Max Havelaar/Bab 1

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Max Havelaar dari Pelelangan Kopi Perusahaan Dagang Belanda
Prolog - 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9 - 10 - 11 - 12 - 13 - 14 - 15 - 16 - 17 - 18 - 19 - 20 - 21 - 22 - 23 - 24 - 25 - 26 - 27 - 28 - 29 - 30 - 31 - 32 - 33 - 34 - 35 - 36 - 37 - 38



Bab 1[1]


Saya ini tengkulak kopi yang tinggal di Lauriergracht no 37. Sebetulnya bukan kebiasaan saya menulis cerita dan sebangsanya, dan lama juga menimbang-nimbang sampai akhirnya memutuskan memesan beberapa riem kertas, dan mulai menulis buku. yang baru saja Anda pegang, pembaca budiman, yang harus dibaca kalau Anda bekerja sebagai tengkulak kopi atau juga atau lainnya. Sebetulnya bukan saya tidak pernah menulis roman atau semacamnya, tapi saya tidak suka membacanya, karena saya ini usahawan. Bertahun-tahun saya bertanya-tanya untuk apa sebenarnya, dan sering terkejut betapa tanpa malu-malunya si pengarang membual tentang sesuatu yang tidak pernah terjadi, dan seringkali tidak mungkin terjadi. Dalam bidang keahlian saya – saya ini tengkulak kopi yang tinggal di Lauriergracht no 37 – kalau membuat laporan pada penjual kopi dan sedikit saja ada salahnya, seperti isi kebanyakan puisi dan roman, langsung saja ia menghubungi Busselinck & Waterman. Mereka juga tengkulak kopi, tapi alamatnya Anda tidak perlu tahu. Makanya saya selalu berhati-hati untuk tidak menulis cerita atau bertindak tidak jujur. Saya juga sering mengamati kalau orang-orang yang bertindak demikian, akhirnya bernasib buruk. Umur saya empat-puluh tiga tahun, sudah dua puluh tahun berpengalaman di bursa, makanya dapat datang memberi nasehat kalau ada yang mencari orang yang berpengalaman. Saya pernah betulan melihat rumah rubuh! Yang ujuk-ujuknya, saya temukan, disebabkan salah membangunnya di awal.

Pedoman hidup saya: jujur dan akal sehat, yang sampai sekarang saya ikuti. Tentu saja saya buat perkecualian untuk Kitab Suci. Salahnya bermula dari Van Alphen[2], dan juga pada aturan pertama tentang anak-anak. Entah terpengaruh apa tuan tua itu bisa menjadi pengagum saudari saya Truitje yang bermata bintilan, atau saudara saya Gerrit yang selalu sibuk dengan hidungnya. Dan toch, katanya "kalau dia melakukan hal itu karena didorong oleh cinta." Saya sering berpikir semasa anak-anak, "saya ingin bertemu sekali dengan Anda, dan kalau Anda terang-terangan menolak memberi gundu, atau kue ulang-tahun – panggilan saya Batavus – saya akan menganggap Anda pembohong. Tapi saya tidak pernah bertemu dengan van Alphen. Dia sudah meninggal, sepertinya, ketika ia bercerita kalau ayah saya adalah teman baik saya – saya lebih sayang pada Pauweltje Winser, yang tinggal di sebelah kami di Batavierstraat – dan anjing saya pasti sangat berhutang-budi padanya. Kami tidak memelihara anjing, karena mereka jorok.

Semuanya bohong! Begitulah yang dilakukan dalam pendidikan. Adik baru dibawa ibu penjual sayur dalam kol besar. Semua orang Belanda pemberani dan murah hati. Orang Romawi merasa lega karena orang-orang Batav membiarkan mereka hidup. Penguasa Tunisia langsung senewen begitu mendengar Bendera Belanda terlihat berkibar. Bangsawan Alva biadab. Laut surut, tahun 1672 kalau tidak salah, berlangsung lebih lama dari biasanya, khusus untuk melindungi Belanda. Semuanya bohong! Belanda tetap jadi Belanda, karena para pendahulu kita melaksanakan tugasnya dengan baik, dan karena mereka punya kepercayaan yang benar. Itu sebabnya!

Dan kemudian muncul berbagai kebohongan lainnya. Setiap gadis adalah malaikat. Siapa yang mencetuskan pendapat demikian, pasti tidak pernah punya saudara perempuan. Cinta adalah berkat. Orang pergi dengan berbagai cara untuk mengejarnya ke ujung dunia. Dunia tidak ada ujungnya, dan cinta juga sebuah kegilaan. Tidak ada yang bisa mengatakan kalau saya tidak bahagia hidup dengan isteri saya – dia adalah anak perempuan dari Last & Co, tengkulak kopi – tidak ada yang bisa menggunjingkan sesuatu tentang perkawinan kami. Saya juga anggota dari Artis[3], dia mempunyai selendang seharga 92 gulden, dan cinta yang bisa sampai mendorong pergi ke ujung dunia toch tidak pernah terjadi di antara kami. Saat menikah, kami pergi pesiar ke den Haag – di sana dia membeli kain flanel, dan baju dalam dari kain itu masih saya pakai sampai sekarang – setelahnya tidak pernah kami jatuh cinta satu sama lain. Kesimpulannya: semuanya omong-kosong dan bohong belaka!

Dan mustinya sekarang kehidupan perkawinan saya kurang bahagia dibandingkan dengan orang-orang lain yang karena cinta sampai terkena paru-paru basah, atau menarik rambut di kepalanya? Atau mungkin pikir Anda rumah-tangga saya berjalan agak kurang lazim dari seharusnya daripada kalau saya sebelum umur 17 tahun sudah menulis puisi pada sang kekasih mengatakan kalau saya ingin menikahinya? Omong-kosong! Saya toch bisa melakukannya sama bagusnya dengan orang lain, karena menulis puisi itu keahlian, yang jelas lebih mudah ketimbang mengukir gading. Kalau tidak bagaimana ulevellen [4] bisa begitu murahnya?-- Frits menyebutnya: "Uhlefeldjes: saya tidak tahu, kenapa?--Dan coba sekali-sekali tanya berapa harga bola bilyar!

Saya bukannya anti kegiatan menulis puisi. Kalau orang-orang ingin menulis kata-kata bersajak, bagus! Tapi jangan katakan sesuatu yang tidak benar. "Cuaca tak bersahabat, sekarang jam empat." Yang ini boleh, selama betul memang cuaca tak bersahabat dan betulan waktu menunjukkan jam empat. Tetapi kalau waktunya pukul setengah tiga [5], dapat saya katakan dengan kata-kata biasa tak bersajak: " cuaca tak bersahabat dan sekarang pukul setengah tiga." Si pembuat sajak karena menuliskan cuaca tak bersahabat di baris pertama lalu jadi terikat dengan jam-jam tertentu. Buat dia lalu harus jam empat, tiga kurang seperempat, dst. saat udara boleh tidak bersahabat. Tujuh atau delapan dilarang oleh aturan berpuisi. Dia lalu harus pintar-pintar mengutak-atik kalimat! Entah keadaan cuacanya, atau waktunya harus diubah. Salah satunya lalu tidak lagi benar.

Dan bukan hanya puisi yang mengajar generasi muda berbohong. Sekali-sekali pergilah ke gedung teater, dan dengarkan di sana berbagai kebohongan yang disampaikan. Tokoh utama dari pertunjukan diselamatkan dari bahaya tenggelam oleh seseorang yang sedang nyaris bangkrut. Kemudian diberikannyalah setengah hartanya. Hal ini tidak mungkin benar. Saat berjalan di Prinsengracht dan topi saya jatuh ke air [6] saya beri orang yang mengembalikannya 10 sen gulden; dan yang bersangkutan senang-senang saja. Saya tahu kalau lebih banyak yang harus diberikan kalau diri saya yang diselamatkannya dari air, tapi jelas tidak mungkin sampai setengah dari seluruh harta. Kalau begitu cukup dua kali jatuh ke dalam air untuk jatuh miskin. Parahnya dari pertunjukan semacam itu adalah penonton terbiasa dengan hal-hal yang tidak benar, menganggapnya bagus dan bertepuk-tangan. Saya pernah tergoda untuk menceburkan seluruh pengunjung teater dari kelas kambing itu ke air, untuk melihat siapa dari yang bertepuk-tangan sungguh serius dengan ide tersebut. Saya yang menyukai kebenaran, wanti-wanti pada siapa saja yang mau menyelamatkan saya dari dalam air kalau tidak akan memberikan sebanyak itu sebagai imbalan. Siapa yang tidak puas karena dapat kurang dari itu, boleh meninggalkan saya dalam air. Hanya hari Minggu saya mau memberi lebih banyak, karena hari itu saya mengenakan rantai jam kantong, dan jubah yang lain.

Ya, pertunjukan teater menyesatkan banyak orang, lebih parah daripada roman. Begitu terang-terangannya! Dengan suasa [7] dan pita dari kertas bekas, kelihatan semuanya begitu begitu memukau. Untuk anak-anak, maksud saya, dan juga untuk orang awam. Juga kalau para aktor dan aktris di teater ingin menunjukkan kemiskinan, pertunjukan mereka selalu berpura-pura. Seorang gadis yang ayahnya jatuh bangkrut, bekerja untuk menghidupi keluarga. Baiklah. Kelihatan memang dia menjahit, merajut atau menyulam. Tapi hitunglah berapa jahitan, rajutan atau sulaman yang dia kerjakan selama berperan. Dia berbicara, menghela nafas, berjalan ke jendela, tapi dia tidak bekerja. Keluarga yang bergantung dari kerjanya pasti tidak banyak kebutuhannya. Gadis tersebut tentu saja jadi tokoh pujaan. Dia mengusir beberapa pemujanya di tangga, sambil memanggil: "oh ibuku, oh ibuku!" dan dengan cara demikian memberi contoh teladan. Tokoh teladan apa itu, yang membutuhkan waktu satu tahun untuk menjahit beberapa kaus-kaki wol? Apa ini tidak memberi gambaran yang keliru untuk diteladani, dan "bekerja untuk mencari penghasilan?" Semuanya omong-kosong dan kebohongan!

Kemudian sang kekasihnya yang pertama muncul – yang sebelumnya pegawai rendahan di percetakan, tetapi sekarang kaya-raya – dan tiba-tiba kembali, dan menikahi si gadis. Lagi-lagi bohong. Siapa yang punya uang, tentunya tidak menikahi gadis dari keluarga miskin. Dan kalau Anda bilang, dalam pertunjukan hal ini boleh jadi perkecualian, tetap saja saya bertahan dengan pendapat itu, bahwa hal tersebut menyesatkan paham kebenaran dalam masyarakat, dan perkecualian dianggap hal umum, dan aturan moral masyarakat dilanggar, dengan cara membiasakan diri mengelu-elukan di pertunjukan, apa yang oleh setiap tengkulak atau pedagang dianggap sebagai ketidaklaziman di dunia. Ketika saya menikah, kami ada bertiga belas, di kantor ayah mertua – Last & Co –, itu sebabnya!

Dan ada banyak kebohongan lain dalam pertunjukan teater. Saat sang tokoh utama dengan cara melucunya yang kaku pergi untuk menyelamatkan tanah air, kenapa pintu belakang selalu terbuka dengan sendirinya? Dan bagaimana caranya tokoh yang berbicara dengan sajak, bisa tahu jawaban dari yang lainnya sehingga dia bisa merangkai kata bersajak dengan mudahnya? Saat si jendral berkata pada sang puteri: "nyonya, terlambat, dipalang sudah pintu gerbang" bagaimana dia bisa tahu kalau si tuan puteri akan menjawab: "ayo kalau begitu, berani, cabut pedang?" Karena kalau sang tuan puteri begitu mendengar kalau gerbang sudah ditutup, menjawab menyuruh menunggu sampai gerbang kembali dibuka, atau kembali sekalian, lalu bagaimana jadinya dengan sajak dalam kalimatnya? Bukannya cuma sebuah kebohongan, kalau si jenderal lalu bertanya-tanya apa yang akan jadi jawaban dari sang tuan puteri, apa yang ingin dia lakukan setelah gerbang ditutup? Atau lagi: misalnya dia sekarang ingin tidur, dan bukannya mencabut sesuatu dari sarungnya? Bohong semua!

Dan keutamaan berganjaran! O, o, o! Saya sejak 17 tahun tengkulak kopi – Lauriergracht, no. 37 – dan karenanya pernah mengalami hal semacam itu, tapi sungguh sulit menahan diri, kalau melihat kebenaran diputarbalikkan. Keutamaan berganjaran? Apa ini bukannya menjadikan keutamaan semacam barang dagangan? Tidak seperti itu di dunia nyata, dan bagus karena hal itu tidak seperti itu di dunia. Karena apa gunanya lalu, kalau keutamaan mendapat imbalan? Sampai mana berbagai kebohongan besar itu selalu dibuat-buat?

Ambil contohnya Lukas, pegawai gudang, yang sudah bekerja sejak dari jaman ayah Last & Co – perusahaannya waktu itu bernama Last & Meyer, tetapi keluarga Meyer sudah lama tidak ada lagi – dia patut dijadikan teladan. Tidak pernah ada satu biji kopi pun hilang, dia selalu tekun ke gereja, dan tidak pernah minum alkohol. Kalau ayah mertua saya ada di Driebergen [8], dijaganya rumah, uang, dan segalanya. Pernah sekali dia menerima kebanyakan 17 gulden, dan, dikembalikannya uang tersebut. Dia sekarang sudah tua dan menderita asam urat, dan tidak bisa lagi bekerja. Sekarang dia tidak punya apa-apa, karena kegiatan kami banyak, dan kami memerlukan anak-anak muda. Memang, menurut saya Lukas sangat pantas dicontoh, tapi apa dia mendapat imbalan? Apa datang pangeran yang memberinya permata, atau malaikat yang menyemir rotinya? Tentu saja tidak! Dia miskin, dan tetap saja miskin, dan memang sudah semestinya demikian. Saya tidak dapat membantunya – karena kami memerlukan anak-anak muda, karena begitu banyak kegiatan saat ini – tetapi bahkan kalau semisalnya bisa, apa gunanya lalu, kalau sekarang di masa tuanya hidupnya jadi mudah? Lalu semua pegawai gudang mengikuti contohnya, dan juga siapa saja, pasti bukan maksud Tuhan tentunya, karena lalu tidak ada lagi ganjaran istimewa bagi orang-orang saleh di akhirat. Tapi dalam teater segala hal diputarbalikkan ... semuanya kebohongan!

Saya juga hidup saleh, tapi apa untuk itu minta ganjaran? Bila usaha saya berjalan lancar – dan saat ini memang demikian – kalau isteri dan anak-anak saya sehat, sehingga saya tidak perlu berurusan dengan dokter dan apoteker ... bila saya setiap tahun bisa menabung untuk hari tua ... seandainya Frits tumbuh cakap dan dewasa, untuk menggantikan posisi kalau saya pindah ke Driebergen ... nah, tentunya saya akan benar-benar bahagia. Tapi ini semua sudah suratan takdir, dan karena saya tekun berusaha. Untuk hidup saleh saya tidak mensyaratkan apa-apa.

Kesalehan saya dapat dilihat lewat cinta saya pada kebenaran. Ini, setelah keterikatan pada agama, adalah kecenderungan utama saya. Dan saya harap Anda percaya hal ini, pembaca, karena itulah alasan kenapa buku ini ditulis.

Kecenderungan kedua, yang sama kuatnya seperti cinta pada kebenaran, adalah cinta profesi. Saya adalah tengkulak kopi, Lauriergracht no. 37. Nah sekarang, pembaca, pada cinta saya yang tidak terpatahkan pada kebenaran dan kerja-keras dalam bidang profesi, Anda dapat berterima kasih karena halaman-halaman buku ini ditulis. Saya akan menceritakan bagaimana asal-muasalnya. Untuk sementara saya permisi dulu – saya harus ke bursa – segera saya akan mengundang Anda membaca bab kedua. Sampai ketemu!

Oh ya, silakan ambil ini ... tidak merepotkan kok ... siapa tahu suatu saat butuh ... ah ini dia: kartu nama! Co itu saya, sejak Meyers keluar ... Tuan Last itu mertua saya.


LAST & Co

TENGKULAK KOPI

Lauriergracht, no. 37



  1. Ide tentang pembagian tulisan ini ke dalam bab-bab datang dari Tuan Van Lennep. Saya sendiri, terutama di tahun 1860, tidak begitu berpengalaman menulis, untuk menyusun pembelaan saya begitu teratur, dan tetap percaya kalau pembagian tersebut, dari sisi pandang sastra dapat ditiadakan tanpa suatu akibat. Tapi ketika mengikuti tulisan tanpa putus dari van Droogstoppel dan van Stern, akibat dari tidak jelasnya pembagian, sulit menjaga pembaca supaya tak tertidur atau ... membangunkannya. Dari kesadaran ini, saya memahami kalau memulai beberapa bagian tulisan dipermudah dengan menomori bab-babnya, dan karenanya saya lalu membiarkan pembagian ini. (Multatuli)
  2. Hiëronymus van Alphen (1747-1803) menulis puisi untuk anak-anak, biasanya tentang anak-anak berperilaku-baik yang lalu mendapat hadiah.
  3. kebun binatang di Amsterdam
  4. permen terbungkus kertas bertuliskan sajak yang populer di jaman itu
  5. di teks asli: pukul tiga kurang seperempat
  6. teks Frits yang membandingkan dua kata Belanda woei waaide yang bermakna sama tidak dimasukkan dalam terjemahan ini
  7. emas tiruan
  8. nama tempat di Belanda

Templat:Gutenberg

Categorie:Max Havelaar