Lompat ke isi

Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/23

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

ngannja liehay sekali. Ia adalah piauwtee, adik misan, dari Kok Ban Tjiong, dan dalam Mauw San Tjit Yoe, ia adalah saudara jang ketudjuh, jang termuda. Maka hubungan mereka mendjadi bertambah erat. Djie Ie tidak turut pesta di Taman Bunga Toh, karena itu ia ada dirumah.

Dalam murkanja, Djie Ie menghampiri Thio Tian-soe, pembesar polisi jang pegang pimpinan. Dia menegur dan minta supaja tiansoe itu kendalikan orang²nja.

Thio Tiansoe mengawasi pemuda itu, jang kurus-kering tubuhnja bagaikan sebatang kaju kering. Pakaiannja tidak mentereng, pakaian biasa sadja, ditambah romannja djuga tidak keren atau agung, hingga ia djadi tidak memandang sebelah mata. Ia berpaling untuk tidak ambil mumat teguran itu.

„Tuan, aku telah memberi peringatan kepadamu !“ Djie Ie ulangi tegurannja.

Dua pouwtauw, atau kepala polisi, dari Kangleng, memang tidak puas hatinja sebab njonja rumah, jaitu isteri Kok Ban Tjiong, tidak melakukan tugasnja sebagai njonja rumah jang ramah-tamah. Ia tidak menjuguhkan teh atau arak, mereka tidak disambut dengan baik, djuga mereka tidak dengar suara samar² bahwa mereka bakal diberi uang djalan, maka mereka gusar terhadap anak muda itu.

„He, botjah, kau tjampur-tangan urusan ini, kau tentunja bukan machluk baik² !“ demikian satu diantaranja membentak. „Mungkin kau sipendjahat dirumah dua keluarga Ong dan Touw ! Mari, kau turut kami kekantor“.

Habis membentak, diikuti rekannja, ia ulur tangannja, untuk tjekuk tangan Djie Ie, guna ditelikung kebelakang. Mereka bengis, mereka kerahkan tenaga mereka. Kalau orang lain jang diperlakukan demikian, pastilah tangannja sudah tertekuk patah. Tidak demikian dengan sianak muda.

„Kurang adjar !“ Ia berseru. Ia pun kerahkan dua tangannja, jang dikibaskan, hingga terlepaslah tjekalan kedua kepala polisi itu dan tubuh mereka terpental lima-enam tindak. Muka mereka mendjadi merah.

Pendjahat jang bernjali besar, kau berani melawan polisi ?” mereka membentak pula, Mereka tampak belum kapok. „Saudara², madju !“

Orang² polisi itu tak tahu Selatan. Atas titah itu, mereka merangsek, masing² dengan golok, thie-tjio, tombak dan rantai mereka,

20