Halaman:Tenun Tradisional Minangkabau.pdf/19

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


Terbuat dari sebuah tabung bambu, dipergunakan untuk pengumpal benang yang berasal dari nandie.

Bahan lain yang dipergunakan untuk bertenun ini, seperti benang yang sudah siap untuk ditenun, biasanya dibeli dari daerah lain yaitu dari Silungkang ( umumnya Silungkang memproduksi benang hanian ini untuk daerah Pandai Sikek, Koto nan Gadang, Tanjung-Sungayang dan Kubang ) Benang yang dipakai untuk membuat songket atau kain balapak, seperti benang emas, benang perak atau benang pewarna lainnya dapat diperoleh dengan cara membelinya di pasaran dan toko-toko tertentu. Ada jenis-jenis benang ini, seperti benang emas ( yang sering juga dinamakan dengan sebutan benang makau ) berasal dari luar negeri, Jepang, Taiwan, India, Cina dan sebagainya.

Dengan mempergunakan peralatan dan baban yang sangat sederhana ini, orang sudah dapat mernbuat kain tenun tradisional. Di Koto nan Gadang ( Kotamadya Payakumbuh ) kerajinan tenun tradisional ini masih tetap ada, walaupun sekarang jumlahnya sudah mulai berkurang. Tetap terpeliharanya tenun tradisional di daerah ini karena sampai sekarang masyarakatnya masih mempergunakan atau memakai hasil tenun ini sebagai bahan pakaian untuk menghadiri upacara-upacara adat, seperti helat perkawinan, upacara penobatan penghulu, pergi melayat dan sebagainya. Adat yang seperti ini masih terpakai di daerah Payakumbuh. Sedangkan hasil tenun dari Tanjung-Sungayang, masih tetap dipergunakan sebagai kelengkapan pakaian adat di daerah sana, terutama oleh para sumandan dan para penghulu.

Ragam hias kain tenun.

Untuk mengenal ragam bias dari kain tenun erat bubungannya dengan cara menenunnya. Ada para ahli yang mengatakan bahwa ragam hias yang pertama diterapkan pada kain tenun adalah ragam hias yang dibuat dengan cara teknik ikat, yaitu ragam hias yang dibuat sebelum proses menenun di mulai. Benang tenun diikat dengan mempergunakan bahan pengikat yang lain, kemudian dicelupkan kedalam zat pewarna yang sudah disediakan. Bagian-bagian yang diikat tadi tidak terkena warna celupan. Proses ini diulang-ulang menurut bentuk ragam hias yang kita inginkan. Ragam hias pada kain tenun dapat dibedakan atas 2 macam yaitu :

  1. Ragam hias yang bersifat “dekoratif”.
18