Halaman:Biografi tokoh kongres perempuan indonesia pertama.pdf/92

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

84

Dengan keserasian dan keharmonisan itu beban yang berat dijalani dengan penuh optimis. Keterpaduan pemikiran suami isteri ini dalam kehidupan rumah tangga merupakan modal dasar terhadap ketenangan hidup.

Pak Driyowongso perawakannya tinggi besar dan memiliki kemampuan yang lancar dalam berbicara, kritis dan "korek" terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda yang banyak melanggar kemanusiaan dan keadilan. Dengan kritiknya yang tajam menyebabkan Driyowongso keluar masuk tahanan pemerintah kolonial Belanda. Hal ini dialami saat ia sebagai pegawai pegadaian di Pasuruhan. Karena tulisannya yang begitu tajam itu menyebabkan Pak Driyowongso dipenjara di Magelang selama dua tahun. Dalam kondisi yang demikian itu, keluarga yang ditinggalkan di rumah menjadi menderita. Honorarium tulisannya dari surat kabar terhenti karena ia masuk penjara.

Penderitaan Ny. Driyowongso beserta keluarganya di Pasuruhan mendapat perhatian Pengurus Muhammadiyah Cabang Pasuruhan maupun dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta. Baik pak Driyowongso maupun isterinya di Pasuruhan termasuk aktivis Muhammadiyah, sehingga dalam keadaan menderita itu keluarganya mendapat perhatian khusus dari Muhammadiyah. Karena itu pada tahun 1922 KH. Fakhruddin memboyong Ny. Driyowongso sekeluarga untuk pindah dari Pasuruhan ke Yogyakarta. Ikut dalam boyongan ini Moh. Yasir (kemenakan) dan Muhammad Noor (Driyodipurwo) adik Marakati.

Sesampai di Yogyakarta Driyowongso tinggal di Kampung Kauman. Dalam keadaan menderita ini, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari diperoleh dari honorarium Driyowongso sebagai pengurus Muhammadiyah. Di samping itu Ny. Driyowongso mempunyai pekerjaan sambilan yaitu membirui kain yang hendak dibatik dengan dibantu tiga orang tenaganya. Waktu itu masyarakat Kampung Kauman bekerja sebagai pengusaha batik. Ada di antara masyarakat Kauman yang telah maju usahanya sebagai juragan batik, dan ada pula yang menjadi pedagang dengan menjual barang-barang hasil batikan