Tiba² dibelakang terdengar langkah orang jang mengikuti. Darah tersirap dengan tiba². Hati saja sudah berdebar-debar, mungkinkah dia pengikut dari Han ataukah dari polisi ? Kedua-duanja saja takutkan. Sebab polisi² bagian bawahan tak mengetahui rentjana apa jang dilakukan pihak atasannja.
Saja pura² berhenti. Dan menjalakan sigaret. Orang itupun terdengar berhenti berdjalan. Djalan disana masih ramai orang dan kendaraan, djadi kalau saja berniat hendak melarikan diri, mudahlah. Tetapi harus mendapat kepastian dulu, siapakah pengikut itu.
Mata saja lirikkan dan menembusi sinar² etalage toko² untuk melihatkan muka pengikut itu.
Orang itu berdjalan menudju saja, dan menjerempet sambil memberikan apa² pada tangan saja. Kedjadian jang begini tjepat dan tak mungkin diketahui orang karena sibuknja djalan sudah tjukup untuk menenteramkan hati sedikit.
Kiranja setjarik kartu nama: Tjempaka Merah !
Ah, perintah dari Haris tentu. Djadi orang ini anggauta kami djuga. Dibalik kartu nama itu tertulis :
Ikuti perintah ,,sasaran", dan sebentar lagi „selesai"
Hanja itu sadja tertulis.
Saja maklum apa jang dimaksud dengan „sasaran" itu. Dialah Han Ping Lok. Dan arti „selesai" ialah penangkapan terhadap dia.
Setjepat-tjepatnja saja ambil potlod dan menulis pada kartu itu sebelah bawah tulisan Haris:
mengerti — bank „nasional" 3.005 — buka djalan.
Dengan itu sadja mengertilah Haris, bahwa gerombolan Han Ping Lok jang saja pimpin kelak akan memukul dan membongkar „Bank Nasional" didjalan Sumatera 56, pada djam 3 malam dan tanggal 5 bulan itu. Malam ini ialah tanggal 3, djadi lusa barulah pekerdjaan itu kami lakukan.
Kartu nama dengan tulisan saja itu saja genggam, dan mendekati orang jang mengikuti tadi, dengan tjara jang sama saja berikan pada dia kembali kartu nama itu.
Kemudian kembalilah saja ketempat Han Ping Lok.
79