Kamus Bahasa Banjar Dialek Hulu-Indonesia/Sambutan

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Kamus Bahasa Banjar Dialek Hulu-Indonesia (2008)
oleh Balai Bahasa Kalimantan Selatan
Sambutan Kepala Pusat Bahasa
22275Kamus Bahasa Banjar Dialek Hulu-Indonesia — Sambutan Kepala Pusat Bahasa2008Balai Bahasa Kalimantan Selatan
SAMBUTAN
KEPALA PUSAT BAHASA

Bahasa berkembang sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat pendukungnya. Perkembangan bahasa itu akan tampak dari pertambahan kosakata. Pada permulaan abad ke-15 tercatat 500 lema bahasa Melayu dalam dokumen sejarah perkamusan Indonesia. Pada pertengahan abad ke-20, tahun 1953, tercatat sekitar 23.000 lema dalam kamus Poerwadarminta. Pada penerbitan tahun 1976 lema dalam kamus itu menjadi 24.000. Pada tahun 2001 terbit Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga yang memuat 78.000 lema. Perkembangan yang amat pesat itu tampak pada perempat abad ke-20 terakhir dan awal abad ke-21 ini. Pada awal abad ini Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV memuat hampir 100.000 lema. Di samping kata umum, dalam bahasa Indonesia telah dikembangkan istilah berbagai bidang ilmu dan teknologi serta seni yang kini telah dihasilkan sekitar 405.000 istilah. Kini terus dikembangkan kosakata dan istilah, baik bersumber dari bahasa asing maupun bersumber dari bahasa daerah di seluruh nusantara ini. Semua itu merupakan kekayaan yang memperlihatkan kemajuan peradaban bangsa Indonesia.
Di Indonesia terdapat sekitar 746 bahasa daerah yang memiliki keragaman kemampuan daya ungkap (kosakata), jumlah penutur, wilayah pakai, dan lingkungan sosial budaya. Ada bahasa daerah yang memiliki mutu daya ungkap cukup memadai dalam memenuhi tuntutan keperluan masyarakat pendukungnya, ada yang sedang, dan ada yang sangat rendah. Kondisi itu dapat dilihat dari jumlah kosakata yang terdapat dalam bahasa itu. Walaupun bahasa daerah telah memiliki cukup banyak kosakata, apabila berbicara tentang ilmu dan teknologi modem, bahasa daerah belum mampu memenuhi tuntutan daya ungkap bidang ilmu dan teknologi, apalagi teknologi tinggi. Padahal, dalam kehidupan masa kini dalam pergaulan kaum muda tak terlepas dan pengungkapan ilmu, teknologi, dan seni modem. Untuk itulah, bahasa daerah yang diharapkan tetap hidup dan memainkan peran dalam kehidupan ke depan harus memperkaya kosakatanya demi kelangsungan hidup bahasa daerah tersebut di kalangan generasi pelapis.
Perkembangan kosakata suatu bahasa harus dihimpun, selain menjadi dokumen penting, himpunan kosakata bahasa itu menjadi sumber rujukan masyarakat penuturnya atau masyarakat lain yang mau mempelajari bahasa itu. Himpunan seluruh kosakata bahasa daerah yang diberi penjelasan maknanya menjadi sebuah kamus bahasa daerah merupakan petunjuk kekayaan peradaban komunitas masyarakat penutur bahasa daerah itu. Kekayaan kosakata bahasa daerah itu perlu diketahui masyarakat di luar penutur bahasa daerah tersebut. Agar kosakata bahasa daerah itu diketahui masyarakat Indonesia, perlu kamus bahasa daerah-Indonesia. Sebaliknya, agar masyarakat penutur bahasa daerah itu memahami kosakata bahasa Indonesia sebagai sarana memahami keindonesiaan, diperlukan kamus bahasa daerah-Indonesia.
Kamus Bahasa Banjar Dialek Hulu-Indonesia ini merupakan upaya memperkenalkan kekayaan kosakata bahasa Banjar dialek Hulu, sebagai simbol peradaban bangsa Indonesia kepada masyarakat penutur bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kamus ini diharapkan dapat membantu masyarakat penutur bahasa Indonesia yang ingin memperkaya wawasan dalam memahami dan berinteraksi dengan peradaban dan budaya Banjar. Untuk itu, kepada para penyusun dan penyumbang saran serta semua pihak yang memungkinkan terbitnya kamus ini, saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus. Secara khusus saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada Gubernur Kalimantan Selatan yang telah memberikan dukungan atas penerbitan kamus ini.
Kamus yang disusun sejak tahun 2007 hingga 2008 ini semoga dapat memberi manfaat besar bagi upaya pembinaan dalam rangka pelestarian bahasa Banjar dialek Hulu.

Jakarta, 20 Juli 2008

Dr. H. Dendy Sugono