Halaman:Tenun Tradisional Minangkabau.pdf/12

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


bambu yang keras.

2. Sistem pengerjaan : Orang yang mengerjakan pembuatan tenun tradisional ini tidak terikat kepada umurnya, artinya bertenun dapat dilakukan oleh para gadis remaja, orang dewasa ataupun orang tua. Dan yang jelas, pada umumnya si penenun adalah terdiri dari kaum wanita, jarang sekali orang laki-laki yang kerjanya menenun. Begitu pula untuk menenun tersebut, tidak tergantung kepada waktu-waktu tertentu. Artinya menenun dapat dilakukan pada waktu pagi hari, siang, sore dan bahkan orang dapat menenun pada malam hari.

3. Tidak memerlukan tempat yang khusus : Untuk bertenun tidak disediakan tempat yang khusus dan tertentu. Bertenun secara tradisional dapat dilakukan di berbagai tempat, di alas rumah, di serambi, di kandang rumah dan tempat lainnya. Tetapi pada umumnya di Koto nan Gadang ( Payakumbuh ) tempat orang bertenun yaitu di bawah ( kandang ) sebuah rumah gadang. Sedangkan di Tanjung-Sungayang ( Batu Sangkar ) yang hanya terdapat satu buah tempat bertenun, tempatnya diletakkan di serambi rumah. Lain halnya dengan tenun modern, ia sudah mempunyai tempat yang khusus dan tertentu, seperti yang terdapat di Silungkang, Pandai Sikek dan Kubang. Di tempat ini telah dibuat bangunan tersendiri untuk mengerjakan tenun tersebut.

4. Hasil : Hasil kerajinan tenun tradisional ini pada umumnya dipergunakan untuk kelengkapan pakaian dalam upacara adat. Di daerah sekitar Payakumbuh umpamanya, setiap wanita yang pergi menghadiri upacara adat, apakah itu upacara perkawinan, upacara penobatan penghulu atau pergi ke tempat berkabung ( kematian ) selalu memakai pakaian adat yang berbeda-beda.
11