Seri Pahlawan: Abdul Moeis

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Milik Dep. P dan K

Tidak diperdagangkan

Inpres No. 12 tahun 1979

SERI PAHLAWAN


ABDUL MOEIS

Cover buku Abdoel Moeis

penerbit MUTIARA jakarta

Milik Dep. P dan K

Tidak diperdagangkan

Inpres No. 12 tahun 1979


ABDUL MOEIS

POLITIKUS, JURNALIS, SASTRAWAN



Oleh:


Mirza Nur B.


Cetakan ke- 2


1306 Sm

1980



penerbit MUTIARA jakarta

JL. SALEMBA TENGAH 38. JAKARTA - INDONESIA

Telp: 882441

DAFTAR ISI

Halaman


1. Putera Tuanku Laras Sungai Puar ............. 5

2. Calon Dokter yang gagal .................... 12

3. Terjun ke dunia jurnalistik ................ 19

4. Memasuki dunia politik ..................... 24

5. Hidup sebagai orang buangan ................ 38

6. Penderitaan Abdul Moeis semasa Perang Kemerdekaan .................................. 46

7. Abdul Moeis sebagai sastrawan .............. 49

8. Kehidupan berkeluarga ...................... 53

9. Akhir hayat Abdul Moeis .................... 57 Sudah pernahkah Anda berkunjung ke Sumatra Barat? Belum? Mudah-mudahan kelak Anda dapat berkunjung ke sana.

Alam Sumatra Barat terkenal indah. Bukit Barisan sambung-menyambung dan berlapis-lapis. Danau Maninjau dan Danau Singkarak menambah semaraknya alam yang permai itu. Lembah Anai dan Ngarai Sianok terkenal keindahannya ke mana-mana. Dari leretan Bukit Barisan tersembul beberapa buah gunung. Dua buah di antaranya sangat terkenal. Kedua buah gunung itu berdiri berhadap-hadapan seolah-olah mengawal alam permai yang terbentang di bawahnya. Gunung itu ialah Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.

Saya tidak akan mengajak Anda untuk menjelajahi seluruh daerah itu. Kita hanya akan pergi ke sebuah negeri kecil. Negeri itu terletak di kaki Gunung Merapi. Tempatnya tidak jauh di sebelah tenggara Bukittinggi. Negeri itu bernama Sungai Puar.

Negeri itu sangat terkenal di Sumatra Barat. Ibu-ibu yang memasak di dapur pasti mengenalnya. Para petani yang bekerja di sawah atau di ladang tentu mengenalnya pula. Sebab, ibu-ibu itu tentu menggunakan periuk dan kuali atau wajan. Para petani itu tentu menggunakan pacul dan sekop. Barang-barang itu adalah buatan Sungai Puar. Tetapi bukan hanya barang-barang itu saja buatan Sungai Puar, Masih banyak lagi yang lain. Pisau, parang, sterika, gergaji, juga dibuat di Sungai Puar. Mutu barang-barang itu cukup baik. Lagipula kuat. Karena mutunya yang baik itu, Sungai Puar sering disamakan orang dengan Solingen di Jerman

Abdoel Moeis gambar halaman 8.jpg

"Apa besi" adalah tempat memproduksi alat-alat rumah tangga, pertukangan dan pertanian.

Barat. Solingen adalah sebuah kota yang banyak menghasilkan barang-barang yang dibuat dari besi atau baja. Dalam zaman Belanda, Sungai Puar disebut orang Solingen van Sumatra. Karena itu Sungai Puar tidak hanya dikenal di Sumatra Barat, tetapi juga di daerah-daerah lain di Sumatra.

Di mana-mana di negeri itu menjulang cerobong asap. Cerobong itu adalah cerobong dari pabrik-pabrik kecil tempat barang-barang itu dibuat. Orang Sumatra Barat menamakan tempat itu apa basi, artinya tempat menempa besi. Karena itu Sungai Puar dikenal pula dengan nama nagari apa basi. Umumnya pabrik atau industri kecil itu merupakan industri rumah.

Di mana-mana terdengar hiruk pikuk bunyi besi yang ditempa. Semua orang sibuk melakukan pekerjaan masing-masing. Mereka menempa besi untuk dijadikan cangkul, kuali, pisau, dan sebagainya.

Di negeri itu, pada tanggal 3 Juli 1883, lahir seorang bayi laki-laki. Tak· ada yang istimewa pada bayi itu. Hanya saja, ia berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya bernama Haji Abdul Gani yang ketika itu menjadi Laras Sungai Puar. Laras itu kira-kira sama dengan camat pada masa sekarang. Selain menjadi laras, Haji Abdul Gani memiliki pula perusahaan korek api. Korek api itu terkenal dengan merek "Tuanku Laras Sungai Puar".

Ibu bayi itu berasal dari Koto Gadang, negeri yang terkenal maju di Sumatra Barat. Ia masih berfamili dengan keluarga Haji Agus Salim, seorang Pahlawan Nasional yang cukup terkenal. Koto Gadang terkenal pula, sebab banyak orang terpelajar Sumatra Barat berasal dari negeri itu.

Keluarga Haji Abdul Gani diliputi suasana bahagia. Di rumah gadang, wanita-wanita sibuk melayani tamu-tamu yang datang untuk menengok si buyung yang baru lahir. Maklumlah, anak itu adalah anak Tuanku Laras.

Bayi yang baru lahir itu diberi nama Abdul Moeis (baca: Abdul Muis). Sejak kecil sudah nampak, bahwa anak itu akan menjadi laki-laki yang gagah. Roman mukanya bagus. Kulitnya kuning langsat.

Abdul Moeis dibesarkan di tengah-tengah keluarga berada dan terpandang. Sejak kecil ia sudah terbiasa mendengar hiruk pikuk besi yang ditempa. Begitupun ia sudah biasa mendengar orang-orang bersilat lidah dan berdebat. Orang Minangkabau terkenal pandai berbicara.

Teman-temannya hormat kepadanya, sebab ia anak orang berpangkat. Karena itu, dalam pergaulan, ia mempunyai kelebihan dari teman-temannya. Dalam rombongan anak-anak yang sebaya dengannya, ia selalu menjadi pemimpin. Tetapi hal itu tidak membuatnya menjadi seorang anak yang sombong. Itulah sebabnya anak-anak lain senang bergaul dengan Abdul Moeis. Lagi pula, ia selalu bersedia membantu teman-temannya yang dalam kesulitan.

Sejak kecil ia sudah senang berdebat. Pendapatnya yang dianggapnya benar, akan dipertahankannya sebisa-bisanya. Kalau pendapatnya yang benar itu disalahkan orang, ia tidak segan-segan untuk berkelahi. Tetapi kalau karena berkelahi itu ia dihukum oleh ayahnya, hukuman itu diterimanya dengan tabah. Ia tidak mengeluh karena dihukum itu.

Di lingkungan anak-anak itu tentu ada satu atau dua orang yang agak nakal. Mereka sering mengganggu Abdul Moeis. Bila hal itu terjadi, tidak ayal lagi Abdul Moeis pasti akan melayangkan tinjunya kepada anak yang mengganggu itu. Perkelahian pun terjadi. Karena ia sering berkelahi, ayahnya menugaskan seorang ”opas” untuk mengawasinya.

Ia berani melakukan pekerjaan yang berbahaya. Tetapi keberanian itu hampir saja membawa malapetaka bagi dirinya. Pada suatu kali ia mengendarai ”kereta bugis”. Kereta itu dikemudikannya seorang diri. Ia tak mau membawa kusir. Abdul Moeis sangat bangga akan dirinya. Ia merasa sudah dewasa. Ia ingin memperlihatkan kepada teman-temannya, bahwa ia seorang yang berani.

Kuda yang menarik kereta itu dilecutnya berkali-kali. Akibatnya, kuda itu melarikan kereta sekencang-kencangnya. Abdul Moeis menjadi cemas. Ia tak dapat lagi mengendalikan keretanya. Hampir saja kereta itu masuk jurang. Hanya karena nasib baik, ia terhindar dari bahaya.

Ayahnya marah bukan main. Ia sangat sayang kepada Abdul Moeis. Kalau kereta itu rusak, dapat
Abdoel Moeis gambar halaman 10.jpg

Abdul Moeis melecut kuda berulang-ulang.

digantinya. Tetapi kalau tangan atau kaki Abdul Moeis patah, dengan apa akan digantinya. Abdul Moeis menundukkan kepala. Mukanya pucat pasi. Ia tahu bahwa ia bersalah.

Sesudah peristiwa itu ia insyaf, bahwa perbuatan yang terlalu berani tidak baik. Apalagi kalau keberanian itu tidak diukur dengan kemampuan diri sendiri.

Orang Minangkabau terkenal mahir berpantun dan menggunakan pepatah-petitih. Pantun dan pepatah itu dipakai dalam percakapan sehari-hari. Banyak sekali pantun yang terkenal di daerah Minangkabau. Misalnya;

Keratau madang di hulu

berbuah berbunga belum
Ke rantau bujang dahulu

di rumah berguna belum

Dari pantun di atas dapat pula diketahui mengapa orang Minangkabau suka merantau.

Pada waktu itu malu sekali kalau ada anak muda yang tidak pandai berpantun. Ia akan diejek dan disindir sebagai berikut :

Seelok ini rupanya parak

agak sebuah tidak berdasun
Seelok ini rupanya awak

agak sebuah tidak berpantun
Kebiasaan dalam masyarakat itu berpengaruh terhadap Abdul Moeis. Dalam berbicara, ia terlatih bersilat lidah. Lingkungan masyarakat mendidiknya menjadi seorang yang pandai berbicara. Hal itu akan terlihat kelak waktu ia menerjunkan diri ke bidang politik. Kepandaian berbicara itu sangat berguna baginya.

Dalam usia tujuh tahun Abdul Moeis dimasukkan ayahnya ke sekolah. Sekolah yang dimasukinya ialah Europeesche Lagere School (ELS). Sekolah dengan nama bahasa Belanda itu sederajat dengan Sekolah Dasar pada masa sekarang. ELS itu ada di Padang. Tidak semua anak-anak boleh memasuki sekolah tersebut. Hanya anak-anak orang berpangkat yang diterima menjadi murid ELS. Untunglah ayah Abdul Moeis seorang Tuanku Laras.

Suatu kali Haji Abdul Gani bertanya kepada anaknya,

”Kalau sudah besar nanti, mau menjadi apa engkau Moeis?”

”Saya mau menjadi dokter, Ayah.”

”Tidak inginkah engkau menjadi Tuanku Laras seperti ayah?”

”Dokter itu kan orang pintar, Ayah. Dokter suka menolong orang yang sakit. Saya ingin menjadi dokter supaya saya dapat mengobati orang-orang kampung kita. Kalau Ayah atau Ibu sakit, tak perlu ayah mencari dokter lain. Dokter Abdul Moeis sudah ada yang akan mengobati Ayah dan Ibu.”

Ayahnya tersenyum mendengar jawaban Moeis. Sesuatu rasa bangga terselip di lubuk hatinya. Cita-cita untuk menjadi dokter itu sudah dikandungnya sejak ia belajar di ELS. Orang tuanya pun setuju. Mereka sudah membayangkan bahwa anak mereka kelak akan menjadi seorang dokter. Nama keluarga Laras Sungai Puar akan semakin terkenal. Bukankah dokter itu dikenal oleh seluruh orang?

Moeis pun giat belajar. Kalau ada pelajaran yang kurang jelas baginya tidak segan-segan ia bertanya kepada guru atau kawan-kawannya. Malu bertanya sesat di jalan.

Setelah menamatkan ELS, Moeis pun berangkat ke Jakarta. Pada masa itu disebut Batavia. Ia mendaftarkan diri di Stovia (Sekolah Dokter). Pada masa itu di Sumatra Barat belum ada sekolah dokter. Alangkah gembira hatinya ketika ia diterima di sekolah tersebut.

Waktu itu Abdul Moeis telah menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. Di Stovia ia sibuk belajar mengejar cita-citanya. Tetapi selain itu ia tidak pula melupakan pergaulan dengan teman-temannya. Ia bergaul dan berkenalan dengan pemuda-pemuda yang berasal dari berbagai daerah. Mereka merasa akrab satu dengan yang Jainnya. Selain itu Abdul Moeis senang pula berolah raga. Di Stovia ia dikenal sebagai seorang atlit.

Pemuda-pemuda itu menceritakan keadaan daerah mereka masing-masing. Tentang adat istiadat dan kehidupan penduduk. Selain itu mereka bercerita pula bagaimana sengsaranya rakyat akibat psnjajahan Belanda. Lama kelamaan di antara mereka terjalin rasa persaudaraan yang erat. Pemuda-pemuda itu mulai menyadari, bahwa sesungguhnya mereka adalah satu bangsa. Bahkan nasib mereka juga sama, yakni sama-sama menderita di bawah penjajahan.

Mereka sadar pula, bahwa ada perbedaan antara orang Indonesia dengan orang kulit putih. Orang Indonesia dianggap sebagai manusia yang rendah derajatnya. Sikap orang Belanda angkuh dan sombong. Begitu pula orang-orang Cina. Pemerintah

Abdoel Moeis halaman 16.jpg

Gedung Stovia, sekarang dinamakan Gedung Kebangkitan Nasional.

jajahan memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada orang Cina daripada kepada orang Indonesia.

Karena kepincangan-kepincangan itu timbullah rasa jengkel di hati pemuda-pemuda itu. Mereka jengkel terhadap penjajahan. Karena itu timbul cita-cita untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka. Kesemuanya itu sering juga disebut bangkitnya nasionalisme Indonesia.

Keadaan di Stovia banyak pula yang menimbulkan rasa jengkel. Banyak peraturan di sekolah itu yang tidak memuaskan hati. Banyak peraturan yang tidak boleh dilanggar. Siapa yang berani melanggar, tentu akan mendapat hukuman. Mengenai soal pakaian pun ada peraturannya.

Mahasiswa dari Jawa dan Sumatra yang tidak beragama Kristen, tidak boleh memakai pakaian model Eropah yaitu pakaian yang terdiri dari kemeja dan celana panjang atau celana pendek. Mereka harus memakai pakaian adat daerah masing-masing. Alangkah berbedanya keadaan itu dengan keadaan waktu mereka masih di sekolah dasar. Waktu itu mereka boleh berpakaian model Eropah. Para mahasiswa menjadi sakit hati. Tetapi rasa sakit hati itu tak dapat disalurkan. Mereka terpaksa tunduk kepada peraturan. Kalau tidak, mereka akan dikeluarkan dari sekolah. Padahal mereka bercita-cita untuk menjadi orang yang berpendidikan. Dengan pendidikan itu mereka kelak akan memperbaiki nasib bangsa mereka yang tertindas.

Abdul Moeis giat belajar. la ingin agar cita-citanya lekas tercapai. Aiangkah gembira hati ayah dan ibunya nanti, kalau ia pulang ke kampung sudah menjadi dokter. Ia akan bercerita kepada teman-temannya tentang pengalamannya selama bersekolah. Ia akan menceritakan kepada ayah, ibu, dan keluarganya tentang kota Batavia. Mereka pasti akan tercengang. Penduduk Sungai Puar tentu akan bangga sebab seorang putranya telah menjadi dokter.

Tetapi bukan itu saja yang penting bagi Abdul Moeis. Ia sudah membayangkan bagaimana ia sibuk mengobati orang-orang yang sakit. Ia akan menolong orang kampungnya dan orang kampung lain. Ia akan menolong bangsanya. Ia akan menerangkan kepada mereka bahwa kebersihan sangat perlu untuk kesehatan. Banyak lagi angan-angannya.

Karena ia belajar dengan tekun, maka setiap tahun ia naik tingkat. Abdul Moeis sudah duduk di tingkat tiga. Ia sudah mulai melakukan praktek bedah. Pada suatu hari, ketika ia melakukan praktek bedah, kepalanya terasa pusing. Semula dikiranya hanya sakit kepala biasa. Tetapi dalam praktek-praktek berikutnya kepalanya tetap terasa pusing. Maka mulailah ia menyadari kelemahannya. Ia tidak tahan melihat darah banyak mengalir.

Abdul Moeis menjadi sedih. Cita-citanya untuk menjadi seorang dokter mulai kabur. Ia tak akan pulang ke Sungai Puar membawa ijazah dokter. Ia tak akan pernah memakai pakaian putih-putih seperti

Abdoel Moeis halaman 19.jpg

Kepala Abdul Moeis pusing melihat darah banyak mengalir.

yang biasanya dipakai oleh seorang dokter! Ia tak akan dapat menolong bangsanya yang menderita penyakit.

Lama ia termenung. Lama ia bersedih hati. Alangkah malang nasibnya. Sia-sialah uang orang tuanya yang sudah banyak digunakan untuk menyekolahkannya. Marahkah mereka nanti, tanya Abdul Moeis dalam hatinya. Akan jadi apakah aku selanjutnya? Apakah aku akan pulang ke kampung dan bekerja sebagai tukang besi? Atau membantu perusahaan korek api ayah?

Keadaan dirinya itu disampaikannya kepada orang tuanya. Untunglah Haji Abdul Gani dan isterinya cukup bijaksana. Mereka tidak marah, sebab hal itu bukan karena kelalaian anaknya. Keadaan itu berada di luar kemampuan mereka. ”Manusia boleh berkehendak, tetapi Tuhan juga yang menentukan,” kata ayahnya menenangkan hati Abdul Moeis. Kedua orang tua itu menasehatkan agar Abdul Moeis tidak patah hati. ”Masih banyak lapangan lain yang dapat kau masuki. Janganlah patah semangat. Mungkin bukan suratan takdirmu menjadi dokter. Kami percaya bahwa di lapangan lain tentu engkau akan berhasil,” kata ayahnya selanjutnya.

Tetapi apakah yang akan dilakukan Moeis? Kalau ditilik asal usulnya, ia berasal dari daerah Sumatra Barat. Penduduk daerah itu terkenal sebagai orang yang suka berdagang. Tetapi Abdul Moeis tidak tertarik kepada bidang tersebut.

Akhirnya orang tuanya menasehatkan supaya ia bekerja sebagai pegawai. Untuk tidak mengecewakan hati mereka, Moeis bekerja pada Departemen Agama dan Kerajinan. Ternyata bekerja sebagai pegawai itu tidak menyenangkan hatinya. la bersekolah bukan untuk menjadi pegawai.

Abdul Moeis berhenti bekerja sebagai pegawai Pemerintah. Sesudah itu ia bekerja pada suratkabar Preanger Bode di Bandung. Surat kabar itu berbahasa Belanda. Pemimpinnya pun orang Belanda.

Ia tertarik kepada bidang kewartawanan. Abdul Moeis merasa bahwa ia berbakat untuk mengarang. Bukankah sejak kecil ia sudah biasa bersilat lidah?

Mula-mula ia diberi pekerjaan sebagai korektor. Tugasnya ialah mengoreksi naskah agar jangan sampai terjadi salah cetak. Karena tugas tersebut, ia banyak membaca karangan-karangan yang ditulis oleh orang Belanda. Banyak isinya yang menghina bangsa Indonesia. Abdul Moeis pun merasa terhina. Hatinya kesal.

Perasaan kebangsaan Abdul Moeis tersinggung. Perasaan kebangsaan itu sudah tumbuh waktu ia belajar di Stovia. Kepada atasannya diajukannya protes. Tetapi protes-protesnya tidak diindahkan. Oleh karena itu dibuatnya pula karangan-karangan yang berisi pembelaan terhadap bangsanya. Tetapi atasannya tidak mau memuat karangan-karangan tersebut dalam suratkabar.

Moeis tidak kehilangan akal. Penghinaan yang ditulis oleh orang Belanda itu harus dibalas, demikian pikirnya. Ia merasa wajib dan terpanggil untuk membela martabat bangsanya. Karangan-karangannya
Abdoel Moeis halaman 22.jpg

Abdul Moeis sedang memeriksa naskah.

dikirimkannya ke surat kabar De Express. Surat kabar itu juga berbahasa Belanda. Pimpinannya ialah E.F.E. Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangunkusumo (baca: dr. Cipto Mangunkusumo) dan Suwardi Suryaningrat. Douwes Dekker adalah seorang Belanda peranakan. Tetapi ia merasa dirinya orang Indonesia, bukan orang asing. Kemudian namanya diganti dan terkenal dengan nama Danudirja Setiabudhi. Suwardi Suryaningrat pun kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Ketiga orang pemimpin De Express itu adalah orang nasionalis. Mereka tidak menyukai penjajahan Belanda. Karangan-karangan yang dimuat dalam surat kabar De Express banyak yang membela bangsa Indonesia. Karena itulah karangan Abdul Moeis mereka terima dengan senang hati. Sejak saat itu nama Abdul Moeis mulai dikenal oleh masyarakat.

Karena sering bertengkar dengan pimpinan Preanger Bonde, akhirya Abdul Moeis minta berhenti. Kebetulan pada waktu itu di Bandung ada surat kabar Kaum Muda. Pimpinan surat kabar itu sudah mengenal Abdul Moeis melalui karangan-karangan yang dimuat dalam De Express. Abdul Moeis dimintanya untuk menjadi pimpinan redaksi Kaum Muda. Permintaan itu dipenuhi Moeis dengan segala senang hati. Mulai akhir tahun 1914 ia bekerja sebagai pemimpin redaksi surat kabar Kaum Muda.

Dalam surat kabar itu ia dapat melepaskan keinginannya untuk mengarang. Karangan-karangannya penuh berisi kritikan terhadap penjajahan Belanda. Kepincangan-kepincangan yang terdapat dalam masyarakat akibat penjajahan, diuraikan dengan jelas. Dikupasnya bagaimana rakyat menderita di bawah penjajahan Belanda.

Surat kabar Kaum Muda mempunyai ruangan yang disebut ruangan "iseng-iseng". Ruangan itu sama dengan ruangan pojok yang terdapat dalam surat kabar-surat kabar zaman sekarang. Ruangan iseng-iseng itu diberi nama "Keok ". Kata itu berasal

dari bahasa Minangkabau. Artinya ialah, kalah dan takut, diambil dari bunyi ayam yang kalah dalam aduan.

Ruangan ”Keok” sangat digemari oleh pembaca. Ruangan itu diisi oleh Abdul Moeis dengan kata-kata yang penuh sindiran tetapi lucu. Sindiran itu ditujukannya terhadap lawan-lawannya, terutama orang Belanda. Karena ada ruangan ”Keok” itu, surat kabar Kaum Muda sangat laris. Penggemarnya bukan hanya orang-orang pergerakan, tetapi juga pegawai pemerintah. Contoh dari isi ruangan ”Keok” adalah seperti di bawah ini:

Dalam tahun 1915 ada seorang wanita yang akan diangkat menjadi lurah di daerah Serang. Masyarakat ribut karena tidak setuju, Mereka menganggap, seorang wanita. tidak pantas menjadi lurah. Maka menulislah Abdul Moeis dalam ruangan ”Keok”. Dengan halus dan penuh humor dikatakannya bahwa orang-orang yang tidak setuju itu lupa siapa yang memerintah negeri mereka. Bukankah yang memerintah negeri mereka itu seorang wanita? Yang dimaksudkan Abdul Moeis ialah Ratu Wilhelmina yang ketika itu menjadi ratu kerajaan Belanda.

Waktu pecah Perang Dunia I timbul rasa kuatir, bahwa Indonesia mungkin akan terlibat dalam perang. Bagaimanakah reaksi Abdul Moeis? Dalam ruangan ”Keok” ditulisnya bahwa orang Indonesia tidak perlu kuatir. Biarlah perang di Eropah itu berlangsung lama. Kalau perang itu berlangsung lama, akan banyak laki-laki yang mati. Untuk menggantikan mereka, orang-orang Eropah yang ada di Indonesia akan dipanggil ke Eropah. Kalau hal itu terjadi, akan banyak terdapat lowongan pekerjaan. Orang-orang Indonesia akan mendapat kesempatan untuk mengisinya.

Pergerakan nasional Indonesia dimulai dengan berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Budi Utomo didirikan oleh pelajar-pelajar Stovia. Sebagai ketua yang pertama diangkat dr. Sutomo.

Sesudah itu berdiri partai-partai politik. Salah satu di antaranya ialah Sarekat Islam. Partai-partai politik itu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Sejak di Sovia dalam diri Abdul Moeis sudah tertanam rasa kebangsaan. Pengalaman-pengalamannya di Preanger Bode menambah tebal rasa kebangsaannya. Ia tak mau ketinggalan dalam usaha memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia. Karena itu Abdul Moeis memasuki Sarekat Islam. Waktu itu Sarekat Islam adalah partai politik terbesar di Indonesia. Anggotanya sangat banyak. Cabang-cabang Sarekat Islam berdiri di mana-mana.

Dalam Sarekat Islam, Abdul Moeis memperlihatkan kepintarannya. Otaknya cerdas, Ia sangat pandai berdebat. Karena itu ia cepat dikenal orang. Namanya menjadi termasyhur.

Mula-mula ia diangkat menjadi Wakil Ketua Sarekat Islam untuk daerah Jawa Barat. Tetapi tidak lama kemudian, ia diangkat menjadi anggota pengurus Sarekat Islam. Ia sangat pandai berpidato. Kepandaian berpidato itu hampir sama dengan Haji Umar Said Tjokroaminoto (baca : Cokroaminoto). Ia dapat memikat hati para pendengarnya. Dalam pidato-pidatonya Moeis menganjurkan agar rakyat berjuang untuk mencapai Indonesia Merdeka.

Selain menjadi anggota Sarekat Islam, Abdul Moeis juga menjadi anggota Indische Partij. Waktu itu orang boleh saja memasuki lebih dari satu partai. Indische Partij dipimpin oleh Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Surat kabar De Express adalah milik partai tersebut. Abdul Moeis sudah sering menulis dalam De Express. Sekarang ia menjadi anggota pula dari Indische Partij. Maka pimpinan De Express mengangkat Abdul Moeis menjadi anggota staf redaksi. Dalam karangan-karangannya ia memakai nama A.M. Orang sudah tahu bahwa A.M. itu adalah kependekan Abdul Moeis.

Dalam tahun 1913 terjadi sebuah peristiwa yang menggemparkan. Pemerintah Belanda bermaksud untuk memperingati 100 tahun bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Negeri Belanda dijajah Prancis sewaktu Prancis diperintah oleh Napoleon Bonaparte. Barulah dalam tahun 1813 Negeri Belanda merdeka kembali. Peringatan itu akan dirayakan secara besar-besaran pada tanggal 13 November 1913. Pada waktu itu semangat rakyat Indonesia sedang bangkit bergelora untuk menuntut kemerdekaan.

Tokoh-tokoh pergerakan nasional memprotes rencana itu. Di Bandung dibentuk Komite Bumiputera. Yang menjadi ketuanya ialah dr. Tjipto Mangunkusumo. Suwardi Suryaningrat diangkat menjadi sekretaris. Abdul Moeis duduk dalam komite itu sebagai anggota bersama-sama dengan A. Wignyadisastra.

Komite itu dibentuk dalam rangka perayaan kemerdekaan Belanda. Tetapi maksud dan tujuannya berbeda dengan maksud Pemerintah. Rencana komite itu ialah :

  1. Melancarkan kritik terhadap kebijaksanaan politik pemerintah Belanda.
  2. Memperjuangkan agar di Indonesia dibentuk parlemen.
  3. Menuntut agar Pemerintah Belanda tidak melarang orang Indonesia melakukan kegiatan politik.
  4. Memperjuangkan kebebasan mengeluarkan pendapat.

Dalam pada itu tersiar berita yang tambah menyakitkan hati. Rakyat Indonesia di Jakarta, Bogor, dan Malang dipaksa supaya memberikan uang untuk membiayai perayaan tersebut. Komite Bumi Putera sangat terkejut mendengarnya. Mereka marah, sebab tindakan itu sungguh-sungguh tidak adil. Rakyat yang masih terjajah dipaksa membiayai kemerdekaan orang yang menjajahnya! Maka komite itu pun menjalankan aksi-aksinya. Mereka mengadakan rapat-rapat. Dalam rapat-rapat itu tindakan Pemerintah Belanda dikecam sejadi-jadinya. Kritik-kritik dikeluarkan pula melalui surat kabar.

Suwardi Suryaningrat menulis karangan yang diterbitkan dalam bentuk brosur. Karangan itu berjudul ”Als Ik Nederlander was” (Seandainya aku seorang Belanda). Isi brosur itu sangat tajam, tetapi ditulis secara halus. Dengan tulisan itu Suwardi Suryaningrat menyindir orang-orang Belanda. Pemerintah Belanda merasa tersinggung dan sangat marah. Brosur itu disita dan dilarang beredar. Rumah-rumah tokoh pergerakan nasional digeledah.

Tindakan Pemerintah itu membuat suasana bertambah panas: Dr. Tjipto Mangunkusumo membuat sebuah karangan. Pemerintah Belanda diejeknya. Penyitaan dan larangan Pemerintah itu hanya menunjukkan kelemahan, bukan kekuatannya. Douwes Dekker memuji cara yang dilakukan oleh Suwardi dan Tjipto sebagai tindakan kepahlawanan.

Pemerintah Belanda menjalankan tangan besi. Semua anggota Komite Bumi Putera ditangkap. Mereka diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman. Suwardi, Douwes Dekker dan dr. Tjipto dibuang ke Negeri Belanda. Abdul Moeis dan Wignyadisastra dibebaskan.

Tetapi sejak saat itu nama Abdul Moeis sudah dicatat oleh Pemerintah sebagai orang yang berbabaya. Namun ia tidak merasa gentar: Ia tetap menjalankan aksi-aksi politiknya. Dalam Kongres Sarekat Islam di Surabaya dalam tahun 1915, ia berpidato berapi-api. Penjajahan Belanda dikecamnya dengan tajam. Dalam kongres itu Abdul Moeis menganjurkan supaya Sarekat Islam mendirikan sekolah-sekolah. Sekolah itu penting untuk mendidik pemuda-pemuda yang akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa.

Sesuai dengan anjurannya itu, di Bandung didirikannya sebuah sekolah. Dalam mendirikan sekolah itu ia dibantu oleh beberapa orang temannya. Dalam waktu singkat sekolah itu sudah mempunyai 300 orang murid. Sekolah-sekolah lain segera didirikan. Sekolah-sekolah itu harus mengutamakan pendidikan nasional. Kepada murid-murid harus ditanamkan rasa kebangsaan.

Kegiatannya dalam Sarekat Islam terus meningkat. Dalam tahun 1916 diadakan Kongres Nasional I Central Sarekat Islam di Bandung. Kongres itu dihadiri oleh utusan dari semua cabang Sarekat Islam. Abdul Moeis aktif memimpin kongres. Dalam kongres itu bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa pengantar. Hal itu sangat menarik perhatian para hadirin. Sebelumnya, bahasa Melayu tidak pernah dipakai dalam rapat-rapat.

Abdul Moeis membahas tentang kesengsaraan rakyat. Kesengsaraan itu disebabkan oleh tindakan Pemerintah Belanda. Rakyat diwajibkan membayar pajak yang sangat tinggi. Mereka dipaksa pula melakukan kerja rodi, yaitu kerja tanpa dibayar apa-apa.

Dalam kongres berikutnya di Jakarta, kembali Abdul Moeis berpidato berapi-api, Dianjurkannya agar Sarekat Islam. menempuh cara parlernenter. Pemerintah Belanda harus didesak supaya memberi kebebasan kepada rakyat Indonesia. Dianjurkannya supaya ditempuh segala cara untuk memperoleh kemerdekaan. ”Kalau usaha itu gagal, maka kita harus bersedia membalas kekerasan dengan kekerasan pula. Dan bersedialah pula kita berkorban bagi bangsa dan tanah air,” kata Abdul Moeis dengan penuh semangat. Walaupun sibuk dengan soal politik, tetapi bidang jurnalistik tidak ditinggalkannya. Ia berpendapat bahwa jurnalistik sangat erat hubungannya dengan politik. Melalui jurnalistik kesadaran rakyat dapat dibangkitkan. Tokoh-tokoh pergerakan nasio-

Rakyat dipaksa bekerja rodi

Rakyat dipaksa bekerja rodi.

nal yang lainnya pun berpendapat seperti itu pula.

Dalam tahun 1916, bersama-sama dengan Haji Agus Salim, Abdul Moeis memimpin surat kabar Neratja (baca : Neraca). Surat kabar itu terbit sampai tahun 1924. Neratja banyak menyuarakan haluan politik Sarekat Islam, dan termasuk surat kabar terkemuka pada masa itu.

Sebagai seorang manusia, Abdul Moeis harus pula memikirkan kehidupannya. Ia harus makan, membeli pakaian dan kebutuhan lainnya. Honorarium yang diterimanya sebagai seorang penulis tidak mencukupi. Sebagian dari penghasilan itu disumbangkannya untuk kepentingan perjuangan.

Untuk menambah penghasilannya, dalam tahun 1917 ia bekerja sebagai pegawai pajak gadai di Bandung. Dengan cepat ia memperoleh simpati di kalangan buruh pegadaian. Mereka senang kepada Abdul Moeis. Pengaruhnya makin lama makin besar.

Waktu itu di Eropah perang masih berkecamuk dengan hebatnya. Orang ramai membicarakan masalah pertahanan Indonesia. Karena itu dibentuklah sebuah komite yang diberi nama ”Indie Weerbaar”. Komite itu menuntut kepada Pemerintah Belanda supaya pertahanan Indonesia diperkuat. Tetapi masalah itu tidak dapat diselesaikan di Indonesia. Karena itu komite mengirimkan tiga orang utusan ke Negeri Belanda. Abdul Moeis adalah salah seorang di antaranya.

Sebelum utusan itu berangkat, timbul perdebatan dalam Sarekat Islam. Abdul Moeis dan Tjokroaminoto dikritik dengan sangat tajam oleh kelompok Semaun. Kelompok itu tidak setuju dengan Indie Weerbaar. Waktu itu Semaun dan beberapa orang lain sudah terpengaruh oleh faham komunis.

Perjalanan ke Negeri Belanda itu merupakan pengalaman berharga bagi Abdul Moeis. Ia dan anggota yang lainnya dijamu oleh Ratu Wilhelmina. Mereka dibawa melihat-lihat gudang-gudang senjata. Tentu maksud Belanda ialah untuk mengatakan bahwa mereka cukup kuat. Karena itu mereka masih sanggup mempertahankan Indonesia dengan kekuatan sendiri. Tidak perlu meminta bantuan negara Iain. Tidak perlu pula rakyat Indonesia dilatih sebagai anggota militer. Rakyat Indonesia tidak perlu kawatir akan keselamatannya.

Waktu meninjau pangkalan udara, Abdul Moeis ditawarkan apakah ia berani naik pesawat terbang. Moeis yang sejak kecil memang terkenal berani itu, tidak menolak. Tawaran itu diterimanya dengan tidak ragu-ragu.

Pada waktu itulah untuk pertama kalinya ia naik pesawat terbang. Peristiwa itu sangat berkesan di hati Abdul Moeis. Pikirannya tambah terbuka. Ia berpikir bahwa bangsa Indonesia perlu meniru kemajuan teknik dunia Barat, agar maju pula di bidang teknik. Kalau tidak demikian, maka bangsa Indonesia selalu akan ketinggalan.
Abdoel Moeis sedang naik kapal terbang

Abdul Moeis sedang naik kapal terbang.

Selama berada di Negeri Belanda, dalam setiap kesempatan bertemu dengan pemimpin-pemimpin Belanda, hal itu selalu dibicarakannya. Ia meminta supaya di Indonesia didirikan sekolah teknik. Ia mengatakan bahwa hal itu akan memberi keuntungan bukan hanya kepada orang Indonesia, tetapi juga kepada Kerajaan Belanda.

Usul Abdul Moeis mendapat sambutan baik. Pemerintah Belanda berjanji akan mendirikan sekolah teknik. Beberapa tahun kemudian berdirilah Technische Hooge School (Sekolah Tinggi Teknik) di Bandung. Sekarang sekolah itu bernama Institut Teknologi Bandung (I T B). Itulah salah satu hasil perjalanan Abdul Moeis ke Negeri Belanda.

Selama berada di Negeri Belanda ia seringkali bertukar pikiran dengan pemimpin-pemimpin Belanda. Ia pernah berpidato dalam salah satu pertemuan. Orang-orang Belanda kagum melibat kemahiran Abdul Moeis berpidato dalam babasa Belanda. Mereka tidak menyangka bahwa pemuda Indonesia itu begitu pandainya. Sebenarnya, tugas Indie Weerbaar tidak berhasil. Kerajaan Belanda tidak mau membuat undang-undang wajib militer di Indonesia. Di bidang itu mereka gagal, tetapi di bidang lain ada juga hasilnya. Abdul Moeis dan kawan-kawannya mendesak agar Pemerintah Belanda membahas soal pembentukan dewan perwakilan rakyat (parlemen). Pemerintah Belanda berjanji akan membahasnya.

Tibalah saatnya Abdul Moeis harus kembali ke tanah air. Perjalanan yang diambilnya tidak seperti biasanya. Ia mengambil jalan ke arah barat. Perjalanan itu ditempuhnya dengan menggunakan kapal. Ia tiba di Amerika Serikat.

Daratan Amerika dijelajahinya dengan menggunakan kereta api. Dalam perjalanan itu ia bertemu dengan orang-orang Indian. Nasib orang-orang Indian hampir sama dengan nasib orang Indonesia. Mereka dikalahkan oleh orang kulit putih. Sama juga dengan bangsa Indonesia yang dikalahkan oleh orang Belanda.

Dari Amerika Serikat, Abdul Moeis naik kapal ke Jepang dan kemudian ke Hongkong. Di pelabuhan-pelabuhan di Jepang dan di Hongkong dilihatnya buruh sibuk membongkar barang-barang yang dibawa dari Indonesia. Banyak hasil bumi dan hasil tambang Indonesia yang diangkut ke negeri-negeri itu. Banyak pula yang diangkut ke negeri-negeri Eropah. Tetapi siapakah yang mengeruk keuntungannya? Tak lain

Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air

Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air.

ialah kaum kapitalis atau orang-orang asing. Kalau saja keuntungan itu diberikan kepada bangsa Indonesia, tentulah mereka akan menjadi makmur.

Tiba di tanah air, Abdul Moeis sudah penuh dengan cita-cita yang hendak dilaksanakannya. Ia akan berjuang lebih gigih lagi untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan. Ia ingin agar hasil-hasil bumi Indonesia dinikmati oleh orang Indonesia sendiri.

Waktu itu di Indonesia semakin banyak tuntutan yang dilancarkan oleh kaum pergerakan. Budi Utomo, Sarekat Islam dan Insulinde menuntut supaya dibentuk parlemen yang dipilih oleh rakyat. Pemerintah membentuk hanya suatu dewan yang disebut Volksraad. Tetapi Volksraad itu tidak memuaskan hati kaum pergerakan. Abdul Moeis dan Tjokroaminoto (baca: Cokroaminoto) duduk dalam Volksraad sebagai wakil Sarekat Islam. Di situ mereka memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia.

Volksraad itulah yang diminta supaya diganti dengan parlemen. Sebab Volksraad tidak sesuai dengan kehendak rakyat. Gubemur Jenderal Van Limburg Stirum berjanji akan mengadakan perubahan yang luas dalam bidang pemerintahan. Janji itu dikenal dengan nama November Belofte (Janji November). Tetapi janji itu tidak ditepati sepenuhnya. Sebaliknya, Pemerintah Belanda berlindak semakin keras. Pemimpin-pemimpin yang dianggap berbahaya, diawasi. Abdul Moeis dan beberapa pemimpin lainnya ditangkap.

Sementara itu, dalam tubuh Sarekat Islam terjadi perpecahan. Beberapa orang anggota terpengaruh oleh faham komunis. Mereka itu antara lain ialah Semaun dan Darsono. Pertentangan terjadi antara mereka dengan kelompok Abdul Moeis dan Haji Agus Salim. Tjokroaminoto sebagai Ketua Sarekat Islam berusaha mendamaikan kedua golongan itu, tetapi tidak berhasil. Abdul Moeis dan kawan-kawannya tetap beraliran Islam. Mereka tidak mau menerima faham komunis, sebab bertentangan dengan ajaran Islam.

Abdoel Moeis sedang berpidato di depan Volkstraad

Abdul Moeis sedang berpidato di depan Volksraad.

Kaum komunis tidak mengenal agama. Karena itu Abdul Moeis dan kawan-kawannya tidak mau kalau faham itu dibawa pula ke dalam Sarekat Islam.

Pertentangan makin lama makin hebat. Karena itu kantor pusat Sarekat Islam dipindahkan dari Surabaya ke Yogyakarta. Untuk mengatasi pertentangan itu, Abdul Moeis dan Haji Agus Salim menganjurkan supaya diadakan disiplin partai. Maksudnya, agar orang-orang yang beraliran komunis dikeluarkan dari Sarekat Islam. Usul itu disampaikan dalam kongres VI Sarekat Islam. Usul itu diterima. Sejak saat maka orang-orang komunis dikeluarkan dari Sarekat Islam.

Dalam Volksraad Abdul Moeis tetap memperjuangkan kepentingan rakyat. Dengan gigih diusahakannya agar rodi yang sangat memberatkan rakyat dihapuskan. Begitupula pajak yang sangat mencekik rakyat supaya diturunkan.

Sebagai seorang pernimpin rakyat, Abdul Moeis sering berkunjung ke daerah-daerah. Ia berkunjung ke Bone, ke Toli-toli, ke Sumatra Barat dan tempat-tempat lain di pulau Jawa. Di tempat-tempat itu ia berpidato. Ia membakar semangat rakyat agar berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Dikatakannya pula, bahwa kemerdekaan pasti tercapai.

Pemuda-pemudi diajaknya supaya berjuang dengan gigih untuk membebaskan bangsa dan tanah air dari penjajahan. Diceritakannya bagaimana majunya negara-negara Barat. Sebagai bukti, diperlihatkannya foto-foto yang dibawanya dari luar negeri. Ia berkata, ”Jika orang lain bisa, saya juga bisa. Mengapa pemuda-pemuda tidak bisa kalau memang mau berjuang?”

Kunjungan ke daerah-daerah itu banyak bahayanya bagi dirinya. Tidak lama sesudah Abdul Moeis mengunjungi Toli-toli, terjadi huru-hara di situ. Seorang pembesar Belanda dibunuh oleh rakyat, sebab pembesar itu bertindak terlalu kejam. Pembesar itu bernama De Kat Angelino. Pemerintah menuduh Abdul Moeis yang menghasut rakyat untuk membunuh pembesar tersebut. Ia menolak tuduhan terhadap dirinya. Selain itu ia juga membela tindakan rakyat Toii-toli. Dikatakannya, bahwa rakyat itu tidak bersalah. Yang salah adalah Pemerintah Belanda.

Penduduk Sumatra Barat sangat menderita akibat pajak yang terlalu tinggi. Penderitaan itu menggugah hati Abdul Moeis untuk membela kepentingan rakyat di sana. ia diusir dari Sumatra Barat. Ia tidak boleh berkunjung lagi ke daerah tersebut, daerah tempat ia dilahirkan.

Meskipun banyak cobaan yang dideritanya, namun ia tidak mau menghentikan kegiatannya. Ia sudah berjanji akan memperjuangkan kepentingan bangsanya. Janji itu akan ditepatinya.

Pekerjaannya bertambah lagi, sebab dalam tahun 1922 ia diangkat menjadi Ketua Pengurus Besar Buruh Pegadaian. Waktu itu kaum buruh Indonesia hidup menderita. Gaji mereka kecil. Karena itu mereka hidup selalu dalam kekurangan. Mereka dipaksa bekerja keras dan sering dihina, disamakan dengan binatang.

Dalam bulan Januari 1922, kaum buruh pegadaian Yogyakarta melancarkan pemogokan. Yang menjadi sebab pemogokan itu ialah, seorang pegawai Belanda menghina seorang pegawai Indonesia. Pangkat pegawai Belanda itu lebih rendah dari pangkat pegawai Indonesia. Pemogokan itu dipimpin oleh Abdul Moeis. Mula-mula hanya buruh di Yogyakarta saja yang mogok, tetapi kemudian menjalar ke tempat-tempat lain.

Akibat pemogokan itu, tiga ribu orang buruh dipecat. Abdul Moeis dan beberapa orang kawannya ditangkap dan kemudian diadili. Untuk menolong keluarga buruh yang dipecat itu, Suryopranoto, yang juga seorang pemimpin buruh, meembentuk sebuah panitia yang disebut Komite Hidup Merdeka.

Kegiatan Abdul Moeis dianggap Pemerintah Belanda sudah sangat berbahaya. Karena itu ia semakin diawasi, Gerak-geriknya dibatasi. Sudah disebutkan di atas, bahwa ia dilarang berkunjung ke Sumatra Barat. Kemudian, ia dilarang pula meninggalkan pulau Jawa. Abdul Moeis terkenal pandai berpidato membakar semangat rakyat. Pemerintah Belanda

Buruh-buruh mogok karena sangat menderita.

Buruh-buruh mogok karena mereka sangat menderita.

takut kalau-kalau ia menghasut rakyat agar memberontak.

Dalam tahun 1926 ia dijatuhi hukuman oleh Pemerintah Belanda. Ia dilarang melakukan kegiatan politik. Sesudah itu dijatuhi pula hukuman buang. Tetapi ia boleh memilih daerah yang disukainya untuk tempat tinggal.

Abdul Moeis memilih daerah Garut sebagai tempat tinggalnya. Maka hiduplah ia bersama isteri

Abdoel Moeis 43.jpg

Sebagai politikus Abdul Moeis tidak canggung bekerja sebagai petani.

dan anak-anaknya di desa Cicangtu, Wanaraja. Hatinya yang luka akibat pengasingan itu terobat sedikit. Alam daerah itu hampir sama dengan alam daerah kelahirannya. Penduduk Garut ramah tamah. Lagipula di situ banyak pengikut Sarekat Islam.

Ia menyesuaikan cara hidupnya dengan cara hidup orang desa. Ia bertani. Dengan tidak canggung-canggung, ia menggarap tanah yang diberikan kepadanya. Ia sudah mempelajari cara-cara bertani secara modern. Cara itu dipraktekkannya di desa Cicangtu.

Penduduk Cicangtu diajarnya pula mengerjakan tanah secara modem, agar hasilnya banyak. Dipeliharanya ayam dan sapi. Politikus itu telah mengganti pidato-pidato politik dengan percakapan dengan penduduk desa tentang masalah pertanian. Sebagai jurnalis, ia telah mengganti penanya dengan cangkul. Tetapi ia tetap merasa bahagia, walaupun penghasilan yang diterimanya tidak cukup untuk membiayai keluarganya.

Kegiatan politik jelas tidak dapat lagi dilakukannya. Dengan hati yang sungguh-sungguh, ia berusaha hidup sebagai orang desa, sebagai petani. Tetapi polisi rahasia Belanda selalu memata-matainya. Gerak-geriknya tetap diawasi. Belanda takut kalau-kalau Abdul Moeis lari dari Garut. Perlakukan itu menimbulkan rasa marahnya.

Pada suatu hari ia datang menemui Kepala Polisi Garut. Dengan marah ia berkata kepada Kepala Polisi itu, ”janganlah anda membangunkan anjing yang sedang tidur. Sekali saya berjanji tidak akan meninggalkan Garut, janji itu akan tetap saya pegang teguh,” Kepala Polisi itu menjawab, ”Saya hanya menjalankan perintah atasan.” Pengawasan terhadap diri Abdul Moeis tetap dijalankan, walaupun tidak seketat dulu.

Sekalipun ia sudah berusaha hidup sebagai Petani, namun semangatnya belum padam. Sering ia teringat kepada kegiatan-kegiatan yang telah dilakukannya. Ia masih ingin menyumbangkan tenaganya untuk perjuangan bangsanya. Karena itu ia bekerja sebagai pemimpin surat kabar Mimbar Rakyat yang terbit di Garut. Melalui surat kabar itu dilampiaskannya rasa marahnya kepada Pemerintah Belanda. Karangan-karangannya sangat tajam mengeritik Pemerintah. Akibatnya Mimbar Rakyat tidak diizinkan terbit.

Pada suatu hari, seorang kenalan Abdul Moeis datang ke Garut. Ia adalah seorang orang Belanda yang bekerja di Jakarta. Temannya ini merasa kasihan melihat nasibnya. Ia mengusulkan supaya Abdul Moeis meminta ampun kepada Pemerintah Belanda. Usul itu ditolak dengan tegas. ”Kalau saya minta ampun, berarti saya berkhianat kepada bangsa saya,” katanya.

Bagi seorang politikus, hidup dalam pengasingan merupakan siksaan yang berat. Begitu juga halnya dengan Abdul Moeis. Dari Garut ia masih dapat mendengar apa-apa yang sedang terjadi di tanah airnya. Ia mengetahui bahwa perjuangan bangsanya untuk memperoleh kemerdekaan, semakin ditekan oleh Pemerintah Belanda. Banyak pemimpin yang ditangkap dan dibuang. Hati Abdul Moes pedih mendengar kejadian itu. Tetapi ia tak dapat lagi berbuat apa-apa untuk membantu perjuangan. Kemana saja ia pergi, tentu ada mata-mata Belanda yang mengikutinya.

Sebelas tahun sudah berlalu. Sudah sebelas tahun lamanya ia hidup sebagai orang buangan. Umurnya sudah semakin tua, sudah lebih dari lima puluh tahun. Pada waktu itu, yakni dalam tahun 1937, kepadanya ditawarkan pekerjaan sebagai pegawai kontrolir atau pengawas untuk daerah Garut. Ia ragu-ragu. Akan bekerjakah ia dengan Pemerintah Belanda? Makan gaji? Dan dengan cara demikian berarti membantu Pemerintah Belanda memeras bangsanya?

Moeis teringat kepada perjuangannya pada masa yang lalu. Ia berjuang untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan. Kalau pekerjaan itu diterimanya, rasanya ia mengkhianati perjuangannya yang lalu. Ia akan mengkhianati pula teman-temannya yang sedang berjuang.

Tetapi ia mempunyai pertimbangan yang lain. Umurnya sudah semakin tua. Teman-temannya, yang kasihan melihat nasibnya, memberi nasehat, supaya ia menerima tawaran itu. Akhirnya Abdul Moeis mengalah.

Pekerjaan sebagai kontrolir itu diterimanya. Tetapi sebenarnya ia tidak melepaskan pendiriannya. Ia ingin memperlihatkan, bahwa sebagai orang Indonesia ia dapat juga bertindak keras terhadap orang-orang Belanda.

Pada waktu itu di Garut banyak orang Belanda yang tidak mematuhi peraturan Pemerintah. Mereka tidak mau membayar pajak. Sewa listrik, air leiding, dan sebagainya sering tidak mereka bayar. Orang-orang seperti itulah yang menjadi sasaran Abdul Moeis, Ia bertindak tegas. Orang-orang itu dipaksanya supaya memenuhi kewajiban.

Akibatnya, Abdul Moeis dimusuh oleh dua pihak. Orang-orang Indonesia lawan politiknya, menuduh ia sudah berkhianat. Ia dituduh sudah menjilat kepada Pemerintah Belanda. Atasannya mencari alasan bahwa ia tidak sanggup menjalankan tugasnya. Semuanya itu diterimanya dengan dada lapang. Ia tidak marah kepada orang-orang Indonesia yang mengeritiknya. Begitu pula kepada atasannya, sebab ia tahu bahwa ia bekerja dengan baik.

Pada awal tahun 1939 Pemerintah Belanda mencabut hukuman Abdul Moeis. Ia dibebaskan. Keputusan itu diterimanya dengan senyum kemenangan. Ia bersyukur kepada Tuhan. Ia gembira sebab pada akhirnya perjuangannya berhasil juga.

Selama masa pendudukan Jepang, nama Abdul Moeis tidak banyak terdengar. Tetapi ia masih tetap berusaha membela kepentingan rakyat kecil. Dalam masa itu ia bekerja sebagai pengacara.

Alangkah gembiranya hati Abdul Moeis ketika mendengar kabar, bahwa Indonesia sudah merdeka. Orang tua yang sudah berumur 62 tahun itu, melonjak kegirangan. Ia bersyukur kepada Tuhan. Cita-cita bangsanya sudah tercapai. Perjuangan mereka tidak sia-sia.

Semangat muda Abdul Moeis hidup kembali. Ia bertekad untuk menyumbangkan tenaganya untuk mengisi kemerdekaan.

Tetapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Negara yang baru berdiri itu menghadapi ancaman dari pihak lain. Belanda berusaha merebut Indonesia kembali. Maka perang pun tak dapat dihindarkan. Kalau pada masa yang lalu perjuangan ditujukan untuk memperoleh kemerdekaan, maka sekarang perjuangan ditujukan untuk mempertahankan kemerdekaan. Abdul Moeis membentuk Persatuan Perjuangan Priangan yang berkedudukan di Wanaraja. Melalui organisasi itu ia turut membantu perjuangan membela kemerdekaan.

Dalam tahun 1946 Abdul Moeis menerima surat dari Presiden Sukarno. Isinya, ia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Pengangkatan itu diterimanya dengan rasa haru. Rupanya ia masih dihargai orang. Pimpinan negara masih mengharapkan buah pikirannya.

Tetapi apa yang terjadi kemudian, sungguh-sungguh menyakitkan hatinya. Pelantikannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung dibatalkan. Ia tidak mengerti apa sebabnya. Tetapi kemudian diketahuinya bahwa ada orang yang mengirimkan surat fitnahan kepada Presiden. Dalam surat itu dikatakan bahwa Abdul Moeis pemah bekerja sama dengan Pemerintah Belanda pada masa akhir pembuangannya. Perasaan Abdul Moeis sangat tersinggung. Tetapi ia bertawakal kepada Tuhan. Tuhanlah yang tahu bagaimana pendiriannya selama ini.

Dalam masa Perang Kemerdekaan pengaruh Abdul Moeis di daerah Jawa Barat masih besar. Karena itu ia selalu dicari oleh lawan-lawannya. Belanda mencari untuk menangkapnya. Kartosuwiryo mencari untuk mengajaknya masuk Darul Islam (DI). Darul Islam adalah gerombolan pemberontak yang tidak mau mengakui Republik Indonesia.

Kedua pihak itu tidak disukai oleh Abdul Moeis. Terhadap Belanda sudah dari dulu ia benci. Darul Islam tidak sesuai dengan cita-citanya. Untuk menghindarkan diri dari incaran mereka, Abdul Moeis mengungsi ke mana-mana. Kepada Kartosuwiryo dipesankannya bahwa ia akan tetap membela Republik Indonesia. Ia mengatakan pula bahwa cara yang ditempuh Kartosuwiryo itu salah. Cara itu tidak sesuai dengan Pancasila. Diperingatkannya pula bahwa gerakan Kartosuwiryo itu pasti akan hancur.

Akibat pendiriannya yang tegas itu, rumahnya dibakar habis oleh Belanda. Harta benda, yang dengan susah payah dikumpulkannya, sudah tandas. Ia sedih melihat kejadian itu, namun semuanya diserahkannya kepada Tuhan.

Abdoel Moeis 50.jpg

Hilanglah semua milik yang telah dikumpulkan dengan susah payah.

Abdul Moeis tidak hanya dikenal sebagai seorang politikus. Ia dikenal pula sebagai seorang sastrawan. Malahan, di bidang sastra ia dianggap sebagai perintis Pujangga Baru. Banyak buku yang telah dikarangnya. Banyak pula buku berbahasa asing yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Minat untuk mengarang buku timbul waktu ia hidup dalam pengasingan. Desa Cicangtu adalah desa yang sepi. Udaranya nyaman. Pemandangan alamnya indah. Tempat seperti itu sangat baik bagi orang yang berbakat mengarang. Abdul Moeis ternyata mempunyai bakat itu. Karangan-karangan yang bersifat politik sudah banyak dibuatnya waktu ia aktif di bidang jurnalistik. Rasanya tidak akan berat kalau ia mengarang buku. Lagi pula waktunya banyak yang terluang.

Hidupnya terasa tertekan akibat tindakan Pemerintah Belanda. Rasa tertekan dan hidup di tempat yang sepi, seringkali mengundang orang untuk mengarang sebagai tempat penyaluran kesusahan hati.Begitu pula halnya dengan Abdul Moeis.

Bila ia duduk seorang diri, maka ia teringat kembali kepada perjalanan hidupnya. Terbayang di matanya bagaimana kasih sayang orang tuanya kepadanya. Terbayang pula bagaimana ia bermain-main di waktu kecil dengan kawan-kawannya di kampung. Hatinya sedih ketika ia mengingat bagaimana ia tidak tahan melihat darah. Dan ... tiba-tiba ia teringat kepada sesuatu yang indah dalam hidupnya.

Pengalaman indah itu ialah ketika ia jatuh cinta kepada seorang gadis Belanda. Waktu itu ia masih muda remaja, masih duduk sebagai pelajar di Stovia. Gadis itu pun cinta pula kepada Abdul Moeis.

Tetapi percintaannya dengan gadis Belanda itu putus di tengah jalan. Adat dan kebiasaan keduanya sangat berbeda. Orang tua gadis itu tidak mengizinkan anaknya menikah dengan seorang anak jajahan, apalagi tidak berkulitputih.

Kegagalan cinta itu tidak menghancurkan semangat Abdul Moeis. Malahan sebaliknya, hal itu menjadi dorongan baginya untuk lebih maju. Tetapi bagi gadis Belanda itu kegagalan cinta itu berakibat sangat buruk.

Kisah itu dituangkan Abdul Moeis dalam buku Salah Asuhan. Gaya bahasanya halus dan memikat hati pembacanya. Buku itu kemudian menjadi buku roman yang sangat terkenal dalam kesusasteraan Indonesia. Berkali-kali buku itu dicetak ulang. Bahkan pernah menjadi buku yang wajib dibaca oleh pelajar-pelajar sekolah menengah dan mahasiswa fakultas sastra.

Salah Asuhan tidak hanya terkenal di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan bahasa Cina. Sejak buku itu beredar, Abdul Moeis dianggap sebagai tokoh terkemuka dalam kesusasteraan Angkatan Tahun 20-an atau pra Pujangga Baru.

Sebenarnya isi buku itu agak berbeda dengan naskah aslinya. Perubahan itu terdapat di bagian akhir. Perubahan itu sengaja dilakukan oleh redaksi Balai Pustaka. Maksudnya ialah untuk menjaga nama baik bangsa Belanda. Bagian yang diubah itu ialah mengenai nasib Corry, si gadis Belanda. Dalam buku Salah Asuhan diceritakan Corry meninggal karena sakit setelah cintanya putus. Tetapi yang sebenarnya, ia meninggal karena bunuh diri setelah menjadi pelacur akibat kegagalan cintanya.

Dalam Salah Asuhan Moeis menggambarkan, bahwa antara golongan tua dengan golongan muda kadang-kadang terdapat salah faham. Golongan tua kurang memahami cita-cita golongan muda. Sebaliknya golongan muda sering pula kurang memahami maksud baik golongan tua.

Golongan muda ingin mencapai kemajuan. Cara yang mereka lakukan adakalanya tidak disetujui oleh golongan tua. Mereka menganggap bahwa cara-cara itu berlawanan dengan adat kebiasaan. Golongan tua takut melanggar kebiasaan yang sudah ada.

Abdul Moeis ingin agar antara golongan tua dengan golongan muda terdapat saling mengerti. Kepada anak-anak muda dianjurkannya agar menghormati yang tua-tua. Yang tua dihormati, yang kecil dikasihi, sesama besar seia sekata. Itulah yang hendak disampaikan Abdul Moeis dalam bukunya, sebab ia tak dapat lagi mengasuh anak-anak muda secara langsung dalam dunia politik.

Karena buku itu sangat digemari masyarakat, maka terbitlah minat Abdul Moeis untuk terus mengarang buku. Ceritanya tidak hanya mengenai adat yang dijalin dalam kisah cinta, tetapi dicarinya pula tema yang lain. Ditulisnya kisah-kisah yang bersifat komedi, roman sejarah dan pengetahuan populer.

Ada tiga belas buah buku yang dikarangnya. Di antaranya ialah Pertemuan Jodoh, Daman Brandal Anak Gudang, Robert Anak Surapati, Sabai Nan Aluih dan Contoh Surat Menyurat. Selain itu banyak pula buku berbahasa asing yang diterjemahkannya. Antara lain ialah Sebatang Kara, Pangeran Kornel, Tom Sawyer, Suku Mohawk Tumpas, dan Cut Nyak Dien. Sebuah buku mengenai sejarah pergerakan nasional Indonesia diterjemahkannya pula. Buku itu adalah karangan D.M.G. Koch. Judul aslinya Om de Vrijheid diterjemahkan Abdul Moeis menjadi Menuju Kemerdekaan.

Karangan-karangan Abdul Moeis tidak hanya berpengaruh terhadap para sastrawan, tetapi juga terhadap masyarakat.

Anda sudah mengetahui perjuangan Abdul Moeis. Sudah Anda ketahui pula kemampuannya sebagai politikus dan sebagai pengarang. Anda pun sudah mengetahui penderitaan yang dihadapinya. Sebenarnya apa yang Anda ketahui itu belum lengkap. Hendaknya Anda sadari bahwa tidak mungkin kita mengetahui riwayat hidup seseorang selengkap-lengkapnya. Karena itu yang saya ceritakan pada Anda ini hanya bagian yang penting-penting saja.

Masih ada satu hal yang belum saya ceritakan pada Anda. Yang saya maksud ialah kisah kehidupannya dalam berkeluarga. Nah, sekarang marilah Anda ikuti uraian di bawah ini.

Dari buku Salah Asuhan Anda sudah mengetahui bahwa Abdul Moeis pernah mencintai seorang gadis Belanda. Gadis itu pun cinta kepada Abdul Moeis. Tetapi dalam soal jodoh, Tuhanlah yang menentukan. Percintaan mereka putus karena perbedaan adat-istiadat.

Akhirnya Abdul Moeis kawin dengan gadis pilihan orang tuanya. Gadis itu adalah gadis Minangkabau. Mereka hidup rukun dan damai. Tetapi malang bagi Abdul Moeis. Perkawinan itu tidak berlangsung lama. Isterinya meninggal dunia karena sesuatu penyakit.

Lama juga sesudah itu Abdul Moeis hidup sebagai duda. Kemudian ia menikah dengan seorang gadis pilihan hatinya. Gadis itu adalah gadis Priangan.

Dari perkawinan itu mereka dikaruniai dua orang anak. Tetapi perkawinan mereka kurang berbahagia. Tak lama kemudian isterinya minta cerai. Ia tidak tahan hidup dengan seorang politikus yang selalu sibuk dengan urusan politik.

Sesudah itu ia menikah dengan gadis lain. Gadis itu juga gadis Priangan. Tetapi ternyata isterinya itu tidak pula sanggup mengikuti cara hidup Abdul Moeis. Waktunya banyak habis karena urusan politik. Mereka pun bercerai.

Perkawinan yang gagal itu sangat mengecewakan Abdul Moeis. Ia ingin membina keluarga yang bahagia. la ingin beristerikan seorang wanita yang dapat mengerti dan mengikuti cara hidupnya. Hendaknya isteri itu mendorongnya dalam perjuangannya.

Kemudian ia berkenalan dengan seorang gadis yang juga berasal dari Priangan. Gadis itu bernama Sunarsih. Hubungan keduanya bertambah lama bertambah akrab, Ternyata Sunarsih seorang gadis yang berpikiran maju. Ia aktif menyokong perjuangan bangsanya. Waktu itu Sunarsih bekerja sebagai seorang wartawati pada Pers Agentschap Hindia Timur di Bandung.

Keduanya menikah dalam tahun 1925. Abdul Moeis betul-betul telah menemukan seorang isteri yang diidam-idamkannya. Sunarsih banyak memberikan dorongan semangat dalam perjuangan Abdul Moeis. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai 11 orang anak.

Hanya setahun mereka dapat hidup dengan agak bahagia. Dalam tahun 1926 Abdul Moeis dijatuhi hukuman buang oleh Pemerintah Belanda. Tetapi isterinya tidak mengeluh. Dengan sabar dan hati yang tabah didampinginya suaminya dalam pengasingan di daerah Garut. Mereka hidup sederhana. Banyak penderitaan yang mereka alami, namun mereka tetap merasa bahagia.

Abdul Moeis mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang baik-baik. Anak-anak itu tumbuh menjadi dewasa. Mereka hidup dengan bebas, tetapi tidak menyeleweng dari ketentuan yang diberikan oleh orang tua mereka. Abdul Moeis selalu menekankan agar anak-anaknya tidak terpengaruh oleh uang atau materi. ”Setiap kali engkau berkelebihan dalam uang, bantulah orang yang kekurangan. Bagilah kebahagiaanmu dengan orang lain. Kalau engkau menolong orang lain, maka orang itu akan merasa bahagia. Engkau sendiri juga akan bahagia karenanya, sebab engkau telah menolong orang yang kesusahan. Sifat tolong menolong adalah sifat yang terpuji. Tuhan sayang kepada orang yang suka menolong,” demikian nasehat Abdul Moeis kepada anak-anaknya.

Ia juga mendidik anak-anaknya agar mencintai tanah air dan bangsa. Anak-anaknya disuruhnya banyak bergaul. ”Dengan cara itu engkau akan dapat mengenal masyarakat. Engkau akan dapat mengetahui suka duka kehidupan mereka. Bersikaplah selalu rendah hati. Jangan sombong dengan apa yang kau miliki. Jangan sombong karena kepintaranmu. Tuhan marah kepada orang yang sombong,” katanya menasehati anak-anaknya.

Anak-anaknya dianjurkan pula supaya belajar bahasa asing. Bahasa itu penting untuk pergaulan dan untuk menambah ilmu pengetahuan. ”Banyak yang akan engkau ketahui kalau engkau pandai berbahasa asing. Pikiranmu terbuka untuk mencapai kemajuan. Janganlah menjadi orang yang berpandangan picik, seperti katak di bawah tempurung.”

Dalam soal berpakaian, Abdul Moeis tidak mengngekang kemauan anak-anaknya. Mereka bebas memakai pakaian yang mereka sukai. Karena itu anak-anaknya selalu mengikuti mode. Tetapi ia menasehatkan, ”Pandanglah dulu dirimu dan bertanyalah apakah hal itu cocok dengan pribadimu.”

Perhatian Abdul Moeis terhadap pemuda sangat besar. Ia menyadari bahwa nasib bangsa terletak di tangan pemuda. Mereka harus mendapat kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya. Abdul Moeis sangat kasihan dan risau terhadap anak-anak yang tidak dapat meneruskan sekolah mereka. Karena itu dalam tahun 1946 di Garut didirikannya sebuah sekolah yang diberi nama ”Tulun”. Dalam sekolah itu ditampungnya anak-anak yang tidak dapat bersekolah di tempat lain, atau karena orang tua mereka tidak sanggup membiayainya.

Di kalangan teman-temannya, Abdul Moeis dikenal sebagai seorang yang selalu berpakaian rapi dan necis. Dalam bergaul ia sangat mernperhatikan sopan santun. Cara-cara bergaul yang baik dipraktekkannya dengan sungguh-sungguh. Kalau ia berjanji dengan seseorang, maka janji itu harus ditepatinya. Ia tidak mau mengecewakan orang lain.

Sesudah Perang Kemerdekaan selesai, Abdul Moeis pindah ke Jakarta. Ia mencoba mengadu untung di ibu kota Republik Indonesia itu. Tetapi ia kurang beruntung. Kehidupannya sangat sulit. Ia hampir-hampir tak bisa membiayai anak-anaknya. Karena itu Abdul Moeis pindah ke Bandung.

Umurnya sudah semakin tua. Ia sudah letih. Di masa mudanya ia banyak bekerja untuk kepentingan bangsanya. Penyakit jantung dan tekanan darah tinggi sudah sering menyerangnya. Karena itu tawaran untuk bekerja di bidang pemerintahan, ditolaknya. ”Apa yang dapat saya lakukan? Saya sudah tua. Penyakit sudah sering menyerang. Kalau tawaran itu saya terima, mungkin saya tidak dapat bekerja dengan baik. Tentu Pemerintah akan kecewa. Saya tidak mau mengecewakan Pemerintah,” katanya kepada anak-anaknya.

Namun untuk menambah biaya dan untuk mengisi waktu, Abdul Moeis masih terus mengarang dan menterjemahkan buku. Pekerjaan itu dilakukannya untuk Penerbit Nur Kumala dan Van der Kroof di Jakarta. Waktu itu umurnya sudah hampir 70 tahun.

Setiap perjalan ada akhirnya. Begitu pula halnya dengan hidup manusia. Abdul Moeis pun mengalami hal itu. Pada tanggal. 17 Juni 1959 ia meninggal dunia di Bandung, setelah mendapat serangan tekanan darah tinggi.

Abdul Moeis menjalani kehidupan di dunia ini selama 76 tahun. Lebih dari seperdua usianya diper-

gunakan untuk perjuangan bangsanya. Ia dikenal sebagai seorang politikus yang berani, jurnalis dan sastrawan yang berpena tajam.

Abdul Moeis telah tiada. Ia telah kembali kehadirat Tuhannya. Namun jasa-jasa dan namanya akan abadi dikenang bangsanya.

Pemerintah menilai bahwa jasa-jasa Abdul Moeis dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan, cukup besar. Oleh karena itu Pemerintah menghargainya sebagai seorang pahlawan. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 218 tahun 1959 Abdul Moeis ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan. Selain itu ia dianugerahi pula Bintang Mahaputra kelas III.

Nah kepada Andalah sekarang, sebagai generasi penerus, perlu ditanamkan suatu tekad yang telah dirintis oleh para pahlawan. Yaitu suatu tekad untuk membela dan mengisi kemerdekaan sebaik-baiknya. Sehingga tercapai cita-cita kita, suatu masyarakat Pancasila yang adil dan makmur.







MUTIARA OFFSET

Jalan Salemba Tengah 36 - 38

Tilpon 882441 - Jakarta Pusat