Khautul Kulub/Bab 1

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
(Dialihkan dari Khautul Kulub/1)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

B A G D A D   M E M A N G G I L

  Fatanah ialah seorang gadis, kembang mekar kota Damsyik ibu negeri Syam. Pada masa itu tak ada seorang gadispun yang melebihi kecantikan Fatanah. Sehingga banyak pemuda kota Damsyik yang tergila-gila kepada kembang semarak kota itu. Namun belum seorangpun yang beruntung memetiknya. Mungkin belum di pertemukan Malaekat Jibril di Luh Mahfuz.

  Abangnya bernama Ganim, seorang pemuda yang terkenal pula ke gantengannya seluruh negeri Syam. Ia gagah, penuh sifat kejantanan, cerdas, terdidik baik oleh kedua orang tuanya. Dan sebagai adiknya belum ada seorangpun gadis-gadis mekar di kota Damsyik yang beruntung mendampingi sang pemuda yang kocak ini.

 Ayah Fatanah dan Ganim baru saja meninggal dunia Saudagar Ayub namanya. Ia seorang saudagar yang yang terkenal kaya di Damsyik. Kaya dan bijaksana serta pintar bergaul sehingga semasa hidupnya ia seorang yang disenangi orang.

  Ketika marhum saudagar Ayub meninggalkan anak dan isterinya untuk selama-lamanya ia meninggalkan warisan yang tak terkira-kira banyaknya. Sehingga sampai kepada tujuh keturunan keluarga itu tidak akan hidup menderita.   Diantara barang pusaka saudagar itu terdapat dua ratus buah peti besar kecil yang isinya berjenis kain yang mahal-mahal harganya. Lalu ada pula dua ratus peti yang berisi kayu cendana dan gaharu yang tak ternilai pula harganya. Ke empat ratus peti itu ialah barang perniagaan yang semula di rencanakan saudagar Ayub akan dibawanya ke Bagdad. Sebab ia tahu hanya di Bagdad barang-barang itu mendapat pasaran yang baik dan berlipat ganda keuntungannya. Tetapi sayang sebelum maksudnya tercapai ia sudah keburu meninggal. Dan di wasiatkannya kepada anaknya Ganim agar barang-barang dagangan itu dibawanya ke Bagdad untuk dijual.

 Maka pada suatu hari berkatalah Ganim kepada ibunya:

 "Bu! Ayah sudah lebih dari seratus hari meninggal dunia. Menurut secara agama dan adat isitiadat kita mahrum ayah sudahlah kita doakan dan kita selenggarakan menurut mestinya. Kini saya rasa sudah datang waktunya untuk memenuhi wasiat ayah sebelum beliau meninggal."

 "Tentang apa?" tanya ibunya.

 "Sebagai ibu maklum, ayah ada ber wasiat : Beliau ada meninggalkan warisan dua ratus peti berisi kain-kain dan dua ratus peti berisi kayu cendana dan kayu gaharu. Menurut wasiat ayah semua barang itu hendaklah dibawa ke Bagdad karena di kota itulah barang-barang itu dapat dipasarkan. Jika disimpan disini saja tak ada gunanya dan lama kelamaan akan menjadi rusak dan kita akan mendapat rugi ....."  "jadi maksudmu?" tanya ibunya.

 "Saya akan memenuhi wasiat ayah. Saya akan pergi ke Bagdad membawa semua barang-barang itu dan disana barang-barang itu akan saya jual. Kembalinya nanti akan saya beli pula barang-barang niaga yang tidak ada di negeri kita dan dijual pula di kota kita ini."

 Ibunya termenung sejurus dan menjawab:

 "Anakku Ganim! Maksudmu itu tidaklah jelek dan memang selayaknya engkau memenuhi wasiat marhum ayahmu. Tetapi kata orang kota Bagdad itu besar dan ramai dan disana tidak saja banyak saudagar-saudagar besar tetapi juga penjahat-penjahat besar yang kerjanya hanya menipu dan memperdayakan orang. Apalagi kalau dilihatnya orang itu baru dan kaya. Sebab itu kita harus berhati-hati....."

 "Soal itu saya sudah mempelajari dan mengetahuinya bu. Insya Allah saya akan mampu menjaga diri dari semua hal. Dan semoga Tuhan akan memberkati kita dan saya akan pulang dengan selam....."

 Karena alasan yang tepat dan hati anaknya Ganim yang keras akan pergi ibunya berkata lagi:

 "Ya, ibu doakan saja selamat pulang pergi dan pandai-pandailah menjaga diri dalam semuanya. Dan ingatlah bahwa di Bagdad sedang berkuasa Khalifah kita Harun Al-Rasyid. Kabarnya beliau seorang yang ahli memerintah, bijaksana, pemurah dan sifat-sifat baik yang lainnya. Beliau harus kau hubungi mohon perlindungan keselamatanmu selama diam di Bagdad."

 "Ya, saya mengerti bu." Dan sepeninggal saya ibu dan adik Fatanah hendaklah menjaga diri pula baik-baik sebab Gubernur kita Muhammad bin Suleman AL Zaini seorang manusia yang tidak dapat kita percayai sepenuhnya. Ia tidaklah seorang manusia yang dapat kita jadikan perlindingan yang aman dan baik."

 "Sayapun mengerti anakku. Ibu dan adikmu hanya akan mohon perlindungan dari Allah yang Mahakuasa saja."

 "Syukurlah, bu!"

 Lalu ber siap-siaplah Ganim bin Ayub dengan sebuah kafilah terdiri dari puluhan ekor unta untuk membawa barang dagangannya yang banyak itu. Ia mohon doa restu ibunya dan mengucapkan selamat tinggal pada adiknya Fatanah. Ia maklum karena ia sudah tak di rumah tentu mungkin saja akan muncul orang-orang yang bertekad jahat maklum adiknya seorang gadis yang cantik dan keluarga mereka terkenal kaya raya pula.

 Maka berangkatlah Ganim bin Ayub menuju — Bagdad ......