Tjerita Si Umbut Muda/5

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tjerita Si Umbut Muda diterjemahkan oleh Tulis Sutan Sati
Diraju Talang Perindu

5. DIRAJU TALANG PERINDU

Aur ditanam betung tumbuh,
paring diparak si Gumanti,
Asal hati sama sungguh,
kering lautan kita nanti.

Berdjalan si Umbut Muda — berdjalan pergi kepantjuran — kelubuk si Gelang Banjak, 'Lah serentang perdjalanan — 'lah dua rentang perdjalanan — tjukup tiga rentang pandjang — hampir makin 'kan dekat — dekat hampir 'kan tiba; 'lah dia disana — dilubuk Pantjuran Radja — dilubuk si Gelang Banjak — nan berbatua suasa — nan berpantjuran gading gadjah — nan berdinding tjermin gedang — airnja bagai mata kutjing. Berpuput si Umbut Muda; hari itu hari Djum'at — sedang tengah hari tepat — sedang buntar bajang-bajang — sedang litak-litak andjing — sedang kenjang-kenjang pipit — sedang lengang orang — dikampung sedang ramai orang dipekan — sedang sunji senjap unggas — sedang si tjindai bergelut. Bunji puput bagai mengimbau — bagai bunji orang memanggil — bunji menjusut awan biru — bagai bunji rebab dan ketjapi-bagai bunji gung dengan telempong — bunji tjanang dipukul djauh; kadang-kadang bunji diawan — kadang-kadang bunji dalam tanah.

Si Gelang Banjak sedang bertenun — bertenun dibawah lumbung — tersirap darah didada — 'lah mengentak keempu kaki — membalas keubun-ubun. Turak tidak terluntjurkan — suri tidak tertjotjokkan — karok tidak terpidjakkan — 'lah terlepas dari gengaman — terlepas sedang dipegang; sutera habis kusut-kusut — benang mas putus-putus.

Keruh nan bagai kuah siput,
djernih nan bagai kuah ajam.
Hati'lah bagai rumin[1]kusut,
bagai benang dilanda ajam.

mendengar puput si Umbut Muda.

Kononlah si Gelang Banjak — merajuk tegak sekali — badan serasa bajang-bajang — peluh sudah menganak sungai — darah 'lah menampi-nampi — sudah keluh-keluh kesah — bagai pujuh kena palang — bagai belut kena lukah — bagai beruk kena ipuh — duduk tidak tersenangkan. Digulung tenun terentang — lalu berkata pada ibunya: „O ibu, udjarku ibu! — ibu luntjurkanlah perian — ibu kemarikanlah labu — ibu ulurkanlah galuk. Hamba akan pergi mandi — tidak tertahan pelak badan — tak tertanggung panas hari — awak palak-palak miang — angus hangat rasa dibakar.”

Mendengar kata si Gelang — Kononlah oleh ibunja — diluntjurkan perian gading — diberikan labu suasa — diulurkan galuk perak. Berdjalan si Gelang Banjak — berdjalan pergi kepantjuran; disandang perian dibahu — didjindjing galuk dikiri — dikepit labu diketiak. 'Lah sebentar ia berdjalan — 'lah dua benar ia berdjalan — hampirlah dekat akan tiba — tiba ia ditepi tebing — 'lah tegak si Gelang Banjak, nampak oleh si Umbut Muda — ia sedang di balik aur; berpantun si Umbut Muda:

„Tjempedak berkeping-keping,
terletak didalam buluh.
Djangan lama tegak ditebing,
nanti dibawa tebing runtuh.”

Mendengar pantun demikian — tertcengang si Gelang Banjak — dipandang hilir mudik — dilihat kiri dan kanan — seorang tidak jang tampak; terus djua ia berdjalan — menuju arah kepantjuran. Serta tiba ia dilubuk — dilihat air sudah keruh — lubuk’lah diharu orang — sumur sudah diaduk orang. ’Lah marah si Gelang Banjak — ’lah mentjertja, ’lah memaki; „Anak bintjatjak bintjatjau — anak ngiang-ngiang rimba — anak dapat dalam semak — anak tjentjang penarahan — anak tak bertundjuk beradjari — anak tidak berpengadjaran — lubuk awak diharunja — sumur awak jang dikatjaunja!”

Baru mendengar kata itu — mentjagur si Umbut Muda — tegaklah ia dinan terang; ’lah tampak oleh si Gelang, berpantun si Umbut Muda:

„Tjemetas talang berduri,
lantak sepenuh pematang,
Hari panas elang berbunji,
awak litak, nan kuning datang.”

’Lah marah si Gelang Banjak — lalu diturutnya sekali — didekat si Umbut Muda — ditariknja perian pandjang — diletakannya kepada si Umbut. Djangan si Umbut 'kan kena — periannja habis petjah-petjah; diambilnja pula labunja — di lemparkan kepada si Umbut — dielakkan pula oleh si Umbut — lalu habis hantjur luluh. Ditariknja pula geluknja — dilemparkan pula pada si Umbut; djangan si Umbut 'kan kena — geluk hilang entah kemana.

Berpantun si Umbut Muda:

„Telah gugur selara kopi,
diimpit seludang pinang.
Kesumur tak djadi mandi,
geluk digenggam 'lah hilang.

Dengarkan sebuah lagi:

Mempelam serangkai kuning,
didjolok serangkai muda,
lalu disambar bidadari,
terbang keatas pohon djambak,
Djika tak djadi dengan nan kuning,
awan bertepuk, gunung laga,
bulan disambar matahari,
konon kasihan'kan tjerai tidak.

Kalau dapat kelapa tumbuh,
kutanam dibawah djandjang.
Kalau boleh kata jang sungguh,
kugonggong kubawa terbang.”

Mendjawab si Gelang Banjak:

„Tjintjin empat hilang lima,
hilang dipulau Bentuk Tadji,
ada tergilang-gilang djua.

Sedang sahabat ada menggila,
apa lagi main belum djadi,
ada terkenang-kenang djua.

Dengarkan sebuah lagi:

Anak selimang selempada,
kurang esa tiga puluh.
Djangan suka dirintang mata,
karena mata binasa tubuh.

Aur ditanam, betung tumbuh,
buluh diparak si Gumanti.
Asal hati sama sungguh,
kering lautan kita nanti!”

'Lah lama berpantun-pantun — 'lah puas bertutur-tutur — 'lah penat berunding-runding — datang pikiran pada si Gelang — terkenang hendak pergi pulang; hati'lah berdebar-debar — darah'lah menampi-nampi: „Bapak djika menjebut-njebut — ibu djika bertanja-tanja — apalah kata bapa dan ibu — selama ini hamba keair!” lalu berlari hendak pulang. Sedangkan ia berdjalan — dua rentang ia berlari — tertegak pula kembali — tertegun si Gelang Banjak. Nampak oleh si Umbut Muda — si Gelang berhenti pula — ia tidak djadi pulang — bertanja si Umbut Muda: „Apa sebab adik tertegun — apa sebab adik berhenti — mengapa belum pulang djua? Apa gerangan nan terkenang — apa djuga nan ditegunkan — apa nan gaduh dalam hati?”

Mendjawab si Gelang Banjak: „Bukan sedikit hamba rusuhkan — bukan sedikit hamba risaukan — ada sebuah nan hamba takutkan — ada sebuah nan hamba menungkan — takut benar hamba 'kan pulang. Disinilah bapak mulai berang — sinilah ibu tahu marah!”

Berkata si Umbut Muda: „O, upik Puteri Gelang Banjak — apa benar nan dirisaukan — apa benar nan ditakutkan? Mengapa bapak akan berang — mengapa ibu akan marah — apakah nan akan dimarahkannja? Tjoba katakan pada bamba!”

Mendjawab si Gelang Banjak:

„Tengkolok bersudut empat,
tengkolok orang Batang Kapas.
Jang didjolok tidak dapat,
pendjolok tinggal diatas.

Hamba sudah pergi keair — membawa labu dan perian. Djangan air akan terbawa — perian nan habis petjah-petjah — labu 'lah habis hantjur luluh — geluk nan hilang tak bertentu. Djika datang usul periksa — djika datang sudi siasat — dari bapak dengan ibu — apalah akan djawab hamba — apalah akan kata hamba? Itulah nan hamba menungkan — itu nan hamba rusuhkan.”

Berkata si Umbut Muda: „Adikku Puteri Gelang Banjak — itu tak patut kaurusuhkan — itu tidak usah kaumabukkan — itu tak guna dirisaukan; biar kuberi pengadjaran — biar kuberi'kau petundjuk. Dengarkan benarlah oleh adik! Djika bertanja bapak dirumah — djika menjiasat ibu nanti: Kemanakah labu'kau tadi — kemanakah perianmu tadi — mengapa tidak membawa air — mengapa'kau pulang sadja — djawab oleh adik elok-elok — pandai-pandai berkata-kata: Hampir mati badan hamba — hampir kita tak bersua; hamba
Gambar di novel Si Umbut Muda
menampak kerbau laga — kerbau bertanduk dua-dua — kuda bersepak kebelakang. Karena lari perian petjah — itu makanja labu hantjur — geluk hilang lenjap sadja! Begitu mengatakannja — djangan adik ubah-ubah. Tidaklah bapak akan marah — tidak ibu akan berang. Dengarkan benar oleh adik:

Dari Siturak ke Situngkai,
dari Simabur hendak ke Gasan,
tupai melompat dalam padi.
Djika membuka djangan diungkai,
djika menjimpul djangan mengesan,
pandai-pandai bermain budi.

Dengarkan sebuah lagi — biar dua pantun seiring:

Merpati terbang kekota,
terbang melintas kebubungan.
Djangan terbetik terberita,
biar luluh dalam kandungan.

Sekarang beginilah adikku:

Beragih bawang 'lah kita,
supaja tentu bersiang serai.
Beragih sajang 'lah kita,
supaja tentu bertjerai-tjerai.

Adik berbaliklah pulang — keranah ke Kampung Aur — hamba hendak pulang pula — keranah Kampung Teberau; bertolak punggung'lah kita — djangan lama kita disini.”

Mendengar kata demikian — girang sungguh hati si Gelang — mendapat petundjuk pengadjar — berdjalan sekali pulang. 'Lah serentang perdjalanan — 'lah dua rentang perdjalanan — dekat semakin 'kan hampir — hampir dekat 'kan tiba — tiba si Gelang tengah halaman — lalu naik sekali. Baru sebentar tengah rumah — dua bentar tengah rumah — datang tanja dari bapaknja — tumbuh sudi dari ibunja. Berkata ibu Gelang: „O upik Puteri Gelang Banjak! manatah perian tadi — manatah labu 'kan tadi — mengapa tidak membawa air — mengapa pulang melenggang sadja? Siapa mengambil perian engkau — siapa mentjuri labu engkau?”

Mendjawab si Gelang Banjak — berkata sambil menangis: „O, Bapak, udjar hamba! O, ibu kata hamba dengarkanlah hamba katakan — dengarkan hamba kabarkan. Ketika awak akan pulang — berbalik dari pantjuran tadi — perian sudah hamba sandang — labu'lah penuh hamba isi — bersua dengan kerbau laga — kerbau laga tengah djalan — kerbau bertanduk dua-dua — kuda bersepak kebelakang. Karena lari perian petjah — karena takut labu ku petjah — labu petjah — geluk lah hilang kutjari tidak bersua.”

Berkata bapak si Gelang: „Mengapa engkau menangis — siapa orang nan marah — siapa orang nan berang? Tidaklah kami akan marah — hanja tadi nan kami tjemaskan — kalau perian diambil orang — kalau labu ditjuri orang. Djika itu engkau katakan — djika itu mara nan datang — senanglah pula hati kami — sunjilah kira-kira kami. Beruntung benar engkau tadi — tidak tjatjat tidak binasa; mudjur benar tak tjelaka sudah patut berkaul-kaul — patut kita meminta doa. Pergi tjekau malah ajam — suruh tangkap kambing seekor — suruh sembelih kini-kini — kita mendo'a nanti malam — suruh imbau seorang mualim.” Mendengar kata demikian — ditjekau ajam tudjuh ekor, ditangkap kambing seekor — lalu disembelih sekali; dibuat gulai dua tiga — lalu dipanggil orang mualim — meminta do'a selamat.

  1. Sematjam kelindan.