Entah mengapa, orang Negro itu mengangguk sementara Lynch terus mengotjeh seenaknja. Deane jang mula² keheranan atas sikap rekannja itu segera mengerti. Ini tentunja dimaksudkan Lynch agar orang² jang ada disana mendapat kesan bahwa kedua orang jang berdiri dimuka rumah itu tjumalah manusia² miskin jang tidak perlu diragukan. Dan siasat Lynch ini tjernjata berhasil. Pandangan Queechie dan kawan-kawannja jang mengandung ketjurigaan itu berangsur-angsur hilang.
„Apakah kerdja kalian tiuma mengumpulkan kulit bakau?” tanja Lynch lagi. „Kalau begitu kalian harus masuk djauh kedalam rawa, bukan?”
Tapi Queechie menggelengkan kepalanja.
„Tak seorangpun jang bisa memasuki Caroni lebih djauh lagi”, diawabnja. „Terlalu sukar untuk masuk kesana, karena itu tak ada jang mau tjoba² masuk. Kau tentu tahu kaju² bakau tjepat sekali tumbuhnja, untuk apa pergi djauh²”.
Lynch mendengarkan kata² Queechie ini seolah-olah dengan penuh minat.
„Saja tjuma pikir sadja begitu”, udjarnja kemudian. „Dan kalau tak salah saja pernah dengar bahwa kepedalaman rawa ini ada djalan jang bisa dilalui tapi tjuma beberapa orang sadja jang mengetahuinja”.
Sambil memasukkan sepotong roti kedalam mulutnja Queechie menggeleng lagi. Tapi Lynch seolah-olah tak atjuh. Lalu tiba² sadja dia meraih lengan Deane, sedangkan matanja nanar kearah djalan jang mereka lalui tadi.
„He bung, ada orang datang! Polis atau bukan?” tanjanja pada Queechie. Dan Queechie jang sedikit kaget melihat perbuatan Lynch itu tjepat² menoleh. Memang didjalan jang dilalui Lynch tadi dia melihat seorang beruniform khaki menudju gubugnja.
„Bukan, dia orang Itali peternak disana”. Queechie tersenjum dan memandang pada Lynch. Lalu tanjanja: „Kenapa kau takut polisi? Punja dosa?”
Lynch menepuk bahu Queechie. „Djangan seburuk itu sangkamu kawan! Pertjajalah aku orang baik². Aku tjuma