Halaman:Siti Kalasun.pdf/88

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji baca

 Karena untung takdir Allah, mendapat langganan dua tiga, membeli tepung bergoni-goni, membeli gula berpikul-pikul, ditambah kawan bekerja, bertambah roti enak dan sangat lembut, banyak langganan Cino Belanda, serta orang berpangkat-pangkat.

 Harga mahal dari Medan, gula dan tepung terbeli murah,keutungan berlipat-lipat, ditambah tukang lima orang,roti bertambah banyak keluar, begitu juga limunade,laku seratus dua ratus,botol limun dari Jawa.

 Nasib sedang naik, dapat rumah nan baik, dibangun tunggku nan besar, tungku roti pemasak roti, sudah berkarung-karung roti habis, siang malam orang bekerja, orang bekerja bertambah banyak.

 Dapat tukang nan pandai-pandai, tukang memasak roti ada dua, ada berdua orang Solo, seorang bernama Martojoya, seorang lagi Wibisono, mereka sangat pandai membuat roti, gajinya besar dibayar, tokebesar Sari Alam,begitu juga Malin Saidi, ia memiliki toko dua pintu.

 Kalau dilihat keduanya, berubah roman dari dahulu, badan putih gendut, dagunya dua dipandangi, nan lebih Sari Alam, kita gendut putih pula, tidak kelihatan orang Minang,orang menyangka Cina peranakan, Bahasa Bugis hampir pandai, nan mahir benar Malin Saidi, kalau berbicara dengan orang Bugis, hilang bangsatidak beruang, tinggi derajat keduanya.

 Kalau tuan datang ke situ,kalau bertanya Sari Alam, atau menanyakan Malin Saidi, seorang pun tidak kenal, seorang bernama tuan Said,nan seorang lagi tuan Alam, itu nan nan disebut orang, semua orang tahu dengan kita.

 Dua tahun di Banjarmasin, keduanya mendapat rezeki, teringat maksud hendak pulang, ke kampung Minangkabau, negeri lama ditinggalkan, dapat mufakat dengan Malin Saidi, bergantian pulang ke kampung.

77