Tjerita Si Umbut Muda/6

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tjerita Si Umbut Muda diterjemahkan oleh Tulis Sutan Sati
Dimabuk Umbut

6. DIMABUK UMBUT

Guruh petus penuba limbat,
limbat dituba 'rang seberang.
Tudjuh ratus tjarikan obat,
badan bertemu muka senang.

Kabar beralih tentang itu — sungguh beralih sana djua. 'Lah sehari sudah itu — 'lah dua hari antaranja — 'lah sakit si Gelang Banjak — sakit tidak bangun lagi; nasi dimakan rasa sekam — air diminum sembiluan. Banjaklah dukun nan mengobat — banjak penawar dikenakan — obat sudah sepenuh rumah — penawar sudah bertjawan-tjawan — penambal sudah bertimbun-timbun — djangankan sakit 'kan sembuh — malah semakin dalam. Hilanglah 'akal bapaknja — 'lah mabuk hati ibunja — emat budi habis bitjara — melihat si Gelang Banjak. 'Lah sehari si Gelang sakit — 'lah dua hari ia terletak — tjukuplah tiga harinja — tumbuh pikiran oleh bapaknja — terbuka hati ibunja ditanjai si Gelang Banjak: „O upik Puteri Gelang Banjak! Apamukah jang sakit? Tjoba katakan kepada kami supaja tentu nan 'kan ditjari — kalau ada nan 'kan diminta.”

Mendjawab si Gelang Banjak: „Tidak tentu mana jang sakit — badah serasa bajang-bajang — darah hamba tersembur-sembur — hati hamba berdebar-debar — kepala rasakan petjah — nasi ditelan rasa duri — air diminum pahit-pahit. Hamba ingin akan Umbut — tjarikan apalah hamba umbut — diranah Kampung Teberau!”

Mendengar kata demikian — berkata ibu si Gelang: „O tuan bapak si Gelang — o, tuan bapak si Upik! Pergi djuga tuan kesana — pergilah berlekas-lekas — djangan berlalai-lalai djua — ambilkan umbut nan diminta — dikeranah Kampung Teberau — entah 'kan sungguh djadi obat.

Akan bagaimana pulatah lagi — berdjalan bapak si Gelang — berdjalan bergulut-gulut — berdjalan bergegas-gegas — keranah Kampung Teberau. 'Lah sebentar ia berdjalan — 'lah dua bentar ia berdjalan — dekat semakin 'kan hampir — hampir dekat 'kan tiba — 'lah tiba ia disana — diranah Kampung Teberau. Ditjari umbut teberau — sesudah dapat dibawa pulang; berdjalan bergulut-gulut — hati tjemas darah tak senang; si Gelang sakit ditinggalkan. Setelah tiba ia dirumah — dibangunkan si Gelang Banjak: „O, upik bangunlah — bangun — ini umbut sudah dapat.”

Mendengar kata bapaknja — umbut ditjari telah dapat — 'lah bangun si Gelang Banjak — 'lah tahu duduk sekali. Dilihat-lihat dipandangi — 'lah nampak umbut teberau — meradjuk berbalik tidur — mengempas-empaskan badan — meletjut-letjutkan diri — memukul-mukul kepala. Berkata si Gelang Banjak: „Bodoh benar malah bapak — bingung benar malah kiranja! Ke Kampung Teberau kusuruh tjari — umbut teberau jang diambil!”

Karena mengempas-empaskan badan — semakin sakit si Gelang Banjak — kadang ingat kadang tidak — kadang mengigau tak bertentu. Berkata si Gelang Banjak — berkata sambil menangis: „Kalau kehendak tidak dapat — 'kan mati malah badan diri:

Kaju kelat tumbuh dihilir,
berurat berbanir tidak.
Obat djauh, penjakit hampir,
bertawar selilir tidak.”

Berkata bapak si Gelang: „O upik, anakku sajang — katakan benarlah olehmu — kabarkan benar djelas-djelas! Apa nan akan hamba tjari — apa nan akan hamba ambil? Djauh boleh kami djemput — hampir boleh kami djangkau — tergantung boleh kami kait — asal sakit akan senang.”

Mendjawab si Gelang Banjak: „Djika iba bapak — djika sajang pada hamba — djika sakit hendak diobat — tjarikan malah hamba umbut — nan sama tinggi dengan hamba — nan sama gedang dengan hamba — keranah Kampung Teberau. Sebagai lagi petaruh hamba, lorong kepada umbut itu — tumbuhnja sebatang sadja — tidaklah boleh ia dibeli — tidaklah ia dapat ditukar!”

Serta mendengar kata itu — berdiri bapak si Gelang — berdjalan turun sekali — keranah Kampung Teberau. 'Lah serentang perdjalanan — 'lah dua rentang perdjalanan — hampir semakin 'kan dekat — dekat hampir 'kan tiba — tibalah ia disana — diranah Kampung Teberau. Duduk bermenung ia sebentar — tegak berpikir seketika — dibakar rokok sebatang — dikunjah sirih sekapur. Sedang dapat agak-agak — sedang datang kira-kira — berkata bapak si Gelang: „Umbut apa nan akan kuambil — umbut apa nan akan ditarik? Djika kuambil umbut pisang — umbut pisang penuh dirumah — tidak sama besar dengan dia.” Termenung pula ia kembali. Baru sebentar ia bermenung — dua bentar ia tertegun — memandang hilir dengan mudik — melihat kekiri dan kekanan — tampaklah enau sebatang. Berlari-lari ia kesana — ditebang sekali enau itu — lalu diambil umbutnja — diukur setinggi si Gelang. Umbut 'lah sudah diambil — berkata bapak si Gelang: „Nan dapat sekali ini — takkan mungkir lagi rasanja!”

Umbut enau dipikul pulang — berdjalan bergegas-gegas — berdjalan bergulut-gulut; napas sudah gedang ketjil — peluh 'lah menganak sungai — mengalir ketulang punggung — karena berat umbut itu. 'Lah serentang perdjalanan — 'lah dua renteng perdjalanan — hampir semakin 'kan dekat — dekat hampir 'kan tiba — tibalah ia tengah malam. Dientakkannja umbut itu — diletak dibawah lumbung — lalu naik sekali. 'Lah sebentar tengah rumah — berkata bapak si Gelang: „O upik, Puteri Gelang Banjak — upik djagalah dahulu — itu umbut sudah dapat — nan sama besar dengan engkau — nan tingginja setinggi 'kau — kubawa dari Kampung Teberau. Itulah dia tengah halaman — tindjaulah kepintu gerbang! — lihatlah kebawah lumbung!

Kononlah si Gelang Banjak — serta mendengar umbut dapat — hilang sekali penjakitnja; tegak ia kepintu gedang — lalu menindjau kehalaman — melihat ia kekiri kanan — memandang lalu kebawah lumbung; 'lah terputih umbut enau — 'lah terbelintang tengah halaman. Berbalik si Gelang tidur — mengempas-empaskan awak — meletjut-letjutkan badan — memukul-mukul badan — didemuk dada nan djadjai — mengesan djari nan sepuluh — sebelas dengan bentuk tjintjin. Berkata si Gelang Banjak: „Bingung benar malah bapak — bodoh benar malah kiranja — umbut enau pula bapak bawa — apa gunanja pada hamba? Bagaimanakah bapakku ini — makanja sebingung ini — maka tak tahu kata kias — maka tak tahu kilat kata — 'kan mati djua hamba gerangan.”

Berkata bapak si Gelang: „O upik, anakku sajang! Umbut apakah akan ditjari — umbut apa 'kau kehendaki ? Katakan benarlah sungguh-sungguh — katakan benar kata hati — usah engkau sembunji² usah disimpan² djua — supaja tentu nan 'kan ditjari — supaja tentu nan 'kan diturut; djika djauh kami djemput — djika mihal akan dibeli — asal sakit akan senang.”

Mendjawab si Gelang Banjak: „O bapak, dengarlah bapakku! kalau bapak iba 'kan hamba — kalau bapak sebenar sajang — kalau ada hati hendak mengoba — berhelat besarlah bapak — bantailah kerbau empat lima — tumbangkan rengkiang dua tiga — panggil orang Kampung Teberau — besar ketjil tua muda — laki-laki perempuan — baik imam baikpun chatib — sapu lantaikanlah memanggil!”

Mendengar kata demikian — bermenung bapak si Gelang — dipikir-pikir diheningkan — ditimbang-timbang dalam hati — diturut djuga kata anak — dipanggil orang Kampung Teberau — besar ketjil tua muda — laki-laki perempuan hilir nan serentak galah — mudik nan serangkuh dajung — seberang-menjeberang. Djika djauh kulangsing[1] datang — djika hampir dipanggilan tiba — malam dipanggil dengan surat — seranah Kampung Teberaunja. Allahu Rabbi banjak orang.

Tak termuat didaun talas,
didaun terung penuh pula.
Tak termuat pada nan luas,
pada nan lekung penuh pula.

Dari djauh djamu 'lah datang — nan hampir djamu 'lah tiba — dari bukit orang menurun — dari lurah orang mendaki — nan buta datang berpimpin — nan lumpuh datang berdukung — nan pintjang tertendjak-tendjak. Helat sudah sepenuh rumah — tuanku sela-menjela — malim sudah tiap sudut — penghulu berbilang puluh — orang ranah Kampung Teberau. Berkata bapak si Gelang: „O upik Puteri Gelang Banjak — Bangunlah upik bangunlah — djagalah anak djagalah! — lihatlah helat sudah tiba — mengapa engkau tidur djuga — sudahkah senang sakit 'kau?”

Lah bangun si Gelang Banjak — lalu ia duduk sekali — berdjalan turun kebawah — dibasuh muka seketika — 'lah naik pula berbalik. Giranglah hati bapak kandung — melihat si Gelang Banjak — 'lah pandai berdjalan-djalan — 'lah pandai mengganti kain.

Ada sebentar antaranja — kononlah Puteri Gelang Banjak — dipandang hilir dengan mudik — dilihat ketengah dan ketepi; pandang djauh dilajangkan — pandang hampir ditukikkan — pandang rusuk digendengkan. 'Lah tampak ummat semua — besar ketjil tua muda — laki-laki perempuan — baik imam dengan chatib — baik manti dengan penghulu — pegawai sukar dibilang — 'rang ranah Kampung Teberau. Seorang sadja nan tak nampak — seorang sadja nan tak datang — si Umbut Muda jang tak ada. Berbalik si Gelang tidur — lelap nan tidak djaga lagi — sakitnja semakin sangat — herangnja berbuah-buah.

„Kaju kelat tumbuh dihilir,
berurat berbanir tidak.
Obat djauh penjakit hampir,
bertawar selilirpun tidak.”

katanja si Gelang Banjak.

Mendengar kata demikian 'lah hilang 'akal bapaknja — habis tenggang kelakar — habis budi dengan upaja — melihat anak kandung diri. Terhenjak duduk dilantai — bermenung ditiang pandjang — menangis mengesak-esak — hati rusuh bertjampur iba — awak djerih djasa tidak. 'Lah sebentar ia menangis — timbul pikiran dalam hati — diimbau ibu si Gelang — dibawa duduk berunding - dibawa beria-ria. Berkata bapak si Gelang: „O ibu si Gelang Banjak! Kini begitulah nan baik — tjoba tanjai pula oleh 'kau — ape benar nan dihatinja — apa benar nan kehendaknja — kehendak si Gelang Banjak. Tioba beli benar mulutnja — tunai benarlah bitjaranja. Konon hamba engkau harapkan — tak dapat olehku lagi — 'lah hilang 'akal dan budi — 'lah sempit kira-kira hamba; boleh djadi kalau pada kau dia mau mengatakan — dia mau membukakan — apa benar dihatinja.”

Kononlah ibu si Gelang — orang tjerdik tjendekia — orang djauhari bidjaksana — mendengar kata demikian, rasa terbajang dalam hatinja, rasa terkira dipikiran — mengapa anak djadi sakit — mengapa si Gelang djadi begitu. Didekati anak nan sakit, lalu berkata ibu si Gelang: „O upik Puteri Gelang Banjak! katakan benarlah oleh 'kau — kabarkan benar habis-habis — usah 'kau sembunji-sembunji — usah 'kau mengendap-endap. Apa 'kau benar nan sakit — apa obat akan ditjari — apa benar kehendak 'kau? Hamba minta kata putus — katakan sungguh kata hati; djika tidak 'kau katakan — tak kau terangkan djelas-djelas —kuamuk badanku kini — supaja senang hati 'kau!”

Ibu si Gelang berlari kebilik dalam — dibuka peti nan gedang — ditarik rentjong sebilah — tadjam jang bukan alang-alang — bisanja bangun sekali — tidak ketawaran — djedjak ditikam mati djua. Disentak rentjong sekali — berlari ketengah rumah — ditudjukan rentjong keleher — sebagai orang akan menikam.

Serta tampak oleh si Gelang — ibunja hendak mengamuk — hendak mengamuk badan diri — tjemas sungguh dalam hati — takut bertjampur ngeri. Memberongsang si Gelang bangun — direbut rentjong ditangan — dirampas dari tangan ibu — lalu ditjampakkan dihalaman.

Kononlah si Gelang Banjak — 'lah sesak rasa kira-kira — 'lah emat budi bitjara — habis tenggang dengan kelakar.

'Lah masak padi di Biara,
diambil akan galu-galu,
tak boleh mengubik lagi.

Tersesak padang kerimba,
terentak ruas kebuku,
tak dapat menjuruk lagi.

'Kan dikatakan rasa malu — tak dikatakan ibu mengamuk. Dikatakannja djua jang djadi — apa nan isi hati ketjil: „O ibu, udjarku ibu, —dengarkan benar ibu — dengarkan hamba ber'ibarat:

Guruh petus menuba limbat,
limbat dituba 'rang seberang.
Tudjuh ratus tjarikan obat,
bersua tuan Umbut maka senang.”

Mendengar kata demikian berkata ibu si Gelang — berkata kepada tuannja: „O tuan bapak si Gelang — berhelatlah sekali lagi — turunkanlah padi dilumbung — tjekaulah kerbau dikandang — djemput si Umbut Muda — keranah Kampung Teberau.”

Akan bagaimana pula lagi — berdjalan bapak si Gelang — berdjalan bergegas-gegas — keranah Kampung Teberau — dibawa tjerana sekali. 'Lah serentang perdjalanan — 'lah dua rentang perdjalanan — tjukup tiga rentang pandjang —dekat semakin 'kan hampir — hampir dekat 'kan tiba — 'lah tiba ia disana — diranah Kampung Teberau — dirumah ibu si Umbut. Mengimbau bapak si Gelang: „O Umbut dengarlah dengar ada dirumah engkau kini?”

Mendengar orang mengimbau — menindjau adik si Umbut — bernama Puteri Rambun Emas. 'Lah tampak bapak si Gelang — berkata si Rambun Emas: „O bapak, udjarku bapak:

Tjempedak tengah halaman,
didjo'ok dengan empu kaki.
Djangan lama tegak dihalaman,
itu tjibuk basuhlah kaki.

bapak naiklah dahulu!”

'Lah naik bapak si Gelang — 'lah timbang sela menjela — 'lah duduk bersirih-sirihan — 'lah duduk berpinang-pinangan — makan sirih sekapur seorang, habis manis sepuh terbuang — kelat tinggal dirangkungan — rasanja habis terlulur — sarinja keubun-ubun. Sedang elok pertuturan — sedang longgar perkabaran — diangsur sekali rundingan. Berkata bapak si Gelang:

„Bukan hamba Kenari sadja,
Kenari anak 'rang Talang.
Bukan hamba kemari sadja,
besar maksud nan didjelang.

Dengarkan sebuah lagi:

„Bukan hamba kerimba sadja,
kerimba menebang sampil.
Bukan hamba kemari sadja,
kemari datang memanggil.

memanggil si Umbut Muda — dimanakah ia sekarang?”

Mendjawab Puteri Rambun Emas: „Djika itu bapak tanjakan — djika itu bapak maksud — ia ada dirumah kini — ia tidur diatas andjung — baru sebentar ini tidur.” Berkata bapak si Gelang: „Tolong benarlah bapak ini — tolong bersusah engkau sebentar — tolong apalah bangunkan ia — katakan hamba datang memanggil — terbawa djua kini hendaknja. Katakanlah elok-elok benar!”

Mendjawab si Rambun Emas: „O bapak, udjarku bapak — usah bapak marah nanti — eloklah marah kini-kini. Bukan hamba segan menolong — bukannja enggan diseraja; takutlah hamba mendjagakannja — takutlah hamba membangunkan — sebab dia tidur — pulang mendo'a tadi malam. Bapak berbaliklah dahulu — bapak pulanglah dulu — nanti hamba katakan padanja — bapak datang memanggil.”

Mendjawab bapak si Gelang: „Djika itu djawab engkau — biar disini hamba nantikan — sampai si Umbut terbangun; makanja senang hati hamba — seiring djua kami berdjalan.”

Berkata si Rambun Emas: „Itu djangan bapak rusuhkan — itu djangan bapak risaukan — malah ia terbangun nanti — hamba suruh berdjalan sekali — tidakkan berapa lamanja — berdjalan sedekat ini!”

Mendengar kata demikian — 'lah menurut bapak si Gelang — lalu turun berdjalan pulang. 'Lah serentang perdjalanan — 'lah dua rentang perdjalanan — tibalah ia tengah halaman — lalu naik ia sekali. Bertanja si Gelang Banjak: „O bapak, udjarku bapak — manatah orang nan didjemput — manatah orang nan dipanggil — makanja belum tiba djua — apa sebabnja tak terbawa?”

Mendjawab bapak si Gelang: „Kuturut benar kerumah ibunja — kupergi benar kekampungnja — keranah Kampung Teberau — bersua si Umbut sedang tidur. Kusuruh djagakan oleh adiknja — takut ia membangunkan — sebab si Umbut baru tidur — pulang mendo'a malam tadi. Tapi ada bapak berdjandji — dengan Puteri Rambun Emas — menjuruh bangunkan lekas-lekas — menjuruh kemari bangat-bangat.”

  1. Sirih jang dikerunjutkan berisi pinang didalamnja, suatu tanda untuk panggilan berhelat.