Lompat ke isi

Halaman:Kenang-Kenangan Pada Panglima Besar Letnan Djenderal Soedirman.pdf/23

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

„Waspada” — Medan:

Kehilangan seorang pahlawan bangsa.

Laksana petir dihari tjerah, bagi penduduk kota Medan chususnja dan Sumatera Timur umumnja tatkala mendengar berita kemangkatan Djenderal Soedirman, seorang bapak angkatan perang jang ditjintai oleh anak-anaknja. Nama beliau kian harum ketika memimpin gerilja berbulan-bulan lamanja dipegunungan melawan agressi militer Belanda, meskipun beliau itu selalu menderita gering, akan tetapi semangat wadja dan pendirian beliau jang kokoh itu tidak dapat dipatahkan oleh kekuatan sendjata lawan. Sifat-sifat beliau ini tetap akan mendjadi teladan dan pedoman bagi rakjat Indonesia umumnja dan anggauta-anggauta A.P.R.I.S. chususnja.

 Berhubung dengan hal ini sedjak matahari memantjarkan sinarnja kebumi, kemaren penduduk bangsa Indonesia, kantor-kantor pemerintah

dan konsul-konsul luar negeri dikota ini telah mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung atas kemangkatan pahlawan kemerdekaan bangsa Indonesia itu.

 Demikian pula oleh peradjurit-peradjurit A.P.R.I.S. Komando Tentara & Territorium Sumatera dikota ini kemaren telah diadakan upatjara memperingati kemangkatan bapak tentara itu, walaupun setjara sederhana tetapi tjukup memberikan kesan jang mengharukan. Pada upatjara ini Komandan Tentara & Territorium Sumatera Utara, Kolonel A.E. Kawilarang telah membatjakan perintah hariannja.

 Seterusnja dapat pula dikabarkan, bahwa kemaren sekolah-sekolah partikelir dikota ini telah menutup sekolahannja sehari itu dan hanja sekolah-sekolah pemerintah N.S.T. jang tidak.

„Nasional” — Djokja:


Seorang peradjurit meninggal”

 Panglima Besar Letnan Djenderal Soedirman telah meninggal.

 Dengan meninggalnja beliau, djustru pada saat keamanan negara terantjam, sekali lagi kita kehilangan seorang peradjurit sedjati, jang selalu perhatiannja ditjurahkan kepada anak buahnja.

 Peradjurit-peradjurit dengan meninggalnja Pak Dirman kehilangan seorang Bapak jang ditjintai: Angkatan Perang kehilangan seorang pemimpin dan perwira jang pimpinannja ditaati, karena kedjudjuran dan keteguhan batin Pak Dirman mendjadi tjontoh dan tauladan bagi peradjurit jang berdjuang.

 Dalam raga jang lemah, tersimpan kekuatan batin jang kuat, hingga selama gerilja 7 bulan dapat pula Pak Dirman memimpin perdjuangan gerilja, hingga Republik jang maksudnja hendak di musnahkan, berdiri dan timbul dengan megahnja meneruskan perdjuangan memelopori kemerdekaan seluruh tanah air Indonesia.

 Raganja tidak ditengah-tengah kita lagi. Tetapi mudah-mudahan batinnja dapat menerangi dan mendorong para peradjurit, bintara, dan perwira serta para pedjuang umumnja untuk lebih dari dulu-dulu. bergiat diri dalam mempertahankan negara dan bangsa.

 Semoga arwah beliau dapat diterima oleh Tuhan dan diterima oleh ’Tuhan dan diberi tempat sebaik-baiknja.

 Dalam kenangan bangsa Indonesia nama beliau tertjatat untuk selama-lamanja sebagai pahlawan.

 Dalam buku sedjarah perdjuangan kemerdekaan nama beliau dihias dengan tinta emas.

 Bagi keluarga beliau mudah-mudahan segala itu mendjadi hiburan hati mereka jang sedih.

 Dari Tuhan Pentjipta kita berasal, kepadaNJA kita akan kembali.

Djenderal-Major Mollinger memasukkan tanah keliang lahad tanda penghormatan.

21