-bahan jang mereka bawa dari tanah air mereka sendiri. ,,U.N.E.F." kasih apa sama kita! demikian Perwira logistiknja menerangkan kepada kita, dan ia lupa bahwa Brasil adalah Contingent terachir datang di Mesir.

Mengenai kebersihan, para pembatja jang terhormat, memang benar-benar audzubillah, koprohnja orang-orang tropisch ini. Ditambah lagi dengan gedung-gedung setengah rusak jang mereka tempati, sungguh suatu pemandangan jang menjedihkan, Dan gedung-gedung serta tempat ini nantinja mendjadi pangkalan Batalion kita. Kita telah segera membajangkan, pekerdjaan-pekerdjaan jang ada didepan kita, untuk mengatur agar rumah-rumah setengah puing ini dapat mendjadi menarik untuk kita tempati. Sedang kita tahu, bahwa kita bukan dewa-dewa dari khayangan, djuga bukan tukang sulap. Sedang Brasil dengan kekajaannja, dengan lichtagregaatnja, dengan piringan hitam - pick up - loudspeakernja, dengan bahan-bahan kiriman tanah airnja, masih berupa demikian!

Tetapi kita bukannja orang-orang pessimis, tidak pula tinggal diam. Pekerdjaan pertama, segera membuat ..... W.C. dengan tulisan-tulisan besar ,,Love me" dan ,,Kiss me". Hal ini sudah suatu kemenangan atas Brasil dengan segala materinja, jang buang kotoran..... sesuka hatinja sadja.

Kita mentjari persamaan-persamaan. Kalau kita bilang sepatu, mereka sepatu, kalau kita medja, mereka meza, kita djendela, mereka zendela, kita mentega, mereka djuga mentega, dan kalau mereka bilang soudadu kita ...... peradjurit! Memangnja orang Portugis telah membekas djua ditanah air kita.

Demikianlah para pembatja jang terhormat achirnja pada pagi hari berikutnja, telegrafist kita dengan mahirnja sudah teriak-teriak dengan bahasa Brasil membangunkan sersannja: ,,He sersanto, banguno, makan mentega diatas meza". Kita djuga bangun tjutji muka lalu makan roti dengan mentega diatas medja.

Orang-orang Brasil inipun berpakaian seragam hidjau, bersepatu combat matjam kita, tinggi-tinggi serta perawakannja sama dengan kita, kulitnja tidak terlalu putih, dan roman mukanja matjam anak-anak Indo Belanda jang sudah sukar berbahasa Olanda ditanah air kita. Bahkan ada djuga jang hitam Negro, dan ada djuga beberapa gelintir anak-anak kolonist dari Djepang. Mengenai orang-orang Djepang ini, mereka sangat suka sekali bahwa diantara kita ada jang dapat ngomong Djepang. Hingga ia semalam-malaman datang dikemah kita dan ngadjak bitjara bahasa Dai Nippon Teikoku! Dengan demikian kita mendjadi ingat bahwa ,,arigatoo" adalah terima kasih, dan bila mau memaki-maki harus bilang ,,bakeroo"!

Beberapa hari lagi rombongan kwartiermakers datang, jang segera mendapat petundjuk-petundjuk dari recce party. Rombongan inipun segera mempersiapkan tempat-tempat untuk induk pasukan jang 2 hari lagi akan datang. Bulan itu adalah bulan Puasa dan pasukan-pasukan kita pada saat pemindahan tersebut masih ada jang bertugas didaerah El Themed, di Abu Suweir dan di Port Said. Djadi pada bulan sutji itu pula kita menjampaikan ,,selamat tinggal" kepada El Shandura dan Suez dan mulailah babak baru bagi Batalion Indonesia.

,,MERDEKA"
17-7-1957.

I S I

  1. Sambutan Menteri Penerangan ................................................................. 3
  2. Sambutan Menteri Luar Negeri .................................................................. 5
  3. Sambutan Kepala Staf Angkatan Darat ..................................................... 7
  4. Sambutan Kepala Penerangan Angkatan Darat ........................................ 8
  5. Bab I Sengketa terusan Suez ................................................................... 11
  6. Bab II Agressi Bersama Israel-Inggris-Perantjis ....................................... 46
  7. Bab III Pembentukan Pasukan Polisi P.B.B. ............................................. 60
  8. Bab IV Pasukan Garuda ........................................................................... 71
  9. Bab V Masalah Timur Tengah ................................................................... 89
  10. Pendapat dan reaksi tentang Pasukan Garuda ...................................... 125
  11. Surat-surat kiriman .................................................................................. 129

a. Sekilas keberangkatan Polisi P.B.B. dari Indonesia untuk Mesir ........ 131

b. Saja ditugaskan ke Mesir .................................................................... 134

c. Tjerita tentang T.N.I. di Ghaza ............................................................. 140

d. Pos El Tharief — 40 km berhadapan dengan tentara Israel ............... 147

e. Dengan tak sengadja lampaui perbatasan dan masuk Israel ............. 150

f. Masalah bahasa djadi persoalan sulit .................................................. 153

g. Tjerita 24 djam hidup di Kamp El Themed .......................................... 157

h. Batalion Garuda menggantikan Batalion Brazilia ................................ 160


PD-icon.svg Karya ini berada pada domain publik di Indonesia karena dipublikasikan dan/atau didistribusikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, berdasarkan Pasal 43 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Karena merupakan dokumen resmi pemerintahan, karya ini juga berada pada domain publik di Amerika Serikat.

Coat of Arms of Indonesia Garuda Pancasila.svg