Halaman:Garuda Perdamaian (Garuda Indonesia, 1957).pdf/130

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


maqdis dan Jerusalem). Dapat dilihat, bahwa mereka itu benar-benar mentjerminkan satu Pasukan jang mempunyai moreel dan achlak jang tinggi. Mereka giat dan radjin. Semangat mereka pun baik.

Suara Pers:

Ikut sertanja Pasukan Garuda Indonesia dalam Pasukan Darurat P.B.B. disambut dan diterima dengan rasa gembira oleh seluruh dunia Arab dan Islam. Salah satu sebab jang terpenting ialah faktor agama dan perikemanusiaan.

Indonesia semendjak merdeka dan bebas dari pendjadjahan asing jang terkutuk itu terus-menerus berdjuang membela Bangsa-bangsa jang masih terdjadjah.

Indonesialah pembela pertama bagi segala persoalan Negara-negara Arab digelanggang internasional. Maka Indonesia bukan sadja dipandang sebagai kawan oleh Bangsa dan Dunia Arab, tetapi adalah sebagai saudara kandung mereka sendiri.

Oleh karena itu masuknja dan ikut sertanja Pasukan Garuda Indonesia dalam Pasukan Darurat P.B.B. itu disambut oleh setiap orang Islam dan orang Arab dengan penuh kegembiraan dan rasa puas, karena Indonesia sendiri mempunjai tempat dan kedudukan jang istimewa dalam djiwa setiap Putera Arab.

Apalagi ikut sertanja Pasukan Indonesia dalam Pasukan Internasional itu tepat saatnja. Sesudah tentara Inggeris dan Perantjis melakukan serangan atas Mesir (salah satu negara Arab), datanglah Pasukan Indonesia memikul tanggung-djawab internasional dalam Pasukan P.B.B.

Dengan adanja Pasukan Garuda Indonesia ini tertjegahlah serangan-serangan selandjutnja atas bumi Arab jang dilakukan oleh Inggeris-Perantjis bersama-sama dengan Israel.

Pasukan Garuda Indonesia bersarna-sama dengan Pasukan P.B.B. telah berhasil menghentikan dan mentjegah peperangan berkobar terus. Pendek kata Pasukan P.B.B. telah mendjalankan tugasnja sebaik-baiknja. Dan sesudah tugasnja itu selesai, sudah seharusnjalah mereka meninggalkan daerah ini dan menjerahkan pendjagaan Negeri ini kepada Bangsa dan Puteranja sendiri.

126