Tjerita Si Umbut Muda/8

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tjerita Si Umbut Muda diterjemahkan oleh Tulis Sutan Sati
Makan Hati Berulam Djantung

8. MAKAN HATI BERULAM DJANTUNG

Bakar rakit digunung Padang,
daun selasih bawa kepekan.
Sukar sulit kasih 'kan dagang,
awak kasih ia berdjalan.

Kabar beralih tentang itu — sungguh beralih sanan djua — beralih kepada si Umbut. 'Lah tiba ia dirumah — lalu naik ia sekali. Berkata si Umbut Muda kepada adik kandung diri: „O upik Puteri Rambun Emas — adik isikan malah bekal — hamba 'kan balik mengadji — tinggallah 'kau dirumah. Sebuah petaruh hamba — jang akan kaupegang teguh. Djika mati si Gelang Banjak — mati sepeninggal hamba — bawakan pajung pandji 'kau — bawakan kain 'kan kapannja — kuburkan kebukit Silanggung. Katakan begitu kepada bapaknja — kabarkan begitu kepada ibunja — katakan bahasa petaruh hamba!”

Mendjawah si Rambun Emas: „Djika itu tuan katakan — insja Allah baiklah tuan — petaruh hamba pegang erat — hamba genggam teguh-teguh!”

'Lah berdjalan si Umbut Muda — 'lah sehari ia berdjalan — tjukup tiga hari penuh — tiba ia disurau gurunja — nan bergelar Tuanku Imam Muda — 'lah mengadji ia disana.

Terkabar si Gelang Banjak — tidak lama antaranja — sepeninggal si Umbut berdjalan — 'lah sakit pula si Gelang — sakit nan tidak bangun lagi — makan tidak minumpun tidak — sakitnja lebih dari dahulu — pajah dari nan 'lah sudah. Banjaklah dukun nan mengobat — banjak tawar nan ditawarkan — banjaklah tambal nan ditambalkan — obat sudah sepenuh rumah — tawar telah bertjawan-tjawan — djangankan sembuh, bertambah pajah.

Kaju kelat tumbuh dihilir,
berurat berbanir tidak.
Obat djauh, penjakit hampir,
bertawar selilirpun tidak.

'Lah sepekan ia sakit — 'lah dua pekan ia sakit — 'lah pajah si Gelang Banjak — sudah keluh-keluh kesah. Hari itu hari Djum'at — sedang buntar bajang-bajang — sedang letih-letih andjing — sedang lengang langis orang — sedang sunji senjap unggas — sedang si tjindai bergelut — berkata si Gelang Banjak: „O bapak, dengarkan bapak — o ibu, dengarkan ibu! Imam hamba sudah berkutjak — 'lah lemah sendi tulang hamba — akan sampai adjalu'llah hamba — nan punja datang mendjemput. Beri ma'af hamba oleh bapak — beri ampun hamba oleh ibu — relakan djerih pajah bapak — relakan air susu ibu — djawat salam pada jang tinggal — hamba akan berdjalan lagi!”

Mendengar kata demikian — bandung ratap ibu bapaknja — mengempas-empaskan awak — meletjut-letjutkan badan — meruntas-runtas rambut.

Akan bagaimana pulatah lagi:

Pidoli, Kota Siantar,
pandan melilit Penjambungan.
Njawa putus, badan terhantar,
arwah mengirap kedjundjungan.

'Lah mati si Gelang Banjak. Dihari nan sehari itu — ibunja sudah bergila-gila — lupa dunia sehari itu — 'lah dikurung masuk bilik. Dipukul tabuh dengan tjanang — berhimpun orang semuanja — gedang ketjil tua muda — laki-laki perempuan — baik imam baik pun chatib — baik pakih baikpun maulana —rapat pepat semuanja. Allahu rabbi banjak orang!

Tak termuat didaun talas,
didaun terung penuh pula.
Tak termuat pada jang luas,
pada nan lekung penuh pula.

melihat si Gelang Banjak — melawat majat nan gadis.

Mendengar tabuh berbunji — terkedjut si Rambun Emas — tersirap darah didada — lupa 'kan badan seketika — lalu mengutjap masa itu: „Ja Allah, ja Rasulu'llah — ja Tuhanku djundjungan hamba — tabuh apakah gerangan itu — kakak Gelang agaknja mati?" Diambil pajung pandji-pandji — dikepitnja kain sekaju — lalu turun ia sekali —— berdjalan bergegas-gegas — djalannja lari-lari andjing. 'Lah sebentar ia berlari — lah dua bentar ia berdjalan — tibalah ia di Kampung Aur — dilihat orang sudah banjak — 'lah bandung bunjinja ratap. Naik ia keatas rumah — mendjerembab ia sekali menangkup kemajat si Gelang — Meratap si Rambun Emas:

„Kerimba mengambil rotan,
anak siamang bergagauan.
Kakak'lah pergi berdjalan,
dengan siapa adik dipetaruhkan?

O kakak! dengarkan kakak:

Kepekan nan sekali ini,
kepekan tak membeli lagi.
Berdjalan nan sekali ini,
berdjalan tak kembali lagi.

Dengarkan djua oleh kakak:

Kerbau nan gedang dibantaian,
tundjang siapa 'kan membeli.
Kakak dimaksud akan pakaian,
hilang dengan apa 'kan diganti.

Beruas-ruas buku djagung,
beruas sampai kebukunja.
Puas hati tuan kandung,
kakak berdjalan sebab lakunja.

Beruas-ruas buku djagung,
beruas pula buku talang.
Puaslah hati tuan kandung,
kakak hamba terbaring seorang.”

Mendengar ratap si Rambun Emas — menangis puteri nan berenam — meratap meraung pandjang: „O adik Puteri Gelang Banjak:

Sedjak semula hamba latakkan,
tidak diletak dalam padi,
batang sitaka diampaikan.
Sedjak semula hamba katakan,
tidak diletak dalam hati,
kami djuga merasaikan.

Bakar rakit di Gunung Padang.,
daun selasih bawa kepekan.
Sukar sulit kasih 'kan dagang,
awak kasih, ia berdjalan.”

'Lah sebentar orang meratap — 'lah dua bentar majat terbudjur — datang pikiran pada si Rambun — terkira akan pesan tuannja — petaruh si Umbut Muda. Berkata si Rambun Emas kepada ibu si Gelang: „O ibu, udjarku ibu! dengarkan hamba katakan — tatkala tuan Umbut 'kan pergi — berpetaruh kepada hamba. Demikian bunji petaruhnja: „Djika mati si Gelang Banjak — mati sepeninggal hamba — bawakan pajung pandji 'kau — bawakan kain akan kapannja —kuburkan kebukit Silanggung" — begitu kata tuan Umbut. Inilah pajung hamba bawa — ibu tudungkanlah pada kak Gelang; ini ada kain sekaju — akan kapan oleh kak Gelang! Kononlah sekarang ini — majat 'lah lama tengah rumah — majat'lah lama terbudjur — eloklah kita kuburkan — kepuntjak bukit Silanggung — djangan kita tangisi djua — djangan kita ratap djua!”

Mendjawab ibu si Gelang: „Djika begitu kata 'kau — kita bawa malah kesana — kepuntjak bukit Silang-gung.” Akan bagaimana pulatah lagi: 'lah selesai majat dikapani — 'lah berdjalan orang nan banjak — membawa majat si Gelang — kepuntjak bukit Silanggung. 'Lah sebentar orang berdjalan — 'lah dua bentar antaranja — 'lah tiba orang disana — dipuntjak bukit Silanggung. Sesudah ditanam majat itu — ditegakkan pantjang kuburnja — dilekatkan langit-langitnja.