perdjoangan itu dan mengeluarkan disana pendapatnja sendiri jang merdeka.
Sudah tentu, bahwa ini ada bahajanja dan risikonja: Kekuatan berpikir dan berpendapat suatu bangsa diudji oleh demokrasi itu. Pemimpin-pemimpin jang benar dan jang palsu menawarkan diri. Agitator-agitator tampil kemuka, jang mengodja dan menjesatkan massa. Suara-suara dibeli. Suara hati dan perasaan hati lebih dipentingkan dari pada pikiran jang tenang. Gerombolan-gerombolan dan partai-partai berusaha terus mentjari kepentingannja sendiri dengan tidak mengatjuhkan keselamatan bangsa seluruhnja. Dalam hal ini semuanja, kebenaran tidaklah selalu dikatakan. Kadang-kadang sukar memisahkan, mana jang benar dan mana jang bohong, mana jang setengah benar dan mana jang setengah salah. Mungkin kebenaran itu seringkali tidak dapat dengan segera dilaksanakan.
Akan tetapi djustru karena itulah, maka kebenaran itu harus diperdjoangkan terus dengan sabar dan tekun, Kebenaran itu pada suatu ketika akan njata. Pada suatu waktu akan ternjata, siapa jang telah mengatakan kebenaran dan siapa tidak. Djuga dalam lapangan politik berlaku: „Dari pada buah-buahannja kamu akan mengenali dia." (Matius 7 16) Kadang-kadang akan memakan waktu jang sedikit lama, sehingga sebahagian jang terbesar dari pada bangsa itu dapat dibawa kepada suatu perkara jang baik. Akan tetapi perkara ini bukan lagi mendjadi perkara jang diperintahkan. Perkara ini akan mendjadi kejakinan jang mendalam. Dan itu adalah hasil djerih pajah pergumulan jang lama dan sulit!
Dapatlah terdjadi, bahwa suatu bangsa djatuh sakit, bahwa ia mendapat demam dan mendjadi gila. Dalam keadaan jang begini tidak dapat dipisahkannja lagi mana jang benar dan mana jang djahat. Kuasa-kuasa djahat bersimaharadjalela. Itu adalah achirnja demokrasi dan tanda keruntuhan negara, jang sedang mendekati. Sebab demokrasi itu bukanlah suatu guna-guna untuk mentjapai kebahagiaan jang sempurna. Demokrasi sama keadaannja seperti orang-orangnja jang berpegang kepadanja. Kalau orang-orangnja djatuh, maka demokrasi djuga djatuh. Akan tetapi apakah itu suatu alasan untuk menentang demokrasi? Tidakkah hal itu lebih-lebih berlaku untuk tiap-tiap bentuk negara jang lain? Siapakah jang dapat memberi djaminan kepada kita, bahwa seorang diktator atau suatu directorium
atau suatu golongan kaum oligarchi atau aristokrasi kurang kemung-
27