Lompat ke isi

Halaman:Indonesia Madjalah Kebudajaan Edisi Djanuari-Pebruari-Maret.pdf/204

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini belum diuji baca

membuka perdjuangannja dalam dua front : pertama, berhadapan dengan empirisme dan kedua, berhadapan dengan nasionalisme dan kritikisme, pendeknja Bergson membuka dua front sekaligus untuk menghadapi filsafah modern.

Berbeda dengan falsafah sebelumnja, jang memasukkan kepertjajaan agama sebagai faktor terpenting, pada falsafah modern orang hanja mementingkan pangalaman dan pikiran. Disini dengan pengalaman dimaksudkan, bahwa orang hanja pertjaja kepada kebenaran sensibel ; dengan pikiran dimaksudkan, bahwa orang hanja pertjaja kepada kebenaran inteligibel, Jang pertama disabut empirisme dan jang terachir rasionalisme. Adapun metodus jang dipergunaken oleh empirisme ialah metodus induktif, tetapi mula² tidak ada hubunganja sama sekali dengan fisika mafematik. Empirisme ini kemudian dart realisme naif, jaitu realisme jong hanja mencrima kebenoran pengetahuan empirik tanpa penjelidikan lebih djauh jang mejakinkan, berkembang mendjadi subjektivisme don skeptikisme. Didalam perkembangannja ini empirisme telah dipengaruhi sekali oleh tasionalisme, Subjektivisme ialah paham jang berpendapat, bahwa kesadaran adalah jeg paling hakiki, kemudian isi, bentuk dan tjiptaan adalah dari kesadaran itu, Puntjak subjektivisme-adalah idealisme, jaitu tendens faleafi jang mau merangkum segala eksis- tensI kedglam kesadaran, atau dikatakan setjara cartesion suatu tendens felsali kearah fakte* kesadaran, Adapun skeptikisme tidak bisa menerima kebenaran, bahwa diluar kesadaran ini masih ada sesuatu jeng dapat diperianggungdjawabkan, Rastonalisme berpendapat, bahwa pikiranlah satu’nja sumber pengetahuan jang dapat dipertjaja. Perbedaannja dengan empirisme ieleh, bohwa rasionalisme tidak memerlukan penga- famen jong hanja sekali sadja dapat memperoleh pengetahuan, pengalaman mang mempakan dasar empirisme, melainkan rasionadlisme itu menghendaki pengetahuan Jang bersifat universal dan keharusan dengan metedus deduktif sebagai metodusnja sebagai halnja pengetahuan ilmupasti, Perkembangan rasionalisme ini kemudian karena bethubungen dengan empirisme menempuh djalan keberbagai argh, jaitu disatu pihak kearah idealisme, dan dilain pihak kearah positivisme, Jong terachir ini iaich tendens falsafi jang berpangkal pada kenjaiaan? positif. jaitu kenjatoean® konkrit don jang tok ,. meragukan lagi, Perkembangas selandjuinja mendopat reaksi antara lain dari Kant jang ; mengemukakan tiga keberatan :

1, diabaikannja pengetahuan inderawi (pengamatan) oleh pengetahuan akali, 2. dipernjatakannja, bahwa dari pengerlian” se-mata’ tanpa pendasaran kita menjangka memperoleh pengetahuan dengan djalan pengamatan, dan 3. dipernjatakannja, behwa Tuhan, djiwa, dunia, dab, merupakan objek’ jang

dapat diketehui, sedangkan Tuhan, djiwa, dunia, dab. adalah idea se-mata’,

Dengan keberatan’ ini Kant kemudian merasa menemukan suatu djatan kelucr dari perteniangan aniara rasionolisme dan sensualisme dengan mengemukekan suatu kritik- isme, jong menurut Kant hanja dapat dimiliki oleh orang jang sudah dewasa. Oleh Bergson kritikisme ini disedjadjarkan dengan raslonalisme.

Mariah kita ikuti sekarang bagainiana penilaion Bergson terhadap empirisme disatu yihak dan rasionalisme sesta kritikisme dilain pihak. Dalam fron! jang pertama kita dapat menjoksikan ia bataille de Bergson” ini dalam ,La pensée et Je motvant", se- dang dalum front jang Iain dalam “‘L’évotution creatrice”. Dalam hidup xita sehori-hari kita mengonal dua mutjam pengalaman, pertama pengalaman spontan dan kedua penga- laman jang telah dibentuk, Jang perlama tidak dimiliki oleh penekun* imu, karena umpamanja seoraag scatdjana menjelidiki sesuatu fakta, didalam laboratoriumnja, seal fakta tersebut sebenarnja felch merupekan beberapa fakta jong tersusun. Meskipun cemikian hal ini tak beratli. bahwa seorang pengendora betjak umpamanja tidak dapat memiliki pengalaman jang telch dibentul, pengalaman jang telah dikonstruksikan. Um-