gegar. Inspektur polisi jang djatuh dibelakang tidak akan kena apa², tetapi berhenti mengedjar dengan alasan kami berkawan dan bersendjata berat. Semua ini telah dirantjang, dan polisi pendjaga bawahan inspektur itu tak mengetahui bahwa semuanja hanja sandiwara sadja.
Seluruh pendjagaan polisi jang mengedjar kami bertambah. Entah berapa lagi orang jang mengepung sekeliling bank itu.
Saja dan Manuel tertumbuk pada sebuah mobil jang terbuka pintunja. Mobil hitam dan besar.
Manuel saja tarik kesana, dan langsung sadja memasuki mobil itu.
Dengan tak saja sangka disana ada tiga orang jang bersendjata, termasuk sopirnja sendiri, menodong pada kami.
„Bagus!" udjarnja: „Bagus sekali! Kerdja jang bagus dari saudara-saudara!"
Pikiran saja tjepat melajang kebelakang. Suara orang ini pernah djuga saja kenal, persis seperti suara Walter. Ja, suara ini. Dan tjara bitjaranja djuga seperti Walter, selalu mendahului dengan kata „bagus". Mukanja lagi, seperti Walter. Gilakah saja? Mungkinkah Walter lari dari tahanan? Tidak mungkin, karena suara orang ini agak besar dan tubuhnjapun agar besar. Mungkinkah dia saudara Walter? Mengapakah Walter tidak menjebutkan saudaranja ini dulu²nja? Tetapi mungkinkah gerombolan orang ini mengetahui bahwa perampokan itu suatu sandiwara sadja? Untuk ini perlu saja ketahui dengan pasti.
„Ja, terimakasih!" kata saja seperti tidak takut dan tidak gentar sama sekali: „Tetapi saja ingin tahu, saudara ini menghendaki apa dari kami?"
Orang jang mukanja seperti Walter itu tertawa. Mobil berdjalan dengan menjentak, dan polisi² jang masih mentjari-tjari dalam hudjan itu terperandjat semua. Tetapi mereka tidak berani menembak karena takut kalau mengenai sasaran lain.
Mobil jang kami tumpangi bersama orang² jang tidak pernah saja kenal itu berdjalan dengan ladju dan terus
73