Halaman:Tenun Tradisional Minangkabau.pdf/20

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


  1. Ragam hias yang bersifat “fungsional”.

Maksud daripada ragam hias dekoratif ialah bahwa ragam hias yang terdapat pada kain tenun tersebut hanya berfungsi untuk hiasan saja, dengan maksud supaya kain tersebut hanya berfungsi untuk hiasan saja, dengan maksud supaya kain tersebut lebih bersemarak dan hidup. Sedangkan ragam hias yang bersifat fungsional, maksudnya ialah setiap ragam hias yang ada pada kain itu mengandung makna dan arti-arti tertentu. Ia melambangkan sesuatu makna umpamanya motif orang yang kedua kaki dan tangannya terbentang, melambangkan nenek-moyang, segitiga tumpal melambangkan pohon hayat dan sebagainya. Di daerah Minangkabau pada umumnya hiasan yang ada bersifat dekoratif, walaupun kadang-kadang ada juga yang bersifat fungsional. Dan untuk dekoratif ini, motifnya diambilkan dari bentuk flora dan fauna atau seperti yang dikatakan oleh papatah Minangkabau, “alam takambang jadikan guru”. Apa yang ada di alam ini dapat dijadikan motif hiasan, seperti kaluak paku, gambar bunga, bentuk pucuak daun, sulur daun, bada mudiak, kuciang tidua, kalalawa tagantuang dan sebagainya. Ada pendapat para ahli yang mengatakan bahwa motif burung, orang, pohon hayat dan tumpal yang terdapat pada ragam hias kain tenun, merupakan ciri-ciri motif yang terdapat di seluruh daerah Indonesia ini. Bentuk dan motif ragam hias pada kain tenun ini banyak dipengaruhi oleh unsur keagamaan dari sesuatu masyarakat. Bahkan, kalau kita teliti lebih lanjut, pengaruh kepercayaan banyak yang tertuang dalam berbagai motif yang ada. Sebagai contoh, pengaruh kepercayaan agama Hindu, yaitu bentuk segi tiga yang disebut “tumpal”. Ada yang mengatakan bahwa bentuk tumpal ini melambangkan dewi sri, sebagai dewi padi dan dewi kesuburan. Segitiga adalah juga salah satu bentuk dari ragam hias geometris yang sudah terdapat dalam kebudayaan Dongson dari zaman pra sejarah Indonesia. Pendapat lain mengatakan bahwa bentuk tumpal ini melambangkan deretan gunung-gunung di Indonesia. Dan nampaknya bentuk tumpal ini hampir dikenal di seluruh daerah Indonesia dengan nama yang berbeda-beda.

Di Minangkabau bentuk tumpal ini dinamakan juga dengan motif “Pucuak rebung atau rabuang mambacuik” yang melambangkan sesuatu kekuatan yang keluar atau tumbuh dari dalam. Juga motif ini dikiaskan pada sifat yang randai menyesuaikan diri dan dapat mengerjakan sesuatu yang berguna sepanjang masa. Pada kain tenun tradisional sering kita lihat komposisi antara songket benang emas, benang perak maupun benang berwarna biasa. Tampak juga motif tumpal yang dikombinasikan dengan sulur daun yang menyerupai pohon
19