Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
„Kedaulatan Rakjat” — Djokja:
„Pak Dirman beristirahat”.
Berita sedih tersiar semalam, bahwa Letnan Djenderal Soedirman telah pulang kerachmattullah.
Memang sudah lama Panglima Besar menderita sakit, jaitu sedjak bulan Nopember 1948.
Dan ketika pada waktu subuh 19 Desember 1948, Belanda menjerang kota Jogja, Panglima Besar jang sedang menderita sakit itu menghadap Presiden Republik Indonesia untuk minta instruksi dan segera almarhum meninggalkan Jogja, pergi keluar kota untuk memimpin sendiri perang gerilja terhadap Belanda.
Meskipun dalam keadaan sakit, almarhum telah bergerak dari Djawa Tengah hingga ke Djawa Timur dan beberapa kali almarhum mendjumpai musuh. Tetapi berkat ketangkasan pasukan
pengawalnja serta atas perlindungan Tuhan jang Mahakuasa, selalu terhindarlah almarhum dari pada bentjana.
Setelah masuk kembali kekota, kesehatan almarhum nampaknja tidak dapat sembuh djuga.
Tetapi meskipun demikian, wafatnja ini pasti mengedjutkan kita semua. Dan terutama dikalangan angkatan perang jang tersebar dikota-kota dan digunung-gunung berita ini akan diterima dengan rasa sedih jang tiada terhingga.
Bangsa Indonesia dengan wafatnja ini kehilangan seorang pahlawan jang djudjur dan berani. Angkatan perang kehilangan Bapaknja jang ditjintainja, serta pedoman jang dapat didjadikan
petundjuk terutama dimasa kegelapan.
Seluruh bangsa akan berkabung. Bendera merah putih digedung-gedung resmi, dirumah-rumah penduduk, dipos-pos tentera dipegunungan jang terpentjil sekalipun akan berkibar setengah
tiang.
Dan didalam hati kita semua, baik pereman maupun tentera, akan ada tempat terluang, karena merasa kosong dengan mangkatnja seorang sama-sama warga negara jang benar-benar tjinta tanah air; seorang peradjurit jang disciplinair; seorang djenderal jang selalu digaris depan dalam masa kegentingan dan bahaja.
Kehilangan ini sungguh sukar dapat digantikan, apalagi pada saat tanah air kita sedang menghadapi bermatjam matjam kesulitan jang meminta sebanjak-banjak perhatian pihak tentara.
Tetapi rasanja adalah lebih sesuai dengan keinginan serta hasrat almarhum, apabila selandjutnja kita semua terus berdjuang dengan kedjudjuran, keberanian ketabahan serta keuletan jang selalu ditundjukkan oleh almarhum itu.
Insja ‘Allah, kalau kita semua berpedoman kepada teladan jang sudah diberikan oleh almarhum itu, tanah air kita ini pasti dapat melalui segala udjian dengan gemilang, dan akan tertja-
Pemangku Djabatan Presiden R. I. Bapak Asaat sedang mengutjapkan pidatonja, ketika upatjara Pémakaman P.B. Soedirman.
pailah apa jang kita maksudkan pada sa‘at proklamasi 5 tahun jl., ialah suatu negara kesatuan jang adil dan ma’mur.
Pada peringatan hari tentara 5 Oktober tahun jl., antara lain-lain almarhum masih berpesan kepada anak-anaknja demikian:
„Insjaf, pertjaja dan jakinlah, bahwa kemerdekaan sesuatu Negara dan Bangsa jang didirikan diatas timbunan kurban harta benda dan djiwa raga dari rakjat dan bangsanja itu, Insja Allah
tidak akan dapat dilenjapkan oleh manusia siapapun djuga”.
Marilah kita berpegang kepada pesan almarhum itu. Itulah djalan sebaik-baiknja untuk membuktikan tjinta serta penghargaan kita terhadap diri serta teladan jang telah diberikan oleh almarhum itu.
Djanganlah kita ganggu arwah almarhum dengan perbuatan-perbuatan jang sifatnja tidak sesuai dengan tuntutan perdjuangan -kebangsaan, tetapi biarkanlah almarhum itu beristirahat, setelah melakukan tugasnja jang berat itu.