Halaman:Tenun Tradisional Minangkabau.pdf/17

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


dipergunakan untuk menggantungkan karok. Antara karok dengan lenggayan tersebut dihubungkan dengan tali atau benang yang agak kasar. Maksudnya karok ini digantungkan ialah supaya karok tersebut jangan rebah, ia harus dalam keadaan posisi berdiri dan supaya mudah untuk di gerak-gerakkan

  1. B a l e r o .
    Balero adalah sejenis kayu tipis ataupun juga bambu yang dibuat tipis yang dipergunakan untuk mengatur motif hiasan. Dengan mempergunakan balero ini, kiga dapat menentukan benang mana saja yang akan diungkit untuk tempat masuknya benang hiasan atau benang untuk membuat motif dari kain tenun tersebut.
  2. L i d i .
    Dibuat dari lidi pohon kelapa atau lidi pohon enau. Dipergunakan untuk mengatur hiasan. Sebelum kita mulai menenun, lidi-lidi ini sudah dipasang pada benang pakan.
  3. Tempat duduk.
    Sehelai papan yang agak kuat dijadikan untuk tempat duduk bagi si penenun. Papan ini diletakkan antara tonggak ponte yang di tengah dengan tonggak ponte bagian belakang. Disinilah si penenun duduk sambil menjuntaikan kakinya untuk menyelesaikan kerjanya ( menenun ), yang terbentang di hadapannya.
  4. Ontokan.
    Dibuat dari sepotong kayu yang agak kuat, dipergunakan untuk menegangkan benang yang akan ditenun. Kayu ini diikatkan lagi pada sebuah tonggak atau yang dinamakan juga kudo-kudo. Dengan adanya Ontokan ini, benang tenun akan tetap tegang yang akan memudahkan proses menenun.
  5. Kudo-kudo.
    Dipergunakan sebagai tempat mengikatkan Ontokan ( kayu penegang benang tenun ). Supaya kuat, kudo-kudo ini dibuat dari kayu yang agak berat supaya tidak mudah bergerak dari tempatnya. Kadangkala untuk pemberatkannya diberi atau diletakkan batu yang agak besar. Dengan demikian kudo-kudo ini akan tetap berada pada tempatnya.
16