agaknja dia betul² puas dengan kisah dari tamu²nja itu. „Pergilah kalian kepada Jason, dia masih tjukup banjak pekerdjaan untuk kalian. Kalau aku sudah mendapat keterangan lengkap mengenai diri kalian, segera aku ambil keputusan. Sekarang aku tjuma mau peringatkan bahwa kalian berada dibawah perintahku. Tapi akupun tidak mau mengawasi kalian seperti mendjaga hewan, dan aku harap sadja kalian mau menginsjafi kebebasan jang kuberikan itu”.
Lynch dan Deane tjuma mengangguk-angguk dungu. Baru setelah Doughlin mengachiri kata-katanja merekapun pamitan dari sana.
„Tjuma untuk begitu sadja tak perlu dia memanggil kita”, gerutu Deane.
„Begitukah pendapatmu Robby?” tanja Lynch.
„Tentu sadja. Bohongmu itu kentara sekali, sehingga kukira Doughlin sendiri tak akan mempertjajainja” .
„Dengan tjara begitu agaknja kau belum biasa Robby. Tjobalah ingat², apa jang terdjadi tadi. Waktu kita datang dia seolah-olah sedang memperhatikan keadaan udara, djadi terang dia menaruh minat jang besar terhadap keadaan tjuatja. Kemudian dia melihat kearah „sesuatu” didinding serambinja, jang ternjata bahwa „sesuatu” itu tiada lain dari barometer. Lagi satu bukti bahwasanja dia betul² menaruh minat kepada keadaan tjuatja. Selandjutnja aku membual sedemikian rupa, jang menurut engkau merupakan kebohongan jang paling bodoh. Ini memang tudjuanku, Aku jakin bahwa dia akan beranggapan, orang jang membual seperti aku tadi bukanlah „seorang lawan jang harus disegani”. Dan buktinja dengan djelas dapat kita saksikan. Begitu sadja Doughlin menjuruh kita pergi mentjari Jason, padahal kita sendiri belum tahu dimana orang tu berada”.
„Ja”, angguk doctor Deane.
„Dengan demikian pastilah aku bahwa perhatian dia tertudju pada urusan lain. Siapa tahu dia sedang menunggu sesuatu jang ada hubungannja dengan tjuatja dan barometer”.
„Sematjam pelajaran barangkali?” sela Deane :
„Begitulah”, djawab Lynch. „Sebab itu tiada salahnja kalau sekarang djuga kita harus menemukan djalan jang menghu-