Lompat ke isi

Halaman:Pantja-Sila oleh H. Rosin.pdf/44

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

tuanku ditentukan oleh kepentingan kami. Hendaklah manku mendjadi pelindung kami jang tertinggi dan tuanku sendiri hendaklah mendjadi saudagar pertama dalam keradjaan.”

Akan tetapi sahut Radja Iskandar:

„Ikutilah aku! Engkau akan kuangkat mendjadi salah seorang dari pada penasehat-penasehatku.” Dan bagindapun menjeberangi dengan segala bala tenteranja sungai jang kelima. Disana terdapatlah seorang petani jang terus bekerdja dengan tenaganja, dengan tidak menghiraukan bala tentera asing jang datang itu. Kemudian Radja Iskandar menitahkan ia datang menghadap baginda, lalu bertanja kepadanja: „Siapakah engkau?” Petani itu mendjawab, katanja:

„Patik adalah seorang pekerdja jang bekerdja untuk tuanku. Patik adalah rakjat jang membajar ongkos pertempuran-pertempuran tuanku. Patik adalah peradjurit jang berbakei dalam tentera tuanku. Patik adalah seorang manusia biasa jang ingin hidup. Akan tetapi patik ini bukanlah anak kesajangan para dewa :Mereka itu sudah melupakan patik! — Teruslah, ja tuanku Radja, teruskanlah! Tuanku akan mendapatkan beribu--ribu orang sematjam patik ini. Kami tidak sukar dita’lukkan, akan tetapi barangsiapa jang hendak mena'lukkan kami, ia tidaklah selesai-selesai dalam usahanja itu.”

Kemudian sabda Radja Iskandar: „Ikutilah aku! Engkau akan kuangkat mendjadi penasehatku jang pertama.” Setelah itu baginda memutuskan untuk tidak meneruskan perdjalanannja lagi, melainkan kembali pulang ketanah airnja. Disana baginda hendak mendirikan keradjaannja dengan dibantu oleh kelima penasehat, jang dida- patnja ditanah lima sungai itu. Dan baginda bermaksud akan memberikan kepada semua rakjatnja kemerdekaan, kesedjahteraan dan kemakmuran dengan berkelimpahan. Akan tetapi pada waktu tiba kembali ditanah dua sungai, baginda djatuh sakit dan wafatlah sebelum baginda dapat melaksanakan maksudnja. Tetapi pendeta, pertapa, ksatria dan saudagar itu mulai bertengkar, sebab masing-masing ingin memerintah keradjaan itu menurut tjaranja sendiri dan ingin meneruskan niatnja masing-masing dengan tidak menghiraukan jang lain. Ksatria itu adalah jang terkuat dan ia mengalahkan mereka semuanja. Didirikannjalah suatu diktatur militer, jang mengakibatkan, bukannja kesatuan jang diharap-harapkannja, melainkan perpetjahan jang besar. Dan keradjaan itu robohlah.

Akan tetapi petani itu, setelah Radja Iskandar wafat, ia berangkat dengan diam-diam kesebelah timur, dari mana ia berasal. Dan ia

40