Permainan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan/Babanga

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
  1. BAB II
  2. JENIS PERMAINAN RAKYAT DAERAH
  3. KALIMANTAN SELATAN

1.BABANGA

1. Nama permainan

Menurut penuturan para informan tempat permainan ditemukan yaitu Kabupaten Tapin, Kecamatan Candi Laras Utara, kota Margasari dengan jarak kira - kira 140 km dari Banjarmasin, bahwa permainan ini sejak para informan tersebut berusia sekitar sepuluh tahun sudah disebut B a b a n g a.
Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia sama dengan melakukan permainan babanga. Sebenarnya alawan ba dalam bahasa banjar sama artinya dengan ber dalam bahasa Indonesia. Babanga di sini sudah merupakan satu kata. Jadi suku kata ba yang pertama dalam kata babanga tidak sama maksudnya dengan melakukan-permainanan babanga. Tidak pernah dikatakan bermain banga.
Sejauh informasi yang diberikan oleh para informan tentang arti nama permainan tersebut, belum ditemukan apa sesungguhnya arti babanga itu.

2. Peristiwa/waktu

Permainan ini adalah permainan anak - anak yang bersifat rekreatif. Dimainkan di waktu senggang pada saat istirahat belajar di sekolah, pagi hari atau sore hari di kampung dalam pergaulan mreka sehari - hari.
Memperhatikan cara anak melakukan permainan ini, akan tampak bahwa permainan ini bersifat hiburan yang sangat menyenangkan dan menggembirakan.
Kalau mereka bermain di waktu sore, kadang - kadang lupa pulang sampai menjelang senja.

3. Latar belakang sosial budayanya

Mata pencaharian rakyat di daerah pedalaman Kalimantan Selatan selain bertani, menangkap ikan dan lainnya, juga berkebun karet. Dalam musim karet berbuah anak anak ramai mencari dan mengumpulkan buahnya. Buah karet inilah yang dipergunakan untuk main babanga tersebut. Kalau diperhatikan, anak - anak yang memainkan permainan ini terdiri dari anak anak segala lapisan masyarakat. Siapa saja boleh memainkan
nya, tidak tertentu pada satu golongan saja yang berada dalam masyarakat. Di dalam masyarakat pedesaan tentulah anak - anak desa yang memainkannya. Mungkin mereka itu anak·petani, anak nelayan. anak pegawai dan lain sebagainya.

4. Latar belakang sejarah perkembangannya

Berdasarkan keterangan para informan yang rata - rata berusia 45 tahun, permainan ini sudah ada dan berkembang di dalam masyarakat ketika mereka masih kecil, yaitu waktu informan berusia kira - kira 10 tahun. Berarti sebelum kemerdekaan permainan ini sudah ada. Hanya kapan dimulai berkembangnya tidak dinyatakan dengan pasti.

5. Peserta/pelakU permainan

a.Jumlahnya
Pemain berjumlah minimum 2 orang dan maksimum tidak ditentukan. Umumnya jumlah 5 orang dianggap cukup banyak. Jumlah melebihi 5 oraqg biasanya memperlambat jalannya permainan, apalagi permainan ini bersifat perorangan.
b.Usianya
Anak - anak yang memainkan permainan ini kebanyakan terdiri dari anak Sekolah Dasar kelas III - kelas VI atau anak - anak yang berusia antara 10-13 tahun. Kadang -kadang anak yang berusia 9 tahun atau 14 tahun pun ikut juga bermain. Permainan ini tidak sukar dipelajari sehingga anak yang berusia 9 tahun tersebut sudah bisa ikut bermain.
c.Jenis kelamin
Anak laki - laki atau anak perempuan boleh memainkan permainan ini. Main campuran dibenarkan saja, hanya jarang terjadi.
d Kelompok sosialnya
Para pemain terdiri dari anak - anak siapa saja dan golongan apa saja dalam masyarakat. Jadi tidak terbatas pada salah satu golongan tertentu di masyarakat. Anak petani,anak pedagang, anak penyadap karet, anak nelayan, anak pegawai, pelajar atau bukan pelajar dapat bermain bersama - sama.

6. Peralatan/perlengkapan permainan a. Lapangan permainan

 Halaman sekolah atau halaman rumah yang rata, cukup keras dan tidak berbatu - batu adalah tempat yang baik untuk dijadikan lapangan tempat bermain. Ukuran yang diutamakan-adalah panjangnya yaitu sekitar 5 meter : sedangkan lebarnya 2 meter pun sudah memadai. Dalam batas ukuran 5 x 2 meter ini dibuat lingkaran kecil di bagian ujungnya dengan garis tengahnya kira -kira 40 cm.


Gambat sketsa lapangan permainan :

b. Alat permainan

 Alat yang dipergunakan dalam permainan ini ialah buah karet. Apabila buah karet tidak ada biasanya diganti dengan buah kemiri. Buah karet yang dipergunakan sebagai alat permainan ini ada dua jenisnya yaitu :

- Undas, buah yang dipakai untuk melempar pasangan. Undas terbuat dari buah karet itu juga yang dikeluarkan isinya kemudian diisi dengan timah atau tanah liat sebagai pemberat.
- Pasangan, buah yang dipakai sebagai pasangan / taruhan yang berfungsi sebagai benda yang diperebutkan. Pasangan biasanya dilempar dengan undas. Apabila buah karet tidak ada maka sebagai gantinya dipergunakan buah kemiri.

7. I r i n g a n m u s i k

 Tidak ada iringan /illustrasi musik dalam permainan ini.

8. Jalannya permainan

a. Persiapannya
Mula - mula dipersiapkan alat permainannya. Kalau buah karet tersebut sudah siap, dikumpulkanlah para pemainnya yang akan bermain. Mereka mencari lapangan yang baik bersama - sama, kemudian membuat lingkaran tempat menaruh pasangan sesudah lapangan ditemukan. Garis bakakacian dibuat dengan jarak kira kira 3 meter dari lingkaran. Setelah selesai membuat garis bakakacian anak yang akan bermain mulailah mengumpulkan buah karet yang akan dijadikan pasangan. Pasangan tersebut jumlahnya tidak terlalu banyak. Satu orang memasang 10 biji buah karet sebanyak - banyaknya. Seluruh pasangan dari semua pemain diletakkan di dalam lingkaran. Permainan pun di mulailah sesudah hum - pim - pah atau suten untuk menentukan siapa yang akan melemparkan undas (bakakacian).

b. Aturan permainan

Agar permainan berjalan lancar, biasanya aturan permainan di kompromikan lebih dahulu sesama pemain. Aturan tersebut antara lain:
- Pemain yang undasnya masuk ke dalam lingkaran waktu bakakacian berhak menjadi pelempar/pemukul pertama terhadap pasangan
- Apabila undas semua pemain masuk ke dalam lingkaran waktu bakakacian seperti tersebut di atas, maka pemain yang berhak pertama kali melempar/memukul ialah pemain yang undasnya berada paling dekat dengan titik pusat lingkaran.
Gambar sketsa kedudukan undas tersebut :


Dalam hal ini pemain pertama adalah A. kedua B dan ketiga C.
- Apabila undas semua pemain jatuh di luar lingkaran, maka hak melempar pertama kali atas pasangan jatuh pada undas yang terdekat dengan lingkaran.

Menurut gambar sketsa, pemain pertama adalah B, ke dua C dan ke tiga A.

- Apabila dalam lemparan / pukulan pertama undas tidak terlempar keluar lingkaran melainkan tertinggal di dalam lingkaran, maka pemain berhak untuk melempar yang kedua kalinya atau yang ketiga kalinya dan seterusnya.
- Apabila undas terlempar ke luar lingkaran pada saat pemain memukul pasangan, maka pemain tersebut mati dan giliran harus diserahkan kepada pemain berikutnya.
- Apabila setelah giliran pemain terakhir pasangan masih tertinggal 4 atau 5 biji, pasangan boleh ditambah lagi oleh semua pemain. Dalam hal ini permainan harus dimulai lagi dari awal yaitu bakakacian.
- Tidak dibenarkan melempar / memukul pasangan dari arah samping kanan atau kiri. Pemain yang melakukan pelemparan demikian dianggap mati. Pelemparan / pemukulan harus dari arah atas atau sejajar mata.
- Pasangan yang kena undas dan terlempar jatuh tepat di atas garis lingkaran tidak boleh diambil oleh pemain sebagai kemenangan.

C. Tahap - tahap permainan.

1. Tahap bakakacian
 Bakakacian berarti melemparkan undas ke dalam lingkaran pasangan untuk menentukan pemain pertama, ke dua dan seterusnya yang berhak melempar pasangan.
Keterangan ilustrasi I :
 Undas A dekat sekali dengan pusat lingkaran. Undas B lebih jauh dan undas C yang terjauh dari pusat lingkaran.
- A pemain pertama memukul pasangan.
- B pemain ke dua memukul pasangan.
- C pemain ke tiga memukul pasangan.
2. Tahap memukul pasangan
 A yang menang dalambakakacian adalah sebagai pemain pertama memukul pasangan di dalam lingkaran pasangan.
Keterangan ilustrasi II :
 A menjatuhkan undas, memukul dan berusaha mengenai pasangan B & C menunggu giliran. a dan b biji karet keluar lingkaran menjadi milik A. Undas A berada dalam lingkaran, tidak keluar lingkaran. A masih punya hak memukul yang kedua kalinya.
Keterangan ilustrasi III :
A memukul untuk yang kedua kalinya.

a, biji karet yang keluar menjadi milik A

undas A keluar lingkaran, sehingga A mati.
-B mendapat giliran memukul pasangan karena A mati.

Keterangan ilustrasi IV :

B memukul pasangan. Undas B keluar lingkaran, berarti B mati.

a biji karet menjadi kemenangan B. Sisa biji karet 5 biji dalam lingkaran

-C mendapat giliran terakhir memukul tasangan karena B mati.

Keterangan ilustrasi V :

 C memukul pasangan yang 5 biji, ternyata 2 biji keluar yang menjadi kemenangannya (a + b)
Undas keluar lingkaran, berarti C mati.
 Giliran berikutnya seharusnya A kembali. Karena biji pasangan sisanya hanya 3, maka mereka bersepakat menambah pasangan. Permainan dimulai lagi dari awal sampai berhenti. 9. Peranannya masa kini
 Ketrampilan melempar dan membidik yang didapatkan dari permainan ini, pengaruhnya kecil sekali terhadap peranannya dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Dari sejarah perkembangannya jelas kita lihat bahwa permainan ini walaupun masih berkembang hingga saat ini tetapi sudah jarang sekali dimainkan anak anak. Jadi peranannya hampir-hampir tidak ada, meskipun permainan ini cukup menyenangkan dan menggembirakan.
10. Tanggapan masyarakat.
 Karena masyarakat ini menyenangkan dan menggembirakan anak maka masyarakat menanggapinya cukup positif.
 Hingga kini permainan ini masih berkembang meskipun sudah jarang sekali dimainkan anak anak.
 Boleh kita katakan bahwa permainan ini bersifat musiman. Musim karet berbuah terutama di musim panas permainan ini kadang - kadang dimainkan kembali oleh anak - anak.

BABANGA

Seorang pemain sedang menjatuhkan undasnya ke arah biji taruhan