Halaman:Seri Pahlawan, Abdul Moeis; 1980.pdf/58

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


bahasa asing. Bahasa itu penting untuk pergaulan dan untuk menambah ilmu pengetahuan. ”Banyak yang akan engkau ketahui kalau engkau pandai berbahasa asing. Pikiranmu terbuka untuk mencapai kemajuan. Janganlah menjadi orang yang berpandangan picik, seperti katak di bawah tempurung.”

Dalam soal berpakaian, Abdul Moeis tidak mengngekang kemauan anak-anaknya. Mereka bebas memakai pakaian yang mereka sukai. Karena itu anak-anaknya selalu mengikuti mode. Tetapi ia menasehatkan, ”Pandanglah dulu dirimu dan bertanyalah apakah hal itu cocok dengan pribadimu.”

Perhatian Abdul Moeis terhadap pemuda sangat besar. Ia menyadari bahwa nasib bangsa terletak di tangan pemuda. Mereka harus mendapat kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya. Abdul Moeis sangat kasihan dan risau terhadap anak-anak yang tidak dapat meneruskan sekolah mereka. Karena itu dalam tahun 1946 di Garut didirikannya sebuah sekolah yang diberi nama ”Tulun”. Dalam sekolah itu ditampungnya anak-anak yang tidak dapat bersekolah di tempat lain, atau karena orang tua mereka tidak sanggup membiayainya.

Di kalangan teman-temannya, Abdul Moeis dikenal sebagai seorang yang selalu berpakaian rapi dan necis. Dalam bergaul ia sangat mernperhatikan sopan santun. Cara-cara bergaul yang baik dipraktekkannya dengan sungguh-sungguh. Kalau ia berjanji dengan seseorang, maka janji itu harus ditepatinya. Ia tidak mau mengecewakan orang lain.

56