Halaman:RerumNovarum.djvu/14

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji-baca


Persaudaraan Kristiani

24. Akan tetapi bila mereka mematuhi ajaran Kristiani, yang terutama akan menyatukan mereka ialah ikatan cintakasih persaudaraan, bukan melulu persahabatan. Mereka akan merasakan dan mendalami kebenaran yang jelas, bahwa semua orang mempunyai Bapa yang sama, yakni Allah Pencipta; semua menuju ke arah Kebaikan mutakhir yang sama, yakni Allah sendiri, satu­satunya yang mampu mengurniakan kebahagiaan yang mutlak sempurna kepada umat manusia maupun para malaikat; berkat karya Yesus Kristus semua sama­sama ditebus dan dipulihkan dalam martabat putera-puteri Allah, sehingga semuanya dihimpun menjadi satu dalam cintakasih persaudaraan, saudara­saudari satu bagi yang lain seperti juga bagi Kristus Tuhan kita, ”yang Sulung di antara sekian banyak saudara”. Kurnia-kurnia kodrati dan anugerah-anugerah rahmat ilahi yang sama menjadi milik bersama segenap umat manusia tanpa pembedaan, dan hanya mereka yang tidak layak akan kehilangan warisan mereka. ”Bila kita putera-puteri, kita juga ahli waris: orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama dengan Kristus” (Rom 8:17).

25. Demikianlah rangkuman hak-hak dan kewajiban-kewajiban menurut filsafat Kristiani. Bila ajaran itu memang subur, tidaklah semua pertentangan akan segera berakhir?

Penyebaran Ajaran Kristiani

26. Tidak puas dengan melulu menunjukkan jalan untuk meluruskan keadaan, Gereja sendiri mengadakan langkah-langkah pembaharuan. Gereja membaktikan diri sepenuhnya untuk mendidik para anggotannya melalui ajarannya dan membina mereka melalui tata-tertibnya. Melalui karya para uskup dan imam-imamnya Gereja berusaha menyalurkan ke segala penjuru dunia pancaran ajarannya yang menjadi sumber kehidupan. Gereja berusaha memberi penyuluhan kepada akalbudi dan bimbingan kepada kehendak orang­orang, sehingga mereka mempersilakan diri dituntun dan dibimbing oleh tata-ajaran Allah. Itulah hal yang paling penting, karena dari padanya tergantung segala tujuan baik yang mau dicapai. Di situlah kegiatan Gereja secara istimewa efektif; sebab upaya-upaya yang kebanyakan digunakannya untuk mempengaruhi budi manusia dikurniakan kepadanya justru untuk maksud itu oleh Yesus Kristus, dan beroleh daya-gunanya dari Allah. Hanya upaya­upaya semcam itulah yang dapat menyentuh lubuk hati sanubari dan mendorong manusia untuk mengutamakan kewajibannya, mengendalikan nafsu-keinginannya, mengasihi Allah dan sesamanya dengan seutuh hati dan segenap jiwanya, dan dengan berani menyingkirkan segala-sesuatu yang menghalangi perihidup dalam keutamaan.