Permainan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan/Babulanan

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
  1. B A B U L A N A N


  1. Nama permainan

    Babulanan dalam bahasa Banjar berarti main bulan bulanan atau main di atas suatu tempat yang berbentuk seperti bulan. Dalam penyebutannya di daerah., suku kata bu diulang sehingga menjadi babubulanan ; atau bunyi huruf u dalam pengulangan tersebut berubah menjadi a yaitu bababulanan.

  2. Peristiwa/waktu
    Sejauh informasi yang dapat dikumpulkan, ternyata permainan ini tidak mempunyai hubungan dengan hal - hal yang mengandung unsur religiomagis atau upacara adat tradisional. Permainan ini dimainkan oleh anak - anak sebagai olah raga diwaktu pagi di sekolah atau pada sore hari dalam pergaulan di kampung mereka sehari hari.
  3. Latar belakang sosial budayanya
    Permainan ini dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat tidak terbatas pada kelompok sosial tertentu. Berarti golongan apa saja yang berada dalam masyarakat dapat memainkannya.
  4. Latar belakang sejarah perkembangannya

    Menurut keterangan yang diperoleh dari informan bahwa permainan ini sudah ada sejak ia masih kecil. Jadi sebelum kemerdekaan sudah berkembang dengan baik.

    Sekarang permainan ini sudah jarang dimainkan.
  5. Peserta/pelaku permainan
    1. Jumlahnya
      Pemainnya minimum 5 orang dan maksimum 10 orang. Walaupun sifat permainan ini perorangan kalau jumlah pemain kurang dari 5 orang akan terlalu melelahkan. Pemain yang jadi ( ajak ) akan sulit menangkap lawan.
  1. Usianya
    Peserta/anak anak yang memainkan permainan ini berusia antara 10 -13 tahun. Umumnya adalah anak SD yang duduk di kelas III sampai dengan kelas VI. Anak berusia 14 tahun ke atas sangat jarang ikut bermain.
  2. Jenis kelamin
    Pelaku permainan umumnya terdiri dari anak laki - laki. Anak perempuan boleh saja memainkannya. Akan tetapi tidak pernah terjadi peserta campuran.
  3. Kelompok sosialnya
    Para pelaku permainan ini terdiri dari anak anak dari semua golongan yang ada dalam masyarakat. Anak petani, anak pegawai, anak pedagang, anak nelayan, bermain bersama-sama.
  1. Peralatan/perlengkapan permainan

    Untuk melaksanakan permainan babulanan ini cukup diperlengkapi dengan lapangan permainan yang tidak terlalu luas. Halaman rumah yang keras tanahnya dan tidak berbatu - batu dengan ukuran 10 x 10 meter sudah memadai. Halaman sekolah atau lapangan olah raga yang tidak ditumbuhi rumput sangat cocok untuk permainan ini. Lapangan bermain ini dibuat pada saat permainan akan dimulai. Rupanya berbentuk lingkaran sebanyak dua buah yang terletak berdampingan., Besar serta ukuran lingkaran tersebut tergantung kepada jumlah peserta/pemain. Makin banyak pemain, makin besar lingkarannya. Untuk pemain berjumlah 10 orang, diameter lingkaran mencapai 3 meter. Kedua lingkaran itu diberi nama rumah dan dapur. Diantara kedua lingkaran tersebut atau antara rumah dan dapur dihubungkan oleh dua garis sejajar yang jaraknya kira - kira 1 meter, sedangkan jarak antara lingkaran rumah dan lingkaran dapur yang dihubungkan oleh dua garis tadi kira - kira 1,5 meter. Ruang penghubung antara rumah dan dapur diberi nama jembatan. Lingkaran rumah dan dapur yang terletak di tanah lapangan itu hanya berupa garis yang dibuat bersama-sama oleh anak-anak/pemain itu sendiri menjelang saat akan bermain. Garis tersebut harus dibuat sejelas mungkin. Biasanya dibuat dengan potongan kayu yang agak tajam agar garis itu membekas di tanah.


Gambar sketsa lapangan permainan:


7. Iringan musik

Permainan ini tidak menggunakan iringan musik sebegai illustrasi.

8. Jalannya permainan

a. Persiapannya
Pertama - tama harus diperiksa tanah untuk lapangan permainan apakah cukup keras atau tidak. Perlunya lapangan yang bertanah cukup keras adalah karena anak dalam permainan tersebut banyak melakukan gerakan berlari mengitari garis lingkaran atau berlari - lari dalam lingkaran.
Setelah lapangan bermain diperiksa dan ternyata dapat dipergunanakan untuk bermain, baru ditetapkan jumlah peserta yang akan bermain. Bilamana pemainnya mencapai jumlah 6 - 10 orang maka lapangan bermain yang akan dibuat tentu mencapai diameter 3 meter baik untuk rumahnya maupun dapurnya.
Sesudah ada kesepakatan tentang jumlah peserta / pemain yang akan bermain, mulailah mereka membuat lapangannya yaitu lingkaran rumah dan dapur dan jembatannya. Kemudian. setelah itu anak anak semuanya berkumpul untuk melakukan hum pimpah yang diakhiri dengan hum - pim - sut/ suten untuk menentukan siapa yang jadi penangkap yang bergerak di atas lingkaran dan siapa yang akan ditangkap yang berada dalam lingkaran.
b. Aturan permainan
Sebelum permainan dimulai beberapa aturan permainan harus di kompromikan lebih dahulu. Ini dilakukan oleh para pemain itu sendiri.
Aturan permainan tersebut antara lain :

- Kaki penangkap tidak boleh keluar dari garis lingkaran : maksudnya

25

dalam usahanya menangkap lawan di dalam lingkaran penangkap

harus berpijak dengan kedua belah kakinya pada lingkaran.
 Gambar sketsa penangkap yang berpijak kedua belah kakinya di atas lingkaran :


a). Tangkapan dianggap tidak sah apabila kaki penangkap sebelah berada di luar garis lingkaran.
b). Pemain (yang dalam lingkaran) harus menggantikan anak yang menjadi penangkap apabila anak tersebut kena pegang oleh penangkap.

 Gambar sketsa anak yang kena pegang :

c).Pemain yang berada dalam lingkaran tidak boleh keluar lingkaran. Yang keluar berarti mati dan harus menggantikan penangkap yang bergerak di dalam lingkaran.
d). Pemain yang tertinggal sendirian di dapur karena tidak berhasil melepaskan diri dari tangkapan penangkap juga berarti mati dan ganti harus menjadi penangkap.
c. Tahap-tahap permainan
 Sesudah semua persiapan permainan diselesaikan serta aturan permainan dikompromikan antara sesama pemain, permainan pun dimulai.

26 Yang jadi yaitu pemain yang kalah suten terakhir, mulai bergerak menempati garis lingkaran sambil menggerak - gerakkan tangannya dalam usahanya menangkap pemain yang berada dalam lingkaran. Lingkaran yang ditempati adalah lingkaran rumah ( rumah ). Bergeraknya penangkap yang berputar mengitari lingkaran tersebut menyebabkan anak dalam lingkaran rumah dapat lari ke dalam lingkaran dapur (dapur) melalui jembatan penghubung. Jembatan boleh bebas dilewati, artinya pemain boleh bergerak di antara dua garis pinggir jembatan.

Gamabr sketsa anak melewati jembatan masuk ke dapur :


 Penangkap terus mengejar ke dapur. Di dapur penangkap bergerak mengitari garis lingkaran seperti terjadi dalam rumah dalam usahanya menangkap lawannya yang berada dalam lingkaran. Di sini pemain dalam lingkaran selalu berusaha menghindarinya yang akhirnya mereka dapat balik kembali ke dalam rumah.
 Apabila dalam usahanya balik kembali ke dalam rumah masih ada seorang pemain yang tertinggal didapur, maka pemain tersebut harus menggantikan penangkap yang pertama jadi tadi. Penangkap yang pertama masuk ke dalam rumah bergabung dengan pemain lainnya. Penangkap pengganti terus mulai bergerak menangkap lawannya seperti yang dilakukan oleh penangkap pertama.
 Permainan berjalan terus saling bergantian jadi penangkap. Sudah barang tentu pergantian penangkap ini terjadi karena ada yang kena tangkap atau karena melanggar aturan permainan. Apabila anak / pemain akhirnya merasa lelah permainan pun dihentikan sendiri oleh mereka.
d. Konsekwensi kalah menang
 Konsekwensinya dalam permainan ini adalah pemain yang jadi harus bersedia terus menjadi penangkap walaupun sampai permainan diakhiri. Kadang- kadang terjadi karena. ajaknya ( jadi terus) anak ter

27

sebut menangis.

9. Peranannya masa kini

Sesungguhnya permainan ini masa dulu cukup disenangi anak karena termasuk jenis olah raga yang bersifat rekreatif.
Walaupun permainan ini sudah tidak berkembang lagi, peranannya masih tetap ada, yaitu kesehatan badan karena berolah raga.

10. Tanggapan masyarakat

Menurut informasi dari informan sebenarnya permainan ini ditanggapi positif oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan oleh sifat permainan yang cukup rekreatif, disenangi dan menggembirakan anak. Adanya unsur edukatif menimbulkan kecenderungan untuk menghidupkan kembali permainan ini.
Oleh karena banyaknya jenis permainan lain yang lebih menarik anak, maka permainan ini akhirnya tidak begitu diperhatikan lagi.

BABULANAN

Seorang pemain berusaha memegang pemain lawan yang beradam dalam lapangan permainan. Kedua kaki pemain tersebut harus tetap berada di atas garis lingkaran/permainan.

28