Tjerita Si Umbut Muda/10

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tjerita Si Umbut Muda diterjemahkan oleh Tulis Sutan Sati
Berhelat Kawin

10. BERHELAT KAWIN

Kinajan dibalik kandang,
dibelah dibalik buku.
Kemenjan sudah terpanggang,
sembah tiba pada tuanku.

'Lah sehari ia dirumah — 'lah dua hari antannja — berkata si Umbut Muda: „O upik Puteri Gelang Banjak — serta Puteri Rambun Emas — berhelat gedanglah kalian bantai — kerbau empat lima tumbangkan rengkiang dua tiga — panggil segala nenek mamak — besar ketjil tua muda — baik imam dengan chatib — orang ranah Kampung Aur — serta ranah Kampung Teberau — supaja tahu orang semuanja — bahasa si Gelang balik hidup.”

Akan bagaimana pulatah lagi — 'lah dibantai kerbau empat lima — 'lah tumbang rengkiang dua tiga — akan makanan helat banjak — dipukul tabuh larangan — menjahut tabuh nan banjak — menggeluguh dipukul tabuh dibukit — menjahut tabuh dilurah — tabuh Djum'at menjudahi. Terkedjut orang negeri — gemparlah orang Kampung Aur — 'lah tiba umat semuanja —baik imam dengan chatib — banjak penghulu dengan manti — pegawai bersama-sama orang banjak berbondong-bondong. Jang buta datang berbimbing — jang lumpuh datang berdukung — jang pintjang tindjak tindjaki. Berkata penghulu kampung: ,,Apa sebab tabuh berbunji — dahulu tidak berguguh? Apa sebab tjanang dipukul — dahulu tidak begitu ? Adakah randa dapat malu — adakah dubalang salah hukum — ataukah parit nan terhampar — ataukah pantjang nan 'lah rebah — ataukah randjau nan 'lah lapuk — ataukah aur nan diretas — ataukah musuh nan mengadang?"

Mendjawab si Umbut Muda: ,,Bukan randa dapat malu — bukan dubalang salah hukum — bukan patir nan terhampa — bukan randjau nan 'lah lapuk — bukanlah musuh nan mengadang. Mana segala ninik mamak — maka hamba himpunkan kemari — djika boleh pinta hamba — hamba hendak mendjamu ninik mamak — meminta kawin masa kini — dengan Puteri Gelang Banjak. Parenailah segala ninik mamak — naik keatas rumah kami."

'Mendengar kata demikian tertjengang orang nan banjak — heran lah hati semuanja — tidak lulus pada 'akal — tidak lantas pada pikiran — si Gelang 'kan hidup-balik.

Baharu tampak oleh si Umbut — orang heran tjengang-tjengang — 'ariflah ia masa itu — bahasa orang tidak pertjaja. Berkata si Umbut Muda: ,,Mana ninik mamak hamba — usah lama tegak dihalaman — parenailah sekali keatas rumah."

Mendengar kata demikian — naiklah orang keatas rumah — lalu diberi minum makan.

Serta sudah minum dan makan — berdiri si Umbut Muda — dibuka kelambu kuning — tersingkap kelambu kasah embun — terbajang si Gelang Banjak — membajang lalu kehalaman — mentjahaja sampai keudara; kelangit berbajang kuning — kelaut berbajang merah — kebumi mengelimantang. Tertjengang orang nan banjak — bisik 'lah berdesus-desus — garis 'lah berapi — melihat si Gelang Banjak — 'lah mati berbalik hidup.

Berkata ibu si Gelang — berkata ia kepada lakinja: „O tuan bapak si Gelang! Tidak djua kata hamba — sedjak dahulu hamba katakan bahasa si Gelang 'lah balik hidup. Lihat djua oleh tuan — lihatlah dengan sungguh-sungguh — pandang dengan njata-njata. Itu siapa dalam kelambu — bukankah itu si Gelang Banjak?”

Mendjawab bapak si Gelang: „Bingung benar engkau ini — bodoh benar malah kiranja — penglihatan 'kau nan berlainan — pemandangan 'kau nan bertukar. Orang banjak nan serupa — 'lah njata anak kita mati — manakan mungkin hidup lagi?

Kalau boleh siput bertali,
kubawa kedalam lurah.
Kalau boleh hidup dua kali,
tanda kiamat bumi Allah!”

Mendengar kata demikian — berkata si Umbut Muda:

„Ada siput jang bertali,
kuseret menempuh semak.
Ada hidup dua kali,
ialah Puteri Gelang Banjak!”

Berkata pula si Umbut — berkata kepada si Gelang: „O adik Puteri Gelang Banjak — adik keluarlah sebentar — pergilah temui ibu bapak — pergilah djelang keduanja — supaja tahu orang banjak — supaja pertjaja semuanja.”

Kononlah si Gelang Banjak keluar dari dalam bilik — berdjalan tertatah-tatah — berdjalan ditengah helat — meminta ma'af kanan kiri — pergi mendapatkan bapaknja — pergi menemui ibunja. Serta tiba ia menjembah — menangkup keharibaan ibu — menangis si Gelang Banjak: „O ibu, dengarkan ibu:

Tak kusangka akan kegua,
kegua djua nan djadi.
Tak kusangka akan bersua,
bersua djua nan djadi!”

Mendengar anak menangis — melihat anak'lah meratap — menangis pula ibu si Gelang — meratap pula nan djadi. Berkata ibu si Gelang:

„Tembakau anak 'rang Sikilang,
dari hulu turun berakit.
Sedjak 'kau, upik, sudah hilang,
tiap bulu menanggung sakit.

Gemuruh sorak 'rang berhilau,
berarak beriring-iring.
Rusuh hati terkenangkan dikau,
air mata iring-gemiring.

Berlari-lari memandjat pinang,
berpajah-pajah memandjat kepundung.
Sedjak sehari engkau hilang,
ibu sudah masuk kungkung.

Kalau tidak ditebat orang,
'kau mandi, hamba menjauk,
supaja sama berbasah-basah,
disumur 'rang Kota Tua.
Kalau tidak dikebat orang,
'kau mati, ibu mengamuk,
supaja sama berkalang tanah,
sekubur kita berdua.”

'Lah sebentar ia menangis — lah dua bentar ia meratap — berkata si Umbut Muda: „O ibu, dengarkan ibu— o bapak, kataku bapakku! Mengapa bapak menangis djua — mengapa ibu meratap djua? Tak patut bapak menangis — tak padan ibu meratap — patut bersuka-suka hati — nan hilang sudah kembali — nan mati sudahlah hidup. Berkaul-kaullah bapak — berniat-niatlah ibu memudji kepada Allah — djangan memudji kepada hamba!”

Berkata bapak si Gelang: „Insja Allah baiklah itu! hanja nan sekarang ini bujung perlakukan kehendak hamba — bujung berilah pinta kami. Bujung kawin kini djua — bujung nikah sehari ini dengan si Upik Gelang Banjak!”

Mendjawab si Umbut Muda: „Djika itu bapak katakan — djika itu kehendak ibu — insja Allah baiklah itu!”

'Lah kawin si Umbut Muda — dihari sehari itu. Serta sudah nikah didjawat — nasi ditating orang pula — minum makan sekali lagi, serta sudah minum dan makan dibatja do'a selamat. 'Lah selesai orang mendo'a berkata bapak si Gelang: „O bujung si Umbut Muda — sebuah lagi kehendak kami — sebuah lagi nan dipinta — bujung berbalik pulang dahulu — ialah keranah Kampung Aur — boleh kita melepas niat — boleh kita membajar kaul — berhelat pula kita di sana. Manalah ninik dengan mamak — segala sanak saudara hamba — besar ketjil tua muda — laki-laki perempuan nan hadir dihelat ini — gedang tidak disebut gelar — ketjil tidak diimbau nama. Beri ma'af hamba banjak-banjak — meminta ampun gedang-gedang — bukanlah akan dipermudah-mudah — meminta hamba sungguh-sungguh kita bertolak semuanja — keranah ke Kampung Aur — keranah Puteri Gelang Banjak! Biarlah habis sawahladang — biarlah habis harta benda — barang terhirun biar terdaing *)[1] — biar tertulang biar terdaging — kita berhelat tudjuh hari — bergelanggang agak sebulan — kita arak si Umbut Muda beserta Puteri Gelang Banjak. Kita panggil orang semuanja — seluhak se Lima Puluhnja — seluhak se Tanah Datarnja — serta orang Luhak Agam — sampai ke Kubung Tiga Belas!”

Mendjawab orang nan banjak: „Insja Allah baiklah itu!”

Berkata si Umbut Muda: „Kalau begitu maksud bapak — djika itu niat nazar — bapak berbaliklah dahulu — bapak pulanglah kini-kini — tangkaplah kerbau dikandang — tangkaplah djawi dipadang — keluarkan padi dilumbung — apa jang kurang suruh tjari. Lorong kepada ninik mamak — hamba membawa kemudian — itu djangan bapak rusuhkan — itu djangan bapak risaukan — lekaslah bapak balik pulang.”

Kononlah bapak si Gelang ia bergegas balik pulang — berdjalan bergulut-gulut — berdjalan tergesa-gesa. 'Lah serentang perdjalanan — 'lah dua rentang perdjalanan — dekat semakin 'kan hampir — hampir dekat 'kan tiba — tibalah ia tengah halaman — lalu naik ia sekali. Berkata bapak si Gelang: „Mana anakku keenamnja — mari kalian semuanja — djelanglah karib baid kita — sekalian sanak saudara — minta tolong sungguh-sungguh — apa nan kurang suruh tjari — kita akan berhelat gedang — mengarak Puteri Gelang Banjak — dengan bujung si Umbui Muda. 'Lah hidup ia kembali — dirumah si Rambun dia kini — diranah Kampung Teberau — 'lah kawin ia tadi pagi.”

Mendengar kata demikian — sukalah puteri nan berenam — riang jang bukan alang-alang — lalu berdjalan turun sekali dibawa untjang berisi — memanggil sanak saudara — meminta tolong akan berhelat.

Akan bagaimana pula lagi — datanglah orang nan banjak — keranah si Gelang Banjak — habis bekerdja semuanja — ada pegangan masing-masing. 'Lah sehari dua hari — tjukup ketiga harinja — hasil semua pekerdjaan. Berdjalan bapak si Gelang keranah Kampung Teberau — mendjemput si Umbut Muda — dengan Puteri Gelang Banjak. 'Lah sebentar ia berdjalan — 'lah dua bentar ia berdjalan — tibalah ia dirumah si Rambun — lalu naik ia sekali. Ada sebentar tengah rumah — berkata bapak si Gelang: „Mana bujung Umbut Muda — maka hamba datang kemari — mendapati djandji nan dahulu — mendjemput kalian keduanja — serta ninik dengan mamak — baik imam dengan chatib — laki-laki perempuan — seranah Kampung Teberau — melepaskan niat nan dahulu — menjampaikan maksud tempoh hari; djika boleh permintaan hamba — kini djua kita berdjalan!” Kononlah pada masa itu — diguguh tabuh larangan — sahut-menjahut tabuh nan banjak — berdentum tabuh dibukit — membalas tabuh dilurah — terkedjut orang negeri — 'rang banjak hilau-berhilau — pegawai bersama-sama — penghulu berpangkat-pangkat — nan buta datang berbimbing — nan lumpuh datang berdukung — nan pintjang tindjak-tindjaki. Berkata penghulu kampung: ,,Apakah sebab tabuh berbunji — dahulu tidak nan bagini! Apakah sebabnja tjanang dipukul — dahulu tidak nan begitu! Ataukah dubalang nan mendapat — ataukah randa dapat malu — ataukah parit nan 'Iah bubus — ataukah pantjang nan terdampar — ataukah randjau nan 'lah lapuk — ataukah aur nan beretas — ataukah musuh nan mengadang?”

Mendjawab si Umbut Muda: ,,Bukan randa dapat malu — bukan dubalang nan mendapat — bukan musuh nan mengadang: maka ninik mamak dikampungkan — mengulang kata nan dahulu — permintaan dari bapak hamba — kita bertolak semuanja — kita berdjalan kini-kini — ialah keranah Kampung Aur.”

Berkata orang nan banjak: ,,Insja Allah, baiklah itu!”

Akan bagaimana pula lagi — bersiap si Gelang Banjak — memakai tjara puteri-puteri, berkemas si Umbut Muda — memakai tjara rang Bugis — 'lah berdestar seluk timba — bersisamping kain Palembang: dibawakan langkah lima — surut kelangkah nan empat, lalu tegak berdiri betul — ditenggar tjermin nan gedang — dipandang bajang-bajang diri — tegak ketengah bermenung — tegak ketepi- menegun — diputar tjintjin dikiri — dipaling tjintjin dikanan — berdjalan turun sekali.
Si Umbut Muda.pdf

(Unggah gambar untuk mengganti penampung ini.)

Akan bagaimana pula lagi — 'lah berdjalan orang nan banjak — berdjalan berbondong-bondong — berdjalan berdujun-dujun — Allahu rabbi banjak orang! Penghulu berpuluh-puluh — pegawai beratus-ratus — orang banjak beribu-ribu — tjukup imam dengan chatib — mengarak si Umbut Muda. Rasa kiamat bumi Allah — berapa gendang dan rebana — bunji bedil merendang katjang — rasakan pekak nan mendengar — berapa sorak dengan sorai — berapa tepuk dengan tari. Rupa serban sudah memutih — destar gedang 'lah menghitam. Selama lambat didjalan — dekat hampir 'kan tiba — tibalah umat semuanja — diranah di Kampung Aur. Turunlah puteri nan berenam — membawa ait tjutji kaki — serta dengan beras kuning — menjongsong si Umbut Muda. Setelah sampai dihalaman — lalu ditaburkan beras kuning — sambil ditegur merapulai, oleh puteri nan berenam, begini bunji tegurnja: — serta tiba atas rumah — berbunji rebab dan ketjapi — berbunji gendang dan tjelempong — berapa salung dengan puput — puput 'rang ranah Kampung Aur — menanti helat nan datang. 'Lah tjukup alat nan datang — berkata bapak si Gelang:

„Petat nan berangkai-rangkai,
petai nan berdjindjing-djindjing.
Datuk nan diudjung lantai,
datuk nan dilingkung dinding.

Si Djapun mandikan anak,
mandi bertimba air urai.
Beri ampun hamba pada nan banjak,
hamba menegur marapulai.

Dipandjat kerambil pagai,
reraskan mumbang mudanja.
Hamba menegur marapulai,
serta dengan orang mudanja.

Kaju kelat medang dilurah,
ketiga kaju medang lumat,
tumbuh dibukit bio-bio,
ambil sebatang djadi tonggak,
keramuan rumah nan gadang.
Penghulu banjak nan bertuah,
alim banjak nan keramat,
hamba ini kena serajo,
tak dapat tempat mengelak,
tertumbuk dibadan seorang.

Enau ketjil nimbuh sebandjar,
kurang rapat runduk-rundukkan.
Hamba ketjil djolong beladjar,
djika kurang tundjuk-tundjukkan.

Sudahlah kembang bunga bolai,
padi nan hampir menuruti,
Sudahlah datang marapulai,
kami nan hampir menuruti.

Anak kambing dalam djilatang,
memakan buah dalu-dalu.
Apa sebab lambat datang,
djalan berkelok tempat lalu?

Dibelah-belah batang padi
dibelah lalu diperdua.

Alangkah sukanja hati kami,
anak seorang djadi berdua.

Mudik buaja berpasangan,
mudik berenang ke Singkarak.
Sepantun kasau dengan bubungan,
putus pengarang maka rerak.

Si Amat Padang Siabung,
nak lalu ke Guguk Sarai.
Berkamat kain berkabung,
'lah laluh maka bertjerai.

Tjempedak tengah halaman,
didjolok dengan empu kaki.
Djangan lama tegak dihalaman,
itu tjibuk basuhlah kaki.

'Rang Padang membawa kundur,
dibelah-belah ditanamkan.
Tingkatlah djangdjang tepiklah bandur.
djedjaki tikar kedudukan!"

Akan bagaimana pula lagi, dibasuh kaki si Umbut Muda. Sesudah kaki dibasuh — lalu naik ia sekali — mengiring orang nan banjak:

„Tidak tergetapkan, pinang,
pinang berbuah semuanja.
Tidak teratap terbilang,
datuk bertuah semuanja.

Kinijan dibalik kandang,
dibelah-belah dengan kuku.
Kemenjan sudah dipanggang,
sembah tiba pada tuanku!

Batjalah do'a selamat — meminta rahmat pada Allah — nan dimaksud sudah-sampai — nan di'amal sudah petjah — mati'lah berbalik hidup — nan hilang sudah kembali.”

Berkata tuanku imam, bergelar Tuanku Imam Muda: „Djika itu niat dan nazar — kita masukkan dalam do'a!”

Mendo'a Tuanku Imam Muda — serta sudah do'a dibatja — minum makan orang nan banjak. 'Lah sudah minum dan makan — makan sirih sekapur seorang. Sedang elok pertuturan — sedang longgar perkabaran — berkata orang nan banjak: „O tuan bapak si Gelang — makan sudah obat lapar — minum sudah obat haus — meminta kami mengurak sela-mentjari tempat masing-masing.”

Mendjawab bapak si Gelang: „Akan bagaimanatah pula lagi — djika itu pinta datuk — hamba lepas dengan hati sutji — hamba lepas dengan muka djernih!”

  1. *) Biar habis harta benda