Lompat ke isi

Halaman:Horison 01 1970.pdf/7

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini belum diuji baca

anak itu Mereka adalah anak teladan diantara anak pangreh-pradja serta kam- piun sekolahoja. Dan Bawuk? Bawuk adalah anak jang patuh. Tetapi pengertiannja tentang sifat2 baik seperti disiplin dan effisiensi pam- paknja tidak selalu sama dengan kakak nja. Disiplin dan effisiensi Bawuk bukan lah disiplin dan effisiensi djam Westmin- ster, tetapi kelintjahan burung kepodang aipagi hari. Melontjat-lontjat, berkitjau- kitjau tetapi toh selalu tidak pernah gagal menjelesaikan tugas hidupnja mengumpul kan makanan buat anak2nja disarang. Be- gitulah Bawuk. Pekerdjaan rumah selalu dia selesaikan menurut waktu jang dipi- lihnja sendiri. Selalu selesai dengan baik, tetapi tidak selalu sama dengan irama saudara'nja. Kadang-kadang bila keempat kakak2nja menjelesaikan pekerdjaan ги- mahnja diwaktu sore hari, Bawuk enak* main dibelakang kandang kuda makan tebu dengan anak mandor tebu jang sering main dengan anak Sarpan. Atau kadang2 dia enak tiduran dibale-bale mbok Inem mendengarkan tjerita2 Djawa lama seperti Timun Emas, Raden Pandji atau Adjisaka, Sebagai gantinja dia akan ber- tjerita kepada mbok Inem tentang Rood- kapje den Sneeuwwitje dan djuga Hans en Grietje. Sebagai on der teladan jang dikasihi oleh bupati dan wedana ka- rena prestasi-kerdjanja jang tinggi, dan dengan demikian djuga harus mendjaga gengsinja dengan sebaik-baiknja, ajah Ba wuk sesunggubnja tidak berapa setudju melihat ketjenderungan „bohemian" dari anaknja itu. Tiduran dibale-bale dengan seorang bediende, main-main. de- ngan anak desa dibelakang kandang kuda adalah bukan kebiasaan jang baik buat scorang anak onder jang diusaha- kan mengetjap pendidikan e uro- peesch jang baik. Tetapi tiap kali ajah-ibunja berusaha menegor Bawuk tentang bal ini, selalu sadja dengan tjara jang chas-Bawuk, Bawuk berhasil meja- kinkan orang-tuanja bahwa apa jang di- kerdjakannja itu tidak apa-apa. Dan aneh nja, ajahnja jang bisa begitu keras ter- hadap bawahannja bahkan djuga terhadap kakak Bawuk, seringkali harus banjak mengalah kepada anakoja jang bungsu ini. Matanja jang bulat besar, tertawanja jang berderai serta kebidjakan (jang memang dimilikinja sedjak dia ke- tjil) adalah gabungan unsur2 jang sangat sukar untuk ditundukkan. Sifatnja jang mandja dan pemurah adalah djuga salah satu sendjatanja jang ampuh. Dengan ro- janja Bapak-Ibunja akan ditjiumnja pada pipi, mulut, rambut, telinga dan leher me reka sampai mereka berteriak-teriak ke- gelian, setiap kali Bawuk mendapatkan upa jang dia minta dari orang-tuanja, kata²nja . ..Terima kasih, pappie! mammie !" Terima kasih, Dan kembali kedua orang-tuanja itu akan digumul-gumuloja sampai mereka kembali membentak-bentak dengan penuh kesajangan. Njonja Surjo tersenjum, Tiba-tiba dia ingat satu peristiwa dimana sifat Bawuk jang pemurah dan perasa menondjol djauh lebih njata dari kakak²nja. Waktu itu Bawuk sudah duduk dikelas lima E.L.S. Suatu sore bapak dan ibunja men dapat undangan dari kandjeng bupati buat pesta ulang-tahun bupati di kediaman kandjengan. Pesta itu boleb dikatakan besar-besaran djuga. Semua onder dan wedana didaerah kabupaten itu men- dapat undangan. Djuga tuan kontrolir, tuanbesar kedua pabrik gula jang ada di kabupaten itu semua mendapat undangan. Makanan berlimpah-limpah seperti air me ngalir, mbanju-mili kata orang Djawą. Brandi, tjiu, djenewer djuga tidak henti- nja berpindah tempat dari botol2 kegelas- gelas para tetamu. Tjerutu Regal dan Ritmeester mengepul dan bau eau de clogne Boldoot disana-sini, berselang-se ling diantara tertawa jang berderai dao suara gamelan. Waktu tuan" Belanda su- dah minta pamit dan deru mobil serta andong-preman mereka telah lenjap, di- mulailah atjara puntjak sta malam itu. Kesukan dan tajuban. Main kartu-tjina dan djoget-pergaulan, Kesukan atau main djudi ketjil-kejlilan ini (biasa djuga dise- but tjeki atau pei) adalah satu kegema- ran jang mesti diikuti oleh para prijaji waktu itu bila dia ingin diterima dan „di pandang" oleh masjarakat. Tuan dan Njo oja Surjo meskipun bukan pentjandu ke- sukan ini, toh bisa djuga main dengan baik dan bahkan kadang-kadang kuat djuga main sampai fadjar datang. Tuan Surjo sesungguhnja lebih suka main bridge dan billiard di soos pabrik ber- sama administratur dan dokter gula dari pada main kartu-tjina ini. Tetapi kesukan toh harus lebih banjak dia mainkan. Ke- sukan baginja adalah lehih merupakan bagian dari upatjara' jang mesti dia pe- nuhi dalam fungsinja schagai seorang onde r dan prijaji jang terpandang. Lagi pula bupati jang sudah tua itu ada- Jab seorang pentjandu kesukan. Dan main kartu bersama bupati, dalam satu medja adalah satu privilege. Seorang onder jang belum tua, tjukup intelek karena tamatan Mos vi a", suka karena tamatan Mi a *, suka persjaratan jang paling positip untuk 1jalon wedana, Tajubših adalah satu kesenangan jang menuntut lebih hanjak lagi sikap ser ta tjita-rasa jang chusus. Untuk ini di butuhkan perwatakan serta „type" jang HORISON / 7 chas lagi. Dia mestilah seorang Casanova jang gembira, lintjah dan luwes. Dia mes tilah seorang jang tidak kaku dan ragu' membuat gerakan2 tandak apalagi malu* dalam menghadapi liak-liuk si le dek atau ronggeng jang penuh dengan isjarat serta sonjum jang sensuil itu. Pada saat* tertentu, pada djatuhnja sesuatu pukulan gong, si penajub diharapkan oleb ledek (dan djuga oleh para hadirin) untuk men tjium pipi si ledek. Dan bila malam telah larul, bau mulut para penajub itu telab membusa dengan djenewer dan whisky, kendang telah disentakkan dengan suara jang suggestif, si penajuh boleh sadja menarik si ledek masuk kedalam kamar. Tuan Surjo bukanlah seorang penajub. Atau paling sedikit bukan seorang pena- jubang baik. Dia tidak memiliki "flair” jang diperlukan buat itu. Sekali dua kali pernah djuga dia terpaksa turun ketengah gelanggang karena wedana dan hupati me njuruhnja. Tetapi itu dia lakukan untuk sekedar menjenangkan wedana dan bupati. Dengan mendjoget sekali dua kali putaran dengan gerakanz jang tjuma lumajan sadja luwesnja dia sudah akan menjerahkan sampurnja kepada orang lain. Wedana dan bupati akan berteriak-teriak kegirang- an menertawai kekikukan onder-nja me- najub. Onder! 'Ni lihat tjara menajub jang betul!” Maka bupati akan turun ke gelanggang dan dengan gaja jang betul mengitari si ledek diiringi sorak-sorai para hadirin. menem- Tjup. tjup. tjuuup!", begitulah jang berarti mengandjurkan agar si penajub mulai menjerempet pipi si ledek. mobil Malam itu, pada waktu deru tuan Belanda telah menghilang medja* djudi segera disusun dan dipenubi oleh tamu-tamu. Njonja Surjo telah pati tempatnja satu medja dengan isteri onder Karangwuni, njonja wedana dan beberapa nĵonja penting lainnja. De mikian djuga tuan Surjo telah mulai asjik main satu medja dengan wedana, kandjeng bupati dan lain-lainnja. ta- Semetara itu digelanggang tari, dipen- dopo, gamelan telah mulai dipukul. Se- orang penari telah mulai menarikan satu tarian gambjong. Gerakannja luwes, ngan-tangannja jang melengkung seperti de- gandewa panab itu melentur-lentur ngan indahnja. Sebentar mulutnja menjim pulkan senjum serta sekali dua kali mata nja melirik ke medja2 djudi dimana para prijaji sedang pada asjik kesukun. Seben- tar sadja gerak-gerik sang penari teluh mulai menarik perhatian orang banjak. Itulah Prendjak dari Ngadirodjo, penari dan ledek tajub terkenal jang spesial di- datangkan untuk meramaikan malam pe- rajaan ilu.