Halaman:Tenun Tradisional Minangkabau.pdf/13

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


Begitu juga tidak semua wanita memakai pakaian adat yang sama dalam menghadiri sesuatu upacara. Anak gadis akan berbeda pakaiannya dengan wanita yang baru kawin, berbeda pula dengan orang yang sudah mempunyai anak, berbeda dengan orang yang sudah mempunyai menantu dan berbeda pula dengan orang yang mempunyai cucu dan sebagainya. Perbedaan ini juga akan terlihat pada hubungan seseorng dalam masyarakatnya. Untuk keperluan-keperluan seperti inilah pakaian adat itu dipergunakan. Kalau pemakaian ini tidak diindahkan ( menurut semestinya ia harus memakai pakaian tertentu, tetapi tidak dipakainya ) maka yang bersangkutan akan digunjing dalam masyarakat. Begitu pula jarang sekali produksi tenun tradisional ini yang dipergunakan ( di pakai ) .untuk pakaian harian oleh penduduk setempat.

5. Waktu pengerjaannya : Untuk menenun, si penenun tidak terikat pada waktu tertentu. Ia dapat menenun kapan ia mau, pagi, siang ataupun pada malam hari. Si penenun tidak terikat kepada seseorang majikan. Hal ini disebabkan karena perusahaan tenun itu dimiliki oleh sesuatu keluarga. Jadi kapan ada waktu senggang, pekerjaan menenun dapat dilakukan. Biasanya dulu, menenun ini dilakukan kebanyakan pada waktu sehabis musim kesawah, sambil menunggu musim selanjutnya, para wanita menghabiskan waktunya menenun di bawah rumah. Si penenun dapat bekerja menurut kemauannya sendiri, umpamanya bekerja 1 jam atau 2 jam sehari atau sepanjang hari dan malam. Jadi ia bekerja bukan berdasarkan kepada perjanjian kerja menurut waktu tertentu.

6. Tidak mengenal sistem perburuhan : di daerah terdapatnya te--

12