Pancasila Dasar Negara 5

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

PANCASILA
SEBAGAI DASAR NEGARA

V

Kursus Presiden Soekarno
Tentang Pancasila
di Istana Negara, Tanggal 3 September 1958.

Saudara-saudara sekalian.

Ini malam diminta kepada saya untuk memberi kursus tentang Sila ke-4; Kedaulatan Rakyat. Di dalam beberapa pidato saya, telah pernah saya katakan bahwa teknis kedaulatan rakyat atau dalam bahasa asing democratie, sekadar adalah satu alat, alat untuk mencapai sesuatu tujuan. Teknis tujuannya ialah satu masyarakat yang berbentuk sesuatu hal, entah masyarakat kapitalis, entah masyarakat sosialistis, entah masyarakat apa.

Kemudian jikalau tujuan ini telah ditentukan, maka salah satu alat untuk mencapai masyarakat itu adalah demokrasi. Jangan lupa, saya sekali lagi berkata teknis secara alat. Perkataan teknis berarti penggunaan alat-alat. Bahwa demokrasi teknis adalah alat untuk mencapai sesuatu tujuan, hal itu pernah saya katakan di dalam beberapa pidato saya.

Alat untuk mencapai sesuatu tujuan bentuk masyarakat tidak selalu demokrasi; misalnya kaum Hitleris, kaum nasional-sosialis berpendapat bahwa untuk mencapai masyarakat yang mereka idam-idamkan, alatnya bukanlah demokrasi, tetapi nasionalsosialisme. National Sozialismus – kata orang Jerman – yang pada hakekatnya adalah fasisme diktatur. Atau jikalau kita ambil contoh dari pihak komunis, maka dalam taraf pertama cara bekerja mereka, alat yang mereka pakai untuk mencapai masyarakat yang bentuknya mereka cita-citakan, pada tingkat pertama ialah diktatur proletariat.

Jadi, baik demokrasi maupun fasisme atau nasional-sosialisme – nasional-sosialisme itu satu perkataan bikinan Hitler -, tidak menggambarkan sosialisme dan nasional, tetapi Hitler mengatakan ia punya fasisme: nasional-sosialisme.

Baik demokrasi maupun nasional-sosialisme, maupun diktatur proletariat adalah alat-alat untuk mencapai sesuatu bentuk masyarakat yang dicita-citakan. Tetapi di dalam cara pemikiran kita atau lebih tegas lagi di dalam cara keyakinan dan kepercayaan kita, kedaulatan rakyat bukan sekadar alat saja. Kita berpikir dan berasa bukan sekadar hanya secara teknis, tetapi juga secara kejiwaan, secara psychologis nasional, secara kekeluargaan.

Didalam alam pikiran dan perasaan yang demikian itu maka demokrasi dus, bagi kita bukan sekadar salu alai teknis saja, tetapi satu "geloof', sutu kepercayaan dalam usaha mencapai bentuk masyarakat sebagai yang kita cita-citakan.

Bahkan dalam segala perbuatan-perbuatan kita yang mengenai hidup bersama, dalam istilah bahasa Jawa hidup "bebrayan" kita selalu hendak berdiri di atas dasar kekeluargaan, di atas dasar musyawarah, di atas dasar demokrasi, di atas dasar yang kita namakan kedaulatan rakyat.

Kita mempunyai kepercayaan bahwa hidup kekeluargaan tak mungkin bisa berjalan dengan sempurna, bilamana tidak dengan menjalankan dasar kedaulatan rakyat atau demokrasi atau musyawarah. Sebagaimana di dalam alam keluarga, tak dapat urusanurusan di dalam keluarga itu dijalankan atau ditentukan secara perintah diktatur, tetapi harus berjalan dengan apa yang kita kenal semuanya yaitu kekeluargaan.

Maka di dalam masyarakat atau kenegaraanpun kita mempunyai keyakinan, bahwa segala sesuatu yang mengenai hidup "bebrayan" itu harus kita dasarkan atas dasar kekeluargaan, demokrasi, kedaulatan rakyat etc. etc., sehingga bagi kita, di dalam alam pikiran kita, didalam alam perasaan kita, di dalam alam kejiwaan kita, demokrasi bukan sekadar satu alat teknis, tetapi adalah pula sesuatu kepercayaan, satu "geloof'.

Maka oleh karena itulah bagi kita bangsa Indonesia, demokrasi atau kedaulatan rakyat mempunyai corak nasional. satu corak kepribadian kita, satu corak yang dus tidak perlu sama dengan corak demokrasi yang dipergunakan oleh bangsa-bangsa lain sebagai alat teknis. Artinya, demokrasi kita adalah demokrasi Indonesia, demokrasi yang disebutkan sebagai Sila ke-4 itu adalah demokrasi Indonesia yang membawa corak kepribadian bangsa lndonesia sendiri. Tidak perlu "identiek", artinya sama dengan demokrasi yang dijalankan oleh bangsa-bangsa lain.

Berhubung dengan inilah maka di dalam waktu yang akhirakhir ini saya dengan hati yang tetap dan yakin, berani mengatakan: janganlah demokrasi kita itu demokrasi jiplakan. Janganlah demokrasi yang kita jalankan itu demokrasi jiplakan dari entah Eropa Barat, entah Amerika, entah negara lain. Bahkan saya dalam waktu yang akhir-akhir ini berani menegaskan, demokrasi Indonesia adalah demokrasi terpimpin.

Orang yang alam pikirannya masih alam pikiran yang tersangkut dengan dunia Barat, artinya orang yang di dalam alam pikirannya belum berdiri di atas kepribadian Indonesia sendiri, atau belum hendak mengembalikan segala sesuatu kepada kepribadian bangsa Indonesia sendiri, orang yang demikian itu tidak akan dapat menangkap "essentie" daripada demokrasi terpimpin, sebagaimana dalam waktu yang akhir-akhir ini saya anjur-anjurkan. Bahkan orang yang demikian itu tidak mengerti bahwa demokrasi ala Barat yang mereka mau jiplak itu, di dalam bidang sejarah perekonomian dan kemasyarakatan dan politik Barat, sekadar adalah satu ideologie daripada sesuatu masa, – masa dengan "s" satu, bukan dengan "s" dua -, saya ulangi, demokrasi Barat yang mereka hendak jiplak itu di dalam bidang sejarah, jalannya sejarah daripada ekonomi, kemasyarakatan dan hidup politik di dunia Barat adalah sekadar satu ideologie daripada sesuatu masa, – masa dengan "s" satu, – daripada satu periode. Artinya bahwa di Eropa Barat, demokrasi, apalagi yang dikenal oleh kita dengan "parlementaire democratie". itu adalah ideologie daripada satu periode saja. Eropa Barat mcngenal periodc-periode yang tidak beridcologie parlemcntaire democratie, malahan pernah bahwa di Eropa Barat itu berjalan satu periode yang parlementaire democratie itu dibuang dengan tegas.

Lihatlah Hitler di Jermania, lihatlah Mussolini di ltalia, lihatlah Franco di Spanyol. Dengan terang-terangan dan tegas-tegasan parlementaire democratie dibuang. Dijalankanlah di zaman Hitler nasional-sosialisme, dijalankanlah di zaman Mussolini fasisme, dijalankan di zaman Franco, sebenarnya, fasisme.

Dan sebelum Eropa Barat atau Amerika mengenal atau mempergunakan parlementaire democratie, sebelum itu jelas-jelas di Eropa Barat atau Amerika itu tidak ada dikenal parlementaire democratie itu. Berjalanlah di sana satu sistem pemerintahan feodal, artinya satu sistem pemerintahan yang tidak didasarkan atas demokrasi, melainkan melulu ditentukan oleh Sang Raja.

Pernah di dalam pidato tatkala saya menghadiri perayaan 30 tahun usianya PNI di Bandung saya katakan, "parlementaire democratie a.dalah ideologi politik daripada kapitalisme yang sedang naik". Saya ulangi, parlementaire democratie adalah ideologi politik daripada kapitalisme yang sedang naik. Parlementaire democratie adalah ideologie politik daripada "Kapitalismus im aufstieg". Kebalikan daripada "Aufstieg" ialah "Niedergang".

Kapitalisme ada zamannya, periode naik, ada periodenya menurun. Naik dikatakan "Aufstieg" menurun dikatakan "Niedergang". "Kapitalismus im Aufstieg" dan "Kapitalismus im Niedergang .

Nah, parlementaire democratie adalah ideologi politik daripada kapitalisme yang sedang naik. Itu pernah saya katakan tatkala saya mengadakan pidato menyambut hari ulang tahun PNI yang ke-30.

Lantas saya tarik kongklusi, dus, kita tidak menghendaki Kapitalismus, tetapi kita menghendaki sesuai dengan Sila ke-5 daripada Pancasila, satu masyarakat keadilan sosial, kita dus sehenarnya tidak boleh memakai parlementaire democratie itu, dan tidak bisu mempergunakan parlemenlaire democratie itu sebagui sutu alai menyelenggarakan masyarakat keadilan sosial. Saudara-saudara hendak saya terangkan ini perkataan kapitalisme yang sedang naik, kapitalisme yang sedang menurun, dan ideologi politik daripada kapitalisme naik adalah parlementaire democratie. Dan apakah ideologi politik daripada kapitalisme yang sedang menurun "im Niedergang?"

Ideologi politik daripada "Kapitalismus im Nierdergang" adalah fasisme. Fasisme menurut perkataan seorang ahli kemasyarakatan "socioloog" yang bernama Karl Steuerman, fasisme adalah usaha yang terakhir untuk menyelamatkan kapitalisme. "Facisme is een laatste reddingspoging van het kapitalisme", untuk menyelamatkan kapitalisme.

Dengan ini dilukiskan bahwa kapitalisme yang hendak mati, yang hendak gugur, kapitalisme yang menurun, Kapitalismus im Niedergang, sebagai satu "laatste reddingspoging" mengadakan fasisme itu. Fasisme adalah ideologi politik daripada kapitalisme yang sedang inenurun, yang sedang megap-megap, yang sedang hampir mati, yang sedang hampir gugur.

Lebih dulu saya terangkan apa yang tadi dikatakan: Dulu itu tidak ada parlementaire democratie. Di Eropa Barat dan Amerika berjalanlah hukum-hukum feodalisme. Maka pada satu ketika adalah satu perobahan di dalam alam pernikiran, alam penghidupan dan kehidupan masyarakat di Eropa itu. Dan perobahan ini membawa pula perobahan di dalam alam ideologi. Nota bene menyimpang sebentar. Inilah historis materialisme yang pernah saya terangkan, bahwa historis materialisme itu mengatakan bahwa alam pikiran dalam masyarakat itu ditentukan oleh kebutuhankebutuhan sosial ekonomis, cara produksi di dalam masyarakat dan tidak sebaliknva.

Satu minggu yang lalu saya mengucapkan satu perkataan yang membikin geger sebagian daripada orang-orang, tatkala saya di Bogor didatangi satu rombongan kaum marhaenis. Di situ saya berkata marhaenisme itu sekarang menjadi rebut-rebutan. Hak tiap-tiap manusia untuk memeluk suatu isme, hak tiap-tiap manusia untuk berkata: "Inilah ismeku". Dan marhaenisme sekarang ini menjadi rebutan, saya katakan hak tiap-tiap manusia.

Tetapi kalau ada orang yang mau mengatakan: inilah marhaenisme tulen yang dipahami oleh Bung Karno; saya menjawab: "nanti dulu". Kalau dihubungkan dengan nama Bung Karno, saya minta supaya marhaenismenya itu seperti marhaenismenya Bung Karno. Jangnlah kok sekadar isme-isme lantas dikatakan inilah marhaenisme tulen. Nanti dulu, tanya dulu sama Bung Karno. Sebab, katakanlah yang menciptakan marhaenisme Bung Karno; dus tanya dulu apa yang dimaksud-kan oleh Bung Karno dengan marhaenismenya. Kalau tidak cocok dengan marhaenisme Bung Karno itu, kasilah nama lain; jangan dikatakan marhaenisme. Nah, di Bogor tatkala didatangi rombongan itu saya berkata: marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia. Marhaenisme, ini bahasa asingnya, "is het in Indonesia toegepaste marxisme".

Apa ini memang demikian, marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dilaksanakan di Indonesia, "het in Indonesia toegepaste marxisme?" Maka saya berkata kepada saudarasaudara yang datang di situ: Kalau dus ingin memahami betul marhaenisme, – ini saya menyimpang sebentar -, harus memahami dua hal. Lebih dulu memahami marxisme, apakah marxisme itu, salu. Dan kedua memahami keadaan-keadaan di Indonesia. Sebab marhaenisme, saya ulangi lagi, ialah marxisme yang diselenggarakan di Indonesia, yang dicocokkan dengan keadaan Indonesia, "het in Indonesia toegepaste marxisme". Dus dua hal ini harus dipelajari betul-betul. Yang mengenai Indonesia misalnya. antara lain-lain keadaan-keadaan seperti yang tempo hari dalam kursus pertama saya terangkan kepada saudara-saudara, bahwa jika kita di Indonesia harus mengadakan politik persatuan daripada seluruh rakyat.

Saya sudah terangkan tempo hari bahwa di Indonesia, kita tidak bisa mengadakan aksi melawan imperialisme sebagai yang dijalankan oleh rakyat India terhadap kepada imperialisme Inggris. Oleh karena keadaan di India lain lagi dengan keadaan di Indonesia dan imperialisme Inggris lain daripada imperialisme Belanda.

Dulu sudah saya terangkan kepada Saudara-saudara di dalam kursus yang pertama, antara lain Saudara-saudara yang hendak memahami marhaenisme harus kenal bahwa keadaan di Indonesia begini-begini-begini, bahwa imperialisme yang mengamuk dan bekerja di Indonesia begini-begini-begini, bahwa sejarah daripada exploitasi di Indonesia adalah begini-begini-begini.

Dus, orang yang tidak mempelajari keadaan-keadaan di Indonesia, tindak-tanduk imperialisme Belanda di Indonesia, orang yang tidak mengerti betul-betul keadaan Indonesia, orang yang demikian itu sebenarnya juga tidak bisa mengerti marhaenisme, oleh karena marhaenisme adalah "marxisme toegepast in Indonesia", mempunyai syarat-syarat sendiri, yang tidak sama sebagai rakyat di India, rakyat RRT, rakyat di Mesir, rakyat di Pakistan dan rakyat apapun.

Maka itu saya berkata: kenal dulu segala keadaan-keadaan di Indonesia, baru mengerti nanti marhaenisme. Di pihak yang lain harus mengerti apa marxisme itu. Jangan mengira bahwa marxisme itu harus dus komunisme. Tidak! Jangan mengira bahwa marxisme itu dus Soska. Tidak!

Marxisme itu adalah satu "denkmethode", satu cara pemikiran. Cara pemikiran untuk mengerti perkembangan bagaimana perjuangan harus di_jalankan, agar supaya bisa tercapai masyarakat yang adil.

Ada orang yang dengan gampang berkata: O, marxisme itu adalah materialisme. Marxisme adalah historis materialisme. Selalu dilupakan perkataan "historis". Marxisme adalah dus anti Tuhan. Mana kitab marxisme yang berkata bahwa marxisme itu anti Tuhan?

Marxisme adalah historis materialisme. Materialisme itu adalah macam-macam, ada yang anti Tuhan, tetapi bukan historis materialisme. Yang anti Tuhan itu materialisme lain, yaitu misalnya materialismenya Feuerbach, filosofis material-isme, wijsgerig materialisme. Itu yang mengatakan bahwa segala pikiran, dus juga alam gaib yang bernama Tuhan itu, bahwa itu adalah "incretie", adalah perasaan daripada materie.

Feuerbach pernah berkata: tidak ada pikiran kalau tidak ada fosfor. Pikiran itu adalah hasil daripada otak bekerja. Otak itu terdiri sebagian daripada fosfor; kalau tidak ada dus fosfor di sini, tidak ada pikiran. Maka Feuerbach berkata: tidak ada pikiran sonder fosfor.

Maka benar perkataan ini dari sudut filosofis materialisme, wijsgerig materialisme. Tetapi marxisme bukan wijsgerig materialisme.

Nah, historis materialisme itu apa? Itu adalah satu cara pengertian, bahwa sejarah itu telah membuktikan, bahwa alamalam pikiran yang berjalan di dalam masyarakat itu adalah terbawa oleh bentuk daripada economishe verhoudingen, productie-wijze di dalam masyarakat. Itu adalah historis materialisme, jadi bukan wijsgerig materialisme.

Marx pernah berkata: "Es ist nicht das Bewuztsein des Menschen dasz sein Gesellschafft liebensein, aber sein Gesellschafft liebensein das sein Bewusztsein bestimmt".

Bukan bewustzijn, kesadaran manusia, alam pikiran manusia itu yang menentukan corak segala materiil masyarakat itu. cara produksi, cara mencari makan dan lain-lain, akan tetapi sebaliknya cara produksi, cara ekonomi, cara mencari makan dan lain-lain, dari masyarakat itulah yang menentukan bagaimana corak alam pikiran, kesadaran manusia. Ini adalah marxisme. Kalau mau mengerti marhaenisme harus mengerti ini dulu dan mengerti keadaan di Indonesia. Dua-duanya ini kalau sudah dimengerti, baru bisa mengerti marhaenisme, sebagai yang saya maksudkan.

Saudara-saudara, maka berhubung dengan kursus yang sekarang mengenai demokrasi atau kedaulatan rakyat, hendak saya gambarkan kepasa Saudara-saudara hal ini tadi, bahwa demokrasi adalah satu ideologi politik daripada salah satu periode, satu bukti bahwa kesadaran manusia, sebab demokrasi adalah satu alam pikiran, alam pikiran politik, bahwa alam pikiran ini adalah terbuat oleh sesuatu cara produksi di dalam sesuatu periode.

Artinya bahwa di dalam sesuatu periode yang cara produksinya belum membutuhkan parlementaire democratie, belum timbul pikiran parlementaire democratie itu. Tegasnya: dulu, tatkala cara produksi belum sebagai yang tadi saya katakan: belum "Kapitalismus im Aufstieg", orang belum membutuhkan demokrasi-demokrasian, orang senang dengan cara feodal yang tidak ada parlemen-parlemenan. Cuma "sabda pandita ratu", terserah kepada Sang Nata, terserah kepada raja. Raja yang membuat hukum, raja yang menentukan segala sesuatu.

Orang di masyarakat pada waktu itu semuanya percaya kepada raja. Raja di dunia Timur dianggap malahan sebagai "titisan Batara kang linuwih". Apa yang ditentukan oleh raja, pasti benar. Di dunia Barat ada raja yang pernah menepuk ia punya dada dan berkata: "L'etat c'est moi! Le lois e'est moi!" "De staat ben ik! De wet ben ik!" "Negara akulah! Hukum akulah!"

Ini bukan kecongkakan daripada raja itu saja, tapi diterima oleh rakyat.

Di dunia Timur malahan betul-betul ludahnya ditelan oleh rakyat. Air cucian tangannya diterima oleh rakyat, air mandinya diterima oleh rakyat. Saya pernah ngobrol dengan Sri Jawaharlal Nehru, ngobrol tentang Aga Khan almarhum yang tua, yang suka main kuda balap.

Dia itu pada suatu waktu nonton baller di London, waktu pauze Nehru bersama Aga Khan pergi ke buffet, minum-minum sedikit; sesudah itu lantas pergi ke kamar cuci tangan. Aga Khan cuci tangan, Nehru cuci tangan. Sarnbil cuci tangan itu apa kata Aga Khan? "Do you know Nehru, I'm wasting thousand pounds". "He, Nehru, tahukah engkau, sebetulnya aku ini membuang uang seribu pound". Maksudnya air yang terbuang ini. "Coba air ini kujual kepada orang-orang pengikutku, laku seribu pound". Nehru cerita sama saya begitu.

Di dalam alam feodalisme rakyat itu bukan saja menerima perintah daripada sang Raja atau sang Agung, tetapi membenar-kan segala perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan sang Agung itu. Cara produksi di Eropa Barat di abad ke-18 dan sampai pertengahan abad ke- 18, memang satu cara produksi yang cukup diurus oleh sistem yang demikian ini.

Saudara-saudara yang memperlajari sejarah daripada revolusi Perancis, – orang Perancis sendiri menyebutkan revolusinya itu "La grande revolution", revolusi yang agung, de grote revolutie", – akan mengerti bahwa revolusi Perancis ini adalah revolusi penyelenggaraan daripada parlementaire demoratie. Dulu sebelum revolusi itu pecah, alam pikiran manusia di Perancis, sudah puas dengan sistem politik feodal, puas dengan segala kekuasaan ditentukan oleh sang raja.

Tetapi pada satu ketika, – dan ambillah perkataan "ketika" ini tidak sebagai satu moment, satu hari, satu detik, tetapi satu ketika sejarah yang memakan waktu berpuluh-puluh tahun, – pada satu ketika cara hidup, mencari makan, cara produksi di Perancis itu berobah. Dan karena probahan cara hidup dan cara produksi ini, maka rakyat tidak puas lagi dengan sistem yang tadinya memuaskan hati mereka. Kemudian jadilah revolusi.

Dulu "economische huishouding", perumahtanggaan ekonomi sebelum pertengahan abad ke-18, adalah satu huishouding yang tertutup, gesloten. Tiap-tiap kota mempunyai perumah-tanggaan sendiri. Di sekeliling kota itu ada kaum tani yang memberi bahan makan kepada kota itu. Di dalarn kota itu ada golongan kecil yang membuat alat-alat, golongan kecil yang memperdagangkan ini dan itu, semuanya gesloten.

Di dalam alam yang demikian itu kekuasaan itu sama sekali di dalam tangan kaum feodal, dengan dibantu oleh kaum yang di dalam revolusi Perancis dinamakan klas ke-2; kaum bangsawan dinamakan klas ke-1, eerste stand.

Kaum gereja, – bukan agama, – organisasi daripada gereja, di masa itu kuat betul. Organisasi daripada gereja itu menjadi kekuasaan di samping kekuasaan kaum bangsawan, dan mereka ini dinamakan klas ke-2, tweede stand. Stand ke-1 dan ke-2 inilah yang memegang tampuk pimpinan pemerintahan.

Tetapi masyarakat yang tadinya tertutup di dalam "gesloten huishoudingen" makin lama makin memecah. "Gesloten-heidnya" itu pecah. Kebutuhan hidup makin lama makin bertambah, tidak bisa lagi kebutuhan hidup itu dicukupi dengan tukar-menukar dengan bapak tani; tidak, tetapi ingin perkembangan. Pengusahapengusaha ingin berusaha di lapangan ekonomi.

Gampangnya bicara: apa yang dinamakan kapitalisme ingin tumbuh, ingin mendapatkan kesempatan untuk berkembang biak. Pernah saya bicarakan pokok daripada kapitalisme, ialah cara produksi mempergunakan tanaga buruh, yang buruh ini membuat daripada sesuatu barang lain yang lebih berharga daripada tadinya. "Theorie meerwaarde", pernah saya terangkan di sini.

Meerwaarde ini pokok daripada kapitalisme. entahlah berupa apa. Tepung sama gula itu barang; oleh tenaga buruh tepung dan gula ini dikerjakan jadi "jladren". Jladren olch tenaga buruh dicetak-cetak dimasukkan dalam "oven". Pendeknya oleh tenaga daripada buruh ini, tepung dan gula ini, yang katakanlah tadinya harganya 100, menjadi kueh. Kueh ini tidak lagi seharga 100, tetapi seharga 200, sesudah tenaga buruh ditanamkan di situ. Dari 100 menjadi 200, tambahnya 100.

Tambah inilah yang dinamakan di dalam ilmu marxisme ialah "meerwaarde". Tetapi keringat buruh yang menghasilkan "meerwaarde" 100 ini tidak dibayar dengan 100 pula; yang diberikan kepada buruh 50. "Meerwaarde"-nya 100, tetapi yang diberikan kepada buruh cuma 50. Yang 50 lagi masuk dalam kantongnya kapitalis. lni gampangnya bicara saja.

Sumber daripada kapitalisme ini ialah satu cara produksi yang "meerwaarde"-nya tidak dihonoreerkan-kan 100% kepada sipembuat "meerwaarde" ini, tapi hanya sebagian saja kepada si buruh dan sebagian lagi masuk di kantongnya si kapitalis.

Nah, Saudara-saudara mengerti bahwa cara begini ini, jikalau dikerjakan dengan banyak buruh di banyak lapangan, berhari-hari, bahwa ini yang menjadi "bron", sumber daripada kekayaankekayaan, yang akhirnya kita kenal sebagai kekayaan-kekayaan besar dalam kekayaan-kekayaan alam kapitalisme yang dimiliki beberapa orang saja.

Nah, keadaan Perancis pada satu ketika, – ketika dalam arti historis periode, – berobah demikian.

Inilah kaum pengusaha-pengusaha, manusia yang ingin kaya, ingin mencari untung, ingin mengadakan buruh, ingin mengadakan perusahaan, pendeknya apa yang saya gambarkan tadi, "productie wijze" dengan menghasilkan "meerwaarde", dengan sebagian hasil "meerwaarde", saja diberikan kepada buruh dan yang lain masuk kantongnya pengusaha. "Productie wijze" yang demikian ini semakin lama semakin menjadi-jadi. Nah, agar supaya "productie wijze" yang demikian ini bisa berjalan dengan selancar-lancarnya, timbullah "bewustzijn-bewustzijn", kesadaran-kesadaran, alam-alam pikiran baru. Cara produksi yang berobah membawa perobahan di dalam alam pikiran. Inilah historis materialisme.

Apa alam-alam pikiran baru itu? Macam-macam. Misalnya di dalarn lapangan ekonomi yang kita kenal dengan "liberalisme". Oleh karena itu kita menentang kepada "liberalisme". Oleh karena "liberalisme" adalah alam-alarn pikiran yang pengusaha si Polansi Polan semuanya ingin men-jadi kaya. Diperkenankanlah apa saja semaumu, di lapangan ekonomi, jangan negara ikut-ikut.

Feodalisme ‘kan boleh dikatakan negara atau raja yang menentukan segala sesuatu ini. Sang Raja yang berkata di dalam alam feodalisme: "Engkau hanya boleh membikin palu seperlunya saja. Engkau hanya boleh menanam gandum seperlunya saja. Aku menghendaki supaya bidang tanah yang beriku-ribu kilometer persegi itu harus ditanami dengan itu saja. L'etat c'est moi! Le lois c'est moi! Aku, Raja yang menentukan segala sesuatu!" Di dalam alam yang baru ini pengusaha-pengusaha segala sesuatunya ditentukan oleh raja.

Tidak, kami ingin berusaha, biarkanlah kami berusaha, j angan raja atau negara ikut-ikut. Kami ingin kemerdekaan, kebebasan berusaha. Kami ini ahli bikin kueh, biarkanlah kami membikin kueh sebanyak-banyaknya, rugi ya biar kami, untung ya biar kami. Orang lain berkata: kami ini ahli membikin meja kursi; biarkanlah kami membuatnya, untung adalah keuntungan kami, rugi adalah "risiko" kami, janganlah raja ikut-ikut. Semua ingin bebas berusaha. Ini yang namanya "liberalisme"; dari perkataan "liberty", alam kebebasan yang mereka kehendaki.

Timbulnya alam "liberalisme" ini, kuatnya angin "liberalisme" ini, di periode ini. Di lapangan ekonomi demikian, di lapangan politikpun demikian. Di lapangan politik berjalanlah alam pemikiran baru yang dinamakan "politik liberalisme".

Berpikir politik: jangan raja ikut-ikut, biar kami berpikir politik, biar kami mempunyai keyakinan pikiran sendiri, mempropagandakan pikiran kami sendiri. Politik "liberalisme". Kami mau mengadakan partai-partai, biar partai corak A, biar partai corak B, biar partai corak C dan seterusnya: politik "liberalisme".

Maka terjadilah desakan dari klas yang ke-3. Tadinya ini klas bangsawan dengan raja sebagai pimpinannya. Nomor dua klas gereja, tweede stand. Ada klas baru yang menyebutkan dirinya klas ke-3, ialah klas pengusaha, yang di dalam kursus saya pertama, saya namakan "bourgeois", tatkala saya berkata India mempunyai "National bourgeois" atau lebih tegas "National bourgeois" yang ada di India tidak dihancurbinasakan oleh imperialisme Inggris. Maka pergerakan Nasional India sebagian daripada dia punya "motorische kracht", ialah kekuatan daripada kekuatan "Nasional bourgeois" di India.

Klas ke-3 ini yang sebenarnya yang menjadi peniup daripada revolusi Perancis. Rebut kekuasaan daripada tangannya raja! Rebut kekuasaan daripada tangannya kaum feodal! Rebut kekuasaan daripada tangannya stand ke-2!

Tetapi klas ke-3 ini juga merasa kalau harus merebut kekuasaan itu dengan tenaga sendiri tidak bisa. Kekuasaan feodal dan kekuasaan gereja ini terlalu kuat. Kaum pengusaha sendiri tidak kuat. Karena itu lantas kaum klas ke-3 ini, pengusaha, mempergiatkan tenaga rakyat jelata, yang oleh mereka dinamakan klas ke-4, Eerste stand feoctal, tweede stand gereja, derde stand opkomende hougeois, vierde stand rakyal.

Vierde stand ini yang dipergiatkan. Vierde stand ini yang dibakar hatinya dengan semboyan-semboyan. Vierde stand ini yang dibakar hatinya dengan revolusi Perancis yang termasyhur. Liberte! Egalite! Fraternite! Kemerdekaan! Persamaan! Persaudaraan!

Pada waktu pertama kita memang melihat pengusaha itu berpeluk-pelukan di jalan di Paris, dansa-dansa di muka gereja indah Notre Dame. Di lapangan itu diadakan musik. Kita melihat pengusaha-pengusaha itu berdansa-dansa dengan yang dinamakan rakyat jembel. Liberte! Egalite! Fraternite!

Rakyat yang terbakar ini menjadi kuda daripada tenaga revolusi Perancis, yang pada hakekatnya ialah revolusi untuk merebut kekuasaan dari tangannya stand ke-1 dan stand ke-2 ke dalarn tangannya stand ke-3. "Leuze", semboyan Liberte, Egalite, Fraternite, di dalam bidang politik diselenggarakan sebagai "parlementaire democratie". Semua orang boleh masuk dalam parlemen. Semua orang boleh bicara. Sekarang kita tidak lagi mengadakan hukum secara feodal oleh satu orang manusia.

Semua harus ikut, sekarang harus dengan bermusyawarah.

Dan "liberale politiek" boleh tiap-tiap orang mengusulkan, boleh tiap-tiap orang pidato, boleh tiap-tiap orang dipilih.

Kelanjutan daripada revolusi Perancis, rakyat jelata terpukul. Saudara-saudara akan bertanya: kalau begitu bagaimana, pengusaha-pengusaha itu ‘kan kalah dengan rakyat jelata? ‘Kan maksudnya pengusaha-pengusaha ini mau mengadakan hukumhukum, peraturan-peraturan, wet-wet, yang cocok dengan kepentingan pengusaha, mau mengadakan hukum-hukum, peraturan-peraturan, wet-wet, untuk menjadi bumi bumi subur bagi "Kapitalismus im aufstieg". Tapi kalau rakyat jelata semuanya diperbolehkan masuk parlemen, boleh memilih dan dipilih, ‘kan kalah "stem" kaum pengusaha?

Tidak Saudara-saudara, di dalam praktiknya mereka telah mengetahui lebih dulu, bahwa pemilihan parlemen itu selalu dengan "campagne", dengan "propaganda", dan mereka sudah tahu: kami yang mernegang alat-alat propaganda, kami yang bisa membiayai surat-surat kabar, kami yang bisa membiayai segala alat-alat yang lain. Bahkan kami kaum pengusaha itu membiayai sekolahsekolah, universitas-universitas.

Kaum pengusaha, terutama sekali kaum pengusaha yang sedang timbul ini, adalah satu golongan kaum yang betul-betul mempunyai rasa percaya kepada diri sendiri yang amat kuat; "zelf vertrouwen" yang amat besar sekali. Tidak takut mengadakan parlementaire democratie. Tokh nanti lihat utusan-utusan di dalam parlemen itu sebagian besar antek-antek kami. Sebagian besar akan berpikir secara kami, oleh karena kamilah yang membiayai universitas-universitas, membiayai sekolah-sekolah menengah. Oleh karena kamilah yang mencetak buku-buku, oleh karena kamilah yang mengeluarkan surat-surat kabar dan majalah. Kami kaum pengusaha, kami menguasai "beheersen het politieke en het intellectuele leven van het volk".

Dan di dalam praktiknya demikian Saudara-saudara, semua parlemen-parlemen yang baru lahir, yaitu di pertengahan abad ke-19 revolusi Perancis, sebentar diikuti oleh satu periode yang menentang, tetapi kemudian dalam tahun 1848 datang lagi satu revolusi. Malahan yang lebih tegas "met parlementaire rechten" di Eropa, sebagian lain ada yang 1852 ada yang tahun 1856. Tetapi pertentangan di abad ke-19 itulah terselenggara apa yang dinamakan "parlementaire democratie". Dan atas dasar hasil daripada parlementaire democratie ini kapitalisme di Eropa Barat berkembang biak benar.

Jadi jelaslah bahwa parlementaire democratie adalah ideologi politik daripada "Kapitalisme im Aufstieg".

Tatkala kita mengadakan pergerakan nasional, dengan sekaligus kita berkata bahwa kita menghendaki demokrasi pula. Tetapi kita mengetahui bahwa parlementaire democratie atau politik demokrasi saja bukan membawa kebahagiaan kepada rakyat, tetapi sebaliknya tumbuhnya kapitalisme sebagaimana yang kita lihat di Eropa, yang kendati berjalannya parlementaire democratie, sejak pertengahan abad ke-19, kita melihat kapital-isme menjadi kuat. Kita melihat ": kartel-kartel" dan "trust-trust" makin lama makin hebat. Sebaliknya kita melihat rakyat jelata menjadi kaum "proletar" yang papa sengsara.

Dengan sekaligus kita berkata pada waktu kita mengadakan Gerak Nasional, kita tidak menghendaki hanya demokrasi politik, tetapi kita menghendaki pula demokrasi ekonomi. Parlementaire demokrasi adalah hanya demokrasi politik, parlementaire demokrasi memberikan "kans" yang sarna secara demokratis kepada semua orang di bidang politik, itupun "zogenaamd". Sebab dalam praktiknya si pemegang uanglah yang bisa merbiayai surat kabar, membiayai propaganda etc. etc. Tetapi pada teorinya, sernuanya di bidang politik sama: engkau boleh dipilih, engkau boleh memilih, semua orang boleh memilih, semua orang boleh berpaham, berpendapat sendiri dan sernua boleh mengutarakan pikirannya itu, sama tidak ada perbedaan. Tetapi di bidang ekonomi, tidak! Tidak ada kesamarataan di bidang ekonomi! Kita melihat si kaya, si miskin, si milyuner, si proletar – dalam arti si jembel, bukan dalam arti marxis yang tulen, yang tempo hari sudah dikatakan proletar adalah orang yang menjual tenaganya, dengan tidak ikut memiliki alat produksi, itu "definisi proletar". Jadi di bidang ekonomi tidak ada sama rata sama rasa. Ini yang pernah digugat oleh pemimpin-pemimpin kaum buruh di Eropa, yang juga dengan tegas mengatakan: kami ini tidak mau cuma demokrasi politik tok. Di dalam tahun 1870 lebih hebat lagi dan pada permulaan abad ke-20 digembar-gemborkan oleh pimpinan kaum buruh di Eropa Barat.

Kita baru sekarang berani mencela: hanya demokrasi politik tok. Kita baru sekarang berani berkata: verrekt met parlementaire democratie tok. Kita terbelakang, paling sedikit 50 tahun!

Di alam Eropa, tadi saya berkata sudah mulai tahun 1860, '70, ‘ 80, permulaan abad ke-20, orang-orang seperti Adler, Liebknecht menjatuhkan vonnis yang sama sekali vernietigend terhadap parlementaire demokrasi tok.

Orang-orang seperti Juarcz. Liebknecht, seperti Adler, menghendaki apa yang mereka namakan politik ekonomische dmokrasi. Dus bukan hanya demokrasi politik tetapi juga demokrasi ekonomi. Sama rasa di dalam lapangan politik, tetapi juga sama rasa di dalam lapangan ekonomi.

Dan politiek economische democratie inilah yang sebagai saya katakan di dalam kuliah terhadap mahasiswa-mahasiswa di Yogyakarta, oleh Adler dinarnakan sosial demokrasi.

Sosialisme itu mempunyai macam-macam aliran. Ada aliran sosial demokrasi, ada aliran religieus socialisme, ada aliran "anarkhisme Bakunin", ada aliran komunisme daripada lenin. Salah satu aliran dalam sosialisme bernama sosial demokrasi. Adler yang menghendaki politik ekonomische demokrasi ini dalam satu perkataan sociale democratie; bahasa Indonesia-nya demokrasi sosial. Juarez juga begitu, malahan Juarez, – saya selalu gemar sekali kalau menyebutkan dia punya nama, – di dalam parlemen di Perancis itu pidatonya selalu dengan perkataanperkataan yang indah. Ia berkata: "Di dalam parlementaire democratie tiap-tiap orang bisa menjadi raja. Tiap-tiap orang bisa memilih, tiap-tiap orang boleh dipilih. Tiap-tiap orang bisa memupuk kekuasaan untuk menjatuhkan menteri-menteri dari singgasananya". Dan memang, di dalam parlementaire democratie, menteri yang sudah kuasa itu, di dalam parlementaire democratie bisa dijatuhkan oleh si jembel, wakil-wakilnya yang duduk dalam parlemen itu. Menteri yang berkuasa dijatuhkan oleh anggota-anggota parlemen.

Di bidang politik tiap-tiap kita adalah laksana raja. Tetapi di bidang ekonomi tidak demikian. Si kaum buruh yang pada hari ini di dalam parlemen adalah seorang raja, besok pagi di dalam pabriknya ia bisa dilempar keluar dari pabriknya itu menjadi menjadi orang yang tiada kerja. Si kaum buruh vang menjadi anggota parlemen ini hari bisa menjatuhkan menteri, tetapi kembali di dalam pabrik dia adalah buruh di bawah kekuasaan sang majikan, bisa dilepas bisa dijadikan orang yang "op de keuen", hidup sengsara. Oleh karena itu, Juarez pada permulaan abad ke-20 itu, tahun 1903, dia sudah menjatuhkan "vonnis" kepada demokrasi parlementer. Ia menghendaki politiek economische democratie; demikian pula Liebknecht, demikian pula banyak pemimpinpemimpin lain.

Kalau kita pada hari sekarang ini tahun 1958 juga mengeritik parlementaire democratie, ada yang mengatakan: "Dia itu kominis! Dia itu mau memblinerkan kita kepada satu alam yang salah". Saya dikatakan demikian pula: "Lihat Bung Karno dengan demokrasi terpimpin. Kapan dia keluarkan perkataan demokrasi terpimpin itu sesudah Bung Karno pulang dari Sovyet Uni, sesudah Bung Karno pulang dari RRT.

Marilah saya terangkan sekarang sedikit tentang fasisme. Begini: Di dalam alam kapitalisme, kapitalisme itu kecuali hidupnya seperti yang sudah saya gambarkan, juga mempunyai penyakit. Dan penyakitnya itu saban-saban datang, yaitu penyakit yang dinamakan krisis. Kapitalisme Amerika sekarang ini sedang mengalami krisis sedikit. Krisis sejak tahun yang lalu mulai berjalan, malah Saudara-saudara tahu pabrik-pabrik mobil sekarang sedang distop.

Tahun 1929 tempo hari krisis hebat, – yang kita kenal di sini dengan perkataan malaise. Kapitalisme itu mempunyai satu penyakit yang "inhaerent"; artinya sudah pembawaan daripada kapitalisme sendiri. Selalu kapitalisme itu diganggu krisis, periodiek mesti ada krisisnya.

Nah, saat kapitalisme banyak untung, datanglah saat krisis. Pada saat kapitalisme hidup lagi, datanglah lagi krisis. Hidup lagi, banyak untungnya, krisis lagi. Periodeiek up and down. "Up"-nya ini dinamakan dalam ilmu ekonomi periode conjuncture. Conjuncture artinya krisis. Sekarang saya hendak menggambarkan bagaimana rupanya kapitalisme yang sedang naik yang melalui beberapa conjuncture-conjuncture. Krisis itu terjadi beberapa puluh tahun sekali, tetapi yang dinamakan "im aufstieg" itu adalah meliputi periode yang lama dari abad ke-18 sampai abad ke-20.

Jadi selama "Aufstieg" itu ada conjuncturekrisis – conjuncturekrisis. Tetapi garis besarnya pada pokoknya terus naik. Kemudian di situ saat kapitalisme menurun, "Niedergang". Inilah beberapa garis yang saya tarik. Garis ini pada saat-saat krisis. Krisis naik, conjuncture naik; daripada satu ketika krisis lagi, naik lagi, diatasi lagi krisis itu, conjuncture lagi, diatasi lagi, krisis lagi, conjuncture krisis, conjuncture krisis.

Bagaimana caranya mengatasi zaman conjuncture? Apa coraknya?

Barang produksi banyak dan juga laku, sehingga meerwaarde yang masuk di dalam kantong sang pengusaha banyak sekali. Produksi tinggi dan selalu bisa habis terjual, ini namanya conjuncture. Memang kapitalisme membuat barang untuk dijual, kapitalisme tidak membuat barang untuk individuele consumptie. Sang kapitalis membuat barang itu tidak untuk dirinya.

Kapitalis pembikin kueh-mari misalnya, membikin itu bukan untuk dimakan sendiri; tidak, tetapi untuk dijual dengan untung. Untung itu ialah sebagian daripada meerwaarde yang masuk di dalam kantongnya. Ini adalah sifat daripada kapitalisme: produceren untuk dijual dengan untung.

Nah, pada satu saat produksi-produksi laku, tetapi sampai kepada satu tingkat yang tidak bisa habis dijual, itu dinamakan overproductie. Itu adalah satu paham relatif, artinya asal barang tidak bisa dijual dinamakan overproductie. Di sini tercapai satu ketika yang barang tidak bisa dijual lagi, produksi mandeg atau terpaksa diperkecil. dikurangi. Datanglah krisis, banyak kaum buruh di-ontslag enz. enz.

Tetapi pada satu ketika krisis ini yang sudah mencapai dasarnya yang paling rendah, dengan beberapa usaha bisa naik lagi. Usahanya itu apa, kok bisa naik lagi? Perbaikan daripada sistem produksi: perbaikan mesin-mesin; cara kerja yang lebih efisien; propaganda daripada produksinya yang lebih menarik kepada rakyat; penekanan daripada tenaga kaum buruh yang georganiseerd di dalam serikat-serikat sekerja, etc. etc.. Naik lagi. Produksi bisa bertambah laku pula. Conjuncture pada satu saat tercapai lagi, maximum. Di situ krisis, yaitu tidak terjual, dus kalau terus produksi rugi nanti, tidak terjual. Tetapi dengan caraperbaikan lagi, disempurnakan cara produksi etc. etc.; naik lagi, krisis, naik lagi.

Tetapi pada satu ketika timbullah puncak maksimum, puncak maksimum daripada kecakapan manusia untuk mem-perbaiki alatalat. Mesin-mesin sudah tidak bisa dipergunakan lagi. Sistem bedrijf sudah geperfectioneerd. Di balik itu tenaga daripada kaum buruh makin lama makin sempurna diorganisir. Di sini gerakan kaum buruh mulai tumbuh dan makin lama makin kuat.

Jadi meskipun sistem produksi, sistem bedrijf diperbaiki, sampai pada satu saat tidak bisa diperbaiki lagi, maksimum capasiteit toh tidak bisa terus conjuncture, oleh karena tuntutan dari kaum buruh kekuasaan kaum buruh juga makin naik. Meerwaarde yang masuk di dalam kantong si kapitalis makin lama makin kecil dan ditentang oleh kaum buruhnya itu.

Tadi dengan saya punya contoh kueh, tepung dengan gula 100 menjadi kueh 200, meerwaardenya 100. Ini 50 masuk kantongnya kaum buruh sebagai upah, 50 masuk kantongnya sang kapitalis. Itu pada fase permulaan tatkala kaum buruh belum diorganisir secara kuat.

Tetapi Saudara-saudara mengetahui organisasi kaum buruh makin lama makin sempurna. makin lama makin kuasa.

Dari 100 meerwaarde ini yang tadinya diberikan kaum buruh hanya 50, belakangan menjadi 60 buat kaum buruh, dituntut 60. Sudah 60 dituntut lagi 70. Hanya 30 masuk di kantong si kapitalis. Tuntut lagi 80 masuk di kantong kaum buruh, tinggal 20 buat si kapitalis. Tuntutan lagi 90 masuk dalam kantong kaum buruh, tinggal 10 masuk kantong si kapitalis.

Dus "marge" keuntungan pengusaha makin lama makin kecil. Seperti Saudara-saudara lihat di Amerika sekarang ini, pabrikpabrik Mobil Detroit misalnya sekarang ini mandeg, Royter pemimpin kaum buruh, dia yang "voorschrijven": sekarang engkau pengusaha mobil, aku yang menentukan berapa mobil yang harus diprodusir, berapa yang tidak. Chrysler sementara tutup. Bagian Ford Continental tutup. Krisis.

Nah, demikian pula ini Saudara-saudara. Pada satu ketika tercapailah "het absolute maximum", krisis, coba lagi, conjuncture-conjuncture, krisis lagi, coba dengan macam-macam lagi. Bahkan nanti tenaga atom dikerjakan juga yang dipakai untuk menjalankan pabrik, untuk menjalankan mesin-mesin. Tenaga atom itu sudah geperfectioneerd, tetapi sistemnya salah, yaitu sistem meerwaarde. Dan sebagian daripada meerwaarde itu masuk kantong daripada pengusaha. Itu sistem kapitalis.

Meskipun, dus, mesin-mesin, bedrijf dan lain-lain sebagainya, geperfectioneerd secara teknis, oleh karena sistemnya salah maka selalu hukum krisis itu datang pula. Di-perfectioneer, krisis lagi. Saudara lihat garis umum ini naik, garis umum ini menurun, inilah "Niedergang". "Kapitalismus im Aufstieg", "Kapitalismus im Niedergang".

Secara alam pikiran politik, di sini parlementaire democratie akan membahayakan kepada Kapitalismus im Niedergang. Parlementaire democratie yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk ikut bermusyawarah, meskipun alat propaganda, alat surat kabar, alat sekolah etc. etc. sebelumnya sudah di tangan mcrcka. Toh, tadinya, di alam ini, tatkala tenaga kaurn buruh belum terorganisir seperti sekarang, mereka masih selalu bisa "beheersen" parlemen. Tetapi di sini tidak bisa lagi, sebab alam parlementaire democratie tidak bisa lagi.

Nah, di sinilah kapitalisme lantas berkata: Tidak berjalan parlementaire democratie. Di sinilah kapitalisme memperguna-kan "luuisle reddingspoging van het kapitalisme ", yaitu fasisme.

Tidak diberi kesempatan kepada semua orang untuk menjalankan dernokrasi; tidak diberi kesempatan kepada si kaum buruh untuk mengirimkan wakihlya, di dalam parlemen; tetapi kekuasaan di dalam tangannya si diktator. Entah diktator namanya Hitler, entah diktator namanya Mussolini, Franco atau apapun, tetapi itu adalah corak daripada kapitalisme im Niedergang.

Historis materialisme ini jelas bahwa dus alam pikiran manusia, alam pikiran politik juga ditentukan oleh sociaal economische factoren. Alam pikiran fasisme ditentukan oleh sociaal economische factoren. Pada satu ketika seluruh rakyat Jerman itu cinta kepada Hitler. Pada satu ketika, umpamanya terjadi di Timur, juga ludah Hitler dijilat oleh rakyat. Coba terjadi di dunia Timur, pada satu ketika juga air cucian tangan Hitler juga akan berharga 1.000 pound. Alam pikiran daripada rakyat pada waktu itu sama sekali ditentukan oleh sociaal econornische verhoudingen. Historis materialisme.

Nah, dus Saudara-saudara, kita yang melihat segala cacat-cacat daripada productiewijze daripada kapitalisme, melihat daripada cacat-cacat parlementaire democratie, kitalah yang sebaliknya, sebagai amanat penderitaan daripada bangsa Indonesia, memikul kewajiban untuk menyelenggarakan satu masyarakat yang bukan masyarakat kapitalisme, tetapi masyarakat yang adil dan makmur. Sekarang ini saya mengundang untuk berpikir sesuai dengan amanat penderitaan itu. Saya mengundang agar supaya meninggalkan alam demokrasi liberal. Saya mengundang agar supaya meninggalkan cara berpikir ala parlementaire democratie yang politik demokrasi tok. Saya mengundang agar supaya rakyat Indonesia itu dalam menyusun ia punya demokrasi menaruhkan segala sesuatu di atas kepribadian bangsa Indonesia sendiri.

Maka oleh karena itu saya berkata: Demokrasi yang harus kita jalankan adalah demokrasi Indonesia, membawa kepribadian Indonesia sendiri. Jikalau kita tidak bisa berpikir demikian itu, kita nanti tidak dapat menyelenggarakan apa yang menjadi amanat penderitaan daripada rakyat itu.

Saya ulangi lagi: Demokrasi bagi kita bukan sekadar alat teknis; memang benar bahwa demokrasi adalah alat teknis untuk mencapai sesuatu hal, sebagaimana nasional sosialisme adalah satu alat teknis, sebagaimana diktatur proletariaat adalah satu alat teknis. Demokrasi bagi kita sebenarnya bukan sekadar satu alat teknis, tetapi satu alam jiwa pemikiran dan perasaan kita. Tetapi kita harus bisa meletakkan alam jiwa dan pemikiran kita itu di atas kepribadian kita sendiri, di atas penyelenggaraan cita-cita satu masyarakat yang adil dan makmur, yang sudah jelas tidak bisa dengan demokrasi secara ini.

Oleh karena itulah, di waktu yang akhir-akhir ini saya menganjurkan dijalankannya demokrasi terpimpin.

Sekian.