Pengawal Tambang Emas/2

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

2. SALUNG EMAS

SEBERANG AIR, ialah nama sebuah daerah dalam Kabupaten Lima Puluh Kota yang beribu kota: Payakumbuh.

Sebuah sungai mengalir dari utara keselatan daerah itu. Hulunya di daerah Suliki. Disana sungainya masih sebesar parit. Tetapi setelah sampai didaerah ini sudah menjadi sebuah sungai yang besar. Ada anak-anaknya yang besar sehingga sungai ini bertambah besar. Sebelah utara Payakumbuh anaknya bernama batang Lampasi. Sebelah selatan kota anaknya bernama: Batang Agam. Selain itu ada anak-anaknya yang lain yang kecil-kecil

Nama sungai itu Batang Sinamar. Sebelah hilir sekali nanti akan menyatu dengan temannya ialah batang Ombilin yang menyalurkan air dari danau Singkarak. Maka bernamalah ia batang Kuantan atau sungai Inderagiri yang bermuara di selat Berhala.

Batang Sinamar ini tak dapat dimanfaatkan untuk pengairan sawah-sawah sebab palungnya jauh terletak dilokasi persawahan. Untuk MCB pun sungai ini tidak terpakai. Maksudnya untuk mandi-cuci-berak sungai ini tak ada atau jarang sekali dipergunakan. Sebab mengalirnya jauh dari daerah pedesaan, dan airnya keruh-keruh kerak. Sepanjang tepinya dipenuhi oleh pohon-pohon baru. Jadi penduduk kurang bersahabat dengan sungai ini. Malahan sering terjadi permusuhan dengan sungai ini. Bila musim banjir airnya akan melimpah keluar palungnya dan menggenangi puluhan hektar sawah-sawah. Tidak itu saja tetapi diangkutnya ratusan ton pasir dan krekel lalu ditimbunkannya di sawah-sawah itu.

Manfaat sungai itu banya dicari ikannya Ikannya jenis garing, gurami dan besar-besar.

Kira-kira tiga kilo meter sebelah timur sungai ini berbarislah bukit-bukit yang berlereng terjal dan ada yang bukit batu. Disebelahnya terbentang rimba raya yang sejauh 15 hari perjalanan manusia dewasa. Dan akan sampai di daerab Riau yakni daerah Kampar Kiri. Hutan itulah yang bernama Rimba Mangkisi.Hanya ada satu-satunya celah memasuki rimba itu yang menjadi palung anak batang Sinamar, namanya batang Mangkisi. Ada beberapa puncaknya yang tinggi sehingga merupakan gunung kecil seperti: bukit Camin, bukit Tembilang, dan lain lainnya. Daerah diseberang batang Sinamar yang berbatasan dengan perbukitan itulah yang dinamakan Seberang Air. Terbentang sejak dari Taram sampai ke Ampalu sekian puluh kilo meter jauhnya. Tetapi yang dinamakan Seberang Air sejak dari desa bernama Tareh sampai ke Bancah. Dahulu daerah itu terisolir. Penduduknya dianggap kolot oleh desa lawan diseberangnya. Sebab perhubungan sangat sukar ke daerah itu. Hubungannya hanyalah lewat titian yang terbuat dari manau. Bila dilewati titi itu akan ber ayun-ayun, gamang kita dibuatnya. Sedang air ada beberapa depa sebelah bawahnya. Apalagi untuk membawa beban, usah dikatakan betapa payahnya. Gedung sekolah pada masa itu belum ada di daerah itu. Patut di juluki daerah itu ter isolir.

Barulah dalam tahun 1926 Pemerintah Belanda membangun sebuah titi kawat yang kokoh menghubungkan daerah itu dengan daerah diseberangnya.

Sampai sekarang titi kawat yang dibangun tahun 1926 itu masih ada dan masih tetap dimanfaatkan. Kabel yang dipasang Pemerintah Belanda itu, masih tetap menahan titi itu dengan kokohnya. Hanya lantainya saja yang sudah sering berganti sebab sudah lapuk. Apa yang di dambakan dan diimpikan oleh penduduk Seberang Air ialah ganti titi kawat itu dengan jambatan yang permanen. Enam puluh tujuh tahun titi yang lama dan sudah hampir setengah abad merdeka memang sudah sewajarnya titi babuai atau titi kawat itu diganti.

Sebab hasil daerah Seberang Air itu cukup kaya: kayu, beras, tembakau, gambir, hasil hutan, dan lain-lainnya. Ada beberapa desa yang ramai penduduknya di daerah itu, Bila kita sudah menyeberang di titi kawat itu kita akan melewati daerah persawahan yang bernama Siapi-api. Kemudian kita sampai pada sebuah persimpangan. Simpang empat. Arah ke kiri itu arah ke desa Tareh dan Kubang. Arah ke kanan kita akan sampai ke desa Simumbang, Tampung Kadok, Bancah dan terus ke Coran dan Sungai Ipuh daerah gambir yang kaya. Kalau terus kira-kira satu kilo meter lagi kita akan sampai di desa Lurah Bukit yang persis bersandar di perbukitan itu. Desa ini yang paling kecil namun penting statusnya. Sebab dari sanalah gerbang masuk ke Rimba Mangkisi. Basana disini tenang dan menyegarkan. Ada sebuah bukit dua lapis yang bernama Bukit Bujang Juara, bila dipuncaknya dibangun sebuah kupel akan menjadi daerah wisata yang ramai dikunjungi orang.

BESOK pagi baru Sibarani sempat berkunjung ke Lurah Bukit untuk menemui Tu' Layau. Setelah mendehem-dehem sedikit dan menyeru tuan rumah:

Tuu'!" lalu terdengar suara orang menyuruh naik, Begitulah adat kebiasaan di daerah itu kalau akan bertamu kerumah seseorang.

Didaerah Seberang Air itu rumah istilahnya: 'dangau'. Walau bangunan kuat dan bagus tetapi dikatakan dangau juga. Sebelah barat batang Sinamar dinamakan rumah. Walau bangunannya sudah bobrok.

Sibarani naiklah keatas dangau. Tu' Layau ada sedang menghadapi segelas kopi dan sepiring ubi rebus. Kebetulan Intan Badaring ada pula disana. Jadi seorang yang dicari dua yang ditemui.

Dangau Tu' Layau itu sebuah rumah gadang lama ber atap ijuk. Terdiri dari tiga ruang. Sekilas Sibarani melihat bahwa udara agak mendung pagi itu. Kedua mereka tidak ada berbicara hanya diam-diam saja. Tu' Layau memegang sebatang udut daun enau apinya sudah padam tetapi tidak dibakarnya walau masih panjang. Intan meletakkan lengannya di ambang jendela dan melihat keluar. Tak tentu apa yang jadi tatapannya. Ia tidak melengong kepada Sibarani ketika anak muda itu naik.

Sibarani dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada teman-temannya itu sebab cuaca mendung saja. Gagalkah rencana akan membuka tambang emas itu?

Dengan rasa kikuk dan ragu-ragu Sibarani mengeluarkan selepah rokoknya lalu menggulung sebatang udut daun enau. Begitu lazimnya di desa. Kalau dalam kantongnya ada juga sebungkus rokok yang lain. Sibarani membakar rokoknya, mengembuskan asapnya keatas, Seorang anak gadis kecil,- anak Tu' Layau datang menyuguhkan secangkir kopi panas kedepan Sibarani. Beberapa lama suasana hening saja dalam dangau itu. Barulah beberapa saat kemudian Tu' Layau buka suara:

"Kita sudah gagal Sibarani," katanya.

"Gagal?" ulang Sibarani dengan heran." Bukankah kita belum mulai apa-apa dalam usaha membuka tambang itu?"

"Ya, kita yang belum tetapi orang sudah dahulu dari kita. "Malahan mereka sudah mulai memetik hasilnya....."

"Siapa itu?" tanya Sibarani dengan nada kesal dan tak sabar.

"Kabarnya ada beberapa orang dari Mungo sudah mengusahakan tambangnya. Dan mereka sudah mulai mengambil hasilnya......"

"Aneh! Mengapa orang dari Mungo yang datang kesana akan membuka

tambang emas itu. Padahal kenegarian berlain, malahan daerah tambang itu termasuk tanah ulayat penduduk desa Lurah Bukit," kata Sibarani dengan nada jengkel dan kecewa.

"Sudah lama mereka membukanya, Tu'?"

"Kabarnya belum," jawab Tu Layau dengan perasaan jengkel pula.

"Kita memang heran, dari mana mereka mendapat informasi tentang tambang itu," meningkah pula Intan Bedaring.

"Itu tidak mengbbrankan," kata Tu' Layau, " sejak zaman dahulu sejak dari orang Belanda yang mengusahakannya dahulu orang sudah tahu juga bahwa disana ada tambang emas. Cuma yang jadi masalah mengapa mereka sampai kesana dan mengusahakan tambang itu."

" Mereka hrus kita usir, kita alau dari sana," kata Sibarani dengan bersemangat.

Dengan cara apa?" tukas Intan Badaring pula, " kita tak bisa dengan kekerasan mengusir mereka. Tentu ada bekingnya dan mereka juga barangkali banyak. Dan apakah kita harus mengumumkan perang dengan mereka?"

Tiga kepala ada lebih baik dari satu kepala. Jadi tiga kepala ada tiga pula hasil pemikirannya. Tetapi belum satupun yang tepat dan dapat diambil menjadi patokan. Hanya Tu' Layau menambah keterangannya:

" Aku sudah mengumpulkan beberapa keterangan tentang pencurian emas itu. Rupanya hal itu sudah lama juga berlangsung......."

" Tentu mereka sudah kaya sekarang," tukas Sibarani.

"Kaya tak kaya karena mencuri emas itu ada soal lain. Tetapi hal itu rupanya sudah lama. Orang-orang Mungo itu datang ke rimba Mangkisi katanya akan mencari bambu untuk membuat ketiding. Bambu itu dibawanya sudah berbentuk perim. Dan kau tahu apa isi perian itu Barani?"

" Apa?"

" Butir butiran emas....."

Sibarani tambah jengkel mendengar cerita Itu.

" Tetapi ada juga lucunya," sambung Tu' Layau.

" Ada juga lucunya orang mencuri emas?"

" Mereka itu ketika akan pulang ke desanya selalu bermalam disebuah pondok ditepi batang Mungo. Mungkin termasuk keluarganya juga. Nama orang itu Basirun. Dia sudah lama tinggal disana dan hidup sendirian saja.

Jadi orang-orang itu setiap pulang selalu bermalam disana, entah

apa maksudnya kita kurang tahu Dan setiap bermalam disana diberinya Basi-

run sebutir emas. Basirun menyimpan dan mengumpulkan emas itu dengan cermat. Kemudian seorang tukang emas yang kebetulan mengetahuinya melebur butiran emas itu dan membuat sesuatu......"

" Cincin atau kalung......?" tanya Sibarani.

" Seorangpun takkan dapat menerkanya."

" Basirun tidak membuat cincin, gelang atau kalung atau perhiasan lainnya. Ia membuat sebuah tabung dari lembaran emas itu dan dijadikannya salung peniup api di tungku...." gambung Tu' Layau dengan tertawa. Sejak tadi baru itulah terdengar ketawanya.

"Itulah kalau orang bodoh diberi emas" kata Intan Badaring.

" Basirun memang tolol," tukas Sibarani pula, "barangkali ia mengira emas itu sepotong bambu dan mempergunakannya di dapur...."

" Dari sanalah aku dapat mengetahuinya," kata Tu' Layau pula. "Ada orang desa kita kemalaman dan bermalam di pondok Basirun. Ia menumpang bertanak dan terbukalah rahasia itu. Rahasia salung emas dan korenah orang Mungo itu.

Jadi kerja orang Mungo itu tidak dapat dijadikan bahan tertawa. Apa ikhtiar kita untuk menyingkirkan mereka? Pokoknya jangan mereka datang-datang kesana untuk meneruskan usahanya mencari emas. Sebab kemana saja dibawa perkara kita mesti menang. Sebab tanah tambang itu ialah tanah ulayat kami tidak dapat diganggu gugat."

Setelah berdiam diri sebentar Intan Badaring mengeluarkan suara:

" Dengan cara lunak atau cara keras, Tu'?"

" Tentu saja dengan siasat lunak yang tidak merugikan. Dan tidak berkembang menjadi permusuhan yang mungkin meluas jadi sengketa antara desa. Jadi kita harus mencari ikhtiar yang lunak tetapi berhasil dan tidak punya resiko lain yang kurang enak. Kalau sampai berkelahi yaah, aku belum sampai berpikir kesana, Belum tentu hasilnya akan memuaskan,"

" Apa datuk sudah menemukan caranya?"

" Misalnya dengan cara menakut-nakuti mereka," ujar Tu' Layau.

" Menakut-nakuti mereka? Mana mungkin, merekabukannya anak-anak yang dapat ditakut-takuti dengan hantu-hantuan atau apa saja. Mereka ada beberapa orang dan pasti mereka ada memiliki senjata dan jangan- jangan mereka punya senjata api , meriam misalnya. Alih-alih mereka yang terusir malahan kita yang akan diusirnya. "

" Kalau begitu marilah kita pikirkan bersama-sama dengan kepala dingin dan pikiran yang tenang, semoga Tuhan akan menunjukkan jalan kepada kita."

"Benar Tu'," menyela pula Sibarani, "baiklah kita nanti sehari dua hari ini, Saya akan coba minta nasehat dulu kepada abang saya Tu' Ayin, Dia kenal dengan setiap sudut Rimba Mangkisi itu dan banyak akalnya. Juga sebelumnya gaya bermaksud akan melakukan pengintaian lebih dahulu ke lokasi tempat mereka menambang emas itu. Jadi kita dapat menentukan siasat untuk melakukan rencana kita."

"Apa kau tidak takut Barani?"

"Takut sedikit tentu ada, tetapi saya akan berusaha mengatasinya adan kemudian mencari taktik yang cocok untuk rencana kita. Saya rasa mereka tentu sedang sibuk bekerja disana dan kabarnya hanya sekali dua minggu kembali ke desanya untuk mengantarkan hasil usahanya."

"Tetapi,.... eh, mana dia abangmu si Atin itu tak pernah kulihat puncak hidungnya," tanya Tu' Layau.

"Dia sdah beberapa bulan tinggal dalam hutan saja dekat Subayang, membuat ladang gambir. Ini ulahnya bermusuhan dengan Kepala Negeri itu"

"Ya, kita harus bersabar. Temuilah abangmu dan cobalah selidiki keadaan di tambang itu. Kemudian kita berjumpa lagi disini. Semoga kita sudah melihat adanya jalan dan cara untuk melanjutkan rencana kita," kata Tu' Layau.

Maka bubarlah mereka.

.///.