Halaman:Seri Pahlawan, Abdul Moeis; 1980.pdf/57

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


hukuman buang oleh Pemerintah Belanda. Tetapi isterinya tidak mengeluh. Dengan sabar dan hati yang tabah didampinginya suaminya dalam pengasingan di daerah Garut. Mereka hidup sederhana. Banyak penderitaan yang mereka alami, namun mereka tetap merasa bahagia.

Abdul Moeis mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang baik-baik. Anak-anak itu tumbuh menjadi dewasa. Mereka hidup dengan bebas, tetapi tidak menyeleweng dari ketentuan yang diberikan oleh orang tua mereka. Abdul Moeis selalu menekankan agar anak-anaknya tidak terpengaruh oleh uang atau materi. ”Setiap kali engkau berkelebihan dalam uang, bantulah orang yang kekurangan. Bagilah kebahagiaanmu dengan orang lain. Kalau engkau menolong orang lain, maka orang itu akan merasa bahagia. Engkau sendiri juga akan bahagia karenanya, sebab engkau telah menolong orang yang kesusahan. Sifat tolong menolong adalah sifat yang terpuji. Tuhan sayang kepada orang yang suka menolong,” demikian nasehat Abdul Moeis kepada anak-anaknya.

Ia juga mendidik anak-anaknya agar mencintai tanah air dan bangsa. Anak-anaknya disuruhnya banyak bergaul. ”Dengan cara itu engkau akan dapat mengenal masyarakat. Engkau akan dapat mengetahui suka duka kehidupan mereka. Bersikaplah selalu rendah hati. Jangan sombong dengan apa yang kau miliki. Jangan sombong karena kepintaranmu. Tuhan marah kepada orang yang sombong,” katanya menasehati anak-anaknya.

Anak-anaknya dianjurkan pula supaya belajar

55