Kerikil Tadjam dan Jang Terampas dan Jang Putus/Jang Terampas dan Jang Putus

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kerikil Tadjam dan Jang Terampas dan Jang Putus oleh Chairil Anwar
Jang Terampas dan Jang Putus

Jang Terampas dan Jang Putus berisi 9 puisi.

Jang terampas dan jang putus


FRAGMEN.

Tiada lagi jang akan diperikan? Kuburlah semua ihwal,
Dudukkan diri beristirahat, tahanlah dada jang menjesak
Lihat keluar, hitung-pisah warna jang bermain didjendela
Atau nikmatkan lagi lukisan2 didinding pemberian teman2 kita.
atau kita omongkan Ivy jang ditinggalkan suaminja,
djatuhnya pulau Okinawa. Atau berdiam sadja
Kita saksikan hari djadi tjerah, djadi mendung,
Mega dikemudikan angin
-- Tidak, tidak, tidak sama dengan angin ikutan kita............
Melupakan dan mengenang --

Kau asing, aku asing,

Dipertemukan oleh djalan jang tidak pernah bersilang

Kau menatap, aku menatap

Kebuntuan rahsia jang kita bawa masing-masing
Kau pernah melihat pantai, melihat gunung?
Lupa diri terlambung tinggi?
Dan djuga
diangkat dari rumah sakit satu kerumah sakit lain
mengungsi dari kota satu kekota lain? Aku
sekarang djalan dengan 1 1/2 rabu.

Dan
Pernah pertjaja pada kemutlakan soal........
Tapi adakah ini kata-kata untuk mengangkat tabir pertemuan
memperlekas datang siang? Adakah--

Mari tjintaku

Demi Allah, kita djedjakkan kaki dibumi pedat,
Bertjerita tentang radja2 jang mati dibunuh rakjat;
Papar-djemur kalbu, terangkan djalan darah kita
Hitung dengan teliti kekalahan, hitung dengan teliti kemenangan.
Aku sudah saksikan
Sendja keketjewaan dan putus asa jang bikin tuhan djuga turut bersedu
membekukan berpuluh nabi, hilang mimpi dalam kuburnja.
Sekali kugenggam Waktu, Keluasan ditangan lain
Tapi kutjampurbaurkan hingga hilang tudju.
Aku bisa nikmatkan perempuan luar batasnja, tjium matanja, kutjup rambutnya, isap dadanja djadi gersang.

Kau tjintaku--

Melenggang diselubungi kabut dan tjaja, benda jang tidak menjata,
Tukang tadah segala jang kurampas, kaki tangan tuhan--
Bertjeritalah tjintaku bukakan tubuhmu diatas sofa ini


Mengapa kau selalu berangkat dari kelam kekelam
dari ketjemasan sampai ke-istirahat-dalam-ketjemasan;
tjerita surja berhawa pahit. Kita bertjerai begini--
Tapi sudah tiba waktu pergi, dan aku akan pergi
Dan apa jang kita pikirkan, lupakan, kenangkan, rahsiakan
Jang bukan-penjair tidak ambil bagian.

MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam,
kami masih sadja berdjaga
— — Thermopylae? —
— djagal tidak dikenal? —
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang............


KRAWANG — BEKASI.

Kami jang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat sendjata lagi

Tapi siapakah jang tidak lagi mendengar deru kami,
terbajang kami madju dan berdegap hati?

Kami bitjara padamu dalam hening dimalam sepi
Djika dada rasa hampa dan djam dinding jang berdetak

Kami mati muda. Jang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah tjoba apa jang kami bisa
Tapi kerdja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punja djiwa
Kerdja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4—5 ribu njawa

Kami tjuma tulang-tulang bersérakan
Tapi adalah kepunjaanmu
Kaulah lagi jang tentukan nilai tulang-tulang bersérakan

Ataukah djiwa kami melajang untuk kemerdékaan kemenangan dan harapan

atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang jang berkata

Kami bitjara padamu dalam hening dimalam sepi
Djika dada rasa hampa dan djam dinding jang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah djiwa kami
Mendjaga Bung Karno
mendjaga Bung Hatta
mendjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang majat
Berilah kami arti
Berdjagalah terus digaris batas pernjataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
jang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi,


PERSETUDJUAN DENGAN BUNG KARNO.

Ajo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji
Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu, dipanggang atas apimu, digarami oléh lautmu

Dari mula tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Dizatmu dizatku kapal2 kita berlajar
Diuratmu diuratku kapal2 kita berlajar
Diuratmu diuratku kapal2 kita bertolak & berlabuh

Sudah dulu lagi terdjadi begini
Djari tidak bakal terandjak dari petikan bedil
Djangan tanja mengapa djari tjari tempat disini
Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi
Dan djangan tanja siapa akan menjiapkan liang
Dan djangan tanja siapa akan menjiapkan liang penghabisan
Jang akan terima pusaka: kedamaian antara runtuhan menara
Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi
Djari tidak bakal terandjak dari petikan bedil.


INA MIA.

Terbaring dirangkuman pagi
— hari baru djadi —
Ina Mia mentjari
hati impi,
Teraba Ina Mia
kulit harapan belaka
Ina Mia
menarik napas pandjang
ditepi djurang
napsu
jang sudah lepas terhembus,
antara daun2an mengelabu
kabut tjinta lama, tjinta hilang
Terasa gentar sedjenak
Ina Mia menekan tapak dihidjau rumput.
Angin ikut

— dajang penghabisan jang mengipas —
Berpaling
kelihatan seorang serdadu mempertjepat langkah ditekongan.

PERDJURIT DJAGA MALAM.

Waktu djalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
Pemuda2 jang lintjah jang tua2 keras, bermata tadjam,
Mimpinja kemerdékaan bintang2nja kepastian
ada disisiku selama mendjaga daérah mati ini
Aku suka pada meréka jang berani hidup
Aku suka pada meréka jang masuk menemu malam
Malam jang berwangi mimpi, terlutjut debu......
Waktu djalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!


BUAT GADIS RASID.

Antara
daun-daun hidjau
padang lapang dan terang
anak2 ketjil tidak bersalah, baru bisa lari-larian
burung-burung merdu
hudjan segar dan menjubur
bangsa muda mendjadi, baru bisa bilang "aku"
Dan
angin tadjam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskan, daérah dikosongi
Kita terapit, tjintaku
— mengetjil diri, kadang bisa mengisar setapak —
Mari kita lepas, kita lepas djiwa mentjari djadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
— the only possible non-stop flight.
Tidak mendapat.

PUNTJAK.

Pondering, pondering on you, dear .........

Minggu pagi disini. Kederasan ramai kota jang terbawa
tambah penjoal dalam diri -diputar atau memutar-
terasa tertekan; kita berbaring bulat telandjang
Sehabis apa terutjap dikelam tadi, kita habis kata sekarang.
Berada 2000 m. djauh dari muka laut, silang siur pelabuhan,
djadi terserah pada perbandingan dengan
tjemara bersih hidjau, kali jang bersih hidjau

Maka tjintaku sajang, kutjoba mendjabat tanganmu
mendekap wadjahmu jang asing, meraih bibirmu dibalik rupa.
Kau terlompat dari randjang, lari ketingkap jang
masih mengandung kabut, dan kau lihat disana, bahwa antara
tjemara bersih hidjau dan kali gunung bersih hidjau
mengambang djuga tanja dulu, tanja lama, tanja.


JANG TERAMPAS DAN JANG PUTUS

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir djuga ruang dimana dia jang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba djadi semati tugu.

di Karét, di Karét (daérahku j.a.d.) sampai djuga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku djika
kaudatang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi hanja tangan jang bergerak lantang.

tubuhku diam sendiri, tjerita dan peristiwa berlaku beku.

tjemara menderai sampai djauh,
terasa hari akan djadi malam,
ada beberapa dahan ditingkap merapuh,
dipukul angin jang terpendam.

aku sekarang orangnja bisa tahan,
sudah berapa waktu bukan kanak lagi,
tapi dulu mémang ada suatu bahan,
jang bukan dasar perhitungan kini.

hidup hanja menunda kekalahan,
tambah terasing dari tjinta sekolah rendah,
dan tahu, ada jang tetap tidak diutjapkan,
sebelum pada achirnja kita menjerah.