penting dalam perkara pembunuhan sematjam ini”.
„Djadi tuan ini betul² seorang detektif!” sela Georgia masih belum pertjaja.
„Benar. Tapi kawan ini bukan”, djawab Lynch sambil menundjuk pada Deane.
„Kalau begitu, benarlah dugaan saja tadi bahwa kedatangan tuan² kesini semata-mata untuk menangkap saja”, sahut Cassel lagi sambil berdiri dari kursinja.
„Ajah!” lagi² Georgia menjela dengan terharu.
„Tidak manis! Tuan ini tentu berpikir bahwa saja tidak tjukup keberanian untuk menghadapi kenjataan ini. Terusterang sadja bahwa tuan² memang sedang memburu saja dan bukannja untuk menangkap penjelundup jang berkeliaran disini”.
Lynch ikut berdiri dan tenang2 melandjutkan pembitjaraannja !
„Major, tuan tjukup lama berdinas di India, sehingga saja kira tuanpun sudah pula mengenal rasa dan baunja tjandu dengan baik !”
Mendengar ini Cassel seolah-olah terlondjak.
„Tjandu? Demi Tuhan, itu bohong melulu! Karena saja tahu, menjelundupkan tjandu adalah perbuatan jang lebih djahat lagi daripada pembunuhan!”
Setelah itu tanpa menghiraukan Deane dan Lynch orangtua itu menghambur keluar bilik, sedangkan Georgia terpaku seperti patung. Deane segera menghampiri dan membimbing gadis jang seperti kebingungan itu.
„Tenanglah Georgia! Bukankah maksud kami untuk menuduh ajahmu sebagai penjelundup tjandu. Dia tjuma memberikan keterangan mengapa dan untuk apa kedatangan kami disini. Lynch bekerdja atas perintah Perserikatan Bangsa² untuk menjelidiki benar-tidaknja bahwa dipulau ini dilakukan perdagangan² tjandu. Sebagai hasilnja kami sudah punja kepastian bahwa salahsatu dari pelanggar itu adalah Doughlin. Pada saat inipun dirumahnja tersimpan beberapa peti tjandu. Dan Doughlin jakin perbuatannja itu telah kami ketahui, sehingga tidak mengherankan kalau dia berusaha untuk mele-