Tjerita Si Umbut Muda/7

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tjerita Si Umbut Muda diterjemahkan oleh Tulis Sutan Sati
Tiada diberi Harap

7. TIADA DIBERI HARAP

Mengabut api Pulau Pundjung.
orang memarun rimba raja.
Maksud hati hendak bergantung,
tuan enggan apakah daja.

Kabar beralih tentang itu — sungguh beralih sanandjua — beralih kepada si Umbut. Tidaklah lama antaranja — sepeninggal bapak si Gelang — sudah bangun si Umbut Muda — bangun tidak didjagakan. Lalu digosok-gosok mata — duduk termenung atas tilam — sedang mentjari kira-kira. Bertanja si Rambun Emas: „O tuan, dengarkan tuan: mengapa tuan bermenung — mengapa tuan djaga sekali — sudahkah tjukup tidur tuan?”

Mendjawab si Umbut Muda: „Makanja hamba terbangun — darah hamba tersirap-sirap — badan hamba pelak-pelak miang. Siapalah orang jang menjebut — siapalah orang jang menuntut? Sudah begini besar hamba — belum pernah matjam ini.”

Mendjawab si Rambun Emas: „Benar djuga kata tuan —lurus benar terka tuan! Sementara tuan tidur tadi — 'lah datang bapak si Gelang — membawa sirih ditjerana — memanggil tuan kemari — Ia akan berhelat gedang. Disuruhnja hamba mendjagakan tuan — dimintanja sungguh dengan sangat — hamba djua jang tak mau — hamba djua jang bertangguh. Lama benar dinantikannja — ia hendak seiring sekali; sekarang bersiaplah tuan — berkemaslah kini-kini — djangan tuan disusulnja lagi!”

’Lah memakai si Umbut Muda — memakai tjara Bangkiang; ’lah berdestar seluk timba — letaknja membelah benak — berkain Pelembang Atjeh — bertjintjin permata nilam — berbadju beledu gandum. Dibawakan langkah lima — surut kelangkah jang empat — lalu tegak berdiri betul — dipandang-pandang dalam tjermin — ditilik bajang-bajang badan. Tegak ketengah ia bermenung — tegak ketepi ia menegun; diputar tjintjin dikiri — dipaling tjintjin kekanan. Berdjalan turun sekali — dinaiki kuda nan belang — kuda nan belang radjah kaki — ekornja serasah terdjun — bulu seperti ’aina’lbanat — bulu tengkuk awan tergantung — pelana emas bertempa — kekangnja perak berhela — sanggurdi dari suasana. ’Lah berdjalan si Umbut Muda — hari nan sedang tengah hari — sedang buntar bajang-bajang — sedang kenjang-kenjang pipit — sedang lengang orang dikampung — sedang sunji senjap unggas — sedang letih lesu tulang. Djalan kuda mendontjang dontjang — djalan mengempang-empang lebuh — genta gedang imbau-mengimbau — genta ketjil panggil-memanggil; sudah ditjentjang guratihkan — ’lah mendua-dua katak — pada lalu surut nan lebih — semut terpidjak tidak mati — alu tersandung patah tiga — batang terlanda berbudjuran. ’Lah sebentar ia berdjalan — ’lah dua bentar ia berlari — tibalah diranah Kampung Aur. Merentak kuda si Umbut — merentak meringkik pandjang — terbebar ajam dilesung — terkedjut lembu dipadang — tertjengang orang nan banjak — terkedjut bapak si Gelang — tegak berdiri ia kepintu — menindjau arah kehalaman. 'Lah tampak si Umbut Muda — 'lah turun si Gelang: Banjak — dibawa air dikendi — disongsong si Umbut Muda. Berpantun si Gelang Banjak: „O tuan, dengarkan tuan:

'Lah penat hamba mendaki,
mendaki batu berdjandjang,
bulan tak terang-terangnja.
'Lah penat hamba menanti,
'lah putih mata memandang,
tuan tak datang-datangnja!”

Mendjawab si Umbut Muda:

Anak balam atas djelatang,
hinggap diranting dalu-dalu.
Maka hamba tak kundjung datang,
berbelok djalan tempat lalu.”

Berkata pula si Gelang:

„Tjempedak tengah halaman,
didjolok dengan empu kaki,
Djangan lama tegak dihalaman,
itu tjibuk, basuhlah kaki.”

'Lah naik si Umbut Muda — 'lah sebentar ditengah rumah — 'lah dua bentar antaranja — berpantun si Gelang Banjak:

„Berpikat balam dengan balam,
djerat tidak tuan pilinkan.
Penjakit semakin mendalam,
obat tidak tuan kirimkan.”

Mendjawab si Umbut Muda:

„Nan tidak kintjir berkiut,
dimana akan beroleh benang.
Nan tidak hamba dituntut,
dimana duduk akan senang?

Dengarkan sebuah lagi:

Ada djerat hamba pilinkan,
entah rantai entahpun tidak.
Ada obat hamba kirimkan,
entah sampai entah tidak.”

Mendjawab si Gelang Banjak:

„Biar djerat tuan pilinkan,
pandan terdjemur diseberang.
Biar obat tuan kirimkan,
badan bertemu maka senang.”

'Lah penat berpantun-pantun ― lah puas bertutur ― 'lah duduk si Umbut Muda. Dimanakah ia duduk? ― duduknja dikepala djandjang. Serta nampak oleh si Gelang ― Si Umbut duduk disana ― berkata si Gelang Banjak: „O bapak, udjarku bapak! pandang benarlah oleh bapak ― lihat benar oleh bapak ― pandang udjung dengan pangkal ― lihat hilir dengan mudik — duduk orang adakah betul — jang ditengah diketepikan — jang ditepi diketengahkan!”

Mendengar kata demikian — 'lah tegak bapak si Gelang — dipandang hilir dengan mudik — dilihat udjung dengan pangkal — pandang djauh dilajangkan — pandang dekat ditukikkan — pandang rusuk digendengkan. 'Lah nampak si Umbut Muda — duduknja dikepala djandjang — diturut oleh bapak si Gelang — dibawanja duduk ketengah. Berkata bapak si Gelang: „O bujung si Umbut Muda — bujung berkisar malah duduk — bujung berandjaklah dari situ — keatas kursi emas ini — djangan bujung disana djua — salah rupa dilihat orang — salab roman dipandang orang.”

Mendjawab si Umbut Muda: „O bapak, dengarkan bapak! pada pikiran hati hamba — 'lah patut hamba disini. Mengapa hamba 'kan berasak — mengapa hamba 'kan berkisar — keatas kursi orang lain — maka hamba duduk kesana?”

Berkata bapak si Gelang: „O bujung si Umbut Muda! djika boleh beli dengan pinta — perlakukanlah kehendak hamba. Bujung kawin sekarang djuga — dengan Puteri Gelang Banjak.”

Mendjawab si Umbut Muda: „O bapak, dengarkan bapak — serta nenek mamak hamba — jang duduk dirumah ini — memintak ampun hamba banjak-banjak — dengarkan hamba ber'ibarat:

Lurus djalan Kampung Tjina,
beri bertonggak batang padi.
Sambut salam si dagang hina,
letak dibawah tapak kaki.

Anak Keling berbadju sitin,
sudah sitin sekelat pula.
Hamba hina lagi miskin,
sudah miskin melarat pula.

Empelas daun kelojang,
ditoreh maka didjemur.
Si Gelang emas, hamba lojang,
dimana boleh bertjampur baur?

Dengarkan djua oleh bapak! Djika elok benarlah hamba, elok karena kain bersalang — djika gedang benarlah hamba, gedang karena tebu lingkaran — djika kaja benarlah hamba, kaja karena emas pembawa — emas pembawa ajah hamba — akan gelang kakinja takkan sampai. Kononlah serupa hamba ini — tergeser akan diempalasnja — tertangguk akan dikiraikannja — terbawa akan diantarkannja — oleh Puteri Gelang Banjak.”

Berkata bapak si Gelang: „Usah itu bujung sebut — Usah dibintjang-bintjang djua — usah diulang dua kali. Hanjalah sekarang ini — meminta hamba sungguh-sungguh — elok dipakai, buruk dibuang. Djika kupur (durhaka) mau kami tobat — djika salah hendak kami timbang — utang suka kami membajar — asal pinta kan berlaku — kehendak akan dikabulkan. Bujung kawin djua kini — dengan Puteri Gelang Banjak!”

Berkata si Umbut Muda: „Mana nenek mamak hamba — jang hadir dihelat ini! Beri ma'af hamba banjak-banjak — hamba akan mengurak sela — hamba akan dahulu turun — hamba berdjalan kini djua.” Mendengar kata jang demikian — tertjengang orangnan banjak. Berkata bapak si Gelang: „O bujung! nantilah dahulu — bujung djangan turun lekas — nantikan helat sampai habis — minum makan kita dahulu!”

Mendjawab si Umbut Muda: „Kalau itu bapak katakan — benar pula itu bapak: akan tetapi hanya sedikit — terniat ternazar dihati hamba — hamba akan berdjalan djauh — hamba akan balik mengadji. Bapak lepaslah dahulu — lepaslah dengan suka hati:

Sikudjur berladang kapas,
kembanglah bunga perautan.
Djika mudjur ibu melepas,
bagai ajam pulang kepautan.”

Mendengar kata demikian — keluarlah Puteri Gelang Banjak — berkata sambil menangis: „O tuan, tuan Umbut Muda — apa nan merasa dihati — apa nan bersalahan dimata — maka tuan hendak berdjalan? Tjoba katakan pada hamba!”

Mendjawab si Umbut Muda:

„Putus berdenting tali rebab,
diimpit tanah berderai.
Adik djangan menanja sebab,
untung nan membawa sangsai.

Dengarkan sekali lagi:

Berburu kepadang datar,
kenalah rusa belang kaki,

berlimau purut hamba dahulu.
Berguru kepalang adjar,
bagai bunga kembang tak djadi,
berbalik surut hamba dahulu.

Hamba 'kan balik mengadji — izinkan hamba — lepas dengan hati sutji — lepas dengan muka djerih:

Selasih diparak ubi,
hamba minta dipatahkan,
rotan ditarik orang Pauh,
entah berduri entah tidak.
Kasih adik selama ini,
hamba minta direlakan,
badan djika terdorong djauh,
entah kembali entah tidak.

Dengarkan sebuah lagi — supaja dua pantun seiring:

O adik, keladang adik,
keladang mudik kelurah,
bajur tak berputjuk lagi.
O adik, tergemang adik,
'lah hilang ajam pengerumah,
bendul tak berluluk lagi!”

Menangis si Gelang Banjak — menangis meraung pandjang — mengempas-empaskan badan —meletjut-letjutkan diri — meruntas-runtasi rambut — didengkung dada nan djadjai —mengesan djari nan sepuluh — sebelas dengan bentuk tjintjin. „O tuan, tuan Umbut Muda!” katanja si Gelang Banjak „mengapa tuan begitu benar — usah itu disebut djua — usah dikenang-kenang lagi. Djika salah hamba kepada tuan — djika terdorong mulut hamba — djika tertjela oleh hamba — djangan diletak dalam hati. Kalau salah biar kutimbang — kalau berutang hamba bajar — usah tuan pergi berdjalan — usah tuan balik mengadji.”

Kononlah oleh si Umbut — gajung tidak disambutnja — kata tidak didjawabnja — pantun tidak dibalasnja — si Umbut berdjalan djua.

Berkata pula si Gelang:

„Kapal si Ali ke Benggali,
kapal si Tenggar ke Bawan.
Djika tuan pergi mengadji,
hamba tinggal tidak berkawan.

Tergenang air didjadjaran,
terendam urat padi muda.
Tergemang hamba ditinggalkan,
hamba 'lah tuan adjar mandja.

Rumah berandjung di Ulakan,
rumah Baginda Radja Ganti.
Kami disandjung dientakkan,
alangkah ibanja hati kami.

'Lah runtuh sawah 'rang Kubu,
diimpit bandar Tan Maradja.
Tak elok tuan begitu,
kami diberi harap sadja.

Anak 'rang di Padang Tarab,
bersunting bunga durian.
Hamba diberi kata harap,
bagai digunting perhatian.

Tiup api, pangganglah lakon,
anak radja pergi mendjala.
Buruk baik ditangan tuan,
tidak kami banjak bitjara.

Orang menampi dihalaman,
padi ditjotok balam tunggal.
Tuan 'kan pergi berdjalan,
hamba tidak suka tinggal!”

Mendjawab si Umbut Muda: „O upik, Puteri Gelang Banjak — dengarkan pula kata hamba:

Apa direndang dikuali,
beras siarang belum masak.
Apa dipandang pada kami,
emas kurang, rupapun tidak.

Sutan Muda memakai tjintjin,
kiriman orang dari Andalas.
Berkasih-sajang dengan nan miskin,
guna dengan apa'kan dibalas?

Limau purut belimbing besi,
makan seiris bubuhi garam.
Djangan ditumpang untung kami,
biduk tiris menanti karam.

Simanting ditepi air,
rantingnja ambil pemulut,
pemulut burung rambak Tjina,
singgah kepulau makan padi.
Adik kandung tjobalah pikir,
sebelum kena eloklah surut,
awak mulia mendjadi hina,
'kan rendah bangsa sebab kami.”

Mendjawab si Gelang Banjak:

„Ajam kurik rambaian tedung,
ekor terdjela dalam padi,
ambil tempurung beri makan.
Dalam daerah tudjuh Kampung,
tuan seorang tempat hati,
nan lain djadi diharamkan.

Ikan bernama gamba-lelan,
mudik menggonggong anak damak.
Tuan sepantun gambar bulan,
indah dimata orang banjak.

Sutan Palembang 'rang Pariaman,
duduk menjurat menulisi,
duduk melukis gambar bulan.
Sepantun djernang dalam pinggan,
lekat tak hendak pupus lagi,
begitu sajang kepada tuan.

Kiambang 'rang Bangkahulu,

ditanam aur ditebing,
oleh poan bengkuang djua.
Sajang tiap helai bulu,
kasih mendjadi darah daging,
oleh tuan terbuang sadja.

Dengarkan benar oleh tuan:

Mengabut api Pulau Pundjung,
orang membakar rimba raja.
Maksud hati hendak bergantung,
tuan enggan, apakah daja?

Hamba sungguh hendak menurut — tuan tak mau membawa; bawalah pantun hamba ini — simpul didalam ikat pinggang — bungkus didalam sudut destar — letakkan benar dalam hati:

Serindit mati tertatal,
mati terpulut dalam padi.
Sedikit tuan tentu menjesal,
tidak dimulut, didalam hati.

Kebalai nan sekali ini,
kebalai tak membeli lagi.
Bertjerai nan sekali ini,
kita ta'kan bersua lagi!”

Berkata si Umbut Muda:

„Djika adik mandi dahulu,
bergosok dengan daun lada.

Djika adik mati dahulu,
nantikan hamba disurga!”

Mendjawab si Gelang Banjak:

„Surat nahu berukir perak,
dibatja Chatib Sidur Alam,
duduk dimihrab surau tua.
Sedang didunia lagi tidak,
diachirat wa'llahua'lam,
musim pabila akan bersua?”

Berkata si Umbut Muda:

„Tutuh limau padang ini,
takkan lama rampak lagi.
Lihat benar si dagang ini,
takkan lama tampak lagi.

Sebuah lagi, o dik kandung!

Djangan ditjutjup minum kilang,
kalau ditjutjup ditapisi.
Djangan dituntut dagang hilang,
dituntut djangan ditangisi.

Djangan ditimba biduk Padang,
kalau ditimba keruh djua.
Djangan ditjinta dagang hilang,
kalau ditjinta djauh djua.

Anak 'rang Kuok Bangkinang,

singgah kerumah Katib Sutan.
Lajur bagai daun didiang,
usah diganti dengan nan bukan.

Kekanan djalan ke si Pinang,
kekiri djalan ke Melaka,
kersik berderai tebing tinggi.
Dengan kanan djawat kasih sajang,
dengan kiri hapur air mata,
kasih 'kan tjerai hanja lagi!"

'Lah turun si Umbut Muda — dinaiki kuda nan belang — dipatju berbalik pulang — sekedjap mata lenjap sekali. Menangis Puteri Gelang Banjak — menangis meratap pandjang — mengempas-empaskan badan — bergolat-golat ditanah — hingga tidak tahu diri. Tertjengang helat nan banjak — berlari semua kehalaman — ditating si Gelang Banjak — dibawa keatas rumah. Dihari sehari itu — tak lain dirintangkan orang — hanja dimabuk si Gelang sadja.