Halaman:Seri Pahlawan, Abdul Moeis; 1980.pdf/56

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


Dari perkawinan itu mereka dikaruniai dua orang anak. Tetapi perkawinan mereka kurang berbahagia. Tak lama kemudian isterinya minta cerai. Ia tidak tahan hidup dengan seorang politikus yang selalu sibuk dengan urusan politik.

Sesudah itu ia menikah dengan gadis lain. Gadis itu juga gadis Priangan. Tetapi ternyata isterinya itu tidak pula sanggup mengikuti cara hidup Abdul Moeis. Waktunya banyak habis karena urusan politik. Mereka pun bercerai.

Perkawinan yang gagal itu sangat mengecewakan Abdul Moeis. Ia ingin membina keluarga yang bahagia. la ingin beristerikan seorang wanita yang dapat mengerti dan mengikuti cara hidupnya. Hendaknya isteri itu mendorongnya dalam perjuangannya.

Kemudian ia berkenalan dengan seorang gadis yang juga berasal dari Priangan. Gadis itu bernama Sunarsih. Hubungan keduanya bertambah lama bertambah akrab, Ternyata Sunarsih seorang gadis yang berpikiran maju. Ia aktif menyokong perjuangan bangsanya. Waktu itu Sunarsih bekerja sebagai seorang wartawati pada Pers Agentschap Hindia Timur di Bandung.

Keduanya menikah dalam tahun 1925. Abdul Moeis betul-betul telah menemukan seorang isteri yang diidam-idamkannya. Sunarsih banyak memberikan dorongan semangat dalam perjuangan Abdul Moeis. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai 11 orang anak.

Hanya setahun mereka dapat hidup dengan agak bahagia. Dalam tahun 1926 Abdul Moeis dijatuhi

54