Tjerita Si Umbut Muda/2

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tjerita Si Umbut Muda diterjemahkan oleh Tulis Sutan Sati
Menimang

2. MEMINANG

Esa tali dua pidjakkan,
djala putus bawa berenang.
Esa djadi, dua tidakkan,
Kata putus badan 'nak senang.

Berdjalan si Umbut Muda — dinaiki kuda nan belang — dipatju berbalik pulang—sudah mendua-dua katak; dekat semakin hampir — hampir dekat 'kan tiba — tibalah ia tengah halaman; dipautkannja kuda sekali — lalu naik keatas rumah. Tegak ketengah bermenung — tegak ketepi menegun — penglihatan 'lah berapi-api — pemandangan'lah kelam-kabut; terus ia rebah sekali — tidur menangkup kebantal — menangkup sambil menangis — menangis mengesak-esak. Air mata berderai-derai — djatuh dua, djatuh tiga — bagai intan putus pengarang — bagai manik putus talinja—bagai bonai[1] direntak pagam[2]. Baru sebentar ia tidur — dihampir oleh ibunja; dilihat si Umbut menangis — mata bengkak mukanja muram — bertanja ibu si Umbut:

„Bujung! apa engkau rusuhkan — apakah nan engkau tangiskan — mengadjikah dialahkan orang — dunia orangkah nan tak terlawan?”

Mendjawab si Umbut Muda: „Bukan hamba alah mengadji — bukan hamba alah berdunia[3] — bukan hamba alah memakai.

Kalit-kalit dari Melaka,
hinggap dipasar Pajakumbuh.
Terkelik iman nan tjelaka,
kepada puteri nan bertudjuh.

O ibu, udjarku ibu-djika ibu kasihkan hamba — kalau ibu sajang kan hamba — pergilah ibu hamba suruh — pergilah ibu hamba seraja — ibu isi untjang ibu — tiap sudut tiap hikmat — tiap liku tiap pekasih — talinja sipalit gila[4]. Ibu pergilah kesana — keranah ke Kampung Aur — kerumah puteri nan bertudjuh — kerumah Puteri Gelang Banjak — Ibu tanjakan — benar-benar — ibu berunding elok-elok;

Esa tali dua tidjakkan,
djala putus bawa berenang.
Esa djadi, dua tidakkan,
kata putus badan 'nak senang.

Berbuah katjang dibandar,
Buahnja nasi-nasian
Suruh katakan kata nan benar,
djangan kita nati-nantian.

Katakan begitu oleh ibu — kepada puteri Gelang Banjak!”

Berkemas ibu si Umbut — dikunjah sirih sekapur — ditjari ketika nan elok — diisi-untjang lengkap-lengkap — lalu tarun dua sekali. 'Lah serentang dua rentang — dekat semakin 'kan hampir — hampir dekat 'kan tiba tibalah ia tengah halaman — dihalaman rumah si Gelang. Mengimbau ibu si Umbut:„O upik, Puteri Gelang Banjak — adakah engkau dirumah kini — mendjenguk agak sebentar !”

Berkata ibu si Gelang: „O upik Puteri Gelang Banjak.

Upik tingkatlah bengkudu,
upik pandjatlah embatjang.
Upik lihatlah kepintu,
siapakah orang nan datang ?”

'Lah ditingkatnja bengkudu,
'lah dipandjatnja embatjang.
'Lah dilihatnja kepintu,
ibu si Umbut nan datang.

Terliuk pinggang jang lemah — terdorong[5] bahu jang kembang — merentak subang dibahu — mengilat tjintjin didjari — terurai — rambut nan pandjang — berdjela — djela dilapik — berbelit — belit dipinggang — berkebut-kebat ditumit. Gemilang panau didada — panau nan empat bersaudara — bernama belaka keempatnja : dipunggung si pikau terbang — didada si pujuh laga — dikening panau menindjau — dilengan panau asli. Keningnja kiliran tadji, hidungnja pantjung terlutuk telinga djerat tertahan — bibirnja limau seulas — kerat kuku bulan'kan habis — keratannja bintang tertabur; lehernja bertingkat empat — setingkat ditutup badju — setingkat diimpit rambut — setingkat aliran peluh — setingkat aluran dokoh.

„O ibu tuan Umbut Muda!”, katanja si Gelang Banjak

„Tjempedak tengah halaman,
didjolok dengan empu kaki.
Djangan lama tegak dihalaman,
itu tjibuk, basuhlah kaki.

ibu naiklah dahulu.”

'Lah naik ibu si Umbut — 'lah sebentar tengah rumah — 'lah dua bentar tengah rumah — duduk bersirih-sirihan — makan sirih sekapur seorang: habis manis sepah terbuang — kelantja tinggal dirangkungan — rasa'lah habis tertelan — sari 'lah keubun-ubun. Sedang elok pertuturan — sedang longgar perkabaran — sedang terbit kira-kira — sedang dapat agak-agak — lalu diangsur perundingan — dimulai malah pertututan, berkata ibu si Umbut: „O, kakak ibu si Gelang!

Bukan orang Kinari sadja,
Kinari anak 'rang Talang.
Bukan hamba kemari sadja,
gedang maksud nan didjelang.

Ikan terkilat, djala tertjampak,
djala terendam masuk lubuk,
pajah badan bergendang sadja.
Niat besar terkatakan tidak,
bagai buah tangisan beruk,
pajah oleh memandang sadja.”

Berkata ibu si Gelang:

„Ada malah ikan terkilat,
mengapatah tidak didjalakan.
Ada malah kakak berniat,
mengapatah tidak dikatakan?”

Mendjawab ibu si Umbut:

„Maka tidak terdjalakan,
tindih bertindih kaki dulang.
Maka tidak terkatakan,
kakak pemilih kata orang!”

Dengarkan sebuah lagi!

„Lalang di Kota Pandjang,
dipintal dikebat empat.
Dirantang runding akan pandjang,
elok dipintal supaja singkat.

Benar disini surat nahu,
kalam tersisip atas kasau.
Benar disini burung mau,
hati berahi hendak mentjekau.”

Berkata ibu si Gelang:

„Beringin diatas gunung,
uratnja berkelok-kelok.
Kalau ingin kakak di burung,
tjarilah getah nan elok.

Uratnja berkelok-kelok,
lalu ke si Kuran-kuran.
Kalau dapat getah nan elok,
unggas 'lah sudah ketahuan.”

Mendjawab ibu si Umbut:

„Lalu ke si Kuran-kuran,
berdjalan menempuh semak.
Unggas 'lah sudah ketahuan,
nanti kurantjungkan demak.”

Berkata ibu si Gelang:

„Berdjalan menempuh semak,
dipantjung kaki tjendawan.
Tidak telap dirantjungkan damak.
terbangnja menjisi awan.”

Mendjawab ibu si Umbut:

„Dipantjung kaki tjendawan,
beliung diatas atap.
Terbang djika menjisi awan,
nanti kesuluh dengan asap.”

Berkata ibu si Gelang:

„Beliung diatas atap,
kaju rukam hulu seraut.
Kalau 'kak suluh dengan asap,
unggas membenam masuk laut.”

Mendjawab ibu si Umbut:

„Kaju rukam hulu seraut,
gendang nan lima dalam buluk.
Unggas membenam masuk laut,
djala sutera mengerat sisik.”

Berkata ibu si Gelang:

„Gendang nan lima dalam bilik,
gendang orang Pekan Sabtu.
Djalan sutera mengerat sisik,
unggas lari kerongga batu.”

Mendjawab ibu si Umbut:

„Gendang orang Pekan Sabtu,
empelas didalam padi.
Unggas lari kerongga batu,
kuremas tuba supaja mati.”

Berkata ibu si Gelang:

„Empelas didalam padi,
si Tjulik kotanja rendah.
Dituba unggas tak mati,
ia menggerek masuk tanah.”

Mendjawab ibu si Umbut:

„Si Tjulik kotanja rendah,
silaras[6] dipelimbahan.
Unggas menggerek masuk tanah,
dua belas tembilang makan.”

Berkata ibu si Gelang:

„Kelapa dibelah-belah,
terletak diatas pintu.
Mengapalah tertalah-talah,[7]
dahulu tidak begitu.”

Mendjawab ibu si Umbut:

„Bukan orang Kinari sadja,
kerimba mengambil rotan,
terbawa dirotan muda.
Bukan hamba kemari sadja,
kemari membawa pesan,
ialah pesan si Umbut Muda.”

Berbunji bedil di Ulakan,
'rang perang di Lima Kota,
berlari berbanjak-banjak.
Kata tak’kan disembunjikan,
si Umbut Muda datang 'nak semenda,
kepada Puteri Gelang Banjak.”

Berkata ibu si Gelang: „Terhadap kepada rundingan itu — dengarkan benar oleh kakak:

Dirimba tidak bertjapa,
tumbuh dilurah dekat pantai.
oleh karena tidak mengapa,
tinggal diorang 'kan memakai.

Kakak berundinglah dengan si Gelang — kakak berbicara dengan dia.

Teluk baik kuala tenang,
djuragan masuk muaranja.
Buruk baik kata si Gelang,
tidak hamba dua bitjara!”

'Lah dipaling jadi rundingan — diasak kepada si Gelang. Berkata ibu si Umbut; „O upik, Puteri Gelang Banjak — dengarkan benarlah oleh 'kau:

Esa tali dua tidjakkan,
jala putus bawa berenang,
djala 'nak 'rang Dangung-dangung.
Esa djadi, dua tidakkan,
kata putus hati 'nak senang,
djangan lama kami digantung.”

Menjawab si Gelang Banjak: „O ibu, udjarku ibu — djika itu ibu tanjakan — benar pula itu ibu. Tetapi hanja sedikit — minta tangguh hamba dahulu — barang setahun dua ini; belum hamba akan berdjundjungan — belum hamba akan bersuami — belum hamba terniat berkawan — hamba hendak begini sadja. Ibu katakan baik-baik — kepada tuan Umbut Muda.”

Mendengar kata demikian — termenung ibu si Umbut — terpikir didalam hati — angan lalu paham tertumbuk — awak mau, orang enggan — diurut dada lalu pulang. Sambil turun ia berkata: „O upik Puteri Gelang Banjak!

Anak todak mudik kehulu,
bawa keruntung dua-dua.
Ibu hendak pulang dahulu,
kalau untung berbalik pula.”

Mendjawab si Gelang Banjak: „Dengarkan pula oleh ibu:

Kemanalah tjondong kerambil,
dulang-dulang rebah kebandar.
Kemari tidak dipanggil,
pulangpun tidak berantar.

Hamba lepas dengan hati sutji — hamba lepas dengan mulut manis — hamba lepas dengan muka djernih.”

  1. Nama sematjam buah.
  2. Sebangsa balam.
  3. Beradu kemewahan.
  4. Djimat perkasih.
  5. Terhujung.
  6. Sematjam belalang.
  7. Tergesa-gesa