Boekit terpandeng tra soedah,
Semangkin dipandeng tambah indah,
Berdebaran 'koe poenja dada,
Blakang itoe . . . . . . . . dia berada.
Djika bisa dibikin rata,
'Koe aken pentang mata,
Selaloe pandeng itoe kota,
Dimana ada hati jang pata.
Tiong-gie tida dapet landjoetken meloekisken lebih djaoeh perasa'annja, kerna bajangan Gwat jang alim terbajang menoetoepin itoe lembaran kertas jang tertjoret-tjoret item. Tiong-gie laloe tengkoerepken moekanja atas kertas dan aer-matanja jang menetes toeroen berketes-ketes meroepaken laen tjoretan atas itoe kertas jang poetih.
Sesa'at kemoedian, mendadak ia angkat kepalanja, seka itoe aer-mata dan matanja tertampak bersinar.
„Tida; akoe haroes tida toeroetin kelemahan hatikoe!” ia menggerendeng dalem hati. „Akoe dateng kemari boekan boeat djoeal aer-mata! Tapi boeat persetan pada doenia, persetan pada penghidoepan dan aken loepaken bahoea akoe hidoep . . . . . . . . . . . .!"