Halaman:RerumNovarum.djvu/15

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini belum diuji-baca


PEMBAHARUAN MASYARAKAT 27. Dalam hal semacam itu cukuplah melihat selayang pandang pola kehidupan di zaman dahulu. Sedikit pun tiada keraguan mengenai peristiwa­peristiwa yang kami ketengahkan. Masyarakat diperbaharui dari dasar­dasarnya oleh ajaran Kristiani. Berkat pembaharuan itu umat manusia diangkat ke arah keadaan yang lebih baik, tegasnya dipanggil kembali dari kematian kepada kehidupan. Kehidupan itu lebih sempurna dari yang pernah dikenal sebelumnya, dan sama baiknya dengan kehidupan yang masih akan datang. Penyebab perdana dan tujuan akhir kurnia­kurnia itu Yesus Kristus: segala sesuatu berasal dari pada­Nya dan harus dikembalikan kepada­Nya. Pantang diragukan: berkat terang Injil warta Yesus Kristus Sang Allah­manusia, dan diresapi dengan iman akan Dia ajaran­Nya dan hukum­hukum­Nya. Kalau masyarakat memang membutuhkan penyembuhan, itu hanya dapat terlaksana bila orang­orang kembali menganut hidup dan ajaran Kristiani. Kalau masyarakat yang berantakan mau dipulihkan, titik­tolak yang paling tepat ialah kembali kepada asalmulanya. Kesempurnaan semua perserikatan tercapai bila mereka mencari dan mencapai tujuan mereka didirikan. Itu akan terwujudkan, bila semua kegiatan sosial bersumber pada penyebab yang sama, yang melahirkan masyarakat. Oleh karena itulah meninggalkan prinsip­prinsip asali berarti menderita kehancuran, dan kembali ke prinsip­prinsip itu berarti pulihlah keutuhan. Itu berlaku bukan hanya bagi seluruh tubuh negara, melainkan juga bagi golongan warga masyarakat, yakni kebanyakannya, yang bekerja untuk mendapat rezeki hidup. USAHA MENINGKATKAN MUTU KEHIDUPAN 28. Jangan dikira kepedulian Gereja sebesar itu akan reksa jiwa­jiwa menyebabkannya melalaikan perkara­perkara hidup di dunia yang akan direnggut maut ini. Gereja tegas­tegas menghendaki agar kaum buruh yang tak empunya mengatasi kemiskinan mereka yang begitu menekan, dan memperbaiki kondisi mereka. Dan apa yang diinginkannya, sungguh diusahakannya juga. Bahwa Gereja memanggil para warganya ke arah keutamaan dan membina mereka untuk mengamalkannya bukan bantuan yang kecil ke arah itu. Kepatuhan sepenuhnya kepada keseluruhan tatasusila Kristiani sendiri sudah langsung mengantar kepada kesejahteraan yang lebih besar. Kepatuhan itu menggabungkan mereka dengan Allah, dasar dan sumber segala sesuatu yang baik. Selain itu mengendalikan nafsu yang berlebihan akan harta milik jasmani serta kehausan akan kenikmatan, sepasang malapetaka yang sering merusak kebahagian manusia, bahkan yang kaya pun. ”Akar segala kejahatan ialah cinta uang”(1Tim 6:10). Kepatuhan itu mengajarkan supaya orang puas dengan mutu hidup yang hemat, sehingga tersedialah penghasilan dari tabungan untuk mengatai nasib malang; lagi pula kebiasaan­kebiasaan buruk yang menelan biaya yang bukan hanya sedikit melainkan besar sekali