Pengawal Tambang Emas/3

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

3. D I P O N D O K G A M B I R

  • * *


B E S O K N Y A Sibarani sudab masuk hutan. Ia sendirian saja tidak membawa teman atau sama-sama dengan orang lain. Baginya masuk hutan itu sampai kebahagian manapun juga sudah biasa. Setiap kelok dan liku dalam rimba itu dikenalnya dengan baik. Apalagi perjalanannya seolah-olah mengandung rahasia yang tak boleh sedikitpun diketahui orang lain.

Sibarani memang tidak ada takut atau gentarnya masuk kedalam hutan itu. Sebagai seorang bekas perimba ia kenal betul dengan hutan itu dan sifat-sifatnya. Hutan itu sababat mereka. Utan itu merupakan sumber hidup mereka.

Bukan tak ada bahaya dalam butan itu. Umpamanya gangguan dari binatang buas seperti harimau, babi, beruang atau ular-ular yang ukurannya. Sebesar batang pinang. Tetapi selama dunia terkembang baru empat kali harimau menerkam manusia dalam Rimba Mangkisi itu. Mungkin pula harimau itu harimau pendatang. Artinya harimau yang tidak ertempat tinggal dalam Rimba Mangkisi itu. Atau memang sudah janjian para korban akan mati dalam tangan barimau. Pada umumnya barimau tak mau berjumpa dengan manusia.

Hanya kata orang ular yang tak punya perbitungan. Namun ular itu punya pancaindera yang kurang awas, tidak seperti barimau. Sehingga kalau ada ular orang cept ahu dan menyingkir atau membunuh ular itu. Namun ada juga perimba yang berani menangkap ular. Ular yang ditangkapnya dari jenis ular python yang berukuran sebesar paha manusia dewasa. Bagi ular sebesar itu dengan gampang menelan seekor babi atau seekor anak lembu. Apalagi manusia. Tetapi hal ini jarang terjadi atau belum pernah terjadi.

Demikiadah Sibarani dengan santai dan selela lelanya berjalan da lam hutan pada jalan setapak yang biasa ditempuh orang-orang yang

masuk rimba. Ia kenal dengan solok dan semua biding bukit bukit dalam rimba itu. Ia membawa perbekalan secukupnya sebab belum tahu lagi selama berapa hari ia akan berada dalam hutan itu. Demikian pula tentu saja ia tak lupa

membawa senjata. Terutama sebilah parang tajam yang serba guna, Apalagi namanya memang: Sibarani. Barani artinya: beräni.

Setelah kira-kira selama tiga jam berjalan sampailah ia dipuncak sebuah bukit. Nama bukit itu: Bukit Indo Jawo. Semua orang yang lalu lalang dalam rimba itu biasanya berhenti disini. Dari puncak bukit itu lepas banglas pemandangan kearah dari mana kita datang tadi. Kelihatan daerah Tebingtinkgi yang terdiri dari beberana buah desa. Mungkin pada zaman dahulu orang Subayang sampai pula ketempat ini dan melihat adanya dataran yang luas dan subur itu, Sehingga akhirnya mereka boyong dan pindah kedaerah itu. Subayang ditinggalkan.

Karena mereka datang dari sebelah hilir maka kekayaan suku itu banyak terdapat disebelah hilir pula Atau yang berupa tanah ulayat. Suku itu bernama: Suku Melayu kemungkinan karena mereka berasal dari suku bangsa Melayu di daerah Riau, Yang sebelah kemudiknya banyak suku Caniago dan Bodi.

Dari Bukit Indo Jawo itu ada tiga persimpangan jalan. Berat ke kanan orang akan sampai di Subayang yaitu daerah yang sudah ditinggalkan itu. Dan sebelah ke kiri orang akan sampai di Merayu dimana banyak terdapat rotan dan manau. Manau dan rotan akan tumbuh setumpak setumpak. Bila ada rotan yang menyela hidup antara manau itu namanya rotan tunggal yang kualitasnya lebih baik.

Lebih berat lagi ke kiri kita akan sampai di daerah Tambang. Disanalah terdapat tambang emas yang jadi pokok cerita kita ini. Dan kesanalah tujuan Sibarani setelah ia bertemu dengan abangnya Tu' Atin.

Sibarani memakai bekalnya disana sambil melihat juga panorama keindahan kampung halamannya. Begitu kayanya negerinya dan banyak miseri dari yang dipendamnya. Nanti ia akan melewati sebuah bukit lagi yang bernama Bukit Situka Jaring dan barulah ia sampai di daerah Suang tempat abangnya sedang berladang gambir.

Matahari sudah condong ke barat. Hari sudah sore. Sibarani meneruskan perjalanan menuju ladang abangnya. Dalam pada itu ia berpikir-pikir juga beberapa hal yang sedang membuncah pikirannya pada waktu itu.

Dari jauh Sibarani sudah melihat pondok gambir abangnya itu. Ia tak perlu bertanya-tanya lagi apalagi kepada siapa akan bertanya dalam hutan itu karena ia tak pernah berpapasan dengan seorang manusiapun. Apalagi penduduk desa yang masuk hutan biasanya pergi waktu pagi hari dan pulang sesudah tengah hari. Kalau tidak mereka akan kemalaman sampai di desa. Sesudah melampaui sebuah belokan tampaklah daerah ladang gambir Tu' Atin,- abang Sibarani. Jelas saja pondok gambirnya terletak diatas tempat yang ketinggian. Sekeliling ladang itu diberi pagar bambu. Bambu itu diikatkan dengan akar-akar ke tiangnya ada tiga lapis. Dan dijerait pula dengan sulur-suluran, akar-akar dan sebagainya sehingga tertutup mati. Sebelah sananya tidak berpagar terhentak dilereng bukit. Makin dekat semakin jelas ladang gambir itu. Ada pintu masuk kedalamnya pakai ambang yang dimasukkan dalam bambu yang diberi lubang-lubang. Ada tiga buah ambang gerbangnya. Sibarani merasa lega melihat ladang itu. Namun abangnya belum kelihatan sedang Sibarani sudah sampai diluar pagar ladang itu. Ia melangkah memasuki daerah ladang. Dengan heran Sibarani melihat ladang itu sangat bersih tidak satupun tampak siarjannya. Menurut perkiraan Sibarani tak mungkin abangnya sendiri yang menyiangi ladang yang seluas itu. Tetapi ia tak ada mendengar dari kakaknya bawa abangnya mempergunakan pembantu atau orang upahan.

Bahagian sebelah kemuka ada lapangan sedikit antara gambir dengan pagar. Disana ditanam lada, bayam, kacang panjang, terung, peria, labu lengkap berbagai sayur-sayuran. Semuanya sedang berbuah.

Sibarani juga merasa bawa abangnya akan lama menetap diladang itu melihat kokoh pagarnya, kokoh pondoknya dan strategis letaknya. Seakan-akan memang ia memisahkan diri dari masyarakat dan tinggal di ladang itu. Jadi bukan semata-mata hanya mengharapkan hasil gambir saja. Didekat tangga ada pancuran yang ditampung oleh sebuah bak kayu. Airnya bersih. Sibarani tahu bagaimana teknik pancuran itu dan bagaimana cara menyalurkan airnya kesana.

Sibarani melongok-longok namun ia belum melihat abangnya. Lalu dia terus naik dan masuk kedalam pondok. Barulah didengarnya ada suara-suara ditingkat atas. Sibarani terus naik ketingkat itu. Barulah tampak olehnya abangnya sedang sembahyang asar. Sibarani naik diam-diam dan duduk sambil bersandar kedinding dan meletakkan bebannya disampingnya.

Kalau tadi Tu' Atin tidak sedang shalat dan duduk di tingkap itu pasti ia sudah tahu kedatangan adiknya. Sambil duduk Sibarani memperhatikan alat-alat pengempa yang sudah lengkap, tetapi jelas belum dipergunakan. Menurut perkiraannya takkan lama lagi gambir itu akan dikempa. Rasanya betah tinggal di pondok itu. Kalau ia tidak sudah berjanji de-

ngan Tu' Layau dan Intan Badaring mau ia rasanya tinggal bersama abangnya di ladang itu. Sebab ia ada juga mempunyai pengalaman mengempa gambir di Manggileng dekat Pangkalan Kota Baru.

"Assala mu'alaikum,..... assala mu'alaikum,...." Tu' Atin mengakhiri shalatnya sambil menoleh ke ke kanan dan ke kiri. Dan lalu dilihatnya adiknya Sibarani. Ia tidak ber doa dan membaca wirid-wirid lagi lalu segera mendekati adiknya. Keduanya bersalaman dan berpelukan karena teragak.

"Kapan kau pulang Barani?" tanya Tu' Atin lalu mengambil tempat duduk didepan.

"Baru tiga hari ini wan," jawab Sibarani.(didaerah ini abang dipanggil dengan uwan; asal kata dari tuan).

"Ada kamu singgah pada kakakmu?"

"Ada wan, dialah menunjukkan tempat ini."

"Jadi kamu sendiri saja kesini? Tentu banyak membawa dari rantau yaa?" Sibarani tersenyum pencong.

"Pulang pokok saja, wan. Disana kita payah bersaingan dengan orang Cina. Bangsa kita juga bangsa Melayu sangat terdesak oleh orang Cina. Mereka kuat-kuat, tekun, ulet, dan cukup dengan upah sedikit. Lebih-lebih di ambang timah di Taiping itu."

"Jadi kemana sebenarnya kamu merantau"

"Mula-mula ke Kolang kemudian ke Taiping. Lalu tak lantas angan kami pulang kembali."

"Dengan siapa kamu pergi?"

"Dengan Tu' Layau dan Intan Badaring."

"Jadi mereka sudah pulang juga?"

"Iya!"

"Tetapi untuk menukar-nukar selera uwan ini ada ' rokok lamak'. (yang dimaksudnya dengan rokok lamak itu ialah rokok bikinan Luar Negeri). Sibarani mengeluarkan satu bungkus rokok yang baru usak satu batang. Tu' Atin menjemba bungkus rokok itu dan mengamati bungkusnya. Merek rokok itu: Wesminster dan rokoknya tidak bulat tetapi berbentuk oval. Diambilnya sebatang lalu dibakarnya dan diisapnya.

"Memang harum," komentar Tu' Atin, " tetapi lebih enak juga rokok ini,- sambil ia menyodorkan selepa rokok daun enau-nya.

"Rokok ini murah pokoknya boleh dikata gratis. Tembakaunya kita

yang membuat, daunnya kita yang mencari."

Kemudian asyiklah mereka saling ber berita dari barat ke timur, dari deksina ke paksina.... sebagai gak habis-habisnya. Pada akhirnya entah sebenarnya entah ber basa-basa Tu' Atin menawarkan kepada adiknya supaya tinggal saja bersama-sama dengan dia di ladang itu karena gambirnya adalah hampir akan dikempa. Artinya sudah dekat mengeluarkan hasil.

"Sebenarnya saya setuju dengan saran uwan," kata sibarani, " tetapi kami sudah mempunyai rencana dengan Tu' Layau dan Intan. Rencana itu sudah sejak dari malaya kami buat."

"Rencana apa itu?" tanya abangnya.

"Tetapi ini masih rahasia wan, tetapi dengan uwan bagaimana pula saya akan main rahasia-rahasia. Kami merencanakan akan membuka tambang emas yang di Tambang itu. Kata Tu' Layau daerah tambang itu termasuk tanah ulayatnya."

Sibarani lalu mengisahkan tentang rencana membuka tambang itu, tidak satupun yang disembunyikannya.

"Yam tentang adanya tambang itu memang saya sudah tahu, malahan orang kampung kita sudah tahu semuanya. Tetapi tentang cerita orang Mungo membuka tambang itu dan membawa hasilnya baru kinilah saya mendengar.

Sibarani lalu menyampaikan hasil pembicaraan mereka di dangau Tu' Layau dan sama-sama mencari usaha bagaimana caranya menyingkirkan atau mengusir orang-orang Mungo itu dari daerah tambang itu. Sebab sudah jelas letak tambang itu dalam daerah kenegarian Balai Panjang dan malaya termasuk daerah Tu' Layau pula. Untuk mengusirnya secara paksa tentu saja tak mungkin. Mungkin timbul perselisihan atau persengketaan. Harus dicari kebijaksanaan lain."

Tu' Atun berpikir-pikir sejenak dan dibakarnya sebatang rokok West seakan-akan dia dengan memusatkan pikirannya untuk memecahakan masalah itu.

Lalu sebentar kemudian katanya:

"Barangkali saya bisa membantumu memecahkan persoalan itu, tetapi nantilah sampai malam nanti...."

"Kenapa mesti nanti malam?" tanya Sibarani.

"Ya, nanti malam, kau harus bersabar dan saya rasa pemecahan saya itu sebaik-sebaiknya dan sesuai dengan rencana tuan-tuan..." Sibarani tak menjawab lari, sudah ada harapan melihat jalan keluar.

Sesudah makan Tu' Atin makan bersama diknya ia lalu masuk ke ladangnya untuk bersiang disana sini yang masih ada siangan. Sibarani ikut membantu abangnya sebagai basa basi atau melengah-lengah hari menjelang malam.

Keheranan Sibarani masih tetap memuncak melihat bersih ladang itu. Dalam pikirannya tak mungkin pekerjaan itu dilakukan oleh abangnya sendiri. Tentu ada tenaga dari yang lain.

Kemudian di pojok ladang sebelah diluar Sibarani melihat sampah-sampah daun rotan dan manau bertimbun-timbun. Bila pula abangnya sempat ke hutan akan mencari rotan dan manau sebanyak itu, Dalam taksirannya sampah manau dan rotan itu takkan kurang dari dua belas kebat.

"Ilmu apakah yang dimiliki oleh uwanku sekarang?" pikir Sibarani. Tetapi ia tidak bertanya apa-apa kepada abangnya. Kuatir kalau-kalau kurang menyenangkan hati abangnya. Dan ia arus bersabar menunggu hari malam.

.///.