Propinsi Sumatera Utara/Bab 9

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

SUMATERA UTARA.

Keadaan genting jang dihadapi Pemerintah Pusat diikuti dengan suasana waspada di Atjeh, Sumatera Timur dan Tapanuli. Pada tanggal 20 Djuni 1947 di Kutaradja diadakan persiapan-persiapan jang mengenai pertahanan pantai dan pengawalan umum untuk menghadapi setiap kemungkinan. Keadaan di Sumatera Timur tidak begitu menguntungkan. Koordinasi pertahanan dan kesatuan komando sudah dapat ditegakkan, akan tetapi susunan dan organisasi pertahanan seluruhnja belum bulat. Bentrokan bersendjata antara Napindo Penggempur dengan Ksatria Pesindo, dengan kemudian disusul oleh pembentukan Tentera Marsuse banjak mempengaruhi keadaan pertahanan dan semangat peradjurit-peradjurit digaris demarkasi Medan Area, terutama sekali dibahagian sektor Timur dan sektor Selatan. Tentera Marsuse diakui resmi oleh Tentera Komandemen Sumatera sebagai kesatuan Legioen Penggempur dengan komandannja Kolonel Timur Pane.

Sektor Barat Medan Area dengan sebahagian dari sektor Medan Utara didjaga oleh Barisan Mudjahidin dengan tentera dari Atjeh dibawah komando Resimen Ι jang dipimpin oleh Major Hasan Ahmad.

Dari Tapanuli terus mengalir bahan-bahan perbekalan dengan pemuda-pemuda.

Disekitar garis demarkasi Medan Area bertahan sedjumlah 10.000 pemuda, sebagian besar mempunjai persendjataan jang ringan dan setengah berat. Persendjataan jang berat tjuma ada disepandjang garis pertahanan di sektor Barat.

 Keadaan tanah Sumatera Timur jang datar tidak sesuai untuk pertempuran gerilja. Sifat persendjataan tidak sesuai untuk melakukan pertempuran berhadap-hadapan, apalagi dimana musuh akan mempergunakan pesawat-pesawat udara dan tank-tank. Keadaan jang sekiranja dapat menguntungkan ialah melakukan penjerbuan serentak kekota Medan.

 Pada tanggal 21 Djuli 1947 pesawat-pesawat udara Belanda mendjatuhkan pamflet-pamflet, jang menjatakan bahwa tentera Belanda akan melakukan aksi pembersihan untuk katanja menumbangkan pemerintahan jang mementingkan dirinja sendiri.

 Residen/Ketua Dewan Pertahanan Daerah Sumatera Timur dengan tjepat mengundang seluruh anggota Dewan Pertahanan Daerah bersama wakil ketuanja, jaitu Komandan Dipisi X Sumatera, Kolonel Husin Jusuf. Atjara jang dibitjarakan jalah kegentingan suasana, dan persiapan jang setjepatnja untuk menghadapi keadaan perang. Pembitjaraan dilangsungkan di Pabatu, 10 kilometer dari ibu kota Keresidenan Sumatera Timur Tebingtinggi (Deli). Komandan Dipisi X Kolonel Husin Jusuf belum begitu jakin akan kegentingan suasana, malahan masih menganggap kemungkinan pamflet- pamflet jang disebarkan oleh pesawat-pesawat udara Belanda itu sebagai suatu tindakan intimidasi.

 Rapat Dewan Pertahanan Daerah pada pagi tanggal 21 Djuli 1947 di Pabatu itu berhubung dengan pendirian Kolonel Husin Jusuf belum dapat mengambil persiapan jang bulat.

 Keadaan sesungguhnja sudah dalam peperangan. Pada pagi buta 21 Djuli 1947 tentera Belanda sudah menjerang garis pertahanan di Medan Utara. Pesawat-pesawat udara Belanda dengan sekonjong-konjong telah menjerang Bindjei dan Markas Resimen Ι dengan bom senapang mesin. Tentera Belanda jang berhasil menobros garis pertahanan di Medan Utara bergerak ke Medan Barat, sehingga pertahanan jang ada di Medan Barat diserang dari belakang. Meriam-meriam dan sendjata berat lainnja terpaksa ditinggalkan di Medan Barat oleh sebab serangan Belanda jang tiba-tiba datang dari belakang garis pertahanan itu. Sektor Timur dan sektor Barat diserang oleh pesawat-pesawat udara Belanda dengan bom dan senapang mesin.

 Pimpinan Biro Perdjuangan Nathar Zainudin dan A. Wahab Siregar dengan tjepatnja melapurkan keadaan itu kepada komandan Dipisi X di Markasnja di Bahdjambi.

 Komandan Dipisi X Kolonel Husin Jusuf menjatakan bahwa pos perhubungan di Bindjei dan di Medan Barat tidak memberi djawaban lagi. Dari pos perhubungan di Pantjur Batu diterima chabar bahwa Pantjur Batu diserang oleh tentera Belanda. Pada sorenja, 21 Djuli 1947, Pantjur Baru djatuh ketangan musuh.

 Sehabis perintah harian Djenderal Sudirman, maka Komandan Dipisi X Kolonel Husin Jusuf mengutjapkan perintah hariannja untuk Tentera dan seluruh angkatan jang bersendjata di Sumatera Timur dan Atjeh. Pada malam itu djuga, 21 masuk 22 Djuli 1947 diadakan sidang Dewan Pertahanan Daerah lengkap ditempat kediaman Residen Mr. Abu Bakar Djaar di Tebingtinggi Deli. Persiapan dan pembagian pekerdjaan ditetapkan.

Pada tanggal 21 Djuli 1947 pagi buta Markas Pertahanan Ksatrya Pesindo di Lhoʼ Nga (Atjeh) diserang Belanda dengan bom dan senapang mesin.

Dalam keadaan jang demikian inilah Paduka Jang Mulia Wakil Presiden sampai di Sumatera Timur.

Pada 23 Djuli 1947 Wakil Presiden mengadakan rapat umum di Tebingtinggi Deli, jang pada malamnja disusul dengan rapat terbatas bersama dengan pemimpin-pemimpin perdjuangan di Sumatera Timur. Dengan langsung Paduka Jang Mulia Wakil Presiden memeriksa keadaan, dan mengatur beberapa persiapan terutama dalam lapangan ammunitie untuk diambil dari daerah Atjeh sebagai persediaan.

Pada tanggal 26 Djuli 1947, maka ,,Barisan Harimau Liarʼʼ dan Napindo ditimbang-terimakan antara M. Jacoeb Siregar beserta Mohamad Saleh Oemar dengan Kolonel Husin Jusuf dan Kolonel H. Sitompul dari Dipisi X mendjadi ,,Tentera Nasional Indonesiaʼʼ, dibagi dalam dua Brigade: jaitu Brigade ,,Aʼʼ dan Brigade ,,Bʼʼ. Kesatuan Napindo dan B.H.L. sebelah kiri djalan kereta api dari Siantar ke Pangkalan Brandan, terutama meliputi Kabupaten Simelungun, Tanah Karo dan Langkat mendjadi ,,Brigade A Dipisi X Sumateraʼʼ dibawah pimpinan Major Selamat Ginting. Kesatuan Napindo dan B.H.L. disebelah kanan djalan kereta api dari Pematang Siantar ke Pangkalan Brandan, terutama sekali meliputi Kabupaten Deli/Serdang mendjadi kesatuan ,,Brigade B Dipisi X Sumateraʼʼ jang dipimpin oleh Major Bedjo.

Penjerahan timbang terima ini disaksikan oleh Pimpinan Biro Perdjuangan Daerah 49 dari Kementerian Pertahanan Nathar Zainuddin dan A. Wahab Siregar di Markas T.N.I. Dipisi X Bah Djambi.

Satu peristiwa formil jang sangat menggembirakan bagi Kolonel Husin Jusuf dan M. Jacoeb Siregar.

Akan tetapi, apakah peristiwa formaliteit ini memberi kesan bagi keadaan pertahanan tanah air di Sumatera Timur?

Pemimpin-pemimpin Kelasjkaran datang menghadap Paduka Jang Mulia Wakil Presiden di Pematang Siantar mengikrarkan djandji bahwa Medan akan direbut.

Pasukan-pasukan di Medan Timur dan di Medan Selatan masuk menjerbu kekota Medan. Pasukan dari Medan Timur sempat sampai Djalan Serdang dikota Medan, akan tetapi pasukan jang menjerbu dari Medan Selatan dipukul mundur oleh tentera Belanda di Kampung Baru jang membawa banjak korban, diantaranja Sakti Lubis.

Dalam pada itu garis pertahanan di Barat Daja Medan jang dipimpin oleh Kajamudin Langlangbuana dapat ditembus oleh pasukan tank Belanda jang bergerak dari Deli Tua, setelah lebih dulu mengalami serangan hebat dari pesawat-pesawat udara Belanda dengan bom dan senapang mesin. Pesawat-pesawat udara Belanda terus-menerus menggempur Medan Timur sedang pasukan Belanda jang berhasil menobros garis pertahanan di Medan Selatan bergerak sebahagian ke Tandjung Morawa dan sebahagian ke Medan Timur. Hal ini menjebabkan maka pasukan-pasukan dari Medan Timur jang masuk menjerbu ke Medan terpaksa mundur dan mentjari djalan keluar dari kepungan jang dilakukan oleh tentera Belanda.

Akub Lubis mendapat luka berat di Medan Timur, jang kemudian membawa kegugurannja.

Pada tanggal 27 Djuli 1947, bala bantuan tentera Belanda jang didatangkan dari Palembang mendapat di Pantai Tjermin. Tentera dan Lasjkar melakukan bumi hangus.

Pemerintah Keresidenan Sumatera Timur pindah ke Pematang Siantar.

Dengan pendaratan bala bantuan tentera Belanda di Pantai Tjermin itu, maka keadaan pertahanan sudah dapat dikatjau-balaukannja.

Pada tanggal 29 Djuli 1947 pagi, setelah menobros pertahanan dititi Rantau Laban, tentera Belanda memasuki Tebingtinggi, dan pada hari itu djuga meneruskan gerakannja dengan dikawal oleh pesawat-pesawat udara ke Pematang Siantar. Pada djam 5 hari itu djuga tank-tank tentera Belanda sudah dapat memasuki Pematang Siantar.

Pada saat tank-tank Belanda sampai di Pematang Siantar, Paduka Jang Mulia Wakil Presiden dengan Gubernur Sumatera Mr Teuku M. Hassan meninggalkan Pematang Siantar dengan motor S.T. I, Chrysler putih, mengambil djalan ke Pematang Raja, Kabandjahe, Merek, Siborong-borong, Sibolga menudju ke Bukittinggi.

Motor jang ditompangi oleh Wakil Presiden ini dikedjar oleh pesawat udara, Belanda dengan tembakan senapang mesin. Auto Mercedes kepunjaan Dr. Sunario jang menjusul dibelakang Chrysler putih itu terbakar kena tembak.

Residen Sumatera Timur Mr. Abu Bakar Djaar menjingkir ke Kabandjahe, dan dari sana ke Tigabinanga.

Tentera, Lasjkar dan Polisi petjah dan mundur dalam keadaan jang tidak teratur.

Dalam pada itu, Tandjung Pura sudah dapat diduduki oleh musuh. Pada tanggal 1 Agustus 1947, setelah menembus perlawanan di Sipisopiso, tentera Belanda telah dapat menduduki Brastagi dan Kabandjahe.

Pada tanggal 4 Agustus 1947, djam 12.30 siang, tentera Belanda memasuki kota Tandjung Balai.

Pada tanggal 4 Agustus 1947, bersamaan saat dengan pihak Belanda, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia pada djam 12 tengah malam memerintahkan penghentian tembak-menembak dan tetap tinggal ditempatnja masing-masing.


ATJEH

Pada tanggal 25 Djuli 1947, sidang Dewan Pertahanan Daerah Atjeh memutuskan berlakunja mobilisasi umum dimulai djam 10.30 pagi. Kepada seluruh rakjat diperintahkan untuk berlatih diri guna persiapan perang gerilja. Panglima Dipisi Tengku Tjhiʼ Ditiro dan Panglima Dipisi Rentjong memerintahkan kepada seluruh Lasjkar Mudjahidin dan segenap anggota Masjumi dan bahagian-bahagiannja, dan kepada seluruh Lasjkar Ksatria Pesindo dan segenap anggota-anggota Pesindo, supaja:

  1. Dimana sadja terdapat gempur sadja musuh dengan tak usah menunggu komando.
  2. Bekerdja samalah dengan Tentera dan Polisi dalam melakukan segala tindakan jang berguna buat Negara dan merugikan musuh.
  3. Terhadap pengatjau-pengatjau Negara dan orang-orang jang mengharap kedatangan Belanda ambillah tindakan jang tepat dan keras.
  4. Sesuatu tempat atau kota jang terpaksa kita tinggalkan, hantjurkanlah segala-galanja jang berguna bagi musuh.
  5. Siang dan malam latihlah diri dengan perang gerilja, karena kita akan berperang bertahun-tahun lamanja.

Pada tanggal 12 Agustus 1947, dalam pertemuan Dewan Pertahanan Daerah (DPD) dengan pemimpin-pemimpin partai: Masjumi, PNI, PKI, Pesindo, PGRI, MPBI, SBMI, Muslimat Masjumi, Serperi, Serbuka, DPP, ETI, Pusa dan Muhammadijah telah dibentuk sebuah badan koordinasi partai-partai daerah Atjeh jang didalamnja bergabung semua partai-partai diatas. Sebagai ketua dipilih Amelz, dibantu oleh Osman Raliby dan M. Abduh Sjam.

Tudjuan dari Badan Koordinasi Daerah Atjeh ini ialah:

  1. Mempertahankan (memperdjuangkan) kedaulatan dan kemerdekaan 100% dari Negara Republik Indonesia atas dasar kesatuan dan persatuan segala bagian-bagiannja terhadap luar dan dalam.
  2. Membina Negara Republik Indonesia jang berdasarkan kedaulatan rakjat dan keadilan sosial.
  3. Mengusahakan dan menegakkan suatu pemerintahan jang kokoh, progressief dan souverein.
  4. Melaksanakan mobilisasi umum.
  5. Menjesuaikan kehidupan politik, ekonomi dan sosial untuk kepentingan pertahanan tanah air.

Pada tanggal 17 Agustus 1947, Ulang-tahun II Kemerdekaan Indonesia jang kebetulan djatuh bersamaan dengan hari raja Idilfitri, dirajakan dengan gembira oleh penduduk Atjeh. Di Kutaradja, setelah selesai sembahjang Ied, lalu berlangsung upatjara pembukaan tugu Peringatan Kemerdekaan di Tamansari. Residen Atjeh membatjakan tekst ,,Proklamasi Kemerdekaanʼʼ dan seorang anggota Badan Pekerdja Dewan Perwakilan membuka selubung tugu jang berwarna merah dan putih. Sirene penghormatan dibunjikan dan semua penduduk mengheningkan tjipta. Setelah dinjanjikan Lagu Kebangsaan, memperingati pahlawan jang tewas, lalu Residen membatjakan Amanat Presiden. Malamnja digedong Atjeh Bioskop berlangsung rapat umum jang mendapat kundjungan ramai dari penduduk. Golongan Tionghoa di Atjeh membantu perdjuangan bangsa Indonesia sepenuh tenaganja.

Dengan ketetapan Wakil Presiden No. 3/BKP/U/47, tanggal 26 Agustus 1947 di Bukit-Tinggi dinjatakan sebagai berikut :

  Kami Wakil Presiden Republik Indonesia, Wakil Panglima Tertinggi; mendjalankan kekuasaan Pemerintahan Pusat Republik Indonesia untuk sementara waktu di Sumatera;

  menimbang, bahwa guna kepentingan pembelaan dan pertahanan negara dan untuk mendjaga keamanan perlu sekali di Sumatera diadakan daerah militer;

  mengingat Undang² Keadaan Dalam Bahaja tgl. 6 Djuni 1946 No. 6, dan Peraturan Dewan Pertahanan Negara No. 30 pasal 1, surat dari Panglima Tentera Komandemen Sumatera tgl. 25/8-1947 No. 5/PLL/BKP/47; memutuskan, ditetapkan sebagai daerah militer tempat sebagai dibawah ini :

  a. Keresidenan Atjeh seluruhnja.

  b. Kabupaten Langkat.

  c. Kabupaten Tanah Karo.

  b. dan c. termasuk dserah Keresiden Sumatera Timur.

Peraturan ini mulai berlaku pada tgl. 26 Agustus 1947.

Paduka Jang Mulia Wakil Presiden mengangkat Tgk. M. Daud Beureueh mendjadi Gubernur Militer Keresidenan Atjeh, Kabupaten Langkat dan Kabupaten Tanah Karo dengan pangkat Djenderal major.

Untuk pembantu-pembantu beliau ditetapkan :

  1. Major Sofjan Harun dari Komandemen Artillerie Komandemen Sumatera.
  2. Kapten Nainggolan, Polisi Tentera Div. X,
  3. Kolonel Hopman Sitompul, Kepala Markas Umum Div. X.
  4. Jakob Siregar, dengan pangkat Let-kolonel tituler.
  5. Sutikno Padmo Sumarto, Kepala Kehakiman Atjeh, dengan pangkat Let-kolonel tituler.
  6. H. Halim Hasan, anggota DPD Sumatera Timur dengan pangkat Let-kolonel tituler.
  7. Tgk. Abdul Wahab, Bupati Pidie, dengan pangkat Let-kolonel tituler
  8. A. Hasjmy, dengan pangkat major.
  9. Nja' Neh, dengan pangkat major.
  10. Hasan Ali dengan pangkat major tituler.
  11. Said Abubakar, dengan pangkat major tituler.

Pada tanggal 10 September 1947, Sultan Siak Sjarif Kasim bersama isterinja Sjarifah Fadllun dan beberapa orang famili tiba di Kutaradja untuk menetap tinggal didaerah aman Republik jang djauh dari gangguan-gangguan Belanda.
Atas pertanjaan wartawan ,,Semangat Merdeka” dinjatakan beliau, bahwa jang mendorong dirinja mentjintai dan menundjang pemerintahan Republik jalah rasa ketjintaan terhadap tanah air, Mengenai pembentukan daerah istimewa Sumatera Timur oleh Belanda, Sjarif Kasim menjatakan, bahwa ini adalah salah satu usaha dari kelandjutan politik divide et impera, memetjah belah, dan sesudah itu mendjadjah kembali.


TAPANULI.

Dewan Pertahanan Daerah Tapanuli untuk menghadapi suasana genting telah membagi daerah Keresidenan Tapanuli dari 4 kabupaten mendjadi 9 kabupaten ternjata menundjukkan nilainja dalam penjusunan dan pemusatan tenaga dimasing-masing kabupaten.

Seluruh Tapanuli bersiap, dan Pusat Pemerintahan Keresidenan dipindahkan dari Sibolga ke Aek Sitahuis (Sibolga II). Pekerdjaan-pekerdjaan untuk menghambat kedatangan musuh dilakukan pada djalan-djalan dan pada tempat-tempat jang mempunjai arti dari segi pertahanan.

Disamping persiapan pertahanan ini, maka persoalan jang terus langsung dihadapi oleh Pemerintah dan rakjat Tapanuli ialah menampung beratus ribu pengungsi jang mulai membandjir dari Sumatera Timur. Panitia pemondokan, pengangkutan, palang merah, dan kantor-kantor darurat untuk urusan pengungsian didirikan, antara lain di Sidikalang, Balige, Tarutung dan Padang Sidempuan.

Pada tanggal 15 Agustus 1947, Pemerintah Keresidenan Tapanuli mentjetak Orita Uang Republik Indonesia Tapanuli). Maksud semula hanja mengeluarkan uang harga Rp. 5.— dan Rp. 10.— untuk memudahkan penukaran Orips tjetakan Pematang Siantar harga Rp 100.— jang dibawa oleh pengungsi. Akan tetapi Orita di peredarkan sebagai alat pembajaran, penilai dan penukar jang sjah didaerah Tapanuli dengan pengetahuan dan ketetapan Pemerintah Pusat. Disamping Orita dan Orips, ternjata pula beredar uang palsu jang sengadja dilakukan oleh golongan jang hendak mengatjaukan keadaan perekonomian rakjat.

Keadaan keamanan diperbatasan Sumatera Timur dan Tapanuli diganggu oleh tindakan-tindakan liar. Di bahagian Lumban Djulu terdjadi pembunuhan terhadap beberapa pemuda pelopor jang sengadja telah dikirim oleh Kementerian Pertahanan ke Sumatera.

Pada tanggal 23 September 10947, dengan ketetapan Wakil Presiden diangkat sebagai Gubernur Militer Daerah Keresidenan Tapanuli, bagian Keresidenan Sumatera Timur jang meliputi Kabupaten Deli/Serdang, Simelungun, Asahan dan Labuhan Batu Djenderal Major Tituler Dr. Gindo Siregar. Gubernur Militer Dr. Gindo Siregar dibantu dengan staf jang terdiri dari :

  1. Mr. Dr. M. Nasution.
  2. Mr. A. Abas.
  3. Radja Barita Sinambeta.
  4. A. Wahab Siregar.
  5. Dr. Casmir Harahap.
  6. Melanton Siregar.
  7. Jahja Jacub. Tugas Gubernur Militer Dr. Gindo Siregar ialah mendjaga kepentingan pembelaan dan pertahanan negara serta mendjaga keamanan, dan menjelesaikan pembentukan Tentera Nasional Indonesia.


SUMATERA TIMUR.


Residen Sumatera Timur Mr. Abu Bakar Djaar dengan Wakil Residen M. Saleh Umar serta dibantu oleh beberapa anggota D.P.R. Sumatera Timur lainnja membuka kantor Keresidenan darurat di Tigabinanga. Tenaga-tenaga jang bertjerai -berai berangsur-angsur dapat dikumpulkan kembali. Tugas terutama jang dapat didjalankan oleh kantor Keresidenan darurat di Tigabinanga ialah menjelenggarakan usaha-usaha sosial untuk meladeni pengungsi-pengungsi jang terus membandjir, serta mengumpulkan bahan makanan untuk keperluan ketenteraan.

Ketenteraan dibahagian Tigabinanga dipimpin Major Selamat Ginting, Letnan Kolonel Djamin Gintings dan Pajung Bangun.

Rumah-rumah dan sebahagian kampung- kampung disekitar Kabandjahe telah dibumi hanguskan.

Tentera dan lasjkar jang tjerai-berai kemudian dapat disusun kembali dalam kesatuan-kesatuan jang teratur.

Tentera Belanda terus menerus menundjukkan keganasannja dengan melakukan pembakaran-pembakaran dan pembunuhan pembunuhan jang sewenang-wenang terhadap penduduk disekitar Brastagi dan Kabandjahe.

Pada tanggal 16 Agustus 1947, dilakukan menjerbuan serentak ke Kabandjahe untuk mengatasi kekedjaman jang dilakukan oleh tentera Belanda terhadap rakjat. Kabandjahe dapat diduduki untuk beberapa djam, akan tetapi kemudian terpaksa ditinggalkan kembali oleh gempuran pesawat-pesawat udara dan tank Belanda. Seterusnja terdjadi pertempuran menghadapi gerakan Belanda disekitar Sebaraja, Sukadamai dan Sibintun.

Kebengisan jang dilakukan oleh tentera Belanda dibahagian daerah ini tjuma dapat memperbesar kemarahan rakjat dan menimbulkan kebentjiannja terhadap tentera Belanda. Ada orang jang ditangkapnja dibunuh dengan djalan digiling tank, jang lain ditjungkil matanja, ada dipenggal kepalanja atau pahanja, dan ada pula jang dibakar setelahdisiram dengan bensin.

Rakjat mengungsi meninggalkan rumah, kampung dan halamannja.

Pada tanggal 10 Desember 1947, tentera Belanda jang bergerak dari Kabandjahe dapat menembus pertahanan di Kandibata, dan pada hari itu djuga Tigabinanga, setelah digempur dengan senapang mesin oleh pesawat-pesawat udara musuh, djatuh ketangan Belanda. Beberapa hari kemudian menjusul Tiganderket dapat diduduki oleh musuh.

Pertahanan Tentera dipindahkan ke Lisang. Mardinding mendjadi tempat pemusatan Tentera dibahagian Tanah Tinggi Karo.

Pada tanggal 7 Pebruari 1948, Gubernur Militer Tengku Daud Beureueh melakukan perkundjungan inspeksi ke Mardinding. Di Prapat dibuka tjabang kantor Keresidenan darurat untuk Sumatera Timur jang dipimpin oleh pedjabat Residen M. Hutasoit, dengan dibantu oleh beberapa anggota D.P.R. Sumatera Timur.


Kantor darurat Keresidenan Sumatera Timur di Prapat ini telah berdjasa dalam menjelenggarakan segala usaha untuk keperluan pengungsi-pengungsi jang membandjir dari Sumatera Timur. Menurut tjatetan, maka djumlah pengungsi jang melewati Prapat untuk meneruskan perdjalanannja ke Tapanuli dan Sumatera Barat tidak kurang dari pada 500.000 djiwa. Penduduk, pegawai-pegawai dan buruh perkebunan mengungsi meninggalkan daerah Sumatera Timur.


Tentera dan Lasjkar jang tjerai-berai dikumpulkan kembali di Prapat, dan dibentuk pertahanan komando Prapat Area. Bahagianbahagian dari Tentera Dipisi X Sumatera jang mundur ke Tapanuli dibentuk mendjadi sari Brigade, dengan nama Brigade XII dipimpin oleh Ricardo Siahaan. Kesatuan-kesatuan dari Napindo dan Legioen Penggempur djuga ditempatkan di Prapat Area.


Dengan ketabahan hati pedjabat Residen M. Hutasoit dapat menghadapi penjelenggaraan perbekalan untuk keperluan Tentera dan Lasjkar dan pertikaian jang ada diantara kesatuan-kesatuan jang bersendjata dapat diredakan dengan tindakan kebidjaksanaan.


Pemerintah Kabupaten Langkat dipindahkan kedudukannja ke Pangkalan Brandan. Pangkalan Brandan sudah dibumi hanguskan. Untuk seterusnja, sesuai dengan ketetapan Wakil Presiden, maka Pemerintahan Sipil untuk Langkat langsung diselenggarakan oleh Gubernur Militer Tengku M. Daud Beureueh.


Bupati Kabupaten Asahan Abdullah Eteng memindahkan kantor pemerintahan Kabupaten Asahan dengan djawatan--djawatannja ke Bandar Pulau . Setelah tenaga-tenaga dari Kabupaten Asahan dapat dikumpul kembali, maka pada tanggal 10 Agustus 1947 telah dapat dibentuk Dewan Pertahanan Kabupaten Asahan jang baru, diketuai oleh Bupati Abdullah Eteng. Sebagai wakil ketua ditetapkan Saidi Muli. Dewan Pertahanan ini merupakan kekuasaan jang tertinggi di Kabupaten Asahan, dengan tugasnja antara lain ialah mengumpulkan Tentera dan Lasjkar jang tjerai-berai dan menggabungkannja mendjadi satu kesatuan langsung dibawah pimpinan Dewan Pertahanan Kabupaten Asahan di Bandar Pulau.


Pertempuran berdjalan terus di Air Djoman, Sipaku Tinggi Radja dan ditempat-tempat lain sekitar Tandjung Balai. Di Sei . Kepajang diadakan persiapan- persiapan pertahanan. Sementara itu untuk menghambat kemadjuan tentera Belanda djalanan jang menudju ke Pulau Rakjat diberi hempangan-hempangan, dan djembatan -djembatan dihantjurkan.


Bahan makanan diambil dari Tapanuli dengan bantuan rakjat dan buruh perkebunan jang memundaknja berhari-hari djalan kaki untuk dibawa ke Bandar Pulau.

147

Beribu-ribu rakjat dari Asahan terus mengungsi kedaerah jang dikuasai Republik , walaupun dari pihak Belanda didjalankan usaha untuk

menghalanginja.


Dengan pembukaan Sarang Elang di Ketjamatan Sungai Kepajang mendjadi pelabuhan, maka hasil-hasil perkebunan jang dikuasai oleh Republik dapat ditukar dengan beras.


Garis pertahanan Republik di Asahan dimulai dari Pulau Banding melingkar kedjurusan Teluk Manis hingga sampai ke Tandjung Djumpul .


Residen Sumatera Timur Mr. Abu Bakar Djaar dengan stafnja dalam bulan September 1947 dipanggil oleh Wakil Presiden ke BukitTinggi. Pedjabat Residen Sumatera Timur jang berkedudukan di Prapat dihapuskan, dan kepada Residen Sumatera Timur Mr. Abu Bakar Djaar dan wakil Residen M. Saleh Umar diperintahkan untuk membuka kantor Keresidenan Sumatera Timur di Rantau Prapat.


Residen Sumatera Timur Mr. Abu Bakar Djaar beserta wakil Residen M. Saleh Umar dengan dibantu oleh anggota-anggota Dewan Executief DPR langsung menghadapi penjelesaian persoalan- persoalan jang ditimbulkan oleh angkatan-angkatan jang bersendjata. Persoalan jang terutama berputar disekitar persediaan bahan makanan dan keuangan. Beberapa perkebunan di Kabupaten Labuhan Batu dan di Kabupaten Asahan telah diduduki oleh pasukan-pasukan bersendjata. Perkebunan Gunung Melaju diduduki oleh pasukan Legioen Penggempur jang dipimpin oleh Timur Pane.


Pada bulan Nopember 1947, Legioen Penggempur bertindak menguasai kabupaten Labuhan Batu dengan melutjuti pasukan-pasukan bersendjata lainnja, termasuk kepolisian .


Bupati Labuhan Batu dengan beberapa anggota staf Pemerintah Kabupaten lainnja ditangkap oleh Legioen Penggempur, dan ditahan di Markas L.P. di Gunung Melaju.


Setelah selama 40 hari L.P. berkuasa di Labuhan Batu, datanglah serangan balasan dari brigade B jang dipimpin oleh Major Bedjo dengan dibantu oleh kesatuan-kesatuan dari brigade XII jang dipimpin oleh Kapten Sukardi dan Kapten Abu Sammah.


Pertempuran-pertempuran jang mengakibatkan penumpahan darah diantara anggota-anggota pasukan kedua belah pihak dan dikalangan rakjat, terdjadi disekitar Langga Pajung, Sumut, Pangkatan dan Wingfoot.


Kesatuan-kesatuan L.P. menarik diri kebahagian Tapanuli Utara, dan pemerintahan jang sewadjarnja dikembalikan oleh Residen Mr. Abu Bakar Djaar dibahagian Sumatera Timur Selatan.


Keadaan jang tenteram, kemudian pada awal tahun 1948 kembali dikeruhkan oleh tindakan- tindakan jang dilakukan oleh kesatuan brigade XII jang bertempat di Labuhan Bilik dipimpin oleh Abu Sammah. Barang-barang kepunjaan saudagar dan hasil-hasil perkebunan jang masuk dari atau jang dikeluarkan ke Malaya melalui perairan Labuhan Bilik ditahan dan diserobot oleh pasukan brigade XII jang ditempatkan di Labuhan Bilik.

148  Atas tindakan dari brigade B, Komandan Pasukan Bataljon dari Brigade XII jang bersangkutan dapat ditangkap oleh brigade B untuk kemudian dibawa ke Bukit-Tinggi .
 Untuk mengatasi kesulitan keuangan, Pemerintah Kabupaten Asahan jang berkedudukan di Bandar Pulau mengeluarkan uang kabupaten jang disebut ,,Urika" jaitu Uang Republik Indonesia Kabupaten Asahan. Uang bon Pemerintah kabupaten Asahan jang dikeluarkan itu terdiri dari lembaran, harga 10 sen, 50 sen, Rp. 1.-, Rp . 2,50,Rp. 5.-, Rp . 10.-, Rp. 25.- , Rp. 50.-, Rp. 100.- , Rp. 2500.- , Rp. 100.000.- dan Rp. 250.000.
 Semula bon-bon Urika ini mendapat nilai penghargaan dari rakjat, akan tetapi pentjetakan jang terus menerus dilakukan dengan tiada menaruh perimbangan sama sekali antara peredarannja dengan barangbarang jang ada, mengakibatkan Urika ini dengan tjepat mendjadi barang tjetakan biasa.Untuk 1 kilogram beras dibajar Rp. 10.000.000.000.Urika atau Orlab (Uang Republik Indonesia Labuhan Batu).
 Jang berikut memberikan sedikit gambaran tentang keadaan pentjetakan Urika di Kabupaten Asahan.

Urika
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"

Rp.
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"

1,—
0,50
2,50
0,10
5,―
10,―
25,―
50,―
100,―
2500,―
100000,― A.
100000,― H.
250000,― G.
250000,― G/1.

dikeluarkan
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"

tanggal
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"
"

27
31
8
26
7
19
9
31
1
3
3
4
12
7

Agustus
"
September
"
Oktober
"
Desember"
Pebruari
Maret
April
April
April
Mei

1947.
1947.1947.
1947.
1947.
1947.
1947.
1947.
1948.
1948.
1948.
1948.
1948.
1948.

 Sesudah tanggal 10 Mei 1948 pertjetakan ditutup.
 Djuga oleh Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu untuk mengatasi keadaan keuangan ini, pada bulan Agustus 1947 dikeluarkan uang kabupaten, jaitu Orlab (Uang Republik Indonesia Labuhan Batu). Semula pengeluaran Orlab ini dimaksud untuk menukar Orips (Uang Republik Indonesia Propinsi Sumatera) atau mandat jang dikeluarkan oleh Pemerintah Propinsi baik Pemerintah Keresidenan.
 Orlab jang pertama ditjetak di Wingfoot dengan lembaran Rp. 5,— menurut nilai uang Djepang. Kira-kira 2 bulan kemudian, karena djumlah uang jang ditjetak tidak rata beredar menurut keperluan kabupaten Labuhan Batu, apalagi untuk membajar gadji-gadji pegawai di Kewedanaan dan Ketjamatan, maka Orlab itu ditjetak pula di Aek Kanopan dan Labuhan Bilik untuk keperluan Pemerintah Kewedanaan disana. Achirnja keadaan ini ditambah lagi dengan satu pertjetakan di Rantau Prapat. Pertjetakan itu semuanja adalah pertjetakan stencil. Nilai Orlab terus merosot untuk achirnja mendjadi barang stencil biasa.

 Pemerintah Keresidenan Sumatera Timur mengachiri keadaan ini dengan mengeluarkan Orist (Uang Republik Indonesia Sumatera Timur). Orist ini ditjetak di Bukit-Tinggi atas ketetapan Pemerintah Propinsi Sumatera.

 Dengan keluarnja Orist, maka Urika dan Orlab ditarik dari peredaran, ditukar dengan Orist menurut nilai perimbangan koers jang ditetapkan oleh Pemerintah Keresidenan Sumatera Timur. Uang Orika dan Orlab jang ditarik dari peredaran kemudian dimusnahkan. Disamping Orist, mata keuangan jang seterusnja sjah berlaku di Sumatera Timur Selatan ialah Orips dan Orita (Uang Republik Indonesia Tapanuli).

 Pada tanggal 13 Djanuari 1948, berlangsunglah perundingan di Kaliurang antara K.T.N. dan Pemerintah Republik Indonesia jang mentjiptakan ,,Notulen Kaliurang" jang menjatakan, bahwa Republik Indonesia tetap memegang kedudukannja sekarang . Frank Graham menjampaikan utjapannja : "You are what you are!". Pada 17 Djanuari persetudjuan Renville ditanda tangani.

 Pada 29 Djanuari 1948 dibentuk Kabinet Presidentieel Hatta dengan program :

  1. Menjelenggarakan persetudjuan Renville.
  2. Mempertjepat terbentuknja Negara Indonesia Serikat.
  3. Rasionalisasi.
  4. Pembangunan.

 Pada tanggal 6 Pebruari 1948 , Panitia Hidjrah dibentuk, untuk memindahkan pradjurit2 T.N.I. dari ,,kantong- kantong", sesuai dengan perdjandjian Renville, jang diketuai oleh Arudji Kartawinata.

 Pos-pos kedudukan T.N.I. di Sumatera Utara tidak dapat dengan tjepat diketahui oleh Markas Pusat T.N.I. menurut letak keadaan jang sebenarnja.

 Pembitjaraan dengan wakil-wakil K.T.N. (Komisi Tiga Negara) di Sumatera Utara berlangsung di Tarutung, Kutaradja dan Rantau Prapat, untuk kemudian diselesaikan penjelenggaraan penetapan garis statusquo di Prapat, Bandar Pulau, Tigabinanga dan Tandjong Pura.

 Bandar Pulau dikosongkan oleh Republik, dan kantor Pemerintah Kabupaten Asahan dipindahkan ke Pulau Rakjat.

 Ketjamatan Mardinding jang sepenuhnja dikuasai oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Karo dengan T.N.I. terpaksa dikosongkan, dan T.N.I. ditarik mundur ke Lau Pakam, tempat perbatasan antara Sumatera Timur dan Atjeh.

 Pemerintah Kabupaten Tanah Karo dipindahkan ke Kotatjane.

 Bumi hangus jang didjalankan di Tanah Karo menjebabkan 10.696 kelamin kehilangan rumahnja.


150  Atas perdjuangan rakjat Tanah Karo, Paduka Jang Mulia Wakil Presiden menjatakan pengharapannja dari Bukit-Tinggi dengan suratnja bertanggal 1 Djanuari 1948.

RAKJAT MENGUNGSI.

 Djika militerisme Belanda hendak memaksakan kolonialismenja, dengan topeng hendak menumbangkan Pemerintah Republik jang katanja mementingkan diri sendiri, dan katanja hendak membersihkan Republik dari pada anasir-anasir jang mengatjau, maka sikap rakjat jang mengungsi meninggalkan rumah, kampung dan halamannja memberikan suatu djawaban jang tepat atas kedatangan militerisme Belanda.
 Rakjat mengungsi meninggalkan tempat-tempat jang dikuasai oleh tentera Belanda. Bindjei, Tandjung Pura, Pura, Pantjur Batu, Tandjung Morawa, Lubuk Pakam, Simpang Tiga, Tebingtinggi, Pematang Siantar, Brastagi dan Kabandjahe dikosongkan oleh rakjat.
 Rakjat mengungsi mentjari tempat dan daerah jang dikuasai oleh Republik.
 Rakjat dari Bindjei, Stabat, Tandjung Pura dan Pangkalan Brandan mengambil djalan hutan dan belukar menudju ke Atjeh. Rakjat dari Tandjung Morawa, Lubuk Pakam, Rampah, Tebingtinggi, dan Pematang Siantar keluar menudju ke pegunungan Tanah Karo dan ke Tapanuli.
 Orang-orang tua, anak-anak dan wanita-wanita jang hamil berbondong-bondong meninggalkan tempat-tempat jang didatangi oleh tentera Belanda. Apakah orang-orang tua, anak-anak dan wanita-wanita jang hamil itu merupakan anasir-anasir jang perlu dibersihkan oleh tentera Belanda ?
 Didalam pengungsian jang dilakukan oleh rakjat ini, oleh karena tjinta kepada kemerdekaan dan tjinta kepada Republik jang mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan, terdjadilah perbuatan-perbuatan liar oleh anasir-anasir jang tidak bertanggung-djawab terhadap nasib para pengungsi. Ada pengungsi jang dianiaja, barang-barangnja ditjuri, diserobot dan dirampok. Ada pengungsi-pengungsi jang ditahan, diperkosa dan dibunuh.
 Hal ini kedjadian pada hari-hari pertama setelah penjerangan Belanda, terutama sekali dibahagian Langkat Hulu, pegunungan Tanah Karo, Simelungun dan didaerah Toba pada perbatasan Sumatera Timur dan Tapanuli.
 Infiltrasi Nica untuk mengatjau-balaukan keadaan didalam hal ini telah berhasil.
 Pemuda-pemuda pengawal kampung dalam keadaan bingung dan bimbang menghadapi beribu -beribu pengungsi jang membandjir meninggalkan kota-kota menudju kedaerah pedalaman dan pegunungan.
 Oleh Pemerintah Kabupaten Simelungun, Tanah Karo dan Langkat dengan tjepat telah dibentuk Koordinasi Pertahanan pada tiap-tiap Ketjamatan. Koordinasi Pertahanan Ketjamatan inilah jang membasmi tindakantindakan liar itu, memberikan penerangan-penerangan dan mendjamin keselamatan pengungsi-pengungsi. Dapat dikatakan, bahwa sedjak tanggal 5 Agustus 1947 tindakan-tindakan liar sudah dapat dihindarkan dan keselamatan pengungsi-pengungsi dapat didjamin sepenuhnja.
Tindakan-tindakan liar jang telah dialami oleh pengungsi-pengungsi dari Sumatera Timur merupakan lembaran hitam bagi sedjarah perdjuangan rakjat chususnja di Sumatera Timur.
Agressi militer Belanda telah dapat mengatjau balaukan garis pertahanan Republik, serta saran provokasi jang dilantjarkan oleh kolone ke-V Belanda telah dapat menimbulkan paniek dikalangan rakjat.
Mundurnja Tentera dan Lasjkar, disertai dengan pengungsian rakjat, merupakan bandjir jang terutama sekali sangat mengedjutkan bagi rakjat di Tanah Karo dan Simelungun. Rakjat di Tanah Karo dan pegunungan Simelungun tidak dapat pertjaja bahwa ibu kota Propinsi, Pematang Siantar, telah dapat dimasuki oleh musuh. Dan umumnja rakjat dipegunungan merasa heran bahwa opsir-opsir ketenteraan telah begitu tjepat sampai dipegunungan, dengan masing-masing tidak mempunjai tanda pangkatnja lagi, sedangkan musuh masih berada di Pematang Siantar.
Keheranan ini achirnja mendjadi keketjewaan, sebab rakjat dipegunungan merasa telah memberikan apa jang dapat diberikannja guna kepentingan pertahanan tanah air. Keketjewaan ini kemudian menimbulkan kekesalan, jang terutama sekali ditudjukan kepada Tentera Republik Indonesia. Beberapa anggota T.R.I. jang sampai di pegunungan ditahan oleh rakjat, jaitu biasanja oleh pemuda-pemuda pengawal kampung. Dalam penggeledahan jang dilakukan oleh pengawal-pengawal kampung ini kebetulan terdapat barang-barang emas dan permata, antaranja pada seorang opsir T.R.I. bernama Djalaludin. Barang-barang emas dan permata itu adalah sebahagian ketjil daripada harta jang dikumpulkan dari ,,revolusi sosial" Sumatera Timur jang masih dalam simpanan Polisi Tentera. Djalaludin diperintahkan oleh atasannja untuk menjingkirkan sebahagian daripada barang-barang itu.
Peristiwa didapatnja barang-barang emas dan permata pada seorang anggota T.R.I. ini, sangat menggemparkan rakjat dipegunungan Tanah Karo dan Simelungun. Hal ini dihembus dan ditiup-tiup dari mulut ke mulut merupakan saran kaki tangan Nica atau mentjari kekajaan sendiri.
Keadaan ini membawa saran bahwa orang-orang jang mengungsi kepegunungan meninggalkan tempat dan daerah jang dikuasai oleh musuh membawa kekajaan harta-benda.
Ketjurigaan timbul pada pemuda-pemuda kampung jang melakukan pengawalan sehingga menggeledah tiap-tiap pengungsi jang menjingkir kepegunungan, dan achirnja menimbulkan nafsu kriminaliteit pada beberapa orang diantara pemuda itu untuk merampok dan membunuh.
Beberapa orang diantara pembunuh dan pendjahat-pendjahat ini telah diadili oleh pengadilan militer di Kota Nopan dan Padang-

152 Sidempuan dengan hukuman ditembak mati atau hukuman berpuluh tahun dipendjarakan, setimpal dengan kedjahatannja masing-masing.
Hampir lebih dari 1.000.000 rakjat di Sumatera Timur mengungsi. Menurut tjatetan, jang mengungsi melewati Prapat lebih dari 500.000 djiwa, melewati Rantau Prapat lebih dari 300.000 djiwa dan pengungsi Sumatera Timur jang berkumpul di Langsa lebih dari 200.000 djiwa.
Major Bedjo dengan kesatuannja banjak menolong keselamatan pengungsi-pengungsi. Untuk ini, Paduka Jang Mulia Wakil Presiden menjatakan penghargaannja dengan surat atas djasa-djasa jang telah diberikan oleh Major Bedjo.
Kalam tidak dapat menuliskan suka duka jang dialami oleh pengungsi Sumatera Timur, pengalamannja meliputi djarak sepandjang Kutaradja ke Bukit-Tinggi melewati hutan dan belukar serta lembah dan pegunungan Bukit Barisan.


153

Beberapa snapshots ketika pendaratan tentera Belanda di Pantai Tjermin, Sumatera Timur, pada tanggal 26 Djuli 1947.

155

Sepasukan tank Belanda jang dapat menerobos garis pertahanan kita di Medan - Area, dari Deli Tua menudju ke Tandjung Morawa.


Pendaratan tentera Belanda di Pantai-Tjermin.

(Unggah gambar untuk mengganti penampung ini.)

Bekas gedung Markas Perbekalan Pemuda di Medan. Pada bulan Nopember 1945 dibumi hanguskan dari pada djatuh untuk pendjadjah.


Markas Besar Komando Medan-Area (K.M.A.) di Tandjung Morawa setelah dibumi hanguskan dalam agresi Belanda jang pertama (Djuli 1947).

(Unggah gambar untuk mengganti penampung ini.)

......,,Dari pada djatuh ditangan musuh, lebih baik musnah dimakan api",......
demikian sembojan rakjat dizaman gerilja. Politik bumi-hangus di djalankan di Pangkalan Brandan, kota minjak jang masjhur itu pada tanggal 13 Agustus 1947, pukul 4 pagi.

Dengan tjara membabi-buta

memeriam-meriam Belanda menembaki kota Sibolga dari laut, pada tanggal 12 Mei 1947. Pertempuran terdjadi antara Terpedobootjager Belanda

,,Banckert" dengan Angkatan Perang kita. Banjak rumah2 penduduk dan toko2 bangsa Tionghoa mendjadi korban.


Dipihak Belandapun banjak djuga terdapat korban dalam pertempuran di Teluk Sibolga pada tanggal 12 Mei 1947 itu. Seorang opsir Belanda jang luka parah diangkat keperahu untuk dibawa kepesawat terbang Catalina.

Sunji-senjaplah kota P. Brandan sesudah mengalami bumi hangus jang dahsjat itu. Semua penduduk telah mengungsi dan Belanda pun tak sempat djadi menduduki daerah minjak P. Brandan.

160