Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/60

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


masa yang lampau akan berarti kemunduran apabila dibandingkan dengan negara-negara lain yang tidak terhenti dalam perkembangannya. Tetapi mencoba-coba pembaharuan begitu saja pun sangat berbahaya. Yang baru harus didasarkan kepada hal-hal dari masa lampau yang dapat diharapkan mempunyai masa depan yang baik. Seorang ahli politik pada mmasa ini memang harus senantiasa mengingat kenyataan-kenyataan yang dihadapinya sekarang, tetapi ia pun harus sekali-kali melihat ke arah masa yang silam. Pada waktu ini hal itu tidak mudah baginya, ia harus minta bantuan ahli-ahli sejarah yang juga mempunyai pengtahuan di lapangan ekonomi-sosial, yang dapat memberikan bahan-bahan tentang bentuk-bentuk organisasi apa saja yang pernah ada di masa yang lampau dan bagaimana perkembangannya.

Tidak perlulah rasanya kami menerangkan bahwa di dalam uraian di bawah ini kami hanya dapat meninjau satu segi saja dari masalah-masalah perkembangan masyarakat Indonesia pada zaman dahulu. Kami hanya akan membatasi diri pada satu soal saja sekedar akan menunjukkan apa yang antara lain dapat kami pelajari dari prasasti-prasasti tentang keadaan masyarakat pada waktu itu. Ini memang salah satu dari pertanyaan-pertanyaan yang teramat menarik perhatian, ialah tentang golongan-golongan di dalam kerajaan-kerajaan kuno di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebelum ada pengaruh Barat sama sekali. Bagi mereka yang sama sekali mempelajari buku-buku dan karangan-karangan tentang sejarah kuno Indonesia teranglah bahwa karangan-karangan yang ada itu tidak ada memberikan uraian-uraian tentang soal tersebut. Hal itu memang karena pengetahuan kita tentang masyarakat Jawa Kuno masih sangat sedikit.

Dan itu disebabkan tidak saja karena penyelidikan tentang sejarah tanah air kita masih sangat kurang sempurna jumlah ahli-ahli yang bekerja di lapangan itu selalu hanya sedikit sekali jika dibandingkan dengan luasnya lapangan penyelidikan tetapi barangkali lebih-lebih lagi karena sumber-sumber yang terpenting untuk itu, ialah prasasti-prasasti Jawa Kuno, sukar dicapai. Hingga kini penyelidikan terutama berpusat kepada apa yang kami sebut diatas "rangka kronologi”-nya. Tentang masyarakat Jawa Kuno masih saja terdapat salah pengertian.

Orang akan sering menjumpai keterangan di dalam buku-buku bahwa masyarakat Jawa Kuno bersifat feodal, bahwa ia dibagi dalam 4 kasta, bahwa sang prabu-prabu minta dipuja-puja sebagai dewa, bahwa kerajaan-kerajaan pada zaman dahulu hanya kecil saja, tetapi sang prabu-prabunya selalu memeras rakyat dengan bermacam-macam jalan untuk dapat mendirikan candi-candi yang sebesar-besarnya. Itulah keterangan-keterangan yang biasa kita jumpai dengan beberapa variasi di dalam kitab-kitab yang bersifat populer maupun bersifat ilmu pengetahuan. Adakah hal itu ditetapkan oleh penyelidikan prasasti-prasasti? Ambillah sebagai contoh keterangan bahwa masyarakat Jawa Hindu bersifat feodal. Suatu istilah seperti feodal belum lagi diingat bahwa sesungguhnya tiap orang memberikan arti yang berlain-lainan sangatlah menyesatkan. Kalau orang mendengar kata feodal, maka pertama-tama orang akan teringat akan keadaan-keadaan di dalam abad pertengahan di Eropa dengan golongan bangsawan dan golongan agama yang mempunyai tanah-tanah yang luas, yang dapat mempergunakan tenaga penduduk yang tinggal di daerahnya dengan sesuka hati, dan yang sedikit banyak memeras petani-petani yang hidupnya tergantung dari mereka itu (hal itu tergantung kepada keadaan-keadaan setempat dan terutama kepada anggapan-anggapan perseorangan dari wakil-wakil kepada golongan tersebut). Hubungan yang demikian itu ada juga dahulu di Jawa (dengan seribu satu macam perbedaan-perbedaan kecil), misalnya di kerajaan-kerajaan Banten, Cirebon, dan Mataram dalam abad ke-18. Orang-orang yang berpikiran liberal dalam pertengahan kedua abad ke-19 dan pertengahan pertama abad ke-20 sering-sering mengemukakan keadaan-keadaan itu dengan dilebih-lebihkan. Dalam hal itu orang biasanya lupa bahwa hubungan-hubungan dalam abad ke-18 yang dikenal lebih baik itu tidak dapat dijadikan ukuran, karena justru pada waktu itu keadaan-keadaan di Jawa sangat bertambah buruk karena sebab-sebab dari luar.

Di antara sebab-sebab dari luar yang kami maksudkan itu yang terpenting ialah tekanan yang berat dari fihak V.O.C. atas kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan-kerajaan di Jawa telah menjadi miskin karena hampir seluruh pesisir jatuh ke tangan V.O.C. dan perdagangan dan pelayarannya mendapat saingan yang hebat dari kompeni dengan monopolinya. Meskipun demi-

55