Halaman:Si Umbut Muda.pdf/82

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

Pidoli, Kota Siantar,
pandan melilit Penjambungan.
Njawa putus, badan terhantar,
arwah mengirap kedjundjungan.

'Lah mati si Gelang Banjak. Dihari nan sehari itu — ibunja sudah bergila-gila — lupa dunia sehari itu — 'lah dikurung masuk bilik. Dipukul tabuh dengan tjanang — berhimpun orang semuanja — gedang ketjil tua muda — laki-laki perempuan — baik imam baik pun chatib — baik pakih baikpun maulana —rapat pepat semuanja. Allahu rabbi banjak orang!

Tak termuat didaun talas,
didaun terung penuh pula.
Tak termuat pada jang luas,
pada nan lekung penuh pula.

melihat si Gelang Banjak — melawat majat nan gadis.

Mendengar tabuh berbunji — terkedjut si Rambun Emas — tersirap darah didada — lupa 'kan badan seketika — lalu mengutjap masa itu: „Ja Allah, ja Rasulu'llah — ja Tuhanku djundjungan hamba — tabuh apakah gerangan itu — kakak Gelang agaknja mati?" Diambil pajung pandji-pandji — dikepitnja kain sekaju — lalu turun ia sekali —— berdjalan bergegas-gegas — djalannja lari-lari andjing. 'Lah sebentar ia berlari — lah dua bentar ia berdjalan — tibalah ia di Kampung Aur — dilihat orang sudah banjak — 'lah bandung bunjinja ratap. Naik ia keatas rumah — mendjerembab ia sekali menangkup kemajat si Gelang — Meratap si Rambun Emas:

83