Halaman:RerumNovarum.djvu/2

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji-baca


ini, ketika demi Gereja dan kesejahteraan umum kami merasa pada tempatnya menyampaikan kepada anda surat-­surat tentang kekuasaan politik, kebebasan manusiawi, undang­-undang dasar negara­-negara yang bernafaskan Kristiani, dan pokok-­pokok lain sebagainya, begitu pula sekarang kami merasa tergerakkan untuk menulis surat yang serupa tentang kondisi kaum buruh.

Sudah beberapa kali, kalau ada kesempatan, kami menyinggung masalah itu. Akan tetapi kesadaran akan jabatan apostolik kami mendesak kami untuk secara lebih penuh dan eksplisit membahasnya dalam Ensiklik ini. Maksud kami ialah menjelaskan prinsip-­prinsip untuk menghentikan dan mengakhiri perjuangan, menanggapi tuntutan keadilan serta peristiwa-­peristiwa. Memang persoalannya sulit dipecahkan, dan bukannya tanpa risiko. Tidak mudah menilai hak­-hak dan kewajiban-­kewajiban, yang harus mengatur hubungan-­hubungan antara para pemilik upaya­-upaya produksi yang kaya serta memasokkan modal, dan kaum buruh yang tidak memiliki apa-­apa dan menyumbangkan kerja mereka, juga orang-­orang yang menggunakan kekerasan dan tipu­-muslihat, untuk membelokkan massa dari penilaian yang tepat dan membangkitkan perpecahan dalam masyarakat. Entah bagaimana pun, jelaslah ada kesepakatan umum, bahwa kepentingan-­kepentingan rakyat pada lapisan sosial terendah harus ditanggapi dengan segera, untuk menanggulangi kesulitan mereka.

2. Kebanyakan buruh terombang-­ambingkan oleh nasib malang, serba lumpuh menghadapi kenyataan penderitaan yang amat menyedihkan, tanpa kesalahan mereka sedikitpun. Serikat-­serikat kejuruan (“gilde”) bagi kaum pekerja zaman dulu dihapus pada abad yang lalu, tanpa digantikan oleh upaya perlindungan lain. Sementara itu sisa­-sisa hidup keagamaan para leluhur disingkirkan semata­-mata dari pemerintahan dan undang-­undang. Akibatnya ialah: kaum pekerja sekarang tersendirikan, tak berdaya sama sekali, menjadi bulan­bulanan perlakuan tak manusiawi oleh kaum majikan, dan sasaran tak terkendalikan orang­orang yang bersaing. Situasi masih diperburuk lagi oleh penghisapan penuh ketamakan, kejahatan yang sudah sering dikecam oleh Gereja, tetapi dengan pelbagai cara yang licik masih tetap dijalankan juga oleh orang­-orang yang rakus. Tambahan pula, pengerahan tenaga kerja dan manajemen industri serta perdagangan terpusatkan pada beberapa gelintir orang, sehingga kelompok amat kecil yang kaya-­raya mampu menaruh atas bahu jumlah besar kaum buruh yang tak empunya suatu beban yang praktis sama saja dengan perbudakan.

Sosialisme

3. Sementara menghasut kaum miskin, supaya iri terhadap para pemilik upaya­-upaya produksi yang kaya-­raya, kaum sosialis mempertahankan, bahwa usaha untuk mengatasi kejahatan itu