Halaman:Sorga Ka Toedjoe novelisation.pdf/17

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


BAGIAN KEEMPAT

Marsiti

D

ALAM seboeah gedong ketjil jang diperaboti dengan lengkap ada kelihatan, dipertengahan roemah, seorang perempoean moeda, dengan paras doeka, sedang mementil guitaar sembari menjanji. Beberapa boedjang perempoean kelihatan sedang membersihkan korsi-medja jang berada disitoe.

Dengan paras masgoel, sesoedah menjanji, itoe perempoean moeda menghampiri satoe rustbank, dimana ia laloe mendjatoehkan dirinja, sembari menghela napas. Ia doedoek disitoe dengan bingoeng, sehingga satoe boedjang perempoean menjamperkan dia sembari sodorkan satoe rekening dan berkata:

„Njonja, itoe abang bilang ia tidak bisa kasi tempo lagi. Kaloe tidak dibajar ini hari, besok maoe diperkarakan, sebab toeannja tidak bisa menoenggoe lebih lama lagi”.

Marsiti samboet itoe kwitantie, perhatikan sesa’at lamanja, kemoedian laloe lemparkan sembari berkata :

„Bilang sadja toean beloem poelang, Nanti sore boléh datang lagi”.

Itoe boedjang poengoet itoe kwitantie dan djalan keloear, sedang Marsiti, begitoelah namanja itoe perempoean, laloe bangoen dari itoe rustbank dan samperkan krosi-pandjang dari medja-stelan, dimana ia lantas doedoek. Beloem lama Marsiti doedoek disitoe, ketika Parta djalan masoek keitoe roeangan dan dengan paras marah-marah, laloe doedoek djoega diitoe krosi Marsiti awaskan parasnja Parta sesa’at lamanja, kemoedian menanja :

„Kaoe kenapa, kanda ? Apa soedah ketemoe sama itoe toekang rekening ?”

17