Propinsi Sumatera Utara/Bab 19

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian







ORGANISASI-ORGANISASI RAKJAT
DAN PERS.












32

497

ORGANISASI-ORGANISASI RAKJAT DAN PERS.


D

ENGAN perantaraan kawat, oleh Presiden Sukarno kepada Abdul dinstruksikan untuk membangunkan Partai Indonesia.

Partai Nasional Indonesia merupakan ,,Staats Partij" (Partai Negara),

Didalam mandaat tersebut itu , Abdul Xarim Ms. diangkat sebagai Ketua II P.N.I. Sumatera dan Ketua I Dr. A. K. Gani. Untuk menggerakkan P.N.I. di Sumatera Timur ini oleh Abdul Xarim Ms, ditugaskan kepada M. Saleh Umar dan M. Yunan Nasution sebagai pimpinannja dengan pembantu-pembantu lain, diantaranja Sugondo Kartoprodjo.

Setelah berdiri P.N.I. di Sumatera Timur ini, maka berkembanglah ia keseluruh pelosok didalam dan diluar kota Medan .


MAKLUMAT PEMERINTAH 3 NOPEMBER 1945.

Setelah keluar Maklumat Pemerintah pada tanggal 3 Nopember 1945, jang menjatakan bahwa Negara Republik Indonesia adalah Negara demokrasi dan oleh karena usul KNIP supaja diberikan seluas-luasnja kepada rakjat mendirikan partai-partai politik dengan instruksi bahwa partai-partai politik itu memperkuat perdjuangan kita, maka lahirlah partai-partai di Medan jang bersifat Sumatera Timur, Sumatera Utara dan Sumatera. Partai-partai jang ada diwaktu itu ialah: P.N.I., Masjumi , P.K.I., Partai Sosialis, Parkindo, Pesindo dan beberapa organisasi Buruh dan Tani serta Wanita.


K.N.I. DAERAH SUMATERA TIMUR .

Komite Nasional Indonesia Daerah Sumatera Timur didirikan pada tanggal 4 Oktober 1945. Pada mulanja K.N.I. Daerah Sumatera Timur dipimpin oleh Dr. Sunarjo sebagai Ketua, dan Munar S. Hamidjojo sebagai Sekretaris. Disetiap wilajah dan kota ketjil diwaktu itu berdiri tjabang dan rantingnja. Pada mulanja K.N.I. ini merupakan suatu badan jang memberikan advies dan memberikan tenaganja djika Pemerintah memerlukannja. Disamping itu diwilajah dan dikota ketjil ditempatkan tjabang dan ranting K.N.I. Badan ini merupakan pelaksana pekerjaan Pemerintahan, disebabkan Pemerintahan pada waktu itu belum terbentuk selengkapnja diluar kota Medan. Dengan adanja Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945, K. N. I. mengadakan reorganisasinja. Sebagai Ketua diwaktu itu adalah Mr. Luat Siregar dan M. Saleh Umar, dengan beberapa anggota Executief,


499

jaitu A. Salim, Mengatas Nasution, H. A. Rachman Sjihab, K.N.I. ini setelah diadakan reorganisasinja, bertukar nama djadi Dewan Perwakilan Rakjat jang anggotanja kesemuanja adalah utusan-utusan partai-partai politik dan organisasi-organisasi.

MASJUMI.

Sebelum Madjelis Sjuro Muslimin Indonesia berdiri, telah didirikan Madjelis Islam Tinggi disingkatkan M.I.T., jang dipimpin diwaktu itu oleh Bachtiar Junus, H. Machmud A. Bakar, Nurman, Jusuf Achmad, M. A. Bakar dan lain-lain.

Masjumi Sumatera Utara diwaktu agressi ke I dan agressi ke II berada di Kutaradja dan dipimpin oleh M. Yunan Nasution, Osman Raliby dan H.A. Rachman Sjihab; Sekretaris Bachtiar Junus dibantu oleh beberapa orang, antara lain Nur Ibrahimy, Suleiman Ahmad, Jahja Siregar dan M. Tajab. Masjumi didaerah pendudukan dipimpin oleh M. A. Dasuki.

Setelah pengakuan kedaulatan Masjumi Sumatera Utara bersifat koordinasi, untuk mempersiapkan konperensi se-Sumatera Utara jang diketuai oleh Bachtiar Junus dan dibantu oleh Teuku Wahab, Zaini Bakri, Mahals, Udin Sjamsuddin dan lain-lain.

Setelah selesai konperensinja pada tahun 1951, maka Masjumi diketuai oleh Dr. Sahar dan Mahals. Sekretaris M.A. Dasuki dibantu oleh Udin Sjamsuddin dan semua anggota badan koordinasi Masjumi Sumatera Utara.

Masjumi ditahun 1952/1953 diketuai oleh Dr. Sahar, Mangaradja Ihutan dan M. Din Jatim. Sekretaris M. A. Dasuki dan Harun Amin. Masjumi mempunjai tjabang-tjabang dan ranting-ranting diseluruh Sumatera Utara.

PARTAI SERIKAT ISLAM INDONESIA SUMATERA UTARA.

Partai Serikat Islam Indonesia disingkatkan P.S.I.I. sedjak berdirinja berkedudukan di Kutaradja dan dipimpin oleh A. Hasjmy dan Kamarusid. Kemudian setelah pengakuan kedaulatan pindah ke Medan, dan bersifat perwakilan Dewan Pimpinan atau Ladjnah-Tanfiziah. Wakil Ladjnah di Sumatera jang berkedudukan di Medan ialah Hasjim Alang.

Anggota Ladjnah-Tanfiziah untuk Sumatera Utara ialah A. Hasjmy.

PARKINDO SUMATERA UTARA.

Partai Kristen Indonesia disingkatkan Parkindo, pada tahun 1951/1952 dipimpin oleh Melanchton Siregar dan K.A. Tarigan, dan lain-lain. Parkindo tahun 1952/1953 dipimpin oleh P. Simorangkir, Melanchton Siregar dengan beberapa pembantu antara lain D. Marpaung, E. Sibuea, D.E. Damanik.

Parkindo mempunjai tjabang-tjabang didaerah Sumatera Utara.

Pada awal 1946 dikala Parkindo Sumatera baru dibentuk, organisasi ini jang dipimpin antara lain oleh Melanchton Siregar dan Dr. F. Sihombing, tjabang-tjabangnja tersebar dibeberapa daerah dimana banjak orang Indonesia beragama Kristen; barisan kelasjkarannja bernama Dipisi Panah.

PARTAI KATHOLIK INDONESIA SUMATERA UTARA.

Partai Katholik Indonesia Sumatera Utara dipimpin oleh J. Ph. Hutauruk (jang djuga merangkap Komisaris Sumatera Utara) dan mempunjai tjabang² didaerah Sumatera Utara.

P. N. I.

Partai Nasional Indonesia disingkatkan P.N.I. setelah lahirnja Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 itu, berobah sifatnja dari Staatspartij mendjadi Partai Politik biasa dan dipimpin oleh M. Saleh Umar, Marzuki Lubis, D. Egon, A. Nur Nasution dibantu oleh beberapa pembantu². Tjabang/rantingnja berdiri di Sumatera Timur.

Diwaktu itu P.N.I. mempunjai kelasjkaran jang bernama Nasional Pelopor Indonesia disingkatkan Napindo.

Setelah kedaulatan, P.N.I. didirikan kembali di Medan jang sifatnja Sumatera Timur jang diketuai oleh Zahari dan Rakutta Sembiring; Sekretaris Zainuddin Qasry, serta dibantu oleh Usman Js, Asjro Effendi, M. Said, Marzuki Lubis dan lain-lain.

Partai Nasional Indonesia setelah berkonperensi, jang berlangsung di Medan pada tahun 1951, maka susunan pengurusnja diketuai oleh M. Said dan A.N.P. Situmorang, Sekretaris Adnan Nur Lubis dibantu oleh M. Kasjim, Asjro Effendi, Marzuki Lubis, Supeno, Aziz Sidik, Sjariffuddin Nagri, Amir Jusuf dan lain-lain. Kemudian sekali diadakan konperensi di Kutaradja pada tahun 1952; susunan pengurusnja tidak berobah.

PARTAI PERSATUAN INDONESIA RAYA SUMATERA UTARA.

Partai Persatuan Indonesia Raya disingkatkan P.I.R. didirikan pada tahun 1949 dan dipimpin oleh A.D. Rangkuti.

Partai Persatuan Indonesia Raya diwaktu ini dipimpin oleh A.D. Rangkuti dan J. Pohan. Sekretaris ialah Amir. Pembantu-pembantu

terdiri dari: K. Rangkuti, Dr. Ildrem, Sitindjak dan R.M. Sarsidi.

PARTAI INDONESIA RAYA.

Partai Indonesia Raya (Sumatera Utara) disingkatkan „Parindra” pada tahun 1950, sesudah pengakuan kedaulatan, berdiri di Medan dipimpin oleh Sja'ban dan R.A. Aziz dan penulis Mohammad Djasry dan M. Malik Nasution serta pembantu-pembantu antara lain M. Tahar, Mohammad Arif Husin.

Parindra tahun 1952/1953 dipimpin oleh Sja'ban dan A. Halim; penulis Mohammad Arif Husin, R.A. Aziz dengan beberapa pembantu antaranja J.M. Hutabarat, M. Malik Nasution.

PARTAI RAKJAT NASIONAL SUMATERA UTARA.

Partai Rakjat Nasional Indonesia Sumatera Utara didirikan pada tahun 1951 dan dipimpin oleh Tengku Nikmatullah. Partai ini didirikan sesudah leburnja Parnest dan Partai Nasional Sumatera Timur jang dibangunkan dimasa N.S.T.

PARTAI WANITA RAKJAT.

Partai Wanita Rakjat Sumatera Utara dipimpin oleh Njonja Hindun Rasjid.

WANITA DEMOKRAT INDONESIA SUMATERA UTARA.

Wanita Demokrat Indonesia didirikan tanggal 18 Maret 1951 dan dipimpin oleh Tati Siahaan dan Ani Idrus. Sekretaris Njonja Surjowinoto dan Djamilah Koto.

Wanita Demokrat Indonesia 1952/1953 Komisariat Sumatera Utara sedjak tahun 1952 berobah sifatnja dari Dewan Daerah mendjadi Komisariat Sumatera Utara dan dipimpin oleh Ani Idrus sebagai Komisaris dan Njonja Surjowinoto sebagai Sekretaris. Wanita Demokrat Indonesia mempunjai tjabang didaerah Sumatera Utara.

PARTAI PUTERI NASIONAL INDONESIA.

Partai Puteri Nasional Indonesia (P.P.N.I.) didirikan di Medan pada tahun 1946 dibawah pimpinan Titi Rukmi dan hingga kini masih tetap dipimpinnja berserta Nj.E. Simatupang, Nj.K.A. Tarigan dan lain-lain.

AGRESSI I (21 DJULI 1947).

Semua pemimpin-pemimpin organisasi dan partai-partai politik jang dulunja aktip bergerak di Sumatera Timur mengungsi keluar kota. Hanja sebahagian ketjil sadjalah pemimpin jang tinggal dalam kota Medan dan kota-kota ketjil jang lainnja. Partai-partai politik dan organisasi-organisasi ini terus bergolak didaerah Republik jang waktu itu terkenal dengan nama daerah „pedalaman”, dan daerah jang dikuasai Belanda dinamai daerah „pendudukan”.

PARNEST.

Partai Negara Sumatera Timur disingkatkan Parnest didirikan pada tahun 1948 dipimpin oleh Tengku Nikmatullah dan Tengku Hadji Muchtar Aziz. Parnest ini bertudjuan dan bergerak untuk menegakkan N.S.T.

PARTAI NASIONAL SUMATERA TIMUR.

Partai Nasional Sumatera Timur didirikan pada tahun 1948 dan dipimpin oleh O.K. Ramli dan Radja Kaliamsjah Sinaga, Sjamsuddin Hasibuan. Partai ini djuga bertudjuan dan bergerak kearah menegakkan N.S.T.

FRONT NASIONAL.

Atas initiatief F. Panggabean, diadakan pertemuan dirumah Eljas St. Pangeran Djalan Bulan no. 16 Medan, untuk memperbintjangkan dengan tjara bagaimana kaum Republikein jang tinggal didaerah „pendudukan" dapat membantu N.R.I. dan perdjuangan bangsa. Maka pertemuan ini achirnja melahirkan panitia ketjil jang bertugas membentuk satu organisasi sebagai langkah untuk tempat menjumbangkan tenaganja kepada perdjuangan kemerdekaan. Panitia tersebut dipimpin oleh Ir. Indratjaja, M.A. Dasuki, Dr. Djabangun, F. Panggabean, T. Sjaid Mansur dan lain-lain. Atas kegiatan panitia tersebut, berhasillah membentuk satu organisasi politik jang bernama Front Nasional Sumatera Timur.

Berhubung dengan beberapa orang dari pengurus Front Nasional pindah, jaitu Ir. Indratjaja, maka diadakan penjusunan pengurus baru jang diketuai oleh Dr. Djabangun dan Eljas St. Pangeran, serta dibantu oleh M.A. Dasuki, Sangkep Tarigan dan lain-lain.

Ketika agressi ke II banjak anggota pengurus Front Nasional jang ditangkap, karena itu disusun kembali pengurus baru.

Dengan berlangsungnja konperensi jang kedua dari Front Nasional ini, maka susunan pengurusnja diketuai oleh Sugondo Kartoprodjo dan Ismail Daulay; sebagai Sekretaris ialah M.A. Dasuki dan Arif Effendy.

Pada bulan Djanuari 1950 Front Nasional mengadakan konperensi luar biasa, dalam mana diambil satu keputusan untuk mengundang organisasi-organisasi dan partai-partai di Medan, supaja sama memikirkan persoalan jang hangat diwaktu itu, jaitu untuk melebur Negara Sumatera Timur kedalam Republik Indonesia.

P.K.I.

Partai Komunis Indonesia disingkatkan P.K.I. sedjak berdirinja tahun 1950 di Medan adalah bersifat Sumatera. Sebagai Komisaris CC P.K.I. untuk Sumatera waktu itu Abdul Xarim Ms dengan dibantu oleh Nathar Zainuddin dan S.M. Tarigan. P.K.I. mempunjai tjabang/ranting diseluruh Sumatera Timur dan djuga mempunjai kelasjkaran jang bernama Barisan Merah.

Kemudian oleh C.C. P.K.I. diadakan perobahan dengan membagi Sumatera dalam 3 Komisariat, jaitu Komisariat Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sumatera Tengah.

P.K.I. Sumatera Utara dipimpin oleh Jusuf Adjitorop sebagai Komisariat C.C.P.K.I., jang bertanggung djawab kedalam dan keluar partai. Tjabang-tjabangnja didirikan menurut tempat dan keadaan.

PARTAI SOSIALIS.

Partai Sosialis dipimpin oleh St. Nur Alamsjah, Dr. Gindo Siregar dan lain-lain. Partai Sosialis mempunjai tjabang/ranting diseluruh daerah Sumatera Timur. Kelasjkaran Partai Sosialis ini bernama Bintang Merah.

PARTAI SOSIALIS INDONESIA SUMATERA UTARA.

Partai Sosialis Indonesia (P.S.I.) pada tahun 1950 berdiri di Medan dengan Sukatja dan Sugondo Kartoprodjo. Terdjadinja peleburan Partai Sosialis mendjadi P.K.I. mengakibatkan bangunnja Partai Sosialis Indonesia ini di Sumatera Utara.

PARTAI MURBA SUMATERA UTARA.

Sedjak berdirinja Partai Murba di Sumatera Utara jang berkedudukan di Medan dipimpin oleh Asmoro Wikana.

PARTAI BURUH SUMATERA UTARA.

Partai Buruh Sumatera Utara ketika berdirinja berada dibawah pimpinan Bariun dan lain-lain, dan sekarang ini dipimpin oleh Dr. Maas.

PERMAI.

Partai Persatuan Rakjat Marhaen Indonesia (Permai) mempunjai Komisaris untuk Propinsi Sumatera Utara, jakni I.M.H. Napitupulu, berkedudukan di Pematang Siantar.

PESINDO.

Pemuda Sosialis Indonesia disingkatkan Pesindo adalah berasal dari Pemuda Republik Indonesia (P.R.I.) jang dipimpin oleh Sarwono Sastro Sutardjo, A. Malik Munir, Sjabirin Gani, Ishak Djanggawirana, Irawan Pandu dan lain-lain.

Pada waktu itu Pesindo lebih mengutamakan perdjuangannja kearah kelasjkaran dari pada politik, sekalipun ada djuga keaktipannja didalam politik. Pesindo mempunjai tjabang/ranting diseluruh Sumatera Timur dan mempunjai kelasjkarannja bernama Kesatria Pesindo.

G.P.I.I. SUMATERA UTARA.

Gerakan Pemuda Islam Indonesia disingkat G.P.I.I. berdiri pada tahun 1945 dipimpin oleh Adam Usman dan Latif Aziz. Sekretaris Bahrum Djamil, A. Djalil Mohamad dan beberapa pembantu. Sedjak agressi ke I dan ke II G.P.I.I. pindah ke Rantau Prapat dan pada waktu itu dipimpin oleh Adam Usman, Mawardi Nur, dan Anas Tandjung. G.P.I.I. pada waktu tahun 1952 sampai 1953 ini dipimpin oleh Mawardi Nur, Malidin Ma'aruf, H.A. Bakar Jakub dan lain-lain.

PEMUDA RAKJAT SUMATERA UTARA.

Pemuda Rakjat ini berdiri setelah leburnja Pesindo jang telah berdiri sewaktu Proklamasi 1945 dan bergolak dalam masjarakat. Dari beberapa orang pemuka-pemuka Pesindo inilah di Sumatera Timur jang mendirikan Pemuda Rakjat. Diwaktu tahun 1950/1951 Pemuda Rakjat dipimpin oleh Sutjipto, M. Sitanggang, Mahadi Sida. Sebagai pembantu-pembantu: Tom Anwar, Elmud Tobing, S. Darsono, Bachruddin dan lain-lain.

Pemuda Rakjat tahun 1952/1953 berupa satu komite, jaitu Executief Komite dan sebagai tugas jang tertentu ialah untuk mempersiapkan konperensi, Executief Komite Pemuda Rakjat ini dipimpin oleh S.D. Darsono, Tom Anwar, Mahadi Sida dan M. Samikidin.

PEMUDA DEMOKRAT INDONESIA KOMISARIAT SUMATERA UTARA.

Pemuda Demokrat ini kebanjakan anggotanja terdiri dari bekas pemuda-pemuda jang dulunja berdjuang memanggul sendjata jaitu Napindo, jang langsung dibawah pimpinan P. N. I. Pemuda Demokrat ini bukanlah organisasi atau partai maupun onderbouw-organisasi dari P. N. I. tetapi berdiri sendiri. Pemuda Demokrat Indonesia didirikan sedjak tahun 1949 dipimpin oleh Anwar Dharma sebagai Komisaris.

Setelah mengadakan konperensinja pada tahun 1950, tersusunlah pimpinan Pemuda Demokrat Indonesia Sumatera Utara dengan diasuh oleh A. Hakim Dalimunthe sebagai Komisaris dibantu oleh A. Rivai, Izuddin Qadir Rawy, Eljas, T. Ginting, Nurlan Hasan dan lain-lain. Pemuda Demokrat Indonesia tahun 1952 dipimpin oleh Chadidjah dibantu oleh Nulung Sirait, Adnan Abdullah, T. Ginting, Ridwan Achmad dan lain-lain.

Pada tahun 1953 organisasi ini dipimpin oleh A. Djalaluddin dan Edisaputra sebagai Komisaris dibantu oleh Anwar Nasution, Adnan Abdullah, T. Ginting, Ridwan Achmad. Tjabang- tjabangnja tersebar di Sumatera Utara.

PEMUDA KRISTEN INDONESIA SUMATERA UTARA.

Pemuda Kristen berdiri pada tahun 1949 dipimpin oleh B. Hutapea dan G. Napitupulu.

Organisasi ini sedjak tahun 1950 sampai sekarang ini dipimpin oleh B. Hutapea dan G. Sitompul dibantu oleh Mauly Rugun Tampubolon. Pemuda Kristen Indonesia mempunjai 40 tjabang diseluruh Sumatera Utara.

I.P.P.I. SUMATERA UTARA.

Ikatan Pemuda Peladjar Indonesia disingkatkan I.P.P.I. didirikan pada tahun 1950 di Medan dan dipimpin oleh Ali Arifin dan Anwar Nasution.

I.P.P.I. tahun 1952 berobah dari bentuknja jang lama mendjadi pembantu Pengurus Besar. Sebagai pembantu Pengurus Besar untuk Sumatera Utara ialah Ali Arifin dan Rahim.

FRONT PEMUDA SUMATERA UTARA.

Pada bulan Desember 1950 organisasi-organisasi Pemuda Sumatera Utara mengadakan Konperensi di Medan, membentuk Front Pemuda Sumatera Utara. Front ini menuntut antara lain peleburan negara-negara bahagian, terutama Negara Sumatera Timur.

PERSATUAN WANITA KRISTEN INDONESIA SUMATERA UTARA.

Persatuan Wanita Kristen Indonesia ini berdiri sedjak tahun 1951 dan dipimpin oleh Njonja H.L. Tobing dan Njonja Souhoka. Sekretarisnja Njonja E. Simatupang dan mempunjai beberapa pembantu.

Persatuan Wanita Kristen Indonesia Sumatera Utara tahun 1953 tetap dibawah pimpinan susunan pengurus tersebut diatas dengan bantuan orang-orang lain.

GERWIS SUMATERA UTARA.

Gerakan Wanita Indonesia Sedar disingkatkan Gerwis Sumatera Utara diwaktu ini masih merupakan persiapan kearah pembentukan dan sebagai penjelenggara sampai terbentuknja Gerwis se-Sumatera Utara ini ditugaskan kepada Nuraini Siregar di Medan.

PERSAUDARAAN ISTERI TENTERA.

Persaudaraan Isteri Tentera (Persit) mulai berdiri di Medan pada tahun 1951 dengan pimpinan Njonja M. Simbolon. Kini organisasi itu diketuai oleh Njonja Talib.

BAHJANGKARI.

Perkumpulan Isteri Pegawai Polisi ,,Bahjangkari” untuk Sumatera Utara didirikan achir 1951 dibawah pimpinan Njonja Darwin Karim.

PERSATUAN ULAMA SELURUH ATJEH.

Persatuan Ulama Seluruh Atjeh, lebih dikenal dengan nama singkatnja „PUSA”, berdiri dimasa Belanda sebelum perang dan berkembang sebagai badan sosial didaerah Atjeh; dan sedjak mula sampai kini dipimpin oleh Tengku Daud Beureuëh.

ORGANISASI BURUH.

Sebelum agressi ke I dan ke II hanja satu sadja organisasi buruh jang ada jaitu Sarbupri, tetapi sedjak kedaulatan, banjak tumbuh organisasi-organisasi buruh, jang satu sama lainnja mempunjai perbedaan.

SOBSI SUMATERA UTARA.

Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia disingkatkan Sobsi Sumatera Utara dipimpin oleh seorang Komisaris Sentral Biro, dan sebagai Komisaris Sentral Biro untuk Sumatera Utara ialah Abdul Xarim Ms.

Setelah mengalami perobahan, Sobsi Sumatera Utara dipimpin oleh Jusuf Adjitorop sebagai Komisaris Sentral Biro.

Untuk menjelenggarakan persiapan Kongres Sobsi untuk Sumatera Utara disusunlah pengurus baru jang bersifat sementara dan sebagai pengurus jalah Ngadiman dan P.P. Gangga.

SARBUPRI.

Sarikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia jang disingkatkan ,,Sarbupri", adalah organisasi buruh dan telah tersebar disetiap perkebunan di Sumatera Timur, jang dipimpin oleh Dr. Kasmir Harahap, Mr. Ani Manoppo, Hadely Hasibuan, Saleh Lubis dan lain-lain. Badan kelasjkaran ini bernama „Lasjkar Buruh".

Disebabkan agressi ke I pada 21 Djuli 1947, maka Sarbupri jang dulunja berkedudukan di Dolok Merangir, terpaksa dipindahkan ke Aek Kanopan dan diwaktu itu Sarbupri diketuai oleh Bujung Saleh dan Chairuddin sebagai Perwakilan Pusat Pimpinan. Sekretaris ialah B. M. Nainggolan dan Bujung Bakri, dibantu oleh Panusunan dan Radjmah.

SARBUPRI BERFUSI DENGAN S.B.P.

Pada bulan Agustus 1950 Sarikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia berfusi dengan Sarikat Buruh Perkebunan dan mempunjai otonomi jang waktu itu dipimpin oleh Soufron, A. Aziz dan Harun sebagai Komisaris otonomi. Anggota-anggotanja: Murad, Radjmah, Darusman dan M. O. Tambunan

Komisariat Sarbupri Sumatera Timur/Tapanuli sedjak Desember 1950 dipimpin oleh Soufron, Chairuddin, B. M. Nainggolan dan Sofjan.

Sarbupri Dewan Komisariat Pimpinan Pusat Sumatera Timur/Tapanuli pada April 1951 dipimpin oleh Sekretaris Umum Ngadiman, Chairuddin dan Hasan Raid. Pembantu-pembantunja Harun, Panusunan, B. M. Nainggolan, A. Aziz dan Martono.

SARBUPRI PETJAH DENGAN S.B.P.

}

Pada bulan September 1952 Sarikat Buruh Perkebunan disingkatkan S.B.P. jang dulunja dipimpin oleh Soufron dan telah berfusi dengan Sarbupri, kembali petjah dan Soufron mendirikan kembali S.B.P. Pada Djanuari 1953 setelah terdjadinja perpetjahan dalam Sarbupri Sumatera Timur/Tapanuli, maka disusunlah kembali pengurus baru. Perwakilan D.P.P. Sarbupri Sumatera Utara ialah Sekretaris Umum Ngadiman, Chairuddin dan Suwarno. Pembantu-pembantunja Sofjan, A. Aziz, Martono dan Ngadiman. Setelah keluarnja Soufron dari Sarbupri, ia mengaktifkan kembali ,,Sarikat Buruh Perkebunan" disingkatkan S.B.P. jang diketuai olehnja sendiri dibantu oleh M. O. Tambunan dan lain-lain.

PERBUPRI SUMATERA UTARA.[sunting]

Persatuan Buruh Perkebunan Republik Indonesia di singkatkan ,,Perbupri" didirikan pada 1 September 1950. Sebelumnja lahir Perbupri ini, lebih dahulu telah ada 5 organisasi buruh lokaal, jaitu: Persatuan Buruh Perkebunan, Serikat Buruh Socfin, Serikat Buruh H.V.A., Persatuan Buruh Deli Mij, dan Serikat Buruh A.V.R.O.S. Kelima-lima organisasi inilah jang melahirkan Perbupri. Perbupri dipimpin oleh Mr. H. Silitonga dan Umar Hutabarat sebagai Ketua Umum, Sekretaris M. Norman Rangkuty dan dibantu oleh A. M. Dirdjo, Usman Wakidi, R. Sastraatmadja, S. Djaiman, Bochari Siregar, A. Rachman, A. Turungan, Sukanda dan lain- lain. Setelah kongres Perbupri jang ke I dan ke II tanggal 5 Nopember 1951 dan 21 Maret 1952 di Bogor dan di Medan, maka Perbupri berobah sifatnja dari organisasi buruh lokaal mendjadi organisasi buruh jang bersifat Indonesia, dan pimpinannja tidak berobah, jaitu Mr. H. Silitonga. Persatuan Buruh Perkebunan Republik Indonesia kini ada dua bagian, jaitu satu Perbupri jang dipimpin oleh Mr. H. Silitonga, dan satu lagi jang berdiri pada tahun 1952 dipimpin oleh Dr. Maas.

GOBSU.[sunting]

Gabungan Organisasi Buruh Sumatera Utara disingkatkan „Gobsu" Sumatera Utara dipimpin oleh Mr. H. Silitonga, Sukatja dan S.M. Jusuf.

BURUH DEMOKRAT INDONESIA KOMISARIAT SUMATERA UTARA.[sunting]

Buruh Demokrat Indonesia Komisariat Sumatera Utara berdiri pada tanggal 1 Agustus 1951 dan dipimpin oleh Marzuki Lubis sebagai Komisaris, dan Sekretaris Ridwan Achmad, dibantu oleh Aziz Sidik, Ibrahim Yib, Salekan, Wawung, Achmad Abdullah dan lain-lain. Pada tanggal 7 Djanuari 1953 Buruh Demokrat Indonesia mengadakan konperensinja jang pertama di Medan dan Buruh Demokrat Indonesia Sumatera Utara meleburkan diri mendjadi konsentrasi Buruh

509 Kerakjatan Indonesia dan sebagai Komisaris ialah Marzuki Lubis, Sekretaris Ridwan Achmad, K.B.K.I. mempunjai 7 tjabang di Sumatera Utara.

S.B.I.I. SUMATERA UTARA.[sunting]

Serikat Buruh Islam Indonesia disingkatkan S.B.I.I. Sumatera Utara didirikan pada tahun 1951 di Medan, dan sebagai Konsol K.H.A. Madjid dan A. Rachman. S.B.I.I. pada tahun 1952 telah mengadakan konperensinja pertama, dan dipimpin oleh Mahmud Rasjid, sebagai Konsol dan Setia Usaha Telah M. Amin dibantu oleh Kasim Suleiman Harahap, Kasim Mohan, Fuad Said dan Muchtar Husin.

B.T.I. SUMATERA UTARA.[sunting]

Barisan tani Indonesia Sumatera Utara disingkatkan B.T.I. adalah leburan dari Gerakan Kaum Tani Indonesia disingkatkan Geraktani. B.T.I. dipimpin oleh S.M. Tarigan dan Hutabarat dibantu oleh Mangarahon.

R.T.I. SUMATERA UTARA.[sunting]

Rukun Tani Indonesia disingkatkan R.T.I. Sumatera Utara kelandjutan dari Kesatuan Tani Indonesia jang dipimpin oleh Rasjid dan A. Aziz; Setia Usaha Mangarahon, K.T.I. ini kemudian dilebur mendjadi R.T.I. jang berpusat di Djakarta. R.T.I. Sumatera Utara tahun 1951 dipimpin oleh Karman dan Rasjid sebagai Ketua dan Setia Usaha dibantu oleh Mangarahon, Samaun, Sabar Sitepu dan lain-lain. R.T.I. 1952 sampai dengan 1953 dipimpin oleh Sekretaris Umum Darman, dibantu oleh Sabar Sitepu, Samaun, Rasjid dan lain-lain.

PETANI KOMISARIAT SUMATERA UTARA.[sunting]

Persatuan Tani Nasional Indonesia disingkatkan ,,Petani" didirikan pada tahun 1950 dan Komisaris Petani Sumatera Utara ialah Amir Jusuf, dan Sekretaris Asjro Effendi. Pembantu-pembantunja Zainuddin Qasry, Marzuki Lubis, A. Djalil Siregar, Supomo dan lain-lain. Setelah berlangsung konperensi Petani Sumatera Utara jang pertama tahun 1951 di Medan, susunan pengurusnja diketuai oleh Asjro Effendi, Setia Usaha T. Ginting dan dibantu oleh Abdullah Husin.

510 === SAKTI SUMATERA UTARA. === Serikat Kaum Tani Indonesia disingkatkan ,,Sakti" Sumatera Utara didirikan tahun 1950 dipimpin oleh Amiruddin Tito dan Adnan Jacub, dan mempunjai tjabang-tjabang dibeberapa tempat di Sumatera Utara.

S.T.I.I. SUMATERA UTARA.[sunting]

Serikat Tani Islam Indonesia disingkatkan S.T.I.I. didirikan pada tahun 1952 di Medan dan dipimpin oleh Dr. Sahar dan dibantu oleh Sjamsul Bahri. S.T.I.I. ini tersebar dibeberapa tempat di Sumatera Utara.

GERAKTANI.[sunting]

Gerakan Kaum Tani Indonesia jang disingkatkan ,,Geraktani" pada waktu itu berdiri di Medan jang bersifat Sumatera dan dipimpin oleh S.M. Tarigan.

SERIKAT TANI INDONESIA.[sunting]

Serikat Tani Indonesia dipimpin oleh Jacub Siregar, M. Saleh Umar dan Jusuf Malik, mempunjai tjabang/ranting dibeberapa tempat di Sumatera Timur.

_________

511 PERS.

PEWARTA DELI[sunting]

Achir Maret 1946 ,,Pewarta Deli" berhenti terbit sesudah wakil pemimpin redaksinja dan pemimpin tata-usaha pertjetakannja 3 minggu lamanja ditahan oleh tentera Inggeris.

KERAKJATAN.[sunting]

Bulan April 1946 berhenti terbit ,,Kerakjatan" harian berbahasa Indonesia jang dipimpin oleh Wang Yen Shu alias Barhen jang keluar sedjak 25 Agustus 1945.

SULUH MERDEKA.[sunting]

,,Suluh Merdeka" dipindahkan tanggal 4 Djuni 1946 ke Pematang Siantar karena pertjetakannja disita oleh militer Inggeris (sebagian alat-alat pertjetakan jang seperlunja telah sempat lebih dulu dipindahkan ke Siantar).

MIMBAR UMUM.[sunting]

,,Mimbar Umumn" pindah ke Tebingtinggi tanggal 15 Agustus 1946 sesudah penerbitan di Medan mendjadi sukar sekali berhubung dengan daerah sekitar gedung pertjetakannja mendjadi tempat pertempuran.

KANTOR BERITA „ANTARA"[sunting]

Sementara itu dikota Medan jang mulai lengang karena evakuasi penduduk Indonesia, telah dibangunkan kantor berita nasional „Antara” jang diresmikan pada awal April 1946 (dibawah pimpinan Mohamad Said). Tjabang segera ditanam di Siantar bulan Mei. Belakangan, karena kegentingan suasana, kantor pusatnja untuk Sumatera dipindahkan dari Medan ke Siantar (Agustus 1946) dan tinggal di Medan kantor tjabang jang terutama kerdjanja mengirimkan berita-berita pertempuran disekitar Medan.

„MEDAN BULLETIN" & „NERATJA”.[sunting]

Sesudah berangkatnja tentera Inggeris dari Indonesia pada bulan Nopember 1946, perhubungan antara kota Medan dengan pedalaman semakin sulit terlebih sesudah militer Belanda jang menerima timbangterima dari tentera Sekutu (Inggeris) mengumumkan Medan sebagai

512 salah satu dari beberapa „kota tertutup" jang diduduki tenteranja. Setengah kota sebelah barat rel kereta api Kampung Baru -- Belawan sudah dikuasai oleh pemerintah Nica, jang menjebarkan mula-mula dengan tjuma-tjuma, kemudian dengan harga jang rendah sekali, surat-surat kabarnja „Medan Bulletin" (bahasa Belanda) dan „Neratja" (bahasa Indonesia). Dizaman Pemerintah Darurat Republik Indonesia kantor-berita „Antara" satu-satunja jang masih bersuara keluar dipimpin oleh OSMAN RALIBY di Kutaradja.

WASPADA.[sunting]

Di Medan jang terpentjil itu diterbitkanlah pula pada 11 Djanuari 1947 harian „Waspada" jang membela perdjuangan Republik Indonesia, diselenggarakan oleh anggota-anggota keluarga „Antara" jang tinggal di Medan dibawah pimpinan Mohammad Said. Berhubung dengan agressi militer Belanda jang pertama, berhentilah penerbitan „Mimbar Umum" di Tebingtinggi (tgl, 27 Djuli 1947) dan „Suluh Merdeka" di Siantar (28 Djuli 1947).

„SINAR SIANTAR"[sunting]

Wartawan-wartawan ada jang mengungsi, tetapi jang tidak mengungsi berichtiar mengeluarkan penerbitan jang melanjutkan suara perdjuangan nasional. „Waspada" di Medan, sesudah 2 kali diberangus Belanda, tanggal 30 Agustus 1947 terbit kembali. Sementara itu pihak Belanda menambah lagi satu penjiarannja (disamping „Neratja” dari Medan) dengan „Sinar Siantar" jang dimulai tanggal 6/8-1947, diterbitkan dari alat-alat penerbitan „Suluh Merdeka” tadinja. Tanggal 6 Desember 1947, „Mimbar Umum" dapat diterbitkan lagi di Medan, kini dipimpin Arif Lubis dari „Suluh Merdeka" di Siantar. Sementara itu, „Suluh Merdeka" dilandjutkan di Tarutung oleh saudara-saudara Sitor Situmorang (dari „Antara Siantar") dan G. Hutapea sampai bulan Nopember 1947.

WAKTU & WARTA BERITA.[sunting]

Mulai 20 Desember 1947 diterbitkan pula di Medan madjallah mingguan „Waktu" dan mulai 1 Nopember 1948 harian „Warta Berita" sebagai penerbitan-penerbitan jang menjokong perdjuangan Republik Indonesia, keduanja dipimpin Zahari (Warta Berita ini dihentikan tanggal 27 Maret 1950).


33 513 === MESTIKA. === Harian „Neratja" jang diongkosi oleh H.T.B. Belanda keluar pada 15 Pebruari 1948 dengan nomor terachir dan tanggal 16 Pebruari 1948 diterbitkan harian „Mestika" membawa suara membela N.S.T., dibawah pimpinan Tamzil Ja'coeb (T. Jafizham).

DUNIA WANITA.[sunting]

Pada tanggal 15 Djuni 1949 terbit madjallah tengah bulanan „Dunia Wanita" dipimpin oleh Ani Idrus jang masih terbit sampai sekarang.

ᎡᎪᏦᎫᎪᎢ.[sunting]

Tanggal 15 Agustus 1949 sesudah agressi militer Belanda kedua terbit pula di Medan harian „Rakjat" jang bersembojan „Untuk Demokrasi dan Keadilan" dibawah pimpinan Jahja Jacub (tanggal 17 Mei 1952 terhenti penerbitan harian ini).

UTUSAN TAPANULI.[sunting]

Di Tapanuli pada bulan Oktober 1945 diterbitkan „Suara Nasional" sampai kepada saat Belanda memasuki Tapanuli pada tanggal 22 Desember 1948. Sewaktu pendudukan Belanda R.V.D. (T.B.A.) menerbitkan surat kabar „Utusan Tapanuli" sebagai alat propaganda Belanda, tetapi sesudah pemulihan, „Suara Nasional" pada tanggal 6 Desember 1949 dapat diterbitkan kembali.

HARIAN „RAKJAT”[sunting]

Selain „Suara Nasional", djuga terbit harian „Rakjat" di Sibolga sedjak tahun 1946, jang sewaktu pendudukan diteruskan penerbitannja di Penjabungan. Di Padang Sidempuan terbit harian „Pelita-Rakjat" dan harian „Pelopor", sedjak awal tahun 1948 sehingga agressi ke II.

SULUH RAKJAT.[sunting]

Sesudah Tapanuli dipulihkan terbit pula di Balige mingguan „Suluh Rakjat". Di Tarutung dikeluarkan madjallah „Vita Vera". Sesudah diumumkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, „Suara Nasional" dihentikan terbitnja tanggal 22 Agustus 1951.

514 === PANGABAHAN. === Pada tahun 1951 di Tarutung diterbitkan mingguan „Pangabahan" dan mingguan „Harungguan", jang masih terbit sampai awal tahun 1953.

SEMANGAT MERDEKA.[sunting]

Di Atjeh, sedjak berdengungnja proklamasi kemerdekaan kedaerah itu, diterbitkanlah di Kutaradja harian penjokong perdjuangan Republik Indonesia „Semangat Merdeka" jang terbit sampai 14 September 1950 dibawah pimpinan Amelz dan Abdullah Arif. Sedjak 15 September 1950 diterbitkan harian „Tegas" sampai sekarang dipimpin oleh A.G. Mutyara.

TEGAS.[sunting]

Oleh Djawatan Penerangan di Atjeh dibawah pimpinan Osman Raliby dikeluarkan djuga harian dengan stencil „Warta Dunia" (1948-1950) jang memuat berita-berita dan beberapa ulasan. Pada awal tahun 1952 untuk beberapa bulan terbit harian „Tjermin Masjarakat".

PASIFIK.[sunting]

Kota Langsa di Atjeh Timur jang mendjadi pusat pengungsian penduduk dari Sumatera Timur sedjak agressi militer Belanda, sempat menimbulkan riwajat persurat-kabaran. Beberapa wartawan jang mengungsi dari Sumatera Timur menerbitkan disana harian „Pasifik" pada tahun 1948, tapi kesukaran-kesukaran teknis menjebabkan dikuburnja sesudah lebih kurang 4 bulan terbit. Tanggal 28 Desember 1948 diterbitkan pula harian „Gelora" jang dimulai hanja dengan 50 ex distencil, membawa suara jang mengkobarkobarkan semangat menentang agressi Belanda, pada awal tahun 1950 telah dapat ditjetak sedjumlah 1000 ex. Disamping itu telah diterbitkan beberapa berkala (mingguan, tengah bulanan, bulanan) jang hidupnja hanja beberapa bulan atau beberapa kali terbit. Setelah lalu lintas antara Atjeh dan Sumatera Timur normaal kembali ditahun 1950, dan harian-harian dari Medan sudah dapat tjepat tiba, maka satu demi satu surat kabar dan madjallah jang tadinja tumbuh sebagai tjendawan di Atjeh Timur itu berhenti terbitnja.

PENDORONG.[sunting]

Di Medan, jang mendjadi pusat kegiatan pers Indonesia di Sumatera Utara, pada tanggal 3 Oktober 1952 telah terbit pula harian baru „Pendorong" membawa suara nasional progressif.


515
TANGKAS.

Sedjak 2 Pebruari 1953 bertambah lagi satu harian di Medan, „Tangkas”, sebagai harian nasional tidak berpartai.

Harus ditjatatkan disini sebagai tambahan bahwa apa-apa jang disebut alam ichtisar diatas, belum lagi semua. Bukan sedikit pula madjallah-madjallah umum atau berkala-kala kepartaian atau kelasjkaran jang sedikit banjak telah menjumbangkan peranan dalam memperkobar semangat perdjuangan, tapi jang karena kesulitan-kesulitan teknis atau keuangan atau lain-lain hal terpaksa berusia sebentar sadja. Untuk menjebut beberapa buah: mingguan „Pelopor” (Annast) di Medan jang terbit sedjak Oktober 1945 sampai Pebruari 1946, mingguan „Indonesia Merdeka” di Siantar dari Djabatan Penerangan Sumatera. mingguan „Siap Sedia” di Siantar sebelum agressi kedua, berkala „Tentera” jang diterbitkan oleh Djabatan Penerangan Tentera Dipisi Gadjah II, „Bambu Runtjing” dari Kementerian Pertahanan Biro Perdjuangan Daerah Sumatera Timur, „Lasjkar” dikeluarkan oleh Dewan Pembelaan P.D. Pesindo di Lubuk Pakam, „Penerangan” oleh Djabatan Penerangan Sumatera Timur di Pematang Siantar, „Kebangunan” di Kabandjahe, dan beberapa madjallah di Kutaradja dan Langsa.

SUARA PENERANGAN.

Madjallah berkala „Suara Penerangan” jang dikeluarkan oleh Djawatan Penerangan Propinsi Sumatera Utara terbit mulai 19 Desember 1950.

RADIO REPUBLIK INDONESIA.

Pada waktu agressi militer Belanda jang pertama, 21 Djuli 1947, sebahagian besar dari pegawai R.R.I. di Pematang Siantar mengungsi dan pindah mendjalankan tugasnja pada Radio Republik Indonesia di Bukit Tinggi.

Pada agressi militer Belanda jang kedua, 18 Desember 1948, sebahagian besar dari pegawai-pegawai R.R.I. Studio Bukit Tinggi menggabungkan diri dengan kesatuan Pemantjar Gerilja jang dipimpin oleh Ardiwinata.

Jang sebahagian lagi menggabungkan diri pada Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Suliki.

Setahun lamanja perdjuangan radio digerakkan dari hutan belantara Sumatera jang merupakan alat bagi perdjuangan gerilja, dan alat perhubungan jang tidak ketjil artinja bagi Pemerintah Darurat Republik Indonesia jang bermarkas dikampung-kampung.

Sesudah kedaulatan, maka Studio-studio jang sebelum agressi kedua mendjadi miliknja Republik Indonesia djuga diserahkan kembali. Selama zaman R.İ.S. dinamakan Radio Nasional Indonesia dan setelah Negara Kesatuan datang, kembali pulalah terdengar : Inilah Radio Republik Indonesia.....................

АТЈЕН.

Atas kerdjasama dan persatuan jang erat antara pemuda- pemuda dari Balai Penerangan jang dewasa itu berada dibawah pengawasan Barisan Pemuda Indonesia dan jang berusaha mengumpulkan bahan-bahan alat penjiaran peninggalan Djepang, maka pemantjar Kutaradja untuk pertama kali mulai memantjar pada 11 Mei 1946 djam 18.30 WSU jang bergelombang 78 meter.

Dalam pada itu , pemuda- pemuda dan pegawai Radio Kutaradja masih merasa kurang puas dengan zender tersebut, karena kekuatannja tidak memuaskan dan terus berusaha mentjari dan membeli alat-alat dan perkakas jang dibutuhkan, sehingga pada 15 Pebruari 1947 telah dapat disiapkan pemantjar baru jang kekuatannja 40 watt bergelombang 65 meter.

Oleh karena pemantjar baru tersebut tidak kuat djuga, maka pegawai Djawatan Radio berusaha lagi membeli perkakas-perkakas dan alat-alat peninggalan Djepang di Blang Bintang dan ditempat-tempat lain sehingga pada 9 April 1948 djam 18.45 WSU berkumandang dudara pemantjar 325 watt dan bergelombang 33,5 meter.

Mengenai pemantjar ini oleh Radio Kutaradja jang dewasa itu dibawah pengawasan Djawatan penerangan Daerah Atjeh pada 7 Mei 1948 diterima sebuah telegram dari Djawatan Penerangan Bukit Tinggi no. 683/548 tertanggal 5 Mei 1948 jang isinja : Penerimaan gelombang 33 meter di Bukit Tinggi Qsa 2-3.

Pada tanggal 8 Mei 1948 diterima lagi sebuah telegram dari Sumatera Selatan (Tjurup ) no. 5002 tertanggal 28 April 1948 jang menjatakan bahwa penerimaan di Sumatera Selatan dan sekitarnja Qsa 3 dan di Djokjakarta Qsa 2.

Pada waktu agressi militer Belanda kedua , pemantjar Kutaradja mendjadi suatu pemantjar jang senantiasa memantjarkan siarannja kepelosok tanah air.

Disamping pemantjar tersebut, oleh pihak Tentera di Rimbaraja dibangunkan pula pemantjar untuk menghadapi siaran provokasi Belanda dan menggembleng semangat perdjuangan rakjat. Pemantjar tersebut bernama S.R.R.I. (Siaran Radio Republik Indonesia) dan bekerdja dibawah Penerangan Tentera Divisi X dengan siarannja dalam bahasa Indonesia, Inggeris, Hindustani, Urdhu, Tionghoa dan Arab.

Kedua pemantjar Radio itu didaerah Atjeh mendjalankan peranannja untuk menghadapi siasat musuh dan membangun kepertjajaan umum.

517 Beberapa harian terkemuka di Sumatera Utara dalam masa perdiuangan

kemerdekaan . Beberapa surat-kabar harian terkemuka di Sumatera dalam masa perdjuangan kemerdekaan.

Kantor Berita „ Antara dan beberapa madjallah di Medan turut mengambil peranan penting dalam dunia pemberitaan dan penerangan di Sumatera Utara.

521